Anda di halaman 1dari 59

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA KLIEN YANG

MENGALAMI HIPERTENSI DENGAN NYERI AKUT DI WILAYAH


KERJA PUSKESMAS GADING REJO TAHUN 2017

OLEH :
IHSAN KURNIAWANSAH
144012014018

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)


MUHAMMADIYAH PRINGSEWU-LAMPUNG
PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) adalah suatu bidang

dalam keperawatan kesehatan yang merupakan perpaduan antara

keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif

masyarakat yang mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara

berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif

secara menyeluruh dan terpadu. Pelayanan tersebut ditujukan pada

individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat, sebagai satu kesatuan yang

utuh, melalui proses keperawatan untuk meningkatkan fungsi kehidupan

manusia secara optimal sehingga dapat mandiri dalam upaya kesehatannya

(Depkes, 2006, Dalam makhfudli. F. 2009).

Keluarga adalah kelompok orang yang mempunyai ikatan perkawinan,

keturunan/hubungan sedarah atau hasil adopsi, anggota tinggal bersama

dalam satu rumah, anggota berinteraksi dan berkomunikasi dalam peran

sosial, serta mempunyai kebiasaan / kebudayaan yang berasal dari

masyarakat, tetapi mempunyai keunikan tersendiri (Bergess, 1962, Dalam

Mubarak dkk, 2011).

Keluarga memberikan keperawatan kesehatan yang bersifat preventif dan

secara bersama-sama merawat anggota keluarga yang sakit. Lebih jauh

lagi keluarga mempunyai tanggung jawab utama untuk memulai dan

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


mengoordinasikan pelayanan yang di berikan oleh para profesional,

perawatan. Keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan, dan

memelihara kesehatan. Keluarga melakukan praktik asuhan kesehatan

untuk mencegah terjadinya gangguan atau merawat anggota yang sakit.

Keluarga haruslah mampu untuk menentukan kapan meminta pertolongan

kepada tenaga profesional ketika salah satu anggota nya mengalami

gangguan kesehatan (Mubarak dkk, 2011).

Untuk mewujudkan suatu keadaan sehat di dalam keluarga, keluarga

dijadikan sebagai unit pelayanan karena masalah kesehatan keluarga saling

berkaitan dan saling mempengaruhi antara sesama anggota keluarga,

khususnya dari kesembuhan anggota keluarga yang sakit sebagai contoh

kasus hypertensi, di dalam satu keluarga,anggota keluarga yang lain harus

mampu merawat anggota keluarga dengan cara memberikan obat

tradisional dengan daun salam dan menghindari makanan yang tinggi

kolesterol, garam, dan menghindari stress (Ellyzabeth, M Doengoes.

2012).

Hipertensi adalah sebagai peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya

140 mmHg atau tekanan diastolik sedikitnya 90 mmHg. Hipertensi tidak

hanya beresiko tinggi menderita penyakit jantung, tetapi juga menderita

penyakit lain seperti penyakit saraf, ginjal, dan pembuluh darah dan makin

tinggi tekanan darah maka makin besar resikonya (Sylvia A.Price, Dalam

Nurarif dan Kusuma, 2015)

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


Hipertensi yang tidak tertangani akan menyebabkan terjadi stroke maupun

iskemik miokard yang dapat menyebabkan seseorang meninggal

dunia.Menurut World Health Organiaztion (WHO) prevalensi hipertensi

sebesar 35-40 % (Pacific Rim International Journal Of Nursing Research,

2013).

Sedangkan menurut Riskesdas (2013), prevalensi hipertensi di indonesia

yang didapat melalui pengukuran 18 tahun sebesar 25,8%. Berdasarkan

data dari puskesmas gading rejo hipertensi menepati urutan ke-4 dengan

jumlah penderita 2.166 jiwa dengan jumlah penderita laki-laki 815 dan

penderita wanita berjumlah 1.351 jiwa (Puskesmas Gading Rejo, 2017).

Berdasrkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan asuhan

keperawatan keluarga pada klien yang mengalami hipetensi dengan nyeri

akut, di wilayah kerja Puskesmas Gading Rejo tahun 2017

B. Batasan Masalah

Masalah pada studi kasus ini dibatasi pada asuhan keperawatan keluarga

yang mengalami hipertensi dengan masalah keperawatan nyeri di

Puskesmas Gading Rejo.

C. Rumusan Masalah

Bagaimanakah pada study kasus ini dibatasi pada asuhan keperawatan

keluarga yang mengalami hipertensi dengan masalah keperawatan nyeri di

Puskesmas Gading Rejo.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


D. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Untuk melaksanakan asuhan keperawatan keluarga yang mengalami

hipertensi dengan masalah keperawatan nyeri di Puskesmas Gading

Rejo.

2. Tujuan Khusus

a. Melakukan pengkajian keperawatan keluarga yang mengalami

hipertensi dengan masalah keperawatan nyeri di Puskesmas

Gading Rejo.

b. Menetapkan diagnosis asuhan keperawatan keluarga yang

mengalami hipertensi dengan masalah keperawatan nyeri di

Puskesmas Gading Rejo.

c. Menyusun perencanaan asuhan keperawatan keluarga yang

mengalami hipertensi dengan masalah keperawatan nyeri di

Puskesmas Gading Rejo.

d. Melaksanakan tindakan asuhan keperawatan keluarga yang

mengalami hipertensi dengan masalah keperawatan nyeri di

Puskesmas Gading Rejo.

e. Melakukan evaluasi asuhan keperawatan keluarga yang mengalami

hipertensi dengan masalah keperawatan nyeri di Puskesmas

Gading Rejo.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


E. Manfaat Penulisan

1. Manfaat Teoritis

Proposal ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai Hipertensi

pada masyarakat umum sehingga masyarakat dapat lebih waspada

terhadap penyebab dan faktor resiko yang berhubungan dengan penyakit

ini sehingga dapat mencegah terjadinya Hipertensi.

2. Manfaat praktis

a. Bagi Perawat atau Profesi

Sebagai bahan masukan bagi tenaga kesehatan khususnya tenaga

perawat dalam rangka meningkatkan mutu pemberian asuhan

keperawatan.

c. Bagi instansi Pendidikan

Sebagai bahan acuan bagi pengembangan kurikulum pendidikan

kesehatan agar pendidikan senantiasa peka terhadap kenyataan yang

ada di lapangan.

d. Bagi klien

keluarga dapat menerapkan intervensi pada klien yang mengalami

hipertensi dengan nyeri.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Dasar Keluarga

1. Pengertian Keluraga

a. Menurut DepKes RI (1998)

Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat yang terdiri

atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan

tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaa saling

ketergantungan (Mubarak dkk, 2011).

b. Menurut Baylon dan Maglaya (1998)

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu

rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau

adopsi. Mereka saling berinteraksi satu dengan yang lain,

mempunyai peran masing masing, dan menciptakan serta

mempertahankan suatu budaya. (Mubarak dkk, 2011).

2. Struktur Keluarga

a. Ciri ciri struktur keluarga

1. Terorganisasi

Saling berhubungan, saling ketergantungan antar anggota keluarga.

2. Keterbatasan

Setiap anggota memiliki kebebasan, tetapi mereka juga mempunyai

keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


3. Ada perbedaan dan kekhususan

Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing

masing(Padila, 2012)

b. Struktur keluarga

1. Dominasi jalur hubungan darah

a.) Patrilinear

Keluarga yang berhubungan atau disusun melalui jalur garis

keturunan ayah.

b.) Matrilineal

Keluarga yang dihubungkan atau disusun melalui jalur garis

keturunan ibu.

2. Dominasi keberadaan tempat tinggal

a.) Patrilokal

Keberadaan tempat tinggal satu keluarga dengan sedarah dari

pihak suami.

b.) Matrilokal

Keberadaan tempat tinggal satu keluarga dengan sedarah dari

pihak istri.

