Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Teknik PWK Volume 4 Nomor 2 2015

Online : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/pwk
__________________________________________________________________________________________________________________

KAJIAN KARAKTERISTIK KAWASAN PEMUKIMAN KUMUH DI KAMPUNG KOTA


(Studi Kasus: Kampung Gandekan Semarang)

Raisya Nursyahbani dan Bitta Pigawati


1
Mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
2
Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
email : raisyanursyahbani@yahoo.com

Abstrak: Kemunculan kampung kota merupakan fenomena yang banyak terjadi terutama di negara-negara
berkembang dan sebenarnya adalah sebuah bentuk asli dari kota-kota di Indonesia. Disisi lain, dalam kampung
kota yang padat juga terdapat berbagai masalah yang selanjutnya dapat menyebabkan munculnya
pemukiman kumuh dalam kampung kota tersebut (Budihardjo, 1997). Sehubungan dengan hal tersebut, kondisi
yang terjadi di Kampung Gandekan memiliki permasalahan yang menarik untuk dijadikan sebagai obyek
penelitian karena memiliki keunikan tersendiri sebagai salah satu Kampung Kota yang memiliki keterkaitan
dengan sejarah kota Semarang, namun disisi lain saat ini tengah menghadapi berbagai permasalahan baik
secara sosial, ekonomi dan budaya maupun yang terkait dengan kemunculan kawasan kumuh didalamnya.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui karakteristik kawasan pemukiman kumuh yang terdapat di
Kampung Gandekan Semarang beserta tingkat kekumuhannya. Hasil analisis dari kajian terhadap karakteristik
kawasan permukiman kumuh di Kampung Gandekan diketahui bahwa karakteristik pemukiman kumuh yang
terdapat di Kampung Gandekan ini, dari karakteristik penghuninya adalah merupakan warga campuran antara
pribumi dengan etnis Tionghoa yang sebagian besar memiliki tingkat pendidikan dan penghasilan ekonomi
yang masih rendah, dari karakteristik huniannya sebagian besar masih tergolong jenis hunian yang belum layak
huni, dari karakteristik sarana prasarana terutama untuk kepentingan privat masih belum memadai sedangkan
dari karakteristik lingkungannya diketahui bahwa kondisi lingkungan didalamnya cenderung tidak teratur dan
masih belum memenuhi standar kebutuhan pemukiman seperti tidak adanya keberadaan ruang terbuka hijau
maupun non hijau yang dapat digunakan untuk kegiatan aktifitas bersama. Adapun hasil dari analisis tingkat
kekumuhannya, Kampung Gandekan memiliki kategori yang terbagi menjadi dua jenis tipologi tingkat
kekumuhan yakni tingkat kumuh sedang dan tingkat kumuh rendah.

Kata Kunci : Kampung Kota, Kawasan Kumuh, Pemukiman.

Abstract: The emergence of the urban kampong is phenomena that mainly occur in so many developing
countries. The urban kampong is actually a genuine form of the cities of Indonesia. On the other hand, there are
also many problems that can be lead to the emergence of slums inside of the urban kampong. The purpose of
this study is to determine the characteristics of slum area whom located in Kampung Gandekan Semarang and
how big of its slum level. The results of the analysis of the study on the characteristics of a slum area in
Kampung Gandekan known that the characteristics of slums contained in Kampung Gandekan, indicating the
result of identifying characteristics of residents which is mixed resident whom the most of their educational and
economic income levels are still low, the most of the dwelling characteristics are still relatively types of dwelling
not livable yet, the characteristics of the infrastructure, especially for private interests are not sufficient, while
on the characteristics of the environment haven't good conditions inside tend to be irregular and there are
insufficient standard of requirement of the housing such the least of neither green nor non-green open space
that can be used for joint activities area. Whereas the analysis of the slum level of Kampung Gandekan, there
are divided into two categories typology of slum level specifically medium and low levels.

Keywords: Urban kampong, Slum, Housing.

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 267


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

PENDAHULUAN
Perkembangan suatu kota tidak terlepas meningkat dalam aspek ekonomi, disisi lain
dari pertumbuhan penduduk. Berkaitan urbanisasi juga berhubungan dengan
dengan hal tersebut terdapat berbagai macam degradasi lingkungan maupun kondisi sosial
sebab yang mendorong adanya pertumbuhan masyarakat. Ketika masyarakat pendatang
penduduk secara umum, diantaranya adalah yang telah melakukan urbanisasi tersebut
akibat dari tingginya angka perpindahan tidak memiliki tempat tujuan tetap setelah
penduduk dari desa ke kota atau sering berpindah ke perkotaan, maka mereka
disebut sebagai arus urbanisasi. Urbanisasi cenderung akan menempati lahan-lahan yang
merupakan salah satu dari banyak sebab dibangun secara mandiri tanpa
meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk memperhatikan aspek-aspek lingkungan
dan dapat meningkatkan aspek pertumbuhan dengan segala keterbatasan yang ada. Hal-hal
ekonomi pada suatu kota, termasuk Kota yang demikian ini kemudian dapat
Semarang. Peningkatan jumlah penduduk atau menimbulkan kesan kumuh dilingkungan
pendatang tentu akan mendorong tempat tinggalnya.
peningkatan terhadap jumlah kebutuhan Seperti halnya kota-kota besar lainnya
ruang untuk bermukim yakni perumahan dan di Indonesia, Kota Semarang juga tak luput
pemukiman. Sebagian besar wilayah kota-kota dari adanya pertumbuhan penduduk. Kota
besar di Indonesia ditempati oleh pemukiman Semarang memiliki sejarah yang panjang.
tidak terencana yang salah satunya dinamakan Mulanya hanya dari dataran lumpur, yang
kampung. kemudian berkembang menjadi salah sebagai
Kampung Kota secara umum diketahui kota yang penting. Sebagai kota besar, ia
sebagai suatu pemukiman yang tumbuh di menyerap banyak pendatang. Kemunculan
kawasan urban tanpa perencanaan Kampung Kota merupakan suatu fenomena
infrastruktur dan jaringan ekonomi kota. yang sejak lama telah ada. Meningkatnya laju
Kampung Kota juga bisa disebut dengan pertumbuhan penduduk yang cukup besar
berbagai istilah akademik lainnya seperti seperti pendatang merupakan salah satu
informal settlement, illegal settlement, slums tanda perkembangan kota. Hal-hal yang
atau spontaneous settlement/shelter (Pidato demikian menjadi salah satu dari banyak
Pengukuhan Prof. Ir. Bakti Setiawan, MA. penyebab munculnya Kampung Kota yang
Ph.d). Kampung Kota merupakan sebuah terdapat di Kota Semarang maupun
sistem permukiman pedesaan, mewakili suatu sebaliknya. Disisi lain, dalam Kampung Kota
budaya bermukim, memberi corak dan yang padat juga terdapat berbagai masalah
aktifitas khas perkotaan tersendiri yang yang berkaitan dengan lingkungan fisik dan
berkaitan dengan konsep survival kondisi sosial budaya ekonomi penduduknya
(mempertahankan diri) terhadap kultur yang selanjutnya dapat menyebabkan
moderen perkotaan disekitarnya (Budihardjo, munculnya pemukiman kumuh dalam
1997). Adapun pengertian Kampung Kota Kampung Kota tersebut (Budihardjo, 1997).
dalam kamus tata ruang adalah merupakan Kawasan Kampung Gandekan adalah
bagian dari kota, berupa kelompok salah satu Kampung Kota tertua di Kota
perumahan, memiliki penduduk yang tinggi, semarang yang keberadaannya terkait erat
kurang sarana dan prasarana, tidak terdapat dengan sejarah keluarga Tasripin, sebagai
luasan tertentu, dapat lebih besar dari satu saudagar. Tasripin dulu dikenal sebagai
kelurahan dan mengandung arti perumahan seorang pribumi kaya raya yang memiliki
yang dibangun secara tidak formal. banyak usaha seperti usaha kapuk, real estate
Sektor perumahan dan permukiman juga kopra. Keberadaan Kampung Gandekan
adalah hal penting dalam sebuah sebagai salah satu Kampung Kota tua
pembangunan atau perkembangan suatu kota diketahui dari beberapa bangunan tua yang
yang berkaitan dengan akibat dari adanya masih terjaga keasliannya hingga saat ini,
urbanisasi. Selain adanya perkembangan yang diantaranya berupa mushala serta rumah

