Anda di halaman 1dari 32

Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke

Tahun Anggaran 2017

BAB V
PENDEKATAN DAN METODOLOGI
5.1. PENDEKATAN UMUM PEKERJAAN
5.1.1 PENDEKATAN PERUNDANGAN
Referensi hukum yang mendasari
penyusunan perencanaan detail ini
adalah :
a. Undang-undang Nomor 17 Tahun
2003 tentang Keuangan Negara;
b. Undang-undang Nomor 1 Tahun
2004 tentang Perbendaharaan
Negara;
c. Undang-undang Nomor 11 Tahun
1974 tentang Pengairan;
d. Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 35 Tahun 1991
Tentang Sungai;
e. Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah. Perpres Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah;
f. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
04/PRT/M/2015 tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai;
g. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
26/PRT/M/2015 tentang Pengalihan Alur Sungai dan Atau Pemanfaatan Bekas
Sungai;
h. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
28/PRT/M/2015 tentang Penetapan Sempadan Sungai Dan Garis Sempadan
Danau;
i. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 15/PRT/M/2015 tentang Organisasi
dan Tata Kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat;
j. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14/PRT/M/2011 tentang Pedoman
Pelaksanaan Kegiatan Kementerian Pekerjaan Umum yang merupakan
Kewenangan Pemerintah dan dilaksankan sendiri;
k. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 14 tahun 2013 tentang Pengadaan
Barang dan Jasa di Lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum;
l. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 143/PMK.02/2015 tentang Petunjuk
Penyusunan dan Penelaahan RKA-KL dan Pengesahan DIPA;
m. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 65/PMK.02/2015 tentang Standart Biaya
Masukan tahun 2016;
a. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 33/PMK.02/2016 tentang Standart Biaya
Masukan tahun 2017;

Dokumen Penawaran
V-1
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

5.1.2 PENDEKATAN OPERASIONAL


Konsultan diharapkan mampu memberikan jasa-jasa teknis secara efesien dan efektif
dalam pelaksanaan pekerjaan pengawasan ini, dan beberapa langkah yang dilakukan
meliputi :
a. Organisasi dan Staffing yaitu konsultan wajib mengajukan tim yang merupakan
tenaga ahli yang berkualitas sesuai spesialisasi yang diperlukan.
b. Modulus Kerja yaitu semua pekerjaan pengawasan akan ditangani oleh konsultan
dan secara proaktif melakukan konsultasi dan koordinasi dengan direksi
pekerjaan dan instansi terkait untuk memberikan hasil yang maksimal.
c. Sistem Komunikasi yaitu Team Leader bertanggung jawab terhadap aktivitas
pengawasan dan hasil pekerjaan secara keseluruhan serta dalam melaksanakan
tugas tetap mengacu pada standar kerja jasa konsultasi.

5.1.3 PENDEKATAN TEKNIS


Dalam pendekatan teknis ini beberapa langkah yang harus dilakukan oleh
konsultan supervisi yaitu :
1. Standar yang Digunakan
Dalam pengawasan pekerjaan dan pengujian material yang digunakan untuk
semua jenis pekerjaan mengacu pada standar antara lain Standar ASTM,
Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI 1971).
2. Sistem Manajemen Proyek
Konsultan harus melaksanakan suatu sistem manajemen proyek yang diperlukan
dalam rangka pelaksanaan proyek yang meliputi pengendalian jadwal, kualitas
dan biaya pelaksanaan konstruksi.
3. Engineering Desain Selama Masa Konstruksi
Dalam pelaksanaan kegiatannya konsultan konsultan melakukan perubahan atau
pembuatan desain apabila terjadi perubahan desain sesuai dengan kondisi
lapangan setelah melalui suatu kajian teknis, memberikan persetujuan terhadap
gambar konstruksi (Shop Drawing) yang diajukan kontraktor.
4. Inspeksi dan Pengujian Selama Pabrikasi dan Instalasi
Konsultan melakukan monitoring pelaksanaan pabrikasi, pengujian dan
pengiriman barang untuk menjamin tepat waktu melalui inspeksi secara periodic,
melakukan kajian dan persetujuan atas prosudur pengujian yang dibuat
kontraktor.
5. Supervisi Konstruksi
Konsultan dalam melaksanakan pengawasan konstruksi dilakukan melalui
kegiatan sebagai berikut :
Pengawasan pengujian material yang akan digunakan di lokasi pekerjaan.
Pengawasan terhadap mutu pekerjaan.
Melakukan kontrol terhadap kemajuan pelaksanaan pekerjaan.
Melakukan kontrol terhadap kualitas pekerjaan.
Pengawasan keamanan dan keselamatan kerja
Melakukan pengecekan dan memberikan persetujuan terhadap Gambar Kerja
(Shop Drawing), Sertifikat dan As-Built Drawing.
Inspeksi dan pekerjaan commissioning.

