Anda di halaman 1dari 3

Kasus Pidana Tutupan

Sebagaimana diketahui, pidana tutupan sebagai salah satu jenis pidana pokok belum dikenal
dalam Wetboek Van Strafrecht voor Nederlandsch Indie (WvSNI) yang diberlakukan di Belanda
sejak 1 Januari 1918. Sementara itu pidana tutupan baru diadakan pada tanggal 30 Oktober
1946 berdasarkan Undang-undang No. 20 Tahun 1946 tentang penambahan jenis hukuman
pokok dengan hukuman tutupan. Apabila diteliti ternyata dari ketentuan Undang-undang No. 20
tahun 1946 tersebut belum terlihat apa alasan atau latar belakang diadakannya jenis pidana
tutupan tersebut. Tetapi bagaimanapun juga diadakannya jenis pidana tutupan, bukan tanpa
sebab. Dalam penjelasan Undang-undang No. 20 Tahun 1946 antara lain disebutkan :
Peristiwa-peristiwa yang terjadi di lapangan politik pada waktu belakangan ini memberi
keinsyafan kepada Pemerintah, bahwa jenis hukuman pokok yang ada dalam KUHP yang
sekarang berlaku, tidaklah lengkap adanya dan tidak pula mencukupi kebutuhan.

Sejarah singkat tentang Peristiwa 3 Juli 1946, yaitu merupakan suatu percobaan perebutan
kekuasaan atau kudeta yang dilakukan oleh pihak oposisi - kelompok Persatuan Perjuangan -
terhadap pemerintahan Kabinet Sjahrir II di Indonesia. Usaha yang dimotori kelompok Tan
Malaka ini maksudnya mendesak Presiden agar mau mengganti kabinet. Karena Kabinet Sjahrir
dianggap terlalu banyak memberikan konsesi kepada Belanda. Apalagi setelah pidato Bung
Hatta yang membocorkan bahwa akan diadakan perundingan baru dengan Belanda dimana
antara lain akan dicapai kesepakatan wilayah Republik Indonesia akan meliputi sebatas Jawa
dan Sumatera saja. Bagi kelompok Tan Malaka yang menginginkan kemerdekaan 100 % atau
tidak ada kompromi dengan pihak Imperialis dan Kolonialis itu, kebijaksanaan pemerintah yang
dianggap mau menerima tekanan luar itu, harus dibereskan. Maka kaum militer bekerja sama
dengan kaum politik untuk melakukan apa yang dinamakan "Peristiwa 3 Juli".

Pada 23 Maret 1946, tokoh-tokoh kelompok Persatuan Perjuangan - antara lain Tan Malaka,
Subardjo, dan Sukarni - ditangkap dengan tuduhan bahwa kelompok ini berencana untuk
menculik anggota-anggota kabinet. Pada tanggal 27 Maret 1946, tuduhan tersebut menjadi
kenyataan. Perdana Menteri Sutan Sjahrir dan beberapa anggota kabinet diculik oleh orang-
orang yang tidak dikenal. Pada tanggal 28 Juni 1946, Presiden Soekarno menyatakan keadaan
bahaya di Indonesia. Keesokan harinya, seluruh kekuasaan pemerintahan diserahkan kembali
kepada Presiden Republik Indonesia. Upaya himbauan Soekarno melalui media massa akhirnya
berhasil, karena beberapa hari setelah itu seluruh korban penculikan dibebaskan kembali.

Tanggal 3 Juli 1946, Mayor Jendral Sudarsono, pelaku utama penculikan yang sehaluan dengan
kelompok Persatuan Perjuangan, menghadap Soekarno bersama beberapa rekannya dan
menyodorkan empat maklumat untuk ditandatangani Presiden, yang menuntut agar Presiden
memberhentikan Kabinet Sjahrir II Presiden menyerahkan pimpinan politik, sosial, dan ekonomi
kepada Dewan Pimpinan Politik . Presiden mengangkat 10 anggota Dewan Pimpinan Politik yang
nama-namanya dicantumkan dalam maklumat Presiden mengangkat 13 menteri negara yang
nama-namanya dicantumkan dalam maklumat Soekarno tidak menerima maklumat tersebut
dan memerintahkan penangkapan para pengantar maklumat. Empat belas orang yang diduga
terlibat dalam upaya kudeta diajukan ke Mahkamah Tentara Agung. Tujuh orang dibebaskan,
lima orang dihukum 2 sampai 3 tahun, sedangkan Sudarsono dan Muhammad Yamin dijatuhi
hukuman selama empat tahun penjara.Dua tahun kemudian, pada tanggal 17 Agustus 1948,
seluruh tahanan Peristiwa 3 Juli 1946 dibebaskan melalui pemberian grasi presiden.

