Anda di halaman 1dari 40

STATUS KEPANITERAAN KLINIK

KEDOKTERAN KELUARGA,
INDUSTRI & KEISLAMAN
(KKI-I)

Disusun oleh:

Tatok Hadi Kuswoyo 201310401011077

RR Galuh Agung Lukitasari 201310401011022

Umi Kulsum 201310401011040

Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Malang
2015

1
STATUS
KEDOKTERAN INDUSTRI
(KESEHATAN KERJA)

Disusun oleh:

Tatok Hadi Kuswoyo 201310401011077

RR Galuh Agung Lukitasari 201310401011022

Umi Kulsum 201310401011040

Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Malang
2015

2
I. STATUS UMUM TEMPAT KERJA (FACTORY)

A. IDENTITAS:

1. Nama Perusahaan/ : Instalasi Gizi RSIA N


Tempat kerja

2. Alamat : Jl. Imam Bonjol 20 Nganjuk

3. Jenis usaha : Instalasi gizi rumah sakit

4. Jumlah tenaga kerja : 8 orang

3
B. ANALISIS KOMPONEN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA:
1. Proses Kerja:
No Unit Kerja Bahan Baku Alat Kerja Cara Kerja Bahan Berbahaya
1 Kepala instalasi - Meja 1 buah 1. Menyusun Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
gizi Kursi 1 buah perencanaan
Lemari arsip 1 pelayanan gizi
buah 2. Menyusun rencana
evaluasi pelayanan
gizi
3. Melakukan
pengawasan dan
pengendalian
4. Melaksanakan
pemantauan
5. Melaksanakan
pengkajian data
kasus
2 Staf instalasi gizi
Penyusunan Diet - Buku diet gizi 1. Ahli gizi mengecek Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
Alat tulis tentang :
a. Nama pasien,
kelas dan ruang
inap
b. Diagnosa
penyakit pasien
c. Jenis diet yang
diminta
2. Ahli gizi mengkaji
tentang :
a. Anamnese gizi
b. Antropometri

4
c. Pemeriksaan
laboratorium
d. Pemeriksaan
keadaan fisik /
klinik
e. Diagnosa
3. Hitung kebutuhan
kalori dan zat gizi
pasien sesuai hasil
kajian oleh ahli gizi.
4. Tentukan diet pasien
berdasarkan hasil
analisis data dan
anjuran dokter oleh
ahli gizi.
5. Catat dibuku diet
pasien tentang diet
pasien oleh ahli gizi.
6. Ahli gizi
menyerahkan buku
diet ke pelaksana gizi
sebagai acuan dalam
pemorsian dan
pendistribusian
makanan.
Perencanaan - Buku menu 1. Membuat rincian Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
menu makanan Alat tulis macam dan jumlah
pasien pasien yang akan
dilayani.
2. Kumpulkan data
peralatan dan
perlengkapan dapur

5
yang tersedia.
3. Sesuaikan
penyusunan menu
dengan jumlah dan
macam tenaga.
4. Perhatikan musim,
iklim, pasar dan
kebiasaan makan
pasien / konsumen.
5. Kumpulkan berbagai
jenis hidangan dan
kelompokkan
berdasarkan jenis
makanan ( kelompok
lauk hewani,
kelompok nabati,
kelompok sayuran)
sehingga
memungkinkan
variasi yang lebih
banyak.
6. Susun pola menu dan
master menu yang
memuat garis besar
frekuensi
penggunaan bahan
makanan harian
dengan siklus menu
yang berlaku.
7. Masukkan hidangan
hewani yang serasi
warna, komposisi,

6
konsistensi, bentuk
dan variasinya
kemudian lauk
nabati, sayur dan
lauk tambahan bagi
kelas VIP.
8. Buat perbaikan menu
dan menu siap untuk
diusulkan kepada
pengambil
keputusan.
3 Asisten gizi
Perencanaan - Buku catatan A. Perencanaan Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
kebutuhan bahan pemesanan Kebutuhan Bahan
makanan bahan Makanan Basah
makanan 1. Petugas gizi
segar& menyiapkan buku
kering catatan pemesanan
daftar menu bahan makanan
standar porsi segar.
bahan 2. Siapkan daftar menu
makanan serta standar porsi
alat tulis bahan makanan.
kalkulator 3. Siapkan data jumlah
pasien berdasarkan
kelas perawatan .
4. Petugas gizi
merencanakan dan
menghitung
kebutuhan macam
dan jumlah bahan
makanan basah untuk

7
kebutuhan satu hari
berdasarkan menu,
jumlah pasien
berdasarkan kelas
perawatan dan
standar porsi.
5. Hitung kebutuhan
jumlah bahan
makanan basah
dengan cara
mengalikan standar
porsi dengan jumlah
pasien.
6. Cek kebutuhan bahan
makanan basah yang
telah dihitung dan
sesuaikan dengan
data sisa bahan
makanan basah di
gudang bahan basah.
7. Serahkan hasil
perhitungan
kebutuhan bahan
makanan basah
kepada ahli gizi
sebagai kepala
Instalasi gizi untuk
dicek berdasarkan
menu dan data sisa
bahan basah di
gudang.
8. Setelah dicek

8
kembali kemudian di
tandatangani oleh
kepala Instalasi gizi
untuk ditindaklanjuti
memesan bahan
makanan ke rekanan.
B. Perencanaan
Kebutuhan Bahan
Makanan Kering
1. Petugas gizi
menghitung
kebutuhan bahan
makanan kering
dengan melihat stock
yang ada, daftar
menu, rata rata
pemakaian dan
jumlah pasien.
2. Hitung bahan
makanan tersebut
untuk kebutuhan 1
bulan sekali.
3. Tulis bahan makanan
kering yang
dibutuhkan ke dalam
buku rekapitulasi
kebutuhan bahan
makanan kering.
4. Laporkan kebutuhan
bahan kering yang
telah dihitung
kepada kepala

9
ruangan Instalasi gizi
untuk dilakukan
pengecekan .
5. Setelah dicek
kembali kemudian
ditandatangani untuk
ditindaklanjuti
memesan bahan
kering ke rekanan.
Pemesanan bahan - List bahan 1. Petugas koordinator Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
makanan yang akan gudang bahan kering
dipesan sesuai menulis dan
dengan menghitung jumlah
menu,jumlah bahan kering yang
pasien,standart akan di pesan di buku
porsi dan sisa permintaan bahan
stock bahan untuk kebutuhan satu
yang tersedia bulan berikutnya.
digudang 2. Untuk permintaan
Instalasi gzi bahan
basah,penanggung
jawab petugas jaga
hari ituyang menulis
dan menghitung
jumlah bahan basah
yang akan dipesan di
kertas permintaan
belanja bahan basah
3. Petugas koordinator
gudang bahan kering
dan penanggung
jawab petugas

