Anda di halaman 1dari 40

TINJAUAN PUSTAKA

FRAKTUR

I. PENGERTIAN
Fraktur adalah putusnya hubungan normal suatu tulang atau tulang rawan
yang disebabkan oleh kekerasan. (E. Oerswari, 1989 : 144).

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang atau
tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Mansjoer, 2000 : 347).

Fraktur tertutup adalah bila tidak ada hubungan patah tulang dengan dunia
luar. Fraktur terbuka adalah fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit, dimana
potensial untuk terjadi infeksi (Sjamsuhidajat, 1999 : 1138).

Fraktur femur adalah terputusnya kontinuitas batang femur yang bisa


terjadi akibat trauma langsung (kecelakaan lalu lintas, jatuh dari ketinggian), dan
biasanya lebih banyak dialami oleh laki-laki dewasa. Patah pada daerah ini dapat
menimbulkan perdarahan yang cukup banyak, mengakibatkan pendertia jatuh dalam
syok (FKUI, 1995:543)

Fraktur olecranon adalah fraktur yang terjadi pada siku yang disebabkan
oleh kekerasan langsung, biasanya kominuta dan disertai oleh fraktur lain atau
dislokasi anterior dari sendi tersebut (FKUI, 1995:553).

II. ETIOLOGI
Menurut Sachdeva (1996), penyebab fraktur dapat dibagi menjadi tiga
yaitu :

a. Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh :

1) Cedera langsung berarti pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang


pata secara spontan. Pemukulan biasanya menyebabkan fraktur melintang
dan kerusakan pada kulit diatasnya.
2) Cedera tidak langsung berarti pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur dan menyebabkan fraktur
klavikula.
3) Fraktur yang disebabkan kontraksi keras yang mendadak dari otot yang kuat.
b. Fraktur Patologik
Dalam hal ini kerusakan tulang akibat proses penyakit dimana dengan
trauma minor dapat mengakibatkan fraktur dapat juga terjadi pada berbagai
keadaan berikut :

1) Tumor tulang (jinak atau ganas) : pertumbuhan jaringan baru yang tidak
terkendali dan progresif.
2) Infeksi seperti osteomielitis : dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau
dapat timbul sebagai salah satu proses yang progresif, lambat dan sakit
nyeri.
3) Rakhitis : suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi Vitamin D
yang mempengaruhi semua jaringan skelet lain, biasanya disebabkan oleh
defisiensi diet, tetapi kadang-kadang dapat disebabkan kegagalan absorbsi
Vitamin D atau oleh karena asupan kalsium atau fosfat yang rendah.
c. Secara spontan : disebabkan oleh stress tulang yang terus menerus misalnya
pada penyakit polio dan orang yang bertugas dikemiliteran.
III. KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR
a. Fraktur tertutup (closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar.
b. Fraktur terbuka (open/compound), bila terdapat hubungan antara fragemen
tulang dengan dunia luar karena adanya perlukan di kulit, fraktur terbuka dibagi
menjadi tiga derajat, yaitu :
1) Derajat I
- luka kurang dari 1 cm
- kerusakan jaringan lunak sedikit tidak ada tanda luka remuk.
- fraktur sederhana, tranversal, obliq atau kumulatif ringan.
- Kontaminasi ringan.
2) Derajat II
- Laserasi lebih dari 1 cm
- Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, avulse
- Fraktur komuniti sedang.
3) Derajat III
Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas meliputi struktur kulit,
otot dan neurovaskuler serta kontaminasi derajat tinggi.

c. Fraktur complete
Patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami pergerseran
(bergeser dari posisi normal).
d. Fraktur incomplete
Patah hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.
e. Jenis khusus fraktur
a) Bentuk garis patah
1) Garis patah melintang
2) Garis pata obliq
3) Garis patah spiral
4) Fraktur kompresi
5) Fraktur avulsi
b) Jumlah garis patah
1) Fraktur komunitif garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2) Fraktur segmental garis patah lebih dari satu tetapi saling berhubungan
3) Fraktur multiple garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang
berlainan.
c) Bergeser-tidak bergeser
Fraktur tidak bergeser garis patali kompli tetapi kedua fragmen tidak
bergeser.
Fraktur bergeser, terjadi pergeseran fragmen-fragmen fraktur yang juga
disebut di lokasi fragmen (Smeltzer, 2001:2357).
IV. PATOFISIOLOGI
Trauma langsung
Trauma tidak langsung
Penurunan masa tulang

Kerusakan Fraktur/patah tulang Resti trauma

Integritas kulit

( actual/resti )