3. Dominasi pengambilan keputusan

a.) Patriakal

Dominasi pengambilan keputusan ada di pihak suami.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


b.) Matriakal

Dominasi pengambilan keputusan dari pihak istri (Effendi, dkk,

2009)

3. Bentuk Bentuk Keluarga

1. Keluarga tradisional

a. Keluarga inti, yaitu terdiri dari suami, istri dan anak. Biasanya

keluarga yang melakukan perkawinan pertama atau keluarga

dengan orang tua perempuan atau orang tua istri.

b. Pasangan istri, terdiri dari suami dan istri saja tanpa anak, atau

tidak ada anak yang tinggal bersama mereka. Biasanya keluarga

dengan karier tunggal atau karier keduanya.

c. Keluarga dengan orang tua tunggal, biasanya sebagai

konsekuensi dari perceraian.

d. Bujangan dewasa sendirian.

e. Keluarga besar, terdiri keluarga inti dan orang orang yang

berhubungan.

f. Pasangan usia lanjut, keluarga inti dimana suami istri sudah tua

anak-anaknya sudah berpisah.

2. Keluarga non tradisional

a. Keluarga dengan orang tua beranak tanpa menikah, biasanya ibu

dan anak.

b. Pasangan tidak memiliki anak tapi tidak menikah,didasarkan

pada hukum tertentu.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


c. Pasangan kumpul kebo, kumpul bersama tanpa menikah.

d. Keluarga gay atau lesbian, orang orang berjenis kelamin yang

sama hidup bersama sebagai pasangan yang menikah.

e. Keluarg komuni, keluarga terdiri dari lebih dari satu pasangan

monogamy dengan anak-anak secara bersama menggunakan

fasilitas, sumber yang sama (Padila, 2012 ).

4. Fungsi dan peran keluarga

a. Fungsi keluarga menurut (Friedman, 1999, Dalam Sudiharto,

2007)

1. Fungsi afektif, adalah fungsi internal keluarga untuk

pemenuhan kebutuhan psikososial, saling mengasuh dan

memberikan cinta kasih, serta saling menerima dan

mendukung.

2. Fungsi sosialisasi, adalah proses perkembangan dan

perubahan individu keluarga,tempat anggota keluarga

berinteraksi sosial dan belajar berperan dilingkungan sosial

3. Fungsi reproduksi, adalah fungsi keluarga meneruskan

kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya

manusia.

4. Fungsi ekonomi, adalah fungsi keluarga untuk memenuhi

kebutuhan keluarga, seperti sandang, pangan, papan.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


5. Fungsi perawatan kesehatan, adalah kemampuan keluarga

untuk merawat anggota keluarga yang mengalami masalah

kesehatan (Sudiharto, 2007).

b. Peran formal dalam keluarga

1) Peran sebagai ayah

Ayah sebagai suami dari istri dan ayah dari anak- anaknya

berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan

pemberi rasa aman. Juga sebagai kepala keluarga, anggota

kelompok sosial, serta anggota masyarakat dan lingkungan.

2) Peran sebagai ibu

Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya berperan untuk

mengurus rumah tangga sebagai pengasuh dan pendidik anak-

anaknya, pelindung dan salah satu anggota kelompok sosial,

serta sebagai anggota masyarakat dan lingkungan, disamping

dapat berperan pula sebagai pencari nafkah tambahan keluarga.

3) Peran sebagai anak

Anak melaksanakan peran psikososial sesuai dengan tingkat

perkembangannya, baik fisik, mental, sosial, dan spiritual

(Makhfudli. F . 2009).

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


c. Lima fungsi keluarga

1) Mengenal masalah keseharan keluarga

Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh

diabaikan, karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan

berarti. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan

perubahan-perubahan yang dialami oleh anggota keluarganya.

2) Membuat keputusan tindakan kesehatan yang tepat

Tugas ini merupakan upaya utama keluarga untuk mencari

pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan

pertimbangan siapa diantara anggota keluarga yang mempunyai

kemampuan memutuskan sebuah tindakan.

3) Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit

Sering kali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat,tetapi

jika keluarga masih merasa mengalami keterbatasan, maka

anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu

memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah

yang lebih parah tidak terjadi.

4) Mempertahankan suasana rumah yang sehat

Rumah merupakan tempat berteduh, berlindung, dan

bersoisalisai bagi anggota keluarga. Sehingga anggota keluarga

akan memiliki waktu lebih banyak berhubunga dengan

lingkungan tempat tinggal.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


Oleh karena itu kondisi rumah haruslah dapat menjadikan

lambang ketenangan, keindahan, ketentraman, dan dapat

menunjang derajat kesehatan bagi anggota keluarga.

5) Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat

Apabila mengalami masalah berkaitan dengan kesehatan

keluarga atau anggota keluarga harus dapat memanfaatkan

fasiltas kesehatan yang ada disekitarnya. Keluarga dapat

berkonsultasi meminta bantuan tenaga keperawatan untuk

memecahkan masalah yang dialami anggota keluarganya,

sehingga keluarga dapat bebas dari segala macam penyakit

(Mubarak, dkk, 2011).

d. Tahap Perkembangan Keluarga

Perkembangan keluarga adalah proses perubahan yang terjadi pada

sistem keluarga. Perkembangan keluarga meliputi perubahan pola

interaksi dan hubungan antara anggotanya disepanjang waktu.

Siklus perkembangan keluarga merupakan komponen kunci dalam

setiap kerangka kerja yang memandang keluarga sebagai sesuatu

sistem. Perkembangan ini terbagi menjadi beberapa tahap atau

kurun waktu tertentu (Mubarak, dkk, 2011).

1. Tahap I pasangan baru atau keluarga baru (berginning family)

Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain :

a. Membina hubungan intim dan kepuasan bersama.

b. Menetapkan tujuan bersama .

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


c. Membina hubungan dengan keluarga lain, teman, dan

kelompok sosial.

d. Merencanakan anak (KB).

e. Menyesuaikan diri dengan kehamilan dan mempersiapkan

diri untuk menjadi orang tua.

2. Tahap II keluarga dengan kelahiran anak pertama (child bearing

family).

Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari kehamilan

sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak

pertama berusia 30 bulan (2,5 tahun).

Tugas perkembangan pada masa ini antara lain:

a. Persiapan menjadi orang tua.

b. Membagi peran dan tanggung jawab.

c. Menata ruang untuk anak atau mengembangkan suasana

rumah yang menyenangkan.

d. Mempersiapkan biaya atau dana child bearing.

e. Memfasilitasi role learning anggota keluarga.

f. Bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bayi sampai

balita.

g. Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


3. Tahap III keluarga dengan anak prasekolah (families with

preschool)

Tahap ini dimulai saat kelahiran anak berusia 2,5 tahun dan

berakhir saat anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangan

keluarga pada tahap ini antara lain sebagai berikut.

a. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti: kebutuhan

tempat tinggal, privasi, dan rasa aman.

b. Membantu anak untuk bersosialisasi.

c. Beradaptasi dengan anak yang baru lahir, sementara

kebutuhan anak yang lain juga harus terpenuhi.

d. Mempertahankan hubungan yang sehat, baik didalam

maupun diluar keluarga (keluarga lain dan lingkungan

sekitar)

e. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak (tahap

paling repot).

f. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

g. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tubuh dan kembang

anak.

4. Tahap IV keluarga dengan anak usia sekolah

(families with school children)

Tahap ini dimulai pada saat anak yang tertua memasuki sekolah

pada usia 6 tahun dan berakhir pada usia 12 tahun.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah.

a. Memberikan perhatian tentang kegiatan sosial anak,

pendidikan, dan semangat belajar.

b. Tetap mempertahankan hubungan yang harmonis dalam

perkawinan.

c. Mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya

intelektual.

d. Menyediakan aktivitas untuk anak.

e. Menyesuaikan pada aktifitas komunitas dengan

mengikutsertakan anak.

5. Tahap V keluarga dengan anak remaja (families with teenagers).

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan

biasanya berakhir sampai pada usia 19-20 tahun, pada saat anak

meninggalkan rumah orang tuanya.

Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini yaitu :

a. Memberikan kebebasan yang seimbang dengan tanggung

jawab mengingat remaja yang sudah bertambah dewasa dan

meningkat otonominya.

b. Mempertahankan hubungan yang intim denga keluarga.

c. Mempertahankan komunikasi terbuka antara anak dan

orang tua, hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.

d. Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh

kembang keluarga.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


6. Tahap VI keluarga dengan anak dewasa atau pelepasan

(launching center families) Tahap ini di mulai pada saat anak

terakhir meninggalkan rumah.

Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini diantara nya

adalah sebagai berikut:

a. Memperluas keluarga inti menjadi keluarg besar.

b. Mempertahankan keintiman pasangan.

c. Membantu orang tua suami atau istri yang sedang sakit dan

memasuki masa tua.

d. Mempersiapkan anak untuk hidup mandiri dan

menerimankepergian anaknya.

e. Menata kembali fasilitas dan sumber yang ada pada

keluarga.

f. Berperan suami istri, kakek dan nenek.

g. Menciptakan lingkungan rumah yang dapat menjadi contoh

bagi anak-anak nya.

7. Tahap VII keluarga usia pertengahan (midle age families)

Tahapan ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan

rumah dan berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan

meninggal.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain:

a. Mempertahankan kesehatan.

b. Mempunyai lebih banyak waktu dan kebebasan dalam arti

pengolah minat sosial dan waktu santai.

c. Memulikan hubungan antara generasi muda dengan

generasi tua.

d. Keakraban dengan pasangan.

e. Memelihara hubungan atau kontak dengan anak dan

keluarga.

f. Persiapan masa tua atau pensiun dan meningkatkan

keakraban pasangan

8. Tahap VIII keluarga usia lanjut

Tahap terakhir perkembangan keluarga dimulai pada saat satu

pasangan pensiun, berlanjut salah satu pasangan meninggal,

sampai keduanya meninggal.

Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini antara lain sebagai

berikut:

a. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.

b. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman,

kekuatan fisik, dan pendapatan.

c. Mempertahankan keakraban suami istri dan saling merawat.

d. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial

masyarakat.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


e. Melakukan file review.

f. Menerima kematian pasangan, kawan, dan mempersiapkan

kematian.(Mubarak, dkk, 2011).

e. Tahapan-tahapan keluarga sejahtera

1) Keluarga sejahtera

Adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya

secara minimal, yaitu kebutuhan pengajaran agama, pangan,sandang,

papan, dan kesehatan, atau keluarga yang belum dapat memenuhi

salah satu lebih indikator keluarga sejahtera tahap I.

2) Keluarga sejahtera tahap I

Keluarga sejahtera tahap I adalah keluarga yang telah dapat

memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat

memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya, kebutuhan psikologis

keluarga meliputi: kebutuhan pendidikan,keluarga berencana (KB),

interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat

tinggal, dan transportsi.

3) Keluarga sejahtera tahap II

Keluarga sejahtera tahap II adalah keluarga yang disampingtelah

dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal serta telah

dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya, tetapi belum dapat

memenuhi kebutuhan pengembangannya, seperti kebutuhan untuk

menabung dan memperoleh informasi.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


4) Keluarga sejahtera tahap III

Keluarga sejahtera tahap III adalah keluarga yang telah dapat

memenuhi seluruh kebutuhan dasar, sosial psikologis, dan

pengembangan keluarga nya, tetapi belum dapat memberikan

sumbangan (kontribusi) yang maksimal terhadap masyarakat secara

teratur (dalam waktu tertentu) dalam bentuk material, keuangan

untuk sosial, kemasyarakatan, dan belum berperan aktif dalam

kegiatan kemasyarakatan.

5) Keluarga sejahtera tahap III plus

Keluarga sejahtera tahap III plus adalah keluarga yang telah dapat

memenuhi seluruh kebutuhan dasar, sosial psikologis, dan

pengembangannya telah terpenuhi, serta memiliki kepedulian soisal

yang tinggi pada masyarakat. (Mubarak, dkk, 2011)

B. Konsep Penyakit Hipertensi

1. Pengertian

Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik dan diastolik dengan

konsisten diatas 140/90 mmHg. Diagnosis hipertensi tidak berdasarkan

pada peningkatan tekanan darah yang hanya sekali. Tekanan darah harus

diukur dalam posisi duduk dan berbaring. (Mary Baradero dkk, 2008).

Hipertensi yaitu kenaikan tekanan darah sistolik lebih dari 150 mmHg dan

tekanan darah diastolik lebih 90 mmHg. (Depkes, 2007, Dalam Sharif La

Ode, 2012).

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


Menurut Klabunde (2015), Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah

sistolik atau diastolik diatas nilai noarmal. Tekanan arteri disebut normal

jika tekanan sistolik kurang dari 120 mmHg (tapi lebih dari 90 mmHg)

dan tekanan diastolik kurang dari 80 mmHg (tapi lebih dari 60 mmHg).

2. Etiologi

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibedakan menjadi 2 golongan.

1. Hipertensi Primer (Esensial)

Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya.

Faktor yang mempengaruhinya yaitu : genetik, lingkungan,

hiperaktifitas saraf simpatis sistem renin. Angiotensin dan peningkatan

Na dan Ca intraseluler. Faktor-faktor yang minengkatakan resiko :

obesitas, merokok, alkohol dan polisitemia.

2. Hipertensi skunder

Penyebab yaitu penggunaan estrogen, penyakit ginjal,sindrom

cushing, dan hiupertensi yang berhubungan dengan kehamilan.

3. Manifestasi Klinis

a. Tidak ada gejala

Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan

peningkatan tekanan darah,selain penentuan tekanan arteri oleh

dokter yang memeriksa. hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan

pernah terfiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


b. Gejala yang lazim

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertaui hipertensi

meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini

merupaka gejala terlazim yang mengenai kebanyakan psien yang

mencari pertolongan medis.

Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu

a. Mengeluh sakit kepala, pusing

b. Lemas, kelelahan

c. Sesak nafas

d. Gelisah

e. Mual

f. Muntah

g. Epistaksis

h. Kesadaran menurun

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


3. Patofisiologi

Faktor Predisposisi : usia, jenis kelamin,


merokok, stress, kurang olahraga, genetic, Beban kerja jantung Aliran darah makin
alcohol, konsentrasi garam, obesitas cepat ke seluruh tubuh
sedangkan nutrisi dalam
sel sudah mencukupi
kebutuhan
Kerusakan vaskuler Hipertensi Tekanan sistemik
pembuluh darah darah

Metode koping tidak


efektif
Perubahan struktur Perubahan Situasi Krisis situasional

Penyumbatan Informasi yang Defisiensi Ketidakefektifan koping


pembuluh darah minim pengetahuan ansietas

vasokonstriksi Resistensi pembuluh Nyeri kepala Nyeri


darah otak

Resiko ketidakefektifan
Gangguan sirkulasi otak Suplai O2 ke otak perfusi jaringan otak

Ginjal retina Pembuluh darah

Vasokontriksi Spasme arteriol


pembuluh darah ginjal sistemik koroner

Blood flow darah Risiko cedera vasokonstriksi iskemia miokard

Respon RAA Penurunan Curah Jantung Afterload Nyeri

Merangsang aldosteron Kelebihan volume cairan Fatigue

Retensi Na Edema Intoleransi aktivitas

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


4. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium

- Hb/Ht : untuk mengkaji hubungan dari sel - sel terhadap

volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan faktor

resiko seperti hipokoagulabilitas, anemia.

- BUN/ kreatinin : memberikan informasi tentang

perfusi/fungsi ginjal

- Glukosa : hiperglikemi (DM adalah pencetus hipertensi)

dapat diakibatkan oleh pengeluaran kadar ketokolamin.

- Urinalisa : darah, protein, glukosa, mengisyaratkan disfungsi

ginjal dan ada DM

2. CT SCAN : mengkaji adanya tumor serebral, enselopati

3. EKG : dapat meunjukkan pola regangan, dimana luas,

peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit

jantung hipertensi.

4. IUP : mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: batu

ginjal, perbaikan ginjal.

5. Photo dada: menunjukan destruksi kalsifikasi pada area katup,

pembesaran jantung

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


5. Penatalaksanaan

a. Terapi tanpa obat

Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi

ringan dan sebagian tindakan supportif , pada hipertensi sedang

dan berat, terapi ini diantaranya :

1. Diet

a. Retriksi garam secara moderat dari 10 gr/hari menjadi 5

gr/hari

b. Diet kolesterol dan rendah asam lemak jenuh.

c. Penurunan berat badan.

d. Berhenti merokok.

