Anda di halaman 1dari 12

1

INFEKSI SALURAN KEMIH BERHUBUNGAN DENGAN KONDISI-


KONDISI YANG MENYEBABKAN OBSTRUKSI DAN STASIS
SALURAN KEMIH, KECUALI UROLITHIASIS
DAN BULI-BULI NEUROPATIK
C.F. Heyns

Abstrak
Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk meneliti infeksi saluran kemih (ISK)
berhubungan dengan kondisi-kondisi yang menyebabkan obstruksi dan stasis
saluran kemih, kecuali urolitiasis dan disfungsi buli-buli neuropatik.
Metode
Sebuah pencarian literatur elektronik dilakukan dengan menggunakan kata kunci
urinary tract infection (UTI), benign prostatic hyperplasia (BPH),
hydronephrosis, obstruction, reflux, diverticulum, urethra, dan stricture. Sejumlah
520 abstrak ditinjau, 210 artikel dipelajari secara detil, dan 36 artikel dijadikan
sebagai referensi.
Hasil
Terdapat salah satu aksioma dalam praktik urologi bahwa obstruksi dan stasis
saluran kemih berisiko terjadi ISK. Penelitian eksperimental menunjukkan bahwa
oleh karena inokulasi bakteri transuretra dieliminasi dengan cepat dari buli-buli
normal, obstruksi menyebabkan sistitis, pielonefritis, dan bakteremia. BPH, di
samping urolitiasis, merupakan penyebab paling umum dari obstruksi saluran
kemih yang berisiko terjadi ISK. Striktur uretra tetap menjadi penyebab umum
dari ISK di banyak belahan dunia. Stasis urin pada divertikula uretra atau buli-buli
berisiko terjadi ISK. Penelitian eksperimental telah menunjukkan bahwa ginjal
normal relatif resisten terhadap infeksi organisme yang diinjeksikan secara
intravena, obstruksi ureter berisiko terjadi pielonefritis. Hal tersebut juga
menyebabkan disfungsi ginjal yang mengganggu ekskresi antibiotik dalam urin,
sehingga eradikasi bakteri menjadi sulit.
Kesimpulan
Pada pasien dengan ISK dan obstruksi saluran kemih, terapi antibiotik yang
ditargetkan berdasarkan kultur urin harus dilengkapi dengan drainase darurat
(kateterisasi buli-buli, nefrostomi perkutaneus, atau stenting ureter) diikuti dengan
pembedahan definitif untuk menghilangkan penyebab obstruksi atau stasis setelah
infeksi terkontrol.

Kata Kunci: Saluran kemih, Infeksi, Obstruksi, Prostat, Uretra,


Striktur, Hidronefrosis, Divertikulum.
2

Pendahuluan
Tujuan penelitian ini adalah memusatkan pada infeksi
saluran kemih (ISK) yang berhubungan dengan kondisi-kondisi
yang menyebabkan obstruksi dan stasis saluran kemih, selain
urolithiasis dan disfungsi buli-buli neuropatik. Prevalensi dan
penyebab obstruksi saluran kemih pada pasien ISK banyak
variasi dalam laporan berbeda pada literatur. Penyebab paling
umum adalah hiperplasia prostat jinak (BPH) mencapai 45%
kasus, kanker prostat 2-8%, striktur uretra 3-8%, dan obstruksi
pelviureteric junction (PUJO) 2% (Gambar. 1)1.

Metode
Sebuah pencarian literatur elektronik dilakukan pada
PubMed menggunakan kata kunci urinary tract infection (UTI ) secara
tersendiri dan dalam kombinasi dengan istilah-istilah berikut:
benign prostatic hyperplasia, BPH, hydronephrosis, obstruction, reflux,
diverticulum, urethra, dan stricture. Abstrak ditinjau, artikel yang relevan
dipelajari dalam full-length version, dan referensi lebih lanjut
diperoleh dari artikel-artikel tersebut. Sejumlah 520 abstrak
ditinjau, 210 artikel dipelajari secara detil, dan 36 dijadikan
sebagai referensi pada penelitian ini.
Sebuah versi pencarian yang lebih luas dari penelitian ini
dipublikasikan sebagai bab yang berjudul Infeksi Saluran Kemih
pada Pasien dengan Kelainan Urologi yang Mendasari dalam
[37].

