Anda di halaman 1dari 5

FISIOGRAFI KALIMANTAN

Kalimantan merupakan pulau terbesar kedua di Kepulauan Indonesia (736.000


2
Km ), sedikit lebih besar dari pada negara Perancis. Kalimantan bagian Utara merupakan
wilayah Malaysia dan Brunei Darussalam (196.000 Km2) dan Kalimantan Barat, Selatan
dan Timur merupakan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (539.500
Km2)

2.1 Fisiografi dan Geomorfologi Kalimantan


Pulau Kalimantan secara kasar berbentuk segitiga yang memiliki tiga tanjung
kecilpada sisi Timurlaut, yaitu Tanjung Mangkalihat dan dua berada di wilayah perbatasan
pada Teluk Darvel. Geomorfologi pulau Kalimantan memiliki relief perbukitan dan
pegunungan dengan ketinggian tidak lebih dari 1.500 meter. Ketinggian perbukitan dan
pegunungan di pulau Kalimantan dapat dilihat pada peta 2.

Gambar 2 Peta level ketinggian Kalimantan.


(sumber : Geology of Indonesia, Vol I.A, Van Bemmelen, 1970)
Peta pada gambar 2 menunjukkan kelurusan punggungan yang tidak ditemukan
pada pulau pulau lain. Peta peta tua Kalimantan menunjukkan rangkaian pegunungan
yang tinggi dan rapat. Pemisahan pegunungan berdasarkan kartografi tua masih
menggunakan konsepsi geotektonik yang diamati, sehingga batas ranggkaian
pegunungan masih sering kabur antara batas administratif dengan batas wilayah.
Sistem pegunungan yang melebar di pulau Kalimantan mulai dari rangkaian
pegunungan Kinabalu di Utara (dengan puncak Gunung Kinabalu, 4.175 meter yang
membentuk puncak tertinggi di pulau Kalimantan), melalui Pegunungan Iban dan
Pegunungan Muller sampai ke rangkaian punggungan Schwaner (dengan puncaknya
Bukit Raya, 2.278 meter) di Baratdaya. Sistem kumpulan pegunungan di Kalimantan
menjadi pemisah pulau Kalimantan, dari percabangan punggungan yang berahir di Timur
dan Barat, demikian pula arah Utara Selatan Pegunungan Meratus (dengan puncak
tertingginya di Besar, 1.892 meter) di bagian Tenggara pulau Kalimantan yang memiliki
posisi lebih terisolasi.
Percabangan ke arah adalah : a) Pegunungan Kapuas antara Lembah Rejang
sampai ke Utara, selanjutnya Cekungan Kapuas dan Lembah Batang Lupar sampai ke
Selatan. b) Plato Madi antara Cekungan Kapuas dang Sungai Melawi. Percabangan
terakhir yang dapat ditelusuri ke arah Barat sepanjang sumbu depresi yang dipotong oleh
Sungai Kapuas sampai kumpulan pegunungan di bagian Barat membentuk tanjung Distrik
Cina (puncak tertinggi, Niut, 1.701 meter).
Kumpulan pegunungan ini telah hancur menjadi beberapa puncak yang
digambarkan oleh topografi sisa sisa pegunungan. Sabuk sisa sisa pegunungan yang
melengkung berarah Baratlaut melalui Tanjung Datuk sampai punggungan di bawah
permukaan laut Sunda, selanjutna membentuk pulau Natuna. Percabangan ke arah Timur
adalah : a) sistem pegunungan Kalimantan Utara dan berakhir di Teluk Darvel dan b)
sistem kumpulan pegunungan yang berakhir di Tanjung Mangkalihat.

