Anda di halaman 1dari 33

TUGAS KELOMPOK

HUKUM DAN ETIKA BISNIS

CONTRACT THEORY AND CONFLICT OF INTEREST

Dosen
Dr. Nurmala K. Panjaitan, MS. DEA

Disusun Oleh
Kelas E-61

Ahmad Saomin Ali K15161046


Ali Akil Parlindungan S. K15161047
Mohammad Harris Pratama K15161060
Mochammad Ridwan Aditya K15161061
Rulli Hendriani K15161067

SEKOLAH PASCASARJANA MANAJEMEN DAN BISNIS


INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI....................................................................................................................... 1
I. PENDAHULUAN ........................................................................................................... 0
1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 0
1.2 Ruang Lingkup.......................................................................................................... 2
II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................. 3
2.1 Definisi dan Konsep Etika Bisnis ............................................................................. 3
2.2 Prinsip-prinsip Etika Bisnis ...................................................................................... 4
2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Etika .................................................................. 4
2.4 Contract Theory ........................................................................................................ 6
2.5 Definisi Konflik Kepentingan ................................................................................... 9
III PEMBAHASAN .......................................................................................................... 11
3.1. Hubungan Prinsipal dan Agen ............................................................................... 11
3.1.1 Pemegang Saham dan Manajemen ........................................................... 11
3.1.2. Pemegang Saham Publik dan Pemegang Saham Pengendali .................... 12
3.1.3. Kreditor dan Pemegang Saham ................................................................. 12
3.2. Faktor Yang Menyebabkan Konflik Kepentingan dan Masalah Keagenan Yang
Timbul (Informasi Asimetri dan Perilaku Self-Interest). .............................................. 15
3.3 Kewajiban Profesional Dan Konflik Kepentingan .................................................. 19
3.4 Menjadi Anggota Dewan Yang Etis ....................................................................... 23
3.5 Contoh-Contoh Lain Conflict Of Interest Antara Code of Conduct Karyawan
Dengan Kepentingan Pribadi ........................................................................................ 25
IV KESIMPULAN............................................................................................................ 27
4.1 Simpulan ........................................................................................................... 27
4.2 Saran ................................................................................................................. 28
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 29
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perubahan lingkungan yang begitu cepat menuntut organisasi untuk
mengambil langkah strategis agar organisasi dapat terus berkembang dengan baik
sesuai dengan perubahan yang terjadi. Perubahan untuk menjadi lebih baik, tidak
akan terlepas dari sejumlah tantangan yang akan terus menghadang, apalagi di era
yang penuh dengan persaingan dan ketidakpastian. Oleh karena itu organisasi
yang ingin terus berkembang harus merespon dengan cepat tantangan-tantangan
yang ada.
Salah satu faktor yang membuat bisnis dapat bertahan adalah mereka yang
mampu memberikan keuntungan perusahaan sehingga memuaskan para
stakeholdernya. Dorongan untuk melakukan perubahan semakin tinggi untuk
merespon ketidakpastian kondisi ekonomi, sosial, budaya, hukum, serta kebijakan
pemerintah. Hal ini tentunya membutuhkan para penggerak organisasi yang
bersikap inovasi, kreatif dan cepat dalam melakukan perubahan agar tetap mampu
bersaing untuk mempertahankan bisnisnya.
Masalah etis lain yang dapat timbul yaitu saat perusahaan harus mematuhi
beberapa standar hukum atau budaya yang bertentangan dengan nilai -ilai budaya
organisasi yang telah dibangun, seperti perusahaan multinasional yang beroperasi
di negara-negara dengan berbagai praktik. Konflik kepentingan akan muncul
ketika perusahaan harus memutuskan untuk tetap melakukan perluasan pasar dan
bersaing dengan perusahaan lainnya, dimana tentunya perusahaan tersebut harus
mengikuti terhadap budaya dan standard hukum yang ada di negara tersebut.
Sebagai contoh, undang-undang Amerika Serikat melarang perusahaan membayar
suap baik di dalam negeri maupun di luar negeri, namun, di belahan dunia lain,
penyuapan adalah cara biasa untuk melakukan bisnis.
Guna menyelaraskan dorongan perusahaan untuk mengakuisisi pasar atau
menghasilkan kebutuhan mereka sendiri dengan adanya perbedaan kepentingan di
lingkungan pasar perlu melakukan perikatan/contract dengan para pihak yang
berhubungan dan bertindak dalam menjalankan organisasi tersebut. Oleh
karenanya organisasi perlu memahami contract theory yang dilakukan sehingga
masing-masing pihak memahami fungsi dan tanggung jawabnya dengan baik.
Dalam contract theory perusahaan sebagai pengelompokan kontrak,
perusahaan harus menetapkan dan terus melakukan negosiasi ulang kontrak terus-
menerus dengan para pihak. Perusahaan bukanlah individu, namun fiksi hukum
yang berfungsi sebagai fokus proses yang kompleks dimana tujuan konflik
individu dibawa ke dalam ekuilibrium dalam kerangka hubungan kontraktual.
Kontrak adalah instrumen sentral yang dapat memainkan peran koordinasi
di dalam perusahaan dan di antara perusahaan. Karena perusahaan adalah
perhubungan kontrak, kontrak tersebut harus memiliki pihak. Hubungan kontrak
sangat penting bagi perusahaan dan individu (pelanggan, pengusaha, pemasok,
kreditur) adalah pihak dalam perhubungan kontrak ini. Kontrak merupakan dasar
dari semua struktur tata kelola, dengan fiksi hukum.
Kontrak yang menyusun beragam hubungan yang dimiliki perusahaan
dengan semua pemasok inputnya adalah kontrak yang lengkap. Salah satu teori
kontrak yang berfokus pada sumber daya yang ada, adalah teori agensi. Teori
agensi (agency theory) merupakan perhubungan kontrak antara pemilik bisnis dan
manajer yang dipekerjakan untuk menjalankan aktivitas perusahaan
Adanya beberapa asumsi terkait sifat manusia yang mementingkan diri
sendiri (self-interest), manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi
masa mendatang (bounded rationality), dan manusia selalu menghindari resiko
(risk averse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut, masing-masing
individu semata-mata termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga
menimbulkan konflik kepentingan antara prinsipal dan agen. Pihak pemilik
(principal) termotivasi mengadakan kontrak untuk mensejahterahkan dirinya
dengan profitabilitas yang selalu meningkat. Sedangkan manajer (agent)
termotivasi untuk memaksimalkan pemenuhan ekonomi dan psikologinya, antara
lain dalam hal memperoleh investasi, pinjaman, maupun kontrak kompensasi.
Dengan demikian terdapat dua kepentingan yang berbeda di dalam perusahaan
dimana masing-masing pihak berusaha untuk mencapai atau mempertahankan
tingkat kemakmuran yang dikehendaki.
1.2 Ruang Lingkup
Makalah pembahasan contract theory dan konflik kepentingan ini lebih
membahas hubungan keterikatan antara principal dan agent, yaitu kelompok
individu dengan kelompok individu lainnya yang diikat dalam hubungan kerja,
dimana penerima kontrak diberikan kewenangan untuk mengambil keputusan atas
nama pemberi kontrak, demi kelancaran dan keuntungan organisasi pemberi
kontrak.