2. Latihan fisik

Latihan fisik atau olahraga yang teratur sanagat baik dan di

anjurkan untuk penderita hipertensi.

3. Tehnik relaksasi.

4. Pendidikan kesehatan (Penkes).

C. Nyeri akut

1. Definisi

Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan

kerusakan jaringan aktual atau fungsional, dengan onset mendadak

atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat yang berlangsung

kurang dari 3 bulan. (Tim Pokja PPNI, 2017)

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


2. Penyebab

a. Agen pencedera fisiologis (mis. Inflamasi, iskemia,

neoplasma).

b. Agen pencedera kimiawi (mis. Terbakar, bahan kimia iritan).

c. Agen pencedera fisik (mis. Abses, amputasi, terbakar,

terpotong, mengangkat berat, prosedur operasi, trauma, latihan

fisik berlebihan).

(Tim Pokja PPNI, 2017)

3. Gejala dan tanda mayor

a. Subjektif

1. Mengeluh nyeri

b. Objektif

1. Tampak meringis.

2. Bersikap protektif (mis, waspada , posisi menghindari

nyeri).

3. Gelisah.

4. Frekuensi nadi meningkat.

5. Sulit tidur.

(Tim Pokja PPNI, 2017)

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


4. Gejala dan tanda minor

a. Subjektif

(tidak ada)

b. Objektif

1. Tekanan darah meningkat.

2. Pola napas berubah.

3. Nafsu makan berubah.

4. Proses berfikir terganggu.

5. Menarik diri.

6. Berfokus pada diri sendiri.

7. Diaforesis.

(Tim Pokja PPNI, 2017)

5. Cara Ukur Skala Nyeri

(Sumber : http://ivan-atjeh.blogspot.co.id)

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


D. Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Hipertensi

1. Pengkajian Asuhan Keperawatan

a. Definisi pengkajian

Pengkajian merupakan salah satu tahapan ketika seorang perawat

mengumpulkan informasi secara terus menerus tentang keluarga yang

dibinanya. Pengkajian meliputi :

Data pengenal keluarga, riwayat dan tahap perkembangan keluarga,

data lingkungan, struktur keluarga, fungsi keluarga, koping keluarga.

b. Tahapan tahapan pengkajian

Penjajakan 1 data yang di dapatkan pada fase satu adalah :

1) Data pengenal kepala keluarga

2) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga

3) Data lingkungan

4) Struktur keluarga hingga pemeriksaan fisik

Penjajakan 2

Penjajakan 2 diantaranya pengumpulan data yang berhubungan

dengan ketidak mampuan keluarga dalam menghadapi masalah

kesehatan sehingga dapat di tegakkan diagnosa keperawatan

a. Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah.

b. Ketidak mampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat.

c. Ketidak mampuab keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

d. Ketidak mampuan keluarga memodifikasi lingkungan.

e. Ketidak mampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


2. Analisa Data

Definisi analisa data adalah kegiatan memilih data dalam rangka

klasifikasi dan falidasi informasi untuk mendukung penegakan diagnosa,

menghubungkan antara penyebab dan masalah.

3. Diagnosa Keperawatan

Merupakan kumpulan dari pernyataan, uraian dari hasil waancara

- Struktur diagnosa keperawatan

Problem/masalah, etiologi/penyebab, dan tanda gejala.

- Tipe diagnosa keperawatan

Actual, resiko, potensial.

- Menetapkan etiologi.

Menetapkan etiologi diangkat dari 5 tugas keluarga.

(1) Ketidak mampuan keluarga mengenal masalah

(2) Ketidak mampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat.

(3) Ketidak mampuab keluarga merawat anggota keluarga yang sakit.

(4) Ketidak mampuan keluarga memodifikasi lingkungan.

(5) Ketidak mampuan keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan.

4. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada kasus hipertensi

- Resiko tinggi penurunan curah jantung.

- Intoleransi aktifitas.

- Nyeri akut

- Perubaha nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


- Koping individu tidak efektif.

- Kurang pengetahuan

5. Skoring/Prioritas Masalah

a. Kriteria penelitian

No Kriteria Bobot Pembenaran


1 Sifat Masalah Pembenaran memicu pada tanda
- Actual 3 dan gejala yang sedang terjadi.
- Resiko 2
- Potensial 1
2 Kemungkinan maslah Pembenaran memicu pada
untuk diubah memaksimalkan pola kebiasaan
- Mudah 2 keluarga.
- Sebagian 1
- Tidak dapat 0
3 Potensial maslah untuk Pe,mbenaran memicu pada
dicegah penangana pertama pada
- Tinggi 3 keluarga untuk salah satu
- Rendah 2 anggota keluarga.
- Cukup 1
4 Menonjolnya masalah Pembenaran memicu pada
- Masalah segera 2 segera ditanganinya keluhan-
diatasi keluhan yang dirasakan.
- Masalah tidak segera 1
diatasi
- Masalah tidak 0
dirasakan

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


6. Intervensi

a. Rencana yang ditentukan harus sesuai dengan pemecahan masalah

b. Rencana tidak dapat dilakukan mandiri oleh keluarga

c. Rencana yang dibuat sesuai dengan masalah yang dialami

1. Resiko tinggi penurunan curah jantung.

2. Intoleransi aktifitas.

3. Nyeri akut

4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.

5. Koping individu tidak efektif.

6. Kurang pengetahuan

7. Hambatan Intervensi

a. Kurang nya informasi

b. Perbedaan informasi yang di dapat

c. Keluarga tidak mampu menghadapi situasi

d. Penerimaan informasi tidak maksimal

e. Kurangnya percaya pada tindakan yang diusulkan

8. Implementasi

a. Implementasi merupakan aktualisasi dari perencanaan yang telah di

susun.

b. Implementasi mengacu kepada intervensi yang dibuat.

c. Kekuatan keluarga, misalnya finansial.

d. Mendokumentasikan implementasi yang telah dilakukan dan tanda

tangan untuk perawat yang bertanggung jawab.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


9. Evaluasi

a. Evaluasi adalah tahapan akhir dari proses keperaawatan keluarga,

evaluasi merupakan yang menentukan apakah tujuan keperawatan

dapat tercapai, sesuai yang di tetapkan dalam tujuan rencana

keperawatan.

b. Criteria dan standar

Memberikan gambaran tentang faktor yang tidak tepat memberikan

petunjuk bahwa tujuan telah tercapai.

c. Metode evaluasi

1. Observasi langsung

2. Memberikan laporan atau dokumentasi

3. Wawancara/angket

4. Latihan stimulasi

d. Catatan perkembangan

Merupakan indikator keberhasilan dari tindakan keperawatan yang

telah diberikan, evaluasi berdasarkan SOAP.

1) Subjektif

Pernyataan atau uraian keluarga klien atau sumberlain tentang

perubahan yang dirasakan pasien baik kemajuan atau

kemunduran.

2) Objektif

Data yang bisa diamati dan di ukur melalui tehnik observasi,

palpasi, dan auskultasi, sehingga dapat dilihat kemajuan atau

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


kemunduran pada sasaran perawatan sebelum dan setelah

diberikan tindakan keperawatan

3) Analisa

Pernyataan yang menunjukkan sejauh mana masalah

keperawatan dapat di tangani

4) Planning

Rencana yang ada dalam catatan perkembangan merupakan

rencana tindakan hasil evaluasi tentang dilanjutkan atau tidak

rencana tersebut.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian adalah model atau yang digunakan peneliti untuk

melakukan suatu penelitian yang memberikan arah terhadap jalannya

penelitian. (Dharma, 2011 hal.72)

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, yaitu studi

yang mengeksplorasi suatu masalah/fenomena dengan batasan terperinci,

memiliki pengambilan data yang mendalam dan menyertakan berbagai

sumber informasi.

Studi kasus ini adalah studi untuk mengeksplorasi masalah Asuhan

Keperawatan Keluarga pada anggota keluarga yang mengalami Hipertensi

dengan Nyeri akut di Puskesmas Gading Rejo.

