Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS KEBIJAKAN

ANALISIS KEBIJAKAN ENERGI


ENERGI

Prof.Dr.
Prof. Dr.Widjajono
WidjajonoPartowidagdo
Partowidagdo

DepartemenTeknik
Departemen TeknikPerminyakan
PerminyakanInstitut
InstitutTeknologi
TeknologiBandung
Bandung
2005
2005
Pendahuluan
Indonesia memiliki beragam energi seperti minyak, gas bumi, batubara,
air, panas-bumi, biomass, dan lain-lain

Kebijakan energi Indonesia terdiri dari:


intensifikasi: meningkatkan penemuan dan produksi energi tak
terbarukan;
diversifikasi: pemakaian energi alternatif;
konservasi: penghematan pemakaian energi;
harga energi: yang adil bagi konsumen dan produsen; dan
lingkungan: bersih, damai, lestari.

Bagaimana memperkuat cadangan devisa:


meningkatkan ekspor migas
mengurangi impor migas dan BBM (bahan bakar minyak)
mengurangi subsidi BBM

Kendala utama: masih disubsidinya harga BBM dalam negeri. Apabila


dihitung dengan harga minyak mentah sebesar $ 60/barel serta biaya
kilang, transportasi dan distribusi $ 15/barel maka biaya BBM adalah
US $ 75/barel x 1 barel/159 liter x Rp.10.000,- per dolar = Rp. 4.700,- /
liter
Permasalahan dan Analisis Kebijakan

Hidup adalah interaksi dan transaksi antar warga masyarakat.

Pasar adalah mekanismenya dan ketidakadilan dalam interaksi atau


transaksi tersebut disebut sebagai market failures atau kegagalan
pasar.

Kegagalan pasar terjadi karena


1. ketidakadilan dalam pengelolaan barang publik,
2. kekuatan yang mendominasi pasar (monopoli, monopsoni,
oligopoli, oligopsoni),
3. eksternalitas (baik fisik maupun sosial) yang diabaikan,
4. asimetri informasi,
5. preferensi yang merugikan,
6. ketidakpastian yang mengakibatkan pengambilan keputusan yang
tidak tepat,
7. kepentingan generasi mendatang yang diabaikan dan
8. biaya penyesuaian yang terlalu mahal.
Masalah distribusi atau pemerataan yaitu keadilan atas
kesempatan dan keadilan atas pendapatan. Keadilan atas
kesempatan contohnya adalah untuk memperoleh pendidikan,
akses transportasi, air dan listrik. Keadilan atas pendapatan
kalau di luar negeri berupa social security (disediakan oleh
pemerintah) dan di Indonesia berupa upah minimum regional
(diatur pemerintah untuk disediakan pemerintah maupun
swasta).
Untuk mengatasi ketidakadilan dalam interaksi antar transaksi
warga masyarakat serta mengatasi masalah distribusi
diperlukan pemerintah.
Tugas pemerintah adalah mengatasi kegagalan pasar dan
mengatur kebutuhan barang publik yang dapat diusahakan
oleh swasta maupun BUMN (Badan Usaha Milik Negara)
serta mengatur masalah distribusi. Pemerintah tersebut
terdiri dari manusia yang mempunyai kepentingan dan
keterbatasan pribadi, sehingga dalam melaksanakan
tugasnya dapat tidak optimal sehingga terjadi government
failures atau kegagalan pemerintah, yang meliputi:
1. permasalahan demokrasi yang menyangkut ketidakadilan
pelaksanaannya,
2. permasalahan birokrat yang meliputi kolusi, korupsi dan
nepotisme (KKN) dan ketidakefisienan partisipasi
mereka,
3. permasalahan birokrasi (ketidakefisienan, ketidakjelasan
serta ketidaklengkapan dan ketiadaan peraturan
pemerintah serta ketidaktepatan implementasinya)
4. Desentralisasi: ketidaktepatan implementasi dalam
pembagian tugas dan dana.
Permasalahan publik adalah pemasalahan pasar,
distribusi, dan pemerintah. Alternatif penyelesaian
permasalahan publik adalah kebijakan generik yang terdiri
dari mekanisme pasar, insentif, peraturan pemasokan
bukan pasar serta asuransi dan perlindungan.

