Anda di halaman 1dari 7

KARTIKA-JURNAL ILMIAH FARMASI, Jun 2015, 3 (1), 54-60 54

ISSN 2354-6565

PENENTUAN KADAR FLAVONOID TOTAL FRAKSI ETIL ASETAT DAN FRAKSI


KLOROFORM HASIL HIDROLISIS EKSTRAK ETANOLIK DAUN KEPEL
(Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook f. & Th.) DENGAN METODE
SPEKTROFOTOMETRI MENGGUNAKAN RUTIN SEBAGAI PEMBANDING

Diniatik1,2, Suwijiyo Pramono1, Sugeng Riyanto2


Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada
Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto

ABSTRAK

Daun Kepel telah dimanfaatkan untuk mengatasi asam urat dan menurunkan kadar
kolesterol. Buahnya berkhasiat sebagai antioksidan dan daunnya sekarang dipercaya untuk
mengatasi penyakit diabetes. Laporan penelitian mengindikasikan bahwa senyawa yang berperan
pada aktivitas ini adalah golongan senyawa flavonoid. Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan data kadar flavonoid dalam daun kepel, dengan menggunakan rutin sebagai
senyawa pembanding. Daun Kepel diperoleh dari Kabupaten Sleman Propinsi Yogyakarta.
Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan metode maserasi dengan etanol 70% sebagai cairan
penyari. Ekstrak etanol daun kepel dihidrolisis dengan menggunakan HCl 1M, kemudian
difraksinasi dengan kloroform dan etil asetat. Penetapan kadar flavonoid total menggunakan
metode spektrofotometri dengan larutan pembanding rutin dan aluminium klorida P 10%, 0,1 ml
natrium asetat 1M sebagai pembentuk kompleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar
rata-rata flavonoid total dalam ekstrak etanol daun kepel adalah 9,8 %(b/b), fraksi etil asetat
75,14%(b/b) dan fraksi kloroform 3,15 %(b/b).

Kata kunci: Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook f. & Th.., flavonoid total, rutin,
spektrofotometri.

ABSTRACT

Kepel leaf has been used to overcome gout and capable of lowering cholesterol level. The
fruits are used as an antioxidant and leaves are now believed to overcome diabetes. Research
reports indicate that compounds that play a role in this activity is a class of flavonoid
compounds. This study aims to get the data content of flavonoids in S. burahol leaves based on
the levels regularly as standard. Kepel leaves obtained from the Sleman District, Province of
Yogyakarta. Extraction is done by using maceration method, as solvent is 70% ethanol, total
flavonoid assay using spectrophotometric method with reference solution routine, sliding
reactants AlCl3 10% and sodium acetate 1M. Ethanolic extract of S. burahol leaves were
hydrolyzed by using HCl 1 M, then fractionated with chloroform as first solven, therefore ethyl
acetate as second solven. The result showed that the total flavonoid content by
spectrophotometric method in ethanolic extract of S. burahol leaves were 9.8% (w/w), ethyl
acetate fraction 75.14% (w/w) and chloroform fraction 3.15% (w/w).

Key words: Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook f. & Th., total flavonoid, routine,
spectrophotometric.

Diniatik, dkk
KARTIKA-JURNAL ILMIAH FARMASI, Jun 2015, 3 (1), 54-60 55
ISSN 2354-6565

PENDAHULUAN umum terdapat dalam bentuk glikosida.