ii).Putusan dan Relevansi Terhadap Pelaku Terkait Peristiwa 3 Juli 1946


Dalam Peristiwa 3 Juli 1946 ini, persidangan dilakukan oleh Mahkamah Tentara Agung. Karena
didasarkan pada Pasal 4 dan 5 Undang-undang No.7 Tahun 1946 yang para pelaku terkait
Peristiwa 3 Juli 1946 merupakan yustisiabel Peradilan Tentara. Setelah Hakim melakukan
beberapa pertimbangan hingga 30 kali dan memakan waktu sekitar 4 bulan, akhirnya
Mahkamah memutuskan :
- Membebaskan terdakwa-terdakwa Sayuti Melik, Pandu Kartawiguna, Surip Suprastio,
Sumantoro, R. Joyopranoto, R.P Supadno Suryodiningrat dan Marlan, karena tidak terbukti
kesalahannya.
- Mempersalahkan terdakwa-terdakwa Mayor Jenderal R.P Soedarsono Dan Muhamad Yamin
melakukan kejahatan memimpin percobaan untuk menggulingkan pemerintahan yang sah
dan menghukum mereka dengan pidana tutupan, masing-masing selama empat tahun dipotong
masa tahanan.
- Mempersalahkan terdakwa-terdakwa Ahmad Subardjo, Iwa Kusuma Sumantri, R. Sundoro
Sudyarto
- Martoatmodjo, Buntaran Martoatmodjo, dan Muhamad Saleh melakukan kejahatan
Percobaan untuk menggulingkan Pemerintahan yang sah dan menghukum mereka dengan
pidana tutupan : Ahmad Subardjo dan Iwa Kusuma Sumantri selama 3 tahun; R. Sundoro
Budhyarto Martoatmodjo selama 3 tahun 6 bulan; R. Buntaran Martoatmodjo selama 2 tahun
dan Muhamad Saleh selama 2 tahun 6 bulan, masing-masing dipotong masa tahanan.

Apabila putusan Mahkamah Tentara Agung tersebut diperhatikan, maka ada dua hal yang
menarik yaitu tentang pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana tutupan dan tentang
amar putusannya. Mengenai pertimbangan Majelis Hakim dalam pidana tutupan terhadap para
terdakwa, dikemukakan bahwa maksud dari perbuatan para terdakwa adalah untuk
memperbaiki nasib nusa dan bangsa, yang dalam hal ini memperjuangkan kemerdekaan
bangsa Indonesia sepenuhnya. Jelas dalam perbuatan para terdakwa terkandung maksud yang
mulia, sehingga patut dihormati.
Kendati demikian, Majelis Hakim juga menilai tentang hasil atau akibat dari perbuatan para
terdakwa, yaitu bahwa usaha untuk menggulingkan Pemerintah tidak tercapai dan
pertumpahan darah tidak terjadi. Hal mana dipandang telah memenuhi kriteria yang ditentukan
pada Pasal 2 Ayat 1 Undang-undang No.20 Tahun 1946, bahwa perbuatan itu tidak dilakukan
dengan cara-cara keji, sehingga para terdakwa tidak tepat untuk dipersamakan dengan penjahat
biasa, yang berarti tidak tepat pula dijatuhi pidana penjara. Dengan demikian, pertimbangan
Majelis Hakim untuk menjatuhkan pidana tutupan terhadap terdakwa cukup beralasan dan
sejalan dengan maksud Undang-undang No. 20 Tahun 1946.

Selanjutnya mengenai amar putusan yang berbunyi memimpin percobaan untuk


menggulingkan Pemerintahan yang sah dan melakukan percobaan untuk menggulingkan
pemerintah yang sah, agaknya merupakan rumusan yang kurang tepat untuk dipergunakan
bagi kejahatan makar. Menurut Pasal 87 KUHP, dikatakan ada makar untuk melakukan suatu
perbuatan dari adanya permulaan pelaksanaan, seperti dimaksud dalam Pasal 53 KUHP.

Ini berarti bahwa perbuatan makar(aanslag) berbeda dengan percobaan(poeging). Karena


apabila pengertian makar identik dengan percobaan, tentu pembuat undang-undang tidak
akan merumuskan Pasal 87 KUHP tersebut. Artinya, apakah perbuatan itu selesai atau tidak
selesai dilaksanakan, namun semuanya telah tercakup dalam perbuatan makar. Dengan kata
lain, perbuatan makar mencakup perbuatan yang telah sempurna dilaksanakan maupun
percobaannya, dan untuk itu diancam dengan maksimum pidana yang sama.

Di dalam pelaksanaanya, pidana tutupan yang dijatuhkan kepada para pelaku Peristiwa 3 Juli
1946 tersebut dijalankan di Rumah Penjara dan bersama-sama dengan terpidana penjara,
menunjukan bahwa pelaksanaan pidana tutupan pada waktu itu belum sepenuhnya sesuai
dengan ketentuan Undang-undang No.20 Tahun 1946 dan Peraturan Pemerintah No.8 Tahun
1948, yang menghendaki diadakannya Rumah Tutupan tersendiri. Hal ini dapat dipahami,
mengingat situasi negara pada waktu itu masih belum stabil, sehingga belum memungkinkan
bagi pemerintah untuk membangun suatu Rumah Tutupan tersendiri.Namun para terpidana R.P
Soedarsono dan kawan-kawan tidak menjalani seluruh masa pidananya, karena pada tanggal 17
Agustus 1948 mereka dibebaskan setelah mendapat grasi berdasarkan Keputusan Presiden
No.109/A/Civ/48 tanggal 17 Agustus 1948. Dihitung sejak pemidanaan dijatuhkan oleh
Mahkamah Tentara Agung pada tanggal 27 Mei 1948, maka R.P Soedarsono dan kawan-kawan
hanya menjalani pidana tutupan sekitar 80 hari. Suatu jangka waktu yang relatif singkat, jika
dibandingkan dengan upaya untuk membentuk jenis pidana tutupan tersebut sampai dengan
proses persidangan perkara yang memakan waktu lebih dari 2 tahun 6 bulan. Tetapi
bagaimanpun juga, kenyataan ini menunjukan adanya itikad pemerintah yang ingin
membedakan perlakukan terhadap pelaku kejahatan politik dengan pelaku kejahatan biasa.