Anda di halaman 1dari 9

Obat Tradisional

OBAT TRADISIONAL
PENGOBATAN TRADISIONAL

Pengobatan Tradisional
Adalah salah satu upaya pengobatan/perawatan cara lain diluar ilmu kedokteran dan ilmu
perawatan, mencakup cara, obat dan pengobatan yang mengacu kepada pengetahuan,
pengalaman dan keterampilan turun temurun baik yang asli ataupun yang berasal dari
luar Indonesia dan diterapkan sesuai norma yang berlaku dalam masyarakat.

Pengobat Tradisional (Battra)


Adalah seorang yang diakui dan dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai orang yang mampu
melakukan pengobatan secara tradisional.

Upaya Kesehatan Tradisional (Ukestra)


Adalah suatu upaya yang menggambarkan proses peningkatan kesehatan, pencegahan dan
pengobatan penyakit serta pemulihan kesehatan dengan menggunakan cara, alat dan obat
tradisional yang dilakukan oleh individu, keluarga dan masyarakat.

Upaya Pengobatan Tradional Dari Cara Pengobatannya dibagi :


1. Upaya pengobatan tradisional yang menggunakan ramuan obat tradisional seperti: sinshe,
tabib, dukun ramuan.
2. Upaya pengobatan tradisional yang menggunakan keterampilan seperti akupunturis, dukun
patah tulang, dukun urut dan dukun sunat.
3. Upaya pengobatan tradisional berdasar/berkait dengan ajaran agama seperti dukun
kebatinan
4. Upaya pengobatan tradisional yang menggunakan magic, jampi-jampi, mistik seperti dukun
paranormal, dukun ramal, dukun susuk/jimat dan lain-lain.

Program Pembinaan Upaya Kesehatan Tradisional


I. Latar Belakang
Walaupun dalam GBHN dinyatakan, : bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan
kesehatan secara lebih luas dan merata sekaligus memelihara dan mengembangkan warisan
budaya bangsa, perlu terus dilakukan penggalian, penelitian, pengujian dan pengembangan
obat-obatan serta cara pengobatan tradisional. UU No. 23/92 tentang kesehatan ps. 47
menyatakan bahwa pengobatan tradisional perlu dibina dan diawasi untuk diarahkan menjadi
pengobatan cara lain yang dapat dipertanggung jawabkan manfaat dan keamanannya.

Peran Utama Kesehatan Tradisional


Berbeda di negara-negara : Cina, Korea, India, Srilangka dimana cara pengobatan
tradisioanal dan cara pengobatan modern dilakukan dalam sistem pelayanan kesehatan
formal. Di Indonesia dalam sistem kesehatan paripurna, upaya pelayanan pengobatan
tradisional berperan pada tkt rumah tangga dan tingkat masyarakat, sedang pada tkt. I fasilitas
pelayanan, tkt. rujukan, dilakukan upaya pelayanan kesehatan modern (formal).

II. Ruang Lingkup

1. Pengembangan Metoda (Cara) Pengobatan Tradisional


a. Memperkirakan pandangan tenaga kesehatan formal dan masyarakat terhadap pengobatan
tradisional.
b. Mengkaji berbagai jenis upaya pengobatan tradisional secara bertahap sesuai kemampuan
c. Membina dan memanfaatkan upaya pengobatan tradisional dengan ciri khas daerah
d. Mengadakan pengawasan / pengaturan terhadap cara-cara pengobatan yang tidak
bermanfaat/merugikan

2. Pengembangan tenaga pengobat tradisional

a. Meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan terutama dalam promotif dan mutu
pelayanan melalui KIE/ cultural
b. Diseminasi peran tenaga pengobat tradisional tentang perannya dalam sistem
kesehatan nasional

3. Pengembangan sarana pengobatan tradisional

a. Pengadaan media tentang manfaat beberapa jenis tanaman obat untuk penyakit sederhana
b. Meningkatkan pengetahuan/keterampilan dalam cara-cara penyediaan pengobatan tradisional
(higiene tpt kerja) peralatan yang digunakan

III.Tujuan Pembinaan
Umum
Meningkatkan kemandirian masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatan melalui upaya
kesehatan tradisional.

