Anda di halaman 1dari 38

USULAN PENELITIAN

STRUKTUR KOMUNITAS GASTROPODA DAN BIVALVIA PADA SUBSTRAT YANG


BERBEDA DI PERAIRAN PULAU PARI,
KEPULAUAN SERIBU

Dilaksanakan dan disusun guna memperoleh gelar Sarjana Kelautan di


Universitas Jenderal Soedirman

oleh :
Budi Arisandi
NIM. H1K010008

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Wilayah pesisir dan laut merupakan lokasi beberapa ekosistem yang unik,

saling terkait, dinamis dan produktif. Salah satu wilayah pesisir dan laut yang unik

adalah Pulau Pari Kepulauan Seribu yang merupakan objek wisata terkenal di

Propinsi DKI Jakarta. Wilayah pesisir pantai merupakan daerah pertemuan antara

daratan dan laut yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut dan

proses alami yang terjadi di daratan dan proses alami di darat seperti aliran air

tawar maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat (Wouthuyzen dan

Sapulete 1994).

Pulau Pari termasuk dalam kecamatan Kepulauan Seribu Selatan. Pulau ini

terdiri dari beberapa pulau kecil dengan pulau utamanya Pulau Pari, Pulau

Burung, Pulau Tikus, Pulau Tengah, dan Pulau Kongsi. Pulau Pari memiliki

ekosistem utama pesisir seperti mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Hal

tersebut menjadikan kawasan ini sebagai salah satu tujuan wisata. Pada tahun

2010 kegiatan wisata di Pulau Pari mulai berkembang dan meningkatnya jumlah

penduduk yang beralih profesi dari petani rumput laut ke sektor wisata (Purtranto,

2015). Pariwisata di Pulau Pari juga belum dapat dikategorikan sebagai suatu

ekowisata bahari karena kurangnya perhatian terhadap lingkugan atau ekosistem

sekitar dan cenderung menuju mass tourism (Triyono, 2013).

Kondisi tersebut berdampak pada ekosistem di sekitarnya seperti mangrove,

padang lamun, dan terumbu karang. Luasan mangrove, padang lamun serta

terumbu karang mengalami penurunan sebelum pariwisata dibuka pada tahun

1999 sampai dengan tahun 2006 dari luas semula. Luasan padang lamun yang

2
mulai berkurang dan banyaknya terumbu karang yang mati karena aktifitas

manusia dan perubahan kondisi lingkungan (Saefurahman, 2008). Pemantauan

terhadap kondisi ekosistem dan biota yang berasosiasi di Pulau Pari sangat

diperlukan mengingat setiap tahun terjadi peningkatan jumlah kunjungan

wisatawan, sehingga memungkinkan terjadinya juga peningkatan terhadap

tekanan kondisi lingkungan sekitar termasuk ekosistem dan biota yang ada di

Pulau Pari. Penurunan jumlah populasi biota disampaikan Cappenberg dan

Pangabean (2005) bahwa telah terjadi penurunan dan hilangnya beberapa jenis

spesies biota seperti gastropoda dan bivalvia di Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

Gastropoda merupakan kelas yang mempunyai anggota terbanyak dan

merupakan kelas yang paling sukses karena menguasai berbagai habitat yang

bervariasi (Barnes, 1987 dalam Irawan, 2008). Umumnya dikenal dengan sebutan

siput atau keong. Kebanyakan bentuk kelas Gastropoda asimetris karena

mengalami torsi. Cangkang siput umumnya berbentuk kerucut atau konde dari

tabung yang melingkar.

Kelas Bivalvia mencakup berbagai jenis kerang, remis, dan kijing.

Kebanyakan Bivalvia hidup di laut terutama di daerah littoral, sebagian di daerah

pasang surut, dan air tawar. Spesies yang umumnya terdapat di dasar perairan

yang berlumpur atau berpasir. Tubuh dan kaki Bivalvia umumnya pipih secara

lateral, seluruh tubuh tertutup mantel dan dua keping cangkang yang berhubungan

dengan bagian dorsal. Beberapa bersifat sesil, yaitu menempel erat pada benda

padat dengan benang bysus (Brusca dan Brusca, 1990). Arbi (2009) menyatakan

bahwa Gastropoda dan Bivalvia merupakan salah satu biota laut sebagai

komponen penting penyusun ekosistem perairan sehingga mempunyai potensi

ekonomis dan ekologis penting pada komunitas bentik.

3
Balczar et al.,(2006); Blunt et al.,(2006) menyatakan bahwa Gastropoda

dan Bivalvia merupakan komoditi perikanan yang potensi sebagai kandidat

sumber senyawa bioaktif untuk berbagai keperluan. Melimpahnya Gastropoda dan

Bivalvia di wilayah perairan tropis sebagai sumber protein hewani yang baik di

identifikasikan sebagai peptida, depsipeptida, seskuiterpen, skualen, terpen,

alkaloid, polipropionat, senyawa nitrogen, makrolida, prostaglandin, turunan asam

lemak, dan senyawa lain yang memiliki aktivitas tertentu.

Selain itu, Gastropoda dan Bivalvia berperan penting dalam suatu ekosistem

yaitu sebagai bagian dari rantai makanan dan sebagai indikator pencemaran.

Jenis-jenis kerang merupakan bio-indikator paling tepat untuk logam berat.

Beberapa alasan mendukung kerang sebagai bio-indikator karna kerang memiliki

kemampuan yang timggi untuk mengakumulasi bahan-naham tercemar tanpa mati

terbunuh, terdapat dalam jumlah banyak serta dapat di jadikan parameter sebuah

perairan, (Hutagalung, 1991).

Moluska binatang yang sangat berhasil menyesuaikan diri untuk hidup di

beberapa tempat dan cuaca. Moluska dapat hidup di lautan mulai dari zona littoral

sampai kelautan lepas, termasuk didalamnya hutan mangrove, padang lamun dan

terumbu karang. sebagaian besar kelas gastropoda dan bivalvia yang hidup dilaut

ditemukan pada zona littoral dan daerah pasang surut. Setiap jenis moluska

mempunyai ciri khusus sesuai dengan habitatnya.

Menurut Schowalter (1996) struktur komunitas merupakan suatu konsep

yang mempelajari susunan atau komposisi spesies dan kelimpahannya dalam

suatu komunitas. Secara umum ada tiga pendekatan yang dapat digunakan untuk

menggambarkan struktur komunitas yaitu keanekaragaman spesies, interaksi

spesies dan interaksi fungsional. Dengan rusaknya kondisi ekosistem di Pulau Pari

4
akibat tingginya minat wisata dan meningkatnya jumlah penduduk pulau

menyumbang tergesernya atau hilangnya keanekaragamanan spesies terutama

Gastropoda dan Bivalvia.

Struktur komunitas gastropoda dan bivalvia dipengaruhi oleh perubahan

faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, tipe substrat dan kandungan bahan

organik di perairan yang menyebabkan gastropoda dan bivalvia dalam struktur

komunitas berbeda satu dengan yang lainya sehingga membentuk pola tersendiri.

Adanya moluska (gastropoda dan bivalvia) dalam suatu perairan menandakan

bahwa perairan tersebut mengalami kondisi lingkungan yang baik dan begitupun

sebaliknya.

1.2 Perumusan Masalah

Penelitian mengenai struktur komunitas Gastropoda dan Bivalvia di

Pulau Pari, Kepulauan Seribu telah dilakukan oleh Cappenberg dan Pangabean

(2005). Namun dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk yang

menyebabkan meningkatnya aktifitas manusia, seperti konversi lahan untuk

pemukiman dan tambak, daerah wisata dan tingkat polusi perairan seperti sampah

mengakibatkan ekosistem pesisir Pulau Pari mengalami perubahan dari tahun

ketahun.

