Anda di halaman 1dari 9

SEJARAH GEOLOGI JAWA BARAT

Argapadmi, Windeati. 2009. Undergraduate Theses: Geologi dan Analisis Struktur Daerah Pasiruren
dan sekitarnya, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. ITB Central Library

Kurniawan, Wendy. 2008. Undergraduate Theses: Geologi dan Analisis Struktur Geologi untuk
Karakterisasi Sesar Anjak di Daerah Gunung Masigit dan Sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa
Barat. ITB Central Library

Santana, Sonny, 2007, Master Theses: Rekonstruksi Cekungan Paleogen Daerah Jawa Barat Bagian
Selatan, ITB Central Library

Sontana, Rizky. 2007. Udergraduate Theses: Geologi dan Hidrogeologi Daerah Campaka dan
Sekitarnya, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. ITB Central Library,

Sejarah Geologi Jawa Barat, ditinjau dari


sejarah sedimentasi dan
pembentukan strukturnya
Posted by Wei Min Han January 30, 2011 Leave a Comment
Filed Under Cekungan Bogor, Pembentukan Struktur, Sejarah Sedimentasi Jawa Barat

1 Votes

Cekungan Bogor merupakan penamaan bagi suatu mandala sedimentasi yang melampar dari
utara ke selatan di daerah Jawa Barat, posisi tektonik dari Cekungan Bogor ini sendiri dari
zaman Tersier hingga Kuarter terus mengalami perubahan (Martodjojo,1984). Batuan tertua
pada Mandala Cekungan Bogor berumur Eosen Awal yaitu Formasi Ciletuh (Gambar1). Di
bawah formasi ini diendapkan kompleks Mlange Ciletuh yang merupakan olisostrom.
Formasi ini terdiri dari lempung, pasir dengan sisipan breksi, diendapkan dalam kondisi laut
dalam, berupa endapan lereng palung bawah (Martodjojo, 1984 dalam Argapadmi, 2009).
Gambar 1.
Kolom stratigrafi selatan-utara Jawa Barat (Martodjojo, 1984 dalam Santana, 2007)

Pada Kala Oligo-Miosen diendapkan Formasi Bayah yang dicirikan dengan lingkungan
berupa sungai teranyam dan kelok lemah. Formasi ini merupakan perselingan pasir
konglomeratan dan lempung dengan sisipan batubara (Martodjojo, 1984 dalam Argapadmi,
2009). Lalu di atasnya diendapkan secara tidak selaras Formasi Batu Asih dan Formasi
Rajamandala yang merupakan endapan laut dangkal (Gambar 1). Formasi Batuasih terdiri
dari lempung laut dengan sisipan pasir gampingan sedangkan Formasi Rajamandala
merupakan endapan khas tepi selatan Cekungan Bogor yang terdiri dari batugamping.
Kedudukan Cekungan Bogor pada kala ini tidak dapat diidentifikasikan dengan jelas.
Hadirnya komponen kuarsa yang dominan pada Formasi Bayah memberikan indikasi bahwa
sumber sedimentasi pada kala tersebut berasal dari daerah yang bersifat granitis,
kemungkinan besar berasal dari Daratan Sunda yang berada di utara (Gambar 2).

Pada Kala Miosen Awal berlangsung aktivitas gunung api dengan batuan bersifat basalt
sampai andesit yang berasal dari selatan dan terendapkan dalam Cekungan Bogor yang pada
kala ini merupakan cekungan belakang busur (Gambar 2). Cepatnya penyebaran dan
pengendapan rombakan deratan gunung api ini telah mematikan pertumbuhan terumbu
Formasi Rajamandala sehingga endapan volkanik yang dikenal dengan nama Formasi
Jampang dan Formasi Citarum mulai diendapkan pada lingkungan marin (Gambar 1).
Formasi Jampang yang berciri lebih kasar daripada Formasi Citarum diendapkan di bagin
dalam dari sistem kipas laut sedangkan Formasi Citarum diendapkan di bagian luar dari
sistem kipas laut.