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah :
1. Mengetahui permasalahan yang timbul dalam suatu contract.
2. Mengetahui jenis-jenis hubungan/keterikatan dalam theory agency.
3. Mempelajari konflik kepentingan yang mungkin timbul di dalam suatu
contract.
4. Mempelajari berbagai tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi konflik
kepentingan di dalam suatu hubungan agency.
II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi dan Konsep Etika Bisnis


Dalam Keraf (1998) membedakan dua pengertian etika. Pertama, etika
sebagai sistem nilai tentang bagaimana manusia harus bersikap baik sebagai
manusia yang telah diinstitusionalisasikan dalam sebuah adat kebiasaan yang
terwujud dalam pola perilaku yang ajek dan terulang dalam kurun waktu yang
lama. Etika merupakan disiplin ilmu yang mempelajari pengetahuan tentang
moral, tentang baik dan buruk dalam hubungan timbal balik antar manusia.
Kedua, etika sebagai filasafat moral sebagai refleksi kritis dan rasional mengenai:
Nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup baik
sebagai manusia
Masalah-masalah kehidupan manusia dengan mendasar pada nilai-nilai
dan norma yang umum diterima.
Sedangkan menurut Uno (2004) dalam Komenaung (2006) membedakan
pengertian etika dengan etiket. Etiket (sopan santun) berasal dari bahasa Prancis
etiquette yang berarti tata cara pergaulan yang baik antara sesama menusia.
Sementara itu etika, berasal dari bahasa Latin, berarti falsafah moral dan
merupakan cara hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila, dan agama.
Jika kata etika dikaitkan dengan kata bisnis akan menjadi etika bisnis. Definisi
etika bisnis sendiri adalah pengetahuan tentang tata cara ideal pengaturan dan
pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara
universal dan secara ekonomi/sosial, serta penerapan norma dan moralitas ini
menunjang maksud dan tujuan kegiatan bisnis (Solomon, 1993). Ada juga yang
mendefinisikan etika bisnis sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena
bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika bisnis
dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan (Dalimunthe, 2004
dalam Komenaung, 2006).
2.2 Prinsip-prinsip Etika Bisnis
Keraf (1998) menjelaskan bahwa prinsip etika bisnis adalah sebagai berikut.
1. Prinsip otonomi, yaitu sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil
keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang
dianggapnya baik untuk dilakukan
2. Prinsip kejujuran, dimana terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang dapat
ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bertahan lama dan berhasil
kalau tidak didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-
syarat perjanjian dan kontrak. Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau
jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Ketiga, jujur dalam hubungan
kerja intern dalam suatu perusahaan.
3. Prinsip keadilan, menuntut agar setiap orang diperlakukan sama sesuai dengan
aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional obyektif, serta dapat
dipertanggungjawabkan.
4. Prinsip saling menguntungkan (mutual benefit principle), menuntut agar bisnis
dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.
5. Prinsip integritas moral, terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam diri
pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan tetap
menjaga nama baik pimpinan, karyawan, maupun perusahaannya.

2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi Etika


Dari sekian banyak faktor etika yang telah dipertanyakan kepada para
pemimpin perusahaan, kejujuran adalah tiang utamanya. Jujur dapat diartikan
sebagai dapat dipercaya. Berbisnis berarti melakukan suatu hubungan ekonomi
dengan stakeholder maupun shareholder. Pebisnis yang berhasil haruslah
mempertimbangkan kepentingan stakeholder, artinya dalam perspektif sebuah
perusahaan, etika memiliki hubungan yang dekat dengan trust (kepercayaan) bagi
dan terhadap stakeholder-nya (Rudito dan Famiola, 2007). Sedangkan Steiner dan
Steiner (2006) menyebutkan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi agar
bisnis menjadi terpercaya dan beretika, yaitu kepemimpinan, strategi dan formasi,
budaya perusahaan, dan karakter individu.
1. Kepemimpinan
Peran manajer dalam menjalankan suatu perusahaan adalah sangat
sentral, sebab para manajer merupakan orang yang akan mengambil
keputusan-keputusan penting dalam menjalankan seluruh aktivitas
perusahaan. Kepemimpinan yang beretika menggabungkan antara
pengambilan keputusan yang beretika dan perilaku yang beretika, serta
mengupayakan agar organisasi memahami dan menerapkannya dalam
kode-kode etik. Hal ini tampak dalam konteks individu dan organisasi.
2. Strategi dan Formasi
Sebuah fungsi penting dari manajemen adalah kreatif dalam
menghadapi tingginya tingkat persaingan yang membuat perusahaan sulit
untuk mencapai tujuan perusahaan. Sebuah perusahaan yang buruk akan
memiliki kesulitan besar untuk menyelaraskan target yang ingin dicapai
dengan standar-standar etika, karena keseluruhan strategi perusahaan yang
disebut excellence harus mampu melaksanakan seluruh kebijakan-
kebijakan perusahaan guna mencapai tujuan perusahaan dengan cara yang
jujur.
3. Budaya Perusahaan
Budaya perusahaan adalah suatu kumpulan nilai-nilai, norma-norma,
ritual, dan pola tingkah laku yang menjadi karakteristik perusahaan. Setiap
budaya perusahaan akan memiliki dimensi etika yang didorong tidak
hanya oleh kebijakan formal perusahaan, tapi juga karena kebiasaaan
sehari-hari yang berkembang dalam organisasi perusahaan tersebut,
sehingga kemudian dipercaya sebagai perilaku yang biasa ditandai mana
perilaku yang pantas dan mana yang tidak pantas. Budaya-budaya
perusahaan inilah yang membantu terbentuknya nilai dan moral di tempat
kerja, juga moral yang digunakan untuk melayani para stakeholder-nya.
Aturan-aturan dalam perusahaan dapat dijadikan salah satu cara untuk
membangun budaya perusahaan yang baik. Hal ini juga terkait dengan visi
dan misi perusahaan.
4. Karakter Individu
Menurut Irwin (2001) dalam Rudito dan Famiola (2007), perilaku
etika seseorang dalam suatu organisasi akan sangat penting dipengaruhi
oleh nilai-nilai, norma-norma, moral dan prinsip yang dianutnya dalam
menjalankan kehidupannya, kemudian bisa dianggap sebagai kualitas
individu tersebut. Semua kualitas individu ini nantinya akan dipengaruhi
oleh faktor-faktor yang diperoleh dari luar yang kemudian menjadi prinsip
yang dijalani dalam hidupnya dalam bentuk perilaku. Faktor-faktor
tersebut merupakan pengaruh budaya, pengaruh organisasi tempatnya
bekerja, dan pengaruh kondisi politik serta perekonomian global dimana
individu tersebut tinggal.

