Anda di halaman 1dari 29

PEMBERIAN TERAPI CAIRAN MELALUI INTRAVENA

PERIFER

RSKG Ny.R.A. HABIBIE Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


Jl. Tubagus Ismail No.46 1/2
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL Dr. Qania Mufliani

Pemberian terapi cairan melalui intravena perifer adalah


PENGERTIAN pemberian cairan,elektrolit, nutrisi, darah atau produk darah atau
obat-obatan melalui jalur vena.
1. memahami tipe dan komposisi cairankristaloid dan efek
pemberian cairan kristaloid.
2. Memahami manajemen pemberian terapi cairan melalui
intravena perifer secara aman dengan berbasis bukti.
TUJUAN 3. Memahami penilaian klinis pencegahan dan pengendalian
infeksi secara aman dalam pemberian terapi cairan melalui
intravena perifer.
Mampu mencegah dan mengendalikan angka infeksi plebitis
aliran darah primer.
KEBIJAKAN
1. Persiapan pasien
Sebelum pendekatan ke pasien
Periksa catatan medik untuk : alergi, riwayat penyakit,
rencana pengobatan
Periksa ulang program terapi (dokter)
Perhatika hasil laboratorium yang terkait
Pemahaman mengenai terapi IV untuk pasien
PROSEDUR
Pengertian terapi intravena
Tujuan pemberian terapi cairan intravena
Berapa lama infus atau iv catheter akan terpasang
Jumlah dan tipe cairan infus yang diperlukan
Jelaskan bahwa pasien mungkin merasakan rasa sakit insersi, dan
rasa sakir ini akan berkurang setelah kateter / jarum masuk ke
dalam pembuluh darah vena
PEMBERSIHAN BEDPAN

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE 2/2
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Selalu periksa : Pastikan program terapi dari dokter sudah diperiksa
!!
Tepat pasien?
Tepat indikasi?
Tepat cairan?
Tepat obat?
Tepat jalur?
Tepat waktu?
Tepat dokumentasi?
2. Persiapan peralatan
Inspeksi label pada wadah dan cairan
Persiapkan cairan
Pastikan wadah tercantum
3. Memasang infus set, kemudian memilih salah satu vena dari yang
paling perifer
PROSEDUR Dorsal difitan vein
Metacarval veins
Median antebrachial vein
Median cephalic dan median basilic veins
4. Melakukan kanulasi vena dengan tepat
5. Mempersiapkan tempat insersi
6. Melakukan antiseptik kulit dengan alkohol swab
7. Melakukan insersi dengan IV cateter sesuai dengan ukuran yang
dibutuhkan
8. Melakukan labeling kanulasi dengan menulis tanggal pemasangan
9. Melakukan pendokumentasian
10. Pemilihan terapi intravena
1) Memantau tempat insersi dan infus cairan
- Inspeksi cairan infus dan label
- Konfirmasi cairan yang diberikan
- Kaji kecepatan aliran cairan
- Lihat apakah tubing terclamp
- Inspeksi tempat insersi
- Auskultasi suara paru
- Kaji pengeluaran urine, bandingan dengna pemasukan
cairan
- Kaji pengetahuan pasien tentang komplikasi terapi
intravena
2) Mengganti balutan intravena
- Kaji tempat insersi
- Periksa apakah ada aliran/drainage, kemerahan, rembesan
- Apakah ada indikasi bahwa balutan perlu diganti
- Apakah pasien masih membutuhkan terapi IV
- Jika sudah tidak dibutuhkan, kemungkinan dihentikan
- Tanyakan pasien apakah ada alergi : iodine
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN FECES

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
1/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Pengambilan, penyimpanan dan pengiriman spesimen feces yang baik
PENGERTIAN
untuk pemeriksaan mikrobiologi.
Sebagai acuan penerapan langkah- langkah agar didapatkan spesimen
TUJUAN
feces yang baik untuk pemeriksaan mikrobiologi.
SK Direktur Utama nomor : .................... tentang Pedoman pencegahaan
KEBIJAKAN & Pengendalian Infeksi Rumah Sakit di RS Khusus Ginjal Ny. Ra
Habibie.
URAIAN UMUM :
Dalam feces orang sehat terdapat banyak mikroorganisme sebagai flora
normal, pada kasus gastroenteritis yang disebabkan oleh: E.coli patogen
Salmonella, Shigella, Yersinia enterocolica, Vibrio, Camphylobacter,
diharapkan dapat dideteksi dan diidentifikasi dengan pemeriksaan
bakteriologik pasien.
1. WAKTU PENGAMBILAN
Setiap saat terutama pada stadium dini ketika bakteri dalam jumlah
terbanyak jika mungkin sebelum pemberian antibiotika.
2. ALAT
Pot Faces
Lidi kapas steril
3. CARA PENGAMBILAN
Feces Segar
PROSEDUR Penderita diharuskan buang air kecil terlebih dahulu karena feces
tidak boleh tercemar urine. Kemudian penderita diinstruksikan untuk
buang air besar langsung kedalam pot ditutup rapat.
Usap Rectum
Usap rectume dilakukan bila pendereita tidak dapat memberikan
tinjanya misalnya pada yang sulit buang air besar, dehidrasi, dan
syok.
Cara : penderita dalam posisi tidur miring dengan kaki satu ditekuk
atau bila perlu dalam posisi bersujud. Dubur direnggangkan dan
penderita menarik nafas dalam, masukan lidi kapas steril yang sudah
dibasahi, salin sedalam 4-5 cm, diputar sambil menekan dinding
rectum. Kemudian lidi kapas ditarik keluar dengan diputar hingga
ada sisa feces yang terbawa. Masukkan lidi kapas dalam media
transpor (Carry&Blair) hingga seluruh bagian kapas terbenam dalam
media, lalu ditutup rapat.
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN FECES