Resti Infeksi Kerusakan Kerusakan


jaringan Pembuluh darah

Spasme otot Kerusakan


Pembuluh darah

Spasme otak Perdarahan

Kerusakan Nyeri Itematum Nyeri


Pembuluh darah seluruh medula

Inflamasi Nekrosis

Proses penyembuhan tulang

Dikutip dari :

Black, Joyce M. 1993. Medical Surgical Nursing. W.B Sainders Company : Philadelpia
Proses penyembuhan luka terdiri dari beberapa fase yaitu :

1. Fase hematum
Dalam waktu 24 jam timbul perdarahan, edema, hematume disekitar fraktur
Setelah 24 jam suplai darah di sekitar fraktur meningkat
2. Fase granulasi jaringan
Terjadi 1 5 hari setelah injury
Pada tahap phagositosis aktif produk neorosis
Itematome berubah menjadi granulasi jaringan yang berisi pembuluh darah
baru fogoblast dan osteoblast.
3. Fase formasi callus
Terjadi 6 10 harisetelah injuri
Granulasi terjadi perubahan berbentuk callus
4. Fase ossificasi
Mulai pada 2 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh
Callus permanent akhirnya terbentuk tulang kaku dengan endapan garam
kalsium yang menyatukan tulang yang patah
5. Fase consolidasi dan remadelling
Dalam waktu lebih 10 minggu yang tepat berbentuk callus terbentuk dengan
oksifitas osteoblast dan osteuctas (Black, 1993 : 19 ).
V. TANDA DAN GEJALA
1. Deformitas
Daya terik kekuatan otot menyebabkan fragmen tulang berpindah dari
tempatnya perubahan keseimbangan dan contur terjadi seperti :

a. Rotasi pemendekan tulang


b. Penekanan tulang
2. Bengkak : edema muncul secara cepat dari lokasi dan ekstravaksasi darah dalam
jaringan yang berdekatan dengan fraktur
3. Echumosis dari Perdarahan Subculaneous
4. Spasme otot spasme involunters dekat fraktur
5. Tenderness/keempukan
6. Nyeri mungkin disebabkan oleh spasme otot berpindah tulang dari tempatnya
dan kerusakan struktur di daerah yang berdekatan.
7. Kehilangan sensasi (mati rasa, mungkin terjadi dari rusaknya saraf/perdarahan)
8. Pergerakan abnormal
9. Shock hipovolemik hasil dari hilangnya darah
10. Krepitasi (Black, 1993 : 199).
VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Foto Rontgen
Untuk mengetahui lokasi fraktur dan garis fraktur secara langsung
Mengetahui tempat dan type fraktur
Biasanya diambil sebelum dan sesudah dilakukan operasi dan selama proses
penyembuhan secara periodik

2. Skor tulang tomography, skor C1, Mr1 : dapat digunakan mengidentifikasi


kerusakan jaringan lunak.
3. Artelogram dicurigai bila ada kerusakan vaskuler
4. Hitung darah lengkap HT mungkin meningkat ( hemokonsentrasi ) atau
menrurun ( perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma
multiple)
Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal setelah trauma

5. Profil koagulasi perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah transfusi


multiple atau cedera hati (Doenges, 1999 : 76 ).
VII. PENATALAKSANAAN
1. Fraktur Reduction
Manipulasi atau penurunan tertutup, manipulasi non bedah penyusunan
kembali secara manual dari fragmen-fragmen tulang terhadap posisi otonomi
sebelumnya.
Penurunan terbuka merupakan perbaikan tulang terusan penjajaran insisi
pembedahan, seringkali memasukkan internal viksasi terhadap fraktur
dengan kawat, sekrup peniti plates batang intramedulasi, dan paku. Type
lokasi fraktur tergantung umur klien.
Peralatan traksi :

o Traksi kulit biasanya untuk pengobatan jangka pendek


o Traksi otot atau pembedahan biasanya untuk periode jangka
panjang.
2. Fraktur Immobilisasi
Pembalutan (gips)
Eksternal Fiksasi
Internal Fiksasi
Pemilihan Fraksi
3. Fraksi terbuka
Pembedahan debridement dan irigrasi
Imunisasi tetanus
Terapi antibiotic prophylactic
Immobilisasi (Smeltzer, 2001).
MANAJEMEN KEPERAWATAN

I. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan
secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).

Pengkajian pasien Post op frakture Olecranon (Doenges, 1999) meliputi :

a. Sirkulasi
Gejala : riwayat masalah jantung, GJK, edema pulmonal, penyakit vascular
perifer, atau stasis vascular (peningkatan risiko pembentukan trombus).

b. Integritas ego
Gejala : perasaan cemas, takut, marah, apatis ; factor-faktor stress multiple,
misalnya financial, hubungan, gaya hidup.

