Anda di halaman 1dari 8

1

Kisah Shahabat: Said bin Amir al-Jumahi


Radhiyallahu Anhu
Said bin Amir, seorang laki-laki yang membeli akhirat dengan dunia dan mementingkan Allah
dan Rasul-Nya diatas selain keduanya.

Anak muda ini, Said bin Amir, adalah satu dari ribuan orang yang keluar ke daerah Tanim di luar
Makkah atas undangan para pemuka Quraisy untuk menyaksikan pelaksanaan hukum mati atas
Khubaib bin Adi, salah seorang shahabat Muhammad setelah mereka menangkapnya dengan cara licik.

Sebagai pemuda yang kuat dan tangguh, Said mampu bersaing dengan orang-orang yang lebih tua
umurnya untuk berebut tempat di depan, sehingga dia mampu duduk sejajar di antara para pemuka
Quraisy seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lainnya yang menyelenggarakan
acara tersebut.

Semua itu membuka jalan baginya untuk menyaksikan tawanan Quraisy tersebut terikat dengan
tambang, sementara tangan anak-anak, para pemuda dan kaum wanita mendorongnya ke pelataran
kematian dengan kuatnya, mereka ingin melampiaskan dendam kesumat terhadap Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam melalui Khubaib, membalas kematian orang-orang mereka yang terbunuh
di Badar dengan membunuh Khubaib.

Manakala rombongan orang dalam jumlah besar dengan seorang tawanan mereka tersebut telah tiba di
tempat yang sudah disiapkan untuk membunuhnya, si anak muda Said bin Amir al-Jumahi berdiri tegak
memandang Khubaib yang sedang digiring ke tiang salib. Said mendengar suara Khubaib di antara
teriakan kaum wanita dan anak-anak, dia mendengarnya berkata, Bila kalian berkenan membiarkanku
shalat dua rakaat sebelum aku kalian bunuh?

Said melihat Khubaib menghadap kiblat, shalat dua rakaat, dua rakaat yang sangat baik dan sangat
sempurna.

Said melihat Khubaib menghadap para pembesar Quraisy dan berkata, Demi Allah, kalau aku tidak
khawatir kalian menyangka bahwa aku memperlama shalat karena takut mati niscaya aku akan
memperbanyak lagi shalatku.

Kemudian Said melihat kaumnya dengan kedua mata kepalanya mencincang jasad Khubaib sepotong
demi sepotong padahal Khubaib masih hidup, sambil berkata, Apakah kamu ingin Muhammad ada di
tempatmu ini sedangkan kamu selamat?[1]

Khubaib menjawab sementara darah menetes dari jasadnya, Demi Allah, aku tidak ingin berada di
antara keluarga dan anak-anakku dalam keadaan aman dan tenang sementara Muhammad tertusuk oleh
sebuah duri.

Maka orang banyak pun mengangkat tangan mereka tinggi-tinggi ke udara, teriakan mereka gegap
gempita menggema di langit.

Di saat itu Said bin Amir melihat Khubaib mengangkat pandangannya ke langit dari atas tiang salib dan
berkata, Ya Allah. balaslah mereka satu persatu, bunuhlah mereka sampai habis dan jangan biarkan
seorang pun dari mereka hidup dengan aman.

Akhirnya Khubaib pun menghembuskan nafas terakhirnya, dan tidak ada seorang pun yang mampu
melindunginya dari tebasan pedang dan tusukan tombak orang-orang kafir.

Orang-orang Quraisy kembali ke Makkah, mereka melupakan Khubaib dan kematiannya bersama
dengan datangnya peristiwa demi peristiwa besar yang mereka hadapi.

