Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

FISIKA LANJUTAN

NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE (NMR)

Tanggal Praktikum : Kamis, 13 April 2017

Waktu Praktikum : 10.00 12.00 WIB

Nama : Dewi Anggraeni

NIM : 11150163000065

Kelompok : 2 (Dua)

Nama Anggota :

1. Uswatun Amaliah (11150163000063)


2. Dyah Retno Utami (11150163000057)
3. Annisa Febriana (11150163000073)
4. Sri Piji Aji (11150163000082)

Kelas : Pendidikan Fisika 4 B

LABORATORIUM TERPADU SAINTEK

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2017

NUCLEAR MAGNETIC RESONANCE (NMR)


A. Tujuan Praktikum
1. Mempelajari Nuclear Magnetic Resonance pada proton dan fluorin.
2. Menentukan lebar garis pada resonansi fluorin.
3. Menentukan faktor g pada proton dan fluorin

B. Dasar Teori
Nuclear Magnetic Resonance (NMR) adalah salah satu metode analisis yang paling mudah digunakan
pada kimia modern. NMR digunakan untuk menentukan struktur dari komponen alami dan sintetik yang
baru.
Nuclear Magnetic Resonance (NMR) merupakan alat yang digunakan pada penentuan struktur molekul
organik. Spektroskopi H-NMR memberikan informsi mengenai lingkungan kimia atom hidrogen. (Creswell,
Olaf and Malcon, 1982:100)
Nuclear Magnetic Resonance (NMR) ditemukan oleh Bloch dan Purcell pada tahun 1945. NMR
didasarkan pada sifat magnetik inti. Atom dengan inti yang memiliki spin nuklir I memiliki momen magnetik
n.
Spektroskopi 1H-NMR didapatkan pada penyerapan gelombang radio oleh inti-inti tertentu dalam
molekul organik, apabila molekul ini berada dalam medan magnet yang kuat (Ralph J.Fessenden, 1983 : 50).
Inti yang digunakan akan mempunyai gerakan yang sama seperti yang diberikan oleh pengaruh medan
magnet yang digunakan. Bila medan magnet diberikan, inti akan mulai presisi sekitar sumbu putarnya sendiri
dengan frekuensi angular (Hardjono, 1991:109).
Inti mempunyai massa muatan. Di dalam beberapa inti muatan ini berputar pada sumbu inti dan akibat
perputaran inti menghasilkan suatu dipol magnet sepasang sumbu yang mempunyai moment magnet.
Jika bidang magnet luar yang kuat itu tidak ada spin inti dari int magnetik diarahkan secara random. Jika
inti diletkkan diantara ujung magnet yang kuat, maka mereka mengadopsi orientasi spesifik.
NMR digunakan untuk menentukan struktur dari komponen alami dan sintetik yang baru, kemurnian dari
komponen dan arah reaksi kimia sebagaimana hubungan komponen dalam larutan yang dapat mengalami
reaksi kimia.
Dapat spektroskopi NMR pada senyawa bahan alam sangat penting. Ini dapat digunakan untuk
mempelajari campuran analisis, untuk memahami efek dinamis seperti perubahan pada suhu dan mekanisme
reaksi, dan merupakan instrumen tak ternilai untuk memahami struktur dan fungsi asam nukleat dan protein.
Teknik ini digunakan untuk berbagai variasi sampel, dalam bentuk padat atau pun larutan.
Aplikasi Spektroskopi NMR biasanya digunakan untuk mengidentifikasi atau menjelaskan informasi
struktur rinci tentang senyawa kimia.