B. Batasan Istilah

Asuhan Keperawatan Keluaraga pada anggota keluarga yang mengalami

Hipertensi dengan Nyeri akut di Puskesmas Gading Rejo.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


Variabel Batasan Istilah Cara Ukur

Hipertensi Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah Obsevasi ,


sistolik atau diastolik diatas nilai noarmal. wawancara,
Tekanan arteri disebut normal jika tekanan pemeriksaan
sistolik kurang dari 120 mmHg (tapi lebih dari 90 tanda-tanda vital
mmHg) dan tekanan diastolik kurang dari 80
mmHg (tapi lebih dari 60 mmHg).
Nyeri akut Perasaan yang tidak nyaman yang sangat subjektif Observasi
dan hanya orang yang mengalaminya yang dapat wawancara
menjelaskan dan mengevaluasi perasaan, ditandai pemeriksaan
dengan peningkatan tegangan otot dan kecemasan fisik.
yang keduanya meningkatkan persepsi nyeri,
biasanya nyeri hilang timbul.

C. Partisipan

Subyek yang digunakan adalah 2 klien atau 2 keluarga (2 kasus) dengan

masalah keperawatan dan diagnosis medis yang sama yaitu gastritis dengan

nyeri.

D. Lokasi dan Waktu Penelitian

Studi kasus ini dilakukan di Puskesmas Gading rejo yang akan dilakukan

tindakan selama 2 minggu dengan jumlah kunjungan minimal 4 kali selama

masa perawatan.

E. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu:

1. Wawancara (hasil anamnesis berisi tentang identitas klien, keluhan

utama, riwayat penyakit sekarang dahulu keluarga). Sumber data dari

klien, keluarga, dan perawat.

2. Observasi dan Pemeriksaan fisik (dengan pendekatan IPPA: inspeksi,

palpasi, perkusi, auskultasi) pada sistem tubuh klien.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


3. Studi dokumentasi dan angket (hasil dari pemeriksaan diagnostik dan data

lainnya yang relevan).

F. Analisis Data

Definisi analisa data:

1. Analisa data merupakan kegiatan pemilihan data dalam rangka proses

klarifikasi dan falidasi informasi untuk mendukung penegakkan diagnosa

keperawatan keluarga yang akurat.

2. Review data yang dapat menghubungkan antara penyebab dan masalah

yang ditegakkan.

3. Menghubungkan data dari pengkajian yang berpengaruh kepada

munculnya suatu masalah.

(Setiawati & Dermawan, 2008)

Urutan dalam analisis data adalah:

1. Pengumpulan data

Data dikumpulkan dari hasil WOD (wawancara, observasi, dokumen).

Hasil ditulis dalam bentuk cacatan lapangan, kemudian disalin dalam

bentuk transkip (catatan terstruktur)

2. Mereduksi data

Data hasil wawancara yang terkumpul dalam bentuk catatan lapangan

dijadikan satu dalam bentuk transkip dan dikelompokkan menjadi data

subyektif dan objektif, dianalisis berdasarkan hasil pemeriksaan

diagnostic kemudian dibandingkan.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


3. Penyajian data

Penyajian data dapat dilakukan dengan tabel, gambar, bagan maupun teks

naratif. Kerahasiaan dari klien dijamin dengan jalan mengaburkan

identitas dari klien.

4. Kesimpulan

Dari data yang disajikan, kemudian data dibahas dan dibandingkan

dengan hasil-hasil penelitian terdahulu dan secara teoritis dengan perilaku

kesehatan. Penarikkan kesimpulan dilakukan dengan metode induksi.

Data yang dikumpulkan terkait dengan data pengkajian, diagnosis,

perencanaan, tindakan, dan evaluasi.

G. Etik Penelitian

Etika yang mendasari penyusunan studi kasus, terdiri dari:

1. Informed Consent (persetujuan menjadi klien) yaitu persetujuan untuk

berpatisipasi sebagai subyek penelitian setelah mendapatkan

penjelasan yang lengkap dan terbuka dari peneliti tentang keseluruhan

pelaksanaan penelitian.

Penelitian melakukan beberapa hal yang berhubungan dengan

informed consent antara lain:

A. Mempersiapkan formulir persetujuan yang akan ditanda tangani

oleh subyek penelitian. Isi formulir informed consent mencangkup:

1) Penjelasan tentang judul penelitian, tujuan dan manfaat

penelitian

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


2) Permintaan kepada subyek untuk berpartisipasi dalam

penelitian

3) Penjelasan prosedur penelitian

4) Gambaran tentang resiko dan ketidaknyamanan selama

penelitian

5) Penjelasan tentang keuntungan yang didapat dengan

berpartisipasi sebagai subyek penelitian

6) Penjelasan tentang jaminan kerahasiaan dan anonimitas

7) Hak untuk mengundurkan diri dari keikutsertaan sebagai

subyek penelitian, kapanpun sesuai dengan keinginan subyek

8) Persetujuan peneliti untuk memberikan informasi yang jujur

terkait dengan prosedur penelitian

9) Pernyataan persetujuan dari subyek untuk ikut serta dalam

penelitian

B. Memberikan penjelasan langsung kepada subyek mencakup seluruh

penjelasan yang ditulis dalam formulir informed consent dan

penjelasan lain yang diperlukan untuk memperjelas subyek tentang

pelaksanaan penelitian

C. Memberikan kesempatan kepada subyek untuk bertanya tentang

aspek-aspek yang belum dipahami dari penjelasan peneliti dan

menjawab seluruh pertanyaan subyek dengan terbuka

D. Meberikan waktu yang cukup kepada subyek untuk menentukan

pilihan mengikuti atau menolak ikut serta sebagai subyek penelitian

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


E. Meminta subyek untuk menandatangani formulir informed consent

jika ia menyetujui ikut serta dalam penelitian.

(Dharma, 2011 hal.236)

2. Anonymity (tanpa nama)

Peneliti tidak akan menampilkan informasi mengenai nama dan

alamat asal responden dalam kuesioner maupun alat ukur apapun

untuk menjaga anonimitas dan kerahasiaan identitas subyek. Oleh

karena itu, peneliti menggunakan koding responden. (Dharma, 2011

hal.354)

3. Confidentiality (kerahasiaan)

Manusia sebagai subyek penelitian memiliki privasi dan hak asasi

untuk mendapatkan kerahasiaan informasi. Namun tidak bias

dipungkiri bahwa penelitian menyebabkan keterbukanya informasi

tentang subyek. Sehingga peneliti perlu merahasiakan berbagai

informasi yang menyangkut privasi subyek yang tidak ingin identitas

dan segala informasi tentang dirinya diketahui oleh orang lain. Prinsip

ini dapat diterapkan dengan cara meniadakan identitas seperti nama

dan alamat subyek kemudian diganti dengan kode tertentu. Dengan

demikian segala informasi yang menyangkut identitas subyek tidak

terekspos secara luas. (Dharma, 2011 hal.239)

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Gambaran lokasi pengambilan data

Untuk lokasi pengambilan data penelitian Karya Tulis Ilmiah yaitu di

Wilayah kerja Puskesmas Gading Rejo Kabupaten Pringsewu.

Klien 1 Klien 2

Lokasi rumah klien 1 yaitu berada di Lokasi rumah klien 1 yaitu berada di
wilayah kerja Puskesmas Gading Rejo wilayah kerja Puskesmas Gading Rejo
Kabupaten Pringsewu , tepat nya di desa Kabupaten Pringsewu , tepat nya di desa
Krandegan, Gading Rejo Timur. Kondisi Krandegan, Gading Rejo Timur. Kondisi
rumah klien baik secara fisik dan situasi. rumah klien baik secara fisik dan situasi.
tetapi rumah klien berada tidak jauh dari tetapi rumah klien berada tidak jauh dari
jalan raya. Sehingga suara kendaraan jalan raya. Sehingga suara kendaraan
terdengar dengan jelas dari rumah klien terdengar dengan jelas dari rumah klien

2. Pengkajian

1) Identitas kilen

IDENTITAS KLIEN Klien 1 Klien 2

- Nama - Ny. P - Ny. J


- Umur - 80 tahun - 65 tahun
- Agama - Islam - Islam
- Jenis kelamin - Perempuan - Perempuan
- Pendidikan - Sd - Sd
- Pekerjaan - IRT - IRT
- Alamat - Desa Krandegan, - Desa Krandegan,
Gading Rejo Timur Gading Rejo Timur
- Status perkawinan - Janda - Menikah
- Dx Medis - Hipertensi - Hipertensi

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


2) Riwayat Penyakit

Riwayat Penyakit Klien 1 Klien 2


- Keluhan utama - Nyeri - Nyeri
- Riwayat penyakit - Klien menderita hipertensi - Klien menderita hipertensi
sekarang - Klien mengatakan pernah - Klien mengatakan pernah
- Riwayat penyakit mengalami flu dan batuk mengalami flu dan batuk
dahulu yang disertai pusing kepala. yang di sertai pusing
kepala.

