Anda di halaman 1dari 13

Sejarah Perkembangan Astronomi

I. Pengantar

Dalam tulisan ini kita akan melihat sejarah perkembangan astronomi


sebelum abad ke-16 sampai abad ke-19. Tulisan ini merujuk kepada tulisan
Craig G. Fraser khususnya pada bab 8 "Stellar Astronomy: The Universe Beyond
The Solar System" dalam bukunya yang berjudul "The Cosmos: A Historical
Perspective". Tulisan ini akan mencoba menjelaskan bagaimana Fraser
memperlihatkan sejarah perkembangan astronomi dari tingkat sederhana sampai
kepada tingkat yang lebih rumit. Dalam sejarah perkembangan astronomi ini kita
akan melihat bagaimana instrument yang satu akan melahirkan instrument yang
lainnya. Perubahan ini terjadi akibat keinginan para astronom untuk menjelaskan
dengan lebih rinci fenomena yang ada di luar angkasa.

Untuk dapat menjelaskan sejarah perkembangan astronomi, maka tulisan


ini akan dibagi menjadi lima sub-bab, yaitu: 1. Alam Semesta Yang Semakin
Luas yang akan menunjukkan bagaimana alam semesta dilihat sebelum dan
sesudah abad ke-16; 2. Perubahan Makna Bintang Dalam Sejarah Astronomi
yang akan menunjukkan perubahan-perubahan makna bintang sebelum abad
ke-16 sampai abad ke-18; 3. Pesan Cahaya Dari Luar Angkasa Kepada
Astronom di Bumi yang akan menunjukkan seperti apa itu rambatan cahaya
bintang/satelit; 4. Kecacatan Hipotesis Yang Membuka Dimensi Baru Dalam
Astronomi yang akan menunjukkan munculnya pengakuan terhadap astronomi
yang mengkaji bintang-bintang di dunia sains; 5. Perkembangan Astronomi Di
Abad Ke-19 yang akan menunjukkan terjadinya peleburan astronomi dengan
ilmu yang lain (seperti fisika) untuk menemukan jawaban yang lebih baik atas
fenomena di luar angkasa.

II. Alam Semesta Yang Semakin Luas


Sebelum abad ke-16 model alam semesta kita dapatkan dari hipotesis
planet Ptolemeus atau sumber-sumber arab dan latin yang ada. Menurut Fraser
"Pertama-tama dimensi Ptolemeus dimulai dengan perhitungan jari-jari bumi
menggunakan metode Eratosthenes, dipadukan dengan pengukuran jarak ke
bulan yang diperoleh dari nilai paralaks[1] setiap harinya."[2] Berdasarkan
metode Eratosthenes kemudian Ptolemeus membentuk model alam semestanya
sebagai berikut: "Urutan benda-benda langit dari bumi adalah bulan, merkurius,
venus, matahari, mars, jupiter, saturnus, dan sekumpulan bintang-bintang yang
tidak berubah (sphere of the fixed stars)." (CPH, 73) Dalam model alam
semestanya Ptolomeus menunjukkan dimensi antara planet yang satu dengan
yang lain itu sama, dan jarak antara bintang-bintang dengan saturnus y.i. "20,
000 jari-jari bumi. (bintang terdekat dengan bumi saat ini diketahui berada di
jarak lebih dari 6,000,000,000 jari-jari bumi)."(CPH, 73)

Hipotesis Ptolomeus tentang dimensi planet-planet yang sama akan


dipatahkan oleh Copernicus. Menurut Fraser, "Lahirnya sistem Copernican
mengakibatkan perombakan total terhadap dimensi planet yang sejak saat itu
dimensi dari seluruh sistem ini ditentukan oleh geometri di mana jarak dari bumi
ke matahari disajikan." (CPH, 73) Sistem yang diajukan oleh Copernicus telah
membawa kita kepada kenyataan baru bahwa dimensi tiap-tiap planet berbeda-
beda. Ukuran dimensi yang ada di dalam sistem Copernican relatif sama dengan
perhitungan modern, tetapi mengenai jarak absolut antara planet-planet
Copernicus gagal. Fraser menunjukkan kegagalan perhitungan sistem
Copernican dalam jarak absolut antar planet sebagai berikut: "jarak rata-rata
dari matahari ke bumi dalam jari-jari bumi dihitung dengan sistem Copernicus
menjadi 1,142, tetapi dengan perbandingan yang sama nilai yang sebenarnya
(dalam perhitungan modern) adalah 23,466." (CPH, 74)