Gastropoda dan Bivalvia memiliki peran penting dalam suatu ekosistem

yaitu sebagai bagian dari rantai makanan. Menurut Kordi (2011) Gastropoda dan

Bivalvia memiliki peran ekologis yang sangat penting bagi beberapa ekosistem.

Dimana beberapa biomassa dari epifit yang menempel dilamun dan serasah di

mangrove akan dimanfaatkan sebagai sumber makanan dan protein. Selain itu

Gastropoda dan Bivalvia juga merupakan pemakan detritus (detritusfeeder) dan

5
mampu mensirkulasi zat-zat yang tersuspensi di dalam air guna mendapatkan

asupan oksigen dan makanan (Syari, 2005).

Gastropoda dan Bivalvia sangatlah penting dalam ekosistem perairan,

manfaat lain adalah sebagai Bio-Indikator sebuah perairan tercemar. Hal tersebut

dapat di deteksi dari melimpah atau tidaknya spesies Gastropoda dan Bivalvia

yang ada pada suatu perairan.

Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian struktur

komunitas Gastropoda dan Bivalvia di Pulau Pari. Mengetahui struktur komunitas

merupakan salah satu cara untuk mengetahui komposisi spesies dan kelimpahan

spesies dalam suatu komunitas atau ekosistem. Secara umum, yang di amati untuk

mengetahui struktur komunitas yaitu keanekaragaman, keseragaman dan

dominansi spesies dalam suatu ekosistem. Data tersebut diharapkan dapat

memberikan informasi mengenai jumlah dan jenis Gastropoda dan Bivalvia yang

masih ada saat ini.

1.3 Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk

1. Mengetahui struktur komunitas gastropoda dan bivalvia di substrat yang

berbeda di Pulau Pari, Kepulauan Seribu

2. Mengetahui parameter fisika dan kimia air yang di kehendaki

Gastropoda dan Bivalvia di Pulau Pari, Kepulauan seribu.

1.4 Manfaat

Manfaat penelitian ini adalah memberikan informasi struktur komunitas

gastropoda dan bivalvia serta mengetahui kondisi lingkungan perairan di perairan

Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Selain itu, diharapkan data yang diperoleh dapat

dijadikan informasi untuk penelitian secara berkelanjutan.

6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pulau Pari

Pulau Pari merupakan bagian dari Kepulauan Seribu yang merupakan pulau

terbesar dari pulau-pulau penyusun Gugusan Pulau Pari, seperti Pulau Kongsi,

Pulau Tengah, Pulau Burung dan Pulau Tikus. Secara administratif, Pulau Pari

merupakan bagian dari wilayah kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta dengan

letak geografis 55250- 55450 Lintang Selatan dan 1063400- 1063800

Bujur Timur (Gambar 1). Pulau Pari memiliki 3 zonasi pemanfaatan lahan sesuai

Keputusan Gubernur DKI Tingkat 1 Jakarta Nomor 1952 tahun 1982, yaitu 50%

atau seluas 21,5 ha untuk kawasan pariwisata, 40% atau seluas 17,2 ha daerah

pemukiman dan 10% atau seluas 4,3 ha untuk penelitian laut/ konservasi laut.

Gambar 1. Pulau Pari, Kepulauan Seribu (sumber : Google Maps)

Gugus pulau pari merupakan pulau-pulau karang yang berada di kawasan

Kepulauan Seribu, yang terdiri dari rangkaian pulau-pulau kecil yang tersebar dari

timur ke barat. Kawasan tersebut tidak jauh letaknya dari teluk jakarta. Gugus

Pulau Pari memiliki ekosistem lamun, terumbu karang dan mangrove yang

7
terdapat di sebagian besar tepi pulau. Substratnya terdiri atas lumpur, pasir dan

pecahan trumbu karang (Romimohtarto dan Syarani 2010).

Ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang di Pulau Pari merupakan

salah satu habitat gastropoda dan bivalvia. Laut yang mengelilingi Pulau Pari

merupakan laut dangkal yang mempunyai substrat bervariasi diantaranya substrat

lumpur, lumpur berpasir, berpasir maupun berbatu karang. Di Pulau Pari terdapat

berbagai jenis habitat, diantaranya habitat mangrove, padang lamun dan terumbu

karang (Karwati, 2002).

Mangrove merupakan salah satu ekosistem di daerah pesisir yang unik dan

produkti. Ekosistem ini dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan tawar yang

biasanya terdapat di daerah pantai ang terlindungi atau dekat sungai. Hutan

mangrove berdungsu sebagai habitat penyangga antara lautan da daratan dan

memegang peran sangat penting dalam mendukung produktifitas perairan pesisir.

Produktifitas mangrove dipengaruhi oleh unsur hara yang terbawa oleh air sungai

dari daratan, selain itu mangrove juga juga memiliki berbagai fungsi, diantaranya

fugsi ekologis, fungsi ekonomis dan fungsi sebagai mata rantai yang

menghubungkan antara ekosistem daratan dan ekosistem laut. Serasah mangrove

merupakan submer makanan yang penting bagi jenis-jenis ikan, dan avertebrata

lainya seperti moluska (gastropoda dan bivalvia) (Karwati, 2002).

Lamun yang berada di Pulau Pari memiliki jenis khas. Keberadaan lamin ini

berfungs sebagau habitat organisme yang terdiri dari berbagai jenis ikan,

crustacea, dan moluska. Keberadaan lamun memberikan kontribusi yang sangat

besar terhadap kesediaan bahan makanan dan unsur hara yang diperlukan untuk

kelangsungan hidup organisme yang ada pada ekosistem tersebut, seperti halnya

hutan mangrove dan makanan bagi organisme lainya,lamun berfungsu sebagai

8
penghasil oksigen dan makanan bagi organisme lainya. Dengan sistem

perakaranya yang tepat lamun berfungsi sebagai menjebak nutrien dan penstabil

substrat dasar.

Terumbu karang merupakan bagaian dari ekosistem laut yang penting

karena menjadi sumber pengiduan bagi beraneka ragam biota laut. Di dalam

ekosistem terumbu karang pada umumnya hidup lebih dari 300 jens karang, yang

terdiri dari ikan, crustacea, sponge, alga, moluska dan biota lainya (Dahuri,

2003). Terumbu karang bisa di katakan sebagai hutan tropis ekosistem laut.

Ekosistem ini terdapat di laut dangkal yang hangat dan bersih dan merupakan

ekosistem yang sangat penting karena miliki keanekaragaman hayati yang sangat

tinggi.

Berbagai jenis organisme dapat hidup di ekosistem terumbu karang, salah

satunya adalah Gastropoda dan Bivalvia yang merupakan organisme asli yang

mendiami area terumbu karang (Nontji, 2005). Terumbu karang di Kepulauan

Seribu yang terletak di utara DKI Jakarta memiliki biodiversitas dan sebaran yang

tinggi, sekitar 35.878 ind/ha (Estradivarii et.al, 2009).

2.1.1. Ekosistem Hutan Mangrove Pulau Pari

Gugus Pulau Pari memiliki ekosistem mangrove yang terdapat di sebagian

besar tepi pulau, kecuali Pulau Tikus. Menurut Katherisan (2001), mangrove di

gugus Pulau Pari termasuk kedalam golongan fringe (tepian pantai) mangrove,

yaitu mangrove yang berada di tepian pantai dengan substrat pasir berlumpur

yang dipengaruhi pasang surut, dan umumnya didominansi oleh Rhizophora sp.