- Riwayat keluarga (5 - Keluarga mampu mengenal - Keluarga mampu mengenal


fungsi keluarga) masalah : Keluarga Ny. S masalah : Keluarga Ny. j
mengatakan mengetahui mengatakan tidak
tentang masalah kesehatan mengetahui tentang
yang terjadi di dalam masalah kesehatan yang
keluarganya. terjadi di dalam
keluarganya

- Keluarga mampu - Keluarga tidak mampu


mengambl keputusan : mengambl keputusan :
Keluarga Ny. S tahu Keluarga Ny. j tidak tahu
dampak penyakit yang akan dampak penyakit yang akan
terjadi jika tidak cepat terjadi jika tidak cepat
ditangani, yaitu akan terjadi ditangani, yaitu akan terjadi
nya resiko stroke dan nya resiko stroke dan
serangan jantung. serangan jantung.

- Keluarga belum mampu - Keluarga belum mampu


merawat anggota keluarga merawat anggota : Ny. j
yang sakit : Ny. S mengatakan belum
mengatakan belum mengetahui cara merawat
mengetahui cara merawat anggota keluarga yang
anggota keluarga yang sakit, belum tahu sifat,
sakit, belum tahu sifat, penyebaran, dan akibat
penyebaran, dan akibat yang akan ditimbulkan
yang akan ditimbulkan tetapi keluarga selalu
tetapikeluaga selalu berupaya mengobati untuk

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


berupaya mengobati untuk kesembuhan penyakit yang
kesembuhan penyakit yang di derita anggota keluarga.
di derita anggota keluarga.

- -Keluarga mampu - Keluarga mampu


memodifikasi lingkungan : memodifikasi lingkungan :
Ny. S mengatakan selalu Ny. j mengatakan selalu
menyapu rumahnya dan menyapu rumahnya tetapi
bisa memanfaatkan dan belum bisa memanfaatkan
memodifikasi lingkungan dan memodifikasi
yang ada di sekitar rumah lingkungan yang ada di
dan keluarga belum sekitar rumah dan keluarga
mengetahui tentang upaya belum mengetahui tentang
preventive pencegahan upaya preventive
penyakit. pencegahan penyakit.

- Keluarga mampu - Keluarga mampu


memanfaatkan faasilitas memanfaatkan faasilitas
kesehatan : Keluaraga Ny. kesehatan : Keluaraga Ny. j
S mengetahui fasilitas mengetahui fasilitas
pelayanan kesehatan yang pelayanan kesehatan yang
ada di sekitar, seperti ada di sekitar, seperti
:Dokter, bidan, dan :Dokter, bidan, dan
puskesmas. Keluarga puskesmas. Keluarga
mampu menyebutkan mampu menyebutkan
manfaat berkunjung ke manfaat berkunjung ke
pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan,
keluarga mengatakan tidak keluarga mengatakan tidak
ada pengalaman yang ada pengalaman yang
kurang baik dengan kurang baik dengan
pelayanan kesehatan, pelayanan kesehatan,
keluarga mengatakan keluarga mengatakan
pelayanan kesehatan yang pelayanan kesehatan yang
terdekat dengan rumah terdekat dengan rumah
adalah puskesmas Gading adalah puskesmas Gading
rejo. rejo.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


3) Genogram Pasien 1

= Perempuan

= laki laki

= garis perkawinan

= garis keturunan

= klien

= meninggal

= serumah

Keluarga Ny. S mengatakan dalam keluarganya tidak ada penyakit keturunan

yaitu Hipertensi dari orang tua Ny. P

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


4) Genogram Pasien 2

= Perempuan

= laki laki

= garis perkawinan

= garis keturunan

= klien

= meninggal

= seruma

Keluarga Tn. M mengatakan dalam keluarganya ada penyakit keturunan yaitu

Hipertensi dari orang tua Ny. J

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


POLA KESEHATAN Klien 1 Klien 2
Pola nutrisi dan cairan
- Pola nutrisi - Klien mengatakan makan 2 - Klien mengatakan makan
x/hari, melalui oral, klien 2 x/hari, melalui oral,
memiliki pantangan klien memiliki pantangan
makanan yaitu mengurangi makanan yaitu
mengkonsumni garam mengurangi
berlebih, nafsu makan klien mengkonsumni garam
baik, sebelum makan klien berlebih, nafsu makan
membaca doa, klien tidak klien baik, sebelum
memiliki keluhan saat makan klien membaca
makan doa, klien tidak memiliki
keluhan saat makan

- Pola cairan - Klien mengatakan minum - Klien mengatakan minum


kurang lebih 6 gelas kurang lebih 5 gelas
perhari, secara oral,klien perhari, secara oral,klien
minum menggunakan gelas minum menggunakan
ukuran 200cc, klien gelas ukuran 200cc, klien
mengatakan tidak ada mengatakan tidak ada
keluhan saat minum keluhan saat minum

Pola eliminasi - Kien mengatakan bak - Kien mengatakan bak


- BAK kurang lebih 3 kali dalam kurang lebih 3 kali dalam
sehari waktu BAK yaitu sehari waktu BAK yaitu
pagi, sore, dan malam, pagi, sore, dan malam,
Warna jernih dan bau Warna jernih dan bau
khas, klien mengatakan khas, klien mengatakan
tidak ada keluhan saat tidak ada keluhan saat
BAK. BAK.

- BAB - Klien mengatakan BAB - Klien mengatakan BAB


kurang lebih 1 kali dalam kurang lebih 1 kali dalam
sehari, waktu yaitu di sehari, waktu yaitu di pagi
pagi hari, konsistensi hari, konsistensi lembek,
lembek, warna kuning warna kuning keemasan,
keemasan, bau khas, klien bau khas, klien

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


mengatakan tidak ada mengatakan tidak ada
keluhan saat BAB. keluhan saat BAB.

- Pola kebutuhan rasa aman - Klien mengatakan sering - Klien mengatakan sering
nyaman merasakan nyeri di merasakan nyeri di bagian
bagian tengku, nyeri tengkuk hingga ke kepala,
dirasakan seperti tertimpa nyeri dirasakan seperti
benda berat, nyeri di tertimpa benda berat,
rasakan hilang timbul, nyeri di rasakan hilang
nyeri timbul kurang lebih timbul, nyeri timbul
2 menit, skala nyeri 5 (0- kurang lebih 4 menit,
10), nyeri bertambah jika skala nyeri 6 (0-10), nyeri
klien beraktifitas,dan bertambah jika klien
berkurang jika beraktifitas,dan berkurang
beristirahat. jika beristirahat.

- Pola personal hygiene - Klien mengatakan mandi - Klien mengatakan mandi


2 x/hari yaitu pagi dan 2 x/hari yaitu pagi dan
sore, klien selalu sore, klien selalu
menyikat giginya saat menyikat giginya saat
mandi,yaitu 2 x/hari, mandi,yaitu 2 x/hari, klien
klien selalu mencuci selalu mencuci rambut
rambut nya, 5 x/minggu nya, 6 x/minggu

- Pola istirahat dan tidur - Klien mengatakan tidur - Klien mengatakan tidur
saat ini kurang lebih 4-5 saat ini kurang lebih 6-7
jam saat malam hari dan jam saat malam hari dan 1
2 jam saat siang hari, jam saat siang hari, klien
klien mengatakan berdoa mengatakan berdoa
terlebih dahulu sbelum terlebih dahulu sbelum
tidur,klien mengatakan tidur,klien mengatakan
tidak ada gangguan saat tidak ada gangguan saat
tidur tidur

- Pola aktivitas dan latihan - Klien mengatakan saat ini - Klien mengatakan saat ini
ia hanya di rumah, saat ia sebagai petani, klien
waktu luang bekerja saat pagi

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


dimanfaatkan berkumpul menjelang siang, saat
dengan keluarga, klien waktu luang dimanfaatkan
mengatakan saat ini ia berkumpul dengan
sulit beraktifitas karena keluarga, klien
sering merasa pusing dan mengatakan saat ini ia
berat pada tengkuk. sulit beraktifitas karena
sering merasa pusing dan
berat pada tengkuk.