Obstruksi Buli-Buli
Sebuah model binatang percobaan pada tikus
menunjukkan bahwa setelah inokulasi transuretra dengan E. coli,
bakteri akan dieliminasi dengan cepat melalui urinasi pada tikus
normal, tetapi akan menyebabkan bakteremia dan pielonefritis pada tikus dengan
3

obstruksi uretra reversibel selama 1-6 jam. Obstruksi uretra meningkatkan


uropatogenisitas dari E. coli nonpatogenik dan menyebabkan lesi ginjal yang lebih
parah pada tikus yang ditantang dengan E. coli uropatogenik [2].
Sebuah volume urin sisa postvoid (PVR) yang besar dapat disebabkan oleh
obstruksi buli-buli, tetapi mungkin juga akibat dari kontraksi otot detrusor yang
tidak adekuat, sebuah divertikulum buli-buli yang besar atau bahkan refluks
vesiko-ureter derajat tinggi. Tampaknya logis bahwa sebuah PVR yang besar
seharusnya berisiko terjadi ISK, karena bakteri tidak dibersihkan secara mekanis
oleh aliran urinasi normal, dan stasis memberikan waktu yang lebih banyak untuk
penempelan dan multiplikasi bakteri. Namun. Terdapat sedikit bukti pada literatur
bahwa terjadinya ISK pada populasi laki-laki tua berhubungan baik dengan PVR
maupun obstruksi buli-buli. Pada laki-laki usia lanjut, bakteriuria tampaknya tidak
berhubungan dengan usia, PVR, maupun gejala obstruksi buli-buli [3]. Pada
perempuan usia lanjut, sebuah peningkatan PVR tampaknya tidak berhubungan
dengan bakteriuria. Namun, insidensi bakteriuria setelah penelitian urodinamik,
lebih tinggi pada laki-laki (36%) daripada perempuan (15%), kemungkinan karena
volume urin PVR yang lebih besar, atau pembersihan inokulasi bakteri yang
kurang efektif [4].

Hiperplasia Prostat Benigna (BPH)


Sebuah tinjauan lebih dari 200 penelitian dipublikasikan antara tahun
1954-1988 disimpulkan bahwa kebanyakan laki-laki dengan ISK mempunyai
kelainan fungsi dan anatomi pada saluran urogenital. BPH dan instrumentasi
urogenital merupakan faktor predisposisi mayor untuk terjadinya ISK pada laki-
laki [1]. Pada rangkaian pembedahan yang lebih tua, ISK merupakan indikasi
untuk intervensi pembedahan pada sekitar 12% laki-laki dengan BPH [5]. Namun,
diantara pasien yang diterapi dengan plasebo pada penelitian Medical Therapy of
Prostatic Symptoms (MTOPS), insidensi kumulatif ISK pada 4 tahun adalah < 1%
[6].
Bakteriuria sebelum prostatektomi pada laki-laki dengan BPH dilaporkan
pada 28-54% kasus. Insidensi lebih tinggi pada pasien yang dikateterisasi sebelum
4