Daun kepel dimanfaatkan secara Senyawa glikosida flavonoid ini pada saat
empiris untuk mengatasi asam urat dan dikonsumsi akan terhidrolisis di lambung
menurunkan kadar kolesterol. Buahnya menjadi bentuk aglikonnya. Oleh sebab itu
mempunyai kandungan vitamin C yang perlu dianalisis secara kuantitatif kadar
tinggi sehingga berkhasiat sebagai flavonoid dalam bentuk aglikon dengan cara
antioksidan dan daunnya sekarang dipercaya menghidrolisis ekstrak etanol daun kepel.
untuk mengatasi penyakit diabet (Anonim, Hidrolisis dilakukan dengan menggunakan
2013; Sunarni, 2007). Pengujian aktivitas asam klorida pada pH 2-3 dengan tujuan
antioksidan dengan menggunakan DPPH memecah glikosida flavonoid menjadi
menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat buah aglikon flavonoid dan gulanya (Hasan &
dan ekstrak n butanol bunga kepel memiliki Tahir, 2005; Iwashina & Kokubugata, 2012;
aktivitas yang baik yaitu IC50 29,12 ug/ml Nazaruk, 2003; Matlawska & Sikorska,
dan IC50 22,44 ug/ml (Tisnadjaja dkk, 2005).
2006). Secara in vivo dilaporkan adanya
aktivitas antihiperurisemia ekstrak etanol METODE PENELITIAN
dan ekstrak heksan dari daun kepel yang Penelitian ini dilakukan dengan cara
potensinya setara dengan alopurinol pada sebagai berikut:
uji penghambatan xantin oksidase dengan Determinasi tumbuhan. Tanaman
menggunakan tikus (Purwantiningsih dkk, kepel yang digunakan dalam penelitian
2010). Penggunaan empiris di masyarakat dideterminasi di Laboratorium Biologi
dan hasil penelitian yang diuraikan diatas Farmasi Fakultas Farmasi, Universitas
sangat berkaitan dengan kandungan senyawa Muhammadiyah Purwokerto. Hasil
dalam tanaman ini. Hasil analisis mutu daun determinasi menyatakan bahwa spesimen
kepel yang diambil dari beberapa daerah, tumbuhan tersebut adalah benar benar
mengandung saponin, alkaloid, tanin, tanaman Stelechocarpus burahol, (Bl.) Hook
fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid,dan f. & Th. dari famili Annonaceae. Hasil
glikosida. Analisa daun dari tanaman kepel determinasi tersebut berdasarkan buku Flora
di Purworejo yang umurnya lebih dari 100 of Java Vol II (Backer & Van Den Brink,
tahun, dihasilkan kandungan fitokimia yag 1965).
lebih lengkap dibandingkan dengan tanaman Penyiapan alat dan bahan. Daun S.
yang lebih muda. Daun kepel yang berasal burahol diambil dari kabupaten Sleman,
dari daerah Jawa Barat (Bogor dan Gunung Yogyakarta. Pengeringan dilakukan dengan
Nagara, Garut), kandungan taninnya tidak meletakkan bahan yang telah dicuci bersih
terdeteksi, sedangkan daun yang berasal dari pada tampah, kemudian dijemur dibawah
Jawa Tengah semua mengandung tanin sinar matahari dengan ditutupi dengan kain
(Anonim, 2013). hitam supaya tidak terkena sinar matahari
Pada penelitan ini diharapkan dapat langsung sampai kering. Simplisia yang
diketahui kadar flavonoid total fraksi etil telah kering (dengan memperhatikan
asetat dan fraksi kloroform hasil hidrolisis persyaratan kandungan air maksimal dalam
ekstrak daun kepel serta kadar flavonoid simplisia) diserbuk dan ditempatkan dalam
total dari ekstrak etanol daun kepel. botol coklat yang kering.
Perlakuan hidrolisis terhadap ekstrak ini Bahan yang digunakan dalam penelitian ini
karena flavonoid di dalam tanaman pada adalah etanol, kloroform, etil asetat,