Khusus

1. Teridentifikasinya potensi/efektifitas pengobatan tradisional yang ada


2. Meningkatkan pendayagunaan obat/cara pengobatan tradisional yang terbukti efektif
untuk pemeliharaan kesehatan di tingkat keluarga
3. Terbinanya peran tenaga pengobat tradisional dalam pelayanan kesehatan dasar
4. Terlindungnya masyarakat terhadap efek negatif upaya pengobatan tradisional

IV. Sasaran
Meliputi :

1. Pengobat tradisioanal

Meningktkan pengetahuan/keterampilan pengobat tradisional sehingga dapat turut dalam


pembangunan kesehatan masyarakat, sesuai norma-norma yang berlaku

2. Masyarakat (keluarga, kelompok, kader kesehatan)


3. Petugas Kesehatan
4. Lembaga swadaya masyarakat

V. Kebijakan pembinaan upaya kesehatan tradisional


1. Diarahkan meningkatkan mutu, mencegah timbulnya efek negatif dan mencegah
praktek-praktek yang membahayakan
2. Meningktkan kemandirian masyarakat mengatasi problem kesehatan dengan
memanfaatkan pengobatan tradisional yang baik
3. Pukesmas membina peran serta masyarakat dengan upaya pendekatan pkmd.
4. Pembinaan ukestra secara lintas sektoral
5. Pengujian pengobatan tradisional oleh Inst. yang ditunjuk dengan kerjasama pakar
pengobatan tradisional, LSM terkait
6. Pengobatan tradisional yang telah diuji & bermanfaat, aman, dimasukkan dalam
program pelayanan kesehatan.

OBAT TRADISIONAL

Obat Tradisional
Adalah bahan segar, obat jadi, obat berbungkus yang berasal dari bahan tumbuhan, hewan,
mineral atau sediaan galenika atau campuran bahan-bahan tersebut yang belum punya data
klinik dan dipergunakan dalam usaha pengobatan berdasarkan pengalaman.
(Permenkes RI/179/VII-76)

Obat Tradisional Terdiri Atas


A. I. Obat tradisional yang dibuat sendiri
II. Obat tradisional yang diproduksi oleh perusahaan jamu
B. I. Golongan obat yang bahan bakunya belum mengalami standardisasi dan belum pernah diteliti
II. Golongan fitoterapi simplisia yang sudah mengalami standardisasi, seperti untuk obat
sedativa, karartik dan lain-lain

KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH DALAM


MENANGANI OBAT TRADISIONAL

LATAR BELAKANG MASALAH


1. Berdasar perkiraan dan pengalaman pemakaian obat tradisional masih luas digunakan bahkan
sebagian masyarakat telah merupakan bagian dari kehidupannya
2. Obat tradisional merupakan hasil sosial budaya, warisan turun temurun yang perlu
dilestarikan dan dikembangkan oleh karena telah terbukti aman dan efektif selama berabad-
abad digunakan
3. Adanya usaha pemerintah untuk memperluas dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
masyarakat melalui sistim kesehatan nasional
4. Adanya keinginan pemerintah untuk memanfaatkan obat tradisional dalam meningkatkan
pelayanan kesehatan masyarakat
5. Obat tradisional lebih murah, mudah diperoleh, mudah digunakan oleh masyarakat
6. Belum cukup data penelitian ilmiah dan data peranan obat tradisional dalam penyembuhan
penyakit

I. PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN OBAT TRADISIONAL


1. Pembinaan sarana produksi
2. Peningkatan produksi obat tradisional dengan perluasan dan pelestarian tanaman obat
sehingga perusahaan obat tradisional harus punya kebun bibit dan perlu kerjasama dengan
petani
3. Pembinaan dan pemanfaatan toga (tanaman obat keluarga) dengan pengaktifan ibu-ibu PKK
4. Pengawasan obat tradisional secara menyeluruh mulai dari pengadaan bahan baku, proses
produksi, sampai obat tradisional ini beredar di masyarakat
5. Menggiatkan penelitian dan pengembangan obat tradisional dengan melibatkan lembaga
ilmiah/ perguruan tinggi. Untuk memperoleh data-data ilmiah tentang manfaat, efek samping
dan efek toksik obat tersebut. Perlu meneliti data-data obat tradisional dari buku-buku tua
atau naskah-naskah daun lontar