Dokumen Penawaran
V-2
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

5.2. METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN


5.2.1 UMUM
Dengan didasari atas konsistensi pemahaman dan penyampaian tanggapan Kerangka
Acuan Kerja, selanjutnya konsultan membuat usulan inovasi terhadap penyempurnaan dari
KAK serta menyusun pendekatan dan metode pelaksanaan yang sesuai. Untuk mendapatkan
hasil pekerjaan yang sesuai dengan harapan dan untuk kelancaran serta terkoordinasinya
pelaksanaan pekerjaan, maka kegiatan yang paling pokok adalah dengan pendekatan
operasional, pendekatan teknis dan penyusunan metodologi pelaksanaan pekerjaan. Uraian
teknis pelaksanaan pekerjaan ini menyangkut urutan dan jenis kegiatan yang akan
dilaksanakan.

Pendekatan teknis merupakan merupakan pendekatan yang berkaitan dengan


pelaksanaan pekerjaan. Untuk memudahkan dalam pelaksanaan pekerjaan, maka harus
disusun Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan. Dimana bagan ini berisikan tahapan-tahapan
pekerjaan yang akan dikerjakan, sehingga dalam penyusunan jadwal pelaksanaan pekerjaan
harus perpatokan pada Bagan Alir Pelaksanaan Pekerjaan tersebut.

Untuk pelaksanaan Pekerjaan akan melibatkan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu
yang berkaitan dengan proyek dan sesuai dengan ketetapan personil pada Kerangka Acuan
Kerja. Untuk memperlancar tugas, pelaksanaan pekerjaan akan didukung oleh fasilitas
penunjang berupa peralatan yang memadai dan sistem kerja yang seefisien mungkin.

5.2.2 LINGKUP PEKERJAAN SECARA UMUM


Lingkup pekerjaan yang harus dilakukan oleh Konsultan secara umum diuraikan
sebagai berikut:
1. Pemeriksaan dan pengawasan terhadap aspek lokasi dan kedudukan bangunan/
saluran sesuai dengan rencana.
Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap kebenaran kontraktor
dalam menempatkan lokasi bangunan dan saluran.
Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap kebenaran kontraktor
dalam menempatkan kedudukan/skop pekerjaan sesuai rencana.
Menginventarisasi persoalan-persoalan lokasi dan kedudukan bangunan/
saluran yang terjadi, serta mencarikan solusi pemecahan.
2. Pemeriksaan dan pengawasan disain dan volume
Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap ketepatan dimensi
dimensi disain pembangunan yang dilakukan kontraktor.
Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap ketepatan volume
pembangunan yang dilakukan kontraktor.
Menginventarisasi persoalan-persoalan disain dan volume bangunan dan
saluran yang terjadi serta mengkaji dan mencarikan solusi pemecahannya.
3. Pemeriksaan dan pengawasan kualitas dan spesifikasi material
Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap jenis dan spesifikasi
material.

Dokumen Penawaran
V-3
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Melakukan pemeriksaan dan pengawasan terhadap kualitas material yang


datang/dipakai kontraktor serta monolak material yang tidak sesuai
spesifikasi.
4. Membuat berita acara dan pelaporan atas seluruh kegiatan pemeriksaan dan
pengawasan yang dilakukan.

