Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam perkembangan nya akuntansi mempunyai beberapa bidang khusus.


Hal ini seiring dengan perkembangan dunia usaha, pertumbuhan ekonomi,
kemajuan teknologi yang pesat dan faktor lainnya yang mempengaruhi kegiatan
perusahaan. Akuntansi biaya adalah bagian dari akuntansi manajemen dimana
merupakan salah satu bidang khusus akuntansi yang menekankan pada penentuan
dan pengendalian biaya. Bidang akuntansi biaya ini tidak hanya berhubungan
dengan biaya-biaya untuk memproduksi suatu barang tetapi telah diterapkan pada
berbagai bidang kegiatan manufaktur jasa, seperti : penyalur, perusahaan asuransi,
perusahaan perbankan, sekolah-sekolah dan rumah sakit, kereta api, dan
penerbangan, dan instansi pemerintahan.

Dalam pengelolaan perusahaan akuntansi biaya merupakan bagian yang


penting dari ilmu akuntansi dan telah berkembang menjadi alat menajemen yang
berfungsi menyediakan informasi biaya bagi kepentingan manajemen agar dapat
menjalankan fungsinya dengan baik.

Informasi biaya sangat diperlukan manajemen untuk tujuan penentuan


harga pokok, perencanaan biaya, pengendalian biaya dan juga sebagai dasar untuk
pengambilan keputusan. Pentingnya bahan baku perusahaan membutuhkan
pengendalian yang tepat agar dapat memberikan harga pokok yang sesuai yang
nantinya mencapai laba yang diinginkan.

B. Rumusan Masalah

Apakah pengertian dari Biaya dan Biaya Bahan Baku?

Apa saja proses-proses yang terjadi dalam kegiatan perusahaan terkait Biaya
Bahan Baku?

Bagaimana kalkulasi Biaya Bahan Baku?

Bagaimana pengendalian biaya bahan baku?

Page | 1
Apa Saja Masalah Khusus yang berhubungan dengan bahan baku dan
penyelesaiannya?

C. Tujuan Makalah

Mengetahui Pengertian biaya dan biaya bahan baku

Mengetahui Proses proses yang terkait dengan biaya bahan baku

Mengetahui dan mampu menghitung biaya bahan baku

Mengetahui Pengendalian Biaya Bahan Baku

Mengetahui masalah khusus biaya bahan baku dan penyelesaian nya

Page | 2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Biaya Bahan Baku

Menurut Nafarin ( 2004 : 379 ) Biaya (Cost) adalah nilai sesuatu yang
dikorbankan yang diukur dalam satuan uang untuk memperoleh aktiva yang
diimbangi dengan pengurangan aktiva atau penambahan utang atau modal.

Pengertian Biaya adalah aliran dana atau sumber daya yang dihitung dalam
satuan moneter yang dikeluarkan guna memenuhi pengeluaran perusahaan atau
sering disebut beban perusahaan. Menurut Standar Akuntansi Keuangan
(1999:12).1

Istilah biaya tidaklah sama dengan beban dan kerugian seringkali istilah-istilah ini
digunakan dalam pengertian yang sama. Mengenai perbedaan dari ketiga istilah
dapat dilihat dari definisi berikut:2

1. Biaya adalah pengeluaran pengeluaran atau nilai pengorbanan untuk


memperoleh barang dan jasa yang berguna untuk masa yang akan datang atau
mempunyai manfaat melebihi dari suatu periode akuntansi tahunan. Biasanya
tercermin dalam neraca sebagai aset perusahaan misalnya mobil atau kendaraan
yang mempunyai manfaat selama 5 tahun.
2. Beban merupakan biaya yang telah memberikan suatu manfaat dan
termasuk Pola penurunan dalam aset atau kenaikan dalam kewajiban sehubungan
dengan penyerahan barang dan jasa dalam rangka memperoleh pendapatan serta
pengeluaran-pengeluaran yang hanya memberi manfaat untuk tahun buku yang
berjalan. Jika manfaat dari barang atau jasa itu diterima maka biaya menjadi
beban atau dengan kata lain dia yang telah habis masa manfaatnya merupakan
beban sedangkan biaya manfaatnya masih akan diterima digolongkan sebagai aset
3. Kerugian adalah biaya yang timbul ketika barang atau jasa diperoleh pada
hakekatnya tidak mempunyai nilai sama sekali atau tanpa manfaat apa-apa lagi

1
http:/landasanteori.com/2015/07/pengertian-biaya-dan-klasifikasi-menurut.html/
2
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.22

Page | 3
karena kondisi-kondisi tertentu beban dan kerugian kedua-duanya mempengaruhi
pendapatan tetapi disajikan secara terpisah dalam laporan laba rugi termasuk juga
dalam hal ini transaksi-transaksi yang mengulangi aset neto perusahaan yang
bukan beban beban atau pengembalian modal kepada pemilik.3

Biaya bahan baku merupakan bahan yang membentuk bagian menyeluruh


produk jadi. Bahan baku yang diolah dalam perusahaan manufaktur dapat
diperoleh dari pembelian lokal, impor, atau dari pengolahan sendiri. Didalam
memperoleh biaya bahan baku, perusahaan tidak hanya mengeluarkan biaya
sejumlah harga beli bahan baku saja, tetapi juga, mengeluarkan biaya-biaya
pembelian, pergudangan, dan biaya-biaya perolehan lain nya. Timbul masalah
menegenai unsur biaya apa saja yang dipertimbangkan sebagai harga pokok bahan
baku yang dibeli. 4

2.2 Kegiatan yang berhubungan dengan Bahan Baku

Pada Dasarnya ada dua jenis transaksi utama yang mempengaruhi persediaan
bahan, yaitu: (1) Pembelian dan penerimaan bahan, (2). Pengeluaran dan
Pemakaian Bahan.

Pencatatan Pembeliaan dan Penerimaan Bahan. Biasanya dalam perusahaan


manufaktur digunakan metode sistem perpetual (perpetual system) dan dikenal
juga periodik sistem (periodic system).

Sistem Perpetual

Jurnal pencatatan nya:

Persediaan Bahan Rp.xxx

Utang Dagang Rp.xxx

Setiap transaksi pembelian dan dicatat dalam kartu persediaan bahan untuk
masing masing jenis.

3
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.22
4
Mulyadi , Akuntansi Biaya Edisi 5, Universitas Gajah Mada, Hal. 275

Page | 4
Pencatatan pengeluaran dan pemakaian bahan. Setiap pengeluaran bahan dari
gudang untuk pemakaian di pabrik, harus didasarkan pada bukti permintaan bahan
(BPB) yang dibuat oleh karyawan bagian produksi.

Jurnal pencatatan nya :

Barang Dalam Proses Rp.xxx

Persediaan Bahan Rp.xxx

Untuk bahan baku yang diminta tetapi tidak dipakai maka akan dikembalikan ke
gudang dengan membuat slip pengembalian bahan dan dicatat sebagai berikut.

Persediaan Bahan Rp.xxx

Barang dalam proses Rp.xxx5

Akuntansi untuk biaya bahan bertujuan untuk penentuan harga pokok


bahan yang pada akhirnya menentukan harga pokok produk, sekaligus digunakan
untuk mengendalikan biaya bahan. Oleh karena itu, dalam akuntansi biaya bahan
diperlukan suatu sistem pengendalian bahan untuk menelusuri dan memonitor
kegiatan pengadaan seperti pembelian, penerimaan, penyimpanan, pembayaran,
dan pemakaian bahan.

Sistem pengendalian Bahan biasanya meliputi penggunaan formulir-formulir dan


media pencatatan untuk mencatat dan melaporkan data yang diperlukan, dan
seperangkat prosedur operasional yang berhubungan dengan pemakaian dari
formulir-formulir tersebut.

(1.)Prosedur pembelian dan penerimaan bahan

Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh bagian pembelian/ orang yang secara resmi
diberi wewenang untuk melakukan pembelian dari suatu perusahaan.

Tujuan dari fungsi pembelian adalah menjamin bahwa :

1. Departemen atau bagian produksi senantiasa mempunyai bahan baku yang


cukup.
2. Pembelian bahan baku dilakukan dengan harga yang paling rendah

5
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.57

Page | 5
3. Bahan baku tersebut memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan oleh
manajemen atau pimpinan perusahaan.

Ada 3 formulir yang digunakan dalam prosedur pembelian sampai bahan diterima
oleh bagian penerimaan atau gudang, yaitu :

1. Permintaan Pembelian (Purchases Requestion), merupakan formulir yang


dibuat dan diisi oleh unit tertentu dalam perusahaan untuk memberitahu
kepada bagian pembelian mengenai bahan atau perlengkapan dan
peralatan yang dibutuhkan.
2. Order Pembelian (Purchases Order), merupakan permohonan tertulis
kepada rekanan (supplier) untuk memberi barang-barnag yang diperlukan
dalam jumlah atau kuantitas tertentu dengan harga yang disetujui, dan
syarat syarat penyerahan dan syarat pembayaran yang ditetapkan.
3. Laporan Penerimaan (Receiving Report), merupakan laporan yang dibuat
oleh bagian atau departemen penerimaan dengan menyatakan jumlah atau
kuantitas dan kondisi dari barang yang diterima.