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
2/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
4. PEMBERIAN IDENTITAS
4.1. Pengisian Formulir
Formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiknya
memuat secara lengkap :
Tanggal permintaan
Tanggal dan jam pengambilan bahan
Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat, nomor
medical record)
Pemeriksaan laboratorium yang diminta
Nama pengambil spesimen
4.2. Label
Wadah feces diberi label yang memuat :
Tanggal pengambilan spesimen
Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat, nomor
medical record)
Jenis spesimen
5. CARA PENYIMPANAN
Sebaiknya segera dikirim ke laboratorium, spesimen harus sudah
bsampai dilaboratorium dalam 2 jam stelah pengambilan.
6. CARA PENGIRIMAN
Bila lebih dari 2 jam stelah pengambilan sampai dengan pemeriksaan
dilakukan, spesimen dimasukan kedalam media carry & blair dan
disimpan dalam suhu ruangan. Bila tidak tersedia media carry & blair
feces disimpan dalam suhu 2-8oC.
1. Instalasi Rawat Jalan
2. Instalasi Rawat Inap
INSTALASI TERKAIT 3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Hemodialisa
5. Instalasi Bedah
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN FECES

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
3/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
1. perMenkes no.1438/menkes/per/IX/2010 pasal 11&12
2. pedoman manajerial Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah
Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainya, Depkes 2007
3. Pedoman Pencegahan Infeksi untuk fasilitas pelayanankesehatan
DOKUMEN TERKAIT
dengan Sumber Daya Terbatas, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo dan JHPOEGO 2004.
4. SK Direktur utama no. ..................
5. Pedoman nasional keselamatan pasien RS.
PERAKTEK MENYUNTIK YANG AMAN

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A.
1/2
HABIBIE
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Penyuntikan yang aman adalah penyuntikan yang dilakukan dengan
mengindahkan perinsip-perinsip yang benar sehingga aman untuk
pasien dan petugas dari resiko terkena infeksi, penyuntukan delakukan
dengan petugas yang kompeten.
Aseptic technique adalah penagan secara steril terhadap obat-obat,
jarum / spuit, vial, ampul mulai dari penyimpnan, persiapan sampai
penyuntikan sehingga keseterilan tetap terjamin.
PENGERTIAN Singel dose adalah pemberian obat dalam kemasan vial atau ampul
dengan menggunakan satu jarum dan spet untuk satu kali pemberian
pada satu pasien.
Multi dose adalah pemberian obat dalam bentuk vial atau ampul untuk
lebih dari satu pemberian pada pasien yang sama dengan menggunakan
jarum dan spet steril pada setiap penyuntikan.
Ruang lingkup penyuntikan yang aman meliputi persiapan alat sampai
hand higyene setelah selesai melakukan tindakan.
1. Tersedia acuan penerapan langkah-langkah penyuntikan yang aman.
TUJUAN 2. Tercapai upaya penceahan infeksi silang

1. Program pencegahan dan pengendalian infeksi dilaksanakan sesuai


kewaspadaan setandar dan kewaspadaan berdasarkan transmisi yang
mengacu pada pedoman yang di tetapkan oleh Centre For Desease
Control And Prevention (CDC), World Health Organization WHO.
2. Pengawasan program pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah
sakit dilaksanakan oleh Infection Prevention & Controling Nursing
KEBIJAKAN (IPCN) yang tersertifikasi.
3. Smeua petugas yang melaksanakan peraktek penyuntikan harus
melaksanakan perinsip penyuntikan yang aman, yaitu dengan
melaksanakan satu syringe dan satu jarum untuk satu tindakan
penyuntikan.
SK direktur utama No................................tentang peraktek penyuntikan
yang aman.
PERAKTEK MENYUNTIK YANG AMAN

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE 2/2
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
1. Siapkan alat dan obat
2. Terapkan tehnik aseptik
3. Gunakan alat suntik satu kali pakai untuk satu pasien dan satu
prosedur gunakan single dose untuk obat-obat injeksi (bila
memungkinkan), bila obat multi dose, semua alat yang di gunakan
harus steril.
4. Cuci tangan
5. Terapkan 5 benar pemberian obat
PROSEDUR a. Benar pasien
b. Benar obat
c. Benar dosis
d. Benar waktu
e. Benar rute atau cara
6. Buang sampah atau limbah tajam ke safety box dan plastik buang
ketempat sampah non medis
7. Rapihkan alat
8. Lakukan kebersihan tangan
1. Instalasi Rawat Jalan
2. Instalasi Rawat Inap
UNIT TERKAIT 3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Hemodialisa
5. Instalasi Bedah
PENCEGAHAN LUKA DEKUBITUS

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE 1/2
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Luka Dekubitus (Pressure ulcers, pressure sores, bedsores):
PENGERTIAN Adalah suatu lesi yang disebabkan oleh kekuatan tekanan terhadap area
tubuh tertentu yang menghasilkan kerusakan jaringan dibawahnya.
Sebagai acuan penerapan langkah- langkah untuk petugas kesehatan
TUJUAN
(perawat) dalam merawat pasien agar terhindar dari luka dekubitus.
SK Direktur utama nomor: ........................ tentang Pedoman
KEBIJAKAN Pencegahan & Pengendalian Infeksi Rumah sakit di RS Khusus
Ginjal Ny. Ra Habibie.
Faktor faktor risiko untuk terjadinya Luka Dekibitus:
Imobilitas
Nutrisi yang tidak memadai (inadequate)
Terpapar feses dan urine dalam waktu lama
Penurunan kesadaran
Berkurangnya sensasi
Pemanasan tubuh yang berlebihan
Usia lanjut (proses penuaan menyebabkan terjadinya perubahan
kulit dan stuktur yang menyokongnya)
Penyakit kronis (DM, Penyakit Jantung)
Faktor- faktor lainya:
- Teknik mengangkat dan posisi pasien yang tidak benar
- Prosedur injeksi berulang pada area yang sama
PROSEDUR - Permukaan untuk pendukung pasien yang keras
Upaya upaya pencegahan luka Dekubitus:
1. Pemberian nutrisi yang memadai
Asupan kalori, protein, vitamin, dan mineral
Monitor berat badan secara teratur (membantu mengkaji
status nutrisi)
Monitor hasil laboratorium : protein terutama albumin,
hemoglobin, hitung limfosit
2. Pelihara kebersihan kulit pasien
Pada saat memandikan perawat harus meminimalkan tekanan
dan gesekan pada kulit pasien
Hindari air untuk memandikan pasien yang terlalu panas,
karena dapat menyebabkan kekeringan kulit
Untuk mencegah kekeringan kulit pasien gunakan krim
pelembut
PENCEGAHAN LUKA DEKUBITUS