Tanda : tidak dapat istirahat, peningkatan ketegangan/peka rangsang ; stimulasi


simpatis.

c. Makanan / cairan
Gejala : insufisiensi pancreas/DM, (predisposisi untuk
hipoglikemia/ketoasidosis) ; malnutrisi (termasuk obesitas) ;
membrane mukosa yang kering (pembatasan pemasukkan / periode
puasa pra operasi).

d. Pernapasan
Gejala : infeksi, kondisi yang kronis/batuk, merokok.

e. Keamanan
Gejala : alergi/sensitive terhadap obat, makanan, plester, dan larutan ;
Defisiensi immune (peningkaan risiko infeksi sitemik dan penundaan
penyembuhan) ; Munculnya kanker / terapi kanker terbaru ; Riwayat
keluarga tentang hipertermia malignant/reaksi anestesi ; Riwayat
penyakit hepatic (efek dari detoksifikasi obat-obatan dan dapat
mengubah koagulasi) ; Riwayat transfuse darah / reaksi transfuse.

Tanda : menculnya proses infeksi yang melelahkan ; demam.

f. Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : pengguanaan antikoagulasi, steroid, antibiotic, antihipertensi,
kardiotonik glokosid, antidisritmia, bronchodilator, diuretic,
dekongestan, analgesic, antiinflamasi, antikonvulsan atau tranquilizer
dan juga obat yang dijual bebas, atau obat-obatan rekreasional.
Penggunaan alcohol (risiko akan kerusakan ginjal, yang
mempengaruhi koagulasi dan pilihan anastesia, dan juga potensial bagi
penarikan diri pasca operasi).

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN


Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang
nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono,
1994 : 17).

Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan post op fraktur


(Wilkinson, 2006) meliputi :

1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan tulang, gerakan fragmen tulang,


edema dan cedera pada jaringan, alat traksi/immobilisasi, stress, ansietas
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan dispnea, kelemahan/keletihan, ketidak
edekuatan oksigenasi, ansietas, dan gangguan pola tidur.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan tekanan, perubahan status
metabolik, kerusakan sirkulasi dan penurunan sensasi dibuktikan oleh terdapat
luka / ulserasi, kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit buruk, terdapat
jaringan nekrotik.
4. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan,
kerusakan muskuloskletal, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan
kekuatan/tahanan.
5. Risiko infeksi berhubungan dengan stasis cairan tubuh, respons inflamasi
tertekan, prosedur invasif dan jalur penusukkan, luka/kerusakan kulit, insisi
pembedahan.
6. Kurang pengetahuan tantang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah
interpretasi informasi.
III. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan
dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan
(Boedihartono, 1994:20)

Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana


keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995:40).

Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien


dengan post op frakture Olecranon (Wilkinson, 2006) meliputi :

1. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan
meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial, digambarkan
dalam istilah seperti kerusakan ; awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari
intensitas ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat
diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.
Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil : - Nyeri berkurang atau hilang

- Klien tampak tenang.

Intervensi dan Implementasi :

a. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga


R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif

b. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri


R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri

c. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri


R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri.

d. Observasi tanda-tanda vital.


R/ untuk mengetahui perkembangan klien

e. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik


R/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi
untuk memblok stimulasi nyeri.
2. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup
mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi
kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan.
Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.

Kriteria hasil : - perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan


diri.

- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa


aktivitas tanpa dibantu.

- Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.

Intervensi dan Implementasi :

a. Rencanakan periode istirahat yang cukup.


R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat
digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.

b. Berikan latihan aktivitas secara bertahap.


R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara
perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi
dini.

c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.


R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.

d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.


R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai
akibat dari latihan.

3. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami


perubahan secara tidak diinginkan.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.

Kriteria Hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.

- luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.


- Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :

a. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.


R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam
melakukan tindakan yang tepat.

b. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi.

c. Pantau peningkatan suhu tubuh.


R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses
peradangan.

d. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa
kering dan steril, gunakan plester kertas.
R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah
terjadinya infeksi.

e. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya


debridement.
R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada
area kulit normal lainnya.

f. Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.


R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/
tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.

g. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.


R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada
daerah yang berisiko terjadi infeksi.

4. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian,


pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih.
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.

Kriteria hasil : - penampilan yang seimbang..

- melakukan pergerakkan dan perpindahan.


- mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi,
dengan karakteristik :

0 = mandiri penuh
1 = memerlukan alat Bantu.
2 = memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan,
pengawasan, dan pengajaran.
3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.
4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.
Intervensi dan Implementasi :

g. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.