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 268


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

tinggal dengan ciri fisik arsitektur bangunan


yang sedikit banyak dipengaruhi oleh
akulturasi budaya Islam.
Disisi lain kampung Gandekan ini juga
memiliki karakteristik campuran yakni
kawasan hunian yang menyatu dengan
kawasan perdagangan dan usaha kecil lainnya
(mixed-used). Kawasan permukiman di
kawasan ini terletak menyebar di sepanjang
jalan utama, jalan lokal maupun jalan
lingkungan dan letaknya berdekatan dengan Sumber: Google Earth, 2014
kawasan perdagangan dan jasa.
Adapun karakteristik penduduknya GAMBAR 1
berupa masyarakat tradisional dan DELINIASI WILAYAH STUDI
masyarakat pendatang. Kawasan Kawasan
Kampung Gandekan sekarang didiami oleh KAJIAN LITERATUR
warga campuran. Bahkan hampir setengah Urbanisasi
penduduk Gandekan sekarang adalah etnis Menurut Kamus Tata Ruang (1997:112)
Tionghoa. urbanisasi adalah perubahan secara
Pesatnya pertumbuhan penduduk yang keseluruhan atau transformasi tatanan
diikuti dengan semakin meningkatnya masyarakat yang semula dominan perdesaan
kebutuhan akan ruang bermukim menjadi dominan perkotaan; dalam arti
menyebabkan pembangunan rumah tipe terbatas juga disebut pertambahan penduduk
moderen dan tempat-tempat untuk usaha suatu kota sebagai akibat migrasi penduduk
oleh masyarakat sendiri terus bertambah. dari wilayah perdesaan sekitarnya atau
Pembangunan yang tidak disertai dengan karena perpindahan penduduk dari kota lain.
pengaturan dan pengendalian yang baik Urbanisasi ini sering dikaitkan dengan
menjadikan lingkungan kampung tersebut perkembangan suatu kota. Pada dasarnya
kumuh, tidak teratur, tidak nyaman dan tidak urbanisasi dipengaruhi oleh faktor penduduk
sehat. yakni peningkatan penduduk pada suatu kota.
Berdasarkan berbagai fenomena yang Urbanisasi dapat meningkatkan penambahan
muncul, maka pertanyaan penelitian dalam jumlah penduduk. Peningkatan urbanisasi
studi ini adalah bagaimana karakteristik berbanding lurus dengan peningkatan jumlah
kawasan pemukiman kumuh yang terdapat di penduduk. Peningkatan arus urbanisasi akan
Kampung Gandekan serta bagaimana menyebabkan meningkatnya jumlah
karakteristik tingkat kekumuhannya. Sehingga penduduk di perkotaan. Peningkatan jumlah
dapat di ketahui tujuan utama dari studi ini penduduk yang cenderung tidak terkendali
adalah untuk mengetahui karakteristik tentu dapat menimbulkan berbagai
kawasan pemukiman kumuh di Kampung yang permasalahan bagi suatu kota.
dalam hal ini merupakan Kampung Gandekan.
Wilayah amatan yang menjadi fokus Perumahan dan Permukiman
utama dalam penelitian adalah keseluruhan Kota yang mengalami perkembangan
wilayah Kampung Gandekan yang secara sebagai akibat dari pertumbuhan penduduk
administrasi wilayah telah terbagi menjadi 2 dapat menimbulkan perubahan sosial
RT yakni RT I dan RT II. Untuk lebih jelasnya ekonomi, dan budaya serta interaksinya
dapat dilihat deliniasi pembagian wilayah dengan kota-kota lain dan daerah sekitarnya.
studi pada Gambar 1 di bawah ini. Sebagian besar pertumbuhan kota-kota di
Indonesia tidak diimbangi dengan
pembangunan sarana dan prasarana kota dan
peningkatan pelayanan perkotaan yang