5.3. TAHAPAN DAN METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN


5.3.1 TAHAPAN PELAKSANAAN PEKERJAAN SECARA UMUM
Pelaksanaan proyek dapat dibagi dalam beberapa tahapan :
1. Tahap I : Sebelum Pelaksanaan Proyek (Pre-Construction)
Penentuan dan penetapan anggota tim konsultan di lapangan.
Mempelajari dokumen kontrak.
Penetapan organisasi proyek.
Pengadaan material pendahuluan/peralatan pendukung.
Koordinasi dengan pihak-pihak berwenang (direksi pekerjaan dan instansi
terkait).
Sosialisasi kepada instansi terkait dan Dinas Pekerjaan Umum mengenai
pelaksanaan pekerjaan yang akan dilakukan. Sosialisasi ini meliputi lingkup,
metode dan dampak yang akan timbul dilapangan akibat pelaksanaan
pekerjaan.
2. Tahap II : Saat Awal Proyek (At Project Starting)
Rapat dengan pihak kontraktor mengenai organisasi proyek, dokumen
kontrak, program kerja, sub kontraktor (apabila ada), material dan
pengaturan lain yang diperlukan.
Pengecekan bersama sebelum pekerjaan dimulai.
Penetapan item-item pekerjaan.
Rapat periodik yang terdiri dari rapat mingguan ( weekly meeting) dan atau
rapat koordinasi bulanan (monthly meting) sesuai kesepakatan dalam
pre bid meeting.
Pengecekan peralatan keselamatan kerja (safety life) di lapangan.
Pengaturan khusus antara lain alur koordinasi lapangan dan pengamanan
terhadap sistem kerja.
3. Tahap III : Pelaksanaan Proyek (Project Construction)
Pengaturan pengecekan yang dibuat kontraktor untuk tahap sebelumnya
didalamnya terdapat revisi schedule.
Pengujian material dan spesifikasi bahan yang digunakan di lapangan.
Pengendalian kualitas untuk pelaksanaan pekerjaan utama.
Pekerjaan teknis untuk pelaksanaan pekerjaan.
Kemungkinan perubahan desain selama masa pelaksanaan.
Kaji ulang desain rinci (review of detailed design) dan persetujuan gambar
kerja (shop drawing).
Pengukuran tahap pelaksanaan pekerjaan dan pembayarannya monitoring
dan pelaporan pelaksanaan pekerjaan.
Pelaksanaan pekerjaan yang sistematis dan praktis sehingga mudah diterima.
Pelaksanaan test akhir pada pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan.

Dokumen Penawaran
V-4
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Dokumentasi dan lain-lain.


4. Tahap IV : Saat Project Selesai (Project Completion)
Masa pemeliharaan (Maintenance Period).
Melakukan pengecekan bersama volume pekerjaan total ( final quatity) yang
menjadi dasar kontraktor melakukan klaim akhir pembayaran.
Pemeriksaan bersama setelah pekerjaan selesai ( final request for joint
inspection) dengan kontraktor, direksi dan konsultan.
Serah terima pekerjaan yang telah selesai.
Commisioning pekerjaan yang telah selesai.
Pembayaran akhir dan pengembalian uang jaminan.
Evaluasi dan cara penilaian pekerjaan yang telah dilaksanakan.
Penyusunan laporan penyelesain akhir proyek (Project Completion Report).

5.3.2 METODOLOGI PELAKSANAAN PEKERJAAN


Metode pelaksanaan diuraikan sebagai dasar dan tata cara pelaksanaan pekerjaan,
sehingga dalam pelaksanaannya tidak terjadi kesalahan dan seluruh kegiatan dapat
dikoordinir dan dipantau dengan mudah. Dalam metode pelaksanaan ini seluruh kegiatan
dapat diringkas sebagai berikut :

Berdasarkan rencana Aktifitas seperti pada Gambar 5.1, maka konsultan akan merinci
pelaksanaan pengawasan berdasarkan tahapan pekerjaan karena suatu kegiatan
mempunyai ketergantungan kepada kegiatan lainnya.

