Anda di halaman 1dari 12

PENGUKURAN DAYA AIR MELALUI PLATFORM

(Praktikum Dasar-dasar Teknik Irigasi)

Oleh Kelompok 6

Anggota :

Anugerah Hizkia M. 1414071012


Deni Prastyo 1414071026
Fadhil Eka Winata 1414071034
Jaka Langlang Buana 1414071050
Nikita Permatahati 1414071066
Rima Anggari 1414071082

JURUSAN TEKNIK PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017
BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Air merupakan bagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan bahwa
semua jenis kehidupan bersifat aquatic. Dalam prakteknya suatu habitat aquatic
apabila mediumnya baik external maupun internal adalah air. Aquatic merujuk
perairan yang meliputi laut, sungai, danau, gua basah, air tanah, rawa baik asin
maupun tawar dan sejenisnya. Air adalah fasa cair dari persenyawaan kimia yang
dibentuk oleh dua bagian berat hydrogen dan 16 bagian berat oksigen. Didalam
air itu dikandung pula sejumlah kecil air berat, gas, dan zat padat, terutama
berbentuk garam dalam larutan. Benda cair seperti yang biasa terdapat didanau,
sungai, rawa, sumur dan sebagainya. Kualitas air yang bagus di tentukan oleh pH
air tersebut. Bila pH air berkisar 7 maka kualitas air tersebut bagus dan air itu
belum terkontaminasi senyawa-senyawa yang mengandung logam berat yang
dapat menyebabkan air tidak layak lagi untuk di pakai atau di pergunakan oleh
manusia atau organisme lain karena menyebabkan kematian.

Perairan umum adalah bagian permukaan bumi yang secara permanen atau
berkala digenangi oleh air, baik air tawar, air payau maupun air laut, mulai dari
garis pasang surut terendah ke arah daratan dan badan air tersebut terbentuk
secara alami ataupun buatan. Perairan umum tersebut diantaranya adalah sungai,
danau, waduk, rawa, goba, genangan air lainnya (telaga, kolong-kolong dan
legokan.Debit air adalah jumlah air yang mengalir dari suatu penampang tertentu
(sungai/saluran/mata air) per satuan waktu (ltr/dtk, m3/dtk, dm3/dtk). Pemilihan
lokasi pengukuran debit air dapat dilakukan di bagian sungai yang relatif lurus,
jauh dari pertemuan cabang sungai, tidak ada tumbuhan air, aliran tidak turbulen,
dan aliran tidak melimpah melewati tebing sungai.Pengukuran debit air sangat
dipengaruhi oleh kecepatan arus air. Kecepatan arus yang berkaitan dengan
pengukuran debit air ditentukan oleh kecepatan gradien permukaan, tingkat
kekasaran, kedalaman, dan lebar perairan.

Debit air adalah jumlah air yang mengalir dalam suatu penampang tertentu
(sungai / saluran / mata air). Pemilihan lokasi pengukuran debit air : 1. dibagian
sungai yang relatif lurus, 2. jauh dari pertemuan cabang sungai 3. tidak ada
tumbuhan air, 4. aliran tidak turbelenl, 5. aliran tidak melimpah melewati tebing
sungai (Penuntun Praktikum Limnologi)

Pengukuran debit air sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus air. Kecepatan arus
yang berkaitan dengan pengukuran debit air ditentukan oleh kecepatan gradien
permukaan, tingkat kekasaran, kedalaman, dan lebar perairan.

1.2 Tujuan Dan Manfaat

Tujuan dari praktikum tentang debit air ini yaitu untuk mengetahui lokasi
penentuan debit air, dapat mengukur debit air melalui platform.

Manfaat dari praktikum ini yaitu praktikan dapat mengetahui debit air,
mempraktekkan dan menerapkan cara pengukuran debit air melalui platform.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut Sachlan (1980) perairan umum merupakan sumberdaya yang mempunyai


potensi besar baik bagi perikanan maupun untuk kehidupan manusia. Air
merupakan bagian yang esensial dari protoplasma dan dapat dikatakan bahwa
semua jenis makhluk hidup bersifat aquatic.