Prosedur pengadaan bahan baku dalam perusahaan sebagai berikut.

1.) Prosedur pembelian yang terdiri atas :


1. Pembuatan Formulir permintaan pembelian.
Formulir permintaan pembelian dibuat dalam rangkap 2. Lembar
kesatu atau asli diserahkan kepada bagian pembelian sebagai dasar
melaksankan pembelian, sedangkan lembar kedua disimpan sebagai
arsip oleh departemen atau bagian yang mengajukan permintaan
pembelian, dalam hal ini misalnya gudang bahan baku.6
2. Departemen Pembelian meminta penawaran harga dari beberapa
rekanan (supplier) dan atas dasar salah satu penawaran harga yang
disetujui oleh manajemen perusahaan, selanjutnya membuat atau
mengisi formulir order pembelian rangkap lima yang disetujui atau
ditandatangai oleh kepala departemen pembelian. Lembar kesatu atau
asli dikirimkan kepada rekanan atau penjual. Lembar kedua untuk
bagian akuntansi dan lembar ketiga untuk bagian penerimaan sebagai
pemberitahuan untuk siap menerima, meneliti, menghitung barang

6
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009,
hlm.182

Page | 6
yang telah dipesan tau dibeli. Sedangkan lembar ke empat diserahkan
kepada karyawan pemegang kartu persediaan bahan, dan lembar
kelima sebagai arsip dari bagian pembeli. Untuk tujuan pengendalian
seringkali order pembelian untuk bagian penerimaan tidak
mencantumkan harga.
2.) Prosedur penerimaan atas bahan yang telah dipesan. Fungsi ini
biasanya dilakukan oleh bagian penerimaan atau oleh karyawan
gudang yang ditugaskan. Tugas bagian penerimaan tidak hanya
sekadar menghitung kuantitas barang yang diterima dan
mengidentifikasikan dengan keterangan yang terdapat pada order
pembelian, tetapi juga melakukan inspeksi dan meneliti apakah barang
tersebut sesuai dengan kualitas standar yang diinginkan. Formulir
penerimaan barang disediakan kolom ruang atau kolom untuk
mencatat hasil isnpeksi apakah semua pengirimin barang dari rekanan
atau penjual disetujui, atau ada jumlah tertentu yang ditolak dan
mengungkapkan alasannya. Kemudian bagian penerimaan membuat
laporan penerimaan barang rangkap lima. Lembar kesatu atau asli
diberikan ke bagian pembelian sebagai pemberitahuan bahwa barnag
yang dipesan sudah diterima. Lembar kedua dikirim ke bagian
akuntansi sebagai dasar mencatat utang dagang setelah dokumen ini
dicocokkan dengan order pembelian dan faktur. Lembar ketiga
diserahkan kepada karyawan pencatat kartu persediaan bahan, lembar
keempat untuk gudang, dan lembar kelima disimpan sebagai arsip.

Prosedur Pembayaran

Prosedur ini dimulai dari bagian akuntansi menerima salinan order


pembelian. Setelah faktur diterima dari rekanan atau penjual, bagian akuntansi
mencocokkan faktur dengan order pembelian dan mem-file kedua dokumen
tersebut secara menunggu laporan penerimaan barang apabila laporan pembelian
barang diterima dari bagian penerimaan.Dokumen penerimaan ini harus
dicocokkan dengan faktur untuk memastikan bahwa barang atau bahan yang
diterima memenuhi spesifikasi yang diinginkan dalam order pembelian, seperti
jenis barang, jumlah unit, harga per unit, dan jumlahnya, potongan dan syarat

Page | 7
pembayaran, dan syarat lainnya. Apabila faktur dapat disetujui, selanjutnya dibuat
bukti jurnal ( journal voucher) dan melampirkan faktur, laporan penerimaan
barang, dan indeks pembelian pada bukti jurnal sebagai dokumen pendukung
berdasarkan7pada bukti jurnal ini. Bagian akuntansi mencatat transaksi dalam
buku harian atau jurnal pembelian dan masing-masing buku tambahan atau kartu
persediaan bahan.

Bukti jurnal dan bukti pendukung kemudian dikirim ke bagian keuangan


atau bendahara untuk melakukan pembayaran. Bagian keuangan menerima
kuitansi dan melampirkan sebagai tambahan bukti pendukung dari bukti jurnal.
Seluruh dokumen ini dikirim kembali ke bagian akuntansi, dan selanjutnya dicatat
dalam buku harian mengeluarkan kas. Setelah ini bukti jurnal dan dokumen
pendukung disimpan sebagai arsip bagian akuntansi.

Pencatatan atas transaksi pembelian barang dicatat atau dibebankan


kepada berbagai akun buku besar yang berlainan bergantung pada jenis
pembelian.

(2.)Prosedur Pemakaian dan Alokasi Biaya Bahan

Seperti halnya prosedur pembelian dan penerimaan barang prosedur


pembayaran, dan juga setiap prosedur operasional harus dirancang dalam
menunjukkan suatu langkah-langkah yang sistematis dan efisien, dan telah
mempertimbangkan dan mencakup segi-segi pengendalian yang baik didalam
prosedur-prosedur tersebut (built in control). Prosedur pemakaian bahan terdiri
atas :

1. Permintaan bahan baku dan bahan tidak langsung kepada bagian penyimpanan
atau gudang biasanya berasal dari departemen produksi. Permintaan bahan ini
dilakukan dengan menggunakan formulir bukti permintaan bahan yang harus
disetujui terlebih dahulu oleh orang atau pejabat yang berwenang yang dalam
hal ini biasa biasanya seorang kepala departemen, atau pengawas atau mandor
atau kepala regu. Bukti permintaan bahan ini merupakan dasar bagi gudang
bahan untuk mengeluarkan bahan bahan yang diminta. Formulir bukti
7
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009,
hlm.183

Page | 8
permintaan bahan dibuat dalam rangkap tiga. Lembar kesatu atau asli untuk
gudang bahan, lembar kedua untuk karyawan pemegang kartu persediaan
bahan dan bagian biaya, lembar ketiga disimpan sebagai arsip departemen
produksi.
2. Berdasarkan bukti permintaan bahan, karyawan pemegang kartu persediaan
bahan mencatat pada bagian keluar dan selanjutnya dibukukan ke kartu harga
pokok pesanan dan laporan biaya produksi, atau daftar biaya overhead pabrik
per departemen.

Sebagaimana proses akuntansi yang berlaku umum transaksi permintaan bahan


juga dicatat dalam buku harian atau jurnal umum sebelum dipindahbukukan ke
akun buku besar bahan. Digunakan nama aku persediaan bahan yang menghimpun
bahan baku dan juga bahan tidak langsung. Oleh karena itu transaksi permintaan
bahan baku dan bahan tidak langsung oleh departemen produksi dan permintaan
perlengkapan oleh bagian pemasaran dan bagian administrasi merupakan jumlah
transaksi yang banyak dan berulang-ulang, maka digunakan buku harian atau
jurnal khusus yaitu buku harian permintaan bahan untuk mencatat transaksi-
transaksi tersebut.

Setelah rencana produksi ditetapkan, dapat digunakan suatu formulir yaitu


daftar bahan untuk menaksir kuantitas dari masing-masing bahan yang diperlukan
selama proses produksi. Daftar bahan ini adalah dokumen yang mendaftarkan
bahan-bahan yang diperlukan untuk produk-produk yang akan dihasilkan. Dengan
menggunakan dokumen ini akan menghemat waktu dan meningkatkan efisiensi.
Pada waktu pekerjaan atau produksi dimulai, semua bahan yang terdaftar dalam
daftar bahan dikirim ke pabrik atau dikeluarkan secara bertahap menurut jadwal
waktu yang ditetapkan.

2.3 Kalkulasi Biaya Bahan Baku

Kalkulasi Metode Harga pokok bahan

Harga pokok bahan adalah harga perolehan yaitu, harga untuk memperoleh
bahan tersebut. Harga perolehan meliputi harga beli ditambah dengan semua biaya
yang terjadi sampai dengan bahan digunakan dalam proses produksi. Dalam hal
demikian disamping harga beli dalam harga pokok bahan termasuk biaya lainnya,

Page | 9
yang berkaitan dengan pembelian, penerimaan, pemeriksaan bahan, asuransi,
penyimpanan, dan biaya lainnya yang juga mempengaruhi penentuan biaya
produksi.