R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.

h. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.


R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena
ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.

i. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.


R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.

j. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.

k. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.


R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan
mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.

5. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer,


perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan
kerusakan kulit.
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.

Kriteria hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.

- luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.


- Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :

a. Pantau tanda-tanda vital.


R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh
meningkat.

b. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.


R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.

c. Lakukan perawatan terhadap prosedur inpasif seperti infus, kateter, drainase


luka, dll.
R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.

d. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb


dan leukosit.
R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi
akibat terjadinya proses infeksi.

e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.


R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

6. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


berhubungan dengan keterbatasan kognitif, kurang terpajan/mengingat, salah
interpretasi informasi.
Tujuan : pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan
proses pengobatan.

Kriteria Hasil : - melakukan prosedur yang diperlukan dan menjelaskan alasan


dari suatu tindakan.

- memulai perubahan gaya hidup yang diperlukan dan ikut


serta dalam regimen perawatan.

Intervensi dan Implementasi:

a. Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakitnya.


R/ mengetahui seberapa jauh pengalaman dan pengetahuan klien dan
keluarga tentang penyakitnya.
b. Berikan penjelasan pada klien tentang penyakitnya dan kondisinya sekarang.
R/ dengan mengetahui penyakit dan kondisinya sekarang, klien dan
keluarganya akan merasa tenang dan mengurangi rasa cemas.

c. Anjurkan klien dan keluarga untuk memperhatikan diet makanan nya.


R/ diet dan pola makan yang tepat membantu proses penyembuhan.

d. Minta klien dan keluarga mengulangi kembali tentang materi yang telah
diberikan.
R/ mengetahui seberapa jauh pemahaman klien dan keluarga serta menilai
keberhasilan dari tindakan yang dilakukan.

IV. EVALUASI
Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf
keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk
memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).

Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan post operasi fraktur adalah :

1. Nyeri dapat berkurang atau hilang setelah dilakukan tindakan keperawatan.


2. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
3. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai
4. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
5. Infeksi tidak terjadi / terkontrol
6. Pasien mengutarakan pemahaman tentang kondisi, efek prosedur dan proses
pengobatan.
FORMAT ASUHAN KEPERAWATAN

Nama : Benidiktus Widodo AMd. Kep

NIRA PPNI :

No STR : 230151112-0481881

Ruangan : Kamar Operasi (OK)

Tanggal & jam pengkajian : 18 januari 2014 jam 08.30 WIB

A. PENGUMPULAN DATA
Nama : Tn. S

Umur : 25 tahun

Jenis kelamin : laki-laki

Suku/Bangsa : Dayak / Indonesia

Agama : Kristen Protestan

Pekerjaan : Swasta

Pendidikan : D2

Status perkawinan : Belum kawin

Alamat : Desa Tahai Jaya

Tanggal MRS : 02 Januari 2014

No. MR : 06-17-85

Diagnosa medis : Fraktur Os. Ulna Post ORIF


B. RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan Utama : pasien mengatakan masih terasa nyeri pada luka dan tangan kiri
saya, terutama pada saat digerakkan.
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pada tanggal 01 Januari 2014 di Desa Tahai Jaya, pasien mengaku sedang naik motor
bersama temannya, pasien berada didepan dan tiba-tiba ada empat orang menyerang
pasien dengan golok, pasien berusaha melindungi dirinya dengan menangkis golok
menggunakan tangan kirinya, pasien tersungkur dan ditolong warga dan dibawa ke
Puskesmas Tahai jaya.
Diberikan tindakan : rawat luka dan heating, IVFD NaCl, injeksi Ampicillin 1 gr/iv,
injeksi Xillo 2 cc. Pasien kemudian dirujuk dari Puskesmas Tahai jaya, ke RSUD
Pulang Pisau masuk lewat IGD pada tanggal 02 Januari 2014 jam 05.50 WIB.

Pasien datang dengan luka bacok pada lengan sampai tulang, pergelangan tangan
hampir putus pada sebelah kiri. Jari manis ruas 1 pada sebelah kanan hamper putus,
dan luka robek pada bokong sebelah kanan. Diberikan tindakan IVFD RL 20
gtt/menit, injeksi Ceftriaxone 2x1 gr/iv (skin test (-) jam 06.50 WIB), injeksi ketopain
3x1 ampul. Kemudian di rawat di ruang Penyakit Dalam (bedah pria). RSUD Pulang
Pisau.