operasi (44-57%) daripada pasien yang tidak dikateterisasi (18%). Beberapa


penelitian menunjukkan bahwa korelasi antara insidensi bakteriuria praoperasi
dan durasi kateterisasi serta volume urin PVR [7].
Bakteri dapat dikultur dari jaringan prostat yang diperoleh dari
prostatektomi pada 21-44% kasus (67% pasien dikateterisasi dan 28% pasien
tidak dikateterisasi) [8]. Bakteremia setelah reseksi transuretral prostat (TURP)
dilaporkan pada 23-29% pasien meskipun dengan profilaksis antibiotik, pada 54%
pasien dengan bakteriuria praoperasi dan 8% tanpa bakteriuria. Pada 70-81%
kasus, sebuah spesies identik diisolasi dari kultur urin praoperasi, dan pada 54%
organisme yang menyebabkan bakteriuria identik dengan hasil kultur dari jaringan
prostat. Bakteremia secara signifikan lebih umum terjadi pada pasien praoperasi
ISK [9].

Kanker Prostat dan Prostatitis


Pada laki-laki dengan demam ISK, prostat sering terlibat, yang
menyebabkan peningkatan PSA. Jumlah PSA yang meningkat dan rasio
penurunan bebas/jumlah PSA pada prostatitis dapat disalahtafsirkan sebagai tanda
kanker. Penggunaan terapi antibiotik empiris untuk menurunkan PSA dan untuk
menghindari biopsi prostat yang tidak perlu masih kontroversial, tetapi
meningkatnya risiko bakteremia disebabkan oleh bakteri resisten setelah biopsi
prostat transrektal [10].
Tampaknya terdapat korelasi antara kolonisasi bakteri atau inflamasi
kronis pada prostat dan perkembangan kanker prostat. Hal ini menunjukkan
bahwa selama inflamasi akut atau kronis pada prostat, berbagai sel diaktivasi oleh
kemokin melalui reseptor kemotaksin berbeda yang selanjutnya memicu proses
angiogenesis, pertumbuhan seluler dan neoplasia yang dapat menyebabkan kanker
prostat [11].

Striktur Uretra
5

Pada laki-laki dengan ISK, di beberapa negara berkembang, kelainan


mendasari yang paling sering kedua, setelah BPH, adalah striktur uretra. Laki-laki
dengan striktur uretra yang menunjukkan ISK mencapai 44% kasus [12].

Divertikula
Divertikula buli-buli paling sering didapat (sekunder dari obstruksi buli-
buli atau disfungsi buli-buli neuropatik), tetapi juga bisa kongenital. Divertikula
buli-buli lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dan paling sering
berhubungan dengan BPH, kanker prostat atau striktur uretra, meskipun obstruksi
tidak terdapat pada semua kasus [13].
Divertikula buli-buli kongenital paling sering disertai dengan ISK [14].
Stasis urin pada divertikulum buli-buli dapat berisiko terjadi infeksi dan dapat
menghambat eradikasi infeksi yang terjadi. ISK kambuh-kambuhan atau persisten
yang tidak responsif terhadap terapi antibiotik dapat menjadi indikasi untuk
divertikulektomi buli-buli.
Sebuah penelitian yang membandingkan pasien dengan BPH disertai
divertikulum dan pasien hanya dengan BPH ditemukan bahwa kelompok BPH
disertai divertikulum mempunyai tingkat yang lebih tinggi terjadinya retensi urin
akut dan ISK (22% vs 3%), rata-rata PVR lebih besar dan resistensi uretra lebih
besar [15]. Pada pasien yang menjalani TURP dengan atau tanpa divertikulektomi,
parameter resistensi uretra dan PVR menurun pada kedua kelompok.
Divertikulektomi menunjukkan peningkatan kontraktilitas buli-buli dengan durasi
kontraksi detrusor yang lebih lama, mendukung fungsinya dalam kasus BPH
terkait divertikula [15].
Divertikula uretra pada perempuan paling mungkin disebabkan oleh
infeksi kelenjar periuretral, kemungkinan oleh Neisseria gonorrhoeae, meskipun
infeksi awal dan terutama infeksi ulang selanjutnya dapat disebabkan oleh E. coli
dan bakteri coliform lainnya atau flora vagina. Infeksi berulang pada kelenjar
periuretral menyebabkan obstruksi, pembentukan abses suburetral dan selanjutnya
ruptur kelenjar yang terinfeksi ke dalam lumen uretra [16].
6