Diniatik, dkk
KARTIKA-JURNAL ILMIAH FARMASI, Jun 2015, 3 (1), 54-60 56
ISSN 2354-6565
akuades, metanol pa., pembanding rutin. Bagian supernatan (beningan) dimasukkan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini ke dalam labu ukur 25 ml, residu diekstraksi
adalah maserator, alat gelas, rotary dua kali, tiap kali dengan 5 ml etanol 80%.
evaporator, kompor listrik, corong pisah, Supernatan (beningan) dikumpulkan ke
spektrofotometer UV, mikropipet, kertas dalam labu ukur yang sama, ditambahkan
saring. etanol 80% sampai tanda.
Pembuatan ekstrak etanol daun S. Larutan uji untuk ekstrak cair, diukur
burahol . Simplisia daun ditimbang kurang seksama sejumlah volume ekstrak cair,
lebih 3 kg dibuat serbuk melalui proses diencerkan dengan etanol 80% sampai
penggilingan dan pengayakan. Serbuk kadar yang sesuai untuk kolorimetri.
kering ditimbang 500 gram kemudian Larutan pembanding, ditimbang saksama
dimaserasi. Maserasi dilakukan dengan cara pembanding lebih kurang 10 mg, dilarutkan
merendam serbuk simplisia dalam cairan dalam etanol pa, diencerkan secara
penyari. Pada penelitian ini untuk kuantitatif dan jika perlu bertahap dengan
meningkatkan efektivitas ekstraksi etanol pa hingga kadar 25, 50 dan 100
dilakukan pengadukan dan remaserasi, ug/ml.
waktu maserasi selama 2 x 24 jam dengan Pengukuran, dipipet secara terpisah 0,5 ml
perbandingan antara simplisia dengan etanol larutan uji dan larutan pembanding,
50% adalah 1:10 untuk hari pertama, dan 1:4 ditambahkan pada masing-masing 1,5 ml
untuk remaserasi hari kedua. Ari disaring etanol P, 0,1 ml aluminium klorida P 10%,
dengan kain flanel. Maserat diuapkan 0,1 ml natrium asetat 1M dan 2,8 air suling.
sampai diperoleh konsistensi kental yang Dikocok dan didiamkan selama 30 menit
masih bisa dituang kemudian ditimbang. pada suhu ruang. Diukur serapan pada
Pembuatan ekstrak etanol daun S. burahol panjang gelombang serapan maksimum.
dilakukan di Laboratorium Biologi Farmasi Dilakukan pengukuran blangko dengan cara
Universitas Muhammadiyah Purwokerto. yang sama, tanpa penambahan aluminium
Pembuatan fraksi kloroform dan klorida (Anonim, 2009; Chang 2002).
etil asetat dari ekstrak etanol daun S.
burahol. Ekstrak etanol seberat 170 g
dihidrolisis dengan menggunakan HCl : HASIL DAN PEMBAHASAN
Metanol (1:1) sebanyak 400 ml direfluk Determinasi Tanaman. Tanaman
selama 30 menit. Penyarian dengan kepel (S. burahol) yang digunakan dalam
kloroform 5 x 200 ml dilakukan terhadap penelitian dideterminasi di laboratorium
hasil hidrolisis untuk mengambil senyawa- Biologi Farmasi Fakultas Farmasi
senyawa nonpolar. Penyarian dilanjutkan Universitas Gadjah Mada. Tujuan
dengan etil asetat sebanyak 5 x 200ml determinasi untuk mendapatkan kebenaran
hingga setelah dipisahkan dan diuapkan identitas dengan jelas dari tanaman yang
didapat fraksi etil asetat. Ekstrak etanol, diteliti dan menghindari kesalahan dalam
fraksi kloroform dan fraksi etil asetat pengumpulan bahan utama penelitian. Hasil
kemudian ditetapkan kadar flavonoid determinasi menyatakan bahwa spesimen
totalnya. tumbuhan tersebut adalah benar benar
Penentuan kadar flavonoid total. tanaman Stelecocharpus burahol, (Bl.) Hook
Larutan uji untuk ekstrak, ditimbang dengan f. & Th. dari famili Annonaceae. Hasil
saksama lebih kurang 0,1-1 g ekstrak, determinasi tersebut berdasarkan buku Flora
dilarutkan dalam 10 ml etanol 80%, of Java Vol II (Backer and Van Den Brink,
disentrifus 1000 x gravitasi selama 10 menit. 1965).