Namun tidak dengan anak muda yang baru tumbuh ini, Said bin Amir, Khubaib tidak pernah terbenam
dari benaknya sesaat pun.
2

Said melihatnya dalam mimpinya ketika dia tidur, membayangkannya dalam khayalannya ketika dia
terjaga, berdiri di depannya ketika dia shalat dua rakaat dengan tenang dan tenteram di depan kayu
salib, Said mendengar bisikan suaranya di kedua telinganya ketika dia berdoa atas orang-orang
Quraisy, maka dia khawatir sebuah halilintar akan menyambar atau sebuah batu dari langit akan jatuh
menimpanya.

peristiwa kematian Khubaib mengajarkan sesuatu kepada Said

persoalan besar yang belum dia ketahui selama ini.

Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bakwa kehidupan sejati adalah jihad di jalan
akidah yang diyakininya sampai maut

Peristiwa kematian Khubaib mengajarkan kepadanya bahwa iman yang

terpancang kuat bisa melahirkan dan menciptakan keajaiban-keajaiban. Khubaib mengajarkan


kepadanya perkara lainnya, yaitu seorang laki-laki yang dicintai sedemikian rupa oleh para
shahabatnya adalah seorang nabi yang didukung oleh kekuatan dan pertolongan langit.

Pada saat itu Allah Taala membuka dada Said bin Amir kepada Islam, maka dia berdiri di hadapan
sekumpulan orang banyak, mengumumkan bahwa dirinya berlepas diri dari dosa-dosa dan kejahatan-
kejahatan orang Quraisy, menanggalkan berhala-berhala dan patung-patung menyatakan diri sebagai
seorang muslim.

Said bin Amir al-Jumahi berhijrah ke Madinah tinggal bersama Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam, ikut bersama beliau dalam perang Khaibar dan peperangan lain sesudahnya.

Manakala Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang mulia dipanggil menghadap keharibaan Rabbnya
dalam keadaan ridha, Said bin Amir tetap menjadi sebilah pedang yang terhunus di tangan para
khalifah Nabi shallallahu alaihi wa sallam , Abu Bakar dan Umar radhiyallahu anhum. Said bin Amir
hidup sebagai contoh menawan lagi mengagumkan bagi setiap mukmin yang telah membeli akhirat
dengan dunia, mementingkan ridha Allah dan pahalaNya di atas segala keinginan jiwa dan hawa nafsu.

Dua orang khalifah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mengenal kejujuran Said radhiyallahu
anhu, dan ketakwaannya, keduanya mendengar nasihatnya dan mencamkan kata-katanya.

Said datang kepada Umar bin al-Khatthab radhiyallahu anhu & di awal khilafahnya, dia berkata,
Wahai Umar, aku berpesan kepadamu agar kamu bertakwa kepada Allah dari manusia clan jangan
takut kepada manusia dari Allah. Janganlah kata-katamu menyelisihi perbuatanmu, karena kata-kata
yang baik adalah yang dibenarkan oleh perbuatan. Wahai Umar, perhatikanlah orang-orang di mana
Allah Taala menyerahkan perkara mereka kepadamu dari kalangan kaum muslimin yang dekat
maupun yang jauh, cintailah untuk mereka apa yang kamu cintai untuk dirimu dan keluargamu,
bencilah untuk mereka apa yang kamu benci untuk dirimu dan keluargamu, hadapilah kesulitan-
kesulitan untuk menuju pada kebenaran dan jangan takut karena Allah terhadap celaan orang-orang
yang mencela.

Maka Umar menjawab, Siapa yang mampu melakukannya wahai Said?

Said berkata, Hal itu bisa dilakukan oleh orang-orang sepertimu yang Allah Taala serahi perkara
umat Muhammad dan di antara dia dengan Allah tidak terdapat seorang pun.

Pada saat itu Umar mengundang Said untuk mendukungnya, Umar berkata, Wahai Said, aku
menyerahkan kota Himsh kepadamu. Maka Said menjawab, Wahai Umar, aku memohon kepadamu
dengan nama Allah agar mencoret namaku.

Maka Umar marah, dia berkata, Celaka kalian, kalian meletakkan perkara ini di pundakku kemudian
kalian berlari dariku. Demi Allah, aku tidak akan membiarkanmu.

