Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK IRIGASI DAN DRAINASE

IRIGASI SPRINKLER

Oleh:
Muhammad Dariansah Pradana
NIM A1H014048

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan daerah yang beriklim basah, dimana pemakaian air

tergantung pada jumlah dan kejadian hujan. Curah hujan pada umumnya cukup

tapi jarang sekali secara tepat sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan

tanaman. Oleh karena itu perlu dikembangkan sistem pengairan yang baik, agar

ketersediaan air dapat mencukupi selama periode tumbuh, salah satunya yaitu

irigasi.

Irigasi merupakan sumber daya yang penting dalam perencanaan usaha tani.

Seperti halnya dengan sumber daya lainnya, ada dua aspek yang perlu

diperhatikan dalam perencanaan irigasi yaitu kelayakan dan keuntungannya.

Keuntungannya antara lain adalah dapat menyediakan air yang cukup untuk

pertumbuhan tanaman selama periode tumbuh. Perencanaan irigasi disusun

terutama berdasarkan kondisi-kondisi meteorologi di daerah bersangkutan.

Pemanfaatan teknologi alat mesin pertanian (alsintan) khususnya sprinkler

dalam usaha irigasi untuk tanaman sayuran harus dipertimbangan secara cermat

agar mampu berkembang secara mandiri. Pada metoda irigasi curah, air irigasi

diberikan dengan cara menyemprotkan air ke udara dan menjatuhkannya di sekitar

tanaman seperti hujan. Penyemprotan dibuat dengan mengalirkan air bertekanan

melalui orifice kecil atau nozzle. Tekanan biasanya didapatkan dengan

pemompaan. Untuk mendapatkan penyebaran air yang seragam diperlukan

pemilihan ukuran nozzle, tekanan operasional, spasing sprinkler dan laju infiltrasi
tanah yang sesuai. Cara yang paling sederhana yang sering digunakan untuk

irigasi sayuran oleh petani kecil adalah dengan menyiram menggunakan emrat

(ebor).

Pemanfaatan teknologi alat mesin pertanian khususnya penggunaan

peralatan sprinkler untuk tanaman sayuran di tingkat petani harus dipertimbangan

secara cermat agar mampu berkembang secara mandiri.

Pengetahuan terkait sistem irigasi harus terus dikembangkan terutama bagi

mahasiswa Teknik Pertanian, agar dapat memberikan suatu solusi ataupun

menciptakan suatu inovasi baru dalam pengembangan rancang bangun sistem

irigasi.

B. Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian dari sistem irigasi sprinkle.

2. Mahasiswa dapat mengetahui koefisien keseragaman (Uniformity Coefficient).


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Irigasi Curah atau Siraman (Sprinkle)

Sistem irigasi bertekanan atau irigasi curah (sprinkler) adalah salah satu

metode irigasi dimana pemberian air dilakukan dengan menyemprotkan air ke

udara kemudian jatuh ke permukaan tanah seperti air hujan (Schwab, et.all, 1981).

Pemberian air secara curah atau irigasi bertekanan dilakukan dengan pipa-

pipa yang dipasang atau ditanam dengan bertekanan tertentu diperkirakan

pancaran air dapat membasahi seluruh tanah dan tanaman di lahan. Penggunaan

sistem ini untuk pengairan dengan efisiensi tinggi serta diterapkan pada lahan

pertanian yang bergelombang dan harus diperhatikan mengenai biaya yang cukup

tinggi, keahlian yang tepat dalam merancang penempatan unit di lahan dan

kemungkinan kecepatan angin yang berubah-ubah (Kartosapoetra dan Sutejo,

1994).