2.4 Contract Theory


Contract Theory menjelaskan hubungan prinsipal dan agen atau
menganalisis susunan kontraktual di antara dua atau lebih individu, kelompok atau
organisasi. Salah satu pihak (principal) membuat suatu kontrak, baik secara
implisit maupun eksplisit, dengan pihak lain (agent) dengan harapan bahwa agen
akan bertindak/melakukan pekerjaan seperti yang diinginkan oleh prinsipal
(dalam hal ini terjadi pendelegasian wewenang).
Dalam contract theory dapat dipelajari apa yang mungkin muncul dari
sebuah bentuk kontrak yang menjadi kurang ideal karena adanya:
1) Tindakan tersembunyi (atau moral hazard): bila perilaku pihak yang
terlibat tidak sempurna,
2) informasi tersembunyi (atau pilihan buruk): bila pihak yang terlibat
memiliki informasi pribadi yang tidak diketahui orang lain,
3) timbulnya ketidakcocokan kontrak yang terjadi karena tidak menangani
semua kontinjensi yang relevan.
Banyak aplikasi teori kontrak, di antaranya adalah kontrak kerja,
peraturan, diskriminasi harga, pajak optimal, kontrak keuangan, dan lelang.
Hubungan keagenan merupakan suatu kontrak dimana satu atau lebih orang
(prinsipal) memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama
prinsipal serta memberi wewenang kepada agen membuat keputusan yang terbaik
bagi prinsipal. Jika kedua belah pihak tersebut mempunyai tujuan yang sama
untuk memaksimumkan nilai perusahaan, maka diyakini agen akan bertindak
dengan cara yang sesuai dengan kepentingan prinsipal.
Teori yang didasarkan pada pemisahan antara kepemilikan dan
pengendalian (ownership and control) disebut teori keagenan. Pemisahan antara
pemilikan dan pengendalian dapat merupakan bentuk efisien dari perusahaan
dalam kerangka perspektif "serangkaian kontrak" perusahaan merupakan
serangkaian kontrak yang mencakup cara dimana input diproses untuk
menghasilkan output dan cara dimana hasil dari output dibagi diantara input.
Fungsi manajemen adalah mengawasi kontrak-kontrak diantara faktor-faktor dan
memastikan keberlangsungan perusahaan.
Menurut Eisenhardt (1989) dalam Emirzon (2007), teori keagenan
dilandasi oleh beberapa asumsi. Asumsi-asumsi tersebut dibedakan menjadi tiga
jenis, yaitu asumsi tentang sifat manusia, asumsi keorganisasian dan asumsi
informasi. Asumsi sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat
mementingkan diri sendiri (self-interest), manusia memiliki daya pikir terbatas
mengenai persepsi masa mendatang (bounded rationality), dan manusia selalu
menghindari resiko (risk averse). Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik
antar anggota organisasi, efisiensi sebagai kriteria efektivitas dan adanya asimetri
informasi antara principal dan agent. Asumsi informasi adalah bahwa informasi
sebagai barang komoditi yang dapat diperjualbelikan.
Permasalahan yang timbul akibat adanya perbedaan kepentingan antara
prinsipal dan agen disebut dengan agency problems. Salah satu penyebab agency
problems adalah adanya asymmetric information. Asymmetric Information adalah
ketidakseimbangan informasi yang dimiliki oleh prinsipal dan agen, ketika
prinsipal tidak memiliki informasi yang cukup tentang kinerja agen sebaliknya,
agen memiliki lebih banyak informasi mengenai kapasitas diri, lingkungan kerja
dan perusahaan secara keseluruhan (Widyaningdyah, 2001).
Jensen dan Meckling (1976) menyatakan permasalahan yang seringkali
muncul di dalam contract adalah:
1. Moral hazard, yaitu permasalahan muncul jika agen tidak melaksanakan hal-
hal yang disepakati bersama dalam kontrak kerja.
2. Adverse selection, yaitu suatu keadaan di mana prinsipal tidak dapat
mengetahui apakah suatu keputusan yang diambil oleh agen benar-benar
didasarkan atas informasi yang telah diperolehnya, atau terjadi sebagai sebuah
kelalaian dalam tugas.
Teori keagenan berusaha untuk menjawab masalah keagenan yang terjadi
jika pihak-pihak yang saling bekerja sama memiliki tujuan dan pembagian kerja
yang berbeda. Secara khusus teori keagenan membahas tentang adanya hubungan
keagenan, dimana suatu pihak tertentu (principal) mendelegasikan pekerjaan
kepada pihak lain (agent) yang melakukan pekerjaan. Teori keagenan ditekankan
untuk mengatasi dua permasalahan yang dapat terjadi dalam hubungan keagenan
(Eisenhardt, 1989 dalam Darmawati, 2005). Pertama adalah masalah keagenan
yang timbul pada saat (a) keinginan-keinginan atau tujuan-tujuan dari prinsipal
dan agen berlawanan dan (b) merupakan suatu hal yang sulit atau mahal bagi
prinsipal untuk melakukan verifikasi tentang apa yang benar-benar dilakukan oleh
agen. Permasalahannya adalah bahwa prinsipal tidak dapat memverifikasi apakah
agen telah melakukan sesuatu secara tepat. Kedua adalah masalah pembagian
resiko yang timbul pada saat prinsipal dan agen memiliki sikap yang berbeda
terhadap resiko. Dengan demikian, prinsipal dan agen mungkin memiliki
preferensi tindakan yang berbeda dikarenakan adanya perbedaan preferensi resiko.
Menurut Hendriksen dan Breda (2000:221), menyatakan bahwa teori
keagenan memberikan peranan penting bagi akuntansi terutama dalam
menyediakan informasi setelah suatu kejadian yang disebut sebagai peranan
pascakeputusan. Peranan ini sering diasosiasikan dengan peran pengurusan
(stewardship) akuntansi, dimana seorang agen melapor kepada prinsipal tentang
kejadian-kejadian dimasa lalu. Inilah yang memberi akuntansi nilai umpan
baliknya selain nilai prediktifnya. Dimana nilai umpan balik menjelaskan bahwa
informasi juga mempunyai peran penting dalam menguatkan atau mengoreksi
harapan-harapan sebelumnya.
2.5 Definisi Konflik Kepentingan
Konflik kepentingan adalah suatu keadaan sewaktu seseorang pada posisi
yang memerlukan kepercayaan, seperti pengacara, politisi, eksekutif, atau
karyawan atau direktur perusahaan memiliki kepentingan profesional dan pribadi
yang bersinggungan. Persinggungan kepentingan ini dapat menyulitkan orang
tersebut untuk menjalankan tugasnya. Suatu konflik kepentingan dapat timbul
bahkan jika hal tersebut tidak menimbulkan tindakan yang tidak etis atau tidak
pantas. Suatu konflik kepentingan dapat mengurangi kepercayaan terhadap
seseorang atau suatu profesi.
Conflict of interest adalah sebuah konflik berkepentingan yang terjadi
ketika sebuah individu atau organisasi yang terlibat dalam berbagai kepentingan,
salah satu yang mungkin bisa merusak motivasi untuk bertindak dalam lainnya.
Sebuah konflik kepentingan hanya bisa ada jika seseorang atau kesaksian
dipercayakan dengan ketidakberpihakan beberapa; jumlah sedikit kepercayaan
diperlukan untuk menciptakannya. Adanya konflik kepentingan adalah
independen dari pelaksanaan ketidakpantasan. Oleh karena itu, konflik
kepentingan dapat ditemukan dan dijinakkan secara sukarela sebelum korupsi pun
terjadi. Contoh beberapa pekerjaan dimana konflik kepentingan adalah
kemungkinan besar yang harus dihadapi atau ditemukan meliputi: polisi,
pengacara, hakim, adjuster asuransi, politikus, insinyur, eksekutif, direktur sebuah
perusahaan, penelitian medis ilmuwan, dokter , penulis, dan editor.
Konflik kepentingan sebagai situasi di mana seseorang memiliki atau
pribadi yang cukup kepentingan pribadi untuk muncul untuk mempengaruhi
tujuan pelaksanaan tugas-nya resmi atau sebagai, katakanlah, seorang pejabat
publik, karyawan, atau profesional.
Untuk bisnis yang umum, ada dua jenis bunga konflik: nyata dan laten
atau potensial. Sebuah kepentingan yang nyata adalah salah satu yang telah
mempengaruhi penilaian tentang masalah, sedangkan konflik laten atau
kepentingan yang potensial adalah salah satu yang dapat mempengaruhi penilaian
di masa depan. Contoh yang kedua akan berada di tempat satu klien besar
mendominasi pendapatan dari praktek audit.
Konflik kepentingan dapat dikelompokkan menjadi empat kategori untuk
dampak pemangku kepentingan:
1. Kepentingan dari konflik profesional dengan kepentingan stakeholder
lainnya.
2. Diri kepentingan profesional dan beberapa konflik stakeholder yang yang
dari beberapa stakeholder lainnya.
3. Bunga dari satu klien yang disukai dibanding kepentingan klien lain.
4. Bunga dari satu atau lebih stakeholder disukai dibanding kepentingan satu
atau lebih stakeholder lainnya.
III PEMBAHASAN