ISK adalah modus presentasi sekitar 30% pada perempuan dengan


divertikula uretra. E. coli merupakan organisme yang paling umum terisolasi,
tetapi flora usus gram negatif lainnya seperti N. gonorrhoeae, chlamydia,
streptococci, dan staphylococci juga sering muncul [17].
Penatalaksanaan divertikulum uretra pada perempuan adalah eksisi
divertikulum dan penutupan saluran yang menghubungkan dengan uretra. Pada
perempuan dengan ISK berulang dan PVR yang besar, dilatasi uretra untuk
meningkatkan pengosongan buli-buli sering dilakukan, meskipun tidak terdapat
bukti yang mendukung kemanjurannya [18].

Obstruksi Saluran Kemih Bagian Atas


Hal ini berlaku umum bahwa stasis urin memberikan waktu dan
kesempatan bagi bakteri untuk menempel pada urotelium, bereplikasi, dan
menginfeksi host[19]. Faktor yang berkontribusi mungkin obstruksi ureter yang
menyebabkan difungsi ginjal, sehingga ginjal kurang efektif dalam
mengonsentrasikan antibiotik di dalam urin, membuat eradikasi bakteri menjadi
sulit dan berisiko terjadniya resistensi bakteri. Faktor penentu paling penting dari
ISK yang disebabkan oleh strain resisten adalah penggunaan antibiotik
sebelumnya dan adanya penyakit urologi yang mendasari [18].
Infeksi hematogen pada ginjal jarang terjadi pada individu normal, tetapi
data eksperimental menunjukkan bahwa infeksi meningkat saat ginjal tersumbat
[20]. Pada hewan percobaan pielonefritis hematogen, ginjal relatif resisten
terhadap infeksi organisme yang diinjeksikan secara intravena, tetapi jika ureter
diikat, ginjal yang tersumbat menjadi terinfeksi [21].
Dalam sebuah model eksperimental pada tikus, obstruksi ureter transien
(24 jam) dengan inokulasi E.coli dalam buli-buli setelah pelepasan obstruksi
ureter berisiko terjadi ascending pyelonephritis. Hal ini menunjukkan bahwa
obstruksi ureter akut menginduksi fokus nekrosis medulla di papilla yang dapat
memberikan nidus untuk invasi bakteri, sedangkan urodinamik yang berubah
setelah pelepasan obstruksi ureter dapat menyebabkan infeksi ke atas (ascending
infection) [22].
7

Terdapat beberapa penelitian klinis mengenai risiko ISK yang


berhubungan dengan obstruksi saluran kemih bagian atas. Dalam sebuah
penelitian terhadap anak-anak yang sebelum lahir didiagnosis dengan
hidronefrosis berat karena PUJO atau obstruksi junction ureterovesical dan tidak
diberikan profilaksis antibiotik, insidensi ISK selama 12 bulan pertama setelah
kelahiran adalah 36%. Kasus paling banyak dari ISK (93%) terjadi dalam 6 bulan
pertama setelah kelahiran [23].
Dalam penelitian lain terhadap anak-anak yang sebelum lahir terdeteksi
mengalami dilatasi pelvis ginjal, perkiraan insiden kumulatif dari ISK adalah 8%
pada usia 12 bulan, 13% pada 24 bulan, dan 21% pada 36 bulam. Prediktor
independen ISK selama follow up adalah jenis kelamin perempuan dan adanya
refluks vesikoureter (VUR) atau obstruksi saluran kemih [24].
Dalam sebuah penelitian terhadap anak-anak yang sebelum lahir
didiagnosis dengan nonrefluxing hydronephrosis, ISK terjadi pada 19% kasus
selama follow up 12 bulan-pada 84% kasus dalam 6 bulan pertama. ISK terjadi
pada 39% anak-anak dengan uropati obstruktif dan 11% tanpa uropati
obstruktif. Hidronefrosis derajat tinggi dihubungkan dengan
peningkatan insidensi ISK: 40% pada hidronefrosis derajat IV,
33% pada hidronefrosis derajat III, 14% pada hidronefrosis
derajat II, dan 4% pada hidronefrosis derajat I. Para penulis
merekomendasikan antibiotik profilaksispada neonatus dengan
uropati obstruktif, hidronefrosis berat atau hidroureteronefrosis
tanpa VUR [25].
Namun, penelitian lain terhadap anak-anak yang didiagnosis
antenatal mengalami hidronefrosis berat akibat megaureter
obstruktif atau PUJO tidak mempertahankan antibiotik profilaksis
melaporkan tingkat keseluruhan ISK hanya 4,3%. Terdapat
perbedaan yang tidak signifikan secara statistik pada tingkat
infeksi yang tercatat berdasarkan jenis kelamin, tingkat
obstruksi, derajat hidronefrosis, atau status sirkumsisi. Para
penulis menyimpulkan bahwa antibiotik profilaksis tidak mungkin
8