2.1.1 Kelurusan Struktur Geologi


Telaah kelurusan struktur geologi hanya berdasarkan data kelurusan punggungan
dan pola aliran, sehingga memberikan gambaran yang sangat kasar untuk kepentingan
geologi. Tujuannya adalah menjelaskan arah fisiografi pulau Kalimantan yang
disebandingkan dengan pulau Sulawesi, tetapi konsep tua ini tidak cukup, sehingga perlu
pengambilan data geologi, sehingga jika dilakukan pengelompokan unsur unsur
kelurusan punggungan yang perlu dapat dijadikan pembatas yang lebih tepat, tidak hanya
berdasarkan data kartografi.
Selanjutnya bentuk kelurusan Kalimantan Utara searah dengan kepulauan Filipina,
sehingga pulau Kalimantan terpotong oleh struktur Sunda. Kelurusan Palawan berakhir di
rangkaian Pegunungan Kinabalu dan kelurusan Sulu berakhir di Teluk Darvel. Arah
rangkaian Pegunungan Kinabalu Timurlaut Baratdaya terdiri dari lipatan lipatan tinggi
lapisan batuan yang berumur Pra Tersier dan Tersiaer Awal yang diintrusi oleh
granodiorit masif Kinabalu.
Kelurusan yang berarah Timur Barat di Utara Teluk Darvel terdiri dari batuan
batuan Pra Tersier dan Tersier Awal. Jarang sekali ditemukan perlipatan dari lapisan
batuan yang berumur lebih muda dari Tersier pada sayap sayap antiklin tersebut,
demikian juga pada cekungan sinklin yang terbentuk diantara antiklin tersebut yang
membentuk cekungan ekstensional berarah Baratlaut dari palung Sulu..
Geologi Kalimantan Utara memiliki hubungan kelurusan dengan Filipina dan
dipisahkan dari Kalimantan terutama oleh bidang pemisah Neogen yang memotong pulau
Kalimantan dari cekungan Sulawesi di Timur sampai ke Teluk Labuan di pantai Baratlaut.
Bagian Benua Sunda di pulau Kalimantan merupakan inti benua yang berbentuk segitiga
di bagian Baratdaya Kalimantan yang menjadi lereng cekungan Sarawak yang berumur
Tersier pada satu sisi dan lereng cekungan Tersier bagian Selatan dan Timur pulau
Kalimantan disisi lain.
Di bagian Barat pulau Kalimantan terdiri dari segitiga Gunung Muller Tanjung
Datuk Tanjung Sambar adalah bagian yang paling tepat disebut sebagai benua. Di sisi
bagian Timur dari segitiga tersebut adalah cekungan Melawi yang disusun oleh fasies
pecah ombak yang berumur Tersier Awal (Fehn,1933), sehingga hanya Kalimantan
bagian Baratdaya yang disebut sebagai lahan tua (old land).
Bentuk dari inti benua ini merupakan bagian dari benua Sunda. Batas di bagian
Utara disusun oleh kumpulan pegunungan yang menyebar dari Tanjung Datuk melalui
Gunung Niut dan plato Madi sampai ke Gunung Muller. Di tepi bagian Selatan disusun
oleh Pegunungan Schwaner dan pegunungan pegunun gan rendah yang menyebar
sampai pantai Selatan.
Kedua zona tepi benua Sunda dicirikan oleh intrusi dan ekstrusi vulkanik yang
berumur Tersier. Sabuk vulkanik yang berumur Tersier ini melebar ke arah Timurlaut
melalui Gunung Muller melalui Batuayan (1.652 meter) sampai ke Kongkemal (2.053
meter) yang berakhir di Gunung Latong, bagian Barat Tarakan. Di dekat tepi Utara benua
Sunda, Kalimantan Barat ditemukanaliran basalt Quarter mengelilingi stock tua Niut dan
di sepanjang tepi Baratdaya. Witkamp telah meneliti beberapa endapan gunungapi
Kuarter dekat Lonigram (Murai, Beluh dan Bawang).
Melalui percabangan kumpulan pegunungan Kongkemal ke arah Timur sampai
Pegunungan Niapa (1.275 meter), kemudian kumpulan batuan benua (basement)