Dokumen Penawaran
V-5
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Gambar 5.1 : Rencana Aktifitas

Dokumen Penawaran
V-6
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

MASA PRA PELAKSANAAN


1. Persiapan dan Mobilisasi Konsultan
Dalam hal ini Konsultan akan Menyiapkan :
1. Personil/tenaga ahli dan tenaga pendukung. Apabila ada penggantian personil
terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Satuan Kerja sebagai Pengguna Jasa.
2. Kantor berikut perlengakapannya, kendaraan dan fasilitas penunjang lainnya.
3. Peralatan/alat-alat ukut dan laboratorium dalam hal ini bukan alat laboratorium
yang lengkap tetapi hanya peralatan pendukung pelaksanaan kerja karena yang
menyiapkan lebih lengkap Kontraktor.
4. Peta, data dan peralatan penunjang.
5. Fasilitas akomodasi dan transportasi untuk kebutuhan Proyek.
6. Mobilisasi tim supervisi dan penyusunan rencana kerja.
7. Melakukan koordinasi dengan komponen terkait (pengguna jasa dan pelaksana
konstruksi).

Keluaran :
Tersusunnya rencana kerja (jadwal pelaksanaan, jadwal penugasan,
rencana mutu kontrak dan metode pelaksanaan pengawasan).
Terlaksana koordinasi kerja.

2. Orientasi Lapangan Awal dan Sosialisasi


Kegiatan-kegiatan yang dilakukan meliputi :
1. Melaksanakan orientasi terhadap kondisi lokasi kegiatan.
2. Mengumpulkan data-data dan informasi sebagai bahan evaluasi dan kajian
terhadap penerapan rencana kegiatan.
3. Memberikan informasi kepada masyarakat terkait dengan rencana kegiatan
konstruksi.

Keluaran :
Teridentifikasinya kondisi awal lokasi kegiatan.
Teridentifikasinya permasalahan-permasalahan sebagai bahan untuk kajian
dan evaluasi dari perencanaan awal.
Terinformasinya jenis kegiatan yang dilakukan kepada masyarakat di lokasi
kegiatan.
Terinformasinya persepsi masyarakat terhadap kegiatan yang akan
dilakukan.
Adanya dukungan dari masyarakat selama baik pada tahap pra konstruksi,
tahap konstruksi dan pasca konstruksi.
Sebagai bahan dalam penyusunan program kerja dan metode pelaksanaan.

3. Rapat Pra Konstruksi


Secara umum walaupun hanya berbentuk suatu rapat, Rapat Pra Konstruksi adalah
tahapan penting untuk melaksanakan pekerjaan supaya sesuai dokumen kontrak
karena merupakan koordinasi awal yang dihadiri oleh semua pihak pelaksana
pekerjaan meliputi Satker/SNVT Perencanaan dan Pengawasan, Satuan Kerja Non
Vertikal Tertentu Proyek Fisik, Dinas-Dinas Terkait, Kontraktor dan konsultan.
Dengan demikian semua pihak akan memberikan tanggapan tata cara melaksanakan

Dokumen Penawaran
V-7
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

dan apresiasi terhadap dokumen kontrak. Didalam acara ini dijelaskan materi-materi
berikut :
1. Materi
Organisasi Kerja.
Tata cara pengaturan pelaksanaan.
Review dan penyempurnaan terhadap schedule dikaitkan dengan target
volume, mutu dan waktu.
Jadwal pengadaan bahan, alat dan mobilitas personil.
Menyusun rencana dan pelaksanaan pemeriksaan lapangan ( mutual check),
koordinasi dengan tim perencana.
Menentukan lokasi bahan material (quarry), estimate quantity dan rencana
quality control bahan yang akan digunakan.
Pendekatan terhadap masyarakat dan Pemda setempat.
Penyusunan rencana kendali mutu proyek.
Penentuan titik Sta. 0+00 bersama tim perencana.
Menyusun acara Rekayasa Lapangan/ field engineering guna penyesuaian
gambar rencana terhadap kebutuhan lapangan.
Pemahaman mengenai keselamatan kerja, keselamatan bangunan,
keselamatan pengguna jalan beserta penanganannya berupa asuaransi-
asuransi, peralatan-peralatan keselamatan kerja dan pengaturan lalu
lintasnya.
Penjelasan dan pembahasan mengenai rencana base camp, lokasi AMP,
penentuan instansi penguji independent.
Pembahasan mengenai kebutuhan uang muka untuk kebutuhan pelaksanaan
fisik.
Pembahasan mengenai prosedur pelaporan, jenis-jenis laporan yang harus
dibuat oleh masing-masing pihak.
Penjelasan mengenai prosedur penilaian pekerjaan terlaksana dan prosedur
pembayaran.