Bagi analis seperti bagi dokter, yang lebih penting adalah


mengetahui permasalahan (penyakitnya) sebelum
menentukan kebijakan generik (obat generik) nya.

Ilmu kebijakan adalah ilmu memilih. Kita harus memilih


karena keterbatasan yang kita miliki. Tugas analisis
kebijakan adalah memberi tahu manfaat dan biaya dari
setiap alternatif pilihan. Sedangkan yang mementukan
pilihan kebijakan adalah proses politik

Pilihan kebijakan bisa tidak tepat bila terdapat informasi


yang tidak tepat atau kepentingan politik yang tidak
bijaksana
Pola Pencarian Alternatif Penyelesaian Kebijakan
Generik
Mekanisme Insentif Peraturan Pemasokan Asuransi dan
Pasar Bukan Pasar Perlindungan
Kegagalan Pasar
Barang Publik S S S P
Eksternalitas S P P S
Monopoli Alamiah S S P P
Asimetri Informasi P S S
Kelakuan tidak kompetitif P
Masalah Preferensi S S P
Masalah Ketidakpastian P S
Masalah Antar Waktu S P
Biaya Penyesuaian P

Masalah Distribusi
Keadilan Atas Kesempatan S S P
Keadilan Atas Pendapatan S P

Kegagalan
Pemerintah
Demokrasi P
Birokrasi P S
Masalah Birokrat P S S S
Desentralisasi S P S

P : Alternatif penyelesaian kebijakan primer


S : Aternatif penyelesaian kebijakan sekunder
Tujuan dan Sasaran Kebijakan
Tujuan kebijakan energi (UUD 1945 pasal 33 ayat 2): untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat

Intensifikasi Diversifikasi Konservasi Pemerataan Lingkungan

D,F,H D,F,H D,F,H,P D,F,H F,H F,O D,H,P,S D,F,H,O F,H,P F,H,P

Cadangan Meningkatkan Hulu Hilir Pera- Cara Subsidi Sosial


Subsidi Fisik
Baru Produktivitas latan Lain Harga Lainnya

Keterangan
Keterangan
Kemampuan Desentralisasi D= Dana
Sosialisasi Partisipasi D= Dana
Nasional F= Fisik
F= Fisik
H= Hukum
H= Hukum
O= Organisasi
O= Organisasi
P= Politik
P= Politik
F,P,S F,P,S D,F,H,O D,F,H,O D,F,H,O D,F,H,O D,F,H,O F,H,O,P D,F,H,O,P S= Distributif
S= Distributif
(Sosial)
(Sosial)

Sasaran
Daerah (Objective)
Subsidi Non Pendi- Daerah
BBM Konservasi Energi dikan Ristek Mana- Kaya Lain
Energi Energi jemen Energi Hambatan
(Constraint)

Gambar 1 Peta Sasaran dan Hambatan Kebijakan Energi


Analisis Sasaran-sasaran Kebijakan di Bidang
Energi
1. intensifikasi,
2. diversifikasi,
3. konservasi,
4. pemerataan,
5. lingkungan,
6. sosialisasi,
7. partisipasi masyarakat,
8. meningkatkan kemampuan nasional dan
9. desentralisasi
Intensifikasi

Intensifikasi adalah usaha meningkatkan stock (cadangan


terbukti) migas dan batubara dengan cara:
Menemukan cadangan baru migas dan batubara;
Mengembangkan lapangan dan proyek migas yang marginal;
Peningkatan produktivitas lapangan minyak dengan Enhanced
Oil Recovery (EOR);
Mengembangkan batubara kualitas rendah serta batubara di
bawah permukaan.
Diversifikasi

Subsidi BBM menyebabkan harga BBM murah dan menghalangi


sumber energi lain untuk masuk pasar.