Umar mengangkat Said sebagai gubernur Himsh, Umar bertanya kepadanya, Aku akan menetapkan
gaji untukmu.
3

Said menjawab, Apa yang aku lakukan dengan gaji itu wahai Amirul Mukminin? Pemberian dari
Baitul Maal kepadaku melebihi kebutuhanku. Said pun berangkat ke Himsh menunaikan tugasnya.

Tidak lama berselang, Amirul Mukminin Umar bin Khatthab didatangi oleh orang-orang yang bisa
dipercaya dari penduduk Himsh, Umar berkata kepada mereka, Tulislah nama penduduk miskin dari
Himsh agar aku bisa membantu mereka.

Mereka menulis dalam sebuah lembaran, di dalamnya tercantum nama fulan dan fulan serta Said bin
Amir.

Umar bertanya, Siapa Said bin Amir? Mereka menjawab, Gubernur kami.

Umar menegaskan, Gubernur kalian miskin?

Mereka menjawab, Benar, di rumahnya tidak pernah dinyalakan api dalam waktu yang cukup lama.

Maka Umar radhiyallahu anhu menangis hingga air matanya membasahi janggutnya, kemudian dia
mengambil seribu dinar dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong. Umar radhiyallahu anhu
berkata, Sampaikan salamku kepadanya dan katakan kepadanya bahwa Amirul Mukminin
mengirimkan harta ini agar kamu bisa menggunakannya untuk memenuhi kebutuhanmu.

Delegasi pun pulang dan mendatangi rumah Said dengan menyerahkan kantong dari Umar bin
Khatthab. Said melihatnya dan ternyata isinya adalah dinar, maka dia menyingkirkannya seraya
berkata, Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Seolah-olah Said sedang ditimpa musibah besar atau
perkara berat.

Istrinya datang tergopoh-gopoh dengan penuh kecemasan, dia berkata, Apa yang terjadi wahai Said?
Apakah Amirul Mukminin wafat?

Said menjawab, Lebih besar dari itu. Istrinya bertanya, Apa yang lebih besar?

Said menjawab, Dunia datang kepadaku untuk merusak akhiratku, sebuah fitnah telah menerpa
rumahku.

Istrinya berkata, Engkau harus berlepas diri darinya. Dia belum mengerti apa pun terkait dengan
perkara dinar tersebut.

Said bertanya, Kamu bersedia membantuku? Istrinya menjawab, Ya.

Maka Said mengambil dinar itu, memasukkannya ke dalam kantongkantong dan membagi-bagikannya
kepada kaum muslimin yang miskin.

Tidak berselang lama setelah itu, Umar bin al-Khatthab datang ke negeri Syam untuk mengetahui
keadaannya. Ketika Umar tiba di Himsh, kota ini juga dikenal dengan Kuwaifah, bentuk kecil dari
Kufah, kota Himsh disamakan dengan Kufah karena banyaknya keluhan penduduknya terhadap para
Gubernurnya seperti yang dilakukan oleh orang-orang Kufah. ketika Umar tiba di sana, orang-orang
Himsh bertemu dengan Umar untuk memberi salam kepadanya. Umar radhiyallahu anhu bertanya,
Bagaimana dengan gubernur kalian?

Maka mereka mengadukannya dan menyebutkan empat hal dari sikapnya, yang satu lebih besar
daripada yang lain.

Umar berkata. Maka aku mengumpulkan mereka dengan pribadi Said sebagai gurbernur mereka
dalam sebuah majelis, aku memohon kepada Allah agar dugaanku kepadanya selama ini tidak salah,
aku sangat percaya kepadanya. Ketika mereka dengan gubernur mereka berada di hadapanku, aku
berkata, Apa keluhan kalian terhadap gubernur kalian

Mereka menjawab, Dia tidak keluar kepada kami kecuali ketika slang sudah naik.

Aku berkata, Apa jawabanmu wahai Said?