- Pola kebiasaan yang - Klien mengatakan ia - Klien mengatakan ia tidak


mempengaruhi kesehatan tidak merokok, tidak merokok, tidak
mengonsumsi minuman mengonsumsi minuman
keras, dan tidak keras, dan tidak
ketergantungan obat ketergantungan obat
obatan. obatan.

PENGKAJIAN FISIK

Observasi Klien 1 mbah pon Klien 2 mbah jum


1. Pemeriksaan umum
- Kesadaraan - Composmetis - Composmetis
- Tekanan darah - 180/100 mmHg - 200/120 mmHg
- Nadi - 90 x/menit - 80 x / menit
- Pernafasan - 20 x/menit - 22 x / menit
- Suhu - 36oc - 36,5oc
- Tb/bb - 150 cm/44 kg - 157 cm / 62 kg

2. Pemeriksaan fisik
persistem
a. Sistem pengllihatan
- Posisi mata - Simetris - Simetris
- Kelopak mata - Baik - Baik
- Pergerakan bola - Baik - Baik
mata
- Konjungtiva - An anemis - An anemis

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


- Kornea - Baik - Baik
- Ketajaman - Tajam - Tajam
penglihatan
- Tanda tanda radang - Tidak ada - Tidak ada

- Pemakaian alat - Tidak - Tidak


bantu penglihatan

- Keluhan lain - Tidak - Tidak

b. Sistem pendengaran
- Kesimetrisan - Simetris - Simetris
- Tanda radang - Tidak ada - Tidak ada
- Cairan dari telinga - Tidak ada - Tidak ada
- Fungsi pendengaran - Baik - Baik
- Pemakaian alat - Tidak ada - Tidak ada
bantu

c. Sistem pernafasan
- Jalan nafas - Baik - Baik
- Keluhan - Tidak ada - Tidak ada
- Frekuensi - 20 x / menit - 22 x / menit
- Irama - Teratur - Teratur
- Kedalaman - Dalam - Dalam
- Suara nafas - Vasikuler - Vasikuler
- Batuk - Tidak ada - Tidak ada

d. Sistem kardiovaskuler
- Nadi - 90 x/menit - 80 x/menit
- Irama - Teratur - Teratur
- Denyut - Kuat - Kuat
- Temperatur kulit - Hangat - Hangat
- Warna kulit - Sawo matang - Sawo matang
- Nyeri dada - Tidak ada - Tidak ada

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


e. Sistem
muskuloskeletal
- Keterbatasan - Tidak ada - Tidak ada
pergerakan
- Tanda tanda radang - Tidak ada - Tidak ada
pada sendi
- Penggunaan alat - Tidak ada - Tidak ada
bantu

Data Etiologi Masalah


Klien 1 Ny. P
Penjajakan 1 Hipertensi Nyeri akut
Ds :
- Klien mengatakan nyeri
dirasakan pada bagian Kerusakan vaskuler pembuluh
tengkuk hingga kepala darah

- Klien mengatakan nyeri


yang dirasakan seperti Perubahan struktur
tertimpa benda berat

- Klien mengatakan nyeri Penyumbatan bembuluh darah


dirasakan saat
beraktivitas
Vasokontriksi
- Klien mengatakan nyeri
dirasakan pada pagi siang
hari 10 menit Gangguan sirkulasi

- Klien mengatakan nyeri


berkurang saat klien Pembuluh darah
beristirahat

Koroner

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


DO :
- Klien tampak
mengerutkan dahi Iskemia miokard
- Klien tampak memegang
bagian tengkuk nya
- TD 180/100 mmHg Nyeri
- Skala nyeri 6 (0-10)

Penjajakan 2

- Keluarga mampu
mengenal masalah
- Klien mampu mengambil
keputusan
- Keluarga belum mampu
merawat anggota
keluarga yang sakit
- Keluarga mampu
memodifikasi lingkungan

Keluarga memanfaatkan
fasilitas kesehatan, separti
Puskesmas dan Dokter Umum

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


Klien 2 Ny. J
Penjajakan 1 Hipertensi Nyeri akut
Ds :
- Klien mengatakan nyeri
dirasakan pada bagian Kerusakan vaskuler pembuluh
tengkuk hingga kepala darah
- Klien mengatakan nyeri
yang dirasakan seperti
tertekan benda berat Perubahan struktur
- Klien mengatakan nyeri
yang dirasakan di bagian
perut bagian atas Penyumbatan bembuluh darah
samapai keulu hati
- Klien mengatakan nyeri
dirasakan saat Vasokontriksi
beraktivitas
- Klien mengatakan nyeri
dirasakan pada siang Gangguan sirkulasi
hari 15 menit
- Klien mengatakan nyeri
berkurang pada saat Pembuluh darah
klien beristirahat

DO : Koroner
- Klien tampak
mengerutkan dahi
- Klien tampak memegang Iskemia miokard
bagian tengkuk nya
- TD 200/120 mmHg
- Skala nyeri 6 (0-10) Nyeri

Penjajakan 2
- Keluarga mampu
mengenal masalah
- Keluarga belum mampu
mengambil keputusan
- Keluarga belum mampu

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


merawat anggota
keluarga yang sakit
- Keluarga mampu
memodifikasi
lingkungan
- Keluarga mamanfaatkan
fasilitas kesehatan
seperti manteri dan
kepuskesmas

1. Skoring / Prioritas masalah

a. Gangguan rasa nyaman nyeri pada klien 1

No Criteria Bobot Hasil Pembenaran


1 Sifat masalah
- Actual :3
- Resiko :2
- Pontensial : 1
2 Kemungkinan masalah
untuk di ubah
- Mudah :2
- Sebagian :1
- Tidak dapat : 0
3 Pontensial masalah untuk
di cegah
- Tinggi :3
- Cukup :2
- Rendah :1
4 Menonjolnya masalah
- Segera ditangani
:2
- Tidak harus
segera ditangani
:1
- Masalah tidak
dirasakan : 0

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


b. Gangguan rasa nyaman nyeri pada klien 2

No Criteria Bobot Hasil Pembenaran


1 Sifat masalah
- Actual :3
- Resiko :2
- Pontensial : 1
2 Kemungkinan masalah
untuk di ubah
- Mudah :2
- Sebagian :1
- Tidak dapat : 0
3 Pontensial masalah untuk
di cegah
- Tinggi :3
- Cukup :2
- Rendah :1
4 Menonjolnya masalah
- Segera ditangani
:2
- Tidak harus
segera ditangani
:1
- Masalah tidak
dirasakan : 0

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


2. Rencana Intervensi
Rencana Intervensi

DIAGNOSIS
KEPERAWATAN INTERVENSI (NIC) RASIONAL
( Tujuan, Kriteria Hasil)
Klien 1
Nyeri Akut : Noc : NIC
Definisi : pengalaman - Pain level Pain management :
sensori dan emosional - Pain control - Lakukan pengkajian nyeri
yang tidak menyenangkan - Comfort level secara komprehensif
yang muncul akibat termasuk lokasi,
kerusakan jaringan yang Criteria hasil karakteristik, durasi,
aktual atau potensial atau - Mampu mengontrol nyeri frekuensi, kualitas dan
digambarkan dalam hal (tahu penyebab nyeri, factor prepitasi
kerusakan sedemikian rupa mampu menggunakan - Observasi reaksi nonverbal
(international Associatin tehnik nonfarmakologi dari ketidaknyamanan
for the study of Pain) : untuk mengurangi nyeri, - Gunakan teknik komunikasi
Awitan yang tiba-tiba atau mencari bantuan) terapeutik untuk
lambat dari intensitas - Melaporkan bahwa nyeri mengetahui pengalaman
ringan hingga berat dengan berkurang dengan apsien
akhir yang dapat menggunakan manajemen - Kaji kultur yang
diantisipasi atau diprediksi nyeri. mempengaruhi respon nyeri
dan berlangsung < 6 bulan. - Evaluasi pengalaman nyeri
Batasan karakteristik : masa lampau
- Perubahan selera - Evaluasi bersama pasien
makan dan tim kesehatan lain
- Peruabahan tekanan tentang ketidakefektifan
darah control nyeri masa lampau
- Perubahan frekuensi - Bantu pasien dan keluarga
jantung untuk mencari dan
- Perubahan frekuensi menemukan dukungan
pernafasan - Control lingkungan yang
- Laporan isyarat dapat mempengaruhi nyeri
- Diaphoresis seperti suhu ruangan,
- Perilaku distraksi (mis, pencahayaan dan