II. PENGAWASAN OBAT TRADISIONAL


Oleh karena peredaran yang luas, maka prioritas diarahkan pada obat tradisional yang
diproduksi oleh perusahaan/industri jamu.
Meliputi :

a. Pengawasan terhadap badan usaha produksi

Secara menyeluruh dan sistimatis antara lain kwalitas bahan baku, proses produksi sampai
bentuk obat jadi
perlu bantuan lembaga ilmiah/perguruan tinggi
peninjauan on the spot pada proses produksi dimana dilakukan cara produksi obat yang baik

b. Pengawasan terhadap obat yang beredar melalui antara lain:

1. Registrasi obat tradisional


2. Registrasi simplisia impor
3. Pengujian laboratorium
4. Monitoring terhadap kasiat, keamanan dan efek samping

Obat tradisional untuk intra vaginal atau tetes steril (mata, telinga) ditolak diedarkan. Obat-
obat yang beredar secara sampling sewaktu-waktu diuji laboratorium. Demikian pula efek
teratogenik tetap dipantau.

BEBERAPA PANDANGAN MENGENAI PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN


OBAT TRADISIONAL

I.Untuk mempercepat pemanfaatan obat tradisional, perlu jalan pintas penelitian obat
tradisional yakni langsung ke penelitian klinik.
Untuk : 1. Obat untuk penyakit resiko rendah
2. Obat untuk sewaktu-waktu & jangka pendek
II. Penanganan secara terarah dan berencana antara lain
1. Mengadakan koordinasi kegiatan penelitian dengan pertukaran informasi secara luas dan
cepat
2. Membentuk komite etik penelitian farmakologi klinik untuk melindungi masyarakat
dari hal-hal yang merugikan masyarakat akibat penelitian klinik
3. Perlunya dibentuk pusat-pusat penelitian obat tradisional dibeberapa senter perguruan
tinggi
HASIL SEMENTARA PENELITIAN PEMANFAATAN OBAT TRADISIONAL
UNTUK PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT

TUJUANNYA
Untuk sejauh mungkin memanfaatkan obat tradisional dari pelayanan kesehatan masyarakat
secara rasional dan dapat diterima oleh masyarakat, ada patokan antara lain :
1. Digunakan pada penyakit yang sering diderita oleh masyarakat
2. Pada penyakit yang mudah dikenal oleh masyarakat
3. Pada penyakit yang tidak berbahaya
4. Bahan obatnya mudah dikenal oleh masyarakat
5. Bahan obat mudah diperoleh
6. Bahan obat mudah diolah
7. Sebaiknya tanaman obatnya mudah dikembangbiakkan
8. Tanamannya tidak mengandung bahan aktif yang berbahaya

Berdasarkan hal diatas, telah ditetapkan kriteria penyakit yang dapat diobati dengan obat
tradisional :
Penyakit yang berprevalensi tinggi
Penyakit yang tersebar luas didaerah
Kejadian sakitnya tinggi
Penyakit harus beresiko rendah sehingga tidak berbahaya bagi pengobatan sendiri
Contoh :
Kelompok A Kelompok B
- Demam - Cacingan
- Nyeri/sakit kepala - Anemia
- Batuk/pilek
- Menceret
- Sariawan
- Gatal-gatal
- Muntah

OBAT TRADISIONAL SEBAGAI SALAH SATU BAHAN MENJADI OBAT


MODEREN

Untuk menjamin efektifitas dan keamanan suatu obat, perlu dilakukan penelitian mulai dari
penelitian dasar, farmakodinamik, farmakokinetik, toksisitas sampai pada penelitian klinik.