4

Said diam sesaat kemudian berkata. Demi Allah, aku sebenarnya tidak suka mengatakan hal ini, akan
tetapi memang harus dikatakan. Keluargaku tidak mempunyai pembantu. Setiap pagi aku menyiapkan
adonan mereka. kemudian aku menunggunya beberapa saat sampai ia mengembang, kemudian aku
membuat roti untuk mereka. kemudian aku berwudhu dan keluar untuk masyarakat.

Umar berkata, aku pun berkata kepada mereka, Apa yang kalian keluhkan darinya juga?

Mereka menjawab, Dia tidak menerima seorang pun di malam hari. Aku bertanya kepada Said, Apa
jawabanmu wahai Said?

Said berkata, Demi Allah. aku juga malu mengatakan hal ini. Aku telah memberikan siang bagi
mereka, sedangkan malam maka aku memberikannya kepada Allah

Aku bertanya. Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?

Mereka menjawab, Dia tidak keluar kepada kami satu hari dalam sebulan.

Aku bertanya, Apa ini wahai Said?

Said menjawab, Aku tidak mempunyai pelayan wahai Amirul Mukminin, aku pun tidak memiliki
pakaian selain yang melekat di tubuhku ini. Aku mencucinya sekali dalam sebulan, dan menunggu
sampai kering, baru kemudian aku keluar di sore hari.

Kemudian aku bertanya, Apa lagi yang kalian keluhkan darinya?

Mereka menjawab, Terkadang ia jatuh pingsan sehingga tidak ingat terhadap orang-orang di
sekitarnya.

Aku bertanya, Apa ini wahai Said?

Said menjawab, Aku menyaksikan kematian Khubaib bin Adi ketika aku masih musyrik, aku melihat
orang-orang Quraisy mencincang jasadnya sambil berkata kepadanya, Apakah kamu ingin
Muhammad ada di tempatmu ini? Lalu dia menjawab, Demi Allah, aku tidak ingin berada di antara
keluarga dan anak-anakku dalam keadaan tenang sedangkan Muhammad tertusuk oleh sebuah duri.
Demi Allah setiap aku teringat hari itu, yakni ketika aku membiarkannya dan tidak menolongnya
sehingga aku senantiasa dikejar ketakutan bahwa Allah tidak akan mengampuniku, maka aku pun
pingsan.

Saat itu Umar radhiyallahu anhu berkata, Segala puji bagi Allah yang membenarkan dugaanku
kepadamu.

Kemudian Umar radhiyallahu anhu memberinya seribu dinar agar dia gunakan untuk memenuhi
kebutuhannya.

Istrinya melihatnya, dia pun berkata, Segala puji bagi Allah yang telah mencukupkan kami dari
pelayananmu, belilah kebutuhan kami dan ambillah seorang pelayan.

Said berkata kepadanya, Apakah kamu mau aku tunjukkan kepada yang lebih baik dari itu? Istrinya
balik bertanya. Apa itu?

Said berkata. Kita memberikannya kepada siapa yang membawanya kepada kita, kita lebih
memerlukan hal itu.

Istrinya bertanya. Apa maksudmu?

Said menjawab, Kita berikan kepada Allah dengan cara yang baik.

Istrinya berkata, Setuju dan semoga Allah membalasmu dengan kebaikan.


5

Said tidak meninggalkan majelisnya hingga dia membagi dinar tersebut di beberapa kantong. lalu dia
berkata kepada salah seorang anggota keluarganya, Berikanlah ini kepada janda fulan, berikanlah ini
kepada anak-anak yatim fulan, berikanlah ini kepada keluarga fulan, berikanlah ini kepada orang-orang
miskin dari keluarga fulan.

Semoga Allah meridhai Said bin Amir al-Jumahi, dia termasuk orangorang yang mementingkan
saudaranya sekalipun dia sendiri memerlukan.