Diniatik, dkk
KARTIKA-JURNAL ILMIAH FARMASI, Jun 2015, 3 (1), 54-60 57
ISSN 2354-6565
Pengumpulan Bahan dan enzimatik dan proses hidrolisis karena
Pembuatan Simplisia Daun Kepel (S. kandungan air yang tinggi, agar simplisia
burahol). Pada penelitian ini digunakan yang dihasilkan tidak mudah rusak sehingga
tanaman kepel (gambar 1) yang diambil di dapat disimpan dalam waktu yang relatif
Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman lama. Simplisia kering yang diperoleh
Yogyakarta. Daun segar tanaman kepel selanjutnya diserbuk dengan menggunakan
diambil pada bulan Mei pada pagi hari. blender untuk memperkecil luas permukaan
Daun yang dipetik adalah daun kepel segar sehingga kontak permukaan partikel
diambil dari pohonnya yang berumur 10 simplisia dengan penyari semakin besar dan
tahun sejak penanaman, daun diambil pada penyarian lebih optimal. Simplisia
saat tidak berbunga dan tidak berbuah selanjutnya diayak menggunakan ayakan
(Anonim, 1985). Pengambilan dilakukan mesh 20/40 yang berarti sebanyak 100%
pada tempat dan waktu tertentu untuk simplisia kering lolos pada ayakan mesh 20,
menghindari bermacam macam kandungan kemudian sebanyak 40% dari 100%
kimia dikarenakan perbedaan kondisi simplisia kering lolos ayakan mesh 40,
lingkungan, keadan tanah, dan iklim. sehingga dari 750 gram simplisia kering
daun kepel sebanyak 450 gram lolos ayakan
mesh 20 dan sebanyak 300 gram lolos
ayakan mesh 40. Pada umumnya proses
penyaringan ini penting dalam proses
ekstraksi, karena dengan adanya pengecilan
ukuran partikel akan memperluas
permukaan kontak serbuk dengan penyari
sehingga ekstraksi menjadi lebih maksimal
dan kandungan zat aktif dapat tersari secara
optimal.
Gambar 1. Tanaman kepel (S. burahol) Pembuatan Ekstrak Etanol Daun
Kepel. Metode penyarian yang digunakan
Daun kepel segar yang didapatkan, adalah maserasi. Metode ini merupakan
dicuci dengan air yang mengalir untuk metode yang paling sederhana karena mudah
membersihkan kotoran atau kontaminan dilakukan, murah, tidak memerlukan
yang yang berupa tanah, atau materi lain peralatan yang canggih. Maserasi dilakukan
pada daun tersebut. Dipilih daun (3 kg) yang dengan cara merendam serbuk simplisia
bagus untuk selanjutnya dianginkan. Daun dalam cairan penyari. Pada penelitian ini
kepel dikeringkan di bawah sinar matahari untuk meningkatkan efektivitas ekstraksi
yang ditutupi kain hitam. Selama dilakukan pengadukan dan remaserasi, yaitu
pengeringan, bahan ditata tidak bertumpuk dimaserasi selama 2 x 24 jam dengan
dan dibolak-balik agar pemanasan merata perbandingan antara simplisia dengan etanol
serta proses pengeringan berlangsung cepat. 70% adalah 1:10 untuk hari pertama, dan 1:4
Daun kepel sudah kering di hari ke untuk hari kedua. Caranya yaitu serbuk
tujuh(Anonim, 1985). simplisia sebanyak 750 gram dimaserasi
Pengeringan dilakukan hingga kadar dengan etanol 70% sebanyak 7,5 Liter,
air kurang dari 10% atau sampai daun kemudian dienaptuangkan dan diperas.
mudah untuk dihancurkan ketika diremas. Ampas yang diperoleh dimaserasi lagi
Tujuan dari pengeringan adalah mencegah dengan etanol 70% sebanyak 3 Liter. Pada
pertumbuhan jamur atau mikroorganisme penelitian ini penyari yang digunakan yaitu
dan penguraian senyawa aktif oleh reaksi

Diniatik, dkk
KARTIKA-JURNAL ILMIAH FARMASI, Jun 2015, 3 (1), 54-60 58
ISSN 2354-6565
etanol 70%. Penyari etanol 70% dapat
menarik senyawa senyawa relatif polar
seperti senyawa fenol, flavonoid, saponin,
dan senyawa polar lain yang terkandung
dalam daun kepel, sedangkan etanol yang
digunakan merupakan etanol teknis yang ada
di pasaran yang memungkikan diperoleh
kembali saat diuapkan dengan rotary
evaporator. Dipilih etanol karena sesuai
dengan polaritas senyawa, tidak beracun,
netral, dapat mencegah pertumbuhan kapang
dan kuman, panas yang diperlukan untuk Gambar 2. Gambar regresi linier kurva bau
pemekatan lebih sedikit. Maserat yang rutin
diperoleh diuapkan di atas penangas air Tabel 1. Data kurva baku rutin
hingga konsistensi kental. Penguapan Konsentrasi (mg/ml) Absorbansi
dilakukan untuk menghilangkan larutan 0,050 0,205
penyari agar tidak mempengaruhi uji 0,075 0,279
selanjutnya seperti yang tertera pada tabel 1 0,100 0,326
berikut. 0,125 0,412
Tabel 1. Rendemen ekstrak etanol 0,150 0,489
Jenis Bobot Bobot Berat Rendemen 0,175 0,540
simplisia simplisia ekstrak (%) 0,200 0,629
basah kering
0,225 0,690
Ekstrak 3 kg 750 g 150,23 20,03 0,250 0,770
etanol g
70%
Penetapan Kadar Flavonoid Total Pada
Ektrak Etanol Daun Kepel
Dari serbuk simplisia sebesar 750 g Sebelum ditentukan kadar flavonoidnya
diperoleh ekstrak 150,23 g. Ektrak kental ini dilakukan dulu uji kualitatif adanya
dihidrolisis hingga diperoleh 31,09 g fraksi flavonoid, dengan menggunakan
kloroform dan 26,58 g fraksi etil asetat. pengamatan dibawah sinar UV 366. Pada
Kemudian ekstrak etanol, fraksi kloroform gambar 3 dibawah terdapat pada ekstrak
dan fraksi etil asetat dilakukan penetapan etanol fluoresensi hijau (rf 0,05), hijau
kadar flavonoid total dengan menggunakan kekuningan (rf 0,2), kuning (rf 0,5),
metode Chang. lembayung (rf 0,65), kuning (rf 0,7),
lembayung (rf 0,75). Dugaan flavonoid ada
Pembuatan kurva baku rutin. Dibuat pada bercak no 2 sampai 6.
kurva baku dengan menimbang 10,0 mg
standar rutin yang dilarutkan dalam 5 ml
etanol 80%. Panjang gelombang maksimal
yang diperoleh adalah 415,5 nm. Data kurva
baku bisa dilihat pada gambar 2 berikut.