Menurut Hansen et.all (1992), menyebutkan ada tiga jenis penyiraman yang

umum digunakan yaitu nozel tetap yang dipasang pada pipa, pipa yang dilubangi

(perforated sprinkle) dan penyiraman berputar. Sesuai dengan kapasitas dan luas

lahan yang diairi serta kondisi topografi, tata letak sistem irigasi curah dapat

digolongkan menjadi tiga yaitu:

a) Farm system, sistem dirancang untuk suatu luas lahan dan merupakan satu-

satunya fasilitas pemberian air irigasi,


b) Field system, sistem dirancang untuk dipasang di beberapa lahan pertanian

dan biasanya dipergunakan untuk pemberian air pendahuluan pada letak

persemaian,

c) Incomplete farm system, sistem dirancang untuk dapat diubah dari farm

system menjadi field system atau sebaliknya.

Sistem irigasi bertekanan atau curah dikerjakan secara mekanis dengan

menggunakan kompresor bertekanan untuk menekan air melalui pipa-pipa yang

dipasang di ladang atau kebun yang akan diairi . Berdasarkan tipe pencurah maka

dapat dibedakan atas: (1) Springkler dengan nozzel, (2) Sprinkler dengan pipa

perporasi dan (3) Sprinkler dengan pencurah berputar (Hartono, 1983).

Untuk menghitung jumlah pencurah (sprinkler) yang digunakan untuk setiap

pompa dan setiap satuan luas berbedabeda tergantung dari debit sprinkler,

jangkauan air (jari-jari lingkaran berkas air yang disemprotkan) dan debit pompa ,

sedangkan jarak maksimun antar pencurah berkisar 3/2 kali jari-jari siraman air

dan jarak maksimun antar pipa lateral berkisar 8/5 kali jari-jari siraman air

(Najiyati dan Danarti, 1996).

2.2. Komponen Irigasi Curah

Umumya komponen yang terdapat pada irigasi curah terdiri dari:

a) Pompa dengan tenaga penggerak sebagai sumber tekanan,

b) Pipa utama,

c) Pipa lateral,

d) Pipa peninggi (riser),

e) Kepala sprinkler (sprinkler head).


2.3. Koefisien Keseragaman

Tujuan dari irigasi curah adalah agar air dapat diberikan secara merata dan

efisien pada areal pertanaman dengan jumlah dan kecepatan yang sama atau

kurang dari laju infiltrasi air ke dalam tanah (kapasitas infiltrasi). Kebutuhan

kapasitas irigasi bertekanan tergantung pada luas areal irigasi, jumlah dan

kedalaman air irigasi, efisiensi permukaan air dan lama operasi irigasi

Metode yang digunakan untuk mengkuantitatifkan keseragaman sistem

penerapan irigasi sprinkler. Metode ini dilakukan dengan cara menempatkan gelas

penampung di lahan. Sebuah sampel yang ditampung dari gelas penampung untuk

mengevaluasi keseragaman sistem irigasi sprinkler dengan jarak rectangular. Dua

buah rumus yang umum digunakan untuk menghitung koefisien keseragaman

adalah:

a) Christians Uniformity Coefficient


] / (
= [ ( )
=

Dimana:

UCc = Koefisien keseragaman Chritiansem (fraksi)

xi = Kedalaman air dalam gelas penampung (mm)

= Rerata kedalaman penampung (mm)

n = Jumlah gelas penampung

b) Hawaiian Uniformity Coefficient

,
)
= [ ] (/

Dimana:

UCH = Hawai Sugar Platers Association Coefficient (fraksi)

s = Standar deviasi (mm)

= Rerata kedalaman penampung (mm)


III. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Pompa air

2. Satu set sistem irigasi curah (meliputi pipa utama, pipa literal, sprinkler)

3. Gelas penampung

4. Gelas ukur

5. Penggaris 30 cm

6. Stopwatch

7. Alat tulis

8. Air

B. Prosedur Kerja

1. Mempersiapkan alat dan bahan.

2. Mempersiapkan air didalam bak penampungan yang telah disambugkan

dengan pompa air, pasangkan selang yang telah tersambung ke pipa irigasi ke

kran pada pompa air.

3. Menyiapkan 40 gelas penampungan dengan pola menyilang dan diberi jarak

antar gelas sejauh 30 cm.