Pada dasarnya apa yang sesungguhnya ditemukan oleh Copernicus di


dalam sistem Copernicannya bukan hanya ukuran dimensi planet-planet ataupun
jarak antara planet-planet, tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah
astronomi Copernicus telah membuat "alam semesta menjadi tempat yang luar
biasa besar yang tak terbatas..." (CPH, 74). Pandangan astronomi Copercinus
yang melihat alam semesta yang sangat luas itu, telah membuat generasi
berikutnya mencari jarak sesungguhnya planet-planet. Usaha pencarian jarak
sesungguhnya dari planet-planet tersebut telah membuat para astronom
melahirkan instrument-instrument baru seperti teleskop, mikrometer, dan
kuadran untuk mendapatkan jarak antara planet-planet yang lebih akurat.
Dengan menggunakan ketiga instrument tersebut para astronom menemukan
sebuah kenyataan y.i. "diameter planet tentu jauh lebih kecil dari pada
pandangan tradisional yang mengklaim bahwa planet berada di jarak yang jauh
lebih besar." (CPH, 74) Diameter planet yang jauh lebih kecil memberi asumsi
bahwa perhitungan tradisional mengenai jarak antara planet-planet kurang
akurat.

III. Perubahan Makna Bintang Dalam Sejarah Astronomi

Pada bagian sebelumnya kita telah melihat bagaimana cara pandang


alam semesta yang berubah dari alam semesta yang terbatas menjadi alam
semesta yang tidak terbatas. Perubahan cara pandang alam semesta ini telah
membuat para astronom mencari jarak absolut antara planet-planet di dalam
sistem matahari. Pencarian jarak tersebut telah menciptakan tiga instrument
yang akan mempengaruhi perkembangan astronomi ke depan. Misalnya saja
penemuan teleskop yang memberi jalan baru untuk mengamati alam semesta
yang jauh lebih baik dari pada mata telanjang, sehingga kita dapat melihat lebih
rinci pergerakan planet-planet yang ada ataupun bintang-bintang yang tidak
terjangkau oleh mata telanjang.

Penemuan teleskop tidak hanya memindahkan fokus pengamatan dari


alam semesta yang terbatas kepada alam semesta yang tidak terbatas.
Kehadiran teleskop sebagai instrument yang sangat penting dalam astronomi
pada akhirnya membawa astronomi ke dunia yang baru. Sebuah dunia yang
tidak hanya berpusat kepada planet-planet yang ada di alam semesta khususnya
di dalam sistem matahari, tetapi juga kepada cara pandang baru tentang
bintang-bintang. Cara pandang baru tentang bintang-bintang di dalam astronomi
dapat kita lihat dari perubahan pemaknaan bintang di dalam sejarah.

Menurut Fraser, "Sejak dahulu kala sampai abad ke-16 masehi bintang-
bintang dimengerti sebagai sesuatu yang tetap/tidak berubah (fixed)...Tidak
seperti planet-planet, bintang merupakan subjek yang tak memiliki gerak revolusi
(respect) antara yang satu dengan yang lain." (CPH, 75) Dalam pandangan
jaman ini kita dapat melihat bahwa bintang merupakan sesuatu yang berada di
luar sistem tata surya, karena tidak seperti planet-planet yang melakukan gerak
revolusi antara yang satu sama lain, maka bintang merupakan sesuatu yang
tidak bergerak karena tidak melakukan gerak revolusi antara yang satu dengan
yang lain.