Diniatik, dkk
KARTIKA-JURNAL ILMIAH FARMASI, Jun 2015, 3 (1), 54-60 59
ISSN 2354-6565
flavonoid yang cukup signifikan pada
penelitian ini (Hidayati, 2004). Pada
penetapan kadar flavonoid total pada fraksi
kloroform dan fraksi etil asetat diperoleh
kadar rata-rata 3,15% dan 75,14% (b/b). hal
ini menunjukkan bahwa flavonoid yang
sudah terhidrolisis, menjadi aglikon
flavonoid, terdapat di fraksi kloroform
dalam jumlah yang sangat kecil, sedangkan
sebagian besar masuk di dalam fraksi etil
asetat. Hidrolisis sebelum fraksinasi
bertujuan untuk memisahkan aglikon
flavonoidnya yang masuk dalam pelarut
organik, sedangkan glikonnya masuk pada
air asam.
Gambar 3. Analisis kualitatif adanya flavonoid Tabel 2. Kadar flavonoid total ekstrak etanol
dari ekstrak etanol, fraksi kloroform dan fraksi daun kepel relatif terhadap pembanding rutin
etil asetat, A. fase gerak asam asetat 30%, dilihat Bobot Absorbansi Kadar Kadar
di sinar UV 366, dan diuapi amoniak dilihat di (mg) mg/ml flavonoid
sinar UV 366 total % (b/b)
ekstrak
Selanjutnya dilanjutkan penetapan kadar 100,1 0,640 0,204 10,2 %
dengan menggunakan kurva baku yang 100,2 0,621 0,198 9,9%
sudah dibuat diatas, yaitu y=2,818x+0,059, 100,3 0,581 0,186 9,3%
dapat ditentukan kadar flavonoid total dari Rata-rata 9,8%
ekstrak etanol daun kepel. Pada table 2 Fraksi Etil Asetat
dibawah diperoleh kadar flavonoid total 10,1 0,304 0,0855 85,50 %
ekstrak etanol daun kepel relatif terhadap 10,0 0,247 0,0656 65,61%
rutin yaitu rata-rata 9,8% b/b. Metode 10,1 0,272 0,0743 74,33%
penetapan kadar ini tidak melalui metode Rata-rata 75,14%
Fraksi Kloroform
hidrolisis, sehingga proses kerjanya jauh
30,1 0,270 0,736 3,07 %
lebih singkat dan mudah (Diniatik dkk, 30,0 0,271 0,740 3,08%
2013). Metode ini juga pernah digunakan 30,3 0,285 0,789 3,29%
untuk penetapan kadar flavonoid total pada Rata-rata 3,15%
tanaman yang satu famili dengan S. burahol,
Annonaceae, yaitu tanaman Annona dioca
St. Hill, dengan kadar flavonoid 73,32 % KESIMPULAN
(b/b) (Formagio et al, 2013). Kadar 1. Rendemen ekstrak etanol daun kepel
flavonoid total yang cukup besar pada sebesar 20,03%
ekstrak etanol (9,8 % b/b)sangat bisa 2. Kadar rata-rata flavonoid total dalam
dikaitkan dengan beberapa uji aktivitas ekstrak etanol daun kepel adalah 9,8 %(b/b),
untuk melengkapi penelitian terkait daun fraksi etil asetat 75,14%(b/b) dan fraksi
kepel. Beberapa penelitian seperti uji kloroform 3,15 %(b/b)
pelarutan batu kalsium dari fraksi air dan
fraksi etanol daun kepel sudah dilakukan DAFTAR PUSTAKA
dan berkorelasi positif dengan kadar Anonim, 2013, Kepel, Balittro Bogor