3.1. Hubungan Prinsipal dan Agen


3.1.1 Pemegang Saham dan Manajemen
Teori keagenan merupakan dasar teori yang digunakan dalam pemahaman
konsep good corporate governance. Hubungan keagenan dalam teori agensi
muncul karena adanya hubungan kerja antara pihak yang memberi wewenang
(prinsipal) yaitu investor dengan pihak yang menerima wewenang (agen) yaitu
manajer, dalam bentuk kontrak kerja sama dimana prinsipal mendelegasikan
otoritas pengambilan keputusan kepada agen dalam mengelola kekayaan investor
(Brigham dan Houston, 2004). Investor mempunyai harapan bahwa dengan
mendelegasikan wewenang pengelolaan tersebut akan memperoleh keuntungan
dengan bertambahnya kekayaan dan kemakmuran investor.
Menurut Dwiyanti (2010), manajer sebagai pengelola perusahaan lebih
banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan
datang dibandingkan pemilik (pemegang saham atau investor). Oleh sebab itu,
manajer mempunyai kewajiban memberikan informasi mengenai kondisi
perusahaan kepada pemilik. Informasi yang diberikan oleh manajer dapat
dilakukan dengan mengungkapkan informasi akuntansi seperti laporan keuangan
perusahaan. Laporan keuangan digunakan oleh berbagai pihak, termasuk
manajemen perusahaan. Namun yang paling berkepentingan dengan laporan
keuangan perusahaan adalah para pengguna eksternal (di luar manajemen) karena
pengguna laporan keuangan eksternal berada dalam kondisi ketidakpastian.
Sedangkan para pengguna internal (manajemen perusahaan) mempunyai kontak
langsung dengan perusahaan dan mengetahui peristiwa yang terjadi terhadap
perusahaan sehingga tingkat ketergantungan terhadap informasi akuntansi tidak
sebesar para pengguna eksternal.
Teori keagenan mendeskripsikan hubungan antara pemegang saham
(shareholders) sebagai prinsipal dan manajemen sebagai agen. Manajemen
merupakan pihak yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi
kepentingan pemegang saham. Karena mereka dipilih, maka pihak manajemen
harus mempertanggungjawabkan semua pekerjaannya kepada pemegang saham.
3.1.2. Pemegang Saham Publik dan Pemegang Saham Pengendali
Masalah keagenan juga akan timbul jika pihak manajemen atau agen
perusahaan tidak atau kurang memiliki saham biasa perusahaan tersebut. Keadaan
ini menjadikan pihak manajemen tidak berupaya untuk memaksimumkan
keuntungan perusahaan dan mereka berusaha untuk mengambil keuntungan dari
beban yang ditanggung oleh pemegang saham. Cara yang dilakukan pihak
manajemen adalah dalam bentuk peningkatan kekayaan dan juga dalam bentuk
kesenangan dan fasilitas perusahaan. Dijelaskan dalam Jensen dan Meckling
(1976), Jensen (1986), Weston dan Brigham (1994), bahwa masalah keagenan
dapat terjadi dalam 2 bentuk hubungan, yaitu; (1)antara pemegang saham dan
manajer, dan (2) antara pemegang saham dan kreditor. Jika suatu perusahaan
berbentuk perusahaan perorangan yang dikelola sendiri oleh pemiliknya, maka
dapat diasumsikan bahwa manajerpemilik tersebut akan mengambil setiap
tindakan yang mungkin, untuk memperbaiki kesejahteraannya, terutama diukur
dalam bentuk peningkatan kekayaan perorangan dan juga dalam bentuk
kesenangan dan fasilitas eksekutif. Tetapi, jika manajer mempunyai porsi sebagai
pemilik dan mereka mengurangi hak kepemilikannya dengan membentuk
perseroan dan menjual sebagian saham perusahaan kepada pihak luar, maka
pertentangan kepentingan bisa segera timbul. Keadaan ini menjadikan manajer
mungkin saja tidak sedemikian gigih lagi untuk memaksimumkan kekayaan
pemegang saham karena jatahnya atas kekayaan tersebut telah berkurang sesuai
dengan pengurangan kepemilikan mereka. Atau mungkin saja manajer
menetapkan gaji yang besar bagi dirinya atau menambah fasilitas eksekutif,
karena sebagian di antaranya akan menjadi beban pemegang saham lainnya.

3.1.3. Kreditor dan Pemegang Saham


Konflik antara pemegang saham dengan kreditur. Kreditur menerima uang
dalam jumlah tetap dari perusahaan (bunga hutang), sedangkan pendapatan
pemegang saham bergantung pada besaran laba perusahaan. Dalam situasi ini,
kreditur lebih memperhatikan kemampuan perusahaan untuk membayar kembali
utangnya, dan pemegang saham lebih memperhatikan kemampuan perusahaan
untuk memperoleh kembalian yang besar adalah melakukan investasi pada
proyek-proyek yang berisiko. Apabila pelaksanaan proyek yang berisiko itu
berhasil maka kreditur tidak dapat menikmati keberhasilan tersebut, tetapi apabila
proyek mengalami kegagalan, kreditur mungkin akan menderita kerugian akibat
dari ketidakmampuan pemegang saham untuk memenuhi kewajibannya. Untuk
mengantisipasi kemungkinan rugi, maka kreditur melakukan pembatasan
penggunaan hutang oleh manajer. Salah satu pembatasan adalah membatasi
jumlah penggunaan hutang untuk investasi dalam proyek baru. Konflik antara
pemegang saham dengan pihak manajemen dapat saja terjadi walaupun telah
dilakukan kontrak kerja yang sah antara pihak principal dan agent, namun di sisi
lain pihak agent memiliki pengetahuan yang lebih banyak mengenai perusahaan
(full information) dibandingkan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pihak
principal. Pengetahuan yang lebih banyak dimiliki oleh pihak agent dibandingkan
dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pihak principal ini membuat terbentuknya
suatu asimetri information atau asymetric information.
Adanya asimetri informasi ini menyebabkan kemungkinan munculnya
konflik antara pihak principal dan agent. Eisenhardt (1989) mengemukakan tiga
asumsi sifat dasar manusia yaitu: (1) manusia pada umunya mementingkan diri
sendiri (self interest ), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi
masa mendatang ( bounded rationality ), dan (3) manusia selalu menghindari
resiko (risk adverse). Berdasarkan asumsi sifat dasar manusia tersebut
menyebabkan bahwa informasi yang dihasilkan manusia untuk manusia lain selalu
dipertanyakan reliabilitasnya dan dapat dipercaya tidaknya informasi yang
disampaikan.
Asimetri informasi ini juga pada akhirnya dapat memberikan kesempatan
bagi para manajer untuk melakukan manajemen laba sebagai upaya untuk
meningkatkan kesejahteraan pribadinya.
Kasus PT Freeport Indonesia terkait adanya dugaan penyalahgunaan
kontrak karya tetap diperpanjang terus-menerus walaupun bertentangan dengan
UU Nomor 11/1967 tentang Ketentuan Ketentuan Pokok Pertambangan dan
diubah dengan UU Nomor 4/2009 dengan alasan untuk menambah pendapatan
Negara. Pada kenyataannya aliran dana tersebut untuk Amerika bukan Indonesia.
Jika dilihat dari etika bisnis kondisi ini melanggar norma hukum yang ada melalui
perjanjian yang dibentuk bertentangan dengan undang undang yang ada di
Indonesia sehingga salah satu pihak dirugikan. Selain itu PT Freeport Indonesia
juga tidak memperhatikan kewajibannya terhadap kerusakan yang ditimbulkan
dari kegiatan penambangan dan adanya ketidakadilan terhadap pembayaran gaji
karyawan dengan level yang sama. Pemerintah Indonesia sebagai regulator dan
pengawas seharusnya dapat bertindak tegas bukan memberikan kebebasan kepada
PT Freeport Indonesia yang ternyata sia sia dan merugikan Indonesia. Dengan
adanya pengawasan yang lebih baik dari Indonesia dan tindakan yang tegas tidak
akan terjadi konflik internal yang menghambat kegiatan perusahaan dan
kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan akan meningkat sehingga
perusahaan dapat menjalankan kegiatan bisnisnya dengan tenang dan lancar.
Kasus lainnya yang bersangkutan dengan adanya pelanggaran kontrak
kerja yaitu terkait penggunaan karyawan outsourcing. Sesuai dengan ketentuan,
outsourcing hanya dilakukan untuk pekerjaan kegiatan jasa penunjang atau
kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi (non core
bussiness). Dalam praktiknya, banyak perusahaan yang melakukan outsourcing
juga terkait pekerjaan inti (core business) untuk melakukan efisiensi. Misalnya
pekerjaan Teller di bank merupakan kegiatan pokok di bank, tetapi bank
mempekerjakan pekerja outsourcing di sana. Bahkan di pabrik-pabrik 70% sampai
90% proses produksi menggunakan tenaga kerja outsourcing.
Terkait penjelasan undang-undang tentang jenis pekerjaan penunjang (non
core business), terdapat perbedaan penafsiran kata antara lain dimana
perusahaan melihatnya bahwa jenis pekerjaan di luar yang disebutkan dalam
undang-undang dapat juga dilakukan secara outsourcing, sementara pihak buruh
(serikat buruh) menafsirkan bahwa hanya jenis pekerjaan yang disebutkan dalam
undang-undanglah yang bisa menggunakan outsourcing.
Terhadap berbagai pelanggaran terhadap peraturan hubungan kerja kontrak
dan outsourcing tenaga kerja, Disnakertrans secara umum bersikap longgar karena
Disnakertrans berpendapat a) hampir semua perusahaan melakukan pelanggaran;
b) jika bersikap terlalu tegas perusahaan akan lari dan c) tidak ada basis legal
untuk menjalankan sanksi yang tegas.
Dampak dari perjanjian Outsourcing ini adalah tidak ada kepastian
pekerjaan, tidak ada kompensasi apabila di PHK, terhambat untuk berserikat,
kesejahteraan dan perlindungan kerja kurang, banyaknya biaya pemotongan
penghasilan oleh perusahaan outsourcing, mematikan karir buruh, terjadi
diskriminasi usia dan status perkawinan, terjad stratifikasi sosial di perusahaan.
Secara umum, praktek hubungan kerja kontrak dan outsourcing cenderung
eksploitatif karena dengan kewajiban pekerjaan yang sama, jam kerja yang sama,
dan di tempat yang sama dengan buruh tetap, buruh kontrak dan outsourcing
memperoleh hak yang berbeda dan sebagian buruh harus mengeluarkan biaya
untuk mendapatkan pekerjaan atau untuk mempertahankan pekerjaannya.
Preferensi pengusaha untuk hanya mempekerjakan buruh berusia 18-24
tahun dan berstatus lajang juga merupakan pelanggaran terhadap konvensi ILO
mengenai Anti Diskriminasi karena menutup kesamaan kesempatan bagi buruh
dalam kelompok usia produktif dan buruh menikah yang harus menghidupi
keluarganya. Sedangkan melarang buruh kontrak dan outsourcing untuk berserikat
baik secara langsung maupun tidak langsung, merupakan bentuk pelanggaran
terhadap konvensi ILO no.98 mengenai kebebasan berserikat.

