Anda di halaman 1dari 4

PERBANDINGAN MODEL PEMBELAJARAN AWARENESS TRAINING DAN MODEL

PEMBELAJARAN SINEKTI DALAM MENINGKATKAN KARAKTER MORAL ACTION


SISWA KELAS IX SMP NEGERI 1 MANGARABOMBANG KABUPATEN TAKALAR
PADA MATA PELAJARAN FISIKA
Mukminati (1), Sabaruddin Garancang (2), Muh. Yusuf Hidayat (2)
(1) Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, 082347898864, Mukminatimattayang@yahoo.co.id
(2) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Alauddin Makassar
(3) 085398419749
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakter moral action siswa pada
mata pelajaran fisika sebelum dan setelah penerapan model pembelajaran awareness
training dan sinektik, serta perbandingan kedua model tersebut dalam meningkatkan
karakter moral action siswa pada mata pelajaran fisika kelas IX SMP Negeri 1
Mangarabombang Kab. Takalar. Pemilihan sampel melalui teknik purposive sampling.
Instrumen pengumpulan data untuk karakter moral action siswa pada mata pelajaran fisika
melalui angket, penerapan model pembelajaran melalui observasi dan dokumentasi. Teknik
analisis data menggunakan analisis deskriptif dan inferensial yaitu t-dua sampel pooled
varian. Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan statistik deskriptif diperoleh
rata-rata karakter moral action siswa sebelum penerapan kedua model pembelajaran
berada pada kategori cukup, setelah penerapan model pembelajaran awareness training
berada kategori baik model pembelajaran sinektik berada pada kategori amat baik,
sedangkan hasil inferensial yaitu thitung<-ttabel sehingga terdapat perbedaan yang signifikan
dalam meningkatkan karakter moral action siswa tersebut pada mata pelajaran fisika.

Kata kunci: Karakter moral action, Awareness, Sinektik

PENDAHULUAN menggunakan model pembelajaran


awareness training dan model pembelajaran
1. Latar Belakang sinektik. Kedua model ini termasuk dalam
Pencapaian hasil belajar siswa tidak dapat rumpun model pembelajarn personal. Model
hanya dilihat dari ranah kognitif dan pembelajaran awareness training (latihan
psikomotorik, sebagaimana selama ini terjadi kesadaran) merupakan model pembelajaran
dalam praktik pendidikan kita, tetapi harus yang menekankan pentingnya pelatihan
juga dilihat dari hasil afektif. interpersonal sebagai sarana peningkatan
kesadaran diri (Sunhaji ,10). Sedangkan
Pendidikan formal sebagai institusi model pembelajaran sinektik merupakan
pengembang pendidikan karakter secara model pembelajaran yang digunakan di
mikro perlu melakukan pembenahan diri. sekolah untuk menumbuhkan kreativitas
Pertama, mendesain peran pendidikan sehingga diharapkan siswa mampu
karakter dengan pola integralistik dalam mengahadapi permasalahannya.
mengembangkan kecerdasan moral sebagai
upaya pengkondisian moral. Kedua, Berdasarkan observasi awal SMP
mengembangkan pembelajaran inovatif Negeri 1 Mangarabombang merupakan
dalam pendidikan karakter sebagai upaya sekolah yang terletak di Kabupaten Takalar
aplikatif dalam pelatihan moral. Pendidikan memiliki fasilitas cukup lengkap di
karakter pada hakikatnya adalah pendidikan antaranya terdapat LCD tiap kelas dan
nilai yang melibatkan aspek pengetahuan tersedianya wifi di sekolah tersebut sehingga
(cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan memudahkan siswa untuk mengakses
(action), (Setiawan, 2013: 55). perkembangan ilmu pengetahuan. Akan
tetapi, berdasarkan hasil wawancara dengan
Saat ini ada beberapa model pembelajaran guru mata pelajaran fisika kelas IX di
inovatif. Namun peneliti berminat
sekolah tersebut masih cukup banyak diarahkan untuk memperluas kesadaran diri
siswakelas IX yang perilaku moralnya saat dan kemampuan untuk merasa dan berpikir.
belajar fisika yang masih kurang baik. Model ini berisikan rangkaian kegiatan yang
dapat mendorong timbulnya refleksi
Oleh karena itu peneliti ingin hubungan antar individu, citra diri atau self
mengkaji lebih lanjut mengenai immage, eksperimentasi dan penampilan diri.
perbandingan model pembelajaran (Aunurrahman, 2009: 166).
awareness training dan model pembelajaran
sinektik dalam meningkatkan karakter moral Model pembelajaran ini terdiri atas dua
action siswa kelas IX SMP Negeri 1 tahapan. Pertama, adalah penyampaian dan
Mangarabombang Kabupaten Takalar pada penyelesaian tugas. Kedua, adalah diskusi
mata pelajaran Fisika. atau analisis tahap pertama. Jadi, artinya
siswa diminta melakukan sesuatu (berkaitan
2. Tujuan dengan teori encounter), setelah itu
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian mendiskusikannya (refleksi bersama) atas
ini adalah: apa yang telah terjadi (Sunhaji, 2013: 11).