Namun, pada abad yang sama tepatnya setelah tersebarnya


"Copernicus's Revolution" bintang-bintang mulai dilihat dengan cara berbeda.
Pada abad tersebut bintang merupakan "objek bercahaya yang tersebar di alam
semesta. Sebuah objek yang mirip seperti matahari hanya saja letaknya lebih
jauh dari matahari." (CPH, 76) Dalam pandangan di jaman ini bintang masih
tetap dianggap sebagai sesuatu yang tidak bergerak atau tidak memiliki gerak
revolusi dan terpisah dari sistem tata surya. Perbedaan dari jaman sebelumnya
adalah pengakuan bahwa bintang merupakan sesuatu yang mirip seperti
matahari dan bintang-bintang memiliki konstelasi standardnya masing-masing.

Pengakuan bintang sebagai sesuatu yang mirip seperti matahari menjadi


sangat penting untuk perkembangan astronomi di abad selanjutnya (Abad ke-
18). Pada awal abad ke-18 seorang astronom Inggris yang bernama Edmund
Halley (1656-1742) menyatakan, "...jika pada kenyataanya bintang merupakan
sesuatu (objects) yang mirip dengan matahari, maka bintang-bintang seharusnya
memiliki gerak revolusi di dalam sistem tata surya (solar system) seperti
matahari dan planet-planet yang bergerak dalam revolusi antara yang satu
dengan yang lain." (CPH, 76) Dalam pandangan jaman ini kita dapat melihat
perubahan drastis pemaknaan bintang-bintang yang sebelumnya hanya sebuah
objek yang tidak bergerak menjadi objek yang memiliki gerak.

Menurut Fraser untuk membuktikan hipotesisnya tetang bintang-bintang,


maka "Halley mulai berkonsentrasi kepada tiga bintang yang paling besar y.i.
Arcturus, Sirius, dan Aldebaran." (CPH, 76) Halley mencoba melihat posisi
ketiganya pada saat itu dan mulai membandingkannya dengan catatan-catatan
kuno tentang posisi ketiganya. Berdasarkan perbandingan dari catatan-catatan
kuno dengan posisi ketiga bintang pada tahun 1718 ditemukan bahwa posisi
ketiganya telah berubah. Untuk Fraser penelitian yang dilakukan oleh Halley
merupakan, "pengamatan bintang yang memiliki gerak revolusi terhadap sistem
matahari yang disebut gerak yang seharusnya (proper motion)" (CPH, 76)
Berdasarkan "gerak yang seharusnya" yang dikembangkan oleh Halley, kita
mulai melihat perubahan fokus pengamatan dari planet-planet kepada bintang-
bintang.

Halley telah membawa astronomi kepada tingkat yang berbeda dari


sebelumnya. Terlebih lagi penemuan Halley tentang "gerak yang seharusnya" di
masa mendatang akan menjadi "dasar dari metode yang disebut statistika
paralaks berdasarkan jarak antara bintang-bintang (statistical parallax for
determining distances to stars)." (CPH, 76) Dari sini kita dapat melihat tanda-
tanda dari kelahiran astronomi yang mengkaji bintang-bintang (Stellar
Astronomy). Sebuah pertanda yang menunjukkan semakin banyaknya cabang-
cabang astronomi yang mana sebelumnya hanya mengamati alam semesta
yang tetap, secara perlahan-lahan mulai berubah kepada alam semesta yang tak
terbatas sampai kepada pengamatan atas bintang-bintang yang lebih mendalam.