Pada Kala Miosen Tengah status Cekungan Bogor masih merupakan cekungan belakang
busur dengan diendapkannya Formasi Saguling pada lingkungan laut dalam dengan
mekanisme arus gravitasi (Gambar 1). Ciri umum dari formasi ini memiliki banyak sisipan
breksi atau breksi konglomeratan. Formasi Cimandiri yang juga berumur Miosen Tengah
menutupi Formasi Jampang (Gambar 1). Formasi ini terdiri dari lempung gamping yang
konglomeratan yang dikenal sebagai Nyalindung Beds, tetapi peneliti yang lainnya (Effendi
et al, 1998 dalam Argapadmi, 2009) menamakan Formasi Cimandiri di beberapa daerah
sebagai Formasi Nyalindung yang terdiri atas batupasir glaukonit gampingan hijau,
batulempung, napal pasiran, konglomerat, breksi, dan batugamping. Formasi Bojonglopang
yang memiliki hubungan menjemari dengan Formasi Cimandiri juga diendapkan pada
Miosen Tengah. Peneliti yang lain (Duyfjes, 1939 dalam Martodjojo, 1984 dalam
Argapadmi, 2009) menamakan formasi ini sebagai Anggota Bojonglopang Formasi
Cimandiri. Karakteristik utama dari formasi ini adalah litologi batugampingnya.

Pada kala akhir Miosen Tengah mulai diendapkan Formasi Bantargadung yang dicirikan oleh
endapan turbidit halus aktivitas kipas laut dalam yang terdiri dari perselingan batupasir
greywacke dan lempung (Gambar 1). Cekungan Bogor pada kala ini sudah semakin sempit
menjadi suatu cekungan memanjang yang mendekati bentuk fisiografi zona Bogor (van
Bemmelen, 1949). Pada daerah ini penurunan merupakan gerak tektonik yang dominan
(Gambar 2).

Gambar 2
Rekontruksi Tektonik Pulau Jawa bagian barat (Suparka dan Susanto, 2008)

Pada Kala Miosen Akhir, Cekungan Bogor masih merupakan cekungan belakang busur
dengan diendapkannya Formasi Cigadung dan Formasi Cantayan yang diendapkan pada
lingkungan laut dalam dengan mekanisme arus gravitasi (Gambar 1). Formasi Subang
diendapkan di bagian utara menunjukan lingkungan pengendapan paparan (Kurniawan,
2008). Pada Kala Pliosen, Cekungan Bogor sebagian sudah merupakan daratan yang
ditempati oleh puncak-puncak gunungapi yang merupakan jalur magmatis (Gambar 2).
Sebenarnya pendangkalan Cekungan Bogor ini dimulai dari selatan pada umur Miosen
Tengah dan berakhir di sebelah utara pada umur Plistosen. Formasi Kaliwangu diendapkan di
atas Formasi Subang pada Pliosen Awal dan menunjukan lingkungan pengendapan transisi.
Daerah pegunungan selatan bagian selatan mengalami penurunan dan genang laut yang
menghasilkan Formasi Bentang sedangkan di bagian utara terjadi aktivitas gunung api yang
menghasilkan Formasi Beser.

Pada Kala Plistosen sampai Resen, geologi Pulau Jawa sama dengan sekarang. Aktivitas
gunungapi yang besar terjadi pada permulaan Plistosen yang menghasilkan Formasi
Tambakan dan Endapan Gunungapi Muda, sekaligus pusat gunung api dari selatan berpindah
ke tengah Pulau Jawa yang merupakan gejala umum yang terjadi di seluruh gugusan gunung
api sirkum pasifik (Karig dan Sharman, 1955 dalam Martodjojo, 2003 dalam Santana, 2007).

2 Sejarah Pembentukan Strukur Jawa Barat

Berdasarkan hasil studi pola struktur di Pulau Jawa, Pulonggono dan Martodjojo (1994)
menyimpulkan bahwa selama Paleogen dan Neogen telah terjadi perubahan tatanan tektonik
di Pulau Jawa. Pola Meratus dihasilkan oleh tektonik kompresi berumur 80-52 juta tahun
yang lalulu yang diduga merupakan arah awal penunjaman lempeng Samudra Indo-Australia
ke bawah Paparan Sunda. Arah ini berkembang di Jawa Barat dan memanjang hingga Jawa
Timur pada rentang waktu Eosen-Oligosen Akhir. Di Jawa Barat, Pola Meratus diwakili oleh
Sesar Cimandiri yang kemudian tampak dominan di lepas pantai utara Jawa Timur. Sesar ini
juga berkembang di bagian selatan Jawa.