10
jagamenyerahkan
buku permintaan
belanja ke kepala
instalasi gizi untuk
dicek kembali.
4. Jika sudah dicek,kasi
gizi meyerahkan
permintaan bahan ke
petugas logistik
rumahsakit untuk
dipesankan ke
rekanan.
Penerimaan bahan Bahan makanan sesuai Daftar 1. Petugas gizi Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
makanan pesanan pesanan bahan memeriksa dan
makanan mencatat satu per
Spesifikasi satu bahan makanan
bahan yang datang untuk
makanan mengetahui bila ada
Timbangan barang yang tidak
kapasitas 10 ada, kurang atau
kg berlebih serta yang
Meja tempat tidak sesuai standart
penerimaan mutu gizi.
bahan 2. Kemudian petugas
makanan 2 x 1 gizi langsung
m2 memasukkan bahan
makanan ke dalam
lemari es untuk
bahan basah yang
ada di gudang basah
dan bahan bahan
kering ke dalam

11
lemari yang ada di
gudang kering.
Khusus untuk telur
ayam harus
dilakukan pencucian
terlebih dahulu
sebelum disimpan di
gudang bahan basah.
Penyimpanan Bahan makanan Gudang bahan 1. Setelah bahan Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
bahan makanan basah: makanan yang
Lemari memenuhi syarat
pendingin 6 diterima harus segera
pintu 1 buah dibawa ke ruang
Lemari penyimpanan yaitu
pendingin 2 gudang kering untuk
pintu 1 buah bahan makanan
Gudang bahan kering dan di gudang
kering: basah untuk bahan
Box beras 1 makanan basah.
buah 2. Apabila bahan
Rak makanan langsung
penyimpanan akan digunakan
rak dan setelah ditimbang
makanan sesuai kebutuhan
kering 1 buah bahan makanan
Timbangan dibawa ke ruang
bahan persiapan bahan
kapasitas 10 makanan.
kg 3. Penyimpanan untuk
Gantungan bahan kering :
pisang 1 buah a. Bahan makanan
dimasukkan ke

12
dalam wadah
tertutup sesuai
dengan macam
dan golongannya
kemudian
diletakkan ke
dalam lemari
secara teratur.
b. Menggunakan
bahan yang
diterima terlebih
dahulu ( FIFO =
First In First On )
c. Setiap
pemasukkan dan
pengeluaran
bahan makanan
langsung dicatat
tanpa ditunda di
buku catatan
pemasukkan dan
pengeluaran
bahan makanan.
d. Buku
penerimaan, stok
dan pengeluaran
bahan makanan
harus segera diisi
dan diletakkan
pada tempatnya.
e. Gudang di buka
pada pukul 05.00

13
19.00 WIB
f. Semua bahan
makanan
ditempatkan ke
dalam tempat
tertutup dan tidak
berlubang.
Diletakkan di
dalam lemari
bertingkat dan
tidak menempel
dinding.
g. Pintu gudang
harus selalu
terkunci pada saat
tidak ada
kegiatan serta
dibuka pada
pukul 05.00
19.00 WIB.
Pegawai yang
keluar masuk
gudang hanya
petugas gizi dan
cleaning service.
h. Pembersihan
ruangan
dilakukan setiap
hari oleh petugas
cleaning service.
4. Penyimpanan untuk
bahan basah :

14
a. Semua bahan
basah
dimasukkan ke
dalam lemari
pendingin dengan
terlebih dahulu
dibungkus plastik
seperti golongan
sayuran dan
buah.
b. Menyimpan
bahan makanan
matang di lemari
pendingin
tersendiri.
c. Khusus untuk
sayuran
dibersihkan
terlebih dahulu
kemudian
dibungkus plastik
baru dimasukkan
ke dalam lemari
pendingin. Untuk
buah yang
memerlukan
pendingin
dimasukkan ke
dalam lemari
pendingin.
Sedangkan buah
yang tidak

15
memerlukan
pendingin
disimpan didalam
lemari kayu.
d. Pencairan es pada
lemari pendingin
harus segera
dilakukan setelah
terjadi
pengerasan.
Untuk daging,
ikan, ayam
setelah dicuci dan
dibersihkan serta
dipotong-potong
sesuai porsi
disimpan pada
suhu (-5)C - 0
C yang terdapat
pada lemari
pendingin di
wadah yang
tersendiri sesuai
golongannya.
Persiapan bahan Bahan makanan SOP 1. Ruangan persiapan Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
makanan yang akan Standar porsi bahan makanan
dipersiapkan Standar resep terpisah dengan ruang
Air yang mengalir Standar penyajian bahan
bumbu makanan
Jadwal 2. Petugas memakai
persiapan & APD
jadwal 3. Bahan makanan

16
pemasakan ditimbang sesuai
Meja kerja 1 permintaan/kebutuhan
buah makan pasien rawat
Kursi 5 buah inap
Bak cuci 4. Petugas gizi mencuci
persegi 1 buah bahan makanan segar
Pisau 4 buah dengan air mengalir
Kompor gas 5. Petugas mencuci
elpigi 3 buah bahan makanan
Rice cooker salad/garnis, buah
kapasitas 2 l dengan air bersih dan
(1 buah) dan 7 dibilas dengan air siap
l (1 buah) minum
6. Potong bahan
Blender,
makanan sesuai
telenan,
standar porsi (contoh :
tempat teh,
protein hewani
saringan teh
perporsi 50 gram,
potongan sayur cap
cay menyerong)
7. Telenan dan pisau
untuk memotong
sayur, buah dan lauk
hewani/nabati terpisah
8. Bahan makanan beku
dithawing dengan cara
diletakkan di wastafel
sambil dikucuri air
mengalir dalam
keadaan masih
terbungkuss plastik
9. Persiapkan bumbu