Moluska yang dominan menempati hutan mangrove adalah ciri dari klas

gastopoda yang banyak tinggal secara permanen di wilayah hutan mangrove.

Selain gastropoda, bivalvia juga banyak yang menempati area hutan mangrove

9
tetapi kelimpahanya kecil (Soemodiharjo, 1997). Fauna yang menempati hutan

mangrove terdiri dari dua kelompok, yaitu infauna yang hidup didalam lubang

atau terbenam dalam substrat dan epifauna yang hidup bebas diatas permukaan

substrat.

Fauna yang hidup di hutan mangrove menyebar secara menegak dan

mendatar. Sebaran menegak berlaku bagi jenis binatang yang hidupnya melekat

pada akar, batang, cabang pada pohon mangrove. Penyebaran mendatar berlaku

bagi jenis yang hidupnya pada substrat (Kartawinata et.al, 1979).

Penyebaran dan susunan moluska di hutan mangrove dipengaruhi oleh

kondisi substrat dan komposisi mangrove. Pada bagian hutan mangrove yang

berbatasan dengan habitat lain akan terlihat jenis-jenis yang berasosiasi lebih erat

dengan masing masing habitat lainya. (Budiman dan Dwiono, 1986 dalam

Nunung, 2006). Penyebaran fauna secara mendatar di hutan mangrove tergantung

pada jaraknya dari laut serta adaptasi jenis jenis fauna tersebut terhadap

perubahan kondisi lingkungannya. Sedangkan penyebaran secara menegak

tergantung pada kisaran tinggi air pasang surut.

2.1.2 Ekosistem Lamun Pulau Pari

Peranan ekosistem padang lamun sangat penting bagi biota dan ekosistem di

sekitarnya, sehingga keberadaan padang lamun di Pulau Pari harus tetap terjaga.

Namun pada kenyataannya saat ini keberadaan padang lamun mulai terancam

karna terjadinya kerusakan dan penurunan luas padang lamun di Pulau Pari yang

mencapai 30-40%. Faktor yang mempengaruhi kerusakan padang lamun antara

lain pencemaran limbah, limbah pertanian, antropogenik, pengerukan pasir,

reklamasi dan rekreasi. Secara spesifik keberadaan lamun di Pulau Pari saat ini

10
mengalamu ancaman yang cukup serius. Tutupan lamun di gugusan Pulau Pari

telah berkurang sekitar 25% dari tahun 1999 sampai 2004.

Moluska yang hidup lamun berbeda-beda sesuai dengan jenis lamun yang

hidup di tempat tersebut. Pada umumnya moluska yang hidup dipadang lamun

terdiri dari kelas gastropoda dan bivalvia. Kerang yang hidup di lamun umumnya

kelas bivalvia memendamkan dirinya di dalam pasir sampai kedalaman kurang

dari 25cm. Di lamun gastropoda umumnya bertindak sebagai organisme epifauna

yang hidup menyebar diatas permukaan substrat. Kehidupan gastropoda ini

dipengaruhi oleh adanya pasang surut air laut, predator dan makanan.

2.1.3 Ekosistem Terumbu Karang Pulau Pari

Ekosistem terumbu karang di pulau pari merupakan ekosistem yang dari

tahun ketahun mengalami penurunan fungsi dan bahkan banyak yang mati. Hal

tersebut dikarenakan banyaknya aktifitas manusia di wilayah pesisisr yang

menyebabkan ekosistem terumbu karang rentan terkena dampak aktivitas manusia

yang dapat merusak ekosisetem terumbu karang. Gugus Pulau Pari terdiri dari

beberapa pulau kecil yang saling berdekatan menjadikan Pulau Pari destinasi

wisata yang bisa berdampak aktifitas manusia dikawasan tersebut.

Berdasarkan beberapa pengamatan dilapangan, terumbu karang di Pulau

Pari banyak yang mengalami kerusakan akibat aktifitas manusia. Saat snorkling

wisatawan banyak yang menginjak karang sebagai pijakan, sehingga banyak yang

mengalami kematian pada terumbu karang.

Terumbu karang, merupakan suatu ekosistem khas wilayah pesisir dan laut

daerah tropis. Keberadaanya memegang peran penting dalam menjaga

keseimbangan lingkungan di suatu wilayah pesisir. Selain berperan sebagai

pelindung pesisir, ekosistem terumbu karang juga memiliki peran sebaai tempat

11
tinggal atau tetap, tempat mencari makan, berpijah, daerah asuhan dan

pembesaran bagi berbagai biota yang hidup di terumbu karang salah satunya

adalah gastropoda dan bivalvia (Suharsono, 2009).

2.2. Gastropoda

2.2.1 Morfologi

Kelas Gastropoda merupakan kelas terbesar dari Moluska lebih dari 75.000

spesies yang telah teridentifikasi dan 15.000 diantaranya dapat dilihat bentuk

fosilnya. Fossil dari kelas tersebut secara terus-menerus tecatat mulai zaman

Cambrian. Ditemukanya Gastropoda di berbagai macam habitat, dapat

disimpulkan bahwa Gastropoda merupakan kelas paling sukses di antara kelas

yang lain (Barnes, 1980 dalam Handayani, 2006).

Morfologi Gastropoda terwujud dalam morfologi cangkangnya. Sebagian

besar cangkagnya terbuat dari bahan kalsium karbonat yang di bagian luarnya

dilapisi periostrakum dan zat tanduk (Handayani, 2006). Cangkang Gastropoda

yang berputar ke arah belakang searah dengan jarum jam disebut dekstral,

sebalinya bila cangkang berputar berlawanan arah dengan jarum jam disebut

sinistral. Gastropoda yang hidup dilaut umumnya berbentuk dekstral dan sedikit

sekali ditemukan dalam bentuk sinisal (Dharma, 1988). Pertumbuhan cangkang

yang melilin spiral disebabkan karena pengendapan bahan cangkang di sebelah

luar berlangsung lebih cepat dari yang sebeah dalam (Nontji, 1987 dalam

Handayani, 2006). Gastropoda mempunyai badan yang tidak simetris dengan

mantelnya terletak di bagian depan, cangkangnya berikut isi perutnya terguling

spiral kearah belakang. Letak mantel di bagian belakang iniliah yang

mengakibatkan gerakan torsi atau putara pada pertumbuhan Gastropoda. Proses

torsi ini dimulai sejak dari perkembangan larvanya. Pada umumnya gerakanya

12
berputar dengan arah berlawanan jarum jam dengan sudut 180 sampai keala dan

kaki kembali ke posisi semula (Dharma, 1988 dalam Handayani, 2006).

Struktur umum morfologi Gastropoda terdiri atas : suture, posteriror, canal,

aperature, gigi columella, bibir luar, columella, siphonal, umbillicus.

Gambar 2. Struktur Umum Morfologi Gastropoda (Dharma,1988)

2.2.2 Anatomi

Secara umum struktur anatomi dari gastropoda terdiri atas kepala, badan,

dan alat gerak. Pada kepala terdapat sepasang alat peraba yang dapat dipanjang

pendekan. Pada alat peraba ini terdapat titik mata untuk membedakan terang dan

gelap. Pada mulut terdapat lidah parut dan gigi rahang. Di dalam badannya

terdapat alat- alat penting untuk hidupnya diantaranya ialah alat penceranaan, alat

pernafasan serta alat genitalis untuk perkembangbiakannya. Saluran penceranaan

terdiri dari atas : mulut, pharynx yang berotot, kerongkongan, lambung, usus, dan

anus.

Alat geraknya dapat mengeluarkan lendir yang berfungsi untuk

memudahlan pergerakanya. Berikut anatomi Gastropoda dapat dilihat pada

(Gambar 3).