Langkah-langkahnya sebagai berikut mulai dengan :


Penelitian Klinik Fase I
Dilakukan pada orang sehat sukarelawan oleh ahli farmakologi klinik di rumah sakit.
Tujuan : melihat efek farmakodinamik dan farmakokinetik dari bahan obat pada manusia
dibanding dengan hewan

Penelitian Klinik Fase II


Meneliti efek obat pada penyakit/kelainan tertentu pada orang sakit. Juga penelitian
farmakokinetik pada orang tersebut

Penelitian Klinik Fase III


Lanjutan penelitian klinik fase II dengan penderita yang lebih banyak. Penelitian
farmakodinamik/farmakokinetik, termasuk dosis, indikasi, lama pengobatan dan
kemungkinan efek samping
Penelitian Klinik Fase IV
Dilakukan setelah obat mendapat izin penggunaan & pemasaran. Diteliti toksisitas kronis,
efek teratogenik, interaksi dengan obat lain. Kemungkinan kegagalan selama
pengobatan

Beberapa Tumbuhan Obat Yang Sementara diteliti


1. Daun kaki kuda (Cantella Asiatical)
Isi : Valerin
Asiatikosida (glikosida)
Tanin
Mineral
Guna : Penyakit kulit & lepra
Obat sariawan
Sakit perut Pikun dan penenang

Cara 90 gram/n direbus diminum airnya


Sediaan : tablet, zalf, bedak

2. Daun Paliasa = Kleinhoifa Hospital (stercullaceae)


Isi : Alkaloid
Asam prusid
Minyak atsiri
Guna : Obat hepatitis
Untuk mencuci rambut
Cara : 1 Gengggam daun direbus 3 gelas air hingga 1 gelas diminum setiap hari
sampai sembuh

3. Tapak Dara = Vinca Rosea L (Apocyaceae)


Isi : Alkaloid vinblastin
Alkaloid vincristin
Alkaloid vinleurosin
Alkaloid vinrisidin
Guna : Obat kanker
Obat tekanan darah tinggi
Obat kencing manis
Cara : 6 15 gram daun segar/kering dimasak
dengan air 3 gelas hingga tersisa 1 gelas dan
setelah dingin diminum
Sediaan : Inj. Vinkristin

4. Temulawak (Curcuma Xanthop.rihazarox B) Zingibiraceae


Isi : Minyak atsiri
Zat warna kuning
Kurkumin
Guna : Reumatik
Kolagogum
Anti spasmodica
Sediaan: Tablet Cursil
Kapsul reumakur

5. Daun Dewa = Gynura Procumberns Backer Casteraceae)


Guna : 1. Mengatasi nyeri haid
2. Menurunkan tekanan darah
Cara : 1. 30 60 gram direbus dengan air 1 liter hingga sisa liter minum
3 x sehari
2. 3 lembar daun segar dicuci bersih, dimakan sebagai lalapan
3. 1 genggam daun dimasak minum airnya
6. Daun jambu biji = Psidium Guajaval (Mirtaceae)
Isi : Tanin 5 % minyak atsiri, 0,36 % asam malat
Guna : Obat diare
Astrigensia
Cara : Daun segar/pucuk daun dihaluskan dan di minum airnya
Sediaan : Tablet

Beberapa Bahan Terpilih Untuk Penggunaan Terawasi (Uji Klinik/Obs. Klinik)

1. Allium sativum (Bawang Putih)

Menurunkan kadar kolesterol (perlu uji klinik)


Menurunkan batuk ?

2. Alpina Galanga S.W (Laos)

Penggunaan untuk kudis/kadas/fungisida


Perlu dimantapkan dengan uji klinik

3. Curcuma Domestica Val (Kunyit)

Penggunaannya untuk kudis, bidur, gatal perlu ditunjang uji klnik

4. Pinang (Areca Chatecu)

Sebagai anti diare & obat cacing


Belum dapat dianjurkan sebelum uji klinik

5. Sirih Enkasari

Obat sariawan, obat batuk, sakit kepala, obat bisul


Belum banyak data klinik
Enkasari sebagai obat kumur

6. Aloe Vera (Lidah Buaya)

Digunakan sebagai bahan shampo, sebagai pencahar, sebagai anti bakteri perlu uji klinik

7. Apium Graviolens (Daun Seledri)


Dapat menurunkan tekanan darah tinggi, meningkatkan urine, menurunkan kadar
asam urat perlu uji klinik