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 269


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

mendukung perubahan tersebut, sehingga guna lahan yang efisien. Percampuran antara
perkembangan yang terjadi di kawasan guna lahan perumahan dan bukan
perkotaan dianggap mengalami degradasi perumahan, termasuk untuk berbagai
lingkungan yang berpotensi menciptakan kegiatan komersial di kampung justru
permukiman kumuh (Sobirin, 2001: 41). menjamin keberlanjutan kampung dan
Perumahan adalah kumpulan rumah menciptakan kondisi kota yang liveable
sebagai bagian dari permukiman, baik (Roychansyah dan Diwangkari, 2009).
perkotaan maupun perdesaan, yang Dari beberapa definisi tersebut dapat
dilengkapi dengan prasarana, sarana, dan disimpulkan, bahwa kampung kota adalah
utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan suatu bentuk permukiman di wilayah
rumah yang layak huni. Sedangkan
perkotaan yang khas Indonesia dengan ciri:
pemukiman adalah bagian dari lingkungan
hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan penduduk masih membawa sifat dan perilaku
perumahan yang mempunyai prasarana, kehidupan pedesaan; kondisi fisik bangunan
sarana, utilitas umum, serta mempunyai dan lingkungan kurang baik dan tidak
penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan beraturan; kerapatan bangunan dan
perkotaan atau kawasan perdesaan (UU No.1 penduduk tinggi serta memiliki pola guna
tahun 2011). lahan campuran/mixed used
Adapun kawasan permukiman adalah
bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan
Pemukiman Kumuh
lindung, baik berupa kawasan perkotaan
Pemukiman kumuh adalah permukiman
maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai
yang tidak layak huni karena ketidakteraturan
lingkungan tempat tinggal atau lingkungan
bangunan, tingkat kepadatan bangunan yang
hunian dan tempat kegiatan yang mendukung
tinggi, dan kualitas bangunan serta sarana dan
perikehidupan dan penghidupan. Perumahan
prasarana yang tidak memenuhi syarat.
dan kawasan permukiman adalah satu
Perumahan kumuh adalah perumahan yang
kesatuan sistem yang terdiri atas pembinaan
mengalami penurunan kualitas fungsi sebagai
maupun penyelenggaraan perumahan,
tempat hunian (UU No.1 tahun 2011).
penyelenggaraan kawasan permukiman,
Adapun menurut Ditjen Bangda
pemeliharaan dan perbaikan, pencegahan dan
Kemendagri, karakteristik pemukiman kumuh
peningkatan kualitas terhadap perumahan
antara lain : sebagian besar penduduknya
kumuh dan permukiman kumuh, penyediaan
berpenghasilan dan berpendidikan rendah,
tanah, pendanaan dan sistem pembiayaan,
serta memiliki sistem sosial yang rentan;
serta peran masyarakat (UU No.1 tahun 2011)
sebagian besar penduduknya berusaha atau
bekerja di sektor informal; lingkungan
Kampung Kota
permukiman, rumah, fasilitas dan
Kampung kota dapat dijelaskan sebagai
prasarananya di bawah standar minimal
sebuah perumahan atau pemukiman yang
sebagai tempat bermukim, misalnya memiliki:
seperti kampung di pedesaan, tapi berada di
kepadatan penduduk yang tinggi > 200
perkotaan (Setiawan, 2010). Jika dilihat secara
jiwa/km2; kepadatan bangunan > 110
fisik sebagian kampung kota biasanya identik
bangunan/Ha; kondisi prasarana buruk (jalan,
dengan ketidakteraturan hingga kondisi
air bersih, sanitasi, drainase,
kumuh. Namun demikian kampung kota juga
danpersampahan); kondisi fasilitas lingkungan
biasanya memiliki ciri khas tertentu berdasar
terbatas dan buruk, terbangun <20% dari
sejarahnya masing-masing.
luas persampahan; kondisi bangunan rumah
Dilihat dari sisi lain kepadatan
tidak permanen dan tidak memenuhi syarat
penduduk, efisiensi lahan, sarana
minimal untuk tempat tinggal; permukiman
prasarananya maupun pola guna lahan
rawan terhadap banjir, kebakaran, penyakit
campuran/mixed used yang terdapat di
dan keamanan serta kawasan permukiman
dalamnya cukup memberikan alternatif pola

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 270


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

dapat atau berpotensi menimbulkan ancaman Kondisi sosial yaitu identifikasi tingkat
(fisik dan non fisik) bagi manusia dan pendidikan masyarakat maupun jenis
lingkungannya pekerjaan mereka yang akan mempengaruhi
kondisi lingkungan serta kondisi bangunan
Identifikasi Karakteristik Pemukiman Kumuh Di yang mereka huni. Selain itu dilihat pula
Kampung Kota kepadatan penduduk, serta jumlah penghuni
Menurut Constantinos A. Doxiadis yang tinggal dikawasan pemukiman tersebut
(1968: 21-35) terdapat lima elemen dasar yang berpengaruh terhadap kondisi
pemukiman: Nature (alam), adalah lahan yang lingkungan; Kondisi ekonomi yaitu untuk
dapat dimanfaatkan untuk membangun mengetahui kondisi perekonomian
tempat tinggal maupun fungsi lainnya; Man masyarakat dalam memenuhi kebutuhan
(manusia), baik pribadi maupun kelompok mereka sehari-hari serta dalam
yang membangun atau bertempat tinggal; mengalokasikan dana untuk perbaikan rumah
Society (masyarakat), dimana didalamnya dan lingkungan mereka dengan melihat data
terdapat interaksi dan hubungan sosial antar tingkat pendapatan mereka dan jenis
manusia sehingga membentuk ikatan tertentu pekerjaan masyarakat
sebagai masyarakat; Shells (rumah), yakni Karakteristik Hunian
bangunan tempat tinggal manusia dengan Mengidentifikasi karakteristik hunian
fungsi masing-masing; Networks (jaringan), dikampung kota, diantaranya : Fungsi dan
dengan kata lain sarana prasarana yang kegiatan dengan cara melihat aktifitas dan
mendukung fungsi lingkungan baik alami kegiatan yang terjadi di dalam hunian yang
maupun buatan manusia. terdapat di kawasan permukiman. Selain itu
Elemen dasar tersebut dapat dijabarkan juga akan diidentifikasi penyimpangan-
sebagai berikut : Alam (iklim, kekayaan alam, penyimpangan yang terjadi; Tampilan
topografi, ketersediaan air, tempat tanaman Bangunan dengan mengidentifikasi tentang
bertumbuh dan hewan hidup); Manusia tampilan visual bangunan hunian di kawasan
(kebutuhan biologi seperti udara, air, suhu, permukiman kampung kota dengan melihat
ruang dan lain sebagainya, kebutuhan emosi bentuk maupun bahan bangunan ataupun
seperti hubungan manusia, rasa aman, luasan bangunan dibandingkan dengan
keindahan dan lain sebagainya, nilai moral jumlah penghuninya; Kepemilikan hunian
dan budaya; Masyarakat (kepadatan yakni yang terkait dengan hal-hal yang
penduduk, tingkat strata, budaya, ekonomi, mempengaruhi kepedulian terhadap keadaan
pendidikan kesehatan, hiburan, hukum); perawatan bangunan dan berhubungan erat
Bangunan (rumah, fasilitas umum, dengan tampilan bangunan.
perkantoran, tempat rekreasi, industri, Karakteristik Sarana dan Prasarana
transportasi); Sarana prasarana (jaringan Identifikasi dan analisis karakteristik
seperti sistem air bersih, listrik, jalan, telepon, sarana dan prasarana penunjang di kampung
televisi, sarana transportasi, drainase, kota ini untuk bertujuan untuk mengetahui
sampah, MCK). kondisi, ketersediaan dan kebutuhan sarana
Berdasarkan teori tersebut maka dan prasarana penunjang dalam kawasan
identifikasi karakteristik pemukiman kumuh di pemukiman kampung kota. Secara umum
kampung kota dapat dilakukan dengan ketersediaan dan kebutuhan pada kawasan
melihat karakteristik penghuni, karakteristik pemukiman dapat dilihat dari kondisi dan
hunian, karakteristik sarana prasarana dan manajemen pelayanannya. Semakin buruk
karakteristik lingkungan sebagai berikut : kondisi dan rendah tingkat pelayanannya
Karakteristik Penghuni maka akan berpengaruh pula pada tingkat
Mengidentifikasi dan menganalisis kekumuhannya.
kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Karakteristik Lingkungan
penghuni, di kampung kota diantaranya : Mengidentifikasi karakteristik
lingkungan di kampung kota dilakukan untuk