13
Gambar 3. Struktur Anatomi Gastropoda (Poort dan Carsol, 1988)

2.2.3 Klasifikasi

Gastropoda umumnya hidup di laut, pada perairan yang dangkal, dan

perairan yang dalam. Menurut Dharma (1988) dalam Handayani (2006)

menyatakan bahwa kelas Gastropoda dibagi dalam tiga sub kelas yaitu :

Prosabranchia, Ophistobrancia, dan Pulmonata.

Kelas Prosobranchia

Memiliki dua buah insang yang terletak di anterior, sistem syaraf terpilin

membentuk angka delapan, tentakel berjumlah dua buah. Cangkang umumnya

tertutup oleh operkulum. Kebanyakan hidup di laut tetapi ada beberapa

pengecualian, misalnya yang hidup di daratan antara lain dari family

Cyclophoridae dan Pupinidae bernafas dengan paru-paru dan yang hidup di air

tawar antara lain dari family Thiaridae. Sub kelas ini dibagi lagi ke dalam tiga

ordo yaitu :

1. Ordo Archaeogastropoda

Insang primitif berjumlah satu atau dua buah yang tersusun dalam dua baris

filamen, jantung beruang dua, nefrida berjumlah dua buah. Mereka dapat

ditemukan di laut dangkal yang bertemperatur hangat, menempel di permukaan

karang di daerah pasang surut serta di muara sungai. Contoh ordo

Achaeogastropoda adalah Haliotis, Trochus, Acmaea (Gambar 3).

14
A B C
Gambar 3. Contoh ordo Archaeogastropoda.
(A) Acmaea (B) Haliotis (C) Trochus (Hegner & Engeman, 1968)

2. Ordo Mesogastropoda
Insang sebuah dan tersusun dalam satu baris filamen, jantung beruang satu,

nefridium berjumlah satu buah, mulut dilengkapi dengan radula yang berjumlah

tujuh buah dalam satu baris. Hewan ini hidup di daerah hutan bakau atau pohon-

pohon, laut surut sampai laut lepas pantai dan karang-karang di tepi pantai, laut

dangkal bertemperatur hangat, laut dalam, di balik koral, parasit pada binatang

laut serta di atas hamparan pasir. Contoh ordo Mesogastropoda adalah Crepidula,

Littorina, Campeloma, Pleurocera, Strombus, Charonia, Vermicularia (Gambar

4).

Gambar 4. Contoh ordo Mesogastropoda. (A) Crepidula (B) Littorina (C)


Campeloma (D) Pleurocera (E) Strombus (F) Charonia (G) Vermicularia
(Hegner & Engeman, 1968)
3. Ordo Neogastropoda

Insang sebuah dan tersusun dalam satu baris filamen, jantung beruang satu,

nefridium berjumlah satu buah, mulut dilengkapi dengan radula yang berjumlah

tiga buah atau kurang dalam satu baris. Hewan ini hidup di daerah pasang surut

beriklim tropis, pada batu karang yang bertemperatur panas, laut lepas pantai, laut

15
dangkal dan laut yang berlumpur. Contoh ordo Neogastropoda adalah Murex,

Conus. Colubraria, Hemifusus (Gambar 5).

Gambar 5. Contoh ordo Neogastropoda (A) Murex (B) Urosalpinx (C) Busyon
(D) Conus (Hegner & Engeman, 1968)

Kelas Ophistobranchia

Kelompok gastropoda ini memiliki dua buah insang yang terletak di

posterior, cangkang umumnya tereduksi dan terletak didalam mantel, nefridia

berjumlah satu buah, jantung satu ruang dan organ reproduksi berumah satu.

Kebanyakan hidup di laut. Subkelas ini dibagi kedalam lima ordo yaitu:

1. Ordo Cephalaspidea

Cangkang terletak eksternal, besar dan tipis, beberapa jenis mempunyai

cangkang internal, kepala besar dilengkapi dengan Cephalic Shield, parapodia

biasanya ada dan lebar. Contoh ordo Cephalaspidea adalah Bulla (Gambar 6).

Gambar 6. Contoh ordo Cephalaspidea (Hegner & Engeman, 1968)

16
2. Ordo Anaspidea

Cangkang tereduksi jika ada terletak internal, kepala tanpa Cephalic

Shield, rongga mantel pada sisi kanan menyempit dan tertutup oleh parapodia

yang lebar. Contoh ordo Anaspidea adalah Aplysia (Gambar 7).

Gambar 7. Contoh ordo Anaspidea (http://www.seaslugforum.net)

3. Ordo Thecosomata

Cangkang berbentuk kerucut, rongga mantel besar, berfungsi sebagai alat

renang, hewan berukuran mikroskopik dan bersifat planktonik. Contoh ordo

Thecosomata adalah Cavolinia (Gambar 8).

Gambar 8. Contoh ordo Thecosomata (Hegner & Engeman, 1968)

17
4. Ordo Gymnosomata

Tanpa cangkang dan mantel, parapodia sempit, hewan berukuran

mikroskopik dan bersifat planktonik. Misalnya Clione, Cliopsis,

Pneumoderma.

5. Ordo Nataspidea

Cangkang terletak internal, eksternal atau tanpa cangkang, rongga mantel

tidak ada plicate gill satu buah, terletak disisi kanan. Contoh ordo

Notaspidea adalah Umbraculum (Gambar 9).

Gambar 9. Ordo Nataspidea (Hegner & Engeman, 1968)


Kelas Pulmonata

Bernapas dengan paru-paru, cangkang berbentuk spiral, kepala

dilengkapi dengan satu atau dua pasang tentakel, sepasang diantaranya

mempunyai mata, rongga mentel terletak di interior, organ reproduksi

hermaprodit atau berumah satu. Sub kelas ini dibagi menjadi dua ordo yaitu :

1. Ordo Stylomatophora

Tentakel berjumlah dua pasang, sepasang diantaranya mempunyai

mata di ujungnya, kebanyakan anggotanya teresterial. Misalnya

Achatina, Triodopsin, Limax (Gambar 10).

18
A C

Gambar 10. Contoh ordo Stylomatophora. (A) Triodopsis (B) Limax (C)
Achatina (Hegner & Engeman, 1968)

2. Ordo Basomatophora

Tentakel berjumlah dua pasang, sepasang diantaranya mempunyai mata

didepannya, kebanyakan anggotanya hidup di air tawar, kosmopolitan. Contoh

ordo Basomatophora (Gambar 11).

Gambar 11. Contoh ordo Basomatophora. (A) Lymnaea (B) Physa (C) Helisoma
(D) Ferrissia (Hegner dan Engeman, 1968)
2.3. Bivalvia

2.3.1. Morfologi dan Anatomi Bivalvia

Bivalvia atau lebeih umum dikenal dengan nama kerang-kerangan,

mempunyai dua keping atau belahan kanan dan kiri yang disatukan oleh engsel

yang bersifat elastis disebut juga ligamen dan mempunyai dua otot yaitu abductor

dan adductor dalam cangkangnya, yang berfungsi sebagai membuka dan mentutup

cangkang (barnes, 1982 dalam Sugiri, 2009).

Menurut Wesz (1973, bahwa ciri-ciri umum Bivalvia adalah hewan

lunak, sedentary (menetap pada sedimen), umumnya hidup di laut meskipun ada

19
yang hidup di air tawar, pipih di bagian lateral dan mempunyai tonjolan di bagian

dorsal, tidak memiliki tentakel, kaki otot berbentuk seperti lidah, mulut dengan

palps (lembaran berbentuk seperti bibir), memiliki radula , insang dilengkapi

dengan silis untuk filter feeding (makan dengan menyaring larutan), alat kelamin

terpisah atau ada yang hermaprodit, perkembangan lewat trocophora dan viliger

pada perairan laut dan tawar.