3.2. Faktor Yang Menyebabkan Konflik Kepentingan dan Masalah


Keagenan Yang Timbul (Informasi Asimetri dan Perilaku Self-Interest).
Masalah keagenan potensial terjadi apabila bagian kepemilikan manajer atas
saham perusahaan kurang dari seratus persen (Masdupi, 2005). Dengan proporsi
kepemilikan yang hanya sebagian dari perusahaan membuat manajer cenderung
bertindak untuk kepentingan pribadi dan bukan untuk memaksimumkan
perusahaan. Inilah yang nantinya akan menyebabkan biaya keagenan (agency
cost). Jensen dan Meckling (1976) mendefinisikan agency cost sebagai jumlah
dari biaya yang dikeluarkan prinsipal untuk melakukan pengawasan terhadap
agen. Hampir mustahil bagi perusahaan untuk memiliki zero agency cost dalam
rangka menjamin manajer akan mengambil keputusan yang optimal dari
pandangan shareholders karena adanya perbedaan kepentingan yang besar
diantara mereka.
Menurut teori keagenan, konflik antara prinsipal dan agen dapat dikurangi
dengan mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan agen. Kehadiran
kepemilikan saham oleh manajerial (insider ownership) dapat digunakan untuk
mengurangi agency cost yang berpotensi timbul, karena dengan memiliki saham
perusahaan diharapkan manajer merasakan langsung manfaat dari setiap
keputusan yang diambilnya. Proses ini dinamakan dengan bonding mechanism,
yaitu proses untuk menyamakan kepentingan manajemen melalui program
mengikat manajemen dalam modal perusahaan.
Dalam suatu perusahaan, konflik kepentingan antara prinsipal dengan agen
salah satunya dapat timbul karena adanya kelebihan aliran kas (excess cash flow).
Kelebihan arus kas cenderung diinvestasikan dalam hal-hal yang tidak ada
kaitannya dengan kegiatan utama perusahaan. Ini menyebabkan perbedaan
kepentingan karena pemegang saham lebih menyukai investasi yang berisiko
tinggi yang juga menghasilkan return tinggi, sementara manajemen lebih memilih
investasi dengan risiko yang lebih rendah.
Menurut Bathala et al, (1994) terdapat beberapa cara yang digunakan untuk
mengurangi konflik kepentingan, yaitu : a) meningkatkan kepemilikan saham oleh
manajemen (insider ownership), b) meningkatkan rasio dividen terhadap laba
bersih (earning after tax), c) meningkatkan sumber pendanaan melalui utang, d)
kepemilikan saham oleh institusi (institutional holdings).
Sedangkan dalam penelitian Masdupi (2005) dikemukakan beberapa cara
yang dapat dilakukan dalam mengurangi masalah keagenan. Pertama, dengan
meningkatkan insider ownership. Perusahaan meningkatkan bagian kepemilikan
manajemen untuk mensejajarkan kedudukan manajer dengan pemegang saham
sehingga bertindak sesuai dengan keinginan pemegang saham. Dengan
meningkatkan persentase kepemilikan, manajer menjadi termotivasi untuk
meningkatkan kinerja dan bertanggung jawab meningkatkan kemakmuran
pemegang saham.
Kedua, dengan pendekatan pengawasan eksternal yang dilakukan melalui
penggunaan hutang. Penambahan hutang dalam struktur modal dapat mengurangi
penggunaan saham sehingga meminimalisasi biaya keagenan ekuitas. Akan tetapi,
perusahaan memiliki kewajiban untuk mengembalikan pinjaman dan
membayarkan beban bunga secara periodik. Selain itu, penggunaan hutang yang
terlalu besar juga akan menimbulkan konflik keagenan antara shareholders dengan
debtholders sehingga memunculkan biaya keagenan hutang.
Ketiga, institutional investor sebagai monitoring agent. Mohd et al, (1998)
menyatakan bahwa bentuk distribusi saham dari luar (outside shareholders) yaitu
institusional investor dan shareholders dispersion dapat mengurangi biaya
keagenan ekuitas (agency cost). Hal ini disebabkan karena kepemilikan
merupakan sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau
menantang keberadaan manajemen, maka konsentrasi atau penyebaran power
menjadi suatu hal yang relevan dalam perusahaan.
Marak menjadi perbincangan dikalangan pekerja dimana adanya larangan
untuk menikah dengan rekan satu kantor saat ini menjadi polemik. Bahkan
permasalahan tersebut masuk ke dalam ranah pengujian Undang-Undang di
Mahkamah Konstitusi.
Sejumlah orang menggugat Pasal 153 ayat (1) huruf f Undang-Undang
Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang mengatur mengenai
pernikahan sekantor. Pasal tersebut berbunyi "Pengusaha dilarang melakukan
pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja/buruh mempunyai pertalian
darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu
perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahan, atau
perjanjian kerja bersama".
Mereka berpendapat frasa "kecuali" yang terdapat di dalam Pasal tersebut
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Ketenagakerjaan
mengungkapkan bahwa UU tentang Ketenagakerjaan justru dibuat untuk
melindungi pekerja buruh. Salah satunya adalah melindungi dari pemutusan
hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan.
Hal tersebut yang kemudian mendasari lahirnya Pasal 153 ayat (1) yang
termasuk di dalamnya terdapat huruf f yang melarang perusahaan memutuskan
hubungan kerja kepada pekerja buruh yang memiliki hubungan pernikahan di
dalam satu kantor. Namun pemerintah menyerahkan kesepakatan tersebut kepada
perusahaan dengan pekerja buruh melalui perjanjian kerja di antara kedua belah
pihak. Pihak penggugat menilai perjanjian kerja itu justru dapat dimanfaatkan
pengusahan untuk melakukan PHK.
Hubungan pernikahan di dalam satu kantor bisa membuat dampak positif
dan dampak negatif terhadap perusahaan. Dampak positifnya, pasangan pekerja
tersebut secara emosional akan saling menguatkan hubungan keluarganya
sehingga merasa aman dan tenteram karena saling melindungi. Namun dampak
negatif juga bisa saja timbul yakni dapat mengurangi bahkan menghilangkan
objektivitas kerja dari hubungan kerja antara pekerja dan manajemen perusahaan.
Apindo menyatakan bahwa perusahaan pada prinsipnya tidak melarang
seseorang untuk menikah dengan rekan satu kantornya. Namun hal tersebut
berpotensi menimbulkan konflik kepentingan. Apabila suami-istri bekerja dalam
suatu perusahaan yang sama, akan berpotensi menimbulkan konflik kepentingan
(conflict of interest) dalam mengambil keputusan dalam internal perusahaan dan
juga dapat mengganggu objektivitas serta profesionalisme dalam pekerjaannya.
Untuk contoh lainnya yaitu berkaitan dengan penilaian kinerja pekerja
dalam pengembangan karier, dalam promosi, pemberian sanksi, dan sebagainya
yang akan mengganggu rasa keadilan bagi pekerja yang lainnya yang tidak
memiliki hubungan khusus sebagai suami-istri dalam suatu perusahaan. Padahal
setiap orang berhak untuk bekerja, serta mendapat imbalan, dan perlakuan yang
adil dan layak dalam hubungan kerja, sebagaimana diatur dalam pasal 28D ayat
(2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sehingga atas
dasar tersebut pengusaha menilai pasal mengenai ketenagakerjaan itu tidak
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945. Berbunyi, (Pasal) ini memberikan jaminan kondusif hubungan kerja sesama
pekerja maupun pekerja dan manajemen perusahaan sehingga mempengaruhi
profesionalitas kerja dan memberikan keadilan bagi antara pekerja itu sendiri
maupun bagi perusahaan.
3.3 Kewajiban Profesional Dan Konflik Kepentingan
Dalam sistem ekonomi, akuntansi mempunyai peranan penting. Ada juga
beberapa profesi yang penting dalam sistem ekonomi, misalnya kuasa
hukum/pengacara, auditor dan analis keuangan. Profesi tersebut di kenal sebagai
Gatekeepers atau Watchdog.
Pihakpihak yang terlibat dalam sistem ekonomi/pasar ekonomi
khususnya investor, boards, management, dan bankers sangat
mempercayai/mengandalkan Gatekeepers. Contohnya auditor memverifikasi
laporan keuangan sebuah perusahaan sehingga keputusan yang diambil investor
berdasarkan laporan keuangan tersebut bebas dari kecurangan dan penggelapan.
Dan seorang analis keuangan mengevaluasi prospek atau kelayakan hutang
(creditworthiness) keuangan sebuah perusahaan, sehingga investor dan bank dapat
membuat keputusan dari informasi tersebut. Sedangkan kuasa hukum/pengacara
memastikan bahwa keputusan dan transaksi sesuai dengan hukum yang berlaku.
Semua peran dalam sistem ekonomi/pasar ekonomi tersebut sangat
berkaitan dan mempunyai peranan penting berdasarkan fungsinya masing
masing. Masalah etika yang paling dasar yang dihadapi gatekeepers dan pihak
pihak yang terlibat dalam sistem ekonomi konteks bisnis melibatkan konflik
kepentingan.
Konflik kepentingan adalah suatu situasi yang terjadi ketika kepentingan
pribadi seseorang yang bekerja untuk perusahaan menganggu, atau tampak
mengganggu, kepentingan perusahaan secara keseluruhan. Konflik kepentingan
muncul ketika seorang karyawan / manager / direktur suatu perusahaan
melakukan tindakan yang mengganggu kemampuannya dalam melaksanakan
tugas resminya atau dalam pengambilan sebuah keputusan.
Ketika dalam suatu tata kelola perusahaan / organisasi muncul konflik
kepentingan maka disitu akan timbul agency theory. Menurut Anthony dan
Govindarajan (2005), teori agensi adalah hubungan atau kontrak antara principal
dan agent. Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-tiap individu semata-mata
termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik
kepentingan antara principal dan agent.
Agency Theory menunjukkan bahwa perusahaan dapat dilihat sebagai
suatu hubungan kontrak (loosely defined) antara pemegang sumber daya. Suatu
hubungan agency muncul ketika satu atau lebih individu, yang disebut pelaku
(principals), mempekerjakan satu atau lebih individu lain, yang disebut agen,
untuk melakukan layanan tertentu dan kemudian mendelegasikan otoritas
pengambilan keputusan kepada agen.
Hubungan utama agency dalam bisnis adalah mereka (antara pemegang
saham dan manajer serta antara debtholders dan pemegang saham. Hubungan ini
tidak selalu harmonis, memang, teori keagenan berkaitan dengan konflik agency,
atau konflik kepentingan antara agen dan pelaku.
Hal ini memiliki implikasi untuk, antara lain, tata kelola perusahaan dan
etika bisnis. Ketika agency terjadi cenderung menimbulkan biaya agency, yaitu
biaya yang dikeluarkan dalam rangka untuk mempertahankan hubungan agency
yang efektif (misalnya, menawarkan bonus kinerja manajemen untuk mendorong
manajer bertindak untuk kepentingan pemegang saham). Oleh karena itu, teori
keagenan telah muncul sebagai model yang dominan dalam literatur ekonomi
keuangan, dan secara luas dibahas dalam konteks etika bisnis.
Untuk memastikan semua personil di dalam organisasi melakukan tugas dan
tanggung jawabnya dengan baik, maka tahapan yang harus dilakukan oleh
manajemen puncak adalah :
1. Control environment
Tindakan atau kebijakan manajemen yang mencerminkan sikap
manajemen puncak secara keseluruhan dalam pengendalian manajemen. Yang
termasuk dalam control environment:
Integrity and ethical values (integritas dan nilai etika)
Commitment to competence (komitmen terhadap kompetensi)
Board of Directors and audit committee (dewan komisaris dan komite
audit)
Managements philosophy and operating style (filosofi manajemen dan
gaya mengelola operasi)
Organizational structure (struktur organisasi)
Human resource policies and procedures (kebijakan sumber daya manusia
dan prosedurnya)