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 271


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

mengetahui kondisi lingkungan permukiman Metode pengumpulan data membahas


kampung kota baik aktifitas yang terjadi di tentang alat atau teknik pengumpulan data
dalam lingkungan permukiman itu sendiri dan prosedur penelitan dilakukan meliputi
maupun aktifitas yang terdapat di sekitar pencatatan data, kebutuhan data yang
kawasan yang dapat mempengaruhi kondisi diperlukan, dan langkah-langkah penelitian
lingkungan permukiman. selanjutnya. Teknik pengumpulan data yang
Tingkat Kekumuhan digunakan yaitu teknik pengumpulan data
Identifikasi tingkat kekumuhan di primer dan teknik pengumpulan data
kampung kota bertujuan untuk mengetahui sekunder.
seberapa besar tingkat kekumuhan yang Jenis analisis yang digunakan dalam
terjadi didalam kampung kota. Tingkat penelitian, untuk menjawab pertanyaan dan
kekumuhan ini dilakukan dengan mencapai tujuan penelitian sesuai dengan
mengkategorikan kawasan kampung kota sasaran penelitian yang akan dicapai yaitu:
berdasarkan standard tingkat kekumuhan Analisis Karakteristik Penghuni
dengan metode skoring. Mengenai tingkat pendidikan masyarakat
maupun jenis pekerjaan. Selain itu dilihat pula
METODE PENELITIAN kepadatan penduduk, serta jumlah penghuni
Jenis penelitian yang digunakan dalam yang tinggal dikawasan pemukiman tersebut
penelitian ini adalah jenis penelitian yang berpengaruh terhadap kondisi
kuantitatif deskripstif. Penelitian kuantitatif, lingkungan. Untuk mengetahui kondisi
adalah penelitian dengan memperoleh data perekonomian masyarakat dilihat dari data
yang berbentuk angka atau data kualitatif tingkat pendapatan dan jenis pekerjaan
yang diangkakan (Sugiyono, 2003:14). masyarakat. Analisis ini dilakukan dengan
Berkaitan dengan hal tersebut, populasi teknik analisis deskriptif kuantitatif yang
dalam penelitian ini adalah seluruh rumah dan dijabarkan melaui narasi serta diagram
kepala rumah tangga yang tinggal dalam maupun tabel.
kawasan Kampung Gandekan. Penentuan Analisis Karakteristik Hunian
ukuran sampel dalam penelitian ini merujuk Melihat aktifitas dan kegiatan yang terjadi di
pada Tabel Krecjie (Gambar 3.1) dan dalam hunian yang terdapat di kawasan
Nomogram Harry King (Gambar 3.2). Krecjie permukiman. Selain itu juga akan diidentifikasi
dalam melakukan perhitungan ukuran sampel penyimpangan-penyimpangan yang terjadi;
didasarkan atas kesalahan 5%. Jadi sampel mengamati tampilan visual bangunan hunian
yang diperoleh memiliki kepercayaan 95% dengan melihat bentuk maupun bahan
terhadap populasi. Adapun Harry menghitung bangunan ataupun luasan bangunan
sampel tidak hanya didasarkan atas kesalahan dibandingkan dengan jumlah penghuninya;
5% saja, tetapi bervariasi hingga 15% melihat keserasian tampilan bangunan dengan
(Sugiyono, 2013). bangunan formal yang terdapat di sekitarnya;
Berdasarkan Tabel Krecjie dapat mencari informasi mengenai kepemilikan
ditentukan nilai sampel dari total populasi hunian. Analisis ini dilakukan dengan teknik
sebanyak 158 KK yaitu antara 108-113 KK, analisis diskriptif kuantitatif yang diperkuat
sedangkan berdasarkan Nomogram Harry King dengan data hasil observasi yang difokuskan
nilai sampel dihitung dengan cara 0,64 x 158 pada kondisi hunian. Hasil dari tahapan ini
KK = 101 KK (tarik garis dari angka 158 juga berupa foto atau gambar mengenai
melewati taraf kesalahan 5%, maka akan hunian.
ditemukan titik dibawah angka 60. Titik Analisis Karakteristik Sarana Prasarana
tersebut kurang lebih 64). Berdasarkan kedua Melihat kondisi, ketersediaan dan kebutuhan
penentuan ukuran sampel tersebut maka sarana dan prasarana penunjang dalam
dipertimbangkan untuk mengambil sampel kawasan pemukiman Kampung Kota seperti
sebanyak 107 KK. kondisi jalan lingkungan baik jenis bahan
bangunan yang digunakan, pola dan