bermanfaat bagi kebanyakan anak-anak dengan hidronefrosis


akibat obstruksi saluran kemih bagian atas [26].
Meskipun kekurangan penelitian klinis yang relevan, hal ini
dapat diterima secara umum dalam praktik bahwa pada pasien
dengan ISK dan obstruksi saluran kemih bagian atas, terapi
antibiotik empiris harus dilengkapi dengan intervensi urgen
untuk drainase saluran kemih (misalnya nefrostomi perkutaneus
atau doble-J ureteric stenting). Hal ini harus diikuti dengan terapi
antibiotik yang ditargetkan (sesuai dengan kultur urin), dan
pembedahan definitif untuk menghilangkan penyebab obstruksi
setelah infeksi terkontrol.

Nekrosis Papiller Ginjal (NPG)


Meskipun terdapat beberapa faktor yang dapat
menyebabkan NPG, keberadaan faktor multipel (misalnya
diabetes melitus atau obstruksi dan ISK) meningkatkan risiko
terjadinya NPG [18]. Oleh karena itu, pada obstruksi ureter,
penting untuk mencegah ISK dan, jika ISK terjadi, untuk drainase
ginjal dengan kateter ureter atau nefrostomi perkutaneus [27].
Papilla ginjal nekrotik dapat menyebabkan obstruksi, dan rongga
meduler disebabkan oleh NPG yang dapat menimbulkan stasis
urin, kedua kondisi tersebut merupakan predisposisi terjadi ISK.

Divertikula Kaliseal Ginjal


Divertikula kaliseal ginjal sering asimtomatik, namun dapat
dihubungkan dengan ISK dan pembentukan batu hingga
mencapai 39% dari kasus (Gambar. 2). Penatalaksanaan
biasanya konservatif, namun indikasi untuk pembedahan
meliputi nyeri yang terus-menerus, ISK, dan nefrolitiasis.
9

Pembedahan terbuka sebagian besar telah diganti dengan


perkutaneus, uretero-renoskopik atau pendekatan laparoskopi
untuk menghilangkan divertikulum atau melebarkan sambungan
antara sistem pengumpul dan divertikulum untuk meningkatkan
drainase [28].