Diversifikasi adalah meningkatkan pemakaian alternatif energi. Seperti:


1. LPG (Liquified Petroleum Gas) dan CNG (Compessed Natural Gas),
2. Briket batubara,
3. Ethanol (biomass) dan gasohol,
4. PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi),
5. PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air),
6. Program penggunaan limbah pertanian untuk energi (gasifikasi),
7. Pengembangan CBM (Coal Bed Methan), dan
8. Pengembangan energi lain.
Konservasi
Hal-hal yang menjadi perhatian penting dalam penghematan
energi:
People dont save energy, thry save money. Kalau harga energi
murah, orang tidak menghematnya
Kebijakan keringanan bea masuk untuk mesin atau peralatan
hemat energi atau tambahan bea masuk untuk yang tidak
hemat energi.
Meningkatkan penggunaan transportasi umum.
Penghematan energi bukan saja menghemat biaya, tetapi juga
menghemat pemakaian sumberdaya energi dan mengurangi
sampah (polusi) energi
Perlu adanya sosialisasi dan penerangan (kampanye) yang
operasional meliputi seminar, kursus, training, berita di media,
pembuatan buku petunjuk praktis mengenai pentingnya
konservasi, diversifikasi energi dan pengurangan subsidi BBM
Terdapat lembaga yang bertugas menangani, mengkoordinasi
dan mengendalikan implementasi penghematan energi secara
lintas sektoral
Pemerataan

Subsidi kepada yang membutuhkan mutlak di perlukan.


Keadilan adalah mengumpulkan dana dari yang mampu
(pajak) untuk memenuhi kebutuhan publik dan untuk
membantu yang kurang mampu (subsidi),
Sayangnya, subsidi diberikan dalam bentuk subsidi harga
(BBM) yang tidak melihat orang sehingga subsidi yang
diberikan kepada orang tidak mampu berkurang.
Pengurangan subsidi BBM secara bertahap adalah demi
keadilan
Adilnya adalah subsidi harga dikurangi secara bertahap dan
diberikan hanya kepada mereka yang membutuhkan
secara langsung (uang), melalui kredit berbunga rendah
untuk petani, usaha kecil, pemberdayaan masyarakat dan
membangun energi pedesaan.
Lingkungan
Lingkungan (secara fisik) bersih: apabila pengotoran
(polusi) baik ke darat, laut dan udara tidak melebihi ambang
batas yang ditentukan para ahli atau peraturan lingkungan.
Lingkungan (secara fisik) lestari: apabila keindahan dan
sumber daya alamnya dapat dipertahankan secara
berkelanjutan.
Lingkungan (secara sosial) yang damai dan adil: apabila
setiap usaha yang dilakukan tidak merugikan orang lain
atau kerugian orang tersebut dikompensasi.
Setiap kegiatan dalam penanganannya harus sudah
memasukkan biaya lingkungan (ekternalitas) baik secara
fisik maupun sosial.
Perlu ditingkatkannya sistem informasi dan network untuk
permasalahan lingkungan.
Perlu kejelasan tugas bagi pemerintah (pusat & daerah)
dan perusahaan dalam hal lingkungan (community
development).
Sosialisasi
Indonesia tidak kaya minyak, justru kaya energi lain.
Subsidi BBM mengakibatkan hutang bertambah, boros
memakai BBM, tidak menghargai energi, ketergantungan
pada minyak serta menghambat pengembangan energi lain.
Untuk sektor rumah tangga diperlukan subsidi (pada tahun
awal pemakaian terutama untuk kompor) briket batubara
untuk memasak serta menghapuskan subsidi minyak tanah.
Masyarakat yang lebih mampu akan tetap memakai minyak
tanah atau LPG
Untuk transportasi subsidi sebaiknya diberikan untuk LPG
dan CNG (pada awal tahun pemakaiannya terutama untuk
tabung gas) sesudah menghapuskan subsidi untuk bensin
dan solar dimana SPBG (Stasiun Perlayanan Bahan Bakar
Gas) yang disubsidi hanya melayani transportasi umum
(bus, truk, minibus, taksi, dsb).
Sosialisasi (lanjutan)
Dalam jangka panjang, subsidi selalu merugikan. Contoh
salah satu penyebab krisis minyak adalah disubsidinya
harga gas di USA tahun 1970-an dari US$ 2/MSCF menjadi
US $ 1/MSCF sehingga USA menderita kerugian sosial
(social loss) US $ 1,4M/tahun, kekurangan pemasokan gas
sebesar 7 trilyun SCF/tahun, ketergantungan minyak luar
negeri dan menyebabkan adanya kartel OPEC. Akibatnya
mereka melakukan: intensifikasi, diversifikasi dan
konservasi energi.
Intensifikasi berhasil (teknologi lepas pantai, pemboran
miring dan horizontal, penemuan migas diluar OPEC)
Diversifikasi berhasil (mengembangkan pemakaian gas,
batubara dan biomas serta energi terbarukan, dan
subsidi harga energi domestik dicabut).
Konservasinya berhasil (berkembangnya mesin dan
peralatan rumah tangga hemat energi)
Krisis OPEC justru menyebabkan Amerika Serikat dan
negara-negara maju lainnya makin efisien. Bagaimana
dengan Indonesia?
Partisipasi & Pemberdayaan Masyarakat
Masyarakat diikutsertakan pada saat pengambilan keputusan,
pembuatan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan
kontrol