17
sesuai dengan menu
dan sesuai standar
bumbu
Pengolahan Bahan makanan yang SOP 1. Bahan makanan yang Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
akan diolah Siklus menu akan diolah
Standar porsi dipersiapkan terlebih
Standar resep dahulu seperti
Standar dibersihkan,
bumbu dipotong-potong
Jadwal sesuai ukuran yang
persiapan & dikehendaki ,
jadwal dikupas, direbus, dan
pemasakan lain sebagainya.
2. Bumbu-bumbu
Meja kerja 1
dipersiapkan ,
buah
dikupas, dicuci ,
Kursi 5 buah
ditimbang sesuai
Bak cuci ukuran standar
persegi 1 buah bumbu.
Pisau 4 buah 3. Dilakukan proses
Kompor gas pemasakan
elpigi 3 buah 4. Pemasakan dengan
Rice cooker menggunakan
kapasitas 2 l medium air :
(1 buah) dan 7 a. Merebus yaitu
l (1 buah) memasak dengan
Blender, menggunakan
telenan, banyak air
tempat teh, b. Api besar untuk
saringan the mendidihkan
Tabung LPG cairan dengan
12 kg 4 buah cepat dan untuk

18
Manometer merebus sayuran.
tekanan gas
LPG 12 kg 3
buah
Penyajian Makanan siap saji Penjepit Menyajikan makanan Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
makanan pada:
Sarung tangan Baki untuk pasien VIP
plastik sekali Plato stainless steel
pakai untuk zall kelas 1, 2, 3
Tutup gelas
Piring,
mangkuk
sayur, lepek
lauk untuk
pasien
Baki untuk
pasien VIP
Plato stainless
steel untuk
zall kelas 1, 2,
3
Distribusi Makanan siap antar Buku diet 1. Siapkan alat makan Tidak didapatkan alat dan bahan berbahaya
permintaan sesuai dengan jumlah
makanan dari pasien masing
rawat inap masing kelas
Peralatan perawatan.
makan 2. Sajikan makanan
wrapping film sesuai buku
kertas label pemesanan diet
Alat tulis pasien sesuai ruang
Meja perawatan dan diet.
3. Catat nama pasien

19
distribusi dan ruang serta diet
Troli untuk yang diberikan pada
makanan 3 label, tempelkan
susun pada alat makan
Komputer untuk kelas satu dan
yang zaal
terhubung 4. Periksa kembali
dengan server identitas dan jenis
1 buah diet apakah sudah
sesuai dengan buku
pemesanan diet atau
belum.
5. Kemas makanan
untuk kelas VIP
dengan wrapping
film, beri label
6. Angkut makanan dari
dapur utama dalam
troli dan
distribusikan ke
masing masing
ruang perawatan.

2. Lingkungan Kerja:
No Unit Kerja Ling. Fisik Ling. Biologi Ling. Kimia Ling. Sos-Bud Ling. Ergonomi
1 Kepala instalasi Ruangan sempit serta - - Dekat dengan -
gizi tata ruang yang sawah
Staf instalasi belum tersusun rapi sehingga
gizi Panas sering terpapar
Kurangnya ventilasi bising traktor
2 Asisten gizi

20
Ruang Panas Kecoa - - Belum tersedia trolley barang
penerimaan bahan Kurangnya ventilasi sehingga barang harus diangkat
makanan Belum adanya dengan tangan kosong
keranjang berlubang
untuk tempat buah
dan sayur
Gudang bahan Kabel listrik terjuntai - - - Belum tersedia meja dan kursi
basah Panas untuk pencatatan bahan sehingga
Belum tersedia pencatatan dilakukan dengan
termometer ruangan berdiri
Penataan bahan
makanan kurang rapi
Kebersihan lemari
pendingin kurang
Kurangnya ventilasi
Belum ada
timbangan
Gudang bahan Panas - - - Belum tersedia meja dan kursi
kering Tata ruang yang untuk pencatatan bahan sehingga
belum tersusun rapi pencatatan dilakukan dengan
Kurangnya ventilasi berdiri
Belum tersedia meja
dan kursi untuk
pencatatan bahan
Belum ada
timbangan
Ruang persiapan Panas Air masak: - Dekat dengan Kurangnya kursi sehingga
dan pengolahan Kurangnya ventilasi PDAM sawah petugas lebih sering bekerja
APAR terlalu besar (mengandung sehingga dengan berdiri
Belum tersedia E. coli) sering terpapar
almari untuk tempat Air mencuci bising traktor
makanan matang bahan

21
(menjadi satu dengan makanan:
rak alat makan) tandon
Belum tersedia kotak (mengandung
P3K E. coli)
Belum ada tempat
gantunan lap basah
dan kering
Kain penyaring air
kran kotor
Belum ada keset
Ruang penyajian Panas - - - Kurangnya kursi sehingga
makanan Kurangnya ventilasi petugas lebih sering bekerja
dengan berdiri
Ruang cuci alat Panas Air mencuci - - -
Kurangnya ventilasi alat: tandon
Belum ada keset (mengandung
E. coli)
Ruang tempat alat Panas - - - -
Kurangnya ventilasi
Tempat alat makan
untuk kasus infeksi
dan noninfeksi
menjadi 1 rak
Ruang gas LPG Menjadi satu dengan - - Dekat dengan Mengangkat gas LPG dengan
tempat menjemur sawah tangan kosong dan posisi tidak
pakaian sehingga ergonomis
sering terpapar
bising traktor
Kamar mandi/ Kurangnya - - - -
WC kebersihan kamar
mandi
Belum ada sabun dan

22
tisue

3. Karyawan:
Juml. Populasi Rata-rata Status
No. Unit kerja Resiko Kesehatan Penanganan Resiko
L P Lama kerja Kesehatan
1 Kepala - 1 7 jam Normal - CTS karena sering ada asuransi bila terjadi
instalasi mengetik dan kecelakaan kerja
gizi menulis
2 Staf - 1 7 jam Normal - CTS karena sering ada asuransi bila terjadi
instalasi mengetik dan kecelakaan kerja
gizi menulis
3 Asisten gizi 2 4 7 jam Normal -Kecelakaan kerja ada asuransi bila terjadi
berupa Low Back Pain kecelakaan kerja
karena posisi kerja
kurang ergonomis.
-Dermatitis akibat
pengolahan bahan
(Cabe)
-Luka bakar ringan
karena panas dari
penggorengan,
kompor atau oven
- Dehidrasi karena
suhu yang panas
- Vulnus laceratum
karena terkena pisau
- Luka bakar listrik
karena posisi kabel
dan stop kontak yang