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE 2/2
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Kulit pasien harus dijaga tetap bersih, kering dan terbebas
dari iritasi serta maserasi akibat urine, feses, keringat, sabun
serta penggunaan alkohol
Hindari masase/ pemijatan kulit termasuk diatas tulang yang
berlebihan, karena dapat mengakibatkan trauma pada
jaringan dibawahnya
3. Hindari trauma kulit
Saat mengatur posisi duduk, tidur serta memindahkan pasien
perlakukan dengan lembut, hati hati dan dengan cara yang
benar
Saat mengangkat pasien pergunakan alat bantu seperti sprei,
stik laken dll
Posisi tidur pasien diubah paling lama 2 jam. 6 posisi tidur
yang biasa dipergunakan adalah prone, supine, lateral(sims
(kiri kanan)
1. Instalasi Rawat Jalan
2. Instalasi Rawat Inap
UNIT TERKAIT 3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Hemodialisa
5. Instalasi Bedah
1. Pemenkes no.1438/menkes/per/IX/2010 pasal 11 dan 12
2. SK Direktur Utama no. .............................
DOKUMEN TERKAIT 3. Pedoman manajerial PPIRS
4. Pedoman Pencegahan dan Pengadilan Infeksi RS
5. Pedoman Nasioanal Keselamatan Pasien RS
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN PUS

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
1/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Pengambilan, penyimpanan dan pengiriman spesimen pus yang baik
PENGERTIAN
untuk pemeriksaan mikrobiologi.
Sebagai acuan penerapan langkah langkah untuk didapatkan spesimen
TUJUAN
pus yang baik untuk pemeriksaan mikrobiologi.
SK Direktur utama nomor: ........................ tentang Pedoman
KEBIJAKAN Pencegahan & Pengendalian Infeksi Rumah sakit di RS Khusus Ginjal
Ny. Ra Habibie.
URAIAN UMUM
Dalam kondisi normal tidak ada pus. Adanya pus menunjukan adanya
infeksi akibat invasi mikroorganisme kedalam rongga, jaringan atau
organ tubuh.
1. WAKTU PENGAMBILAN
Dapat diambil setiap saat dengan meniadakan bahan bahan
penghambat pertumbuhan bakteri.
2. PERALATAN
Jarum dan semprit
Kapas lidi gunting
Lampu spirtus
Pinset pisau bedah
Kassa
Plester
PROSEDUR perban
3. PROSEDUR PENGAMBILAN
A. Luka terbuka
Pasien diberi penjelasan tentang tindakan yang akan
dilakukan
Lepaskan pembalut dengan pinset, bersihkan luka dengan
kain kasa yang telah di basahi dengan NaCl fisiologis
sebanyak 3x untuk menghilangkan kotoran, flora normal dan
lapisan eksudat yang mengering
Tanpa menyentuh bagian kapasnya buka kapas lidi dari
pembungkusnya kemudian masukan bagian kapasanya
kedalam luka, jangan menyentuh bagian pinggir luka.
Masukan kapas lidi yang telah mengandung eksudat/ pus
kedalam tabung medium, bila perlu sebagian dari lidi yang
berada di bagian luar tabung dipatahkan. Serahkan spesimen
secepatnya kelaboratorium
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN PUS

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
2/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Cantumkan dengan jelas dalam surat pengantar lokasi
anatomis.
B. Luka tertutup
Pasien diberi penjelasan mengenai tindakan yang akan
dilakukan.
Lakukan tindakan asepsis dengan alkohol 70% dan /
providone iodine diatas abses atau bagian yang akan ditusuk.
Tusukan jarum didaerah yang sudah di antisepsi
Lakukan aspirasi eksudat/pus sebanyak mungkin.
4. PEMBERIAN IDENTITAS
4.1 Pengisian Formulir
formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiknya
memuat secara lengkap:
Tanggal permintaan
Tanggal dan jam pengambilan bahan
Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat, dan
nomor medical record)
Pemeriksaan laboratorium yang di minta
Nama pengambil spesimen
4.2 Label
Wadah pus diberi label yang memuat:
Tanggal pengambilan spesimen
Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, dan nomor
medical record)
Jenis spesimen
5. CARA PENYIMPANAN
Sebaiknya secepatnya dikirim ke laboratorium, spesimen harus
sudah sampai laboratorium dalam 2 jam setelah pengambilan. Jika
hal ini tidak memungkinkan, spesimen harus disimpan dalam
lemari es (4-8oC) segera setelah pengambilan.
6. CARA PENGIRIMAN
Untuk biakan aerob, teteskan aspirat pada kapas lidi steril,
kemudian tusukan bagian kapas tersebut kedalam media transport.
Untuk biakan aerob, hindari pemaparan spesimen terhadap udara
dengan jalan, tusukan jarum kedalam tutup karet.
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN PUS