menunjam dibawah lapisan batuan yang berumur Tersier di Tanjung Mangkalihat. Batuan
Benua Sunda membaji di Kalimantan cukup besar (lebar 600 Km) sepanjang pantai
Baratdaya antara Tanjung Datuk dan Tanjung Sambar, selanjutnya menyebar ke arah
Timurlaut pulau Kalimantan dan secara berangsur menyempit. Di bagian Timurlaut
Pegunungan Schwaner, batuan benua Sunda tersebut menunjam lapisan batuan Tersier
di bawah laut, tetapi batuan benua Sunda ini dapat diikuti ke arah Timurlaut sampai
Kongkemal, kemudian ujung dari baji batuan benua Sunda berakhir di Pegunungan
Latong di Timurlaut Kalimantan.
Baji dari batuan Benua Sunda tersebut membentuk struktur utama (structural
backbone). Di bagian Baratlaut terdapat lapisan batuan Benua Sunda yang sangat besar
dengan ketebalan 1.000 meter sampai 2.000 meter membentuk rangkaian pegunungan
yang tinggi , cekung ke arah Baratlaut, terdiri dari Pegunungan Kapuas dan Pegunungan
Iban. Rangkaian Pegunungan ini terdiri dari lapisan batuan laut (marine) yang berumur
Pra Tersier dan Tersier Awal, yang mengalami perlipatan dan sesar naik ke arah
Baratlaut.
Rangkaian Pegunungan Kapuas dan Pegunungan Iban ini dipisahkan oleh Lembah
Rejang, umumnya memiliki ketinggian kurang dari 1.000 meter dan cekung ke arah
Baratlaut. Rangkaian punggungan ini disebut sebagai Punggungan Ularbulu, umumnya
membentuk antiklinorium terutam disusun oleh lapisan batuan berumur Tersier dan
dipisahkan dari pantai Serawak dan Brunei oleh perbukitan rendah. Rangkaian
Pegunungan Kapuas Pegunungan Iban dan Punggungan Ularbulu adalah rangkaian
pegunungan berumur Tersier, merupakan sistem sabuk pegunungan Benua Sunda.
Struktur utama (struktural backbone) Kalimantan yang berarah Tenggara dan Timur
yang memotong kumpulan batuan dasar (basement comlex), menghilang di bawah
cekungan bagian Selatan dan Timur pulau Kalimantan, tertutup oleh endapan Tersier
yang memiliki ketebalan ribuan meter. Kumpulan batuan dasar (basement complex)
muncul kembali di pantai Timur pulau Kalimantan, lapisan sedikit curam dan tertimbun di
sepanjang Selat Makasar dan tersingkap kembali di pulau kecil, yaitu di Pulau Laut dan
Pulau Sebuku, berakhir di bagian sudut Tenggara pulau Kalimantan.
Pada tepi cekungan Kalimantan bagian Tenggara dan Timur Kalimantan terdapat
median punggungan yang berarah Baratdaya Timurlaut. Di awali oleh Pegunungan
Meratus di bagian Selatan yang disusun oleh batuan Pra Tersier cukup besar dan
bergabung dengan antiklinorium besar Samarinda yang memisahkan danau Sungai
Mahakam dari pantai. Samarinda antiklinorium tersebut memiliki sumbu depresi di
Samarinda yang terpotong oleh Sungai Mahakam dan selanjutnya sumbu antiklinorium
Samarinda muncul kembali di bagian Utara, searah dengan sesar geser yang dibentuk
oleh sistem Kongkemal Niapa Mangkalihat.
Rangkaian Pegunungan Meratus Punggungan Samarinda ini merupakan hasil
pembentukan pegunungan (orogenesis) Tersier pada sisi Tenggara struktur utama
(struktural backbone) pulau Kalimantan. Di bagian Baratlaut terbentuk juga rangkaian
pegunungan Serawak yang berumur Tersier. Tampak dari gambaran ini perlu ditegaskan
kembali unsur unsur punggungan sebagai sebagai unsur yang perlu dipertimbangkan
untuk melakukan analisis evolusi paleo geografi.