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 272


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

luasannya; melihat sarana prasarana yang penghuni di Kampung Gandekan merupakan


mendukung pembuangan sampah dan akibat dari bertambahnya jumlah pendatang
manjemen pengelolaan pembuangan dari berbagai daerah yang kemudian
dikawasan pemukiman tersebut; mengamati berkeluarga dan tinggal menetap dikawasan
jenis drainase baik buatan maupun drainase tersebut.
alam; mengamati jenis sanitasi, jumlah Adapun dari sisi sosial ekonominya,
maupun kondisinya; melihat seberapa besar karakteristik penghuni Kampung Gandekan
tingkat pelayanan air bersih melalui masih berada pada tingkat rendah baik dari
keterjangkauan masyarakat terhadap air segi pendidikan maupun pendapatan dan
bersih. Analisis ini dilakukan dengan teknik sebagian besar masih bekerja pada sektor
analisis diskriptif kuantitatif yang diperkuat swasta (pekerja rendahan).
dengan data hasil observasi yang difokuskan Rendahnya tingkat sosial ekonomi
pada kondisi sarana prasarana. Hasil dari penghuni Kampung Gandekan ini juga
tahapan ini juga berupa foto atau gambar berbanding lurus dengan kepadatan
mengenai sarana prasarana. penduduk didalamnya. Untuk hunian kumuh
Analisis Karakteristik Lingkungan tertentu (sebagian besar terdapat di RT I)
Melihat kondisi lingkungan permukiman bahkan terdapat penghuni yang mendiami
Kampung Kota baik aktifitas yang terjadi di rumah melebihi 2 kepala keluarga.
dalam lingkungan permukiman itu sendiri
maupun aktifitas yang terdapat di sekitar Karakteristik Hunian, sebagian besar hunian
kawasan yang dapat mempengaruhi kondisi di Kampung Gandekan didominasi oleh
lingkungan permukiman. Analisis dilakukan bangunan yang masih kurang layak huni
dengan teknik analisis diskriptif kuantitatif karena belum memiliki persyaratan sesuai
yang diperkuat dengan data hasil observasi standar kesehatan hunian. Kondisi bangunan
yang difokuskan pada kondisi lingkungan. seperti ini lebih banyak ditemukan pada
Hasil dari tahapan ini juga berupa foto atau wilayah RT I. Adapun definisi tidak layak huni
gambar mengenai kondisi lingkungan. yang dimaksud dalam hal ini adalah dari sisi
Mengidentifikasi Tingkat Kekumuhan jenis bangunan yang masih semi permanen
Mengetahui seberapa besar tingkat maupun semi permanen, luasan bangunan
kekumuhan yang terjadi didalam kampung yang berukuran kecil dan sempit, tidak adanya
kota. Tingkat kekumuhan ini dilakukan dengan pemisahan bagian untuk ruang privat maupun
mengkategorikan kawasan kampung kota ruang bersama, kurangnya perawatan dari
melalui metode skoring berdasarkan panduan pemilik hunian terhadap bangunan
identifikasi pemukiman kumuh. Hasil dari huniaannya dan tidak adanya sertifikat
tahapan ini juga berupa peta tipologi kawasan kepemilikan yang sah oleh masyarakat
kumuh di Kampung Gandekan. terhadap hunian yang ditinggalinya selama ini.
Meski kondisinya demikian, disisi lain
Hasil Pembahasan beberapa hunian yang terdapat di Kampung
Karakteristik penghuni, pada masa dahulu Gandekan memiliki nilai sejarah peninggalan
penghuni di Kampung Gandekan hanya keluarga Taspirin dan bercorak arsitektur yang
diperuntukan bagi keluarga dan pekerja dipengaruhi oleh timur tengah. Bangunan-
Saudagar Tasripin saja namun seiring dengan bangunan tersebut sampai saat ini masih
perkembangan kota Semarang yang semakin terjaga keasliannya dan didiami oleh beberapa
pesat, penghuni di Kampung Gandekan keturunan Taspirin yang masih bertahan di
memiliki karakteristik yang beragam sehingga Kampung Gandekan sehingga membuat
tidak hanya dari kalangan pribumi saja bahkan karakteristik kampung ini menjadi lebih unik
hampir setengah penduduk yang kini dan berbeda dibanding kampung kota lainnya.
mendiami Kampung Gandekan berasal dari
jenis Tionghoa. Peningkatan jumlah dan jenis

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 273


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

Lebih Spesifik pada sarana peribadatan


yang tersedia, di Kampung Gandekan hanya
terdapat sebuah mushalla kecil yang juga
merupakan salah satu bangunan tua sejak
jaman penjajahan Belanda. Dari sisi daya
tampungnya mushalla ini sebenarnya telah
tidak sebanding dengan perkembangan
jumlah penduduk didalamnya. Selain itu
kondisinya juga cukup memprihatinkan,
meskipun keasliannya masih terjaga namun
beberapa bagian bangunan mushalla tersebut
mengalami beberapa kerusakan akibat usia
Sumber: Hasil Analisis, 2014 bangunannya yang telah sangat tua.

GAMBAR 2
ZONASI AREA PEMUKIMAN BERDASARKAN
JENIS BANGUNAN

Karakteristik Sarana Prasarana, baik wilayah


RT I maupun RT II sarana prasarana yang
tersedia kondisinya hampir sama yakni Sumber: Hasil Observasi Lapangan, 2014
sebagian besar masih belum memenuhi
kebutuhan sarana prasarana yang berkualitas GAMBAR 4
baik untuk sarana peribadatan, jaringan KONDISI PRASARANA JALAN
persampahan, drainase, sanitasi maupun
tingkat pelayanan air bersih. Namun demikian Karakteristik Lingkungan, pada Kampung
prasarana jalan yang terdapat di Kampung Gandekan secara keseluruhan, masih tidak
Gandekan telah memiliki kondisi yang sangat teratur terutama untuk wilayah RT I. Pendirian
baik kecuali pada gang-gang tertentu yang bangunannya tidak memperhatikan garis
sempit menuju kumpulan rumah kumuh. sempadan jalan maupun sungai. Selain itu
tidak terdapat vegetasi hijau yang terlihat
dilingkungan sekitar maupun ruang terbuka
baik hijau maupun non hijau yang dapat
digunakan sebagai ruang berkumpul bagi
masyarakatnya.

Karakteristik Tingkat Kekumuhan, Untuk


mengetahui karakteristik pemukiman kumuh
di Kampung Kota (Studi kasus : Kampung
Gandekan Semarang) ini maka selanjutnya
perlu dilakukan analisis tingkat kekumuhan.
Setelah sebelumnya telah dilakukan tahapan
analisis pertama yang dilakukan dengan
metode analisis statistik deskriptif maka
Sumber: Hasil Analisis, 2014
selanjutnya dilakukan analisis Tingkat
Kekumuhan untuk mengetahui tingkat
GAMBAR 3
kekumuhan yang terdapat di Kampung
PETA SARANA PRASARANA
Gandekan. Dan selanjutnya dilakukan
pembentukan kriteria untuk melakukan