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
3/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Seluruh ruang perawatan
1. Rawat inap
INSTALASI TERKAIT 2. Rawat jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Bedah
1. PerMenkes no. 1438/menkes/per/IX/2010 pasal 11&12
2. Pedoman manajerial Pencegahan dan Pengendalian infeksi di
Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainya. Depkes
2007
DOKUMEN TERKAIT 3. Pedoman Pencegahan Infeksi untuk fasilitas Pelayanan
Kesehatan Pustaka Sarwono Prawirohardjo dan JHPIEGO 2004
4. SK Direktur Utama No. ..........
5. Pedoman Nasional Keselamatan Pasien RS
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN SPUTUM

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
1/2
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Pengambilan, penyimpanan dan pengiriman spesimen sputum yang baik
PENGERTIAN
untuk pemeriksaan mikrobiologi.
Sebagai acuan penerapan langkah langkah untuk didapatkan spesimen
TUJUAN
sputum yang baik untuk pemeriksaan mikrobiologi.
SK Direktur utama nomor: ........................ tentang Pedoman
KEBIJAKAN Pencegahan & Pengendalian Infeksi Rumah sakit di RS Khusus Ginjal
Ny. Ra Habibie.
Sputum berasal dari secret broncus pada keadaan patologik.
Pemeriksaan pabakteriologi BP sputum ditunjukan untuk mencari
penyebab infeksi saluran nafas bagian bawah. Pemeriksaan meliputi:
mikroskopik, biakan dan uji kepekaan terhadap anti mikroba.
1. WAKTU PENGAMBILAN
BP sputum terbaik adalah sputum pertama yang dibatukan pada pagi
hari, namun sputum yang diambil sewaktupun cukup representatif.
2. PERALATAN
Wadah steril bermulut lebar dan memiliki tutup yang baik dengan
volume minimal 25ml.
3. PROSEDUR PENGAMBILAN
3.1 Pasien diberi penjelasan mengenai pemeriksaan dan tindakan
yang akan dilakukan, dan dijelaskan perbedaan sputum dengan
ludah.
PROSEDUR
3.2 Bila pasien mengalami kesulitan mengeluarkan sputum, pada
malam hari sebelumnya diminta minum teh manis atau diberi
obat gliseril guayakolat 200 mg.
3.3 Sebelum pengambilan spesimen pasien diminta untuk berkumur
dengan air, bila memakai gigi palsu dilepas terlebih dahulu.
3.4 Pasien berdiri tegak atau duduk tegak
3.5 Pasien diminta untuk menarik nafas dalam 2-3 kali kemudian
keluarkan nafas bersamaan dengan batuk yang kuat dan
berulang kali sampai sputum kluar. Sputum yang dikeluarkan
ditampung langsung di dalam wadah, dengan cara mendekatkan
wadah ke mulut.
3.6 Sputum tersebut diamati berkualitas baik atau tidak. Sputum
yang berkualitas baik, kental, purulen, dan volume cukup
(2-3ml) kemudian segera ditutup dan dikirim ke laboratorium.
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN SPUTUM

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
2/2
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
4. PEMBERIAN IDENTITAS
4.1 Pengisian formulir
Formulir permintaan laboratorium sebaiknya memuat secara
lengkap:
Tanggal permintaan
Tanggal dan jam pengambilan bahan
Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat, medical
record)
Pemeriksaan laboratorium yang diminta
Nama pengambil spesimen
4.2 Labelling
Wadah sputum diberi label yang memuat:
Tanggal pengambilan spesimen
Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, dan nomor
medical record)
Jenis spesimen
5. CARA PENYIMPANAN
Sebaiknya secepatnya dikirimkan ke laboratorium, spesimen tidak
boleh disimpan lebih dari jam 1
6. CARA PENGIRIMAN
Pengiriman sputum dilakukan dalam cool box (2-8oC) kecuali jika
waktu pengiriman kurang dari 1 jam.
INSTALASI TERKAIT Seluruh ruang perawat, poli dan emergency/ ruang gawat darurat
1. perMenkes no. 1438/menkes/per/IX/2010 pasal 11 & 12
2. pedoman manajerial Pencegahan dan Pengendalian infeksi di
Rumah Sakit dan Fasilitas Pel;ayanan Kesehatan lainya, Depkes
2007
Dokumen terkait 3. Pedoman Pencegahan Infeksi untuk fasilitas Pelayanan Kesehatan
dengan Sumber Daya Terbatas, Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo dan JHPIEGO 2004
4. SK Direktur Utama no. HK 03.06/E013/1445/II/2011
5. Pedoman Nasional Keselamatan Pasien RS
PENEMPATAN PASIEN DENGAN PENULARAN MELALUI
KONTAK

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
1/2
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Penempatan pasien dengan penularan melalui kontak adalah suatu upaya
PENGERTIAN untuk mencegah transmisi mikroorganisme berdasarkan cara penularan
penyakitnya melalui kontak langsung terjadi di rumah sakit.
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan
TUJUAN
pencegahan dan pengendalian terjadinya infeksi silang di rumah sakit.
1. Untuk penempatan pasien harus mempertimbangkan keselamatan
pasien, keselamatan pengunjung dan keselamatan terhadap petugas
pemberi pelayanan kesehatan.
2. Penempatan pasien di rumah sakit harus memperhatikan prinsip
penularan penyakit sehingga dapat menghindari terjadinya infeksi
KEBIJAKAN silang terhadap pasien.
3. Setiap kamar perawat harus tersedia ruangan isolasi dapat dilakukan
kohorting terhadap pasien terinfeksi.
4. SK Direktur Utama nomor ................ tentang Pedoman Pencegahan
&Pengendaliuan Infeksi Rumah Sakit Khusus Ginjal NY.RA
Habibie tentang penempatan pasien.
Penularan Lewat Kontak
1. Contoh penyakit:
Infeksi gastrointestinal, respirasi, kulit atau luka atau
kolonisasi bakteri yang multidrug resistant sesuai keputusan
program pemberantasan
Infeksi interik dengan dosis infeksi rendah atau
berkepanjangan termasuk:
Clsotridium difficile
Enterohemorrhage, E. Coli, Shigella, Hepatitis A atau
Rotavirus pada pasien inkontenta
PROSEDUR RSV (Respiratory Syncytial Virus), para Influenza virus,, atau
Infeksi enterovital pada bayi dan anak-anak
Infeksi kulit yang sangat menular atau yang bisa timbul pada
kulit kering, termasuk:
Diphtheria (kulit)
Herves Simplex Virus (neonatus atau mucocutaneus)
Impetigo
Abses besar, selulitis atau dekubitus
Pedikulosis
Scabies
Staphylococcal furuncolosis pada bayi dan anak-anak
PENEMPATAN PASIEN DENGAN PENULARAN MELALUI
KONTAK