Demokrasi, birokrasi dan desentralisasi akan efektif dan efisien


dengan adanya masyarakat yang makin tahu permasalahan publik
serta adanya sistem informasi, komunikasi serta jaringan kerja dan
kontrol yang baik antara masyarakat yang concern atas kemajuan
bangsa dan negaranya

Mahasiswa dan masyarakat tidak hanya melakukan unjuk rasa tetapi


juga merintis usaha perbaikan nasib rakyat kecil (bakti sosial)

Universitas perlu mendirikan industrial park, melakukan penelitian di


bidang energi, membuat pilot project untuk pertanian, perkebunan,
kehutanan, pertambangan dan energi serta membuat inkubasi bisnis
untuk membantu masyarakat

Program listrik masuk desa yang sejak dulu dimonopoli oleh PLN
menurut maunya PLN (top down) perlu dikaji ulang. Seyogyanya
dana dapat digunakan siapa saja (PLN, universitas, LSM, pesantren,
koperasi) dengan persetujuan masyarakat setempat untuk
memberdayakan masyarakat guna mengelola energi setempat,
dengan subsidi misalnya pinjaman berbunga rendah.
Meningkatkan Kemampuan Nasional
Dunia mendatang adalah dunia kompetisi
Keunggulan komparatif (comparative advantage) tergantung kepada
faktor-faktor sumber daya alam, tenaga kerja, kapital dan iptek. Iptek
sering disebut keunggulan kompetitif (competitive advantage)
Indonesia seyogyanya meningkatkan kemampuan sumber daya
manusia dan teknologi.
Diperlukan pemerintahan yang adil dan profesional, badan usaha yang
kompetitif serta masyarakat yang pintar.
Peningkatan SDM melalui pendidikan dan pelatihan.
Meningkatkan kemampuan nasional dengan meningkatkan pendidikan,
kemampuan iptek dan kemampuan manajemen.
Perlu dilakukan manajemen yang efektif dan efisien di pemerintah
maupun badan usaha
BUMN seyogyanya dibebaskan dari kewajiban sosial yang berlebihan
(membuat tidak transparan dan tidak efisien)
Untuk meningkatkan kemampuan domestik dibidang energi pemerintah
perlu menggunakan depletion premium dari energi tak terbarukan
Desentralisasi
Desentralisasi adalah pendelegasian
dan pemberdayaan, sehingga seluruh Kaya akan: Daerah yang berpotensi
anggota masyarakat bisa berpartisipasi
secara maksimal Migas Kalimantan Timur, Riau, Aceh, Jawa
Barat, Sumatera Selatan, Sumatra
UU No. 25 tahun 1999 (perimbangan Utara dan Papua.
keuangan pusat dan daerah untuk
batubara dan migas) : Batubara Sumatra Selatan, Kalimantan
Selatan, Kalimantan Timur, Sumatra
1. Penerimaan negara dari pertambangan Barat, Kalimantan Barat dan
umum dibagi dengan imbangan 20% Bengkulu.
untuk pemerintah pusat dan 80% untuk
daerah. Panas bumi Sumatera, Jawa Bali, Sulawesi,
Nusa Tenggara dan Maluku
2. Penerimaan negara dari pertambangan
migas setelah dikurangi pajak dibagi Tenaga air Papua, Kalimantan, Sumatera,
dengan imbangan 85% untuk Sulawesi dan Jawa
pemerintah pusat dan 15% untuk CBM Kalimantan Timur, Sumatera
daerah bagi minyak dan 70% untuk Selatan, Kalimantan Selatan,
pemerintah pusat dan 30% untuk Sumatera Tengah, Sumatera Barat,
daerah bagi gas. Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan
Bengkulu.
Daerah yang tidak kaya energi perlu
menghemat dan memanfaatkan energi Radioactive Kalimantan barat
yang tersedia sebaik-baiknya.
Alternatif Kebijakan Bidang Energi Berdasarkan Kebijakan
kebijakan Generik
Sasaran Mekanisme Pasar Insentif Peraturan Pemasokan Bukan Asuransi dan
Pasar Perlindungan
1. Minyak Menghilangkan Mengurangi pajak Deregulasi Meningkatkan penelitian Menggunakan
monopoli dan untuk merangsang dan dan pengembangan sebagian
eksplorasi di KTI debirokratisas migas nasional depletion premium
subsidi harga BBM danpengembangan i serta migas untuk
di sektor hilir lapangan marjinal kepastian eksplorasi
hukum migas di dalam dan
luar negeri.
2. Gas 1.Menghilangkan subsidi Mengurangi pajak Mewajibkan 1. Membangun jalur Menggunakan
harga solar untuk untuk merangsang transportasi pipa trans Sumatera dll sebagian depletion
mempromosikan CNG. eksplorasi di umum dan menghubungkan premium migas untuk
2.Menghilangkan subsidi Kawasan Timur menggunakan pipa antar Jawa dan pengembangan gas
harga minyak tanah Indonesia (KTI) dan CNG atau Sumatra. bumi.
untuk meluaskan pengembangan listrik. 2. Membangun stasiun
pemakaian LPG. lapangan marjinal. pengisi CNG.
3.Batubara Menghilangkan subsidi Mengurangi pajak Meregulasi 1. Membangun ransmisi
harga minyak tanah untuk batu-bara pertamban Jawa-Sumatera dan
untuk mempromosikan berkualitas rendah membangun PLTU di
penggunakan briket buat apabila dia
gan rakyat mulut tambang.
memasak. menggunakan 2. Membangun luar
teknologi bersih Jawa sehingga energi
lingkungan. tidak pakai
ditransportasikan ke
Jawa
4.Panas 1.Menghilangkan subsidi Mengurangi pajak Memprioritask Melakukan Menggunakan
bumi harga BBM panas bumi dalam an eksplorasi sebagian
2.Menentukan harga bentuk pengurangan pemakaian depletion premium
sesudah eksplorasi dan pajak, investment tax energi bersih
awal oleh migasuntuk eksplorasi
mengganti biaya credit / taxholiday. lingkungan. pemerintah panasbumi guna
eksplorasi bila gagal mengurangi resiko
dan harga listrik.
Alternatif Kebijakan Bidang Energi Berdasarkan Kebijakan
kebijakan Generik (Lanjutan)
Sasaran Mekanisme Insentif Peraturan Pemasokan Bukan Asuransi dan
Pasar Pasar Perlindungan