3. Riwayat Penyakit Sebelumnya (riwayat penyakit dan riwayat operasi) :


Sebelumnya pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit, tidak pernah menjalani
operasi

4. Riwayat Penyakit Keluarga :


Dalam keluarga pasien tidak ada riwayat penyakit keturunan seperti HT, DM, dan
tidak ada riwayat penyakit menular seperti TBC, Hepatitis.
Degeneratif
85 th
C. GENOGRAM KELUARGA
82 th

86 th, Degeneratif

81 th Degeneratif Melahirkan

Keterangan :

: meninggal dunia

: laki-laki

: perempuan

: klien sakit

: : menikah
Menikah

: tinggal serumah
: tinggal serumah
D. PEMERIKSAAN FISIK

1. KEADAAN UMUM :

Kesadaran compos mentis, warna kuning langsat, tangan kiri terbalut verban dan di
letakkan di atas bantal.

2. STATUS MENTAL :
a. Tingkat Kesadaran : compos mentis

b. Ekspresi wajah : tenang

c. Bentuk Badan : kurus sedang

d. Cara Berbaring/bergerak : berdiri, duduk, berbaring, berjalan.

e. Berbicara : jelas

f. Suasana hati : tenang

g. Penampilan : rapi dan cukup bersih

h. Fungsi kognitif

Orientasi Waktu : pasien sadar sekarang pagi


Orientasi Orang : pasien mengenal perawat, dokter dan keluarga
Orientasi Tempat : pasien sadar berada di rumah sakit
i. Halusinasi : Dengar/Akustik Lihat/Visual Lainnya
j. Proses berpikir : Blocking Circumstansial Flight oh ideas

Lainnya .

k. Insight : Baik Mengingkari Menyalahkan Orang Lain

m. Mekanisme pertahanan diri : Adaptif Maladaptif

n. Keluhan Lainnya :

...............
..

........................................................................
3. TANDA-TANDA VITAL
O
a. Suhu/T : 36,3 C Axilla Rectal Oral

b. Nadi/HR : 80 x/mnt

c. Pernapasan/RR : 20 x/mnt

d. Tekanan Darah : 130 / 80 mmHg

4. PERNAPASAN (BREATHING) :
Bentuk Dada : simetris

Kebiasaan Merokok :
...batang/hari

Batuk, sejak
..

Batuk darah, sejak


....................................................................................................

Sputum, warna
..........................................................................................................

Sianosis

Nyeri dada

Dysnoe nyeri dada Orthopnoe Lainnya

Sesak nafas saat inspirasi saat aktivitas saat istirahat

Type Pernapasan : Dada Perut Dada dan Perut

Kusmaul Cheyne-stokes Biots

Lainnya
....

Irama Pernapasan : Teratur Tidak teratur

Suara Nafas : Vesikuler Bronchovesikuler


Bronchial Trakeal

Suara Nafas Tambahan : Wheezing Ronchi Kering Ronchi Basah

Lainnya
...

Keluhan lainnya :

5. CARDIOVASCULLER (BLEEDING) :
Nyeri dada Kram kaki Pucat

Pusing/sinkop Clubing finger Sianosis

Sakit Kepala Palpitasi Pingsan

Capillary refill > 2 detik < 2 detik

Oedema : Wajah Ekstremitas atas

Anasarka Wajah

Asites, lingkar perut cm

Ictus cordis Terlihat Tidak terlihat

Vena Jugularis Meningkat Tidak meningkat

Suara jantung Normal,

Ada kelainan

Keluhan lainnya :

..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
......
6. PERSYARAFAN (BRAIN) :
Nilai GCS : E : 4 membuka spontan.

V : 5 berorientasi dengan baik

M : 5 bergerak terhadap nyeri

Total GCS : 14

Kesadaran : Compos Menthis Somnolent Delirium

Apatis Soporus Coma

Pupil Isokor Anisokor

Midriasis Meiosis

Refleks cahaya Kanan Positif Negatif

Kiri Positif Negatif

Nyeri, lokasi

Vertigo Gelisah Aphasia Kesemutan

Bingung Disarthria Kejang Tremor

Pelo

Uji syaraf cranial :

Nervus cranial I :

Nervus cranial II :

Nervus cranial III :


Nervus cranial IV :

Nervus cranial V :

Nervus cranial VI :

Nervus cranial VII :


Nervus cranial VIII :


Nervus cranial IX :

Nervus cranial X :

Nervus cranial XI :

Nervus cranial XII :


Uji koordinasi :

Ekstremitas atas : Jari ke jari Positif Negatif

Jari ke hidung Positif Negatif

Ektremitas bawah : Tumit ke jempol Positif Negatif

Uji Kestabilan Tubuh : Positif Negatif

Refleks :

Bisep : Kanan +/- Kiri +/- Skala


.........................................
Trisep : Kanan +/- Kiri +/- Skala
.........................................