Sumber: Buku Mereka Adalah Para Shahabat, Dr.Abdurrahman Rafat Basya, Penerbit at-Tibyan,
Hal.13-18

Artikel: www.KisahIslam.net
6

Sa'id bin Amir RA


Sa'id bin Amir RA adalah seorang sahabat Muhajirin, yang memeluk Islam beberapa waktu sebelum
terjadinya perang Khaibar. Sejak keislamannya, ia tidak pernah tertinggal dalam mengikuti peperangan
bersama Rasulullah SAW. Ia bukan sosok yang menonjol walaupun memang memiliki keutamaan dan
kesalehan, seperti halnya kebanyakan sahabat-sahabat Nabi SAW yang tidak terekspose keutamaannya.
Bahkan banyak di antara mereka yang tidak dikenali secara umum, nama dan ketinggian akhlak serta sikap
kepahlawanannya. Termasuk Said bin Amir ini, apalagi ia hanyalah dari golongan miskin. Tetapi seperti yang
pernah dikatakan Umar bin Khaththab, "Kalian tidak mengenalinya, tetapi Allah dan para malaikat mengenali
mereka.."

Pada masa khalifah Umar-lah namanya mulai dikenal, karena Umar selalu memilih orang-orang saleh,
suka beribadah, zuhud dari dunia untuk memegang jabatan-jabatan di wilayah baru Islam yang mulai meluas.
Ketika Umar memecat Muawiyah sebagai amir (gubernur) kota Homs, kota kedua terbesar di Syam (Syiria)
setelah Kufah, karena tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh Umar, pilihannya jatuh kepada Sa'id bin
Amir. Sebagian riwayat menyebutkan bukan kota Homs, tetapi kota Damsyik.

Sa'id bin Amir didatangkan menghadap khalifah Umar. Tetapi ketika jabatan ini ditawarkan kepadanya,
Sa'id berkata, "Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah, ya Amirul Mukminin..!!"

Mendengar jawaban tersebut, dengan tegas Umar menjawab, "Tidak, demi Allah saya tidak akan
melepaskan anda! Apakah kalian hendak meninggalkan saya, setelah kalian memba'iat dan membebani saya
dengan amanat dan kekhalifahan ini.!!"

Walaupun sebenarnya ingin tetap menolak, Sa'id bisa diyakinkan untuk memegang jabatan tersebut,
dan memang tidak ada pilihan lain seperti apa yang disampaikan Umar. Sa'id berangkat ke Homs bersama
istrinya, yang sebenarnya mereka masih pengantin baru. Istrinya adalah seorang wanita yang cantik dan
wajahnya selalu berseri-seri. Umar memberikan perbekalan secukupnya kepada mereka berdua, karena
mereka memang tidak memiliki uang dan bekal sendiri yang cukup untuk bisa sampai ke Homs.

Setelah beberapa bulan berlalu menduduki jabatan gubernur (Amir), dan secara ekonomi keluarga
mereka mulai mantap, istrinya mengusulkan kepada Sa'id untuk membeli pakaian dan perlengkapan rumah
tangga yang lebih baik, dan menyimpan sisanya sebagai tabungan. Mendengar saran istrinya tersebut, Sa'id
berkata, "Maukah aku tunjukkan yang lebih baik daripada rencanamu itu!!"

Setelah istrinya mengiyakan, Said berkata, "Kita berada di suatu negeri yang perdagangan dan jual
belinya amat pesat berkembang. Sebaiknya kita minta seseorang menggunakannya sebagai modal, tentu
keuntungannya lebih besar."

"Bagaimana kalau perdagangannya rugi?" Tanya istrinya

"Aku akan menyediakan borg atau jaminan untuk itu, bahwa kita tidak akan pernah merugi!!"

"Baiklah kalau begitu!" Kata istrinya, menyetujui usul suaminya tersebut.