2. Kesamaan pengertian terhadap pasal-pasal dokumen kontrak


Pekerjaan tambah/kurang.
Termination atau force majeure.
Maintenance & protection of traffic.
Sub letting.
Asuransi.
Lainnya yang dianggap perlu.

3. Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur


Request, approval & examination of works.
Shop Drawing, As Build Drawing.
Monthly Certificate (MC).
PHO & FHO.
Change Order, Addendum.
4. Kesepakatan tentang tata cara dan prosedur teknis pelaksanaan pekerjaan
utama (major items).

Dokumen Penawaran
V-8
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Berdasarkan rapat ini semua pihak terutama instansi-instansi pelaksana pekerjaan


akan mempunyai pandangan yang sama terhadap sasaran, tata cara dan detail-detail
pelaksanaan sehingga semua pihak bisa mendukung kelancaran pekerjaan.

MASA PELAKSANAAN
1. Mobilisasi Kontraktor
Pada tahap ini Konsultan Pengawasan Teknik akan melaksanakan pekerjaan-
pekerjaan antara lain :
Menyiapkan formulir-formulir yang diperlukan dalam pengawasan pekerjaan.
Memeriksa dan melengkapi data survai yang akan digunakan, serta menentukan
titik-titik lokasi survai di lapangan sesuai dengan data tersebut.
Memberikan rekomendasi bagi Pemberi Tugas didalam tahapan kegiatan
pelaksanaan.
Memeriksa dan merekomendasikan bagi Pemberi Tugas, polis dan batas lingkup
asuransi dan Kontraktor.
Memeriksa dan menyetujui daftar material, peralatan dan personil yang akan
didatangkan, fasilitas base camp dan lokasi penempatan peralatan.
Memeriksa dan mempersiapkan cara perhitungan kuantitas dan prosedur
pemeriksaan mutu (quality control).
Memeriksa dan menyetujui segi keamanan dari pengaturan lalu lintas didalam
proyek.
Memeriksa dan menyetujui jumlah kuantitas dan mutu material yang disediakan
oleh kontraktor.
Memeriksa pemasangan patok garis tengah jalan dan damija (ROW).
Membantu Pemberi Tugas untuk memeriksa dan memecahkan masalah yang
mungkin akan muncul, serta bertindak untuk menghindari timbulnya klaim dari
kontraktor.

2. Review Design
Metodologi pelaksanaan Review Design, akan dibagi dalam beberapa tahapan
proses. Untuk lingkup kegiatan ini, konsultan juga ditugaskan untuk mengadakan
review desain dengan lingkup sebagai berikut :
Melakukan pembuatan/perbaikan desain terhadap penambahan ataupun
perubahan konstruksi yang signifikan dari rencana yang ada dalam Dokumen
Kontrak pelaksanaan konstruksi tahun 2012.
Melakukan evaluasi dan review terhadap jaringan yang sudah ada.

Kegiatan yang dilaksanakan untuk menunjang pelaksanaan review desain ini adalah
sebagai berikut :
1. Evaluasi dan Survei Pengukuran
Survei topografi dilakukan untuk mendapatkan gambaran situasi terhadap
perubahan rencana bangunan penunjang dan utama.
Pelaksanaan pembuatan peta situasi saluran irigasi skala 1:1.000, peta
situasi bangunan utama dan penunjang skala 1: 500.
Pengukuran cross section dan long section dengan jarak interval 50 m dan
25 m untuk belokan/tikungan.