IV. Pesan Cahaya Dari Luar Angkasa Kepada Astronom di Bumi

Pada bagian sebelumnya kita telah melihat perubahan makna bintang


yang terjadi dari masa ke masa. Perubahan makna ini telah membawa bintang
menjadi subjek penelitian yang sangat menarik. Sekarang kita akan melihat
penelitian yang akan membantu perkembangan astronomi yang mengkaji
bintang-bintang yang dilakukan pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18.
Sebuah penelitian yang mencari penjelasan tentang bagaimana cahaya
(bintang/satelit) bisa sampai ke bumi.
Oleh karena itu, pada bagian ini kita akan melihat dua ahli astronomi
bernama Olaf Roemer (1644-1710) dan James Bradley (1693-1762) yang
meneliti rambatan cahaya (transmission of light). Olaf Roemer dalam
penelitiannya tentang rambatan cahaya ingin mengetahui mengapa cahaya dari
satelit Jupiter dapat menghilang dan muncul kembali beberapa jam kemudian.
Dalam penelitiannya Roemer menemukan kenyataan bahwa "cahaya merambat
dengan kecepatan terbatas melalui ruang." (CPH, 77) Penemuan ini didasarkan
pada waktu revolusi satelit Jupiter yang berbeda-beda, sehingga jarak antara
Jupiter dan Bumi dalam mengitari matahari menyebabkan waktu rambatan
cahaya menjadi bervariasi. Menurut Fraser, Roemer berdasarkan penelitiannya
terhadap satelit-satelit jupiter khususnya satelit Jovian memperkirakan kecepatan
ramabatan cahaya "sekitar 200.000 Kilometer per detik." (CPH, 77-78)

Penemuan Roemer ini sulit diterima oleh para astronom yang lain, karena
hipotesisnya tersebut menunjukkan bahwa cahaya memiliki kecepatan yang
terbatas bertentangan dengan hipotesis Rene Descartes yang menunjukkan
bahwa cahaya ditularkan secara cepat. Menurut Fraser, "Rene Descartes
menyamakan transmisi cahaya dari sebuah sumber ke mata dengan sensasi
rambatan (transmission of sensation) dari ujung sebuah tongkat ke tangan yang
memegang tongkat. Dia yakin bahwa sensasi rambatan ini terjadi seketika
karena didukung dengan analogi bahwa transmisi cahaya juga terjadi seketika."
(CPH, 77) Selain itu, diragukannya hipotesis Roemer karena dirinya
memasukkan data gerhana satelit Jovian di dalam perhitungannya. Namun,
dikemudian hari setelah pengumpulan data tentang satelit Jovian sempurna
hipotesis Roemer secara umum dapat diterima.

Selanjutnya kita akan melihat hasil penelitian yang dilakukan oleh


Bradley. Dalam penelitian Bradley tentang perambatan cahaya terbatas (finite
propagation of light) yang memfokuskan diri kepada penemuan cahaya bintang
di dalam peredaran bumi dengan matahari. Menurut Fraser, "Bradley berharap
untuk dapat menemukan paralaks tahunan dari bintang sigma Draconis yang
akan tetap ada selama bumi beredar mengelilingi matahari..." (CPH, 78)
Penelitian Bradley terhadap Sigma Draconis di dalam kontelasi Draco
membawanya kepada sesuatu yang disebutnya sebagai "penyimpangan
bintang" (stellar aberration).

Menurut Fraser, Bradley menemukan empat penyimpangan dalam


sebuah bintang y.i. "1. Kecepatan Cahaya; 2. Kecepatan bumi dalam
peredaranya; 3. Posisi bintang yang terkait dengan bidang orbit bumi; 4. posisi
bumi dalam peredarannya." (CPH, 78) Berdasarkan empat penyimpangan
bintang ini, Bradley ingin menunjukkan alasan terjadinya menghilangnya satu
bintang dalam sebuah konstelasi bintang. Pada dasarnya bukan bintangnya
yang menghilang tetapi posisi melihat kita yang kurang tepat untuk melihat
bintang tersebut. Oleh karena itu, Bradley menyadari semua pengamatan
bintang harus diperbaiki mengingat adanya "penyimpangan bintang", sehingga
kita dapat memperhitungkan penyimpangan bintang yang terjadi setiap
tahunnya.