C. Alat dan Bahan

No Nama Alat Jumlah Gambar


1 NMR Probe Unit 1
2 NMR Supply Unit 1

3 Digital Ociloscope 1

4 DC Power Suply 16 V / 5 A 1

5 Teflon 1

6 Poliserin 1

7 Gliserin 1

D. LANGKAH KERJA
NO. GAMBAR LANGKAH PERCOBAAN

1. Susunlah Peralatan sesuai gambar

Pasang kedua kumparan pada U-


2.
Core
Letakan modulation coil pada pole
3. shoes dan pasang probe NMR pada
U-Core
Sambungkan kedua kumparan
4. secara seri dengan porwer supply
DC
Sambungkan modulation coil
secara seri dengan
5.
MODULATION output pada
NMR supply unit
Hubungkan NMR probe dengan
6. input PROBE pada NMR supply
unit

Hubungkan NMR SIGNAL dan


7.
ABSIGNAL pada osiloskop

E. Data Pengamatan
Pada sampel cair dan padat
a. Poliserin

NO 1 (A) F(MHz
)
1 3,1 16,8
2 3,2 16,87
3 3,3 17,64
4 3,4 17.80
5 3,5 18.13
6 3,6 18,38
7 3,7 18,67
8 3,8 18,97
9 3,9 19,32
10 4,0 19,48

b. Teflon

NO 1 (A) F(MHz
)
1 3,2 16,32
2 3,3 16,63
3 3,4 16,90
4 3,5 17,21
5 3,6 17,53
6 3,7 17,83
7 3,8 18,12
8 3,9 18,39
9 4,0 18,5

c. Gliserin

NO 1 (A) F(MHz)
1 3,2 17,23
2 3,3 17,62
3 3,4 18,67
4 3,5 18,35
5 3,6 19,04
6 3,7 19,20
7 3,8 19,35
d. Menentukan faktor g

NO 1 (A) B (mT)
1 0,5 -058
2 1,0 127
3 1,5 196
4 2,0 274
5 2,5 327
6 3,0 382
7 3,5 435
8 4,0 477
9 4,5 503
10 5,0 528

F. Pengolahan Data
a. Kalibrasi Medan Magnet
dengan menggunakan hubungan medan magnet dengan konstantsa Boltzman: B=K.I
dan mengkonversi persamaan tersebut kepada metode less square (regresi):
Y = bX + a ( Y = B, K = b, I = x)
Menentukan faktor g

No
x (A) Y (T) XY X2
.
1 0,5 0,06 0,03 0,25
2 1,0 0,126 0,1260 1,00
3 1,5 0,197 0,2955 2,25
4 2,0 0,263 0,526 4,00
5 2,5 0,328 0,82 6,25
6 3,0 0,387 1,161 9,00
7 3,5 0,434 1,519 12,25
8 4,0 0,472 1,888 16,00
9 4,5 0,501 2,2545 20,25
10 5,0 0,523 2,615 25,00
X (A ) = 27,5
Y (T ) = 3,291

XY = 11,235

X2 = 96,25

Dapat didapatkan nilai a dan b dengan formula:


x 2
2
n X
a=
n X 2 x xy

10 ( 96,25 )( 27,5 ) (3,291)
a=
10 ( 96,25 ) (756,25)
871,998
a=
206,25
a = 4,228

x 2
n X 2
b=
n xy x y

10 ( 11,235 )( 27,5 ) (3,291)
b=
10 ( 96,25 )(756,25)
21,85
b=
206,25
b = 0,106

persamaan regresinya dapat ditulis sebagai berikut: Y = 0,106 x + 4,228


dimana diketahui:
b = k = 0,106

Penentuan Faktor g

hv = n.g.B dimana v = [ ]
n . g
h
.B

Koversi kedalam Y=bx+a Sehingga v = Y, [ ]


n . g
h
=b, B=x dengan menggunakan nilai k(0,106 T/A)

hasil kalibrasi, B dapat dinyatakan dengan B=K.I atau B=(0,106 T/A).I


Menentukan NMR pada sampel Cair
a. POLISERIN
No. X (B(T)) Y(V(Hz)) XY X2
1 0,3180 16537100 5258797,8 0,101124
2 0,3286 16897100 5552387,06 0,10797796
3 0,3392 17246100 5849877,12 0,11505664
4 0,3498 17554800 6140669,04 0,12236004
5 0,3604 17953500 6470441,4 0,12988816
6 0,3710 18264900 6776277,9 0,137641
7 0,3816 18727000 7146223,2 0,14561856
8 0,3922 18988100 7447132,82 0,15382084
9 0,4028 1925770 7757001,56 0,16224784
10 0,4134 19482100 8053900,14 0,17089956
X (A ) = 3,657
Y (T ) = 180908400