2.1.2 Sungai Terbesar di Kalimantan


Tiga sungai besar di Kalimantan, yaitu Sungai Kapuas, Sungai Barito dan Sungai
Mahakam. Sungao Kapuas memiliki sumber berasal dari Cemaru yang terletak di tengah
pulau Kalimantan. Sungai Kapuas mengalir ke arah Barat dengan beberapa percabangan
dan bermuara ke laut Sunda dekat Pontianak. Sungai tersebut mungkin sungai yang
terpanjang di Indonesia (1.143 Km), mungkin sedikit pendek dari Sungai Rhine di Eropa
(1.320 Km).
Di bagian hulu memotong antara Putusibau (898 Km dari muara) dan Semitau (623
Km dari muara) membentuk danau rawa, disekitarnya merupakan cekungan antara
gunung (intermontane) yang dikelilingi oleh Pegunungan Kapuas di Utara, Pegunungan
Muller di Timur, Plato Madi di Selatan dan Pegunungan Kelingkan di Barat. Setelah
memotong beberapa punggungan yang berarah Timur Barat, antara Semitau dan
Singkang (469 Km dari muara), sungai tersebut mengarah ke cekungan Melawi.
Melalui Sekadau (348 Km dari muara), sungai mengalir ke arah pegunungan rendah
sampai ke Tajan (182 Km dari muara). Di Tajan ini terbentuk delta, sehingga timbul
dataran rawa yang cukup luas dengan beberapa perbukitan Pra Tersier yang terisolasi.
Delta tersebut sampai sekarang masih tumbuh dan pantai masih terus berkembang. Luas
delta mencapai 5.400 Km2 (Fehn, 1933). Selaras dengan pertumbuhan delta, rata rata
pasokan air dari sungai Kapuas anara 6.000 m3 sampai 7.000 m3 per detik.
Sungai besar kedua di Kalimantan adalah Sungai Barito yang mengalir ke arah
Selatan dari Gunung Muller dengan panjang aliran 900 Km, dari Muaratewe masuk ke
cekungan rawa Barito. Cekungan Baritu di sisi Timur dibatasi oleh Pegunungan Meratus,
selanjutnya penyebaran ke arah Barat dialiri oleh beberapa sungai penting lainnya yang
mengalir dari Pegunungan Schwaner ke arah Selatan.
Pada bagian Barat dari cekungan Barito ini ditutupi oleh lapisan tipis batuan
berumur Tersier dan Kuarter, yang secara berangsur semakin meneball ke arah Barito.
Daerah ini masih relatif stabil, karena di bagian bawahnya dilandasi oleh batuan dasar
(basement complex) dari dataran Sunda tua yang miring ke arah sumbu cekungan Barito
dengan engsel pada dataran tua Kalimantan Barat.
Sungai terbesar ke tiga di Kalimantan adalah Sungai Mahakam ( panjang 775 Km)
yang mengalir dari seperti dari Sungai Kapuas di sekitar Cemaru, Kalimantan Tengah.
Sungai Mahakam memotong sumbu Pra Tersier pulau Kalimantan di bagian Timur dari
Batuayan (1.652 m) dan selanjutnya mengisi cekungan Kutei, kemudian mengalir ke
dataran rendah bagian tengah dengan mebentuk beberapa danau rawa. Depresi antara
gunung (intermontane depression) ini dipisahkan dari depresi Barito oleh sebaran
perbukitan yang memiliki ketinggian kurang dari 500 m. Selanjutnya Sungai Mahakam
memotong antiklinorium Samarinda dan membentuk delta alluvial dekat lapangan minyak
Sang Sanga. Delta tersebut menyebar mebentuk seperti kipas, memiliki panjang 65 Km
dan radius 30 Km.