Anda di halaman 1dari 5

INTERAKSI MANUSIA DAN LANSEKAP (ARL 521)

Interaksi Manusia Dengan Lansekap di Kawasan Wisata Kebun Binatang Bandung

Oleh
Adlia Vidya Rahmandari
A452240101

Kota Bandung merupakan salah satu kota di Jawa Barat yang dipilih oleh masyarakat
sebagai tempat berlibur. Hal ini disebabkan karena Bandung memiliki banyak tempat wisata,
dan salah satunya yaitu kawasan wisata pendidikan Kebun Binatang yang berlokasi di Taman
Sari Bandung. Kebun Binatang Bandung (KBB) berdiri di atas lahan seluas 13,5 ha, dengan
topografi yang bergelombang dan pengolahan lanskap yang mengikuti kontur. Kebun Binatang
yang dikelola oleh Yayasan Margasatwa Tamansari ini mempunyai beberapa fungsi
diantaranya sebagai tempat rekreasi, fungsi pendidikan dan Iptek yang dapat dimanfaatkan oleh
kalangan edukatif dan sebagai obyek riset atau penelitian di berbagai keilmuan, serta fungsi
perlindungan dan pelestarian kekayaan alam.
Gambar 1 merupakan gerbang
masuk KBB sebagai area ticketing. Area
ini termasuk ke dalam lanskap buatan
karena jalan setapak sudah dirancang
sedemikan rupa menggunakan paving
block. Pengolahan jalan ini berguna
untuk mengakomodir kebutuhan
pengunjung.

Gambar 1 Gerbang Masuk Kebun Binatang KBB sendiri memiliki koleksi


Bandung
satwa sekitar 213 jenis, terdiri dari 79 jenis
satwa yang dilindungi dan 134 jenis satwa yang tidak dilindungi. Satwa tersebut berasal dari
dalam ataupun luar negeri dan sebagian merupakan hewan endemik berbagai daerah di
nusantara. Sehingga interaksi yang terjadi di kawasan wisata pendidikan ini bukan hanya
interaksi Manusia dengan Lanskap, tetapi juga terdapat interaksi dengan hewan-hewan yang
tingal di KBB.

Sebagai kawasan wisata, KBB merupakan tempat favorit keluarga untuk menghabiskan
waktu liburan bersama. Kawasan ini menyajikan berbagai macam area seperti kandang
berbagai macam binatang, area outbound, area tunggang gajah, area tunggang onta, taman
bermain anak, kolam perahu, ampitheater dan plaza untuk pertunjukan. Pengunjung juga
melakukan kegiatan piknik dengan menggelar tikar di area taman.

Gambar 2 Kandang Unta Gambar 3 Kandang Gajah


Pada gambar 2 dan 3, terlihat penempatan untuk kandang unta dan gajah diberikan jarak
sekitar 1 meter dari kandang hewan dengan pedestrian pengunjung. Hal ini bertujuan untuk
keamanan pengunjung agar tidak terlalu dekat dengan binatang. Desain lanskap seperti ini juga
berlaku pada kandang-kandang hewan lainnya di kawasan KBB. Selain itu, desain yang lainnya
yang digunakan sebagai keamanan untuk pengunjung terhadap hewan yaitu dengan
memberikan pemisah kolam dan tembok yang tinggi seperti pada kandang-kandang harimau
dan orang utan (gambar 4 & 5). Karena desain arsitektur lankap yang baik adalah yang
memperhatikan kemana, kenyamanan, dan estetika dalam mendesain suatu kawasan.

Gambar 4 Kandang Orang Utan dikelilingi Gambar 5 Kandang harimau dikelilingi


kolam dan tembok tinggi kolam dan tembok tinggi

Dari segi keamanan binatang dengan pengunjung sudah cukup baik dengan
memberikan jarak minimal antara kandang dan pengunjung. Namun jika dilihat dari desain
beberapa kandang hewan terlihat kurang terurus dan kurang sesuai dengan habitat tiap hewan
yang tinggal di sana.
Gambar 6 Kandang beruang terlihat Gambar 7 Kandang harimau terlihat
kurang sesuai dengan habitatnya kurang terurus

Hal ini akan berpengaruh terhadap kesehatan hewan karena lingkungan tempat mereka
tinggal tidak sesuai dengan habitatnya. Pada kenyataannya lingkungan dan makhluk hidup
keduanya saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Selain itu kebiasaan pengunjung
juga dinilai kurang baik, karena pengunjung sering memberikan makanan pada hewan yang
ada di KBB secara sembarangan. Hal ini juga yang mengakibatkan terdapat banyak sampah
yang berserakan di dalam kandang dan dapat membahayakan nyawa hewan yang tinggal di
sana. Kebiasaan masyarakat ini harus dihentikan guna melestarikan hewan yang tinggal di
KBB.

Gambar 8 Taman Bermain Anak Gambar 9 Pedestrian


Terlepas dari desain lanskap untuk kandang hewan. KBB menyediakan area bermain
anak. Dan terdapat pedestrian dengan tanaman merambat sebagai peneduh untuk meredam
terik matahari di siang hari (gambar 9). Desain Landskap pada area ini sudah baik dengan
ditambahkan kursi taman agar pengunjung dapat meransa nyaman beristirahat dan bersantai
untuk menghilangkan lelah.
Kawasan KBB sendiri memiliki bentuk tapak dan keragaman tanaman alami yang
dipertahankan. Contohnya yaitu dengan adanya pohon-pohon besar yang tersebar di seluruh
area KBB serta bentuk tapak yang tidak diubah (gambar 10 dan 11). Desain Landskap yang
mengikuti kontur dan pepohonan yang ada diolah dengan dibuatkan jalan setapak keliling KBB
menggunakan material paving blok dan aspal. Penempatan area kandang hewan juga
disesuaikan dengan kondisi lahan yang ada. Sayangnya terdapat beberapa bagian pedestrian
yang kurang terawat dan sudah rusak, sehingga ketika hujan turun pedestrian ini menjadi licin
dan dapat membahayakan pengunjung yang datang.

Gambar 10 Taman Bermain Anak Gambar 11 Pohon eksisting & tangga


Komponen lanskap lainnya yang terdapat di KBB yaitu adanya area kolam perahu yaitu
suatu area dengan kolam yang cukup besar dan disediakan perahu sebagai area hiburan
pengunjung. Ampitheater dengan tangga yang berundak, diarea ini biasanya digunakan
pengunjung sebagai area piknik keluarga dengan menggelar tikar. Serta Plaza dengan
panggung yang cukup luas yang diperuntukan sebagai area pertunjukkan.

Gambar 12 Kolam perahu Gambar 13 Ampitheater


Daftar Pustaka

Kusumaputri, P. 2013. Hitam Putih Kebun Tamansari Bandung. [online]. Tersedia:


http://citizenmagz.com/?p=7695. [25 Juli 2014].

Mandalawangi. 2014. Wisata Pendidikan Kebun Binatang Bandung. [online]. Tersedia:


http://www.bandungtv.co.id/index.php/mandalawangi/item/74-kebun-binatang-bandung. [25
Juli 2014].

PRLM. 2011. Libur Pnajang, Kebun Binatang Bandung Diserbu Pengunjung. [online].
Tersedia: http://www.pikiran-rakyat.com/node/147359. [8 September 2014].