Gambar 3 Pola
umum struktur Jawa Barat ( Martodjojo, 1994 dalam Sontana, 2007).

Pola Sunda (utara-selatan) dihasilkan oleh tektonik regangan. Fasa regangan ini disebabkan
oleh penurunan kecepatan yang diakibatkan oleh tumbukan Benua India dan Eurasia yang
menimbulkan rollback berumur Eosen-Oligosen Akhir (Gambar 2). Pola ini umumnya
terdapat di bagian barat wilayah Jawa Barat dan lepas pantai utara Jawa Barat.

Penunjaman di selatan Jawa yang menerus ke Sumatera menimbulkan tektonik kompresi


yang menghasilkan Pola Jawa. Di Jawa Tengah hampir semua sesar di jalur Serayu Utara dan
Selatan mempunyai arah yang sama, yaitu barat-timur. Pola Jawa ini menerus sampai ke
Pulau Madura dan di utara Pulau Lombok. Pada Kala Miosen Awal-Pliosen, Cekungan Bogor
yang Kala Eosen Tengah-Oligosen merupakan cekungan depan busur magmatik, berubah
statusnya menjadi cekungan belakang busur magmatik sehingga terbentuk sesar-sesar
anjakan dan lipatan (Gambar 2).

GEOLOGI REGIONAL JAWA BARAT

Pulau Jawa terletak di bagian selatan dari Paparan Sunda dan terbentuk dari batuan yang
berasosiasi dengan suatu aktif margin dari lempeng yang konvergen. Pulau tersebut terdiri
dari komplek busur pluton-vulkanik, accretionary prism, zona subduksi, dan batuan sedimen.

Pada Zaman Kapur, Paparan Sunda yang merupakan bagian tenggara dari Lempeng Eurasia
mengalami konvergensi dengan Lempeng Pasifik. Kedua lempeng ini saling bertumbukan
yang mengakibatkan Lempeng Samudra menunjam di bawah Lempeng Benua. Zona
tumbukan (subduction zone) membentuk suatu sistem palung busur yang aktif (arc trench
system). Di dalam palung ini terakumulasi berbagai jenis batuan yang terdiri atas batuan
sedimen laut dalam (pelagic sediment), batuan metamorfik (batuan ubahan), dan batuan beku
berkomposisi basa hingga ultra basa (ofiolit). Percampuran berbagai jenis batuan di dalam
palung ini dikenal sebagai batuan bancuh (batuan campur-aduk) atau batuan melange.
Singkapan batuan melange dari paleosubduksi ini dapat dilihat di Ciletuh (Sukabumi, Jawa
Barat), Karangsambung (Kebumen, Jawa Tengah), dan Pegunungan Jiwo di Bayat
(Yogyakarta). Batuan tersebut berumur Kapur dan merupakan salah satu batuan tertua di
Jawa yang dapat diamati secara langsung karena tersingkap di permukaan.

FISIOGRAFI REGIONAL

Aktifitas geologi Jawa Barat menghasilkan beberapa zona fisiografi yang satu sama lain
dapat dibedakan berdasarkan morfologi, petrologi, dan struktur geologinya. Van Bemmelen
(1949), membagi daerah Jawa Barat ke dalam 4 besar zona fisiografi, masing-masing dari
utara ke selatan adalah Zona Dataran Pantai Jakarta, Zona Bogor, Zona Bandung, dan Zona
Pegunungan Selatan

Zona Dataran Pantai Jakarta menempati bagian utara Jawa membentang barat-timur mulai
dari Serang, Jakarta, Subang, Indramayu, hingga Cirebon. Daerah ini bermorfologi dataran
dengan batuan penyusun terdiri atas aluvium sungai/pantai dan endapan gunungapi muda.