23
kurang tepat

24
4. Sistem Manajemen:
Upaya atau kebijakan pimpinan pada kegiatan K3

Problem K3
No. Komponen Kebijakan Manajemen
Internal Eksternal
1 Proses Industri/Kerja -
Bahan baku Pengadaan, penempatan,
maupun penyimpanan
bahan baku diletakkan di
suatu ruangan yang belum
memenuhi standart
penyimpanan bahan baku
Perawatan dan
Alat dan cara pemeliharaan alat-alat
kerja masak, memastikan alat
masak aman ketika proses
produksi sedang
berlangsung atau sudah
selesai.
Bahan berbahaya Meminimalkan
penggunaan bahan baku
yang tidak higienis
2 Lingkungan Kerja -
Fisik Tata ruang yang belum Pembuatan ventilasi yang cukup
tersusun rapi dan kurang Maintenance alat yang terjadwal
memadai Peletakan APAR dan ukuran yang sesuai
Biologi Higienitas bahan standar
Kimia Bahan baku yang Pemakaian APD (sandal tertutup, penutup
menyebabkan peradangan kepala bagi laki-laki dan perempuan yang
kulit (Cabe) tidak berjilbab, sarung tangan kain yang
Sos-bud - tebal)

25
Ergonomi Posisi kerja tidak ergonomis

3 Karyawan -Resiko terjadi peradangan - Promotif


saat pengolahan bahan baku Memberi penyuluhan dan pelatihan kepada
-Resiko nyeri punggung atau pekerja terhadap penggunaan bahan dan
kekakuan otot
alat dalam proses industri serta alat
-Resiko CTS
-Resiko luka bakar pelindung diri.
- Resiko dehidrasi
Preventif
Keharusan penggunaan alat pelindung diri
(penggunaan sarung tangan tebal saat
bekerja dengan bahan atau alat yang
panas). Melakukan pemeriksaan kesehatan
secara berkala. Memberikan kesempatan
libur bekerja secara berkala untuk
mengurangi stresor pada pekerja.

Kuratif
Memberi pengobatan secara menyeluruh
sesuai hasil pemeriksaan kesehatan.

Rehabilitasi
Rehabilitasi dini secara tepat untuk
memperbaiki kualitas hidup pekerja.

26
5. Regulasi/Undang-Undang
a. Lokal atau Regional:
Pelayanan gizi di rumah sakit telah di atur dalam Peraturan Wali Kota Blitar Nomer 14
tahun 2008.1
b. Nasional:

Pelayanan gizi rumah sakit di atur oleh Peraturan Menteri Kesehatan no 26 tahun 2013

Tentang Penyelenggaraan Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi dan Peraturan Menteri

Kesehatan Republik Indonesia No 78 tahun 2013. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan

Republik Indonesia nomor 78 tahun 2013 tentang Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit

dijelaskan bahwa Pelayanan Gizi merupayakan upaya memperbaiki, meningkatkan gizi,

makanan, dietetik masyarakat, kelompok, individu, atau klien yang merupakan suatu

rangkaian kegiatan meliputii pengumpulan, pengolahan, analisis, simpulan, anjuran,

implementasi dan evaluasi gizi, makanan dan dietetik dalam rangka mencapai status

kesehatan optimal dalam kondisi sehat atau sakit .2

Tahapan langkah proses terapi gizi terdiri dari skrinning/penapisan, kajian, diagnosis

medik dan diagnosis gizi (penentuan masalah gizi) formulasi terapi (intervensi gizi),

pelaksanaan terapi, pemantauan dan evaluasi terapi, penyusunan rencana ulang terapi atau

penghentian terapi. Pelayanan GK pasien rawat jalan dilaksanakan oleh SMF GK yang

dibantu oleh dietisien. Pada pasien rawat inap, setelah pemeriksaan klinis, diagnosis, dan

terapi termasuk diet awal oleh Dokter Penanggung Jawab Pasien. Perawat ruangan

melakukan skrinning gizi. Bagi pasien bermasalah atau berisiko malnutrisi langsung di kirim

langsung dikirim ke TTG untuk dilakukan pengkajian gizi, formulasi terapi gizi. Dan

selanjutnya implementasi terapi gizi yang dilanjutkan monitoring serta evaluasi terapi gizi.

Bila tujuan terapi gizi berhasil TTG memutuskan menghentikan pemantauan atau

27
pemantauan selanjutnya diteruskan oleh DPJP. Dan bila tujuan belum tercapai dilakukan

pembaharuan rencana terapi gizi. 3

Langkah- langkah terapi gizi yaitu penapisan gizi, kajian gizi, diagnosis medis dan

diagnosis gizi, formulasi rencana terapi gizi, implementasi terapi gizi, pemantauan dan

evaluasi terapi gizi, konseling. Penapisan gizi bertujuan mengindentifikasi status gizi pasien

yang masuk dalam kategori malnutrisi atau resiko malnutrisi, sehingga membutuhkan kajian

gizi yang lebih mendalam. Metoda skrinning dan kategori malnutrisi di tetapkan oleh tim.

Kajian gizi dilakukan pada pasien yang masuk dalam kategori malnutrisi maupun risiko

malnutrisi. Kajian gizi merupakan proses sistematis dalam pengambilan, verifikasi dan

interprestasi data untuk menetapkan masalah gizi yang berkaitan dengan penyakitnya, status

gizi dan perubahan metaboliknya. Kajian ini merupakan dasar formulasi terapi gizi.