2. Risk assessment
Tindakan manajemen untuk mengidentifikasi, menganalisis risiko-risiko
yang relevan dalam penyusunan laporan keuangan dan perusahaan secara umum.
Yang termasuk dalam risk assessment:
Company-wide objectives (tujuan perusahaan secara keseluruhan)
Process-level objectives (tujuan di setiap tingkat proses)
Risk identification and analysis (indentifikasi risiko dan analisisnya)
Managing change (mengelola perubahan)

3. Control activities
Tindakan-tindakan yang diambil manajemen dalam rangka pengendalian
intern, dengan control activities adalah sebagai berikut :
Policies and procedures (kebijakan dan prosedur)
Security (application and network) > (keamanan dalam hal aplikasi dan
jaringan)
Application change management (manajemen perubahan aplikasi)
Business continuity or backups (kelangsungan bisnis)
Outsourcing (memakai tenaga outsourcing)

4. Information and communication


Tindakan untuk mencatat, memproses dan melaporkan transaksi yang sesuai
untuk menjaga akuntablitas. Yang termasuk komponen ini adalah sebagai berikut.
Quality of information (kualitas informasi)
Effectiveness of communication (efektivitas komunikasi)

5. Monitoring
Peniilaian terhadap mutu pengendalian internal secara berkelanjutan
maupun periodik untuk memastikan pengendalian internal telah berjalan dan telah
dilakukan penyesuian yang diperlukan sesuai kondisi yang ada. Yang termasuk di
dalam komponen ini, yakni:
On-going monitoring (pengawasan yang terus berlangsung)
Separate evaluations (evaluasi yang terpisah)
Reporting deficiencies (melaporkan kekurangan-kekurangan yang terjadi)