Dalam hal pertimbangan dari segi praktis dan perbandingan manfaat dan
biaya, seringkali terjadi dalam praktik dimana harga pokok bahan hanya
mencakup harga faktur atau harga beli, ditambah biaya yang berkaitan langsung
dengan pembelian, seperti biaya pengangkutan, bea masuk, dan asuransi.

Potongan harga

Dalam akuntansi harga pokok bahan ada dua jenis potongan pembelian yang
mempengaruhi penentuan harga pokok dari bahan tersebut yaitu:

1. Potongan perdagangan (trade discont)


potongan perdagangan diberikan penjual Karena perusahaan melakukan
pembelian dalam jumlah unit atau kuantitas yang besar. Potongan ini biasanya
tidak termasuk dalam catatan akuntansi tetapi diperlukan sebagai
pengurangan atas harga perolehan.
2. Potongan tunai (Cash Discont)8
merupakan potongan harga yang diterima oleh perusahaan apabila
pembayaran dilakukan lebih segera dari jangka waktu kredit. Syarat untuk
potongan tunai biasanya dinyatakan dalam format seperti 2 / 10 n/30 hal ini
berarti bahwa jangka waktu kredit yang diberikan oleh penjual adalah 30 hari
dan bila pembayaran dilakukan dalam jangka waktu 10 hari setelah tanggal
transaksi maka diberikan potongan sebesar 2%. Potongan tunai dapat
dianggap sebagai penyesuaian harga atas persediaan bahan pada potongan
perdagangan pengecilan atau pengurangan harga langsung dilakukan pada
faktur.
Ada dua jenis metode yang dapat digunakan dalam mencatat transaksi
pembelian bahan sehubungan dengan adanya potongan tunai dalam syarat
jual beli atau syarat kredit yaitu
1. Metode neto dimana Pembelian bahan atau persediaan dicatat dengan
harga faktur bruto dikurangi potongan tunai yang direncanakan akan
diambil

8
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.187

Page | 10
2. Metode bruto yang mencatat persediaan dengan harga faktur tanpa
memperhitungkan potongan tunai yang disyaratkan.
3. Biaya pengangkutan9

Biaya pengangkutan yang terjadi sehubungan dengan perolehan bahan


merupakan bagian dari harga perolehan bahan, dengan demikian biaya ini
termasuk sebagai harga pokok bahan. Biasanya, biaya pengangkutan mencakup
beberapa faktor dan jenis bahan yang dibeli. Oleh karena itu, dalam penentuan
harga pokok untuk setiap jenis bahan diperlukan suatu alokasi biaya. Cara
mengalokasikan biaya pengangkutan ini dapat dilakukan atas dasar nilai dari
masing-masing faktur atau nilai dari setiap jenis bahan pada faktur dalam hal
pembelian hanya untuk satu faktur. Cara lain adalah berdasarkan masing-masing
jenis bahan.

Sebagai contoh, biaya pengangkutan sebesar Rp. 1.400.000 berkaitan


dengan nilai pembelian dari satu faktur sebesar Rp. 20.000.000 dengan jumlah
10.000 kg. Untuk setiap Rp. 1 bahan yang dibeli akan memperoleh alokasi biaya
pengangkutan sebesar Rp. 0,07 (Rp. 1.400.000:Rp.20.000.000). bila didasarkan
pada berat bahan, maka per kg bahan akan dibebani biaya pengangkutan sebesar
Rp. 140 (Rp.1.400.000:10.000).

Apabila jumlah biaya pengangkutan ini dicatat dengan mendebet akun


persediaan bahan, maka untuk setiap jenis bahan yang berkaitan biaya ini juga
ditambahkan kepada masing-masing akun buku tambahan atau kartu persediaan
bahan.

Untuk memudahkan pencatatan, diselenggarakan akun biaya


pengangkutan untuk menghimpun seluruh biaya pengangkutan yang terjadi.
Alokasi biaya ini baru dilakukan pada saat bahan digunakan untuk proses
produksi.

Ayat jurnal untuk mencatat biaya pengangkutan pada saat terjadinya sebagai
berikut.

Biaya pengangkutan Rp.xxx

9
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.188

Page | 11
Kas /biaya yang masih harus dibayar Rp.xxx

Sedangkan ayat jurnal untuk mengalokasikan biaya pengangkutan pada saat bahan
digunakan untuk produksi.

Barang dalam proses Rp.xxx

Biaya pengangkutan Rp.xxx

Pada akhir periode akuntansi, saldo dari akun biaya pengangkutan ini dapat
dibebankan ke akun beban pokok penjualan jika jumlahnya tidak berarti. Apabila
saldonya menunjukkan nilai yang cukup besar, maka dialokasikan ke akun beban
pokok penjualan atau persediaan bahan (material).

4. Biaya-biaya Proses Pengadaan Bahan10

Untuk dapat mengetahui biaya apa saja yang berkaitan dengan pengadaan
bahan selain dari harga faktur dan biaya angkut pembelian, terlebih dahulu perlu
mengetahui proses sebelum melakukan pengadaan, saat proses pengadaan, dan
penerimaan dan pergudangan. Biaya-biaya yang berhubungan dengan bahan sejak
persiapan pengadaan, saat pengadaan sampai bahan tersebut dapat digunakan
adalah sebagai berikut.

1. Saat persiapan pengadaan akan terjadi biaya-biaya, misalnya biaya


komunikasi, pemakaian perlengkapan order pembelian, biaya tenaga kerja
yang mempersiapkan order pembelian, dan biaya peralatan yang
digunakan untuk melakukan order pembelian.
2. Saat melakukan pengadaan akan terjadi biaya-biaya, misalnya biaya
komunikasi pengangkutan, pajak impor yang tidak dapat dikreditkan,
biaya pengurusan dokumen saat barang akan diangkut atau dikapalkan.
3. Saat barang diterima akan terjadi biaya-biaya, misalnya: biaya
penerimaan, biaya perlengkapan penerimaan, biaya peralatan penerimaan,
biaya gudang dan biaya inspeksi untuk barang yang memerlukan tenaga
ahli, biaya asuransi penyimpanan.
4. Biaya yang berkaitan dengan administrasi yang terkait dengan pengadaan
bahan, misalnya biaya administrasi umum, biaya bagian akuntansi, biaya
asuransi umum, biaya keamanan.
10
Drs. Mursyidi,S.E,Msi Akuntansi Biaya, Reflika Utama, hal.209

Page | 12
Sistem pencatatan11

Ada dua sistem pencatatan untuk persediaan bahan, yaitu: (1.) sistem periodic
( periodic inventory system) , dan (2.) sistem perpetual (perpetual inventory
system). Perusahaan dalam industri manufaktur biasanya menggunakan sistem
perpetual dalam mencatat persediaan bahan. Hal ini dikarenakan terdapatnya
beberapa segi pengendalian yang baik pada sistem ini.

Sistem periodik merupakan sistem pencatatan yang mudah dalam


pelaksanaannya dan biayanya Tidak mahal, tetapi mempunyai kelemahan dari segi
pengendalian.

Sistem ini mempunyai karakteristik sebagai berikut.

1. Dalam menetapkan persediaan harus dilakukan perhitungan fisik atas


barang yang ada di perusahaan agar dapat menentukan nilai persediaan
akhir periode dan menghitung biaya atau harga pokok bahan yang
dipakai .
2. Terdapat beberapa akun yang digunakan dalam mencatat transaksi
pembelian dan transaksi lainnya yang berkaitan seperti akun pembelian ,
akun biaya pengangkutan pembelian akun potongan, pembelian serta akun
pembelian retur dan pengurangan harga. pencatatan akhir periode melalui
jurnal penyesuaian.
3. Biaya atau harga pokok bahan yang dipakai dihitung sebagai berikut.
Persediaan bahan awal periode Rp.xxx
(ditambah) pembelian Rp.xxx
Persediaan yang tersedia untuk di pakai Rp.xxx
(dikurangi) persediaan bahan akhir periode (Rp.xxx)

Harga pokok bahan yang di pakai Rp.xxx

Sistem perpetual melakukan pencatatan secara terus-menerus terhadap


penambahan dan pengurangan persediaan. Dengan demikian biaya atau harga
pokok bahan yang dipakai atau persediaan bahan pada akhir periode setiap waktu
dapat ditentukan. Dalam sistem perpetual penambahan dan pengurangan bahan
juga dicatat dalam masing-masing akun buku tambahan atau kartu persediaan

11
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009,
hlm.189

Page | 13
bahan untuk setiap jenis bahan. Dengan demikian dapat diketahui suatu dari
masing-masing persediaan bahan tersebut Setiap saat, dan setiap terjadi transaksi
penerimaan dan pemakaian bahan. Pada waktu barang telah diterima dalam
kondisi baik, berdasarkan bukti jurnal dan bukti pendukung seperti order
pembelian, laporan penerimaan barang, dan faktur, maka transaksi tersebut dicatat
oleh karyawan pencatat kartu persediaan bahan pada bagian masuk, Sedangkan
untuk bahan dikeluarkan dari gudang dicatat pada bagian keluar berdasarkan bukti
permintaan bahan yang diterima oleh karyawan mencatat kartu persediaan bahan.
Proses pencatatan dalam kartu persediaan bahan dapat dilakukan melalui paket
program computer.