Menurut Prawirohartono (2003) secara umum cangkang kerang tersusun

atas zat kapur dan terdiri dari 3 (tiga) lapisan yaitu:

a. Periostrakum, merupakan lapisan terluar, tipis, gelap dan tersusun atas zat

tanduk.

b. Prismatik, merupakan lapisan tengah yang tebal, tersusun atas kristal-

kristal CaCO3 berbentuk prisma.

c. Nakreas, merupakan lapisan terdalam disebut juga lapisan mutiara,

tersusun atas kristal CaCO yang halus dan berbeda dengan kristal-kristal

pada lapisan prismatik. Perbedaan yang khas dari cangkang dapat menjadi

petunjuk identifikasi sampai ke tingkat jenis. Permukaan cangkang,

lekukan dan tonjolan yang tersusun sedemikian rupa sehingga terbentuk

suatu bangunan seperti kipas.

Hewan kelas pelecypoda termasuk kerang, tiram, remis dan sebangsanya.

Biasanya bilateral simetris, mempunyai cangkang setangkup dan sebuah mantel

yang berupa dua daun telinga atau kuping. Karena cangkang disebut tangkup

(valve) dan jumlahnya dua maka kelas ini dinamakan Bivalvia. Bentuk

cangkangnya digunakan untuk identifikasi (Romimohtarto dan Sri, 2001). Untuk

lebih jelasnya morfologi Bivalvia dapat dilihat pada Gambar 12.

20
Gambar 12. Morfologi Bivalvia

Pergerakan Bivalvia dibantu oleh kaki di antara valves yang melebar atau

mengait pada dasar material dengan mekanisme tarik ulur dan kontraksi otot.

Aktivitas ini diaktivasi dari keluar masuknya darah ke dalam sinus otot-otot kaki

(Nybakken et al., 1982). Selanjutnya menurut (Robet et al, 1982 dalam Syafikri

2008 ) Bivalvia tidak memiliki kepala dan mata di dalam tubuhnya. Bivalvia

terdiri dari tiga bagian utama yaitu kaki, mantel dan organ dalam. Kaki dapat

ditonjolkan di antara dua cangkang tertutup, bergerak memanjang dan memendek

berfungsi untuk bergerak. Untuk lebih jelasnya anatomi Bivalvia dapat dilihat

pada Gambar 13.

Gambar 13. Anatomi Bivalvia

2.3.2. Habitat Bivalvia

Dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidupnya, makhluk hidup

berinteraksi dengan lingkungan dan cenderung untuk memilih kondisi

lingkungan serta tipe habitat yang terbaik untuk tetap tumbuh dan

berkembangbiak.

21
Salah satu indikasi yang menunjukkan tidak cocoknya suatu habitat bagi

biota adalah rendahnya kelimpahan biota tersebut pada suatu area ataupun

ketidakmampuannya berdistribusi mencapai area tersebut (Dodi, 1998).

Pada umumnya Bivalvia hidup membenamkan dirinya di dalam pasir atau

pasir berlumpur dan beberapa jenis di antaranya ada yang menempel pada benda-

benda keras dengan menggunakan byssus atau sifon (Kastoro, 1988).

Selanjutnya menurut Nontji (1987) Bivalvia hidup menetap di dasar laut

dengan cara membenamkan diri di dalam pasir atau lumpur bahkan pada karang-

karang batu. Akan tetapi pada beberapa spesies Bivalvia seperti Mytillus edulis

dapat hidup di daerah intertidal karena mampu menutup rapat cangkangnya

untuk mencegah kehilangan air (Nybakken, 1992).

Menurut kebiasaan hidupnya, pelecypoda digolongkan ke dalam kelompok

makrozobentos dengan cara pengambilan makanan melalui penyaringan zat-zat

tersuspensi yang ada di dalam perairan atau filter feeder (Heddy, 1994).

Makanan berupa organisme atau zat-zat terlarut yang ada di dalam air yang

diperoleh melalui tabung sifon dengan cara memasukkan air ke dalam sifon dan

menyaring zat-zat terlarut. Makin dalam kerang membenamkan diri makin

panjang sifonnya (Yasin, 1987 dalam Nontji, 1987). Selanjutnya Nybakken

(1992) mengklasifikasikan Bivalvia ke dalam kelompok pemakan suspensi,

penggali dan pemakan deposit. Oleh karena itu jumlahnya cenderung melimpah

pada sediment lumpur dan sediment lunak.

Di daerah intertidal kehidupan pelecypoda dipengaruhi oleh pasang surut.

Adanya pasang surut menyebabkan daerah ini kering dan faunanya terkena udara

terbuka secara periodik. Bersentuhan dengan udara terbuka dalam waktu lama

merupakan hal yang penting, karena fauna ini berada pada kisaran suhu terbesar

22
akan memperkecil kesempatan memperoleh makanan dan akan mengalami

kekeringan yang dapat memperbesar kemungkinan terjadinya kematian. Oleh

karena itu perlu melakukan adaptasi untuk bertahan hidup dan harus menunggu

pasang naik untuk memperoleh makanan. Bivalvia dapat mati bila kehabisan air

yang disebabkan oleh meningkatnya suhu. Gerakan ombak berpengaruh pula

terhadap komunitasnya dan harus beradaptasi dengan kekuatan ombak.

Perubahan salinitas turut juga mempengaruhinya, ketika daerah ini kering oleh

pasang surut kemudian digenangi air atau aliran air hujan salinitasnya akan

menurun. Kodisi ini dapat melewati batas toleransinya dan akan mengakibatkan

kematian (Nybakken, 1992).

Menurut (Sumich, 1992) berdasarkan habitatnya Bivalvia dapat

dikelompokkan ke dalam:

a) Bivalvia yang hidup di perairan mangrove.

Habitat mangrove ditandai oleh besarnya kandungan bahan organik,

perubahan salinitas yang besar, kandungan oksigen yang minimal dan kandungan

H2S yang tinggi sebagai hasil penguraian sisa bahan organik dalam lingkungan

yang miskin oksigen. Contoh jenis Bivalvia yang hidup di daerah mangrove;

Oatrea spesies dan Gleonia cocxans.

Menurut (Nybakken, 1982 dalam Hari, 1999) Bivalvia merupakan

kelompok kedua dari moluska yang menempati hutan mangrove. Tiram adalah

Bivalvia dominan dan melekat pada akar-akar mangrove. Bivalvia mempunyai

adaptasi khusus untuk dapat bertahan hidup di lingkungan hutan mangrove yang

sering mengalami perubahan salinitas secara ekstrem. Salah satu bentuk adaptasi

untuk melindungi hewan tersebut jika terjadi hujan deras atau aliran air tawar

yang berlebihan adalah dengan cara menutup cangkang.