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 274


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

analisis skoring terhadap tingkat kekumuhan 70%


Sanitasi 3
dan tipologi pemukiman yang terdapat di
Pribadi > 70%
wilayah penelitian. Ketersediaan Prasarana Pelayanan 1
Analisis skoring dilakukan dengan dan Kondisi Persampahan <50%
menilai kondisi eksisting terhadap Prasarana
Perkotaan
kriteria/indikator yang ditetapkan oleh
Pelayanan 50- 2
peneliti berdasarkan teori mengenai 70%
pemukiman kumuh yang telah dijabarkan Pelayanan 3
sebelumnya. Melalui hasil perhitungan tiap >50%
Prasarana Genangan 1
variabel maka dapat diketahui total nilai
Drainase >50%
skoring kekumuhan di Kampung Gandekan. Genangan 25- 2
Nilai bobot tersebut akan mencerminkan 50%
tingkat kekumuhan pada masing-masing Genangan 3
<25%
variabel yang digunakan. Masing-masing
Kondisi Jalan Jalan-jalan 1
variabel dalam analisis skoring ini memiliki buruk >70%
parameter yang diadaptasi dari Panduan Jalan-jalan 2
Identifikasi Kawasan Permukiman Kumuh buruk 50-70%
Jalan-jalan 3
Daerah Penyangga Kota Metropolitan (2006)
buruk <50%
sedangkan nilai skor di dapatkan dari asumsi Tingkat Kepadatan >201 jiwa/ha 1
peneliti. Kepadatan Penduduk
Adapun untuk menentukan tipologi Kawasan
151-200 2
pemukiman kumuh di Kampung Gandekan ini,
jiwa/ha
caranya adalah dengan melakukan penilaian <150 jiwa/ha 3
terhadap kondisi eksisting dari hasil rekapan Ruang Gerak <10 m2/jiwa 1
kuesioner dari total 107 responden. Penilaian Perjiwa
akan dilakukan sesuai dengan asumsi peneliti, 10 m2/jiwa 2
>10 m2/jiwa 3
jika dinyatakan baik maka mendapat poin 3, Legalitas Status >66,6% belum 1
untuk buruk mendapat poin 1 dan sedang Kepemilikan Kepemilikan bersertifikat
mendapatkan poin 2. Penilaian skoring ini Lahan Lahan
dilakukan pada tiap variabel yang terdapat di 33,3-66,6% 2
belum
3 area titik sampel. bersertifikat
<33,3% belum 3
TABEL 1. METODE SKORING TINGKAT bersertifikat
KEKUMUHAN Sumber : Hasil analisis, 2014
Nilai
Kriteria Variabel Kondisi
Skoring
Kondisi Kualitas > 50% non 1
Berikut kriteria interpretasi skornya
Kelayakan Bangunan permanen berdasarkan interval :
Bangunan Angka 0% 33,33% = Tingkat
25 50% non 2 Kekumuhan Tinggi
permanen
< 25% non 3
Angka 34% 66,66% = Tingkat
permanen Kekumuhan Sedang
Prasarana Air Perpipaan 1 Angka 67% 100% = Tingkat
Bersih <30%
Kekumuhan Rendah
Perpipaan 30- 2
60%
Perpipaan 3 Selanjutnya dilakukan pembentukan
>60% kriteria untuk melakukan analisis skoring
Prasarana Sanitasi 1 terhadap tingkat kekumuhan dan tipologi
Sanitasi Pribadi < 30%
Sanitasi 2
pemukiman yang terdapat di wilayah
Pribadi 30- penelitian yang dijabarkan dalam Tabel 2.

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 275


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

TABEL 2. PEMBENTUKAN KRITERIA Sedang jika lebar jalan masih sempit


Variabel Kriteria Yang Terbentuk namun telah memiliki perkerasan
Kondisi Buruk jika bangunan belum permanen, Baik jika lebar jalan telah sesuai standard
Bangunan semua aktifitas dilakukan dalam 1 ruang perumahan dan telah memiliki perkerasan
saja, tidak memiliki pencahayaan dan dengan kondisi sangat baik
sirkulasi udara baik dan ukuran lahan Kepadatan Buruk jika dalam satu rumah dihuni lebih
sempit Penduduk dari 1 kepala keluarga
Sedang jika belum permanen atau semi Baik jika dalam satu rumah hanya dihuni
permanen, telah memiliki pembagian ruang oleh satu kepala keluarga
untuk aktifitas tertentu, memiliki Ruang Gerak Buruk jika anggota keluarga tidak memiliki
pencahayaan dan sirkulasi udara yang Perjiwa ruang privat dan hanya memiliki satu
cukup namun masih memiliki ukuran lahan ruangan yang digunakan untuk semua
yang relatif sempit aktivitas
Baik jika bangunan telah permanen, tiap Sedang jika telah terdapat ruang privat dan
aktifitas dilakukan pada tiap ruang, memiliki pembagian ruang untuk kebutuhan aktivitas
pencahayaan dan sirkulasi yang baik dan tertentu namun ukurannya masih sempit
ukuran lahan tidak sempit Baik jika terdapat ruang yang cukup untuk
Kondisi Buruk jika kebutuhan air bersih tidak kebutuhan aktivitas tertentu, terdapat
Prasarana Air terpenuhi baik untuk MCK maupun untuk pemisahan antara ruang privat dan ruang
Bersih dikonsumsi untuk aktivitas bersama dengan ukuran
Sedang jika kebutuhan air bersih untuk yang cukup luas
kegiatan MCK telah terpenuhi dengan Status Buruk jika tidak memiliki sertifikat hak
kualitas air yang jernih meskipun untuk Kepemilikan kepemilikan tanah maupun bangunan
dikonsumsi masih harus membeli air Lahan
secara eceran Sedang jika memiliki sertifikat hak
Baik jika kebutuhan air bersih telah kepemilikan bangunan saja dan tidak
terpenuhi sesuai standard, kualitas air memiliki sertifikat hak kepemilikan lahan
jernih dan dapat digunakan baik untuk Baik jika memiliki sertifikat hak kepemilikan
kegiatan MCK maupun sebagai air minum baik tanah maupun bangunan
Kondisi Buruk jika tidak memiliki sanitasi individu, Sumber: Hasil Analisis, 2014
Sanitasi kegiatan MCK dilakukan terpisah diluar
rumah dan tidak memiliki septictank
Sedang jika telah memiliki sanitasi individu Setelah dilakukan analisis skoring maka
namun kondisinya masih kurang layak dan diperoleh hasil bahwa Kampung Gandekan
sehat dan belum memiliki septictank dapat dikategorikan menjadi 2 (dua) jenis
Baik jika telah memiliki sanitasi individu
tipologi pemukiman kumuh yakni Tipologi II
yang sesuai standard kesehatan dan
memiliki septictank yang memiliki jenis tingkat kekumuhan sedang
Prasarana Buruk jika warga masih membuang sampah dan Tipologi III yang memiliki jenis tingkat
Persampahan secara sembarangan dan tidak terdapat bak kekumuhan rendah. Dua kategori ini terbagi
sampah besar sementara untuk
dalam 3 area (berdasarkan titik sampel)
pembuangan kolektif
Sedang jika warga masih membuang dimana untuk Area 1 termasuk dalam Tipologi
sampah per individu dengan cara di bakar II sedangkan Area 2 dan 3 termasuk dalam
di tempat terbuka atau dikumpulkan Tipologi III.
terlebih dahulu sebelum dibuang ke TPS
terdekat
Baik jika telah terdapat pengelolaan
sampah secara kolektif untuk warga dan
terdapat bak sampah besar untuk
penampungan sementara
Prasarana Buruk jika tidak tersedia jaringan drainase
Drainase
Sedang jika telah tersedia jaringan drainase
namun kondisinya masih cukup kotor
tersumbat sampah dan akan tergenang jika
musim hujan tiba
Baik jika telah tersedia jaringan drainase
dan kondisinya mengalir lancar dan tidak
tergenang
Kondisi Jalan Buruk jika lebar jalan sempit dan belum
memiliki perkerasan Sumber: Hasil Analisis, 2014