Ayat jurnal untuk mencatat beberapa jenis transaksi yang berhubungan


dengan persediaan bahan adalah sebagai berikut.12

Transaksi: 1. Pembelian dan penerimaan bahan

(Dr) persediaan bahan xx

(Cr) utang dagang xx

2. Pengembalian bahan kepada penjual ataupun rekanan

(Dr) Utang Dagang xx


(Cr) Persediaan Bahan xx

3.Permintaan pemakaian bahan untuk produksi

(Dr) Barang dalam Proses (bahan baku) xx


(Dr) Biaya overhead pabrik (bahan tidak langsung)xx
(Cr) persediaan bahan xx

4.Pengembalian bahan dari produksi kegudang

(Dr) Persediaan bahan xx

(Cr) Barang dalam Proses xx

(Cr) Biaya Overhead Pabrik xx

12
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009,
hlm.190

Page | 14
5.Hasil perhitungan fisik atas persediaan

Lebih kecil daripada kartu persediaan bahan


(Dr) Biaya Overhead Pabrik xx
(Cr) Persediaan Bahan xx

Apabila digunakan sistem periodic, transaksi pembelian dan penerimaan


bahan dicatat dalam akun pembelian sebagai ganti akun persediaan bahan pada
sistem perpetual. Sedangkan transaksi pemakaian tidak diperlukan pembuatan
ayat jurnal.

Penentuan harga pokok13

Karena terdapat beberapa kali pembelian dan perolehan bahan dengan harga
perolehan per unit yang berbeda-beda dalam suatu periode pembukuan, masalah
penentuan harga pokok atas pemakaian bahan untuk produksi menjadi tidak
mudah. Perusahaannya adalah mengenai harga perolehan mana yang merupakan
harga pokok dari bahan yang dipakai tersebut.

Metode yang biasa digunakan dalam menentukan harga pokok dari bahan
yang dipakai untuk produksi adalah sebagai berikut.

1. Metode-metode FIFO
2. Metode LIFO
3. Metode rata-rata
4. Metode lainnya seperti metode biaya standar
5. Metode Identifikasi Khusus
6. Metode Rata-rata Harga Pokok Bahan baku pada Akhir Bulan

Penerapan dari metode metode harga pokok tersebut adalah pada saat
mencatat transaksi pembelian atau penerimaan dan pemakaian bahan dalam kartu
kartu persediaan atau buku tambahan untuk setiap jenis bahan. Bentuk atau format
dari kartu persediaan bahan umumnya terdiri atas tiga bagian pokok, yaitu :
bagian masuk, bagian keluar, dan bagian saldo. Seluruh bagian tersebut terdiri
atas kolom-kolom yang menunjukan kuantitas, harga pokok per unit, dan jumlah.
Disamping itu terdapat pula dua kolom lainnya yaitu mengenai tanggal dan nomer
bukti.

13
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009,
hlm.191

Page | 15
Metode FIFO (First In First Out)

Metode ini mempunyai anggapan bahwa secara fisik bahan yang


dikeluarkan untuk produksi berasal dari bahan yang pertama dibeli, demikian pula
biaya atau harga pokoknya. Jika terdapat persediaan awal maka harga pokok dari
bahan yang dipakai dihitung dari harga perolehan atau persediaan awal tersebut.
Dalam aplikasinya, metode ini hanya berdasarkan pada arus biayanya dan
mengabaikan arus fisiknya.

Apabila terjadi pengembalian bahan kepada penjual maupun ke gudang


Perusahaan, akan timbul masalah dalam penentuan harga pokok dari bahan yang
dikembalikan tersebut. Dengan metode FIFO pengembalian barang ini dicatat
dengan harga pokok per unit untuk pemakaian bahan yang paling akhir. Hal ini
sesuai dengan prinsip metode FIFO yaitu yang pertama masuk atau dibeli adalah
yang pertama keluar atau dipakai, dalam arti bahwa bahan yang tersisa dalam
persediaan adalah pemberian-pemberian yang terakhir. Dengan demikian ,bahan
yang dikembalikan seperti ilustrasi dimuka dicatat dengan menggunakan harga
pokok dari bahan yang terakhir dipakai.

Metode LIFO (Last In First Out)

Metode ini mempunyai prinsip barang yang terakhir masuk atau dibeli
adalah yang pertama keluar atau dipakai(Last in first out). Dengan demikian harga
pokok per unit dari bahan yang dipakai dihitung atau ditetapkan berdasarkan
harga perolehan dari perolehan pembelian bahan yang terakhir . prinsip ini hanya
diterapkan untuk arus biayanya, sedangkan arus fisik dari barang dapat saja
berlainan dengan harus biaya tersebut. Dengan metode ini perhitungan harga
pokok lebih mencerminkan kondisi sekarang sesuai nilai pasar dari bahan yang
telah dipakai. Sebaliknya nilai persediaan menjadi tidak layak dibandingkan
dengan kondisi harga pasar yang berlaku, karena persediaan dibebankan dengan
harga perolehan yang paling lama.

Apabila selama tahun muka berjalan terjadi harga-harga yang cenderung


terus meningkat atau inflasi maka dengan metode Lifo bahan dipakai untuk
produksi akan dibebankan dengan harga pokok yang tinggi, dan laba perusahaan

Page | 16
juga akan turun sehingga pajak yang dikenakan terhadap laba perusahaan menjadi
lebih kecil. Hal ini menguntungkan dalam posisi karena adanya penundaan
pembayaran pajak pada tahun buku tersebut. Keadaan ini adalah sebaliknya jika
harga-harga cenderung menurun dan volume penjualan juga Kecil. Untuk
pelaporan keuangan buat kepentingan pengisian dan pelaporan SPT (surat
pemberitahuan pajak) Tahunan, menggunakan metode LIFO tidak diperkenankan.

Metode rata-rata14 (Average Method)

Dalam menetapkan harga pokok rata-rata biasanya digunakan metode rata-


rata tertimbang yaitu dengan jalan membagi jumlah nilai rupiah dari persediaan
barang yang ada dan setelah ditambah dengan transaksi pembelian yang baru
dengan seluruh jumlah unitnya. Dengan demikian penentuan harga pokok dari
bahan yang dipakai menjadi lebih mudah oleh karena hanya ada satu harga pokok
per unit dari bahan yang dibeli yaitu harga pokok rata-rata.

Metode rata-rata ini lebih praktis dan tidak mahal dibandingkan dengan
kedua metode sebelumnya. Di samping itu, dengan metode ini akan dapat
meminimumkan pengaruh dari adanya harga bahan yang tinggi dan harga bahan
yang rendah dalam pembelian pembelian yang dilakukan perusahaan selama suatu
periode, dengan demikian memungkinkan adanya penafsiran biaya yang lebih
stabil atas kegiatan yang akan datang.

Disamping ketiga metode penentuan harga pokok yang telah diuraikan


dimuka, masih ada beberapa metode lainnya yang dapat digunakan dalam
menentukan harga pokok dari bahan yang dipakai. Di antara metode-metode
tersebut, metode biaya atau harga pokok Standar (standard costing) adalah
metode harga pokok yang banyak digunakan untuk perusahaan perusahaan
manufaktur, karena metode ini sangat bermanfaat untuk tujuan pengendalian
biaya. Dalam metode ini bahan yang dipakai dibebankan dengan suatu biaya
taksiran yang ditetapkan dimuka yaitu pada awal periode pembukuan. Taksiran
dari harga pokok per unit ini ditetapkan atau dihitung secara ilmiah yang
melibatkan unit-unit organisasi yang terkait dengan unit produk dan harga bahan
14
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009,
hlm.196

Page | 17
seperti bagian rekayasa, bagian pembelian, dan bagian akuntansi biaya. Kartu
persediaan bahan hanya mencatat kuantitas atau jumlah unit atas mutasi
penerimaan dan pengeluaran bahan. Hal ini memudahkan dalam
menyelenggarakan pencatatan dan juga dapat mengurangi pekerjaan tulis-menulis
dan biaya pengolahan data.