Dokumen Penawaran
V-9
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Penggambaran cross section bangunan dan profil memanjang, lokasi


bangunan penunjang yang diukur.
Memasang patok BM dan CP.

Metode Pelaksanaan :
1. Persiapan, meliputi
a) Koordinasi dengan direksi pekerjaan.
b) Pengumpulan data awal berupa: data sekunder, buku-buku referensi,
peraturan/ketentuan/standard teknis yang berhubungan dengan pekerjaan
ini.
c) Pembuatan dan penyusunan program kerja, jadwal penugasan dan
persiapan/penyusunan instrumen survey.

2. Survey meliputi
Survey Lapangan untuk mengetahui kondisi eksisting, melakukan identifikasi
dan inventory data untuk rencana pengembangan meliputi kegiatan pengukuran
dan pemetaan untuk bangunan utama dan bangunan penunjang lainnya.

1) Kegiatan Pengukuran
A. Pemasangan Patok
Pemasangan patok meliputi patok Bench Mark (BM), Control Point
(CP) dan patok kayu sebagai patok bantu dengan rincian sebagai
berikut:
a. Bench Mark (BM)
Bench Mark yang terbuat dari beton menggunakan tulangan dengan
ukuran 20 cm x 20 x cm x 100 cm untuk BM. BM dilengkapi dengan
baud yang diberi tanda silang pada bagian atasnya sebagai titik
centering, serta diberi penamaan pada bagian samping
menggunakan tegel. BM ini dipasang sedemikian rupa sehingga
bagian yang muncul di atas tanah lebih kurang 20 cm.
b. Control Point (CP)
Control Point dengan ukuran 10 cm x 10 cm x 80 cm terbuat dari cor
semen, dipasang dengan tujuan untuk memberikan acuan arah
azimuth dari BM terpasang. Kontrol point ini dipasang dengan posisi
saling terlihat dengan BM terpasang.

Pemasangan Bench Mark ini diikuti dengan pemasangan Kontrol Point


(CP) sebagai arahan untuk menentukan azimuth titik tersebut. BM dan
CP dipasang pada tempat yang stabil, aman dan mudah dalam
pencariannya.

c. Patok Bantu
Patok bantu dipasang pada setiap tempat berdiri alat pengukuran
poligon, situasi, cross section dan diantara tempat berdiri alat
waterpass. Patok ini dibuat dari kayu dengan ukuran 3 cm x 5 cm x 40
cm. Patok kayu ini pada bagian atasnya dipasang paku payung

Dokumen Penawaran
V-10
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

sebagai penanda centeringtitik tempat berdiri alat atau titik berdiri


rambu pada pengukuran waterpass. Untuk memudahkan penentuan
patok, perlu juga diberikan peng-kodean atau penamaan masing-
masing patok kayu tersebut dengan nama, huruf atau nomer.