Arus merupakan gerakan yang mengalir dari suatu massa air yang disebabkan
oleh desitas air lau, tiupan angin atau dapat pula disebabkan gerakan
bergelombang panjang. Selanjutnya Sidjabat (1976), arus adalah pergerakan
massa air secara horizontal yang disebabkan oleh angin yang bertiup terus
menerus dipermukaan dan desitas air laut.Apabila diperhatikan arus ini pada
bagian permukaan akan sulit untuk diramal kemana arah arus tersebut.

Selanjutnya Sihotang (1989) mengemukakan, waduk adalah bentuk perairan yang


terletak diantara perairan sungai dan danau. Setiap waduk mempunyai morfologi
yang unik, oleh karena itu tidak dapat digeneralisasikan antara satu waduk dengan
waduk yang lain karena di waduk terdapat perbedaan yang menyolok antara lotik
dan lentik.

Menurut Sihotang (1989), ciri khas waduk adalah mempunyai aliran yang searah
dari sungai utama. Waktu pergantian air relatif singkat. Perkembangan trofiknya
memperlihatkan eutrofik yang akan berubah menjadi oligotrofik. Nutrien yang
kaya akan memperlihatkan produktivitas dan setelah pengaliran air yang searah
akan membuang nutrien ke sungai di bagian bawah. Menurut Carlo (2001), waduk
merupakan tempat yang digunakan untuk menyimpan air sebelum diolah baik
untuk air minum ataupun keperluan lain, lazimnya waduk dan danau sebagai
tempat penyimpan air dengan kualitas yang baik.
Penentuan debit air sungai diperlukan untuk mengetahui besarnya air yang
mengalir dari sungai ke laut. Dalam penentuan debit air sungai perlu di ketahui
luas penampang stasiun, yaitu dengan mengukur kedalaman, masing-masing titik
pengukuran (Ongkosongo, 1980).

Uktoselya (1991) menyatakan bahwa Arus merupakan suatu gerakan air


yang mengakibatkan perpindahan horizontal dan vertikal masa air. Arus dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan fisik pada sungai dan muara sungai, seperti
pengikisan darat, pemindahan sedimen dan sebagainya. Disamping itu besarnya
volume air yang mengalir dan kuatnya pasang surut, akan mem pengaruhhi
sistema arus pada muara sungai.
III. METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu Dan Tempat

Praktikum limnologi tentang debit air ini dilakukan pada hari Sabtu, 20
Mei 2017 Pukul 08.00-11.00 WIB yang betempat di Politeknik Negeri Lampung.

3.2 Bahan dan Alat

Adapun bahan dan alat yang digunakan dalam pengukuran debit air ini
diantaranya Aqua gelas 3 buah, bola (pelampung), penggaris, stopwatch, dan alat
tulis.

3.3 Metode Praktikum

Metode praktikum yang digunakan adalah metode pengamatan secara


langsung terhadap objek di aliran irigasi Politeknik Negeri Lampung

3.4 Prosedur Kerja

Prosedur kerja dari praktikum mengenai debit air dilakukan langkah-


langkah kerja sebagai berikut: menentukan lokasi, mengukur panjang selokan
yang akan diukur kecepatannya, mengukur waktu yang digunakan untuk
menempuh jarak yang telah di tentukan, menetukan konstanta yang digunakan
dengan melihat keadaan dasar perairan, membentuk daerah yang akan di lalui
bola pimpong dengan menggunakan jarak yang telah ditentukan dan di data waktu
tempuh bola tersebut.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil

Di bawah ini didapatkan hasil perhitungan pengukuran debit air dengan


memakai metode antara lain:

Perhitungan:

Rumus yang digunakan:

Q=WDAL/T

Diket : L = 1,6 cm

A = 0,8

T = 17 detik

W = w1 + w2 + w3

= 1,5 + 1,72 + 1,8

= 1,65 m

D = D1 + D2 + D3

3
= 0,6 + 0,39+ 0,34

= 0,44 m

Penyelesaian : Q = W.D.A.L

= (1,65).( 0,44).(0,8).( 1,6)