Zona Bogor terletak di sebelah selatan Zona Dataran Pantai Jakarta, membentang mulai dari
Tangerang, Bogor, Purwakarta, Sumedang, Majalengka, dan Kuningan. Zona Bogor
umumnya bermorfologi perbukitan yang memanjang barat-timur dengan lebar maksimum
sekitar 40 km. Batuan penyusun terdiri atas batuan sedimen Tersier dan batuan beku baik
intrusif maupun ekstrusif. Morfologi perbukitan terjal disusun oleh batuan beku intrusif,
seperti yang ditemukan di Komplek Pegunungan Sanggabuana, Purwakarta. Van Bemmelen
(1949), menamakan morfologi perbukitannya sebagai antiklinorium kuat yang disertai oleh
pensesaran.
Zona Bandung yang letaknya di bagian selatan Zona Bogor, memiliki lebar antara 20 km
hingga 40 km, membentang mulai dari Pelabuhanratu, menerus ke timur melalui Cianjur,
Bandung hingga Kuningan. Sebagian besar Zona Bandung bermorfologi perbukitan curam
yang dipisahkan oleh beberapa lembah yang cukup luas. Van Bemmelen (1949) menamakan
lembah tersebut sebagai depresi di antara gunung yang prosesnya diakibatkan oleh tektonik
(intermontane depression). Batuan penyusun di dalam zona ini terdiri atas batuan sedimen
berumur Neogen yang ditindih secara tidak selaras oleh batuan vulkanik berumur Kuarter.
Akibat tektonik yang kuat, batuan tersebut membentuk struktur lipatan besar yang disertai
oleh pensesaran. Zona Bandung merupakan puncak dari Geantiklin Jawa Barat yang
kemudian runtuh setelah proses pengangkatan berakhir (van Bemmelen, 1949).

Zona Pegunungan Selatan terletak di bagian selatan Zona Bandung. Pannekoek (1946)
menyatakan bahwa batas antara kedua zona fisiografi tersebut dapat diamati di Lembah
Cimandiri, Sukabumi. Perbukitan bergelombang di Lembah Cimandiri yang merupakan
bagian dari Zona Bandung berbatasan langsung dengan dataran tinggi (plateau) Zona
Pegunungan Selatan. Morfologi dataran tinggi atau plateau ini, oleh Pannekoek (1946)
dinamakan sebagai Plateau Jampang.

2.1.3 TEKTONIK REGIONAL

Lempeng Paparan Sunda dibatasi oleh kerak samudra di selatan dan pusat pemekaran kerak
samudra di timur. Bagian barat dibatasi oleh kerak benua dan di bagian selatan dibatasi oleh
batas pertemuan kerak samudra dan benua berumur kapur (ditandai adanya Komplek
Melange Ciletuh) dan telah tersingkap sejak umur Tersier. Sejak awal tersier (Oligosen
akhir), kerak samudra secara umum telah miring ke arah utara dan tersubduksi di bawah
Dataran Sunda (Hamilton, 1979).

Tektonik kompresi dan ekstensi dihasilkan oleh gaya tekan pergerakan Lempeng Indo-
Australia dan putaran Kalimantan ke utara, membentuk rift dan half-graben sepanjang batas
selatan Lempeng Paparan Sunda pada Eosen-Oligosen (Hall, 1977). Karakter struktur di
daratan terdiri dari perulangan struktur cekungan dan tinggian, dari barat ke timur yaitu
Tinggian Tangerang, Rendahan Ciputat, Tinggian Rengasdengklok, Rendahan Pasir Putih,
Tinggian dan Horst Pamanukan-Kandanghaur, Rendahan Jatibarang dan Rendahan Cirebon .
Pola struktur batuan dasar di lepas pantai merupakan pola struktur yang sama pada Cekungan
Sunda, Cekungan Asri, Seribu Platform, Cekungan Arjuna, Tinggian F, Cekungan Vera,
Eastern Shelf, Cekungan Biliton, Busur Karimun Jawa dan Bawean Trough. Beberapa bukti
menunjukan adanya gabungan antara asymmetrical sag dan half graben pada tektonik awal
pembentukan cekungan di daerah Jawa Barat Utara.