Menurut COSO pengendalian internal adalah sebuah proses, yang


dipengaruhi oleh board of directors, manajemen, dan pihak yang lain, yang
dirancang untuk memberikan jaminan yang masuk akal mengenai pencapain
tujuan pada kategori berikut ini :
Operasi efektivitas dan efisien.
Laporan keuangan yang dapat dipercaya.
Sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Kasus yang menjadi sorotan pada akhir tahun 2001 yaitu terkait
kebangkrutan Enron dan keterlibatan Kap Arthur Anderson. Arthur Anderson
perusahaan akuntan yang mengaudit laporan keuangan Enron, juga sebagai
konsultan manajemen Enron. Kap tersebut memiliki kebijakan pemusnahan
dokumen yang tidak menjadi bagian dari kertas kerja audit formal. Enron dan Kap
Arthur Anderson dituduh melakukan kriminal dalam bentuk penghancuran
dokumen yang terkait dengan investigasi atas kebangkrutan Enron (penghambatan
terhadap proses pengadilan).
Kap Arthur Anderson diberhentikan sebagai auditor Enron pada
pertangahan Juli 2002, sementara Kap Arthur Anderson menyatakan bahwa
penugasan audit oleh Enron telah berakhir pada saat Enron mengajukan proses
kebangkrutan pada 2 Desember 2001. Pemerintahan Amerika (The US General
Services Administration) melarang Enron dan KAP Andersen untuk melakukan
kontrak pekerjaan dengan lembaga pemerintahan di Amerika.
Tanggal 28 Pebruari 2002 KAP Andersen menawarkan ganti rugi 750 Juta
US dollar untuk menyelesaikan berbagai gugatan hukum yang diajukan kepada
KAP Andersen.
Tanggal 22 Maret 2002 mantan ketua Federal Reserve, Paul Volkcer, yang
direkrut untuk melakukan revisi terhadap praktek audit dan meningkatkan kembali
citra KAP Andersen mengusulkan agar manajeman KAP Andersen yang ada
diberhentikan dan membentuk suatu komite yang diketuai oleh Paul sendiri untuk
menyusun manajemen baru.
Beberapa kecurangan yang dilakukan oleh manajemen ENRON
diantaranya:
1. Window dressing (memanipulasi akun-akun laporan keuangan agar
Nampak menarik dimata investor dengan cara menyembunyikan hutang
$12 billion).
2. Melakukan teknik off balance sheet (mencatat dibuku besar sehingga
tidak nampak di laporan keuangan)
3. Special purpose partnnership (mendirikan hingga 90 perusahaan diluar
enron untuk mengalihkan hutang-hutang enron).
Keterlibatan pihak eksternal juga berperan penting dalam kasus ini karena
ketidak profesionalisme kerja serta tanggungjawab yang diemban. Terlebih untuk
Kap Arthur Anderson yang melaksanakan 2 tugas sekaligus yakni sebagai auditor
eksternal yang harusnya memberikan penilaian kewajaran atas laporan keuangan
juga sebagai konsultan manajemen sehinngga Kap Arthur Anderson tidak
independen dalam penugasan.

3.4 Menjadi Anggota Dewan Yang Etis


Teori fiduciary duty adalah suatu kewajiban yang ditetapkan undang-
undang bagi seseorang yang memanfaatkan seseorang lain, dimana kepentingan
pribadi seseorang yang diurus oleh pribadi lainnya, yang sifatnya hanya hubungan
atasan-bawahan sesaat. Orang yang mempunyai kewajiban ini harus
melaksanakannya berdasarkan suatu standar dari kewajiban (standard of duty)
yang paling tinggi sesuai dengan yang dinyatakan oleh hukum. Sedangkan
fiduciary ini adalah seseorang yang memegang peran sebagai suatu wakil (trustee)
atau suatu peran yang disamakan dengan sesuatu yang berperan sebagai wakil,
dalam hal ini peran tersebut didasarkan kepercayaan dan kerahasiaan (trust and
confidence) yang dalam peran ini meliputi, ketelitian (scrupulous), itikad baik
(good faith), dan keterusterangan (candor).
Fiduciary ini termasuk hubungan seperti, pengurus atau pengelola,
pengawas, wakil atau wali, dan pelindung (guardian). termasuk juga di dalamnya
seorang lawyer yang mempunyai hubungan fiduciary dengan client-nya.
Dalam pengelolaan perseroan atau perusahaan, para anggota direksi dan
komisaris sebagai salah satu organ vital dalam perusahaan tersebut merupakan
pemegang amanah (fiduciary) yang harus berperilaku sebagaimana layaknya
pemegang kepercayaan.

Tiga tugas yang jelas pada board members, yaitu :


1. Duty of Care Atas Direksi
Salah satu cara untuk melihat apakah direksi melakukan
pengelolaan perseroan yang salah atau tidak bersalah adalah menilai
apakah mereka gagal melakukan tugasnya dalam pengelolaan perseroan
tersebut. Di samping itu, bisa pula dilihat dari berbagai kasus yang
melibatkan direksi dalam konflik kepentingan (conflict of interest).
Secara sekilas hukum perseroan terhadap UU No. 40/2007
mengisyaratkan bahwa direksi harus mengelola perseroan dengan kehati-
hatian (care) yang semestinya sebagaimana halnya para pengemudi harus
mengendarai mobilnya dengan penuh kehati-hatian.

2. Duty of good faith


Salah satu duty of good faith adalah ketaatan, dimana memerlukan
kesetiaan board members pada misi organisasi. Dengan kata lain, mereka
tidak diijinkan untuk bertindak tidak konsisten dengan tujuan utama dari
organisasi. Keputusan mereka harus selalu sejalan dengan tujuan dan arah
organisasi, berusaha mencapai tujuan perusahaan, dan menghindari arah
yang bertentangan dengan organisasi.
3. Duty of loyalty
Duty of loyalty kepada perusahaan mencegah direksi mengambil
kesempatan menguntungkan yang seharusnya dimiliki oleh perusahaan.
Dalam penggunaan properti misalnya komisaris secara tegas dilarang
menggunakan aset perusahaan dalam membangun usahanya pribadi.
Komisaris juga tidak diperkenankan memanfaatkan properti atau
keuntungan lainnya untuk kepentingan pribadi apabila perusahaan
berkepentingan atau perusahaan memiliki keinginan (expectancy) atas
properti tersebut. Sebagai contoh, apabila perusahaan telah menyewa suatu
properti maka komisaris tidak boleh membeli properti tersebut untuk
dirinya. Suatu perusahaan dikatakan memiliki ekspektansi apabila secara
rasional dapat dilihat bahwa perusahaan memiliki kepentingan atas
properti tersebut. Dalam hal suatu kesempatan terkait erat dengan bisnis
perusahaan maka itu juga berarti suatu ekspektansi.

3.5 Contoh-Contoh Lain Conflict Of Interest Antara Code of Conduct


Karyawan Dengan Kepentingan Pribadi
1. Segala penggunaan pribadi maupun berbagi atas informasi rahasia
perusahaan demi suatu keuntungan pribadi, seperti anjuran untuk membeli
atau menjual barang milik perusahaan atau produk, yang didasarkan atas
informasi rahasia tersebut. Contoh: Pegawai memberikan informasi rahasia
berupa strategi bisnis perusahaannya kepada perusahaan kompetitor, demi
mendapatkan keuntungan pribadinya.
2. Segala penjualan pada atau pembelian dari perusahaan yang menguntungkan
pribadi. Contoh: Pegawai membeli barang atau bahan baku dengan standar
yang rendah dari yang telah disarankan oleh perusahaan.
3. Segala penerimaan dari keuntungan, dari seseorang / organisasi / pihak ketiga
yang berhubungan dengan perusahaan. Contoh: Pegawai menerima
keuntungan (berupa uang) dari pihak ketiga untuk mempermudah dalam
proses bisnisnya kepada perusahaannya.
4. Segala aktivitas yang terkait dengan insider trading atas perusahaan yang
telah go public, yang merugikan pihak lain. Contoh: Perusahaan melakukan
penawaran saham kepada publik tanpa perizinan dari para pemegang saham,
sehingga hal ini akan merugikan para pemegang saham.
5. Segala konsultasi atau hubungan lain yang signifikan dengan, atau
berkeinginan mengambil andil di dalam aktivitas pemasok, pelanggan atau
pesaing (competitor). Contoh: Pegawai melakukan pembelian ke pemasok
tanpa perizinan dan sepengetahuan perusahaannya.
6. Segala hubungan bisnis atas nama perusahaan dengan personal yang masih
ada hubungan keluarga (family), atau dengan perusahaan yang dikontrol oleh
personal tersebut. Contoh: Perusahaan melakukan bisnis atau proyek dengan
perusahaan kerabat atau sanak saudara dengan tujuan untuk memperoleh
keuntungan.
7. Segala posisi dimana karyawan & pimpinan perusahaan mempunyai
pengaruh atau kontrol terhadap evaluasi hasil pekerjaan atau kompensasi dari
personal yang masih ada hubungan keluarga. Contoh: Pimpinan perusahaan
memberikan keistimewaan kompensasi terhadap pegawai yang memiliki tali
persaudaraan dengannya.
IV KESIMPULAN