23
b) Bivalvia yang hidup di perairan dangkal

Bivalvia yang hidup di perairan dangkal dikelompokkan berdasarkan

lingkungan tempat di mana mereka hidup antara lain; hidup di garis pasang

tinggi, hidup di daerah pasang surut dan yang hidup di bawah garis surut

terendah sampai kedalaman 2 meter. Contoh jenis yang hidup di daerah ini

adalah; Vulsella sp, Osterea sp, Maldgenas sp, Mactra sp dll.

c) Bivalvia yang hidup di lepas pantai

Habitat lepas pantai adalah wilayah perairan sekitar pulau yang

kedalamannya 20-40 meter. Jenis Bivalvia yang ditemukan di daerah ini seperti;

Plica sp, Chalamis sp, Amussium sp, Pleuronectus sp, Malleu albus, Solia sp,

Pinctada maxima dll (Sumich,1992)

2.4. Habitat dan Penyebaran

Gastropoda dan Bivalvia termasuk binatang yang sangat berhasil

menyesuaikan diri untuk hidup dibeberapa tempat dan cuaca. Gastropoda dan

bivalvia dapat hidup di lautan mulai dari zona littoral sampai kelautan lepas,

termasuk didalamnya hutan mangrove, padang lamun dan terumbu karang.

sebagaian besar kelas gastropoda dan bivalvia yang hidup dilaut ditemukan pada

zona littoral dan daerah pasang surut. Setiap jenis gastropoda dan bivalvia

mempunyai ciri khusus sesuai dengan habitatnya.

Daerah intertidal umumnya menjadi habitat utama dari gastropoda dan

bivalvia karena memiliki variasi faktor lingkungan dengan jenis habitat berpasir,

pasir berbatu dan pasir berlumpur. Menurut Nybakken (1992) dilihat dari struktur

substrat dan bahan penyusun pantai intertidal di bedakan atas 3 jenis, yaitu :

24
a) Pantai Berpasir

Pantai pasir intertidal umum terdapat di seluruh dunia dan lebih terkenal

dari pada pantai berbatu, karena pantai pasir ini merupakan tempat yang dipilih

untuk melakukan berbagai aktivitas rekreasi.

b) Pantai Berlumpur

Pantai berlumpur tidak dapat berkembang dengan hadirnya gerakan

gelombang. Karena itu, pantai berlumpur hanya terbatas pada daerah intertidal

yang benar-benar terlindung dari aktivitas gelombang laut terbuka. Kelompok

makro fauna yang dominan di daerah pantai berlumpur ini sama dengan yang

terdapat di pantai pasir yaitu berbagai jenis gastropoda dan bivalvia tetapi dengan

jenis yang berbeda tipe cara makan yang dominan di dataran lumpur adalah

pemakan deposit dan pemakan bahan yang melayang (suspemi) sama halnya

seperti pantai pasir.

c) Pantai Berbatu

Daerah ini tersusun dari bahan kertas dan merupakan dasar paling padat

makro organismenya dan mempunyai keanekaragaman besar, baik spesies hewan

maupun spesies tumbuhan. Hamparan tumbuhan vertikal pada zona intertidal

berbatu sangat beragam, tergantung pada kemiringan permukaan berbatu, kisaran

pasang surut, dan keterbukaannya terhadap gerakan ombak. Keterangan yang

paling jelas mengenai terjadinya zona ini adalah bahwa zona-zona tersebut

terbentuk dari hasil kegiatan pasang surut di pantai dan oleh karena itu

mencerminkan perbedaan toleransi organisme terhadap peningkatan keterbukaan

terhadap udara dan hasilnya adalah kekeringan dan suhu yang ekstrim. Faktor

biologis yang utama adalah persaingan, pemangsa, dan grazing (herbivora).

25
2.5. Struktur Komunitas

Komunitas merupakan kumpulan populasi yang hidup pada suatu

lingkungan habitat tertentu dan saling berinteraksi. Komunitas dapat di bedakan

menjadi komunitas mayor dan komunitas minor. Komunitas mayor adalah

komunitas yang tidak bergantung pada komunitas lain serta dapat menyokong

komunitasnya menjadi ekosistem yang mandiri pada suatu habitat. Komunitas

minor adalah komunitas di dalam atau di luar komunitas mayor, yang bergantung

pada komunitas lain di dekatnya. Komunitas merupakan suatu konsep penting

karena di alam berbagai spesies organisme hidup bersama dalam suatu aturan dan

apa yang dialami oleh komunitas akan dialami oleh organisme. Di alam

komunitas mempunyai struktur dan pola tertentu (Krebs 1989 dalam Ayunda,

2011).

Keanekaragaman, keseragaman dan dominansi merupakan ciri yang unik

pada suatu komunitas. Analisis mengenai keanekaragaman, keseragaman, dan

dominansi dari suatu komunitas dapat digunakan untuk memperlihatkan kekayaan

spesies suatu komunitas, serta keseimbangan jumlah setiap spesiesnya

(Soedharma, 1994). Nilai indeks keanekaragaman tergantung dari banyaknya

jumlah spesies dan keseragaman jumlah individu tiap spesies yang didapatkan.

Keseragaman menggambarkan distribusi dari setiap spesies merata atau tidak.

Menurut Brower et al, (1998), suatu komunitas dikatakan mempunyai

keanekaragaman jenis tinggi apabila komunitas tersebut disusun oleh spesies yang

banyak dan jumlah individu per spesiesnya merata. Dominansi digunakan untuk

mengetahui ada atau tidaknya spesies yang mendominansi pada suatu habitat.

Nilai indeks dominansi berkisar antara 0-1, dengan nilai yang mendekatu 0

menunjukan bahwa tidak adanya spesies yang mendominansi dan umumnya

26
diikuti dengan indeks keseragaman yang tinggi. Jika nilai dominansi mendekati 1,

maka ada spesies yang mendominansi dan umumnya indeks keseragamannya

rendah. Dominansi yang tinggi mengarah pada komunitas yang labil dan kondisi

habitat yang tertekan (Magurran 1988 dalam Ayunda, 2011). Struktur komunitas

sangat dipengarahui oleh faktor lingkungan, yang terdiri dari faktor biotik dan

abiotik. Faktor untuk organisme bentik antaralain di pengaruhi oleh kedalaman,

suhu, salinitas, jenis sedimen dan materi organik, sedangkan faktor biotik antara

lain flora dan fauna yang dijadikan sebagai sumber makanan bagi organisme

bentik (Sulawesty dan Badjori, 1999 dalam Ayunda, 2011).

Pulau pari terletak di daerah tropis, oleh sebab itu organisme dan

komunitas yang ada didalamnya bersifat seperti daerah tropis yaitu memiliki

jenis yang beranekaragam (Musa et.al, 1965 dalam Nunung, 2006). Berdasarkan

hasil pengamatan yang dilakukan oleh Bakri et.al, (1985) ditemukan bahwa

moluska di Pulau Pari banyak terdapat di daerah pasang surut. Hal ini

disebabkan oleh suhu yang tinggi dan zat hara yang banyak terbawa oleh pasang

surut. Pola penyebaran moluska di Pulau Pari bermacam-macam dari mulai

acak, mengelompokan dan seragam. Hal ini disebabkan oleh pengaruh keadaan

makanan dari substrat.

Dari semua moluska yang ditemukan pada habitat di Pulau Pari banyak

ditemukan adalah kelas gastropoda dan bivalvia. Hal ini disebabkan oleh

tahannya gastropoda dan bivalvia terhadap fluktuasi ekstrim akibat gelombang,

suhu, musim, dan salinitas bila dibandingkan dengan moluska lainya (Bakri

et.al, 1985 dalam Nunung, 2006).

27
2.6. Parameter Fisika Kimia Air

Fauna benthik sering terdapat dalam kelompok yang memiliki sifat yang

dikenal sebagai komunitas. Hal ini berhubungan dengan kondisi lingkungan yang

spesifik. Organisme tidak dapat hidup hanya dengan dirinya sendiri di alam, tetapi

merupakan bagian dari kumpulan spesies dari populasi yang hidpu bersama-sama.

Kehidupan organisme dalam satu ekosistem dipengaruhi oleh faktor fisika tempat

hidupnya.