Brakioradialis : Kanan +/- Kiri +/- Skala


.........................................

Patella : Kanan +/- Kiri +/- Skala


.........................................

Akhiles : Kanan +/- Kiri +/- Skala


.........................................

Refleks babinski : Kanan +/- Kiri +/- Skala


.........................................

Refleks lainnya :
............................................................................................................

Uji sensasi :
............................................................................................................

............................................................................................................

Keluhan lainnya :

..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
......

7. ELEMINASI URI (BLADDER) :


Produksi urine : 1500 ml 6-8 x/hr

Warna : kuning bening

Bau : khas pesing

Tidak ada masalah /lancer Menetes Inkotinen

Oliguri Nyeri Retensi


Poliuri Panas Hematuri

Dysuri Nocturi

Kateter Cystostomi

Lainnya :

.........................................................................................................................................

Masalah keperawatan : tidak ada masalah

8. ELEMINASI ALVI (BOWEL) :


Mulut dan faring

Bibir : lembab

Gigi : lengkap

Gusi : tidak ada peradangan

Lidah : bersih

Mukosa : lembab

Tonsil : tidak ada peradangan

Rectum : tidak ada masalah

Haemoroid : tidak ada

BAB : 1 -2 x/hr Warna : kuning Konsistensi : lembek

Tidak ada masalah Diare Konstipasi Kembung

Feaces berdarah Melena Obat pencahar Lavement

Bising usus : (+), normal

Nyeri tekan, lokasi : tidak ada

Benjolan, lokasi : tidak terdapat


Lainnya :
.........................................................................................................

Masalah keperawatan : tidak ada masalah

9. TULANG-OTOT-INTEGUMEN (BONE) :
Kemampuan Pergerakan sendi Bebas Terbatas

Parese, lokasi
............................................................................................................

Paralise, lokasi
..........................................................................................................

Hemiparese, lokasi
....................................................................................................

Krepitasi, lokasi
........................................................................................................

Nyeri, lokasi
..............................................................................................................

Bengkak, lokasi
.........................................................................................................

Kekakuan, lokasi
.......................................................................................................

Flasiditas, lokasi
........................................................................................................

Spastisitas, lokasi
......................................................................................................

Ukuran otot Simetris

Atropi

Hipertropi
Kontraktur

Malposisi

Uji kekuatan otot : Ekstremitas atas ............. Ektremitas bawah


............

Deformitas tulang, lokasi


..........................................................................................

Peradangan, lokasi
....................................................................................................

Perlukaan, lokasi : lengan bawah tangan kiri, dan bokong bagian kanan.

Patah tulang, lokasi : os. Ulna sinistra

Tulang belakang Normal Skoliosis

Kifosis Lordosis

10. KULIT DAN RAMBUT

Riwayat alergi Obat


..

Makanan
...

Kosmetik
..

Lainnya
.

Suhu kulit Hangat Panas Dingin

Warna kulit Normal Sianosis/biru Ikterik/kuning


Putih/pucat Coklat tua/hyperpigmentasi

Turgor Baik Cukup Kurang

Tekstur Halus Kasar

Lesi Macula, lokasi

Pustula, lokasi

Nodula, lokasi

Vesikula,lokasi

Papula, lokasi

Ulcus, lokasi

Jaringan parut, lokasi


.........................................................................................................

Tekstur rambut : ikal, bergelombang

Distribusi rambut : tebal

Bentuk kuku Simetris Irreguler

Clubbing Finger Lainnya

Masalah keperawatan : risiko infeksi dan kerusakan integritas kulit

11. SISTEM PENGINDERAAN :


a. Mata /Penglihatan
Fungsi Penglihatan : Berkurang Kabur

Ganda Buta/gelap

Gerakkan bola mata Bergerak normal Diam

Bergerak spontan/nistagmus

Visus Mata Kanan (VOD) :


.......................................................................... .
Mata Kiri (VOS) :
...........................................................................

Scelera Normal/putih Kuning/ikterus


Merah/hifema

Konjunctiva Merah muda Pucat/anemic

Kornea Bening Keruh

Alat Bantu Kaca mata Lensa kontak Lainnya

Nyeri
........................................................................................................................... .

Keluhan lain
.................................................................................................................

b. Telinga /Pendengaran
Fungsi Pendengaran : Berkurang Berdenging Tuli

c. Hidung /Penciuman
Bentuk : Simetris Asimetris

Lesi

Patensi

Obstruksi

Nyeri tekan sinus

Transluminasi

Cavum Nasal Warna .......................... Integritas


.......................................... ..