Bakteriologi
Kelainan saluran kemih dapat berisiko terjadi infeksi
dengan organisme selain E.coli, dan terapi antibiotik jangka
panjang sering menyebabkan resistensi bakteri atau superinfeksi
jamur dengan Candida albicans [29]. Obstruksi saluran kemih
dapat menyebabkan infeksi ke atas (ascending infection) dari
strain E.coli dengan kemampuan penempelan yang lebih rendah.
P-fimbriae merupakan adhesin resisten-manosa dari
uropathogenic E.coli yang menyebabkan pielonefritis akut (PNA).
Kluster gen pap (PapGI, PapGII, dan PapGIII) mengkode protein
dibutuhkan untuk biogenesis P-fimbriae [30]. Insidensi alel PapG
kelas II pada E.coli yang menginfeksi pasien dewasa dengan
hidronefrosis lebih rendah daripada E.coli yang menginfeksi
pasien tanpa kelainan saluran kemih (69% vs 93%). Hal ini
menunjukkan bahwa kelainan struktur dan fungsi dari saluran
kemih dapat menyebabkan infeksi strain E.coli yang tidak akan
menjadi patogen dalam saluran kemih normal [31].

Penelitian Khusus
Tujuan dilakukan imaging pada ISK adalah untuk mendeteksi kondisi yang
perlu diatasi untuk mencegah perburukan fungsi ginjal yang cepat atau sepsis
sistemik dan untuk mencegah infeksi berulang serta kerusakan ginjal jangka
panjang. Indikasi dilakukan imaging pada pasien ISK ditunjukkan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Indikasi dilakukan imaging pada pasien ISK


10

Bayi dan anak-anak


Laki-laki
Pasien dengan riwayat :
Kesulitan buang air kecil
Urolithiasis
Penyakit ginjal sebelumnya
Operasi saluran kencing sebelumnya
Penyakit neurologis / neuropathic bladder
Berespon rendah terhadap terapi antibiotik yang sesuai (setelah 3 6 hari)
Gejala berat yang tidak umum atau berulang
Diabetes Mellitus atau immunocompromised
Gagal ginjal
Hematuria (makroskopis atau mikroskopis > 1 bulan setelah ISK)
Retensi urin akut
Infeksi bakteri pemecah urea

Intravenous urography (IVU) dan ultrasound (US) secara tradisional telah


digunakan untuk menilai komplikasi ISK. US dengan abdominal radiography
(AXR/KUB) sama akuratnya dengan IVU dalam mendeteksi abnormalitas
urologis yang penting pada laki-laki penderita ISK.
Computerized tomography (CT) merupakan modalitas yang lebih sensitive
dan spesifik. CT urography banyak digunakan dalam penelitian imaging untuk
saluran kencing yang komprehensif. Magnetic resonance (MR) imaging secara
khusus bermanfaat untuk orang yang alergi terhadap kontras iodinated. Nuclear
medicine memiliki peran yang terbatas namun bermanfaat dalam menilai fungsi
ginjal sebelum operasi. Imaging dengan agen kontras microbubble
ultrasonographic dapat mengatasi keterbatasan B-mode imaging konvensional
dan dapat menjadi pilihan modalitas di masa mendatang.
Secara umum dapat diterima bahwa evaluasi urologis sebaiknya dilakukan
pada laki-laki dengan ISK disertai demam, pyelonephritis ataupun infeksi
berulang atau kapanpun apabila terdapat faktor risiko terjadinya komplikasi.
Namun imaging tidak selalu diperlukan oleh semua laki-laki dengan ISK yang
disertai demam. Pada laki-laki usia kurang dari 45 tahun dengan ISK akut pertama
tidak diperlukan pemeriksaan ragiologi, endoskopi ataupun urodinamik dan
kemungkinan striktur uretra dapat disingkirkan.
Pada pasien dengan komplikasi APN, kultur urin positif pada 90-98% kasus
dan bakteremia dapat terjadi sebesar 21-42% tetapi hanya pada sebagian kecil
11

pasien (sekitar 1%) yang ditemukan perbedaan jenis patogen antara darah dan
urin. Beberapa peneliti menyatakan bahwa kultur darah sebaiknya dilakukan pada
pasien dengan diagnosis yang belum pasti, pasien immunocompromised dan
pasien yang tidak berespon terhadap antibiotik yang sesuai. Namun, peneliti lain
menyebutkan bahwa kultur darah sebaiknya dilakukan pada semua pasien dengan
komplikasi APN karena bakteremia mengarah pada penyakit berat yang dapat
berulang dalam waktu 6 bulan pada pasien dengan bbakteremia non-E coli dan
pada pasien urolithiasis atau hydronephrosis terutama laki-laki.