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
2/2
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Staphylococcal scalded skin syndrome Zoster (disemianta
atau immunocompromised host)
Viral hemorrhagic conjungtivitis
Viral hemorrhagic fever (lassa fever atau marburg virus)
2. Penempatan pasien
Tempatkan pada kamar tersendiri atau bersama pasien lain
dengan infeksi aktif organisme yang sama tetapi tanpa infeksi
lain atau kohorting.
3. Pemakaian alat pelindung perorangan (APP)
a. Sarung tangan
Pakailah sarung tangan waktu masuk dan selam dalam
ruangan pasien, lepaskan waktu akan meninggalkan
ruangan, kemudian cuci tangan dengan antiseptik. Setelah
membuka sarung tangan dan mencuci tangan, usahakan
tangan agar tidak menyentuh permukaan atau barang
apapun yang berpotensi terkontaminasi.
b. Pemakaian gaun
Pakailah gaun waktu masuk kamar pasien, bila diperkirakan
(pakaian) petugas akan kontak. Lepaskan gaun saat akan
meninggalkan ruangan.
Seluruh ruang perawatan
1. Rawat inap
INSTALASI TERKAIT 2. Rawat jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Bedah
1. PerMenkes no. 1438/menkes/per/IX/2010 pasal 11&12
2. SK Direktur Utama No. ..........
DOKUMEN TERKAIT 3. Pedoman manajerial PPIRS
4. Pedoman pencegahan & pengendalian Infeksi RS
5. Pedoman Nasional Keselamatan Pasien RS
PENGELOLAAN LINEN DI BINATU

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE 1/4
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Pengelolaan:
PENGERTIAN Proses kegiatan yang dimulai dari pengambilan linen kotor sampai
dengan pemilihan linen yang bersih di instalasi binatu.
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk melaksanakan kegiatan
TUJUAN pengelolaan linen bekas pakai untuk memenuhi persyaratan kesehatan
dan estetika.
SK Direktur utama nomor ............ tentang pedoman pencegahan &
KEBIJAKAN pengendalian infeksi rumah sakit di RS Khusu Ginjal Ny. RA
Habibie
1. a. Petugas binatu melakukan pengambilan linen bekas pakai ke
...........................
b. petugas binatu menerima linen bekas pakai dari ruangan-ruangan
2. petugas pmemakai alat pelindung perorangan (APP)
3. penghitungan bekas pakai
3.1 petugas binatu menerima linen kotor dari setiap ruangan beserta
bon cucian yang disediakan instalasi binatu rangkap tiga
3.2 petugas binatu menghitung jumlah dan jenis linen bekas pakai,
sesuai yang tertera pada bon cucian dan mengubah jumlah dan
jenis bila terdapat kekeliruan
3.3 petugas binatu menandatangani bon setelah jumlah dan kondisi
linen bekas pakai cocock perhitungannya
3.4 memilih linen bekas pakai sesuai dengan jenisnya
PROSEDUR
a. terkontaminasi darah, cairan tubuh pasien, sekresi dan
eksresi ((urine, feses dll) kecuali keringat dan air mata
b. tidak terkontaminasi
3.5 bon cucian yang telah ditandatangani petugas binatu
a. 1 (satu) lembar ditempat pencucian
b. 2(dua) lembar ke tata usaha penerimaan linen kotor
3.6 menyerahkan linen bekas pakai berdasarkan jenisnya ke petugas
pencucian
4. proses pencucian
4.1 perendaman
A. linen terkontaminasi
a. rendam linen terkontaminasi dengan larutan klorin
0,5% selama 10 menit
PENGELOLAAN LINEN DI BINATU

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE 2/4
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
b. linen yang terkontaminasi tersebut setelah
didekontaminasi/direndam dengan klorin 0,5% selama
10 menit masukan kedalam bak sesuai dengan
kelompoknya
c. masukan air secukupnya sampai terendam sambil di
aduk, setelah linen terlihat bersih dan nodanya hilang
pakai air perendam dibuang
d. perendaman dilakukan berulang ulang dua sampai
tiga kali
e. setelah air perendaman bersih, baru biarkan sampai
noda betul-betul hilang
B. linen tidak terkontaminasi
a. linen yang tidak terkontaminasi masukan kedalam bak
sesuai kelompoknya
b. masukan air secukupnya sampai terendam sambil di
aduk, setelah linen terlihat bersih dan nodanya hilang
air perendaman dibuang
c. perendaman dilakukan berulang-ulang dua sampai tiga
kali
d. setelah air perendaman bersih, baru biarkan
4.2 pembilasan awal
a. linen kotor dimasukan kedalam mesin cuci sesuai dengan
kapasitas mesin
b. masukan air kedalam mesin + volume 3/4dari isi mesin
c. mesin dijalankan sebagai pembilasan awal selama 5 menit
(tiap akhir pembilasan air selalu dibuang)
4.3 pemberian bahan kimia
a. air bilasan dibuang
b. mengisi air setengah dari isi mesin
c. kimia 1 : detergent 5gram/kg cucian
bleaching 3gram/kg cucian
d. kimia 2 : alkalis 5gram/kg cucian
e. kimia 3 : softener 4cc/kg cucian
4.4 pembilasan akhir
a. membuang air detergen
b. mengisi air sebanyak isi mesin
c. mesin dijalankan sebagai pembilasan akhir selama 5 menit
PENGELOLAAN LINEN DI BINATU