Septum Nasal Deviasi Perforasi Perdarahan

Sekresi,
Warna..............................................................................................................
Polip Kanan Kiri Kanan dan
Kiri

Masalah Keperawatan : tidak ada masalah

12. LEHER DAN KELENJAR LIMFE


Massa Ya Tidak

Jaringan parut Ya Tidak

Kelenjar Limfe Teraba Tidak teraba

Kelenjar Tyroid Teraba Tidak teraba

Mobilitas leher Bebas Terbatas

13. SISTEM REPRODUKSI


a. Reproduksi Pria
Kemerahan, lokasi

Gatal-gatal, lokasi

Gland Penis ..

Meatus Uretra ..

Discharge, warna ..

Scrotum

Hernia ...

Kelainan ...

Keluhan lain ..

b. Reproduksi Wanita
Kemerahan, lokasi

Gatal-gatal, lokasi

Perdarahan

Flour Albus ..

Clitoris .

Labia .

Uretra ...

Kebersihan Baik Cukup Kurang

Kehamilan

Tafsiran partus
..

Keluhan lain
.............................................
..

Payudara : Simetris Asimetris

Sear Lesi

Pembengkakan Nyeri tekan

Puting : Menonjol Datar Lecet


Mastitis

Waran areola

ASI Lancar Sedikit Tidak keluar

Lainnya

Masalah keperawatan
E. POLA FUNGSI KESEHATAN

1. Persepsi terhadap Kesehatan dan Penyakit :


Kesehatan bagi pasien adalah bila dirinya bisa bekerja, dan beraktivitas tanpa ada
rasa sakit dan kecemasan. Sedangkan penyakit bagi pasien adalah saat dirinya
merasakan takut untuk melakukan sesuatu karena merasakan kelemahan/keterbatasan

2. Nutrisida Metabolisme
TB : - Cm

BB sekarang : - Kg

BB sebelum sakit : - Kg

Diet :

Biasa Cair Saring Lunak

Diet Khusus :

Rendah garam Rendah kalori TKTP

Rendah Lemak Rendah Purin Lainnya


................

Mual

Muntah x/hari

Kesukaran menelan Ya Tidak

Rasa haus
.......................................................................................................................... ..

Lainnya
...............................................................................................................................
Sebelum sakit Saat sakit
Frekuensi/hari 3-4 kali/haari 3-4 kali/hari
Sedang sepiring nasi + lauk Sedang sepiring nasi +
Porsi makan pauk dan sayur mayur lauk pauk dan sayur mayur
Nafsu makan Baik Baik
Nasi, sayur, lauk-pauk, snack, Nasi, sayur, lauk-pauk,
Jenis makanan buah, roti. snack, buah, roti.
Air putih, teh, susu atau soft Air putih, teh, susu atau
Jenis minuman drink siap saji soft drink siap saji
Jumlah minuman/24jam 1500-2000 cc 1200-1600 cc
Kebiasaan makan Pagi, siang, sore atau malam Pagi, siang, sore atau
malam
Keluhan/masalah Tidak ada keluhan Tidak ada keluhan

Masalah keperawatan : tidak ada

3. Pola istirahat dan tidur :


Sebelum sakit anak tidur 6-8 jam/ 24 jam, jarang tidur siang ; saat sakit 7-8 jam/ 24
jam, ada tidur siang.

Masalah keperawatan : tidak ada

4. Kognitif :
Pasien mengatakan bahwa penyakitnya saat ini adalah akibat musibah yang tidak
diinginkannya. Pasien menyadari pentingnya kebutuhan terapi bagi dirinya.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah

5. Konsep diri (gambaran diri, ideal diri, identitas diri, harga diri, peran) :
Pasien tidak merasa gagal, pasien tidak merasa sedih, px mengenal dirinya, px
merasa sebagai orang yang berharga, px merasa sebagai anak bagi orangtuanya dan
kakak bagi adik-adiknya.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah

6. Aktivitas sehari-hari :
Sebelum sakit aktivitas pasien bekerja membantu orangtuanya. Saat sakit pasien
beristirahat dirumah sakit, tetapi AKS dapat dilakukan sebagian secara mandiri oleh
pasien dan sebagian dibantu oleh perawat dan keluarga pasien.

Masalah keperawatan : hambatan mobilitas fisik.