4. Posisikan sprinkle berada ditengah pola lingkaran gelas penampungan.

5. Atur debit air yang keluar dari sprinkle hingga stabil (pancuran air mengenai

gelas bagian ujung).

6. Nyalakan pompa air sekaligus stopwatch selama 5 menit.


7. Air yang telah tertampung diamati dan diukur pada gelas penampung, catat

hasilnya.

8. Hitung koefisiensi keseragaman Cristiansen dan Hawaii Sugar Association

Coefficient.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Komponen-komponen Sistem Irigasi Sprinkler

2
1

Gambar 3. Skema Percobaan Sistem Irigasi Sprinkler

Keterangan:

1. Pompa air

2. Tandon

3. Pipa paralon
4. Sprinkle

5. Gelas penampung

Tabel 1. Hasil Pengamatan Vol. Selama 7 Menit Pada Irigasi Sprinkler


V
Xi (mm) |Xi-X|
X1 2 0.59
X2 1 1.59
X3 5 2.41
X4 1 1.59
X5 0.5 2.09
X6 1.3 1.29
X7 4 1.41
X8 3 0.41
X9 1 1.59
X10 6 3.41
X11 1 1.59
X12 4 1.41
X13 2 0.59
X14 6 3.41
X15 3 0.41
X16 5 2.41
X17 4 1.41
X18 1 1.59
X19 1 1.59
X20 1 1.59
X21 1 1.59
X22 1 1.59
X23 4 1.41
X24 5 2.41
X25 1 1.59
sigma
nx 64.8 40.97
rata2 2.59
= .

UCc = 1 =1 [( )]/()

= 1 40.97/(25x2.52)

= 0.367
B. Pembahasan

Irigasi curah atau siraman (sprinkle) menggunakan tekanan untuk

membentuk tetesan air yang mirip hujan ke permukaan lahan pertanian.

Disamping untuk memenuhi kebutuhan air tanaman. Sistem ini dapat pula

digunakan untuk mencegah pembekuan, mengurangi erosi angin, memberikan

pupuk dan lain-lain. Pada irigasi curah air dialirkan dari sumber melalui jaringan

pipa yang disebut mainline dan sub-mainlen dan ke beberapa lateral yang masing-

masing mempunyai beberapa mata pencurah (sprinkler) (Prastowo, 1995).

Sistem irigasi bertekanan/curah dikerjakan secara mekanis dengan

menggunakan kompresor bertekanan untuk menekan air melalui pipa-pipa yang

dipasang di ladang atau kebun yang akan diairi . Berdasarkan tipe pencurah maka

dapat dibedakan atas : springkler dengan nozel, sprinkler dengan pipa perporasi

dan sprinkler dengan pencurah berputar (Hartono, 1983).

Sistem irigasi curah dibagi menjadi dua yaitu set system (alat pencurah

memiliki posisi yang tepat),serta continius system (alat pencurah dapat dipindah-

pindahkan). Pada set system termasuk ; hand move, wheel line lateral, perforated

pipe, sprinkle untuk tanaman buah-buahan dan gun sprinkle. Sprinkle jenis ini

ada yang dipindahkan secara periodic dan ada yang disebut fixed system atau

tetap (main line lateral dan nozel tetap tidak dipindah-pindahkan). Yang termasuk

continius move system adalah center pivot, linear moving lateral dan traveling

sprinkle (Keller dan Bliesner, 1990).

Pemberian air secara curah atau irigasi bertekanan dilakukan dengan pipa-

pipa yang dipasang atau ditanam dengan bertekanan tertentu diperkirakan


pancaran air dapat membasahi seluruh tanah dan tanaman di lahan. Penggunaan

sistem ini untuk pengairan dengan efisiensi tinggi serta diterapkan pada lahan

pertanian yang bergelombang dan harus diperhatikan mengenai biaya yang cukup

tinggi, keahlian yang tepat dalam merancang penempatan unit di lahan dan

kemungkinan kecepatan angin yang berubah-ubah (Kartosapoetradan M.Sutejo ,

1994).