17

= 0,05 m3/s

4.2. Pembahasan

Menurut Swingle (1968) waduk adalah suatu perairan tergenang dan


mempunyai tingkat kesuburan perairan yang dipengaruhi oleh partikel-partikel
baik dari luar maupun dari dalam. Waduk Faperika merupakan daerah genangan
air yang terbentuk karena pembendungan air sungai tadah hujan bukan alami.
Waduk sebagai salah satu perairan umum yang juga merupakan wilayah
perikanan yang perlu dikelola dengan baik agar keberadaaannya dapat
dimanfaatkan sebagaimana fungsinya.

Kedalaman menyatakan dimana letak dasar perairan, oleh karena itu


menjadi suatu hal yang harus diperhatikan dalam melakukan pengukuran debit air.
Semakin dalam perairan maka hasil pengamatan yang didapat jauh dari faktor arus
berbentuk-bentuk (meander) atau arus turbulen. Kedalaman perairan adalah jarak
vertical dari permukaan sampai ke dasar perairan yang biasanya dinyatakan dalam
meter (Ghalib, 1996).
Emboys Float Method

Yang menghitung debit air dengan rumus:

Q = WDAL/T

Keterangan :
Q : Debit air
W : Rata-rata lebar (m)
D : Rata-rata kedalaman (m)
A : Konstanta perairan
L : Jarak yang ditempuh pelampung (m)
T : Waktu (detik)
V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Waduk Faperika


merupakan daerah genangan air yang terbentuk karena pembendungan air sungai
tadah hujan bukan alami. Waduk sebagai salah satu perairan umum yang juga
merupakan wilayah perikanan yang perlu dikelola dengan baik agar
keberadaaannya dapat dimanfaatkan sebagaimana fungsinya. Debit air adalah
jumlah air yang mengalir dalam suatu penampang tertentu (sungai / saluran / mata
air). Pegukuran Debit Air dapat digunakan dengan Emboys Float Method dengam
rumus Q = WDAL / T dan Rectangular Weir dengan rumus Q = 3,33 x H 3/2 (L
0,2 H).

5.2. Saran

Dari praktikum yang telah dilaksanakan hendaknya data yang di ambil


dalam pengukuran haruslah secara sempurna. Selain itu sebelum melakukan
praktikum para praktikan sebaiknya sudah menguasai bahan-bahan materi yang
akan dipraktikumkan sehingga memudahkan untuk pemahamannya. Bimbingan
dari asisten juga sangat diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA

.
Carlo, N., 2001. Efek Pengudaraan terhadap Kualitas Air Waduk Tropika. Jurnal
Lembaga PenelitianUniversitas Gadjah Mada Yogyakarta. 3 (1): 1 7.
Dahril, T., 1998. Reformasi di Bidang Perikanan Menuju Perikanan Indonesia
Yang Tangguh Abad ke-21, hal 25-34. Dalam Feliatra (editor) Strategi
Pembangunan Perikanan dan Kelautan Nasional Dalam Meningkatkan
Devisa Negara. Universitas Riau Press, Pekanbaru.
Ilyas. S, H. Atmadja, S.K. Endi, P. Kunto dan S. Sisi, 1989. Petunjuk Teknis
Pengelolaan Perairan Waduk bagi Pembangunan Perikanan. Dirjen
Perikanan, Jakarta. 19 hal.
Sihotang, C., 1989. Limnologi I. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Riau. Pekanbaru. 33 hal.
Siska. M, 2002. Distribusi Ikan Kapiek (Barbodes schwanefeldi Blkr) di Waduk
PLTA Koto Panjang Provinsi Riau dan Propinsi Sumatera Barat. Skripsi
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru, 48
hal.
Wardoyo, S. T. 1981. Kriteria Kualitas Air untuk Keperluan Pertanian dan
Perikanan. Trainning Analisa Dampak lingkungan PDLH-UNDP-PUSDI-
PSL dan IPB Bogor 40 hal