Penelitian Bradley tentang perambatan cahaya terbatas di masa


mendatang (abad ke-20) akan membawa kita kepada sebuah kenyataan baru y.i.
"saat kita mengamati bintang-bintang di luar angkasa, maka kita akan melihat
kembali masa lalu. Oleh karena itu, bila sebuah bintang memiliki jarak sepuluh
tahun cahaya dari bumi, maka kita melihat bintang ini dalam keadaan sepuluh
tahun yang lalu." (CPH, 78) Berdasarkan perambatan cahaya terbatas bintang-
bintang yang kita lihat saat ini bukanlah bintang yang berada dalam kondisi saat
ini. Dengan kata lain, semakin jauh bintang yang kita amati, maka semakin muda
bintang tersebut. Sebab, cahaya bintang tersebut memerlukan perjalanan yang
cukup lama untuk sampai kehadapan kita.

V. Kecacatan
Pada bagian sebelumnya kita sudah melihat bagaimana dua astronom
berhasil meneliti rambatan cahaya. Dalam penelitian keduanya kita dapat
menyimpulkan bahwa cahaya memiliki kecepatan yang terbatas, sehingga
semakin jauh jarak bintang/satelit dari bumi, maka semakin lama cahayanya
sampai ke bumi. Hal ini dapat dibuktikan dari empat penyimpangan dalam
sebuah bintang yang dijelaskan oleh Bradley. Keberhasilan-keberhasilan
penelitian ini memang membawa astronomi berkembang menjadi sebuah kajian
ilmu yang lebih kompleks.

Namun, astronomi yang mengkaji bintang-bintang di abad ke-18 masih


belum dapat diperhitungkan di dalam dunia sains. Sebab, astronomi yang
mengkaji bintang-bintang masih belum digarap dengan serius dan belum
memiliki program penelitian yang memiliki dasar sistematik. Astronomi yang
mengkaji bintang-bintang mulai dikaji dengan serius baru pada akhir abad ke-18
oleh William Herschel (1738-1822).

Menurut Fraser, Herschel merupakan pelopor penggunaan metode


statistika, dan mengenali bintang-bintang ganda atau lebih sebagai sistem fisik
yang dikaitkan dengan gravitasi. (CPH, 82) Dari sini kita dapat melihat bahwa
Herschel mempunyai peran penting di dalam astronomi yang mengkaji bintang-
bintang, karena dirinya telah membawa metode baru dalam astronomi yang
mengkaji bintang-bintang dan mengembangkan subjek kajian dari dua dimensi
(seperti pengamat di bumi dengan bintang yang diamati) menjadi tiga dimensi
(seperti pengamat di bumi dengan bintang yang diamati, ditambah dengan
dampak dari gravitasi terhadap relasi bintang yang satu dengan bintang yang
lainnya.)

Keberhasilan Herschel itu didapatkannya dari penelitian tentang bintang


ganda. Menurut Fraser, "Bintang ganda menjadi subjek yang menarik, karena
bintang ganda terlihat menawarkan kepada para peneliti cara paling efektif untuk
mengukur paralaks bintang." (CPH, 80) Herschel yang termotivasi untuk
menemukan jarak bintang-bintang membawanya kepada pembuatan katalog
tentang bintang ganda. Katalog tersebut dibuatnya pada tahun "1782 dan 1784."
(CPH, 80) Penelitian Herschel tentang bintang ganda terhambat, karena terdapat
kecacatan yang mendasar di dalam teori tersebut.

Menurut Fraser, kecacatan dari teori tersebut disimpulkan oleh Herschel


sebagai berikut: "...bintang ganda dan sekumpulan bintang-bintang memiliki
sistem gravitasi yang saling berhubungan yang secara fisik dapat dianalogikan
seperti sistem matahari." (CPH, 80) Dengan kata lain, kelemahan dari hipotesis
Herschel tentang bintang ganda terjadi akibat tidak memperhitungkan peran
gravitasi antara bintang-bintang. Gravitasi memiliki peran yang sangat penting,
karena gravitasi antara bintang-bintang membuat mereka melakukan gerak
revolusi, sehingga bintang-bintang tidak akan pernah berada dalam posisi yang
sama.