Diniatik, dkk
KARTIKA-JURNAL ILMIAH FARMASI, Jun 2015, 3 (1), 54-60 60
ISSN 2354-6565
Anonim, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, from the Leaves of Triumfetta
4-10, Departemen Kesehatan RI, procumbens in Ryukyu Islands, Bull.
Jakarta. Natl. Mus. Nat. Sci., Ser. B, 38(2),
Backer, C.A. dan Bakhuizen van den Brink, pp. 6367, May 22.
R.B.C., 1963, Flora of Java: Purwantiningsih, Hakim, A.R., Purwatini, I.,
Spermatophytes only, pp. 3-51, 100- 2010, Antiihyperuricemic
102, Vol. I, Netherlands. Activity Of The Kepel
Diniatik, Hapsari, I., Tiara, M., Meidyawati, Stelechocarpus burahol
A., Nurhidayat, S., 2013, (Bl.)Hook.F.&Th.] Leaves Extract
Determination and Validation And Xantine Oksidase Inhibitory
Method of Total Flavonoid Content Study, International Journal of
and Total Phenolic Content of Pharmacy and Pharmaceutical
Ethanolic Extract of Mangosteen Sciences,Vol. 2, Issue. 2,hal 122-127
(Garcinia mangostana L.) Leaves as Matlawska, I. & Sikorska, M., 2005,
Natural Preservatives Candidate by Flavonoids FromAbutilon
using Spectrophotometric Method, Theophrasti Flowers, Acta Poloniae
Prosiding International Seminar Pharmaceutica N Drug Research,
NETS, Universitas Muhammadiyah Vol. 62 No. 2 Pp. 135n139, Issn
Purwokerto 0001-6837 Polish Pharmaceutical
Chang CC, MH Yang, HM Wen, and JC Society
Chern. 2002. Estimation of total Nazaruk, J., & Golden, J., 2003, Flavonoid
flavonoid content in propolis by two Compounds From The Flowers of
complementery colorimetric Circum rivulare Jacq. All, Acta
methods. J Food Drug Anal., 10 (3), Poloniae Pharmaceutica-Drug
178-182. Research, Vol 60, No 1, 87-89
Formagio, A.S.N., Kassuya, C.A.L., Neto, Sunarni, 2007, Flavonoid antioksidan
F.F., Volobuff, C.R.F., Iriguchi, penangkap radikal dari daun kepel
E.K.K, Vieira, M.C., Foglio, M.A., (Stelechocarpus burahol (Bl.) Hook
2013, The Flavonoid Content and f. & Th.), Majalah Farmasi
Antiproliferative, Hypoglycaemic, Indonesia, 18(3), 111 116
Antiinflamatory and Free Radical Syukri, M., 2007, Asam Urat dan
Scavenging Activities on Annona Hiperuresemia, Majalah Kedokteran
dioca, St. Hill, BMC Complementary Nusantara, Volume 40 No. 1.
and Alternative Medicine, 13:14, Tisnadjaja, D., Saliman, E., Silvia,
page 1-8. Simanjuntak, P., 2006, Pengkajian
Hasan, A., & Tahir, M.N., 2005, Flavonoids Burahol (Stelechocarpus burahol
from the Leaves of Impatiens (Blume) Hook & Thomson) sebagai
bicolor, Turk J Chem, 29 (2005), 65- Buah yang Memiliki Kandungan
70. Senyawa Antioksidan, Biodiversitas,
Hidayati, 2004, Uji Daya Melarutkan Fraksi ISSN: 1412-033X, Volume 7, Nomor
Air dan Fraksi Etanol Infusa Daun 2 April 2006, Halaman: 199-202
Kepel (Stelecocharpus burahol,
Hook) Terhadap Batu Ginjal
Kalsium
Iwashina, T. & Kokubugata, G., 2012,
Flavone and Flavonol Glycosides

Diniatik, dkk