7. Koping-toleransi terhadap stress :


Jika pasien mengalami stress biasanya pasien akan menceritakan perasaannya pada
orangtuanya.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah

8. Nila pola keyakinan :


Tindakan medis dan keperawatan tidak ada yang bertentangan dengan nilai-pola
keyakinan pasien dan keluarga.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah

F. POLA FUNGSI SOSIAL

1. Kemampuan Berkomunikasi : baik, tidak ada masalah


2. Bahasa sehari-hari : Banjar
3. Hubungan dengan keluarga : baik, tidak ada masalah
4. Hubungan dengan teman/petugas kesehatan/orang lain : tidak ada masalah
5. Orang berarti/terdekat : ibu
6. Kebiasaan menggunakan waktu luang : bermain
7. Kegiatan beribadah : sebelum sakit pasien beribadah di Gereja dan di lingkungan
sosialnya, saat sakit pasien berdoa bersama keluarga atau sendiri.
G. DATA PENUNJANG (RADIOLOGIS, LABORATORIUM, PENUNJANG
LAINNYA)

Tanggal 02 Januari 2014 : Hb = 13,2 gr % ; Leukosit = 20.000 /mm3 ;

Trombosit = 160.000 /mm3 ; golongan darah - O

CT = 500 ; BT = 200

H. PENATALAKSANAAN MEDIS

Tanggal 17 Januari 2014 : - injeksi ceftriaxone 1x2 gr/iv


- GV p/s + supratulle

Tanggal 18 Januari 2014 : - IVFD RL 20 gtt/menit


- injeksi ceftriaxone 1x2 gr/iv

- GV p/s + supratulle
Analisa Data
DATA SUBJEKTIF DAN DATA KEMUNGKINAN MASALAH
OBJEKTIF PENYEBAB

DS: pasien mengatakan masih terasa Respons inflamasi, Risiko infeksi


nyeri pada luka dan tangan kiri luka/kerusakan kulit.
saya, terutama pada saat
digerakkan

DO: - terdapat luka pada lengan bawah


kiri.

- luka masih basah, merah.

- Terdapat pus pada luka.


- Luka berbau
- Fraktur os. Ulna sinistra
-
DS: pasien mengatakan masih terasa
nyeri pada luka dan tangan kiri
saya, terutama pada saat Cedera pada jaringan
Nyeri
digerakkan kulit,otot dan tulang.

DO: - terdapat luka pada lengan bawah


kiri.

- luka masih basah, merah.

- Terdapat pus pada luka.


- Luka berbau
- Fraktur os. Ulna sinistra

DS: pasien mengatakan masih terasa


nyeri pada luka dan tangan kiri
saya, terutama pada saat
digerakkan
DO: - terdapat luka pada lengan bawah respons inflamasi, Kerusakan integritas
kiri. luka/kerusakan kulit. kulit

- luka masih basah, merah.

- Terdapat pus pada luka.


- Luka berbau
Catatan Perkembangan

Tgl /jam Subjektif, Objektif, Analisa, Planning, Intervensi, Nama & Tanda
Revisi tangan Perawat

SOAPIER

Sabtu, S : pasien mengatakan tangan kiri saya masih terasa


nyeri terutama pada saat digerakkan
19-01-14
O : luka kemerahan, pus (+) berkurang, luka masih
16.30
berbau.
wib
A : Masalah teratasi sebagian.

P : Lanjutkan intervensi.

I : - observasi vital sign dan k/u pasien

- rawat luka setiap pagi dan sore hari, ganti


vverban steril + supratulle.

- IVFD RL 20 gtt/menit

- injeksi ceftriaxone 1x2 gr/iv

E : luka-luka menunjukkan tanda kesembuhan, nyeri


terkontrol, pasien dan keluarga bekerjasama
dengan baik dalam tindakan medis dan
keperawatan.

R : (kolaborasi) perkembangan luka, bila luka sudah


menunjukkan kesembuhan/kering dan keluhan
nyeri berkurang mungkin merawat luka cukup
1x/hari.
PRIORITAS MASALAH
1. Risiko infeksi berhubungan dengan respons inflamasi, luka/kerusakan kulit.
2. Nyeri berhubungan dengan cedera pada jaringan kulit, otot dan tulang.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan respons inflamasi, luka/kerusakan kulit

DAFTAR PUSTAKA
Black, Joyce M. 1993. Medical Surgical Nursing. W.B Sainders Company : Philadelpia

Boedihartono, 1994, Proses Keperawatan di Rumah Sakit. EGC : Jakarta.


Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.

Brunner dan Suddarth, 2002, Keperawatan Medikal Bedah, Edisi 3, EGC, Jakarta

Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta.

E. Oerswari 1989, Bedah dan Perawatannya, PT Gramedia. Jakarta

Nasrul, Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC. Jakarta.

Sjamsuhidajat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC :
Jakarta

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah dari Brunner &
Suddarth, Edisi 8. EGC : Jakarta.

FKUI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Binarupa Aksara : Jakarta