Menurut Hansen et. Al (1992) menyebutkan ada tiga jenis penyiraman yang

umum digunakan yaitu nozel tetap yang dipasang pada pipa, pipa yang dilubangi

(perforated sprinkle) dan penyiraman berputar.

sistem irigasi sprinkler memiliki beberapa kelebihan, antara lain:

1. Dapat mengontrol pemberian air pada tanaman sehingga dapat

mengurangi tingkat pertumbuhan tanaman yang vegetatif dan

memperbesar peluang tanaman untuk tumbuh secara generatif

dimana akan meningkatkan produktivitas hasil panen.

2. Desain dapat dirancang secara fleksibel sesuai dengan jenis

tanaman.

3. Dapat digunakan untuk mengontrol iklim bagi pertumbuhan

tanaman.

4. Mempercepat perkecambahan dan penentuan panen

Sistem irigasi sprinkler ini juga memiliki beberapa kekurangan diantaranya:

1. Memerlukan biaya investasi yang tinggi.

2. Keseragaman distribusi air dapat terus menurun seiring dengan

waktu.
3. Angin sangat berpengaruh atas keseragaman distribusi air

4. Dapat mengakibatkan kanopi tanaman lembab dan

menyebabkan penyakit tanaman.

Penentuan koefisien keseragaman pada sistem irigasi sprinkler dapat

ditentukan menggunakan persamaan Uniformity Coefficient Christian (UCc) dan

persamaan Uniformity Coefficient Hawaiian (UCH). Ditambah beberapa rumus

tambahan yang ada pada irigasi tetes seperti rerata jumlah volume ( ) dan standar

devasi (SD).

1. Rumus rata-rata volume total (x)

Dimana:

xtotal = Jumlah total keselurah volume dari tiap-tiap gelas penampungan (liter)

n = Banyaknya gelas penampungan

2. Rumus Uniformity Coefficient Christian (UCc)

( )
=

Dimana: (x x)2 = Jumlah total deviasi absolut rata-rata pengukuran

(ml)

n = Banyaknya gelas penampungan

x = Rata-rata volume total (liter)

Berdasarkan hasil praktikum kali ini didapatkan nilai keseragaman (UC C)

yaitu sebesar 0,36 atau sebesar 0,36%. Besarnya nilai yang didapatkan dari
besarnya debit air yang disalurkan oleh sprinkle dan kemudian tertampung

didalam gelas penampung.

Batas nilai keseragaman pada umumnya adalah sebesar 85%, kecilnya nilai

yang didapatkan mungkin dapat disebabkan oleh tekanan yang dihasilkan oleh

pompa tidak begitu besar yang mana harus sesuai dengan simpangan yang ada.

Menurut Erizal (2003), debit merupakan fungsi dari tekanan operasi, maka variasi

tekanan operasi merupakan faktor keseragaman aliran. Maka dapat kita pahami,

bahwa tekanan yang diberikan oleh suatu debit aliran air pada sprinkle akan

berpengaruh terhadap keseragaman tinggi air pada media penampungnya.

Komponen utama dari sistem irigasi sprinkler antara lain:

1. Tandon

Tandon berfungsi sebagai temapt menampung air.

2. Pompa

Pompa berfungsi menyalurkan air dari tendon menuju pipa, dan dari

pipa menju nozzle sprinkle.

3. Talang 1

Talang 1 adalah pipa yang mengantarkan air dari tandon ke pipa

utama.

4. Talang 2

Talang 2 adalah pipa yang mengantarkan air menuju nozzle

sprinkle.

4. Kepala sprinkler
Terdapat dua tipe kepala sprinkler untuk mendapatkan semprotan

yang baik, yaitu:

a. Kepala sprinkler berputar (Rotating head sprinkler). Kepala

sprinkler berputar mempunyai satu atau dua nozzle dengan

berbagai ukuran.

b. Pipa dengan lubang-lubang sepanjang atas dan sampingnya.