Formulasi rencana terapi gizi merupakan penetapan waktu di mulainya pemberian terapi gizi

dan penetapan kebutuhan energi. Perhitungan bergantung pada berat badan, umur, jenis

kelamin dan aktivitas fisik. Spesific dynamic action dan perubahan fisiologis dan

metabolisme tubuh. Pelaksanaan implementasi gizi meliputi beberapa aspek yaitu pemberian

makanan sesuai dengan rancangan diet serta pemberian konseling dan edukasi gizi sesuai

dengan kesepakatan dan kebijakan rumah sakit.3

Pemantauan dan evaluasi terapi gizi meliputi penetapan jadwal pelaksanaan dengan

ruang lingkup antara lain: dampak pemberian makanan terhadap status gizi, toleransi saluran

cerna serta status hemodinamik serta kondisi metabolik pasien, faktor-faktor yang

mempengaruhi asupan gizi seperti kondisi nafsu makan, jumlah makanan yang tidak

dimakan, makanan dari luar rumah sakit yang dimakan, reaksi saluran cerna terhadap

makanan dan lain-lain. Konseling gizi bertujuan memberikan edukasi untuk memahami dan

mampu merubah perilaku diet sesuai dengan yang dianjurkan. Konseling diberikan kepada

28
pasien dan atau keluarganya yang membutuhkan untuk mendapatkan penjelasan tentang diet

yang harus dilaksanakanoleh pasien sesuai dengan penyakit dan kondisinya.3

Terapi gizi merupakan bagian dari pelayanan medis yang memberi kontribusi

penyembuhan pasien dan menurunkan angka malnutrisi Rumah sakit, lama hari rawat dan

biaya perawatan. Manajemen rumah sakit wajib memeberikan dukungan terhadap TTG

dalam bentuk kebijakan dan operasional dengan membentuk Tim Terapi Gizi, meningkatkan

profesionalisme tenaga dan penetapan biaya makan pasien dipisahkan dari biaya perawatan,

sehingga biaya terapi gizi merupakan bagian dari biaya makan pasien. Keberadaan Tim

Terapi Gizi seyogyanya merupakan salah satu kriteria standar pelayanan rumah sakit dan

dijadikan kriteria penilaian akreditasi. Sehingga mutu pelayanan gizi rumah sakit dapat

ditingkatkan secara berkesinambungan.3

II. OCCUPATIONAL DIAGNOSIS (DIAGNOSIS KESEHATAN KERJA)


1. LBP
2. Dermatitis: DKA dan DKI
3. Luka bakar
4. CTS (Carpal Tunnel Syndrome)
5. Dehidrasi

III. PEMBAHASAN
Unit Gizi di RSU Aminah Kota Blitar merupakan unit yang membawahi kebutuhan
gizi di rumah sakit ini. Proses mengolah makanan yang dikerjakan disini masih dikerjakan
secara tradisional dan sederhana, namun tidak menutup kemungkinan dalam proses
pengerjaannya juga dapat menimbulkan adanya masalah kesehatan bagi para pekerjanya.
Resiko kecelakaan kerja pada pekerja di bidang pengolahan bahan mentah adalah resiko
tersentuh alat dapur yang panas, peradangan kulit dari pengolahan bahan baku seperti cabai,
bawang putih dll dan posisi kurang sesuai dengan prinsip ergonomis.

Ergonomi adalah ilmu serta penerapannya yang berusaha menyerasikan pekerjaan


dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan

29
efisiensi yang setinggi-tingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal mungkin (Natassia,
2009). Di beberapa negara Ergonomi diistilahkan Arbeitswissenschaft (Jerman),
Biotechnology (Skandinavia), Human (factor) Engineering atau Personal Research di
Amerika Utara. (Silalahi, 1985)

Penerapan ergonomi/ruang lingkup ergonomi meliputi (Setyaningsih, Yuliani, 2002)

a. Pembebanan kerja fisik

Beban fisik yang dibenarkan umumnya tidak melebihi 30-40% kemampuan


maksimum seorang pekerja dalam waktu 8 jam sehari. Untuk mengukur kemampuan kerja
maksimum digunakan pengukuran denyut nadi yang diusahakan tidak melebihi 30-40 kali per
menit di atas denyut nadi sebelum bekerja. Di Indonesia beban fisik untuk mengangkat dan
mengangkut yang dilakukan seorang pekerja dianjurkan agar tidak melebihi dari 40 kg setiap
kali mengangkat atau mengangkut.

b. Sikap tubuh dalam bekerja

Sikap pekerjaan harus selalu diupayakan agar merupakan sikap ergonomik. Sikap
yang tidak alamiah harus dihindari dan jika hal ini tidak mungkin dilaksanakan harus
diusahakan agar beban statis menjadi sekecil-kecilnya. Untuk membantu tercapainya sikap
tubuh yang ergonomik sering diperlukan pula tempat duduk dan meja kerja yang kriterianya
disesuaikan dengan ukuran anthropometri pekerja.

Ukuran anthropometri tubuh yang penting dalam ergonomi adalah :

1) Berdiri

a) Tinggi badan berdiri

b) Tinggi bahu

c) Tinggi siku

d) Tinggi pinggul

e) Depa

f) Panjang lengan

2) Duduk

30
a) Tinggi duduk

b) Panjang lengan atas

c) Panjang lengan bawah dan tangan

d) Jarak lekuk lutut sampai dengan garis punggung

e) Jarak lekuk lutut sampai dengan telapak

3) Keadaan bekerja sambil berdiri, mempunyai kriteria :

a) Tinggi optimum area kerja adalah 5-10 cm di bawah tinggi siku.

b) Pekerjaan yang lebih membutuhkan ketelitian, tinggi meja yang digunakan 10-20 cm lebih
tinggi dari siku.

c) Pekerjaan yang memerlukan penekanan dengan tangan, tinggi meja 10-20 cm lebih rendah
dari siku.

c. Mengangkat dan mengangkut

Beberapa faktor yang berpengaruh pada proses mengangkat dan mengangkut adalah
beratnya beban, intensitas, jarak yang harus ditempuh, lingkungan kerja, ketrampilan dan
peralatan yang digunakan. Untuk efisiensi dan kenyamanan kerja perlu dihindari manusia
sebagai alat utama untuk mengangkat dan mengangkut.

d. Sistem manusia mesin

Penyesuaian manusia-mesin sangat membantu dalam menciptakan kenyamanan dan


efisiensi kerja. Perencanaan sistem ini dimulai sejak tahap awal dengan memperhatikan
kelebihan dan keterbatasan manusia dan mesin yang digunakan interaksi manusia-mesin
memerlukan beberapa hal khusus yang diperhatikan, misalnya :

1) adanya informasi yang komunikatif

2) tombol dan alat pengendali baik

3) perlu standard pengukuran anthropometri yang sesuai untuk pekerjaannya.

e. Kebutuhan kalori

31
Konsumsi kalori sangat bervariasi tergantung pada jenis pekerjaan. Semakin berat
kegiatan yang dilakukan semakin besar kalori yang diperlukan. Selain itu pekerjaan pria juga
membutuhkan kalori yang berbeda dari pekerja wanita. Dalam hal ini perlu diperhatikan juga
saat dan frekuensi pemberian kalori pada pekerja (Manuaba, 2008).