Metode Identifikasi Khusus (Specific Identification Method)15

Dalam metode ini, setiap jenis bahan baku yang ada digudang harus diberi
tanda pada harga pokok per satuan berapa bahan baku tersebut dibeli. Setiap
pembelian bahan baku yang harga per satuan nya berbeda dengan harga per satuan
bahan baku yang sudah ada digudang, harus dipisahkan penyimpanannya dan
diberi tanda pada harga berapa bahan tersebut dibeli. Dalam metode ini, tiap-tiap
jenis bahan baku yang ada di gudang jelas identitas harga pokoknya, sehingga
setiap pemakaian bahan baku dapat diketahui dapat diketahui harga pokok per
satuan nya secara tepat.

Kesulitan yang timbul dari pemakaian metode ini adalah terletak dalam
penyimpanan bahan baku di gudang. Meskipun jenis bahan bakunya sama, namun
jika harga pokok persatuan nya berbeda, bahan baku tersebut harus disimpan
secara terpisah, agar mudah diidentifikasi pada saat pemakaian nya nanti. Metode
ini merupakan metode yang paling teliti dalam penentuan harga pokok bahan baku
yang dipakai dalam produk, namun seringkali tidak praktis. Metode ini sangat
efektif dipakai apabila bahan baku yang dibeli bukan merupakan bahan standar
dan dibeli untuk memenuhi pesanan tertentu. Perusahaan yang memakai metode
harga pokok pesanan seringkali memakai metode identifikasi khusus untuk bahan
baku yang tidak disediakan dalam persediaan gudang (yang hanya secara
insidental dibeli untuk memenuhi spesifikasi pemesanan) dan memakai metode
penentuan harga pokok yang lain untuk bahan baku yang biasa dipakai dalam
produksi.

Kebaikan dari metode ini :16

15
Mulyadi , Akuntansi Biaya Edisi 5, Universitas Gajah Mada, Hal. 290
16
Dr. R.A Supriyono, S.E,Akuntan, Akuntansi Biaya Buku 1 Edisi 2, Fakultas Ekonomi bisnis
UGM, hal. 424

Page | 18
(1) Dapat menentukan dengan teliti harga perolehan bahan yang dipakai.
(2) Cocok untuk perusahaan yang berproduksi berdasar pesanan dan setiap
pesanan menggunakan bahan baku yang berbeda.

Sedangkan kelemahan metode ini yaitu merupakan metode yang tidak


praktis karena :

(1) Bahan jenis yang sama apabila dibeli dengan harga perolehan satuan
yang berbeda harus disimpan secara terpisah, sehingga pengaturan
persediaan di gudang menjadi lebih rumit.
(2) Pemakaian metode ini memerlukan waktu yang lama dan administrasi
persediaan yang lebih sulit, sehingga akan menaikkan biaya yang
mungkin tidak sesuai dengan manfaat (berupa ketelitian harga
perolehan) yang diperoleh.

Metode Rata-rata Harga Pokok Bahan Baku pada Akhir Bulan17

Dalam Metode ini, pada tiap akhir bulan dilakukan perhitungan harga
pokok rata-rata per satuan tiap jenis persediaan bahan baku yang ada di gudang.
Harga Pokok rata-rata per satuan ini kemudian digunakan untuk menghitung harga
pokok

bahan yang dipakai dalam produksi bulan berikutnya.

4.4. Pengendalian biaya bahan baku

Pengendalian Biaya

Pengendalian merupakan usaha manajemen untuk mencapai tujuan yang


telah diterapkan dengan melakukan perbandingan secara terus menerus antara
pelaksanaan dengan rencana. Melalui proses membandingkan hasil yang
sesungguhnya dengan program atau anggaran yang disusun, maka manajemen
dapat melakukan penilaian atas efisiensi usaha dan kemampuan memperoleh laba
dari berbagai produk. Disamping itu, para manajer dapat mengadakan tindakan

17
Mulyadi , Akuntansi Biaya Edisi 5, Universitas Gajah Mada, Hal. 297

Page | 19
koreksi jika terdapat penyimpangan-penyimpangan yang timbul dari hasil
perbandingan tersebut. 18

Biaya bahan merupakan salah satu elemen yang penting dari biaya
produksi.19 Masalah yang dihadapi manajemen yang berhubungan dengan bahan
yaitu (1). keterlambatan tersedianya bahan akan mempengaruhi kelancaran
kegiatan produksi sedangkan (2) persediaan bahan yang terlalu berlebihan berarti
suatu pemborosan modal kerja yang tertanam didalam persediaan bahan. Pada
tahap pengadaan dan penyimpanan bahan baku dari segi akuntansi timbul masalah
penentuan harga pokok bahan yang dibeli, sedangkan pada saat bahan dipakai
timbul masalah penentuan harga pokok bahan yang dipakai.

Tujuan perencanaan dan pengendalian bahan mempunyai dua tujuan


pokok yaitu (1) Untuk menekankan (meminimumkan) biaya. (2) Untuk
memaksimumkan laba dalam waktu tertentu dengan dana tertentu.

Masalah tersebut berpengaruh terhadap :

1. Penentuan berapa kuantitas yang akan dibeli dalam periode akuntansi tertentu

2. Berapa jumlah atau kuantitas bahan yang dibeli setiap kali di lakukan
pembelian

3. Kapan pemesanan bahan harus dilakukan

4. Berapa jumlah minimum kuantitas bahan yang harus selalu ada dalam
persediaan agar perusahaan terhindar dari kemacetan produksi akibat
keterlambatan bahan dan berapa jumlah maksimum kuantitas bahan dalam
persediaan agar dana yang tertanam tidak berlebihan.

(1.) Penentuan kuantitas yang akan dibeli dalam periode akuntansi tertentu.

Faktor-faktor yang menentukan kuantitas bahan baku yang akan dibeli dalam satu
periode akuntansi adalah:

18
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.5
19
Dr. R.A Supriyono, S.E,Akuntan, Akuntansi Biaya Buku 1 Edisi 2, Fakultas Ekonomi bisnis
UGM, hal. 387

Page | 20
1. Jumlah kuantitas persediaan awal bahan

2. Jumlah produksi ekuivalen yang akan dihasilkan dalam periode tertentu

3. Kuantitas bahan yang diperlukan untuk menghasilkan suatu buah produk

4. Jumlah kuantitas Persediaan akhir bahan yang diinginkan oleh perusahaan

(2). Menentukan kuantitas bahan yang dibeli setiap kali di lakukan


pembelian

Elemen yang dapat mempengaruhi harga perolehan bahan adalah sebagai berikut:

a. Harga faktur termasuk biaya angkut dari setiap satuan bahan yang dibeli

b. Biaya pemesanan (Ordering Cost). Biaya pemesanan adalah biaya yang terjadi
dalam rangka melaksanakan kegiatan pemesanan bahan.

Atas dasar tingkat variabilitas nya biaya pemasaran dapat dikelompokkan


menjadi:

1. Biaya pemesanan tetap, yaitu biaya pesanan yang besarnya tetap sama
dalam periode tertentu tidak dipengaruhi oleh frekuensi pemesanan, misalnya: gaji
bagian pembelian, biaya penyusutan aktiva tetap bagian pembelian, dan lain-lain
biaya tetap untuk pemesanan.
2. Biaya pemesanan variabel, yaitu biaya pemesanan yang jumlah totalnya
berubah-ubah secara proporsional dengan frekuensi pemesanan. Semakin tinggi
frekuensi pemesanan berakibat total biaya pemesanan variabel jumlahnya tinggi,
semakin rendah frekuensi pemesanan semakin rendah pula biaya pemesanan
variabel. Yang termasuk biaya pemesanan variabel misalnya:
- Biaya Pembuatan dan pengiriman dokumen permintaan pembelian,
pesanan pembelian
- Biaya pembuatan laporan penerimaan bahan dan pemeriksaan kuantitas
dan kualitas
- Biaya penerimaan bahan yang dipesan
- Biaya pencatatan hutang dan mempersiapkan pembayaran atas pembelian
bahan
- Lain-lain biaya pemesanan variable

c.Biaya penyimpanan atau disebut storage cost

Page | 21
Biaya penyimpanan adalah biaya yang terjadi dalam rangka melaksanakan
kegiatan penyimpanan bahan. Atas dasar tingkat variabilitas nya biaya
penyimpanan dapat dikelompokkan menjadi:

1. Biaya penyimpanan tetap, yaitu biaya penyimpanan bahan yang jumlah


totalnya tidak dipengaruhi jumlah atau besarnya bahan yang disimpan di
gudang, misalnya : biaya penyusutan gudang, gaji karyawan tetap bagian
gudang.
2. Biaya penyimpanan variable, yaitu biaya penyimpanan bahan yang
jumlahnya berubah-rubah secara proporsional dengan jumlah atau
besarnya bahan yang disimpan. Semakin besar bahan yang disimpan
berakibat semakin besar pula biaya penyimpanan variable, semakin kecil
biaya yang disimpan berakibat semakin kecil pula biaya penyimpanan
variabel. Yang termasuk biaya penyimpanan variabel misalnya:
- Biaya sewa gudang
- Biaya asuransi bahan
- Biaya administrasi gudang
- Biaya atas rusak dan usangnya bahan
- Lain-lain biaya penyimpanan variabel

(3.) Penentuan waktu pemesanan kembali bahan (Re Order point)

Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pemesanan kembali adalah:

a. Waktu yang diperlukan dari saat pemesanan sampai bahan datang di perusahaan
(lead time). Ini akan mempengaruhi besarnya bahan yang dipakai. Semakin lama
lead time nya, semakin besar pula jumlah bahan yang diperlukan untuk
pemakaian.

b. Tingkat pemakaian bahan rata-rata per hari atau satuan waktu lainnya.

c. Persediaan besi (safety stock) . Persediaan besi adalah jumlah persediaan bahan
yang minimum harus ada untuk menjaga kemungkinan keterlambatan datangnya
bahan yang dibeli agar perusahaan tidak mengalami kekurangan (stock out) atau
mengalami gangguan kelancaran kegiatan produksi karena habisnya bahan yang
umumnya menimbulkan elemen biaya stock out.