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE 3/4
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
d. air bilasan dibuang kemudian diganti air baru, volume
dari isi mesin
e. mesin dijalankan selama 5 menit
f. air bilasan dibuang dan diganti dengan yang baru
g. tambahkan softener 4cc/kg cucian
h. mesin dijalankan selama 5 menit
i. air bilasan dibuang
j. mengeluarkan linen hasil cucian
k. masukan linen hasil cucian kedalam trolly khusus
4.5 proses pemerasan
a. masukan cucian kedalam mesin pemerasan sesuai dengan
kapasitas mesin
b. jalankan mesin selama:
- 10 menit untuk kain tebal
- 7 menit untuk kain tipis
c. Keluarkan kain hasil perasan dan masukan kedalam trolly
khusus
4.6 proses pengeringan
a. masukan linen hasil perasan kedalam mesin pengering
sesuai kapasitas mesin
b. jalankan mesin sampai linen tersebut cukup untuk disetrika
(30 menit)
c. keluarkan linen hasil pengeringan dan masukan kedalam
trolly khusus
4.7 penyetrikaan
a. ambil linen hasil pengeringan
b. setrika linen sampai kelihatan rapih dan tidak ada lipatan
c. setrika kembali linen yang belum rapih
4.8 pelipatan
a. pengambil linen hasil setrikaan
b. melipat linen dengan cara lipatan sebagai berikut:
untuk yang masih bernoda, lipatan harus
memperlihatkan noda dibagian luar
untuk yang sobek, lipatan memperlihatkan sobek di
bagian luar
untuk yang layak pakai, lipatan menurut cara yang telah
ditetapkan (kode diluar)
PENGELOLAAN LINEN DI BINATU

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE 4/4
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
cara melipat seprai anak dengan seprei kecil harus
dibedakan
menjaga keseragaman cara melipat
memisahkan jenis linen hasil lipatan kepetugas sortir
4.9 pemeliharaan linen bersih
a. mengelompokan linen hasil lipatan sesuai dengan jenisnya
b. memisahkan linen yang masih kotor untuk dicuci ulang
c. memisahkan linen yang sudah rusak untuk ditukar dengan
linen yang layak pakai ke gudang linen
Seluruh ruang perawatan
1. Rawat inap
INSTALASI TERKAIT 2. Rawat jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Bedah
1. PerMenkes no. 1438/menkes/per/IX/2010 pasal 11&12
2. SK Direktur Utama No. ..........
DOKUMEN TERKAIT 3. Pedoman manajerial PPIRS
4. Pedoman pencegahan & pengendalian Infeksi RS
5. Pedoman Nasional Keselamatan Pasien RS
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN URIN

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
1/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Pengambilan, penyimpanan dan pengiriman spesimen urin yang baik
PENGERTIAN
untuk pemeriksaan mikrobiologi
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah agar didapatkan spesimen
TUJUAN
urine yang baik untuk pemeriksaan mikrobiologi.
SK Direktur utama nomor ............ tentang pedoman pencegahan &
KEBIJAKAN pengendalian infeksi rumah sakit di RS Khusu Ginjal Ny. RA
Habibie
URAIAN UMUM
Dalam keadaan normal, urine dalam keadaan steril dan mungkin
mengandung kuman stelah dikeluarkan. Pada keadaan infeksi saluran
kemih (ISK), akan ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna di dalam
urine. Penyebab terbanyak ISK adalah bakteri enterik terutama
Escherichia coli. Pada 10 % penderita ISK dapat ditemukan 2 jenis
bakteri yang keduanya mungkin merupakan penyebab. Jika ditemukan
jenis bakteri atau lebih, hal ini kemungkinan disebabkan oleh cara
pengambilan dan pengolahan bahan urine yang tidak sempurna.
Walaupun demikian hal ini dapat terjadi pada penderita ISK yang
menggunakan kateter menetap. Pemeriksaan bakteriologik terhadap
urine bertujuan untuk menentukan diagnosis bakteriologik ISK.
WAKTU PENGAMBILAN
Waktu pengambilan sebaiknya sebelum pemberian antibiotik atau 48-72
jam setelah pemberian antimikroba terakhir.
PROSEDUR
Disarankan:
Urine pagi (pada malam hari menahan buang air kecil). Bila hal ini
tidak memungkinkan maka urine diambil 2 jam setelah buang air
terakhir.
PERALATAN
1. Wadah steril dari gelas atau plastik bermulut lebar atau bertutup
rapat dengan volume sekitar 50 ml.
2. Kassa steril
3. Sabun
4. Handuk
5. Air hangat
PROSEDUR PENGAMBILAN
1. Urine porsi tengah (wanita)
Pada pengambilan spesimen urine porsi tengah yang dilakukan oleh
penderita sendiri, maka sebelumnya dilakukan penjelasan sebagai
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN URIN