5. Air 1. Mengadakan 1. Memberikan Memprioritaskan Memperbaiki


kerjasama antar subsidi untuk pemakaian infrastuktur
daerah (terutama di merangsang
KTI) dan negara pembangunan di
energi bersih untuk merangsang
tetangga untuk luar Jawa. lingkungan. pembangunan
pembangunan 2. Memberikan industri
regional kredit murah
2. Menghilangkan untuk PLTA diluar Jawa.
subsidi BBM skala kecil

6. Biomas Menghilangkan Memberikan 1. Memprioritaskan 1. Membuat pilot untuk Menggunakan


dan Coal subsidi insentif untuk pemakaian energi ethanol dan CBM. sebagian
Bed pengembanga bersih lingkungan 2. Pengembangan SDM depletion
harga BBM.
Methane n biomassa 2. Pajak tinggi dan litbang untuk premium migas
dan CBM untuk lahan tidur ethanol. untuk biomas
(CBM) dan CBM.
7. Nuklir Menghilangkan Subsidi untuk Undang-undang 1. PengembanganSDM dan
subsidi harga energi nuklir nuklir litbang untuk
Pengoperasian PLTN.
BBM. dan
2.Membangun pilot PLTN
pedesaan dengan skala ekonomis
terkecil

8. Menghilangkan Mengurangi Mewajibkan 1. Penerangan kepada


Konservasi subsidi biaya impor transportasi umum, masyarakat bahwa
kantor dan menghemat energi adalah
energi harga BBM. untuk mesin, perusahaan tindakan patriotik
peralatan dan pemerintah untuk 2. Penerangan untuk
mobil hemat menggunakan konservasi secara praktis
energi peralatan hemat 3. Manajemen transportasi
energi hemat energi
Alternatif Kebijakan Bidang Energi Berdasarkan
Kebijakankebijakan Generik (Lanjutan)
Sasaran Mekanisme insentif peraturanP Pemasokan Asuransi &
pasar Bukan Pasar Perlindung
an