XY = 66452708,04

X2 = 1,3466346

Dapat didapatkan nilai a dan b dengan formula:


x 2
2
n X
a=
n X 2 x xy

10 ( 1,3466346 ) (66452708,04)
a=
10 (1,3466346 )( 13,373649)
a = -716880746,6

x 2
n X 2
b=
n xy x y

10 ( 66452708,04 )(66452708,04)
b=
10 ( 1,3466346 )(13,373649)
b = 6451928028,00

Y = x (6451928028,00) -716880746,6

b= [ ]n . g
h
dimana g =
h
n
.b dengan h = 6,626.10-34 Js

n = 5,051.10-27 J/T
6,626.1034 Js
g= .( 6451928028,00)
5,051.1027 J / T
gT = 846,376

b. TEFLON
No. X (B(T)) Y(V(Hz)) XY X2
1 0,3498 16502400 5772539,52 0,12236004
2 0,3604 16880000 6083552 0,12988816
3 0,3710 17169500 6369884,5 0,137641
4 0,3816 17553400 669837744 0,145161
5 0,3922 17829500 6992729,9 0,15382084
6 0,4028 18141400 7307355,92 0,16224784
7 0,4134 18371900 7594943,46 0,17089956
8 0,4240 18648600 7907006,4 0,179776
9 0,4346 18885900 8207812,14 0,18887716
10 0,4452 19155600 8528456,232 0,19820304
11 0,4558 193693 8828526,94 0,20775364
X (A ) = 4,4308
Y (T ) = 179331893

XY = 743230551
X2 = 1,79662828
Dapat didapatkan nilai a dan b dengan formula:
x 2
n X 2
a=
n X 2 x xy

11 (1,79662828 )(743230551)
a=
11 ( 1,79662828 ) (19,6319886)
a = -5676876563

x 2
2
n X
b=
n xy x y

11 ( 743230551 )(743230551)
b=
11 ( 1,79662828 ) (19,63198864)
b = 5,68 x 1010

Y = x (5,68 x 1010) -5676876563

b= [ ]n . g
h
dimana g =
h
n
.b dengan h = 6,626.10-34 Js

n = 5,051.10-27 J/T
6,626.1034 Js
g= .( 5,68 x 1010)
5,051.1027 J / T
gT = 7451,13

c. GLISERIN
No. X (B(T)) Y(V(Hz)) XY X2
1 0,3180 16665600 5299660,8 0,101124
2 0,3286 16947800 5569047,08 0,10797796
3 0,3392 17301400 5868634,88 0,11505664
4 0,3498 17733300 6203108,34 0,12236004
5 0,3604 17999600 6487055,84 0,12988816
6 0,3710 18298100 6788595,1 0,137641
7 0,3816 18645800 7115237,28 0,14561856
8 0,3922 18963600 7437523,92 0,15382084
9 0,4028 19473800 7844046,64 0,16224784
X (A ) = 3,2436
Y (T ) = 162029000

XY = 58612909,88

X2 = 1,17573504
Dapat didapatkan nilai a dan b dengan formula:
x 2
2
n X
a=
n X 2 x xy

9 (1,17573504 )(58612909,881)
a=
9 ( 1,17573504 )(10,52094096)
a = -966023550,3

x 2
2
n X
b=
n xy x y

9 (58612909,88 )(58612909,88 1)
b=
9 ( 1,17573504 ) (10,52094096)
b = 7728189797

Y = x (7728189797) -966023550,3

b= [ ]
n . g
h
dimana g =
h
n
.b dengan h = 6,626.10-34 Js

n = 5,051.10-27 J/T
6,626.1034 Js
g= .( 728189797)
5,051.1027 J / T
gT = 1013,799