1) Pekerja Pria

a) Pekerjaan ringan : 2400 kal/hari

b) Pekerjaan sedang ; 2600 kal/hari

c) Pekerjaan berat : 3000 kal/hari

2) Pekerja Wanita

a) Pekerjaan ringan : 2000 kal/hari

b) Pekerjaan sedang ; 2400 kal/hari

c) Pekerjaan berat : 2600 kal/hari

f. Pengorganisasian kerja

Pengorganisasian kerja berhubungan dengan waktu kerja, saat istirahat, pengaturan


waktu kerja gilir (shift) dari periode saat bekerja yang disesuaikan dengan irama faal tubuh
manusia. Waktu kerja dalam 1 hari antara 6-8 jam. Dengan waktu istirahat jam sesudah 4
jam bekerja. Perlu juga diperhatikan waktu makan dan beribadah. Termasuk juga di
dalamnya terciptanya kerjasama antar pekerja dalam melakukan suatu pekerjaan serta
pencegahan pekerjaan yang berulang (repetitive)

g. Lingkungan kerja

Dalam peningkatan efisiensi dan produktifitas kerja berbagai faktor lingkungan


kerja sangat berpengaruh. Berbagai faktor lingkungan yang berpengaruh misalnya suhu yang
nyaman untuk bekerja adalah 24-26O C.

h. Olahraga dan kesegaran jasmani

Kegiatan olahraga dan pembinaan kesegaran jasmani dibutuhkan untuk


meningkatkan produktivitas. Oleh karena itu, tes kesehatan sebelum bekerja/tes kesegaran
jasmani perlu dilakukan sebagai tahap seleksi karyawan.

32
i. Musik dan dekorasi

Musik dapat meningkatkan kegairahan dan produktivitas kerja dengan


mempertimbangkan jenis, saat, lama dan sifat pekerjaan. Dekorasi dan pengaturan warna
dapat memberikan kesan jarak, kejiwaan dan suhu. Misalnya :

a) biru ; jarak jauh dan sejuk

b) hijau ; menyegarkan

c) merah ; dekat, hangat, merangsang

d) orange ; sangat dekat, merangsang.

j. Kelelahan

Kelelahan adalah mekanisme perlindungan tubuh terhindar dari kerusakan lebih


lanjut dan memerlukan terjadinya proses pemulihan. Sebab-sebab kelelahan diantaranya
adalah monotomi kerja, beban kerja yang berlebihan, lingkungan kerja jelek, gangguan
kesehatan dan gizi kurang.

Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang bebas dari resiko kecelakaan
dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang kondisi bangunan, kondisi mesin,
peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja. Keselamatan adalah merujuk pada perlindungan
terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan pekerjaan
(Buchari, 2007). Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas
emosi secara umum.Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu
bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran
lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit
akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja
dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak
lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas. (Setiabudi, 2013)

Setiap orang melakukan pekerjaan sesuai dengan unit kerja namun dapat merangkap
ke unit kerja yang lain. Pada proses perebusan adonan dasar, pekerja mengaduk adonan
sebanyak 25 kg dengan menggunakan alat pengaduk yang terbuat dari kayu, dalam posisi

33
berdiri kadang membungkuk. Pada saat mengangkat hasil kerupuk yang telah dicetak, pekerja
bekerja dengan posisi membungkuk. Pekerja bekerja dalam posisi berdiri (saat memasukkan
adonan ke dalam mesin uap), dan kadang jongkok (saat memanaskan kayu bakar). Bekerja
dalam posisi jongkok membungkuk dan berdiri yang terus menerus, maka beresiko untuk
terjadinya LBP.

Low Back Pain adalah nyeri punggung bawah yang berasal dari tulang belakang,
otot, saraf atau struktur lain pada daerah tersebut. Dengan demikian Low Back Pain adalah
gangguan muskuloskeletal yang pada daerah punggung bawah yang disebabkan oleh berbagai
penyakit dan aktivitas tubuh yang kurang baik. (Dede,2010). Low Back Pain adalah
merupakan akibatdari berbagai sebab dimana gangguan inipaling banyakditemukan di tempat
kerja, terutama padamereka yang beraktivitas dengan posisi tubuhyang salah. Menurut data,
dalam satu bulan rata-rata 23% pekerja tidak bekerja dengan benar dan absen kerja selama
delapan hari dikarenakan sakit pinggang (Helfenstein, 2009). Berdasarkan hasil survei
tentang akibat sakit leher dan pinggang, produktivitas kerja dapat menurun sehingga hanya
tinggal 60. Menurut penelitian, pekerjaan manual handling dan lifting merupakan penyebab
utama terjadinya cedera tulang belakang (back pain) (Anderson, 1999). Di samping itu
sekitar 25% kecelakaan kerja juga terjadi akibat pekerjaan material mannual handling.
Sebelumnya dilaporkan bahwa sekitar 74% cedera tulang belakang disebabkan oleh aktivitas
mengangkat (liftingactivities). Sedangkan 50-60% cedera pinggang disebabkan karena
aktivitas mengangkat dan menurunkan material (Pratiwi, 2009). Selain itu suatu gerakan
yang sama yang dilakukan terus menerus mengakibatkan otot kaku. Adanya spasme otot ini
dapat menimbulkan rasa nyeri pada otot atau disebut myalgia. Apabila berdiri secara terus
menerus dapat menyebabkan tekanan pada bantalan saraf tulang belakang yang
mengakibatkan hernia nukleus pulposus (HNP) (Perdani, 2010).