(4.) Penentuan minimum dan maksimum kuantitas persediaan bahan

Page | 22
Pengawasan persediaan

Pengawasan bahan adalah suatu fungsi koordinasi di dalam organisasi


yang terus-menerus disempurnakan untuk meletakkan pertanggung-jawaban atas
pengelolaan bahan dan persediaan pada umumnya, serta menyelenggarakan suatu
pengendalian internal yang menjamin adanya dokumen dasar pembukuan yang
mendukung sahnya suatu transaksi yang berhubungan dengan bahan. Pengawasan
bahan meliputi pengawasan fisik bahan dan pengawasan nilai rupiah bahan.

Tujuan pengawasan bahan adalah:

1. Menyediakan bahan yang diperlukan dengan cara efisien dan dapat


menghindari terganggunya kegiatan perusahaan karena keterlambatan datangnya
bahan.

2.Menjamin adanya persediaan bahan yang cukup untuk melayani permintaan


langganan yang bersifat mendadak.

3. Menyelenggarakan jumlah persediaan yang agak longgar untuk menghadapi


kelangkaan penawaran bahan di pasar dan jangka pendek karena faktor musiman,
Sikli, pemogokan, dan kemungkinan kenaikan harga.

4. Menyelenggarakan penyimpanan bahan yang dapat menekan biaya dan waktu


pengolahan bahan dan menjaga dari kemungkinan kebakaran, pencurian,
penyelewengan, dan bentuk kerugian lainnya.

5. Menjaga agar persediaan yang rusak,usang, dan kelebihan yang tidak terpakai
dapat ditekan serendah mungkin.

6. Menentukan jumlah investasi dana yang tepat dalam persediaan bahan secara
tepat sesuai dengan kebutuhan untuk operasi dan rencana manajemen perusahaan.

Bagian di dalam organisasi perusahaan yang sangat erat hubungannya dengan


pengawasan dan pengolahan bahan adalah:

A. Bagian teknik perencanaan dan rute produksi

Aktivitas bagian ini yang berhubungan dengan bahan adalah:

1. Perencanaan produksi dan rute produksi.

Page | 23
Aktivitas ini berhubungan dengan jenis, jumlah dan kapan bahan yang diperlukan
untuk kegiatan produksi dan kemungkinan bahan substitusi yang
direkomendasikan.

2. Bagian ini juga mengajukan permintaan bahan yang akan dipakai untuk
berbagai kecepatan produksi.

B. Bagian pembelian

Aktivitas bagian ini hampir semuanya berhubungan dengan bahan meliputi:

1. Menerima atau membuat permintaan pembelian (purchases requisition) untuk


semua bahan dan supplies yang akan dibeli.

2. Menerima surat penawaran (request quantitation) dari supplier.

3. Membuat dan mengirimkan pesanan pembelian kepada supplier

4. Mengesahkan faktur pembelian yang diterima dari supplier.

5. Memberikan faktur pembelian yang sudah disahkan kepada bagian akuntansi


biaya untuk kepentingan pencatatan

C. Bagian penerimaan

Aktivitas dan fungsi bagian penerimaan adalah

1. Menerima bahan yang dibeli dari supplier dan menandatangani bukti


penerimaan bahan sebagai otoritas penerimaan.

2. Menghitung, menimbang atau mengukur bahan yang diterima

3. Memeriksa kualitas bahan dan melaporkan adanya penerimaan bahan yang


rusak.

4. Memindahkan bahan yang diterima ke gudang bahan.

5. Memberikan bukti penerimaan bahan ke bagian pembelian, bagian gudang


bahan, dan bagian akuntansi biaya.

D. Bagian gudang bahan

Aktivitas dari bagian gudang bahan adalah:

Page | 24
1. Menerima bahan dari bagian penerimaan dan menandatangani bukti
penerimaan bahan.

2. Memeriksa kuantitas bahan yang diterima dari bagian penerimaan.

3. Menempatkan atau menyimpan bahan sebaik-baiknya dan dengan cara yang


efisien

4. Mengeluarkan bahan atas dasar bon permintaan bahan atau daftar permintaan
bahan yang diotorisasi dan disahkan dengan benar.

5. Memasukkan penerimaan dan pengeluaran bahan ke dalam kartu gudang dan


kartu bahan.

6. Pada waktu-waktu tertentu meringkas permintaan-permintaan bahan untuk


kepentingan bagian akuntansi biaya.

E. Bagian akuntansi

Aktivitas bagian akuntansi khususnya akuntansi biaya adalah:

1. Sebagai anggota dari komite anggaran, memberikan saran dan usulan tentang
kebijaksanaan persediaan kepada manajemen. Termasuk mengkoordinasi
penentuan anggaran investasi untuk persediaan bahan, maksimum minimum
persediaan, penentuan perputaran persediaan.

2. Atas dasar dokumen atau bukti pembukuan yang sah menyelenggarakan


pencatatan yang berhubungan dengan transaksi persediaan bahan.

3.Menyusun sistem pengendalian internal untuk penjagaan kemungkinan-


kemungkinan terjadinya penyelewangan atas bahan.

4. Menyelenggarakan pemeriksaan khusus dan perhitungan fisik persediaan.

Dari uraian fungsi-fungsi setiap bagian yang berhubungan dengan pengelolaan


dan pengawasan bahan tersebut di muka, dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk
pengawasan yang memadai ketersediaan bahan perlu pengawasan yang memadai
atas persediaan bahan perlu dipisahkan antara fungsi (1) Pencatatan bahan; (2)
Pembelian bahan; (3) Penerimaan, penyimpanan dan pengeluaran bahan; (4)
Pemakaian bahan.

Page | 25
Metode Pengendalian Bahan20

Pada dasarnya pengendalian bahan dilakukan oleh dalam beberapa


prosedur operasional yang berhubungan seperti prosedur permintaan bahan,
pembelian, penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran bahan. Kegiatan ini
biasanya dilakukan melalui unit-unit organisasi terkait dan dokumen-dokumen
yang diperoleh dan dibuat serta didistribusikan oleh unit-unit organisasi tersebut.
Dengan demikian prosedur pengendalian akan terlihat pada arus kegiatan dan arus
dokumen tersebut.

Pengendalian atas persediaan bahan meliputi pengendalian atas unit dan


nilai rupiahnya. Fokus pengendalian ini bergantung pada kewenangan dari
masing-masing manajer dalam organisasi. Manajer produksi dan manajer
pembelian menekankan pada pengendalian unit. Sedangkan manajemen puncak
lebih tertarik pada pengendalian keuangan.

1. Metode Siklus Pemesanan

Metode siklus pemesanan menelaah secara periodik mengenai kuantitas dari


bahan-bahan yang ada dalam persediaan, dan biasanya diikuti dengan melakukan
pemesanan atas setiap jenis bahan yang telah ditelaah. Periode penelaahan
biasanya dibedakan untuk bahan yang bernilai mahal dan bahan yang harganya
rendah. Untuk unsur bahan yang nilai harganya mahal mempunyai siklus
penelahaan yang pendek. Akan tetapi, bahan dengan harga yang rendah
mempunyai siklus penelaahan yang panjang, oleh karena pemesanan atas bahan
yg dilakukan dalam jumlah yang besar, dan kelebihan ataupun kekurangan
persediaan tidak akan menimbulkan biaya yang mahal.