STRUKTUR REGIONAL

Di daerah Jawa Barat terdapat banyak pola kelurusan bentang alam yang diduga merupakan
hasil proses pensesaran. Jalur sesar tersebut umumnya berarah barat-timur, utara-selatan,
timurlaut-baratdaya, dan baratlaut-tenggara. Secara regional, struktur sesar berarah timurlaut-
baratdaya dikelompokkan sebagai Pola Meratus, sesar berarah utara-selatan dikelompokkan
sebagai Pola Sunda, dan sesar berarah barat-timur dikelompokkan sebagai Pola Jawa.
Struktur sesar dengan arah barat-timur umumnya berjenis sesar naik, sedangkan struktur sesar
dengan arah lainnya berupa sesar mendatar. Sesar normal umum terjadi dengan arah
bervariasi.
Dari sekian banyak struktur sesar yang berkembang di Jawa Barat, ada tiga struktur regional
yang memegang peranan penting, yaitu Sesar Cimandiri, Sesar Baribis, dan Sesar Lembang.
Ketiga sesar tersebut untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh van Bemmelen (1949) dan
diduga ketiganya masih aktif hingga sekarang.

Sesar Cimandiri merupakan sesar paling tua (berumur Kapur), membentang mulai dari Teluk
Pelabuhanratu menerus ke timur melalui Lembah Cimandiri, Cipatat-Rajamandala, Gunung
Tanggubanperahu-Burangrang dan diduga menerus ke timurlaut menuju Subang. Secara
keseluruhan, jalur sesar ini berarah timurlaut-baratdaya dengan jenis sesar mendatar hingga
oblique (miring). Oleh Martodjojo dan Pulunggono (1986), sesar ini dikelompokkan sebagai
Pola Meratus.

Sesar Baribis yang letaknya di bagian utara Jawa merupakan sesar naik dengan arah relatif
barat-timur, membentang mulai dari Purwakarta hingga ke daerah Baribis di Kadipaten-
Majalengka (Bemmelen, 1949). Bentangan jalur Sesar Baribis dipandang berbeda oleh
peneliti lainnya. Martodjojo (1984), menafsirkan jalur sesar naik Baribis menerus ke arah
tenggara melalui kelurusan Lembah Sungai Citanduy, sedangkan oleh Simandjuntak (1986),
ditafsirkan menerus ke arah timur hingga menerus ke daerah Kendeng (Jawa Timur). Penulis
terakhir ini menamakannya sebagai Baribis-Kendeng Fault Zone. Secara tektonik, Sesar
Baribis mewakili umur paling muda di Jawa, yaitu pembentukannya terjadi pada periode
Plio-Plistosen. Selanjutnya oleh Martodjojo dan Pulunggono (1986), sesar ini dikelompokkan
sebagai Pola Jawa.

Sesar Lembang yang letaknya di utara Bandung, membentang sepanjang kurang lebih 30 km
dengan arah barat-timur. Sesar ini berjenis sesar normal (sesar turun) dimana blok bagian
utara relatif turun membentuk morfologi pedataran (Pedataran Lembang). Van Bemmelen
(1949), mengaitkan pembentukan Sesar Lembang dengan aktifitas Gunung Sunda (G.
Tangkubanperahu merupakan sisa-sisa dari Gunung Sunda), dengan demikian struktur sesar
ini berumur relatif muda yaitu Plistosen.

Struktur sesar yang termasuk ke dalam Pola Sunda umumnya berkembang di utara Jawa
(Laut Jawa). Sesar ini termasuk kelompok sesar tua yang memotong batuan dasar (basement)
dan merupakan pengontrol dari pembentukan cekungan Paleogen di Jawa Barat.

Mekanisme pembentukan struktur geologi Jawa Barat terjadi secara simultan di bawah
pengaruh aktifitas tumbukan Lempeng Hindia-Australia dengan Lempeng Eurasia yang
beralangsung sejak Zaman Kapur hingga sekarang. Posisi jalur tumbukan (subduction zone)
dalam kurun waktu tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan. Pada awalnya
subduksi purba (paleosubduksi) terjadi pada umur Kapur, dimana posisinya berada pada
poros tengah Jawa sekarang. Jalur subduksinya berarah relatif barat-timur melalui daerah
Ciletuh-Sukabumi, Jawa Barat menerus ke timur memotong daerah Karangsambung-
Kebumen, Jawa Tengah. Jalur paleosubduksi ini selanjutnya menerus ke Laut Jawa hingga
mencapai Meratus, Kalimantan Timur (Katili, 1973). Penulis ini menarik jalur paleosubduksi
berdasarkan pada singkapan melange yang tersingkap di Ciletuh (Sukabumi),
Karangsambung (Kebumen), dan Meratus (Kalimantan Timur). Berdasarkan penanggalan
radioaktif yang dilakukan terhadap beberapa contoh batuan melange, diketahui umur
batuannya adalah Kapur.