Penyakit lain yang timbul saat proses produksi adalah dermatitis. Saat pengolahan
bahan seperti cabe atau bahan yang lain mengandung zat yang dapat menjadi alergen ataupun
iritan bagi pekerja. Dermatitis Adalah penyakit tertinggi kedua akibat penyakit kerja.
Dermatitis dibagi menjadi dua yaitu, Dermatitis kontak alergi adalah suatu dermatitis atau
peradangan kulit yang timbul setelah kontak dengan alergen melalui proses
sensitasi.(Hanung, 2008)

Dermatitis Kontak Alergi adalah suatu dermatitis (peradangan kulit) yang timbul
setelah kontak dengan bahan alergen melalui proses sensitisasi. Penyebab dari Dermatitis

34
Kontak alergi adalah bahan kimia sederhana yang memiliki berat molekul rendah (< 500
dalton) yang disebut Hapten, bersifat lipofilik dan sangat reaktif dapat menembus stratum
korneum hingga ke lapisan bawah (Anderson, 2014). Beberapa faktor yang berpengaruh
dalam terjadinya dermatitis kontak alergi ini adalah potensi sensitisasi, luas daerah yang
terkena paparan, lama paparan, suhu, kelembaban, PH, vehikulum, dan faktor imunitas
individu. pada umumnya penderita mengeluh gatal (Adisesh, 2013). Lesi yang akut berupa
lesi yang polimorf yaitu tampak makula yang eritematus, batas tidak jelas dan terdapat papul,
vesikel, bula dan bila pecah menjadi lesi yang eksudatif. Pada lesi yang kronis gambarannya
lebih sederhana berupa makula hiperpigmentasi disertai likenifikasi dan ekskoriasi (Sharp,
2001)

Dermatitis kontak iritan merupakan suatu reaksi inflamasi yang disebabkan


lisosome atau beberapa jenis sitokin yang dihasilkan dari keratinosit yang rusak oleh agen
penyebab (bahan iritan). Dermatitis kontak iritan bisa terjadi pada kontak pertama dengan
bahan tersebut dan hal ini dapat dialami oleh semua orang (Djuanda, 2011)

Combutio atau luka bakar merupakan suatu trauma yang disebabkan oleh panas,
arus listrik, bahan kimia dan petir yang mengenai kulit, mukosa dan jaringan yang lebih
dalam. Luka bakar dapat disebabkan oleh kobaran api (flame), jilatan api ( flare), terkena air
panas (scald), kontak dengan benda panas, akibat sengatan listrik, akibat bahan kimia, dan
sengatan matahari (sun burn). Perubahan yang dapat terjadi akibat luka bakar adalah sebagai
berikut : (WHO, 2007). Penyebab luka bakar antara lain suhhu tinggi, bahan kimia, sengatan
listrik, dan radiasi. Pada unit ini bisa terjadi luka bakar akibat dari pegangan pemanggang
yang panas dan pekerja ini tidak menggunakan sarung tangan. Selain itu kompor gas lpg juga
dapat meledak sehingga dapat menyebabkan luka bakar bagi pekerja dan juga terbakarnya
unit ini (Emmy, 2005).

Carpal tunnel syndrome (CTS) adalah problem relative afektif yang mengenai
nervus local (nervus medianus) di pergelangan tangan sehingga tertekan dan menyebabkan
nyeri. CTS bisa disebabkan oleh suatu trauma atau tindakan yg dilakukan berulang-ulang dan
pada tangan yang lebih dominan (Zyluk, 2008). Biasanya gejala yang sering dikeluhkan
adalah nyeri pada pergelangan tangan, tidak kuat mengangkat beban yang berat,
geringgingan, nyeri biasanya menjalar ketangan, bahu dan leher. Tanda yang terlihat adalah
bengkak pada jari-jari tangan. Faktor resiko pada pekerja computer, pemain games di
computer, penjual rujak, penjahit, dll (Anthony, 2004).

35
Proses pengolahan masakan yang berlangsung 7 8 jam mulai dari
pengolahan bahan mentah sampai pengantaran makanan ke kamar pasien membuat para
pekerja beraktivitas secara nonstop (berdiri) tanpa istirahat. Ditambah ruangan yang pengap
dan panas membuat energi dan keringat yang terkuras. Tanpa asupan cairan yang cukup maka
pekerja beresiko terkena dehidrasi.

Dehidrasi adalah gangguan dalam keseimbangan cairan atau air pada tubuh. Hal ini
terjadi karena pengeluaran air lebih banyak daripada pemasukan (misalnya minum).
Gangguan kehilangan cairan tubuh ini disertai dengan gangguan keseimbangan zat elektrolit
tubuh. Kehilangan cairan terjadi setiap saat dan mutlak diganti agar metabolisme tubuh dapat
berlangsung normal. Harus ada keseimbangan antara jumlah air yang berasal dari masukkan
serta dari hasil oksidasi karbohidrat, lemak, protein dan pada satu pihak lain dengan
keluarnya air melalui ginjal, paru, kulit dan saluran cerna. Keseimbangan air ini dikelola
dengan pengaturan masukkan dan pengeluaran (Aru, 2006)

IV. INTERVENSI
Penerapan Ergonomi di tempat kerja bertujuan agar pekerja saat bekerja selalu dalam
keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai tujuan
tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua pihak. Pihak
pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang bertanggungjawab
terhadap kesehatan masyarakat, membuat berbagai peraturan, petunjuk teknis dan pedoman
K3 di Tempat Kerja serta menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait
dalam pembinaannya.
Untuk melaksanakan program ergonomi/intervensi ergonomi di
perusahaan/organisasi maka diperlukan 3 langkah awal untuk menuju kesuksesan yang
meliputi :
1. Membangun komitmen dari manajemen
2. Membentuk Teamergonomi/ EHS (Ergonomic, Health and Safety)
3. Mengadakan pelatihan ergonomi untuk mendorong adanya partisispasi dari seluruh
karyawan
Pelaksanaan intervensi ergonomi disarankan melibatkan karyawan dari level palingbawah
hingga Top manajemen sejak perancangan hingga implementasi (Partisipatoriergonomi).
Perancangan program ergonomi dapat dilakukan dengan 2 pendekatan :

36
1. Pendekatan Reaktif : yaitu perancangan program dilakukan untuk memperbaiki kondisi
lingkungan kerja yang sudah ada agar lebih ergonomis, sehat dan aman.
2. Pendekatan Pro Aktif : yaitu perancangan program dilakukan untuk membuat kondisi
lingkungan kerja yang baru agar lebih ergonomis, sehat dan aman.
Adanya dampak yang dapat disebabkan oleh produksi ini, maka perlu dilakukan beberapa
langkah untuk intervensi agar dapat mengurangi resiko yang terjadi terhadap pekerja. Adapun
langkah-langkah intervensinya adalah:

LANGKAH 1
PENANGGULANGAN MASALAH ERGONOMI
Masalah utama pada instalasi gizi RSIA N ini adalah keluhan kesehatan yang
diakibatkan posisi saat bekerja yang tidak ergonomis seperti terlalu lama duduk dengan posisi
yang tidak ergonomis. Sehingga pekerja yang sudah mengalami keluhan nyeri punggung
segera memperbaiki posisi saat bekerja, seperti dengan sering merubah posisi duduk dan
menghindari posisi yang tetap dalam waktu lama. Jika setelah dilakukan seperti itu tetapi
keluhan terus menerus, maka segera pergi ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut.
LANGKAH 2
Dapat diberlakukan sistem perputaran bagian kerja (rolling), seperti bagian
pengelolahan bahan baku mentah menjadi pengepakan dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan
untuk mencegah terjadinya resiko kesehatan yang lebih parah seperti pada bagian pencetakan
dan pemanggangan yang memiliki resiko kesehatan lebih besar. Selain itu dapat juga
mengurangi rasa bosan yang dapat menyebabkan stress.
LANGKAH 3
Diadakannya pemeriksaan kesehatan secara berkala agar bisa mendeteksi lebih dini
gangguan kesehatan pada karyawannya. Selain itu pemilik usaha harus memberikan sarapan
pagi atau snack agar stamina karyawan terjaga.
LANGKAH 4
Mensosialisasikan mengenai undang-undang yang mengatur perlindungan kesehatan
kerja, dan mewajibkan seluruh karyawan untuk mentaati peraturan. Memberikan reward

37
kepada karyawan yang berprestasi dan memberikan sangsi kepada karyawan yang tidak
menaati peraturan.
LANGKAH 5
Penanganan masalah kesehatan kerja dilakukan melalui upaya pelaksanaan yang
berdasarkan perundangan dan peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah dengan tujuan
untuk keselamatan kerja karyawan. Hal ini mengacu pada UU no.14 tahun 1969, tentang
ketentuan pokok tenaga kerja, UU no. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, UU no. 3 tahun 1992
tentang kesehatan, beberapa keputusan bersama antara departemen kesehatan dengan
departemen lain yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan kerja, UU no.1 tahun
1970 tentang keselamatan kerja, dan PP. No. 32 tahun 1996 tentang tenaga kesehatan.15
Sehingga penanganan kesehatan dapat diselesaikan secara holistik dan integrative
agar tidak memunculkan masalah baru bagi perusahaan yang berkaitan dengan kesehatan
secara langsung maupun tidak langsung.

38
DAFTAR PUSTAKA
1. Peraturan Bupati Nganjuk Nomor 3 Tahun 2011. Tentang Retribusi Jasa Umum
Di Kota Nganjuk.
2. Peraturan Menkes, 2013, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
78 Tahun 2013 Tentang Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit.
3. DepKes Republik Indonesia., 2009. Pedoman Penyelenggaraan Tim Terapi Gizi di
Rumah Sakit.
4. Mary Harney, 2009, Food and Nutrional Care in Hospitals. Department of Health
and Children.
5. A. Adisesh. 2013. U.K. standards of care for occupational contact dermatitis and
occupational contact urticaria. British Journal of Dermatology.
6. Anderson and Meade. Potential Health Effects Associated with Dermal Exposure
to Occupational Chemicals. Environmental Health Insights 2014:8(S1) 5162 doi:
10.4137/EHI.S15258.
7. Anderson GBJ, 1999, Epidemiological Features Of Chronic Low Back Pain,
Lancet, 354:581-5.
8. Anthony J.S, 2004, The GALE Encyclopedia of Surgery, Vol.1, USA.
9. Aru WS, 2006, Ilmu Penyakit Dalam. 4th ed.Jakarta:Pusat penerbitan Ilmu
Penyakit Dalam FKUI CO
10. Buchari, 2007, Manajemen Kesehatan Kerja Dan Alat Pelindung Diri, Medan,
USU Respiratory.
11. Dede, Ahmad, 2010, Perbedaan sikap kerja duduk ergonomis dan tidak ergonomis
terhadap keluhan nyeri otot pinggang pada pekerja tenun kerajinan tikar mendong
desa kamulyan manonjaya tasikmalaya. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Siliwangi.
12. Djuanda Adhi, 2011, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Edisi kelima, Cetakan
kedua, Jakarta, Balai penerbit FK UI, Hal 133-138.
13. Hanung, Priyambodo, 2008, Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Kondisi Low Back
Pain Miogenik Di RSUD Boyolali, Surakarta
14. Helfenstein, M.. 2009. Occupational Low Back Pain . Study conducted at the
Rheumatology Department, Escola Paulista de Medicina, So Paulo, SP, Brazil
15. Manuaba, Adnyana, 2008, Ergonomi Dalam Industri, Bali, Universitas Udayana.
16. Natassia, 2009, Gambaran Penerapan Ergonomi. FKM UI.

39
17. Perdani, Putri, 2010, Pengaruh Postur dan Posisi Tubuh Terhadap Timbulnya
Nyeri Punggung Bawah, Program Pendidikan Sarjana Kedokteran, Fakultas
Kedokteran Uiversitas Diponegoro
18. Pratiwi M, Setyaningsih Y, Kurniawan, 2009, Beberapa Faktor yang Berpengaruh
Terhadap Keluhan Nyeri Punggung bAwah pada penjual Jamu Gendong, Jurnal
Promosi Kesehatan Indonesia Vol.4. No.1.
19. S. Emmy, 2005, Penyakit Kulit Umum di Indonesia, Jakarta, PT Medical
Multimedia Indonesia, Hal 14-16
20. Setiabudi, Aris, 2013, Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) : Definisi,
Indikator Penyebab Dan Tujuan Penerapan Keselatan Dan Kesehatan Kerja.
(online) Dikutip Dari
Http://Arisetiabudiblog.Wordpress.Com/2013/06/20/Kesehatan-Dan-
Keselamatan-Kerja-K3-Definisi-Indikator-Penyebab-Dan-Tujuan-Penerapan-
Keselatan-Dan-Kesehatan-Kerja/
21. Setyaningsih, Yuliani, 2002. Pengantar ergonomi dalam Kumpulan Materi Kuliah
Program Matrikulasi. Semarang : FKM UNDIP
22. Sharp, 2001, Preventing Occupational Dermatitis. Washington, Safety and health
assesment and research for prevention washington state Department of labor and
industries.
23. Silalahi, Benet dan Silalahi, Rumondang, 1985. Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja, Jakarta : PT Pustaka Binaman Pressindo.
24. World health organization, 2007, Management Of Burn, Who surgical care at the
district hospital 2003.
25. yluk, A. 2008. Is carpal tunnel syndrome an occupational disease?. Polish
Orthopedics and Traumatology, 2013; 78: 121-126.

40