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 276


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

GAMBAR 5 Berdasarkan hasil skoring pada tabel di


TIPOLOGI PEMUKIMAN KUMUH atas diketahui bahwa dari 9 variabel yang
KAMPUNG GANDEKAN dinilai, total nilai skoring adalah 70,37%.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Berdasarkan peta diatas jenis tipologi status Kampung Gandekan secara umum
ditandai dengan warna biru dan merah. Area 1 termasuk ke dalam kategori memiliki tingkat
ditandai dengan warna biru yaang artinya kekumuhan rendah.
termasuk dalam kategori tingkat kekumuhan
sedang, sedangkan pada area 2 dan 3 ditandai Karakteristik Tipologi Kawasan Pemukiman
dengan warna merah yakni termasuk dalam Kumuh di Kampung Gandekan berdasarkan
kategori tingkat kekumuhan rendah. hasil analisis skoring yang dilakukan pada 3
Adapun berdasarkan hasil skoring
area amatan diketahui bahwa ketiganya area
secara keseluruhan, Kampung Gandekan
termasuk dalam Tipologi III yaitu memiliki memiliki karakteristik yang relatif sama jika
tingkat kekumuhan yang rendah seperti yang dilihat dari variabel-varibael tertentu,
terlihat pada Tabel 3. terutama untuk kriteria ketersediaan dan
kondisi sarana prasarana karena dalam
TABEL 3. HASIL SKORING TINGKAT wilayah penelitian. Sarana prasarana tersebut
KEKUMUHAN KAMPUNG GANDEKAN jumlahnya sangat terbatas dan digunakan
Kriteria Variabel Nilai Skor Keterangan
Kondisi
Kualitas
Sedang secara kolektif oleh penduduk Kampung
Kelayakan 2
Bangunan Gandekan. Namun demikian, tetap terdapat
Bangunan
Prasarana Air Sedang perbedaan karakteristik pada masing-masing
2
Bersih
Prasarana tipologi kawasan pemukiman kumuh di
2 Sedang
Sanitasi
Ketersediaan Sedang
Kampung Gandekan yang mana perbedaannya
dan Kondisi Prasarana dapat dilihat melalui Tabel IV.
2
Prasarana Persampahan
Perkotaan
Prasarana Sedang
2
Drainase
Kondisi Jalan 3 Baik
Tingkat Sedang
Kepadatan
Kepadatan 2
Penduduk
Kawasan
Ruang Gerak Sedang
2
Perjiwa
Legalitas Status Sedang
Kepemilikan Kepemilikan 2
Lahan Lahan
Total 19
Sumber: Hasil Analisis, 2014

TABEL IV
KARAKTERISTIK TIPOLOGI KAWASAN PEMUKIMAN KUMUH DI KAMPUNG GANDEKAN
Tipologi II Tipologi III
Variabel
Area 1 Area 2 Area 3
Sebagian besar non Sebagian besar non Sebagian besar berupa
permanen dan semi permanen dan semi semi permanen dan
permanen berupa permanen berupa permanen berupa
Kualitas Bangunan
papan atau setengah papan atau setengah setengah tembok dan
tembok dan setengah tembok dan setengah setengah papan atau
papan, tidak memiliki papan, telah memiliki tembok, memiliki

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 277


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

kamar, memiliki kamar, memiliki kamar, memiliki


pencahayaan kurang pencahayaan cukup pencahayaan baik dan
baik dan tidak memiliki baik dan memiliki memiliki jendela pada
jendela, ukuran lahan beberapa jendela, tiap ruang yang
sempit ukuran lahan sempit membutuhkan, ukuran
lahan cukup luas
Sumber kebutuhan air Sumber kebutuhan air Kebutuhan air bersih
bersih dari sumur bersih dari sumur telah terpenuhi sesuai
dangkal sedangkan dangkal sedangkan standard, kualitas air
Prasarana Air Bersih kebutuhan air minum kebutuhan air minum jernih dan dapat
didapat dengan cara didapat dengan cara digunakan baik untuk
membeli eceran berupa membeli eceran kegiatan MCK maupun
galon/ember berupa galon/ember sebagai air minum
Tidak memiliki kamar Telah memiliki kamar Telah memiliki sanitasi
mandi dan toilet pribadi mandi dan toilet individu yang sesuai
(menggunakan kamar pribadi namun standard kesehatan dan
Prasarana Sanitasi mandi dan toilet umum) kondisinya masih memiliki septictank
kurang layak dan sehat
dan belum memiliki
septictank
Cara membuang Cara membuang Cara membuang
sampah masih secara sampah masih secara sampah masih secara
konvensional, warga konvensional, warga konvensional, warga
masih membuang masih membuang masih membuang
sampah per individu sampah per individu sampah per individu
Prasarana
dengan cara di bakar di dengan cara di bakar dengan cara di bakar di
Persampahan
tempat terbuka atau di tempat terbuka tempat terbuka atau
dikumpulkan terlebih atau dikumpulkan dikumpulkan terlebih
dahulu sebelum terlebih dahulu dahulu sebelum
dibuang ke TPS terdekat sebelum dibuang ke dibuang ke TPS terdekat
TPS terdekat
Telah tersedia jaringan Telah tersedia jaringan Telah tersedia jaringan
drainase namun drainase namun drainase namun
kondisinya masih cukup kondisinya masih kondisinya masih cukup
Prasarana Drainase kotor tersumbat cukup kotor tersumbat kotor tersumbat
sampah dan akan sampah dan akan sampah dan akan
tergenang jika musim tergenang jika musim tergenang jika musim
hujan tiba hujan tiba hujan tiba
Lebar jalan sempit Lebar jalan telah Lebar jalan telah sesuai
(kurang dari 3 meter) sesuai standard standard perumahan
Kondisi Jalan dan belum memiliki perumahan dan telah dan telah memiliki
perkerasan memiliki perkerasan perkerasan dengan
dengan kondisi sangat kondisi sangat baik
Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 278
Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