a. Untuk mengetahui karakter moral action Model sinektik adalah salah satu model yang
pada mata pelajaran fisika siswa kelas IX termasuk pada rumpun model personal.
SMP Negeri 1 Mangarabombang Kab. Model sinektik adalah model yang pertama
Takalar sebelum penerapan model kali dirancang oleh Gordon dalam bidang
pembelajaran awareness training. industri. Gordon mengembangkannya untuk
keperluan aktivitas individu dalam kelompok
b. Untuk mengetahui karakter moral action agar mereka mampu memecahkan masalah
pada mata pelajaran fisika siswa kelas IX (problem solver), atau untuk
SMP Negeri 1 Mangarabombang Kab. mengembangkan produksi (product
Takalar sebelum penerapan model development). Model sinektik yang telah
pembelajaran sinektik. berkembang di dunia industri, akhirnya oleh
c. Untuk mengetahui karakter moral action Gordon dikembangkan untuk digunakan di
pada mata pelajaran fisika siswa kelas IX sekolah, tujuannya yaitu untuk
SMP Negeri 1 Mangarabombang Kab. menumbuhkan kreativitas sehingga
Takalar setelah penerapan model diharapkan siswa mampu menghadapi
pembelajaran awareness training. permasalahannya. Model pembelajaran ini
terdiri dari tiga tahapan, yaitu: masukan
d. Untuk mengetahui karakter moral action informasi, proses metaforik, dan
pada mata pelajaran fisika siswa kelas IX memfokuskan kembali (Nandi, 2002: 4).
SMP Negeri 1 Mangarabombang Kab.
Takalar setelah penerapan model Ketiga komponen dalam aplikasi pendidikan
pembelajaran sinektik. karakter harus terbangun secara terkait.
Moral knowing yang meliputi: kesadaran
e. Untuk mengetahui perbandingan karakter moral, pandangan ke depan, penalaran
moral action siswa yang mendapat model moral, pengambilan keputusan dan
pembelajaran awareness training dan siswa pengetahuan diri, adalah hal esensial yang
yang mendapat model pembelajaran sinektik perlu diajarkan kepada peserta didik. Namun,
pada Kelas IX SMP Negeri 1 pendidikan karakter sebatas moral knowing
Mangarabombang Kab. Takalar pada mata tidaklah cukup. Untuk itu perlu berlanjut
pelajaran Fisika. sampai pada moral feeling yang meliputi:
katahati, rasa percaya diri, dan kerendahan
3. Tinjauan Pustaka
hati. Bahkan terus berlanjut pada tahap yang
Model latihan kesadaran (awareness training paling penting, yakni moral action. Disebut
models) adalah model pembelajaran yang penting, karena pada tahap ini motif
dorongan seseorang untuk berbuat baik, Instrumen pengumpulan data yang
tampak pada aspek kompetensi, keinginan digunakan adalah angket yang berupa skala
dan kebiasaan yang ditampilkannya karakter moral action siswa pada mata
(Setiawan, 2013: 56). pelajaran fisika sebelum dan setelah
penerapan kedua model pembelajaran.
4. Manfaat Penelitian
Teknik analisis data yang digunakan yaitu
Hasil penelitian diharapkan memberi statisik deskriptif dan statistik inferensial
manfaat sebagai berikut: dengan menggunakan uji t-dua sampel
a. Bagi sekolah, penelitian ini memberikan pooled varian .
motivasi sekolah untuk lebih memperhatikan HASIL DAN PEMBAHASAN
karakter moral action siswa
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
b. Bagi guru, sebagai pertimbangan dalam peneliti terhadap populasi diperoleh:
pemilihan model pembelajaran.
1. Hasil Statistik Deskriptif
c. Bagi siswa, penerapan model
pembelajaran ini dapat meningkatkan Nilai rata-rata karakter moral action siswa
karakter moral action siswa yang dapat pada mata pelajaran fisika sebelum
diterapkan terhadap diri sendiri dan penerapan model pembelajaran awareness
lingkungannya. training yaitu 56,12 dengan kategori cukup,
dan sebelum penerapan model pembelajarn
d. Bagi peneliti, penelitian ini sebagai sinektik yaitu 55,16 dengan kategori cukup.
informasi bagaimana perbandingan pengaruh
model pembelajaran awareness training dan Nilai rata-rata karakter moral action siswa
model pembelajaran sinektik dalam pada mata pelajaran fisika setelah penerapan
meningkatkan karakter moral action siswa model pembelajaran awareness training
kelas IX SMP Negeri 1 Mangarabombang yaitu 64,10 dengan kategori baik, dan
Kabupaten Takalar pada mata pelajaran setelah penerapan model pembelajarn
Fisika yang digunakan sebagai bahan untuk sinektik yaitu 68,5 dengan kategori sangat
memenuhi syarat penyelesaian studi Strata1 baik.
(S1) di Jurusan Pendidikan Fisika
Universitas Islam Negeri Alauddin 2. Hasil Statistik Inferensial
Makassar. Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh
nilai thitung < -ttabel, yaitu -4,155 < -1,680
METODE PENELITIAN
maka dapat diketahui bahwa H0 ditolak dan
Jenis penelitian ini, yaitu true experimental H1 diterima yaitu terdapat perbedaan
yang bersifat komparasi dengan desain peningkatan yang signifikan karakter moral
penelitian matching pretest-posttest group. action siswa yang mendapat model
pembelajaran awareness training dan siswa
Populasi dalam penelitian ini, yaitu seluruh yang mendapat model pembelajaran sinektik
siswa kelas IX SMP Negeri 1 pada Kelas IX SMP Negeri 1
Mangarabombang Kab. Takalar. Adapun Mangarabombang Kabupaten Takalar pada
teknik pengambilan sampel yaitu secara mata pelajaran fisika. Hal ini disebabkan
purposive (pertimbangan) sampling. karena model pembelajaran sinektik lebih
Berdasarkan observasi awal yang menjadi menarik perhatian siswa langsung karena
sampel peneliti yaitu kelas IX A dan kelas mereka langsung menganalogikan diri
IX B karena kelas ini merupakan kelas yang mereka terhadap materi pembelajaran tata
karakter moral action pada mata pelajaran surya tersebut dibandingkan model
fisika yang masih kurang baik dibandingkan pembelajaran awareness training yang hanya
kelas lainnya. pemberian tugas yang tidak jauh berbeda
dengan model pembelajaran yang Berpikir. Bandung: Jurnal
konservatif dan cocok untuk selingan saja Universitas Terbuka Bandung.
seperti dari hasil penelitian yang dilakukan
Sunhaji 2013, yaitu model ini dapat Khaeruddin dan Erwin Akib. 2006.
dilakukan sebagai selingan yang tidak Metodologi Penelitian. Makassar:
memakan waktu terlalu banyak. Berkah Utami.