Meskipun Herschel tidak pernah berhasil membuktikan hipotesisnya


tentang bintang ganda, tetapi kita tidak dapat memungkiri bahwa Herschel
merupakan seorang inovator yang membawa perubahan dan pengakuan
terhadap astronomi yang mengkaji bintang-bintang di masa depan. Selain
membuka jalan untuk berkembangnya astronomi yang mengkaji bintang-bintang.
Menurut Fraser, Herschel berhasil "mengadopsi teleskop reflektor sebagai
instrument yang patut dipilih di dalam astronomi yang mengkaji bintang-bintang
merupakan sebuah kemajuan pada masanya." (CPH, 82) Sebuah usaha yang
akan membuat teleskop reflektor menjadi idola untuk pengamatan bintang.

VI. Perkembangan Astronomi Di Abad Ke-19

Pada bagian sebelumnya kita sudah melihat metode yang sistematik di


dalam astronomi yang mengkaji tentang bintang-bintang mulai diperkenalkan
oleh Herschel. Dari tangan Herschel kajian tentang bintang-bintang mulai
diperhitungkan di dalam astronomi. Cita-cita Herschel yang ingin menemukan
jarak yang sesungguhnya bintang-bintang menjadi bagian penting dalam
perkembangan astronomi di abad ke-19.

Menurut Fraser, pada abad ke-19 terdapat "...asumsi yang menyatakan


bahwa semua bintang memiliki tingkat kecerahan yang sama seperti matahari
terbukti salah...Jarak yang akurat hanya mungkin dicapai dengan metode
trigonometri paralaks tahunan." (CPH, 82) Runtuhnya asumsi tentang kecerahan
bintang-bintang yang sama dengan matahari dan munculnya metode
trigonometri telah menghasilkan instrument baru dalam astronomi y.i. teleskop
refraktor. Alasan teleskop tersebut bernama teleskop refraktor karena
"instrument tersebut pertama kali digunakan untuk mengukur diameter matahari."
(CPH, 82)

Penggunaan metode trigonometri paralaks tahunan dapat kita lihat dari


Fried Bessel yang meneliti bintang Cygni 61 selama delapan belas bulan.
Menurut Fraser, alasan Bessel memilih bintang Cygni 61 karena "...gerak bintang
tersebut mengindikasikan bahwa ia terletak cukup dekat dengan matahari."
(CPH, 82) Hasil dari penelitian Bessel menyimpulkan bahwa "...nilai dari paralaks
bintang tersebut kurang lebih 0.314 detik per arc yang mengindikasikan bahwa
bintang tersebut berjarak 10.3 tahun cahaya (observasi lanjutan mengindikasikan
kenaikan dari angka ini menjadi 11.2 tahun cahaya)." (CPH, 82) Dari sini kita
dapat melihat metode trigonometri paralaks tahunan memiliki keakuratan dalam
perhitungan yang lebih baik untuk mengukur jarak bintang dibandingkan metode-
metode yang sudah ada sebelumnya.

Namun, metode paralaks tahunan sendiri memiliki kelemahan y.i.


"metode paralaks tahunan hanya dapat memberikan hasil perhitungan untuk
jarak bintang-bintang yang cukup dekat dengan matahari, atau sampai dengan
50 tahun cahaya saja." (CPH, 82) Meskipun demikian kita tidak dapat
memungkiri bahwa metode paralaks tahunan menjadi dasar yang kuat untuk
perhitungan jarak bintang di masa mendatang.
Dalam paruh kedua abad ke-19, ilmu fisika berkembang amat subur
sekali, sehingga ilmu ini mulai mempengaruhi pekerjaan di bidang lainnya
termasuk astronomi. Fraser menunjukan salah satu contoh pengaruh fisika
terhadap astronomi y.i. Gustav Robert Kirchhoff (1824-1887) dan Robert Bunsen
(1811-1899) yang terlibat dengan spektroskopi yang kemudian menciptakan teori
instrumen spektroskopi Bunsen-Kirchhof. Instrumen spektoskopi merupakan
instrument penting untuk menganalisa unsur-unsur kimia yang ada dan
penemuan unsur-unsur baru di bumi.