baik
Dalam satu rumah Dalam satu rumah Dalam satu rumah
dihuni masih dihuni hanya dihuni oleh satu hanya dihuni oleh satu
Kepadatan Penduduk
oleh lebih dari 1 kepala kepala keluarga kepala keluarga
keluarga
Anggota keluarga tidak Telah terdapat ruang Terdapat ruang yang
memiliki ruang privat privat dan pembagian cukup untuk kebutuhan
dan hanya memiliki satu ruang untuk aktivitas tertentu,
ruangan yang kebutuhan aktivitas terdapat pemisahan
Ruang Gerak Perjiwa
digunakan untuk semua tertentu namun antara ruang privat dan
aktivitas ukurannya masih ruang untuk aktivitas
sempit bersama dengan ukuran
yang cukup luas
Tidak memiliki sertifikat Memiliki sertifikat hak Memiliki sertifikat hak
hak kepemilikan tanah kepemilikan bangunan kepemilikan baik tanah
Status Kepemilikan maupun bangunan saja dan tidak memiliki maupun bangunan
Lahan sertifikat hak
kepemilikan lahan
atau sebaliknya
Sumber: Hasil Analisis Peneliti, 2014

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 279


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

Berdasarkan dari hasil uraian diatas kerja dan keberadaan keluarga yang
maka dapat di ketahui bahwa secara sudah tinggal di lokasi. Hal ini
keseluruhan karakteristik kawasan menyebabkan rumah tumbuh padat
pemukiman kumuh di Kampung Gandekan jika dan tidak teratur dan kondisi sarana-
dilihat dari Karakteristik Penghuni, prasarana yang buruk.
Karakteristik Hunian, Karakteristik Sarana f) Kondisi sosial ekonomi penduduk yang
Prasarana dan Karakteristik Lingkungannya umumnya berpenghasilan sangat
memiliki karakteristik yang berbeda atau rendah, menyebabkan rendahnya
memiliki keunikan tersendiri dengan Kampung motivasi penduduk untuk memiliki
Kota lainnya. Hal ini disebabkan oleh rumah yang layak dan sehat. Kemudian
kemunculan Kampung Gandekan yang implikasi dari tingginya tingkat
memiliki keterkaitan dengan sejarah Kota kepadatan bangunan di lokasi
Semarang yang dibuktikan dengan adanya menyebabkan kurangnya vegetasi dan
peninggalan beberapa bangunan bersejarah di ruang terbuka hijau di wilayah
dalamnya yang hingga kini masih terjaga penelitian.
keasliannya. Adapun jika dilihat dari tingkat g) Berdasarkan analisis tingkat kekumuhan
kekumuhannya yang dilakukan dengan yang dilakukan melalui metode skoring,
metode skoring pada 3 area amatan, terdapat Kampung Gandekan termasuk dalam
beberapa variabel tertentu yang memiliki kategori kawasan yang memiliki tingkat
karakteritik relatif sama terutama untuk kekumuhan rendah dan memiliki 2
kriteria ketersediaan dan kondisi sarana (dua) jenis tipologi yakni Tipologi II
prasarana dalam wilayah penelitian. Hal ini (Tingkat Kekumuhan Sedang) dan
disebabkan oleh jumlah sarana prasarana Tipologi III (Tingkat Kekumuhan
yang terbatas dan digunakan secara kolektif Rendah).
oleh penduduk Kampung Gandekan sehingga
ketiga area memiliki kondisinya yang sama. Rekomendasi
a) Kawasan Kampung Gandekan ini
KESIMPULAN & REKOMENDASI termasuk dalam kategori kawasan yang
Kesimpulan memiliki tingkat kekumuhan rendah,
Dari hasil penelitian yang telah namun demikian tetap diperlukan
dilakukan dapat ditarik kesimpulan sebagai upaya perbaikan terhadap kondisi yang
berikut : terjadi didalamnya dalam rangka
a) Sarana dan prasarana air bersih di mencegah berkembanganya tingkat
Kampung Gandekan belum terdistribusi kekumuhan yang lebih tinggi
merata, pembuangan air kotor dan b) Bangunan-bangunan tua baik yang
pembuangan sampah belum memenuhi berupa rumah hunian maupun mushalla
persyaratan kesehatan peninggalan Keluarga Tasripin yang
b) Banyaknya kualitas bangunan yang berada di kawasan Kampung Gandekan
rendah dan tidak layak huni ini perlu diupayakan perawatan dan
c) Kampung Gandekan memiliki tingkat kelestariannya agar salah satu kampung
kepadatan yang tinggi yang termasuk bagian dari sejarah Kota
d) Sebagian besar bangunan yang terdapat Semarang ini lebih dikenal dan
di Kampung Gandekan tidak memiliki berkembang
sertifikat hak milik tanah dan bangunan c) Penelitian lanjutan yang dapat
e) Salah satu penyebab tingginya tingkat direkomendasikan untuk penelitian
kepadatan perumahan di Kampung sejenis dengan tema ini adalah
Gandekan adalah karena adanya mengenai perencanaan prioritas
penduduk pendatang yang tinggal dan penanganan kawasan kumuh yang
menetap karena alasan letak lokasi terdapat di Kampung Gandekan

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 280


Kajian Karakteristik Kawasan Pemukiman Kumuh Di Kampung Kota Raisya Nuryahbani dan Bitta Pigawati

Daftar Pustaka
Amri, Nurmaida. 2013. Karakteristik
Lingkungan Permukiman Kumuh Tepian
Sungai Kecamatan Kolaka, Sulawesi
Tenggara. Universitas Hasanuddin.
Makssar.
Budihardjo, Eko. 1997. Tata Ruang Perkotaan.
Bandung: Alumni
Kamus Tata Ruang. 1998. Direktorat Jendral
Cipta Karya, Departemen Pekerjaan
Umum bekerjasama dengan Ikatan Ahli
Perencanaan Indonesia.
Komaruddin. 1996. Menelusuri
Pembangunan Perumahan dan
Permukiman. Jakarta :
Yayasan REI.
Direktorat Pengembangan Permukiman,
Direktorat Jenderal Cipta Karya dan
Departemen Pekerjaan Umum. 2006.
Identifikasi Kawasan Permukiman
Kumuh Daerah Penyangga Kota
Metropolitan.
Sobirin. 2001. Distribusi Pemukiman dan
Prasarana Kota: Studi Kasus Dinamika
Pembangunan Kota di Indonesia.
Universitas Indonesia, Jakarta.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian
Pendidikan : Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R & D. Bandung :
Alfabeta.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang
Perumahan dan Kawan Pemukiman
Undang-undang Nomor 4 Tahun 1992 Tentang
Perumahan

Teknik PWK; Vol. 4; No. 2; 2015; hal. 267-281 | 281