Sa'id pergi sambil membawa uang tersebut ke pasar, kemudian membeli persediaan dan keperluan
hidup keluarganya untuk beberapa waktu lamanya. Ia memilih dari jenis yang paling sederhana dan murah. Sisa
uangnya yang masih banyak, dibagi-bagikan fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Beberapa bulan
berlalu, sering sekali istrinya menanyakan tentang perdagangan dan keuntungannya. Sa'id mengatakan kalau
semuanya lancar-lancar saja, dan keuntungannya makin banyak, hanya saja belum bisa segera diambil atau
dicairkan.

Pada suatu ketika, istrinya menanyakan hal yang sama, sementara saat itu ada kerabatnya yang tahu
bahwa Sa'id tidak mempunyai usaha perdagangan yang dijalankan orang lain. Ia tampak tidak mengerti dan
bingung, dan istrinya menangkap isyarat itu. Akhirnya istrinya itu bertanya lagi dan mendesak Sa'id untuk
menjelaskannya. Sa'id pun tertawa, kemudian menjelaskan apa adanya, bahwa harta tersebut memang
dibelanjakan atau diperniagakan di jalan Allah. Ia tidak berdusta, keuntungannya akan jauh lebih besar dan
bermanfaat bagi mereka berdua di akhirat kelak.
7

Istrinya menangis penuh sesal, dan air mata yang membasahi wajahnya makin menambah
kecantikannya saja. Sa'id menyadari godaan kecantikan istrinya tersebut, dan ia tidak mengelak bahwa ia
sangat mencintai dan takut kehilangan istrinya itu. Tetapi mata batinnya jauh menerawang, dan akhirnya
menemukan sosok Rasulullah SAW dan para sahabat beliau yang telah mendahuluinya. Ia berkata tegas, "Aku
mempunyai kawan-kawan yang telah terlebih dahulu menemui Allah, dan aku tidak ingin menyimpang dari
jalan mereka walau ditebus dengan dunia dan segala isinya"

Kemudian untuk menegaskan sikap dan pendiriannya, ia berkata kepada istrinya, "Wahai istriku yang
cantik, bukankah engkau tahu bahwa di surga itu banyak gadis-gadis yang cantik dengan matanya yang jeli
memikat, seandainya satu orang saja menampakkan wajahnya di bumi, niscaya terang benderang-lah seluruh
bumi, mengalahkan sinar matahari dan bulan.Maka, jika memang terpaksa, tidak mengapa aku
mengorbankan dirimu (meninggalkanmu) untuk mendapatkan mereka, dan itu lebih logis dan utama, daripada
harus mengorbankan mereka hanya untuk mempertahankan dirimu menjadi istriku!!

Sa'id telah memasrahkan segalanya kepada Allah, tetapi memang berkah Allah telah meliputi keluarga
mereka, sehingga istrinya bisa menerima kenyataan ini. Ia sadar tidak ada jalan yang lebih utama daripada
mengikuti jalan yang dipilih suaminya, mengendalikan diri dengan sifat zuhud dan ketakwaan.

Suatu ketika Umar melakukan kunjungan ke Homs untuk mendengar pendapat warganya. Sebagian
besar mereka memuji kepemimpinan Sa'id, hanya saja mereka mempunyai empat keluhan, yakni : Pertama,
Sa'id hanya menemui warganya untuk melayani jika matahari sudah tinggi. Ke dua, ia tidak mau melayani pada
waktu malam hari. Ke tiga, setiap bulannya, dalam dua hari ia tidak mau menemui warganya sama sekali. Ke
empat, terkadang tiba-tiba ia jatuh pingsan tanpa tahu sebabnya.

Sebenarnya Umar telah mengetahui atau mendapat firasat tentang jawaban Sa'id, karena pada
dasarnya, sikap dan perilaku Sa'id dalam menghadapi dunia dan seluk-beluknya, tidak jauh berbeda dengan
sikapnya sendiri. Namun demikian, untuk menguatkan dan membenarkan firasatnya, sekaligus menunjukkan
kepada masyarakat Homs, tipikal seperti apa sahabat Nabi SAW yang memimpin mereka itu, ia
mempersilahkan Sa'id untuk menjelaskan langsung tentang keluhan masyarakat tersebut.