Menurut Clark, (2001) bahwa suhu mempunyai pengaruh yang besar

terhadap ekosistem pesisir. Suhu merupakan faktor pembatas bagi beberapa fungsi

fisiologis hewan air seperti migrasi, pemijahan, efisiensi makanan, kecepatan

renang, perkembangan embrio dan kecepatan metabolisme. Kisaran suhu yang

masih bisa ditolerir oleh kehidupan organisme adalah antara 25-30O C.

Perubahan suhu di suatu perairan dipengaruhi oleh radiasi matahari, posisi

matahari, letak geografis, musim dan arah awan (Dahuri et al, 2004). Pada

umumnya kondisi suhu di perairan pantai lebih tinggi dari rata-raa suhu di lepas

pantai, karena pengaruh daratan melalui kontak langsung antara kedua objek

tersebut maupun sungai atau aliran air lain yang membawa run off dan material

daratan lain yang menuju laut (Ilahude dan Liasaputra, 2000).

Odum (1971) dalam Nunung (2006) menjelaskan karakter dasar suatu

perairan sangat menentukan keberadaan organisme di perairan. Faktor utama

yang menentukan penyebaran makrozoobentos adalah substrat perairan, yaitu

lumpur, pasir, tanah liat berpasir, krikil dan batu. Dan tipe substrat tersebut

menentukan terhadap komposisi jenis makrozoobentos.

Secara langsung atau tidak langsung para meter fisika dan kimia lingkungan

tersebut berpengaruh terhadap kehidupan moluska sebagai makrozoobentos. Pada

28
umumnya parameter-parameter tersebut mempengaruhi kehidupan moluska

melalui perantara habitatnya. Kondisi lingkungan moluska yang secara lansgung

mempengaruhi kehidupan moluska adalah berkaitan dengan turbiditas

(kekeruhan), salinitas, Oksigen terlarut (DO) dan pasang surut.

2.6.1. Substrat Dasar

Substrat merupakan komponen penting yang menentukan kehidupan,

keanekaragaman, dan komposisi jenis Gastropoda dan Bivalvia yang hidup di

dalamnya. Berdasarkan habitatnya, gastropoda dan bivalvia yang hidup di atas

permukaan tanah (epifauna), yang hidup meliang (infauna). Gastropoda dan

bivalvia mampu hidup pada 3 jenis substrat yang berbeda, baik dari substrat

berpasir, substrat pasir berbatu, dan substrat berlumpur. Menurut Kartawinanta et

al,. (1999) dalam Ayunda (2011), adanya perbedaan jenis substrat dan

kemampuannya beradabtasi terhadap lingkungan menyebabkan moluska

(gastropoda dan bivalvia) menyebar secara menegak dan mendatar. Sebaran

mendatar berlaku bagi jenis yang hidup pada substrat baik sebagai infauna atau

epifauna. Sebaran mendatar juga dipengaruhi oleh jarah antara daratan dengan

substrat itu sendiri. Bervariasinya faktor lingkungan menyebabkan adanya

perbedaan cara hidup dan penyebaran Gastropoda dan Bivalvia terancam punah

(Ayunda, 2011). Tingginya minat wisata masyarakat ke Pulau Pari turut

menyumbang kerusakan lingkungan.

2.6.2. Salinitas

Salinitas dapat mempengaruhi penyebaran organisme benthos baik secara

horizontal maupun vertikal. Secara tidak langsung mengakibatkan adanya

perubahan komposisi organisme dalam suatu ekosistem (Odum, 1993).

Gastropoda dan Bivalvia yang bersifat mobile mempunyai kemampuan untuk

29
bergerak guna menghindari salinitas yang terlalu rendah. Kisaran salinitas yang

optimal untuk kehidupan Gastropoda berada pada kisaran 28 34 ppm (Carley,

1988 dalam Dharmawan, 1995).

Effendi (2003) menjelaskan bahwa adanya kenaikan maupun penurunan

salinitas biasanya dipengaruhi oleh penguapan, makin besar tingkat penguapan

air laut di suatu wilayah, salinitasnya tinggi dan sebaliknya pada daerah yang

rendah tingkat penguapan air lautnya maka daerah itu rendah kadar garamnya

(makin besar/banyak curah hujan di suatu wilayah laut maka salinitas air laut itu

akan rendah dan sebaliknya makin sedikit/kecil curah hujan yang turun maka

salinitas akan tinggi), makin banyak sungai yang bermuara ke laut tersebut maka

salinitas rendah.

2.6.3. Suhu

Suhu merupakan salah satu parameter penting dalam pertumbuhan dan

perkembangan moluska. Suhu mempunyai pengaruh yang besar dalam ekosistem

pesisir karena suhu merupakan faktor pembatas bagi beberapa fungsi fisiologis

hewan air seperti migrasi, pemijahan, efisiensi makanan, kecepatan renang

perkembangan embrio dan kecepatan metabolisme. Oleh karena itu suhu

merupakan parameter penting dalam pertumbuhan dan perkembangan Gastropoda

dan Bivalvia. Kisaran suhu yang masih ditelorir.

2.6.4. pH Air

Gastropoda dan Bivalvia umumnya membutuhkan pH air antara 6,5 - 8,5

untuk kelangsungan hidup dan reproduksi (Gasper, 1990 dalam Odum, 1996).

Derajat keasaman ini digunakan untuk menggambarkan kondisi asam dan basa

suatu larutan, selain berpengaruh langsung terhadap organisme makrozoobenthos

di perairan, di pH juga berpengaruh secara tidak langsung. Klein (1962) dalam

30
Widiastuti (2001) menjelaskan bahwa jika perairan mengalami perubahan yang

mendadak sehingga nilai pH melampaui kisaran tersebut akan mengakibatkan

tekanan fisiologis biota yang hidup di dalamnya dan berakhir dengan kematian.

2.6.5. DO (Dissolved Oxygen)

Oksigen terlarut merupakan variabel kimia yang mempunyai peran

penting sekaligus menjadi faktor pembatas bagi kehidupan biota air

(Nybakken, 1992). Secara ekologis, konsentrasi oksigen terlarut juga menurun

dengan adanya penambahan bahan organik, karena bahan organik tersebut akan

diuraikan oleh mikroorganisme yang mengkonsumsi oksigen yang tersedia.

Pada tingkatan jenis, masing-masing biota mempunyai respon yang berbeda

terhadap penurunan oksigen terlarut.

Kekurangan oksigen dapat diatasi tumbuhan mangrove dengan

beradaptasi melalui sistem perakaran yang khas. Kekurangan oksigen juga

dipenuhi oleh adanya lubang-lubang dalam tanah yang dibuat oleh hewan.

Konsentrasi oksigen terlarut untuk kehidupan Gastropoda berada pada kisaran

5 - 8mg/L (Odum, 1996).