9 Pemerataan Menghilangkan Memberikan Perlu Membangun


subsidi harga subsidi bagi ketransparanan sistem informasi
BBM yang dalam usaha untuk
membutuhkan pemerataan ketransparanan
dan implementasi
pemerataan
10 Lingkungan Menginternalis Insentif untuk Memprioritaskan Memperbaiki
asikan yang bersih pemakaian energi sistem informasi
eksternalitas dan diinsentif bersih lingkungan dan network
dalam untuk yang lingkungan.
setiap tidak bersih.
kegiatan.
11. Sosialisasi Ketransparanan Insentif bagi Alokasi dana yang Membangun
dalam mereka yang cukup untuk sistem informasi
penentuan membantu pemberdayaan dan dan network untuk
harga dan sosialisasi pelatihan partisipasi dan
subsidi pemberdayaan.
12. Partisipasi Ketransparanan 1. Beasiswa Alokasi dana yang 1. Memperbaiki
dan bagi semua pendidikan pada lebih banyak untuk infrastruktur
pemberdayaan masyarakat yang tidak pendidikan UKM, pendidikan
Masyarakat yang mampu pemberdayaan, terutama diluar
memerlukan 2. Insentif untuk Jawa.
dan energi
pemberdayaan pemberdayaan pedesaan. 2. Pendidikan publik
Alternatif Kebijakan Bidang Energi Berdasarkan Kebijakan
kebijakan Generik (Lanjutan)
Sasaran Mekanisme Insentif Peraturan Pemasokan Asuransi dan
Pasar Bukan Pasar Perlindungan

13. Menghilang- Beasiswa 1.Alokasi dana Memperbaiki


Pendidikan kan subsidi pendidikan pada yang lebih infrastruktur
harga yang tidak banyak untuk pendidikan
pendidikan. mampu. pendidikan terutama diluar
2.Deregulasi dan Jawa dan
debirokratisasi perdesaan.
pendidikan.
14. Ristek Perlunya pasar Insentif untuk Peraturan paten Memperbaiki
yang adil dan pengembangan dan peningkatan infrastruktur
pemberantas- ristek dan pilot kemampuan sistem informasi
an KKN untuk project. nasional dan network
meningkatkan ristek.
Inovasi.
15. Dihilangkan Insentif untuk Deregulasi, Memperbaiki
Manajemen kewajiban badan usaha Debirokratisasi sistem informasi
sosial yang nasional. dan dan network
berlebihan desentralisasi untuk
pada BUMN. manajemen. manajemen.
16. Kejelasan Insentif untuk Peningkatan Memperbaiki Menggunakan
Desentralisasi akan desentralisasi peraturan dan infrastruktur sebagian depletion
pembagian yang baik. pengontrolan sistem informasi premium migas
tugas dan implementasi dan network di untuk
meningkatkan
kewajiban desentralisasi. tiap daerah.
kemampuan
antara pusat
daerah di bidang
dan daerah energi.
Catatan untuk pengurangan subsidi harga BBM:
Perlu disadari bahwa Indonesia tidak kaya minyak;
Perlu disadari bahwa pemerintahan kita miskin;
Pengurangan subsidi harga BBM harus dialihkan ke subsidi
langsung kepada yang kurang mampu;
Pengurangan subsidi harga BBM akan lebih efektif bila
pemerintah bersungguh-sungguh dalam memberantas KKN,
meningkatkan penerimaan pajak dan menegosiasikan
pengurangan hutang;
KKN menyebabkan bangsa tidak kompetitif;
Perlu adanya pemerintah, swasta dan masyarakat yang
pintar dan bermoral untuk mengatasi krisis ;
Perlu kepedulian dari yang mampu terhadap yang kurang
mampu. Bermoral berarti menolong sesama;
Perlu watak pemimpin untuk hidup sederhana;
Suatu negara akan maju apabila bermoral yaitu bila
mempunyai peraturan, peradilan, dan pendidikan yang baik.
Terima kasih