Setelah kita mengetahui terkati bagian atau komponen yang terdapat pada

irigasi curah atau sprinkler, selanjutnya kita akan membahas terkait bentuk

pengaplikasian dari irigasi curah yang banyak dilakukan oleh beberapa orang,

diantaranya adalah:

1. Sangat cocok untuk metode penyiraman tanaman diarea lahan yang luas,

misalnya untuk penyiraman pada perkebunan teh, sawit dan lainnya.

2. Biasanya sering digunakan sebagai suatu simulasi modifikasi iklim, misalnya

untuk modifikasi hujan.

Beragamnya sistem irigasi yang dimiliki oleh para petani di Indonesia

merupakan sebagai suatu keniscayaan, menginga sejarah panjah irigasi serta

beragamnya model tanah yang menjadi lahan pertanian. Berikut adalah beberapa

macam jenis irigasi yang penulis ketahui:

1. Irigasi pompa air

Irigasi ini menggunakan tenaga mesin untuk mengalirkan berbagai jenis

jenis air dari sumber air, biasanya sumur, ke lahan pertanian menggunakan

pipa atau saluran. Jika sumber air yang digunakan dalam jenis ini bisa diatur
ketersediaanya, artinya tidak surut pada musim kemarau, maka kebutuhan air

pada musim kemarau bisa ditangani dengan jenis irigasi ini.

2. Irigasi genangan

Prinsip dari sistem irigais ini adalah dengan membuat genangan

disekeliling tanaman yang dibudiyakan. Kelebihan dari sistem irigasi ini

adalh mudah dalam pengelolaan, biaya murah dan cocok untuk jenis tanaman

yang memerlukan banyak air. Kekurangannya adalah tanah menjadi retak bila

terjadi kekeringan dan beresiko banyak kehilangan air (kekeringan).


V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Dalam penentuan keseragaman debit pada sistem irigasi sprinkler dapat

dilakukan dengan dua cara yaitu dengan:

a) Rumus Uniformity Coefficient Christian (UCc)

(x x)2
UCc = 1 , dan
n x

2. Bagian-bagian yang terdapat pada sistem irigasi sprnkle meliputi: Pompa,

talang 1, talang 2, tandon, dan kepala sprinkle (sprinkle head).

B. Saran

Sebaiknya digunakan gelas ukur untuk menanpung air yang tersebar agar

data ketinggian air dapat lebih akurat. Sarana dan prasarana praktikum lebih

dilengkapi lagi untuk kelancaran praktikum kedepannya. Mohon maaf lahir batin.
DAFTAR PUSTAKA

Erizal. 2003. Macam-macam Irigasi dalam Jurnal Pemanfaatan Irigasi Tetes.


Universitas Sumatera Utara. Medan.

Hansen, V.E., Israelsen, O.W., dan Glen, E.S. 1986. Dasar-dasar dan Praktik
Irigasi. Erlangga. Jakarta.

Hartono, 1983. Penggunaan Irigasi di Lahan Kering. CV. Yasaguna. Jakarta.

James, L.G. 1982. Principle of Farm Irrigation System Design. John Wiley and
Sons Inc. New York.

Kartosapoetra dan M.Sutejo, 1994. Teknologi Pengairan Pertanian Irigasi. Bumi


Aksara. Jakarta.

Keller, J. and Bliesner, R.D. 1990. Sprinkler and Trickle Irrigation. Van Nostrand
Reinhold. New York.

Najiyati dan Danarti, 1996. Petunjuk Mengairi dan Menyiram Tanaman. Penebar
Swadaya. Jakarta.

Prastowo, 2003. Teknologi Irigasi Hemat Air. Pusat Pengkajian dan Penerapan
Ilmu Teknik untuk Pertanian Tropika (CREATA), Lembaga Penelitian
Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Schwab G.O., R.K. Frevert, K.K Barnet, and T.W Edminster, 1981. Elementary
Soil and Water Engineering, John Wiley & Sons. Iowa.

Anda mungkin juga menyukai