31
BAB III
MATERI DAN METODE

3.1 Alat dan Bahan


A. Alat-alat yang digunakan pada penelitian (Tabel 1) adalah :
Tabel 1. Alat yang digunakan dalam penelitian
No Alat Kegunaan
1. Transek Kuadran (1x1 m) Alat pembatas pengambilan sampel
2. Buku Identifikasi :
a. Siput dan Kerang
Indonesia 1 dan 2
(Dharma 1988 dan
Mengidentifikasi jenis sampel
1992)
b. Recent And Fossil
Indonesia Shells
(Dharma 2005)
3. Ayakan (siever) Mensortir sampel yang diambil
4. Sekop besar Mengambil substrat dasar
5. Sekop kecil Mengaduk sampel di ayakan
6. Plastik 1 kg Sebagai tempat menyimpan sampel
7. Spidol Permanen Untuk memberi tanda pada plastik sampel
8. Karet gelang Mengikat plastik sampel
9. Sarung tangan Melindungi tangan saat pengambilan sampel
10. Tali bersekala Sebagai penanda area sampling
11. Nampan Tempat untuk mengidentifikasi sampel
12. Alat Skin diving Alat bantu saat pengambilan sampel
13. Camera Digital Fisualisasi area sampling dan Identifikasi sampel

B. Bahan yang digunakan pada penelitian (Tabel 2) adalah :


Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam penelitian
No Bahan Kegunaan
1. Sampel Gastropoda dan Bivalvia Objek pengamatan
2. Substrat Objek pengamatan habitat
3. Air Laut Objek Pengamatan
3. Alkohol 70% Bahan pengawet sampel spesimen

3.2. Penentuan Lokasi


Penentuan lokasi penelitian di lakukan berdasarkan literatur dan survei

lapang yaitu di Pulau Pari, Kepulauan Seribu- Jakarta. Berdasarkan literatur Pulau

Pari merupakan gugusan Kepulauan Seribu yang memiliki keanekaragaman jenis

32
Gastropoda dan Bivalvia. Pulau Pari dapat ditempuh dengan menggunakan kapal

ferry selama 3 jam dari Pelabuhan Muara Angke. Pulau Pari terletak pada posisi

05 50 00 dan 05 25 00 LS dan 106 34 30 dan 106 38 20 BT (Gambar 12)

dengan hamparan pantai berpasir yang dikelilingi ekosistem lamun, trumbu

karang dan mangrove. Posisinya dikelilingi oleh banyak pulau, serta karakter

ombak yang tidak besar menjadikan Pulau Pari sebagai Pulau yang memiliki

keanekaragaman moluska yang cukup tinggi (Ariestika, 2006).

Gambar 12. Pulau Pari, Kepulauan Seribu

3.3. Menentukan Stasiun

Berdasarkan survei dilapangan, pemilihan stasiun penelitian berdasarkan

substrat yang berbeda. Pada stasiun I terletak di sebelah selatan pulau, substrat

dasarnya adalah berpasir, pada stasiun II terletak di sebelah selatan pulau 800 m

dari stasiun I, substrat dasarnya pasir berbatu atau berkarang sedangkan pada

stasiun III terletak di sebelah barat pulau, dekat dengan ekosistem mangrove dan

substratnya adalah pasir berlumpur.

33
3.4. Metode Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel gastropoda dan bivalvia dilakukan dengan

menggunakan metode transek garis (line transek) (Mujiono, 2001). Penentuan

area sampling dilakukan dengan menarik tali berskala dari bibir pantai tegak lurus

ke arah tubir sepanjang 100 m. Pada setiap line transek dibuat plot dengan

menggunakan transek kuadran paralon berukuran 1 x 1 meter. Transek kuadran

diletakan pada tali berskala dengan jarak antara plot satu dengan transek

berikutnya adalah 10 m (Gambar 14). Pringle (2004) menyatakan Semua jenis

gastropoda dan bivalvia yang berada didalam transek kuadran dimasukan ke

plastik sampel dan diberi kode Lokasi (L), Stasiun (S), dan Transek (T) .

Kemudian dicatat jumlah dan jenis individunya Pengambilan sampel dilakukan

pengulangan 3 kali pada setiap stasiun penelitian, Selanjutnya sampel

diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi Dharma (1988; 1992) dan

Dharma (2005). Data yang dicatat meliputi jumlah individu masing-masing

spesies pada setiap kuadran.

Line Transek
Stasiun III

100m
Stasiun II
PANTAI

1
Stasiun I

Gambar 14. Skema Pengambilan Sampel penelitian di Pulau Pari

34
3.5 Parameter Penelitian

Parameter yang diteliti antara lain keanekaragaman (H), Keseragaman (E),

Dominansi (D) dan kualitas fisika kimia air.

a. Indeks Keanekaragaman (Shannon - Weiner)

Keanekaragaman spesies dapat dikatakan sebagai heterogenitas spesies dan

merupakan ciri khas struktrus komunitas. Rumus Shannon-Wiener dalam Krebs

(1989) yang dihitung dengan menggunakan persamaan :

s
H= -
i 1
( Pi ln )

Keterangan :

H = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener


Pi = ni/N
ni = Jumlah individu tiap spesies ke-i
S = Jumlah Spesies
N = Jumlah total individu semua spesies

b. Indeks Keseragaman

Keseragaman merupakan komposisi individu tiap spesies yang terdapat

dalam komunitas (Krebs, 1989) yaitu :


E=

Keterangan :

E = Indeks Keseragaman
H = Indeks keanekaragaman
H maks = Indeks keanekaragaman maksimum (ln S)
S = Jumlah jenis

35
c. Indeks Dominansi

Menurut Ludwig dan Reynolds, (1988) menyatakan rumus yang digunakan

untuk menghitung dominansi adalah sebagai berikut :


= ()2
=1

Keterangan :

D = Indeks Dominansi
ni = Jumlah individu dari spesies ke-i
N = Jumlah total individu
S = Jumlah spesies
d. Parameter Fisika- Kimia
Suhu

Pengukuran suhu air dilakukan pada pengukuran langsung dilapangan.

Dengan cara mencelupkan termometer pada air laut, kemudian tunggu 15

menit sampai air raksa naik dan berhenti, dan kemudian catat nilai skala yang

ditunjukan oleh raksa.

Salinitas

Pengukuran salinitas dibantu dengan alat salino meter yang dilakukan di

lapangan. Dengan cara meneteskan air laut kedalam view meter kemudian catat

nilai yang muncul pada alat salino meter.

pH

pengukuran pH dilakukan dengan mengunakan kertas lakmus yang di

masukan kedalam air laut. Kemudian diamkan 5 menit sehingga menunjukan

hasil pH perairan dan cocokan pada pH meter kemudian catat nilai yang

menunjukan hasil pH perairan.

36
DO

Pengukuran DO dilakukan langsung dilapangan. Pengukuran dilakukan

pada siang hari saat matahari membantu proses foto sintesis di perairan. Cara

kerjanya adalah dengan memasukan alat DO meter ke dalam air laut, kemudian

catat nilai yang muncul pada DO meter.

Kedalaman

Pengukuran kecerahan dilakukan dilapangan dengan menggunakan

secchi disk yang dimasukan kedalam air laut hingga bagian disk menyentuh

dasar. Kemudian catat nilai yang menunjukan kecerahan perairan.

Substrat

Pengukuran substrat dasar dilakukan dengan melakukan survei dan dapat

langsung menentukan jenis substrat di lapangan. Dengan cara mengambil sekitar

10-20 cm substrat untuk menentukan jenis dari substrat tersebut.

3.6 Waktu dan Tempat


Pengambilan sampel dilapangan dilaksanakan pada bulan Juni 2017.

Berlokasi di Pulau Pari, Kepulauan seribu. Sampel gastropoda dan bivalvia yang

di dapat kemudian di identifikasi jenisnya di Lab. Moluska P2O LIPI, Jakarta.

3.7 Analisis Data

Data yang diperoleh dari hasil penelitian berupa jumlah dan jenis

gastropoda dan bivalvia serta parameter perairan pada setiap stasiun pengamatan

dimasukan dalam tabulasi data. Data jenis disajikan dalam bentuk tabel dan

grafik selanjutnya dianalisis secara deskriptif (Riniatsih dan Kushartono, 2009).

Untuk mengetahui adanya perbedaan stuktur komunitas gastropoda dan

bivalvia antar stasiun dilakukan dengan Anova. Jika terdapat perbedaan yang

37
nyata (P<0,05) pada struktur komunitas antar stasiun, maka akan di lakukan uji

lanjut dengan uji Tukey dengan software SPSS 16.

38