2. Metode Minimum Maksimum (Min-max Method)

Metode minimum maksimum menetapkan tingkat persediaan minimum atas


setiap elemen bahan untuk mencegah terjadinya kekurangan atau kehabisan
persediaan selama suatu periode pemesanan kembali. Bila persediaan dari masing-
masing elemen bahan mencapai tingkat minimum maka dilakukan pemesanan

20
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.
211

Page | 26
untuk menjadikan persediaan tersebut pada tingkat yang maksimum. Suatu tingkat
persediaan yang maksimum dari setiap elemen bahan juga ditetapkan oleh
perusahaan. Prosedur untuk metode minimum maksimum ini dapat dilakukan
melalui sistem dua paket Dalam metode ini elemen pertama terdiri atas jumlah
persediaan yang cukup untuk pemakaian antara penerimaan dari suatu pesanan
sampai dengan melakukan pemesanan berikutnya. Paket kedua berisi jumlah yang
normal digunakan ditambah dengan persediaan pengaman (safety stock) dari
tinggal tanggal pemesanan hingga pesanan dating. Pesanan akan dilakukan pada
saat paket pertama kosong. Mekanisme dari metode minimum dan maksimum ini
di samping dapat dilakukan melalui pengamatan secara fisik dapat
diimplementasikan melalui sistem akuntansi yaitu dengan memantau data dalam
kartu persediaan bahan. Mekanisme ini akan lebih dipermudah apabila perusahaan
menggunakan komputer dalam memperoleh data persediaan.

3. Rencana ABC

Melakukan pengendalian bahan secara selektif berdasarkan kepada suatu


rencana yang sistematis untuk mengelompokkan bahan menurut besarnya nilai
bahan tersebut. Rencana ABC merupakan suatu pendekatan analisis yang
didasarkan pada data-data tersebut.

Rencana ABC umumnya menggolongkan atau memisahkan elemen persediaan


bahan dan persediaan ke dalam kategori berikut:21

A adalah elemen persediaan yang mempunyai nilai tinggi, dimana memerlukan


pengawasan lebih ketat dan memerlukan tanggung jawab karyawan dengan
pengetahuan dan pengalaman yang tinggi.

B adalah elemen persediaan yang mempunyai anak sedang nilai atau menengah,
dimana pengawasan yang diperlukan tidak begitu ketat dibandingkan dengan
golongan A dan memerlukan tanggung jawab karyawan dengan pengetahuan dan
pengalaman rata-rata.

21
Dr. R.A Supriyono, S.E,Akuntan, Akuntansi Biaya Buku 1 Edisi 2, Fakultas Ekonomi bisnis
UGM, hal. 403

Page | 27
C adalah elemen persediaan yang mempunyai nilai rendah di mana pengawasan
fisik atau persediaan mudah dilakukan sehingga, hanya memerlukan tanggung
jawab karyawan yang lebih rendah dibanding golongan A dan B.

Tahapan penerapan rencana ABC dalam pemisahan bahan-bahan untuk


melakukan pengendalian secara selektif, terdiri atas:22

a. Menetapkan pemakaian dalam unit pada periode yang akan datang misalnya
bulan, kuantitas, dan tahun.
b. Menetapkan harga per unit untuk masing-masing elemen bahan, dan
mengalikan harga per unit tersebut dengan jumlah unit pemakaian, untuk
mendapatkan jumlah biaya selama periode yang diramalkan.
c. Membuat tabel bahan yang menunjukkan setiap elemen bahan, jumlah unit,
biaya per unit, dan jumlah biaya.
4. Metode Just in Time

Merupakan salah satu bentuk pengendalian bahan dan produk dengan cara
tidak memiliki persediaa. Persediaan akan datang pada saat proses produksi akan
dimulai dan barang jadi akan dikirim langsung begitu selesai dari proses produksi.
Agar metode ini dapat berhasil dibutuhkan suatu perencanaan yang baik antara
bagian produksi, bagian pengadaan dan bagian pemasaran. Salah satu komponen
yang menentukan keberhasilan dari metode ini adalah adanya pemasok yang
mampu mengirimkan bahan baku dengan kualitas baik, harga yang baik. serta
tepat waktu. Dari sisi akuntansi metode just in time dapat dilaksanakan dengan
metode blackflush metode ini memiliki akun baru yang disebut sebagai bahan
baku dalam proses (Raw In Process).

2.5 Masalah Khusus yang berhubungan dengan Biaya Bahan Baku


A. Sisa Bahan (Scrap Material)

Di dalam Proses Produksi, tidak semua bahan baku dapat menjadi bagian
produk jadi. Bahan sisa dengan bahan sampah berbeda. Bahan sisa merupakan
bahan yang masih mempunyai nilai dan langsung dapat dijual atau
dimasukkan kedalam proses produksi untuk tujuan yang berbeda, misalnya
diproses sebagai salah satu bahan baku untuk proses produksi tertentu.23
22
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009,
hlm.212
23
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.71

Page | 28
Jika di dalam proses produksi terdapat sisa bahan, masalah yang timbul
adalah:24

1. Pengurang biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan yang


menghasilkan sisa bahan tersebut.
2. Pengurang terhadap biaya overhead pabrik
3. Penghasilan diluar usaha

Pengurang biaya bahan baku yang dipakai dalam pesanan yang


menghasilkan sisa bahan tersebut.

Jurnal nya adalah :

Kas/Piutang Dagang xx

Barang dalam proses-Biaya Bahan Baku xx

Hasil penjualan sisa bahan ini juga dicatat dalam kartu harga pokok pesanan
sebagai pengurang biaya bahan baku pesanan tersebut.

Pengurang terhadap biaya overhead pabrik

Jurnalnya adalah :

Kas/ Piutang Dagang xxx

Biaya Overhead pabrik Sesungguhnya xxx

Penghasilan diluar usaha

Jurnalnya adalah:

Kas/ Piutang Dagang xxx

Hasil Penjualan sisa bahan xxx

Hasil penjualan sisa bahan disajikan dalam laporan laba rugi dalam kelompok
Penghasilan diluar usaha (Others Income).

24
Mulyadi , Akuntansi Biaya Edisi 5, Universitas Gajah Mada, Hal. 298

Page | 29
Pencatatan sisa bahan25

Jika jumlah dan nilai sisa bahan relatif tinggi, maka diperlukan
pengawasan terhadap persediaan sisa bahan. Pemegang kartu persediaan di
Bagian Akuntansi perlu mencatat mutasi persediaan sisa bahan yang ada di
gudang. Cara pencatatan persediaan sisa bahan dapat dilakukan dengan salah satu
cara sebagai berikut.

a. Bagian akuntansi persediaan menyelenggarakan catatan mutasi persediaan


sisa bahan dalam kartu persediaan.
b. Bagian akuntansi persediaan tidak hanya menyelenggarakan pencatatan
mutasi persediaan sisa bahan dalam kuantitas nya saja, tetapi juga nilai
rupiahnya.

Sehubungan dengan aspek pengendalian yang baik atas persediaan barang sisa
terutama apabila barang sisa ini relatif sangat banyak dan nilainya juga cukup
tinggi maka, sebaiknya disimpan pada suatu tempat yang terpisah dan aman serta
ada satu orang yang ditunjuk sebagai penanggung jawab atas pengawasan dan
pencatatan atas barang sisa tersebut.26 Dalam hal pencatatan dapat pula dibedakan
dua jenis kartu persediaan barang sisa adalah sebagai berikut:

- Kartu yang hanya mencatat langsung masuk dan keluarnya barang sisa
dalam kuantitas saja. Jenis kartu ini untuk dasar pencatatan dalam jurnal
dan pengakuan pendapatan yaitu pada saat barang sisa tersebut dijual.
- Kartu yang mencatat baik kuantitas maupun nilai rupiah dari barang sisa.
Jenis kartu yang kedua ini menggunakan akun persediaan barang sisa
sebagai akun pengendali untuk nilai dari persediaan barang sisa ditetapkan
sesuai harga pasar pada waktu barang sudah diterima dan dicatat oleh
petugas gudang.
B. Produk Rusak (Spoiled Goods)

Produk rusak adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah
ditetapkan, yang secara ekonomis tidak dapat diperbaiki menjadi produk yang

25
Mulyadi , Akuntansi Biaya Edisi 5, Universitas Gajah Mada, Hal. 299

26
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.72

Page | 30
27
baik. Produk rusak merupakan produk yang sebelumnya telah menyerap biaya
bahan, biaya tenaga kerja, dan biaya overhead pabrik. Biasanya barang seperti ini
dapat dijual seharga nilai sisanya atau dibuang karena tidak mempunyai nilai sama
sekali.

Perlakuan terhadap produk rusak adalah tergantung dari sifat dan sebab terjadinya.