G. Pembahasan
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan mengenai sinyal NMR inti Hidrogen (proton) dan inti
Flour yang diamati. Kedua inti memiliki spin 1=1/2. Untuk mendeteksi transisi berputar antara dua tingkat
energi ini sampel ditempatkan dalam kumparan rf yang terletak antara celah dari medan homogen B o. Selain
itu, medan magnet statis Bo dimodulasi pada V frekuensi konstan dengan menggunakan dua kumparan
modulasi. Dengan demikian, dalam konfigurasi ini sinyal resonansi diamati dalam ketergantungan dari
medan magnet. Sinyal NMR sebanding dengan jumlah spin N dalam sampel.
Lebar garis-garis resonansi NMR dipengaruhi oleh sifat dari unsur-unsur sekitarnya pada suhu. Analisis
lebar garis sebagai fungsi dari faktor-faktor menghasilkan informasi yang komprehensif tentang karakteristik
kimia dan fisik dari berbagai komponen.
a. Aplikasi dalam kimia (NMR Spektroskopi) intensitas bergantung pada jumlah inti hidrogen dalam
sampel yang diselidiki.
b. Aplikasi dalam biologi (Spektroskopi) bentuk dan posisi dari sinyal kurang lebih sama seperti untuk
sampel air. Intensitas bergantung pada jumlah inti hidrogen dalam sampel yang diselidiki.

H. Kesimpulan
Dari hasil prakitkum yang kita lakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. NMR pada sampel cair dan padat dengan proton
Jia sampel mengandung inti hidrogen sinyal NMR dapat diamati. Sampel bisa menjadi cair atau padat
(bubuk) sampel. Namun, karena struktur sampel memiliki perbedaan yang signifikan dalam lebar garis
yang diamati, untuk NMR pada inti Hidrogen, sampel gliserin (cair) memiliki lebar garis lebih kecil
dibandingkan dengan sampel teflon (padat).
2. Aplikasi dalam kimia (NMR Spektroskopi)
Dari fakta bahwa sinyal NMR untuk gliserin dan krim tangan berada disekitar frekuensi resonansi dan
medan magnet yang sama, membuktikan bahwa NMR dapat digunakan untuk menyelidiki unsur-unsur
kimia.
3. Aplikasi dalam biologi (Spektroskopi)
Kesegaran pada apel tergantung pada (banyak inti hidrogen) sinyal kuat dapat diamati, hal ini
menunjukan bahwa NMR dapat diterapkan juga untuk in vitro sampel. Hal ini memungkinkan teknik
NMR modern untuk mendapatkan gambar dari tubuh dengan demikian dapat menjadi metode pelengkap
diagnostik yang penting untuk x-ray dan ultrasonic.
4. Penentuan faktor g
Dari pengolahan data didapatkan faktor g pada sampel uji, dengan nilai:
gPoliserin = 846,376
gTeflon = 7451,13
gGliserin = 1013,799

I. Komentar dan Saran


1. Lebih dipersiapkan lagi dalam konsep mengenai percobaan yang dilakukan
2. Lebih dipersiapkan lagi mengenai rangkaian yang akan digunakan pada saat praktikum

J. Daftar Pustaka
Creswell, C.J.,A.R.Olaf,M.C.Malcolm,1982,Analisis Spektrum Senyawa Organik, Edisi Kedua:ITB,
Bandung
Fessenden, Ralph J, and Fessenden, Joan S. 1922, Kimia Organik, Erlangga:Jakarta
Hardjono Sastrohamidjojo.1991.Spektroskopi, Yogyakarta:Liberty.
Anonim. Diakses dari hmk.mipa.ub.ac.id/pengertian_prinsip_nmr/pdf. Diakses pada 16 April 2017 pukul
21.00
Basit risky abdul,dkk. Diakses dari Nuclear_Magnetic_Resonance.pdf. Diakses pada tanggal 16 April 2017
pukul 22.00