KESIMPULAN Magnis, Franz., & Suseno. 1987. Etika


Dasar: Masalah-Masalah Pokok
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas, Filsafat Moral. Yogyakarta:
maka dapat disimpulkan rata-rata karakter Kanisius.
moral action siswa kelas IX SMP Negeri 1
Mangarabombang Kab. Takalar pada mata Maslow, Abraham. 2004. Psikologi Sains.
pelajaran fisika sebelum penerapan model Jakarta selatan: Erlangga.
pembelajaran awareness training dan Nurjan, Syarifan dkk. Psikologi Belajar.
penerapan model pembelajarn sinektik yaitu Surabaya: Amanah Pustaka. 2009.
berada pada kategori cukup. Rata-rata
Karakter moral action siswa kelas IX SMP Rooijakkers, Ad. 2003. Mengajar dengan
Negeri 1 Mangarabombang Kab. Takalar Sukses: Petunjuk untuk
pada mata pelajaran fisika setelah penerapan Merencanakan dan Menyampaikan
model pembelajaran awareness training Pengajaran. Jakarta: Grasindo.
yaitu berada pada kategori bai, dan setelah
penerapan model pembelajarn sinektik yaitu Setiawan, Deny. 2013. Peran Pendidikan
berada pada kategori sangat baik. Karakter dalam Mengembangkan
Kecerdasan Moral. Medan: Jurnal
Terdapat perbedaan peningkatan yang FIS Universitas Negeri Medan.
signifikan karakter moral action siswa yang
mendapat model pembelajaran awareness Sugiyono. 2013. Metode Penelitian
training dan siswa yang mendapat model Pendidikan: Pendekatan
pembelajaran sinektik pada Kelas IX SMP Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.
Negeri 1 Mangarabombang Kabupaten Bandung: Alfabeta.
Takalar pada mata pelajaran fisika, yaitu Sunhaji. 2013. Strategi Pembelajaran dan
nilai thitung yang diperoleh lebih kecil Aplikasinya. Jurnal Pemikiran
daripada -ttabel (-4,155 < -1,680). Alternatif Pendidikan Insania:
DAFTAR PUSTAKA Purwokerto.

Aunurrahman. 2009. Belajar dan Warnandi, Nandi. 2002. Implementasi


Pembelajaran. Bandung: Alfabeta. Model Mengajar Sinektik pada
Pelajaran Bahasa Indonesia.
Mamang, Etta Sangadji dan Sopiah. 2010. Bandung: Universitas Pendidikan
Metodologi Penelitian Pendekatan Indonesia.
Praktis dalam Penelitian.
Yogayakarta: Andi. Zubaedi. 2011. Desain Pendidikan
Karakter: Konsepsi dan Aplikasinya
Gassing, Qadir dan Wahyuddin Halim. dalam Lembaga
2009. Pedoman Penulisan Karya
Tulis Ilmiah. Makassar: Alauddin
Press.
Karli, Hilda. 2013. Model Pembelajaran
untuk Meningkatkan Keterampilan