A. Jika produk rusak terjadi karena sulitnya pengerjaan pesanan tertentu atau
faktor luar biasa yang lain maka harga pokok produk rusak dibebankan sebagai
tambahan harga pokok produk dalam pesanan yang bersangkutan. Jika produk
tersebut masih laku dijual, maka hasil penjualan yang diperlakukan sebagai
pengurang biaya produksi pesanan yang menghasilkan produk rusak tersebut.

B. Produk rusak merupakan hal yang normal terjadi dalam proses pengolahan
produk. Kerugian yang timbul sebagai akibat terjadinya produk rusak dibebankan
kepada produksi secara keseluruhan dengan cara memperhitungkan kerugian
tersebut didalam tarif biaya overhead pabrik.

Pencatatan Produk rusak dibebankan kepada biaya overhead pabrik

Perlakuan akuntansi seperti ini dapat dilakukan apabila sifat kerusakannya:28

A. Normal tetapi tidak terjadi pada tingkat yang sama untuk masing-masing
pekerjaan

B. Abnormal disebabkan oleh suatu kejadian yang tidak diharapkan yang


sebetulnya dapat dihindarkan dengan demikian, biaya kerusakannya sudah
diperhitungkan dalam tarif biaya overhead pabrik yang ditetapkan dimuka.

Pencatatan untuk kerugian atas barang yang rusak adalah sebagai berikut.

Barang Rusak xxx

Biaya Overhead Pabrik xxx

Barang dalam Proses xxx


27
Mulyadi , Akuntansi Biaya Edisi 5, Universitas Gajah Mada, Hal. 302

28
Firdaus Ahmad Dunia dan Wasilah , Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat, 2009, hlm.66

Page | 31
Apabila harga jual dari barang rusak ini berbeda dengan taksiran harga persediaan
yang telah dicatat, maka selisihnya akan ditambahkan atau dikurangi ke akun
biaya overhead pabrik. Jurnalnya:

Kas xxx

Biaya Overhead Pabrik xxx

Barang Rusak xxx

Pencatatan atas barang selesai adalah:

Barang jadi xxx

Barang dalam proses xxx

(jumlah barang jadi setelah dikurangi produk rusak)

Pencatatan Produk rusak jika dibebankan kepada pesanan tertentu

Perlakuan akuntansi seperti ini dapat dilakukan apabila sifat kerusakannya:

A. Normal, terjadi pada suatu tingkat yang sama dengan masing-masing


perkerjaan. Dalam kondisi ini, maka taksiran biaya kerusakan dapat
diperhitungkan sebagai elemen dari tiap biaya overhead pabrik yang
ditetapkan dimuka, dengan demikian masing-masing pekerjaan akan
dibebankan dengan biaya kerusakan dalam perhitungan overhead pabrik,
hal ini untuk memudahkan pengendalian biaya.
B. Disebabkan adanya persyaratan secara langsung oleh pelanggan. Biaya-
biaya kerusakan setelah dikurangi nilai bersih yang dapat direalisir untuk
barang rusak tersebut dibebankan kepada pekerjaan yang bersangkutan
dan taksiran mengenai biaya kerusakan juga tidak dimasukkan dalam
perhitungan tarif biaya overhead pabrik.

Pencatatan biaya saat produksi

Barang dalam proses xxx

Persediaan bahan xxx

Gaji dan upah xxx

Page | 32
BOP yang dibebankan xxx

Pencatatan untuk jumlah unit yang rusak

Barang rusak xxx

Barang dalam proses xxx

Pencatatan penjualan

Beban Pokok Penjualan xxx

Barang dalam proses xxx

C. Produk Cacat

Produk cacat adalah produk yang tidak memenuhi standar mutu yang telah
ditentukan tetapi dengan mengeluarkan biaya pengerjaan kembali untuk
memperbaikinya produk tersebut secara ekonomis dapat disempurnakan lagi
menjadi produk yang baik.29

Masalah yang timbul dalam produk cacat adalah: Bagaimana memperlakukan


biaya tambahan untuk pengerjaan kembali produk cacat tersebut.

Perlakuan terhadap biaya pengerjaan kembali produk cacat adalah mirip dengan
yang telah dibicarakan dalam produk rusak.

A. Jika produk cacat bukan merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses
produksi tetapi karakteristik pengerjaan pesanan tertentu, maka biaya pengerjaan
kembali produk cacat dapat dibebankan sebagai tambahan biaya produksi pesanan
yang bersangkutan.

B. Jika produk cacat merupakan hal yang biasa terjadi dalam proses pengerjaan
produk maka biaya pengerjaannya dapat dibebankan kepada seluruh produksi
dengan cara memperhitungkan biaya pengerjaan kembali tersebut ke dalam tarif
biaya overhead pabrik dengan pengerjaan kembali produk cacat yang
sesungguhnya terjadi. Di debit kan dalam rekening biaya overhead pabrik
sesungguhnya.

29
Mulyadi , Akuntansi Biaya Edisi 5, Universitas Gajah Mada, Hal. 306

Page | 33
Pencatatan biaya pengerjaan kembali produk cacat dibebankan kepada
Biaya overhead pabrik

a. Pencatatan untuk biaya produksi dari pekerjaan pesanan

Barang dalam proses xxx

Persediaan Bahan xxx

Gaji dan Upah xxx

Biaya Overhead Pabrik xxx

b. Untuk Biaya tambahan atas unit-unit yang cacat

Biaya Overhead Pabrik xxx

Persediaan bahan xxx

Gaji dan Upah xxx

BOP Yang dibebankan xxx

c. Untuk pekerjaan pesanan yang selesai

Barang Jadi xxx

Barang Dalam proses xxx

Pencatatan Biaya pengerjaan kembali produk cacat jika dibebankan kepada


pesanan tertentu.

a. Untuk biaya produksi pekerjaan pesanan khusus

Barang dalam proses xxx

Persediaan Bahan xxx

Gaji dan Upah xxx

BOP xxx

b. Untuk biaya tambahan atas unit-unit yang cacat

Barang dalam proses xxx

Page | 34
Persediaan Bahan xxx

Gaji dan upah xxx

BOP yang dibebankan xxx

c. Untuk pekerjaan pesanan yang selesai

Barang jadi xxx

Barang dalam proses xxx

BAB 3

Page | 35
KESIMPULAN

Biaya adalah pengeluaran pengeluaran atau nilai pengorbanan untuk


memperoleh barang dan jasa yang berguna untuk masa yang akan datang atau
mempunyai manfaat melebihi dari suatu periode akuntansi tahunan.

Pada Dasarnya ada dua jenis transaksi utama yang mempengaruhi persediaan
bahan, yaitu: (1) Pembelian dan penerimaan bahan, (2). Pengeluaran dan
Pemakaian Bahan. Pencatatan Pembeliaan dan Penerimaan Bahan.

Karena terdapat beberapa kali pembelian dan perolehan bahan dengan harga
perolehan per unit yang berbeda-beda dalam suatu periode pembukuan, masalah
penentuan harga pokok atas pemakaian bahan untuk produksi menjadi tidak
mudah. Metode yang biasa digunakan dalam menentukan harga pokok dari bahan
yang dipakai untuk produksi adalah metode FIFO, Metode LIFO, Metode rata-
rata, metode biaya standar, Metode Identifikasi Khusus, dan Metode Rata-rata
Harga Pokok Bahan baku pada Akhir Bulan.

Pengendalian merupakan usaha manajemen untuk mencapai tujuan yang telah


diterapkan dengan melakukan perbandingan secara terus menerus antara
pelaksanaan dengan rencana. Pada dasarnya pengendalian bahan dilakukan oleh
dalam beberapa prosedur operasional yang berhubungan seperti prosedur
permintaan bahan, pembelian, penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran bahan.

Pengendalian atas persediaan bahan meliputi pengendalian atas unit dan


nilai rupiahnya. Manajer produksi dan manajer pembelian menekankan pada
pengendalian unit. Sedangkan manajemen puncak lebih tertarik pada
pengendalian keuangan. Adapun metodenya yaitu Metode Siklus Pemesanan,
Metode Minimum Maksimum , Rencana ABC, Metode Just in Time.Di dalam
Proses Produksi, tidak semua bahan baku dapat menjadi bagian produk jadi.
Bahan sisa, Barang rusak dan barang catat tidak dapat dihindarkan namun dapat
diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA

Page | 36
Firdaus Ahmad Dunia, Wasilah. 2009. Akuntansi Biaya Edisi 2, Salemba Empat

Mulyadi. 1993. Akuntansi Biaya Edisi 5, Universitas Gajah Mada

Dr. R.A Supriyono, S.E,Akuntan, Akuntansi Biaya Buku 1 Edisi 2, Fakultas


Ekonomi bisnis UGM

Drs. Mursyidi,S.E,Msi Akuntansi Biaya, Reflika Utama


http:/landasanteori.com/2015/07/pengertian-biaya-dan-klasifikasi-menurut.html/

Page | 37