B. Pengukuran Poligon Utama


Dalam pengukuran dan pemetaan suatu areal digunakan kerangka
dasar pengukuran yang disebut poligon. Poligon merupakan
rangkaian segi banyak yang digunakan untuk menentukan posisi
horisontal dengan melakukan pengukuran sudut, asimuth dan jarak
(sisi) yang dilakukan dari titik awal sampai titik akhir pada rangkaian
yang dikehendaki.
Tahapan pengukuran poligon yang dilakukan adalah :
a. Poligon diukur dengan cara poligon tertutup (closed traverse).
b. b. Setiap BM eksisting maupun BM dan CP baru, dilalui pengukuran
poligon.
c. Poligon diukur menggunakan Theodolite T2 untuk poligon utama.
d. Sudut diukur minimal dalam 2 seri, yaitu bacaan Biasa dan bacaan Luar
Biasa, dengan ketelitian bacaan sudut terkecil 5.
e. Pengukuran sudut dilakukan dengan cara mengeset sudut pada Awal
Pengukuran, contoh 0, 45, 90 dan seterusnya, untuk mempermudah
Perhitungan.
f. Untuk Pengukuran Jarak pada Poligon Utama menggunakan alat digital
untuk mengurangi paktor kesalahan Bacaan seperti DT 1000.
g. Jarak mendatar diukur minimal 3 (tiga) kali ke muka dan 3
(tiga) kali ke belakang.
h. Kesalahan penutup sudut harus lebih Besar dari 10"n, dimana n
adalah jumlah setasiun berdiri alat.
i. iPengamatan Matahari dilakukan dengan cara ditadah, pada pagi hari
Jam 07 s/d Jam 08 dan Sore hari pada Jam 15 s/d 16, dimana
pengamatan dilakukan dipatok BM dengan memakai Acuan dipatok Cp
atau dipatok Poligon yang lain.
j. Kesalahan linier untuk Poligon Utama yang dicapai harus lebih besar
dari 1 : 10.000.
k. Semua data lapangan dan hitungan harus dicatat secara jelas dan
sistematis, jika ada kesalahan cukup dicoret dan ditulis kembali
didekatnya, serta tidak diperbolehkan melakukan koreksi menggunakan
tinta koreksi.
l. Pekerjaan hitungan Poligon Utama harus diselesaikan di lapangan, agar
bila terjadi kesalahan dapat segera diketahui dan dilakukan pengukuran
kembali hingga benar.
m. Perataan hitungan poligon dilakukan dengan perataan metode
Bouwditch.

C. Pengukuran Poligon Cabang


Pengukuran Poligon Cabang dilakukan karena terlalu luasnya areal
pengukuran atau banyaknya pepohonan yang menghalangi sehingga
tidak dapat terkaper situasi dari poligon utama, kalau dilakukan
Dokumen Penawaran
V-11
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

terlalu banyak titik-titik bantu yang menimbulkan kesalahan data-


data pengukuran yang akhirnya menimbulkan kesalahan patal. Maka
dilakukan pengukuran poligon cabang supaya hasil pengukuran lebih
akurat, dan mempunyai satu sistem dengan poligon utama.
Pengukuran poligon cabang dilakukan sebagai berikut :
a. Poligon harus diukur dengan awalan pada titik poligon utama dan
diakhiri pada titik poligon utama pula.
b. Setiap BM eksisting maupun BM dan CP baru dilalui pengukuran
poligon.
c. Poligon harus diukur menggunakan alat Theodolite T2.
d. Sudut diukur minimal dalam 1 seri, yaitu bacaan Biasa dan bacaan Luar
Biasa, dengan ketelitian bacaan sudut 20.
e. Untuk Pengukuran Jarak pada Poligon Cabang menggunakan alat
digital untuk mengurangi faktor kesalahan menggunakan peta ukur dan
dicek dengan jarak optis.
f. Jarak mendatar diukur minimal 2 (dua) kali ke muka dan ke belakang.
g. Kesalahan penutup sudut harus lebih Besar dari 20 n, dimana n
adalah jumlah setasiun berdiri alat.
h. Kesalahan linier yang dicapai harus lebih Besarl dari 1:7.000.
i. Semua data lapangan dan hitungan harus dicatat secara jelas dan
sistematis, jika ada kesalahan cukup dicoret dan ditulis kembali
didekatnya, serta tidak diperbolehkan melakukan koreksi menggunakan
tinta koreksi.
j. Pekerjaan hitungan poligon cabang harus diselesaikan di lapangan,
agar bila terjadi kesalahan dapat segera diketahui dan dilakukan
pengukuran kembali hingga benar.
k. Perataan hitungan poligon dilakukan dengan perataan metode
Bouwditch.