Terapai Antibiotik
Pengobatan ISK dengan obstruksi saluran kencing memerlukan terapi
antibiotik yang sama efektifnya dengan intervensi urologis yang sesuai untuk
menghilangkan faktor predisposisi dan mengembalikan anatomi serta fungsi
normal saluran kencing dengan maksud mencegah septikemia dan rekurensi.
Pasien dengan penyakit parah disertai kemungkinan urosepsis sebaiknya
dirawat di rumah sakit dan diberikan terapi empiris ampicillin serta gentamicin
intravena atau alternatifnya seperti ciprofloxacin, levofloxacin, ceftriaxone,
aztreonam, ticarcillin-clavulanate atau imipenem-cilastin. Pemilihan terapi
antibiotik empiris sebaiknya didasarkan pada panduan atau kebijakan lokal.
Penggunaan quinolone dan cephalosporin secara luas sangat mengkhawatirkan
karena dapat meningkatkan resistensi bakteri. Diperlukan upaya untuk mengatasi
abnormalitas saluran kencing yang mendasari dimana hal tersebut dapat
menurunkan efikasi pengobatan. Terapi biasanya sesegera mungkin diganti dari
parenteral ke oral.
Terapi empiris ISK berat sebaiknya disertai agen antipseudomonal
intravena. Target terapi sebainya ditentukan segera setelah data suspektibilitas
diketahui. Agen yang sering digunakan adalah aminoglikosida, kombinasi
inhibitor beta laktamase, imipenem, cephalosporin generasi lanjut dan
fluoroquinolone. Banyak penelitian klinis yang mendukung penggunaan
fluoroquinolone untuk ISK berat di samping ciprofloxacin, obat yang sering
dilakukan penelitian.
12

Disarankan terapi selama 7 hari untuk perempuan yang mengalami gejala


selama1 minggu atau lebih, laki-laki (meskipun dengan cystitis tanpa komplikasi)
dan untuk pasien yang memiliki faktor risiko mengalami komplikasi. Untuk
pasien dengan demam atau infeksi sistemik yang lebih berat, disarankan terapi
selama 10-14 hari. Kultur urin sebaiknya dilakukan pada awal terapi antibiotik,
selama pengobatan bila respon klinis tidak memuaskan dan 7-14 hari setelah
penghentian terapi untuik menentukan apakah pengobatan efektif.

Kesimpulan

Meskipun terdapat kekurangan bukti berdasarkan uji klinis acak terkontrol,


logika menyatakan bahwa pada pasien dengan ISK dan obstruksi, misalnya
piosistitisatau pionefrosis, terapi antibiotik target harus dilengkapi dengan
drainase emergensi dengan cara kateterisasi buli-buli trans uretra, ureteric
stenting, atau nefrostomi perkutan. Diikuti dengan pembedahan definitif untuk
menghilangkan penyebab obstruksi atau stasis setelah infeksi terkontrol.
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan peran, jika ada, untuk
antibiotik profilaksis pada obstruksi saluran kemih, dilatasi stasis tanpa infeksi
dengan mempertimbangkan resiko resistensi bakteri dengan superinfeksi dengan
organisme resistensi yang tinggi. Penelitian lebih lanjut ditujukan untuk
mengetahui/menentukan yang lebih baik, pada populasi dan negara yang berbeda,
jenis dan durasi optimal drainase yang terinfeksi, saluran kemih yang tersumbat.
Mengingat terjadi peningkatan insidensi resistensi bakteri karena penggunaan
antibiotik sembarangan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengembangkan
agen antibakteri baru.