Sa'id berdiri di depan mereka dan berkata, "Sesungguhnya saya tidak ingin dan tidak suka
menyebutkan alasan-alasannya, mengapa hal tersebut terjadi? Tetapi karena kalian telah memaksa saya, saya
akan menjelaskannya, semoga Allah SWT mengampuni dan memaafkan saya."

Mulailah Sa'id menjelaskan, mengenai ia tidak mau keluar sebelum matahari telah tinggi, karena
keluarganya tidak memiliki dan memang tidak ingin memiliki pelayan, Sa'id sendiri yang mengaduk tepung,
mengeramnya beberapa saat sebelum akhirnya membuat roti untuk sarapan mereka sekeluarga. Baru setelah
itu ia shalat dhuha dan keluar menemui masyarakat yang membutuhkannya.

Mengenai ia tidak mau melayani di malam hari, karena waktu malam hari tersebut ia mengkhususkan
diri untuk beribadah kepada Allah. Bukankah sudah cukup adil (dalam penafsiran dan ijtihad Sa'id), siang
harinya disediakan untuk melayani masyarakat dan malam harinya khusus untuk mengabdi kepada Allah.

Mengenai dua hari dalam satu bulan ia tidak keluar, lagi-lagi masalahnya karena ia tidak mempunyai
dan tidak menginginkan adanya pelayan dalam rumahnya. Dalam dua hari tersebut digunakannya untuk
mencuci pakaian-pakaiannya yang sebenarnya tidak terlalu banyak. Tetapi justru karena itu ia tidak punya
pengganti jika dicuci, dan harus menungguinya sampai kering. Kalaupun bisa keluar, sudah saat senja hari atau
bahkan tidak keluar sama sekali dalam dua hari tersebut.

Mengenai ia tiba-tiba pingsan, tidak lain adalah pengalamannya di masa jahiliah ketika ia belum
memeluk Islam. Saat itu sahabat Nabi SAW, Khubaib bin Adi al Anshari dianiaya dan akan dibunuh oleh orang
Quraisy. Ia melihat bagaimana tubuhnya dibawa dengan tandu, sementara dagingnya diiris dan dipotong.
Kemudian tubuhnya disalib dan dibunuh. Setiap ingat peristiwa tersebut dan ia hanya berpangku tangan saja,
sama sekali tidak ada tersirat keinginan untuk memberikan pertolongan kepada Khubaib, ia jadi gemetar
karena takut akan diazab Allah karena sikap diamnya itu, dan tanpa sadar ia telah jatuh pingsan.
8

Setelah memberikan penjelasan tersebut, ia berurai air mata hingga membasahi wajah dan janggutnya.
Umar tidak bisa menahan diri, ia memeluk dan mencium kening Sa'id, sambil berseru gembira bercampur haru,
"Alhamdulillah, karena taufiq Allah, benarlah firasatku, dan benarlah pilihanku kepadamu.!"

Beberapa orang sahabat dan kerabatnya menasehatinya untuk memberikan kelapangan belanja untuk
keluarganya dan juga kerabat istrinya, karena penghasilannya memang memungkinkan untuk
merealisasikannya. Atas saran seperti ini, Sa'id menjawab dengan mengutip sabda Nabi SAW, "Saya tidak ingin
ketinggalan dari rombongan pertama, yakni setelah Rasulullah SAW bersabda : Allah SWT akan menghimpun
manusia untuk dihadapkan ke pengadilan. Maka datanglah orang-orang miskin yang beriman, mereka maju
berdesak-desakan menuju surga tak ubahnya kawanan burung merpati. Lalu ada Malaikat yang berseru kepada
mereka, 'Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan (hisab)!!' Mereka menjawab, 'Kami tidak punya
apa-apa untuk dihisab.' Maka Allah berfirman, 'Benarlah hamba-hambaKu itu.' Maka masuklah mereka ke
dalam surga sebelum orang lain memasukinya, tanpa dihisab."