4.1 Simpulan

a. Permasalahan yang seringkali muncul di dalam contract adalah moral


hazard, yaitu permasalahan muncul jika agen tidak melaksanakan hal-hal
yang disepakati bersama dalam kontrak kerja; serta adverse selection,
yaitu suatu keadaan di mana prinsipal tidak dapat mengetahui apakah
suatu keputusan yang diambil oleh agen benar-benar didasarkan atas
informasi yang telah diperolehnya, atau terjadi sebagai sebuah kelalaian
dalam tugas.
b. Pengetahuan yang lebih banyak dimiliki oleh pihak agent dibandingkan
dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pihak principal ini membuat
terbentuknya suatu asimetri information atau asymetric information.
Adanya asimetri informasi ini menyebabkan kemungkinan munculnya
konflik antara pihak principal dan agent.
c. Hubungan principal dan agen terdiri dari 3 jenis yaitu 1) hubungan antara
pemegang saham dengan manajemen, 2) hubungan antara pemegang
saham pengendali dengan pemegang saham publikasi, serta 3) hubungan
antara kreditor dan pemegang saham. Masalah keagenan dapat terjadi
dalam 2 bentuk hubungan, yaitu; (1)antara pemegang saham dan manajer,
dan (2) antara pemegang saham dan kreditor.

d. Konflik kepentingan yang mungkin timbul di dalam suatu contract agency


adalah ketika pihak manajemen tidak berupaya untuk memaksimumkan
keuntungan perusahaan dan mereka berusaha untuk mengambil
keuntungan dari beban yang ditanggung oleh pemegang saham. Cara yang
dilakukan pihak manajemen adalah dalam bentuk peningkatan kekayaan
dan juga dalam bentuk kesenangan dan fasilitas perusahaan.

e. Pihak kreditor (bank) ikut membatasi penggunaan dana pinjaman untuk


kebutuhan investasi pada proyek baru, walaupun penggunaan dana
kreditor sepenuhnya hak dari para pemegang saham. Hal ini karena
karena kreditor fokus pada pengembalian dana kredit yang diberikan,
sedangkan pemegang saham fokus pada penerimaan lebih atas dana kredit
yang diperolehnya.
f. Tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi konflik kepentingan di
dalam suatu contract antara principal dan agen adalah konflik antara
prinsipal dan agen adalah mensejajarkan kepentingan antara prinsipal dan
agen. Beberapa cara yang digunakan untuk mengurangi konflik
kepentingan, yaitu : a) meningkatkan kepemilikan saham oleh manajemen
(insider ownership), b) meningkatkan rasio dividen terhadap laba bersih
(earning after tax), c) meningkatkan sumber pendanaan melalui utang, d)
kepemilikan saham oleh institusi (institutional holdings), agar terjadi
penyebaran konsentrasi atau penyebaran power untuk tetap menghargai
keberadaan manajemen.

4.2 Saran

a. Untuk memastikan semua personil di dalam organisasi melakukan tugas


dan tanggung jawabnya dengan baik, maka tahapan yang harus dilakukan
oleh manajemen puncak adalah Control environment, Risk assessment,
Control Activities, Information and communicatin, Monitoring.
b. Dalam pengelolaan perseroan atau perusahaan, para anggota direksi dan
komisaris sebagai salah satu organ vital dalam perusahaan tersebut
merupakan pemegang amanah (fiduciary) yang harus berperilaku
sebagaimana layaknya pemegang kepercayaan.
c. Sesuai dalam hukum perseroan UU No. 40/2007, direksi harus mengelola
perseroan dengan kehati-hatian (care), tidak diijinkan untuk bertindak
tidak konsisten, keputusan direksi harus selalu sejalan dengan tujuan dan
arah organisasi, berusaha mencapai tujuan perusahaan , dan menghindari
arah yang bertentangan dengan organisasi. Selain itu komisaris dilarang
mengambil kesempatan menguntungkan yang seharusnya dimiliki oleh
perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA

Affif, F. 2003. Pendidikan Berawalan Etika Fenomena Krusial dalam Pemecahan


Masalah Bisnis Praktis. FE UNPAD. Bandung.
Ichsan, R. 2013. Teori Keagenan (Agency Theory). Dikutip dari
https://bungrandhy.wordpress.com/2013/01/12/teori-keagenan-agency-
theory/. Diakses pada tanggal 9 Juli 2017.
Keraf, S. (1998). Etika Bisnis: Tuntutan dan Relevansinya. Penerbit Kanisius,
Jakarta.
Komenaung, AG. 2006. Etika Dalam Bisnis. Fakultas Ekonomi dan Magister
Ekonomi Pembangunan. Universitas Sam Ratulangi. Manado.
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&v
ed=0CDAQFjAB&url=http%3A%2F%2Fjoko-sekti.stmik-aub.ac.id%2Fwp-
content%2Fuploads%2F2012%2F11%2F9.-Naskah-Soca-Anderson-Etika-
Bisnis.pdf&ei=jtf8Ur-RNcPKkQXk-
IDwBg&usg=AFQjCNE2jgyDT9HwXrmtOWfXRntWjhjVsw&sig2=cVFN4
eKjZYEwoePvcZQmJw&cad=rja [Diakses 05 Juli 2017].
Menikah dengan Teman Sekantor Berpotensi Timbulkan Konflik Kepentingan.
https://kumparan.com/taufik-rahadian/menikah-dengan-teman-sekantor-
berpotensi-timbulkan-konflik-kepentingan. Diakses pada tanggal 12 Juli
2017.
Nexus Contracts Theory and Principal Agent Theory. Dikutip dari
https://www.lawteacher.net/free-law-essays/commercial-law/nexus-contracts-
theory-and-principal-agent-theory-commercial-law-essay.php. Diakses pada
tanggal 12 Juli 2017.
Rudito, B. dan M. Famiola. 2007. Etika Bisnis dan Tanggungjawab Sosial
Perusahaan di Indonesia. Penerbit Rekayasa Sains, Bandung.
Sekilas Tentang Sistem Kerja Kontrak dan Outsourcing di Indonesia. Dikutip dari
https://shnajitama.wordpress.com/2011/05/05/sekilas-tentang-sistem-kerja-
kontrak-dan-outsourcing-di-indonesia/. Diakses pada tanggal 12 Juli 2017.
Solomon. 1993. Ethics and Excellent: cooperation and integrity in business.
Oxford University Press. New Jersey.
Steiner, G.A. dan J.A. Steiner. 2006. Business, Government, and Society. Mc
Graw-Hill.
Sudono Sukirno. 2006. Pengantar Bisnis. Edisi pertama. Jakarta.

Syarif, M. 2017. Pemerintah: Perjanjian Kerja Sumber Hukum dalam Hubungan


Kerja. Dikutip dari http://www.neraca.co.id/article/85085/pemerintah-
perjanjian-kerja-sumber-hukum-dalam-hubungan-kerja. Diakses pada tanggal
12 Juli 2017.
https://www.academia.edu/7094509/SURAT_PERJANJIAN_KERJA. Diakses
pada tanggal 12 Juli 2017. (SURAT PERJANJIAN KERJA PT ARSA
BUANA tour & travel Nomor: ... tugas lain yang dibebankan oleh perusahaan
jika dirasa perlu, demi kepentingan perusahaan. ... Waktu istirahat pada hari
senin hingga sabtu adalah selama 2 ( dua) jam per hari. ... Jika karena
kebutuhan pribadi karyawan menyangkut keuangan yang ...)