Peristiwa subduksi Kapur diikuti oleh aktifitas magmatik yang menghasilkan endapan
gunungapi berumur Eosen. Di Jawa Barat, endapan gunungapi Eosen diwakili oleh Formasi
Jatibarang dan Formasi Cikotok. Formasi Jatibarang menempati bagian utara Jawa dan pada
saat ini sebarannya berada di bawah permukaan, sedangkan Formasi Cikotok tersingkap di
daerah Bayah dan sekitarnya.

Jalur gunungapi (vulcanic arc) yang umurnya lebih muda dari dua formasi tersebut di atas
adalah Formasi Jampang. Formasi ini berumur Miosen yang ditemukan di Jawa Barat bagian
selatan. Dengan demikian dapat ditafsirkan telah terjadi pergeseran jalur subduksi dari utara
ke arah selatan.

Untuk ketiga kalinya, jalur subduksi ini berubah lagi. Pada saat sekarang, posisi jalur
subduksi berada Samudra Hindia dengan arah relatif barat-timur. Kedudukan jalur subduksi
ini menghasilkan aktifitas magmatik berupa pemunculan sejumlah gunungapi aktif. Beberapa
gunungapi aktif yang berkaitan dengan aktifitas subduksi tersebut, antara lain G. Salak, G.
Gede, G. Malabar, G. Tanggubanperahu, dan G. Ciremai.

Walaupun posisi jalur subduksi berubah-ubah, namun jalur subduksinya relatif sama, yaitu
berarah barat-timur. Posisi tumbukan ini selanjutnya menghasilkan sistem tegasan (gaya)
berarah utara-selatan.

Aktifitas tumbukan lempeng di Jawa Barat, menghasilkan sistem tegasan (gaya) berarah
utara-selatan.

Bagian utara didominasi oleh struktur ekstensi, sedangkan struktur kompresi sedikit sekali.
Sesar-sesar yang terbentuk yaitu sesar-sesar berarah baratlaut-tenggara, utara dan timur laut
membentuk rift dan beberapa cekungan pengendapan yang dikenal sebagai Sub-cekungan
Arjuna Utara, Sub-cekungan Arjuna Tengah dan Sub-cekungan Arjuna Selatan, serta Sub-
cekungan Jatibarang dan sesar-sesar geser menganan berarah baratlaut-tenggara.

Fase rifting pada Eosen-Oligosen memiliki arah ekstensi utama berarah timurlaut-baratdaya
hingga barat-timur. Cekungan ini tidak terbentuk sebagai cekungan busur belakang, namun
sebagai pull-apart. Hamilton (1979) menyebutkan dua alasan yang dapat menjelaskan hal
tersebut yaitu pertama, arah ekstensi cekungan hampir tegak lurus dengan zona subduksi saat
ini, dan kedua, kerak benua yang tebal terlihat dalam pembentukan struktur rift cekungan
tersebut.

Terdiri atas dua grup sedimen, yaitu syn rift sedimen yang didominasi oleh non
marin/sedimen darat dan post rift sedimen (sag) yang didominasi oleh sikuen endapan marin
dan transisi.

Batuan dasar cekungan merupakan batuan dasar Pra-Tersier yang mewakili kerak benua
Daratan Sunda, terdiri atas batuan beku dan metamorf berumur Kapur atau lebih tua dan juga
endapan klastik dan gamping yang terbentuk pada awal Tersier.

Endapan syn rift diawali oleh pengendapan Formasi Jatibarang (di Cekungan Sunda
diendapkan Formasi Banuwati), dicirikan oleh perselingan volkanik-klastik dan sedimen
lakustrin.

Endapan Post rift/sag basin fill (Miosen Awal-Plistosen) merupakan fase transgresif di daerah
Laut Jawa. Pada endapan Post-rift tersebut diendapkan secara selaras setara batugamping
Formasi Baturaja. Pengendapan selanjutnya berupa endapan laut dangkal Formasi Cibulakan
Atas dan Formasi Parigi. Pengendapan terakhir adalah Formasi Cisubuh yang berada di
bawah endapan aluvial yang terjadi saat ini.