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
2/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Berikut:
1.1 penderita harus mencuci tangan memakai sabun kemudian
dikeringkan dengan handuk.
1.2 Tanggalkan pakaian dalam, lebarkan labia dengan satu tangan
1.3 Bersihkan labia dan vulva dengan menggunakan kassa steril
dengan arah dari depan ke belakang
1.4 Bilas dengan air hangat dan keringkan dengan kassa steril yang
lain. Selama proses ini berlangsung labia harus tetap terbuka
lebar dan jari tangan jangan menyentuh daerah yang sudah steril
1.5 Keluarkan urine, alirkan urine yang pertama keluar di buang
kedalam lubang kloset. Alirkan urine selanjutnya ditampung
kedalam wadah yang sudah disediakan.
Pengumpulan urine selesai sebelum aliran habis
1.6 Wadah ditutup rapat, kemudian segera dikirim ke laboratorium.
2. Urine porsi tengah (laki-laki)
2.1 penderita harus mencuci tangan memakai sabun
2.2 jika tidak disunat tarikkulit preputium kebelakang, keluarkan
urine, aliran urine yang pertama keluar dibuang, aliran
selanjutnya ditampung dalam wadah yang sudah disediakan.
Pengumpulan urine selesai sebelum aliran urine habis.
2.3 Wadah ditutup rapat dan segera dikirimkan ke laboratorium.
Pada penderita yang tidak mampu melakukan sendiri, hal ini
dilakukan dengan bantuan perawat
3. Urine kateter (yang telah terpasang)
3.1 lakukan desinfeksi pada bagian selang kateter yang terbuat dari
karet (jangan yang terbuat dari plastik) dengan alkohol 70%
3.2 aspirasi urine dengan menggunakan semprit sebanyak 10ml
3.3 masukan kedalam wadah steril dan tertutup rapat
3.4 kirimkan segera ke laboratorium
4. urine aspirasi suprapublik
harus dilakukan pada kandung kemih yang penuh
4.1 lakukan desinfeksi pada kulit didaerah suprapublik dengan
alkohol 70%
4.2 aspirasi urine tepat dititik suprapublik dengan menggunakan
semprit sebanyak 20ml (dilakuakn oleh petugas yang
berwenang)
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN URIN

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
3/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
4.3 masukan kedalam wadah steril dan tertutup rapat
4.4 kirimkan segera ke laboratorium
5. bayi dan anak-anak
5.1 penderita sebelumya diberi air minum untuk memudahkan buang
air kecil
5.2 bersihkan alat genetal seperti yang telah diterangkan diatas
5.3 bayi/anak harus dipangkuang perawat
5.4 pengaruhi anak untuk mengeluarkan urine, tampung urine dalam
wadah atau kantung plastik steril
PEMBERIAN IDENTITAS
1. Pengisian formulir
Formulir permintaan pemeriksaan laboratorium sebaiknya memulai
secara lengkap:
Tanggal permintaan
Tanggal dan jam pengambilan bahan
Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat, nomor
medical record)
Pemeriksaan laboratorium yang diminta
Nama pengambil spesimen
2. Label
Wadah urine diberi label yang memuat:
Tanggal pengambilan spesimen
Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, nomor medical
record)
Jenis spesimen
CARA PENYIMPANAN
Sebaiknya secepatnya dikirim ke laboratorium, spesimen harus sudah
sampaidilaboratorium dalam 1 jam setelah pengambilan. Jika hal ini
tidak memungkinakan, spesimen harus disimpan dalam lemari es 4oC
segera setelah pengambilan. Selanjutnya harus diproses dalam waktu 18
jam.
CARA PENGIRIMAN
Pengiriman urine dilakukan dalam cool box (2-8oC) kecuali jika waktu
pengiriman kurang dari 1 jam
1. Instalasi rawat jalan
2. Instalasi rawat inap
INSTALASI TERKAIT
3. Instalasi gawat darurat
4. Instalasi bedah
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN DARAH

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
1/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Pengambilan, penyimpanan dan pengiriman spesimen darah yang baik
PENGERTIAN
untuk pemeriksaan mikrobiologi
Sebagai acuan penerapan langkah-langkah agar didapatkan spesimen
TUJUAN
darah yang baik untuk pemeriksaan mikrobiologi.
SK Direktur utama nomor ............ tentang pedoman pencegahan &
KEBIJAKAN pengendalian infeksi rumah sakit di RS Khusu Ginjal Ny. RA
Habibie
WAKTU PENGAMBILAN:
Pengambilan darah sebaiknya sebelum pemberian antibiotika. Bila
sudah diberi antibiotika maka pengpengambilan dilakuna
sebelumpemberian dosis antibiotika berikutnya.waktu pengambilan
darah terbaik adalah sesaat sebelum temperatur mencapai puncak,
dianjurkan pengambilan darah dilakukan 3x dengan selang waktu 1 jam.
Untuk demam typoid, pengambilan darah dilakuakan pada minggu
pertama dan kedua demam.
ALAT:
Jas lab, torniquet, masker, sarung tangan, kapas, spuit steril.
PROSEDUR PENGAMBILAN:
Lokasi pengambilan darah adalah pada lipatan siku, pilih vena yang
paling jelas dan besar. Untuk bayi dapat diambil pada vena sekitar mata
kaki.tidak dianjurkan mengambil darah untuk biakan dari kateter intra
PROSEDUR
vena dan intra arteri yang sudah terpasang.
CARA PENGAMBILAN:
1. Letakan lengan lurus diatas meja, dengan telapak tangan menghadap
keatas dan mengepal
2. Ikat lengan atas cukup erat dengan torniquet untuk membendung
aliran darah tetapi tidak boleh terlalu kencang sebab bisa merusak
pembuluh darah
3. Dalam keadaan tangan pasien masih mengepal, ujung telunjuk
petugas mencari lokasi pembuluh darah yang akan ditusuk
4. Bersihkan lokasi tersebut dengan propidone 10% dari tengah
memutar ketepi, biarkan kering dan ulangi hal yang sama dengan
alkohol 70%
5. Peganglah spuit dengan tangan kanan dan ujung telunjuk pada
pangkal jarum
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN DARAH