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


berjalan mondar mandir kebisingan
mencari orang lain dan - Kurangi factor presipitasi
atau aktivitas lain, nyeri
aktivitas yang berulang) - Pilih dan lakukan
- Mengekspresikan penanganan nyeri
perilaku (mis gelisah, (farmakologi, non
merengek, menangis) farmakologi dan inter
- Masker wajah (mis, personal)
mata kurang bercahaya, - Kaji tipe dan sumber nyeri
tampak kacau, gerakan untuk menentukan
mata berpencar atau intervensi
tetap pada satu fokus - Ajarkan teknik relaksasi
meringis) nafas dalam
- Sikap melindungi area - Berikan analgetik untuk
nyeri mengurangi nyeri
- Focus menyempit (mis - Evaluasi keefektifan control
gangguan persepsi nyeri
nyeri, hambatan proses - Tingkatkan istirahat
berpikir, penurunan - Kolaborasi dengan dokter
interaksi dengan orang jika ada keluhan dan
dan lingkungan) tindakan nyeri tidak
- Indikasi nyeri yang berhasil
dapat diamati - Monitor penerimaan pasien
- Perubahan posisi untuk tentang manajemen nyer
menghindari nyeri Analgesic administration
- Sikap tubuh melindungi - Tentukan lokasi,
- Dilatasi pupil karakteristik, kualitas, dan
- Melaporkan nyeri derajat nyeri sebelum
secara verbal pemberian obat
- Gangguan tidur - Cek instruksi dokter
tentang jenis obat, dosis
Faktor yang berhubungan : dan frekuensi
- Agen cedera (Miss, - Cek riwayat alergi
biologis, zat kimia, - Pilih analgesik yang
fisik, psikologis) diperlukan atau kombinasi
dari analgesic ketika
pemberian lebih dari satu

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


- Tentukan pilihan analgesic
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
- Tentukan analgesic pilihan,
rute pemberian dan dosis
optimalpilih rute pemberian
secara IV, IM, untuk
pengobatan nyeri secara
teratur
- Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesic pertama kali
- Berikan analgesic tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
- Evaluasi efektivtas
analgesic, tanda dan gejala.
Klien 2
Nyeri Akut : Noc : NIC
Definisi : pengalaman - Pain level Pain management :
sensori dan emosional - Pain control - Lakukan pengkajian nyeri
yang tidak menyenangkan - Comfort level secara komprehensif
yang muncul akibat termasuk lokasi,
kerusakan jaringan yang Criteria hasil karakteristik, durasi,
aktual atau potensial atau - Mampu mengontrol nyeri frekuensi, kualitas dan
digambarkan dalam hal (tahu penyebab nyeri, factor prepitasi
kerusakan sedemikian rupa mampu menggunakan - Observasi reaksi nonverbal
(international Associatin tehnik nonfarmakologi dari ketidaknyamanan
for the study of Pain) : untuk mengurangi nyeri, - Gunakan teknik
Awitan yang tiba-tiba atau mencari bantuan) komunikasi terapeutik
lambat dari intensitas - Melaporkan bahwa nyeri untuk mengetahui
ringan hingga berat dengan berkurang dengan pengalaman apsien
akhir yang dapat menggunakan manajemen - Kaji kultur yang
diantisipasi atau diprediksi nyeri. mempengaruhi respon
dan berlangsung < 6 bulan. nyeri
- Evaluasi pengalaman nyeri
masa lampau

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


Batasan karakteristik : - Evaluasi bersama pasien
- Perubahan selera dan tim kesehatan lain
makan tentang ketidakefektifan
- Perubahan tekanan control nyeri masa lampau
darah - Batu pasien dan keluarga
- Perubahan frekuensi untuk mencari dan
jantung menemukan dukungan
- Perubahan frekuensi - Control lingkungan yang
pernafasan dapat mempengaruhi nyeri
- Laporan isyarat seperti suhu ruangan,
- Diaphoresis pencahayaan dan
- Perilaku distraksi (mis, kebisingan
berjalan mondar mandir - Kurangi factor presipitasi
mencari orang lain dan nyeri
atau aktivitas lain, - Pilih dan lakukan
aktivitas yang berulang) penanganan nyeri
- Mengekspresikan (farmakologi, non
perilaku (mis gelisah, farmakologi dan inter
merengek, menangis) personal)
- Masker wajah (mis, - Kaji tipe dan sumber nyeri
mata kurang bercahaya, untuk menentukan
tampak kacau, gerakan intervensi
mata berpencar atau - Ajarkan teknik relaksasi
tetap pada satu fokus nafas dalam
meringis) - Berikan analgetik untuk
- Sikap melindungi area mengurangi nyeri
nyeri - Evaluasi keefektifan
- Focus menyempit (mis control nyeri
gangguan persepsi - Tingkatkan istirahat
nyeri, hambatan proses - Kolaborasi dengan dokter
berpikir, penurunan jika ada keluhan dan
interaksi dengan orang tindakan nyeri tidak
dan lingkungan) berhasil
- Indikasi nyeri yang - Monitor penerimaan pasien
dapat diamati tentang manajemen nyer
- Perubahan posisi untuk Analgesic administration
menghindari nyeri - Tentukan lokasi,

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


- Sikap tubuh melindungi karakteristik, kualitas, dan
- Dilatasi pupil derajat nyeri sebelum
- Melaporkan nyeri pemberian obat
secara verbal - Cek instruksi dokter
- Gangguan tidur tentang jenis obat, dosis
Faktor yang berhubungan : dan frekuensi
- Agen cedera (Miss, - Cek riwayat alergi
biologis, zat kimia, - Pilih analgesik yang
fisik, psikologis) diperlukan atau kombinasi
dari analgesic ketika
pemberian lebih dari satu
- Tentukan pilihan analgesic
tergantung tipe dan
beratnya nyeri
- Tentukan analgesic pilihan,
rute pemberian dan dosis
optimalpilih rute
pemberian secara IV, IM,
untuk pengobatan nyeri
secara teratur
- Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesic pertama kali
- Berikan analgesic tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat
- Evaluasi efektivtas
analgesic, tanda dan gejala.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu


DAFTAR PUSTAKA

Baradero, Marry, dkk, 2008. Klien Gangguan Kardiovaskular. Jakarta : EGC.

Dharma, Kelana Kusuma. 2011. Metodologi Penelitian Keperawatan. Depok:


EGC.

Efendi, Ferry, Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas. Jakarta


:SalembaMedika.

Friedman, M.M, dkk. 2014. Keperawatan Keluarga. Jakarta : EGC.

Hanafiah, M.J & Amir, Amri.2012. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan.
Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Ivan Atjeh. 2012. Skala Nyeri Wong Beker dalam http://ivan-
atjeh.blogspot.co.id.Diaksespada :Sabtu, 20 Mei 2017.

Klabunde, Richard E. 2015. Konsep Fisiologi Kardiovaskular. Jakarta : EGC.

Mubarak, Wahid Iqbal, dkk. 2011. Ilmu Keperawatan Komunitas. Jakarta :


Salemba Medika.

Ode, Sarif La. 2012.Asuhan Keperawatan Gerontik. Yogyakarta : Nuha Medika.

Pemerintah Provinsi Lampung Dinas Kesehatan . 2014. Profil Kesehatan Provinsi


Lampung Tahun 2014. Bandar Lampung : Dinas Kesehatan Provinsi
Lampung.

Riskesdas. 2013. Penyakit Tidak Menular. Jakarta : Kementrian Kesehatan RI.

Suhaemi, M.E. 2014. EtikaKeperawatan. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

Buku ppni belum dimasukkan.

STIKes Muhammadiyah Pringsewu