Penemuan spektroskopi Bunsen-Kirchof membuat seorang astronom


Inggris bernama William Huggins (1824-1910) melakukan revolusi terhadap
astronomi. Dia merevolusi astronomi observasional dengan menerapkan metode
spektroskopi untuk penentuan kandungan kimia dari bintang-bintang dan benda-
benda langit lainnya di tahun 1860-an. Menurut Fraser, "Huggins berhasil
menunjukkan element-element yang berbeda-beda muncul dari bintang-bintang
yang berbeda-beda dan ada element-element yang sama di bintang-bintang
terdapat di bumi." (CPH, 85)

Apa yang kita lihat dari penemuan Huggins menjelaskan kebutuhan


astronomi terhadap ilmu-ilmu yang lain untuk menemukan jawaban atas gejalan-
gejalan yang ditemukan di alam semesta ini. Kebutuhan ini memperlihatkan
kepada kita semakin spesifiknya objeknya, maka semakin banyak ilmu-ilmu yang
dibutuhkan untuk menjelaskan objek tersebut. Dari sini astronomi telah masuk ke
dunia baru yang bukan hanya mengenal alam semesta sebagai objek kajian
miliknya sendiri. Astronomi telah berubah menjadi sebuah lahan tambang yang
harus digarap bersama-sama dengan ilmu-ilmu lainnya (mis. fisika).

VII. Penutup

Dalam sejarah perkembangan astronomi kita telah melihat instrument-


instrument astronomi (seperti metode, teleskop, dsb) memiliki pengaruh besar
terhadap perkembangan astronomi itu sendiri. Misalnya saja, metode dari sistem
Copernican telah membuat alam semesta yang awalnya dianggap terbatas
menjadi tidak terbatas. Kekuatan instrument-instrument dari sebuah ilmu tidak
dapat disangkal memiliki pengaruh besar untuk perkembangan di masa
mendatang. Dalam astronomi sendiri kita telah melihat berkembangnya
instrument-instrument itu telah membuat objek kajian astronomi semakin
terpusat kepada sesuatu (misalnya bintang).

Namun, pemusatan ini bukan berarti menutup kemungkinan ilmu-ilmu


yang lain untuk bisa berpartisipasi di dalam objek kajian astronomi. Sebaliknya,
pemusatan objek kajian astronomi membawa astronomi kepada kebutuhan atas
ilmu-ilmu yang lain untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang astronomi teliti.
Pada kenyataanya kita dapat berkata bahwa pemusatan suatu ilmu terhadap
sebuah kajian tertentu membuatnya tenggelam dalam ketidak pastian, sehingga
suatu ilmu perlu ilmu yang lain agar ketidak pastian tersebut dapat dipastikan
apa itu sebenarnya.

Sumber :
Fraser, Craig G. Stellar Astronomy: The Universe Beyond the Solar System.
Dalam The Cosmos, A Historical Perspective,73-86. Westport: Greenwood
Press, 2006.

Anggota Kelompok 4:
Abida Barakhiel; Gusti Suherman; Maria M. Dolorosa Farah Diena;
FerdyOktavitalis

[1] Paralaks adalah perbedaan pandangan akibat melihat sebuah benda dari dua
tempat yang berbeda.
[2] Craig. G. Fraser, Stellar Astronomy: The Universe Beyond the Solar
System,dalam The Cosmos, A Historical Perspective, (Westport: Greenwood
Press, 2006), hal. 73. Selanjutnya, acuan pada karya ini akan ditulis dengan
CHP diikuti dengan nomor halaman.