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
2/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
6. Tegangkan kulit dengan ibu jari dibawah supaya pembuluh darah
tidak bergerak, kemudian tusuk jarum dengan sisi miring menghadap
keatas dan membentuk sudut 25o
7. Dorong jarum masuk kepembuluh darah
8. Dengan tangan kiri menghisap spuit ditarik perlahan-lahan sehingga
darah masuk kedalam spuit. Volume darah yang diambil:
- Dewasa: 10 ml
- Anak-anak: 2-5 ml
- Bayi: 1-2 ml
9. Sementara itu kepalan tangan dibuka dan torniquet dilonggarkan atau
dilepas sampai didapat sejumlah darah yang dikehendaki
10. Letakan kapas steril tempat tusukan, jarum ditarik kembali pasien
diminta untuk menekan bekas tempat tusukan dengan kapas tersebut
selama beberapa menit dengan tangan masih dalam keadaan lurus
(siku tidak boleh ditekuk)
11. Masukan darah kedalam botol media yang telah disediakan sesuai
dengan permintaan pemeriksaan
- Untuk biakan aerob dan haemophylus digunakan BHI broth
- Untuk biakan anaerob digunakan Thioglycolatee broth
- Untuk salmonella digunakan media empedu (gall)
12. Perbandingan darah dengan media adalah 1:10 (5 ml:50ml)
13. Usahakan ujung jarum tidak menyentuk media, udara dalam spuit
tidak boleh ikut masuk
14. Apabila pemberain botol media oleh laboratorium tidak
memungkinkan (karena jarak jauh/luar daerah) maka darah
dimasukan kedalam botol yang berisi antikoagulan sodium
polyanethol sulfanote (SPS) dengan perbandingan 0,5ml stok SPS
dalam 5ml darah. Stok SPS adalah 0,3 gr SPS dalam 100ml aquades
steril.
PEMBERIAN IDENTITAS
Formulir permintaan pemeriksaan
Surat pengantar/formulir permintaan pemeriksaan laboratorium
sebaiknya memuat secara lengkap:
1. Tanggal permintaan
2. Tanggal dan jam pengambilan spesimen
3. Identitas pasien (nama, umur, jenis kelamin, alamat dan identitas
pengirim)
4. Identitas spesimen
PENGAMBILAN, PENYIMPANAN DAN PENGIRIMAN
SPESIMEN DARAH

Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


RSKG Ny.R.A. HABIBIE
1/3
Jl. Tubagus Ismail No.46
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
5. Pemeriksaan laboratorium yang diminta
6. Nama pengambil spesimen
7. Transpor media/ pengawet yang digunakan
Keterangan klinis : diagnosis atau riwayat singkat penyakit dan
riwayat pengobatan
8. Label
Label wadah spesimen yang akan dikirim ke laboratorium harus
memuat:
Seluruh ruang perawatan
1. Rawat inap
INSTALASI TERKAIT 2. Rawat jalan
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Bedah
1. PerMenkes no. 1438/menkes/per/IX/2010 pasal 11&12
2. Pedoman manajerial Pencegahan dan Pengendalian infeksi di
Rumah Sakit dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainya. Depkes
2007
DOKUMEN TERKAIT 3. Pedoman Pencegahan Infeksi untuk fasilitas Pelayanan Kesehatan
Pustaka Sarwono Prawirohardjo dan JHPIEGO 2004
4. SK Direktur Utama No. ..........
5. Pedoman Nasional Keselamatan Pasien RS
INFECTION RISK ASSESSMENT
RENOVASI BANGUNAN RUMAH SAKIT

RSKG Ny.R.A. HABIBIE Nomor Dokumen : Nomor Revisi : Halaman :


Jl. Tubagus Ismail No.46 1/2
Bandung 40134
Ditetapkan
Tanggal Terbit : Direktur,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
Dr. Qania Mufliani
Infection Control Risk Assesment (ICRA) adalah penilaian yang
dilakukan terhadap kontrol infeksi oleh komite PPI bila ada
rencana perbaikan, renovasi, dan pembangunan baru atau
pembangunan kembali bangunan yang ada di rumah sakit, yang
PENGERTIAN
memungkinkan terjadinya infeksi bagi pasien, bekerja dan orang
yang beraktivitas di rumah sakit. Rekomendasi dari komite PPI
sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya infeksi akibat
aktivitas pembangunan tersebut.
Menjadi pedoman dalam menilai resiko infeksi yang dapat terjadi
TUJUAN akibat debu pembangunan baru atau perbaikan gedung di rumah
sakit.

KEBIJAKAN

1. Managerial RS menginformasikan kepada Komite PPI


tentang rencana pembangunan / renovasi gedung rumah
sakit.
2. Tim menganalisa dampak pembangunan terhadap
lingkungan rumah sakit dengan menggunakan langka-
langkah ICRA, terlampir
3. Telaah ICRA menghasilkan rekomendasi dari Tim PPI
kepada Tim konstruksi / renovasi bangunan
4. Bila Tim konstruksi / renovasi bangunan menyetujui
rekomendasi tim PPI maka Tim PPI, dan Tim Konstruksi
PROSEDUR
dan Renovasi menandatangani format kesepakatan
Pengendalian Infeksi Dampak Konstruksi dan Renovasi
Bangunan
5. Pembangunan dapat dilanjutkan bila Tim Konstruksi dan
Renovasi bangunan telah melaksakan Rekomendasi Tim
PPI
6. Tim PPI bersama Managemen Rumah Sakit mengawasi
jalannya pekerjaan Konstruksi / Renovasi Bangunan
7. BIla dalam pekerjaannya Tim Konstruksi / Renovasi
bangunan tidak menjalankan rekomendasi yang dianjurkan
tim PPI, maka Pihak managemen dapat meninjau kembali
izin pelaksanaan konstruksi / renovasi bangunan tersebut.

1. Tim PPI
2. Manajerial Rumah Sakit
UNIT TERKAIT 3. Tim Konstruksi dan Renovasi Bangunan Rumah Sakit