D. Pengukuran Sipat Datar


Rute pengukuran waterpass mengikuti rute pengukuran poligon
utama dengan pembagian loop seperti pengukuran poligon.
Pengukuran Kerangka Kontrol Vertikal atau waterpass ini, harus
diukur dengan spesifikasi sebagai berikut :
a. Kerangka Kontrol Vertikal harus diukur dengan cara loop, dengan
menggunakan alat waterpass Wild Nak-2.
b. Jarak antara tempat berdiri alat dengan rambu tidak boleh lebih besar
dari 50 meter.
c. Baut-baut tripod (statip) tidak boleh longgar, sambungan rambu harus
lurus betul serta perpindahan skala rambu pada sambungan harus
tepat, serta rambu harus menggunakan nivo rambu.
d. Sepatu rambu digunakan untuk peletakan rambu ukur pada saat
pengukuran.
e. Jangkauan bacaan rambu berkisar antara minimal 0500 sampai dengan
maksimal 2750.
f. Data yang dicatat adalah bacaan ketiga benang yaitu benang atas,
benang tengah dan benang bawah.
g. Pengukuran sipat datar dilakukan setelah BM dipasang, serta semua BM

Dokumen Penawaran
V-12
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

eksisiting dan BM baru terpasang harus dilalui pengukuran waterpass.


h. Slaag per seksi diusahakan genap dan jumlah jarak muka diusahakan
sama dengan jarak belakang.
i. Pada jalur terikat, pengukuran dilakukan pergi-pulang dan pada jalur
terbuka pengukuran dilakukan pergi-pulang dan double stand.
j. Kesalahan beda tinggi yang dicapai harus lebih kecil dari 7 mmD,
dimana D adalah jumlah panjang jalur pengukuran dalam kilometer.
k. Semua data lapangan dan hitungan harus dicatat secara jelas dan
sistematis, jika ada kesalahan cukup dicoret dan ditulis kembali
didekatnya, serta tidak diperbolehkan melakukan koreksi menggunakan
tinta koreksi.
l. Pekerjaan hitungan waterpass harus diselesaikan di lapangan, agar bila
terjadi kesalahan dapat segera diketahui dan dilakukan pengukuran
kembali hingga benar.

E. Pengukuran Sipat Datar Memanjang


Tujuan dari pengukuran ini adalah mengetahui Tinggi ( Elevasi ) titik-
titik potok dari permukaan tanah yang dilewati poligon utama. dan
berguna untuk penggambaran garis kontur. hasil dari pengukuran ini
adalah berupa data Elevasi dari titik-titik (patok) atau Ketinggian dari
permukaan tanah.

Ketentuan atau kaidah yang harus dipenuhi dalam melaksanakan


pengukuran sipat datar profil memanjang sama dengan kaidah dalam
pengukuran sipat datar melintang. Alat ukur yang akan digunakan
dalam pekerjaaan ini adalah alat ukur waterpass tipe WILD NAK.
Detail yang diukur adalah ketinggian patok-patok kayu yang telah
dipasang sebelumnya dan ketinggian permukaan tanah pada patok
tersebut.

F. Pengukuran Sipat Datar Profil Melintang


Pengukuran sifat datar profil melintang dilakukan untuk mengetahui
bentuk irisan melintang dari alur sungai Palaran. Pengambilan titik-
titik detail penampang harus serapat mungkin dan diikatkan pada titik
poligon. Jarak pengukuran profil melintang dari as embung Kurang
lebih 50 meter kanan dan kiri atau sampai mencapai elevasi 10 meter
dari as rencana. Jarak selang maksimum 50 meter sedangkan kalau
ada belokan jarak harus disesuaikan sehingga belokan yang ada
dapat tergambarkan.

Tujuan pengukuran sifat datar profil adalah mengetahui profil atau


tampang tubuh tanah dari suatu trace, sungai, jalan, Sistem pipa,alur
bangunan dan lain-lain. Sifat datar profil dapat dibedakan menjadi
dua macam yaitu :
1. Sifat datar profil memanjang
Sifat datar profil memanjang adalah pekerjaan sifat datar
sepanjang sumbu yang ditentukan untuk memperoleh gambaran
Dokumen Penawaran
V-13
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

tinggi titik-titik pada sumbu tersebut.

2. Sipat datar profil melintang


Sipat datar profil melintang adalah pengukuran sipat datar yang
tegak lurus pada sipat datar profil memanjang.

G. Pengukuran Detil Situasi


Pengukuran detail situasi dilakukan dari patok poligon utama, poligon
cabang dan titik bantu, guna mendapatkan titik-titik koordinat,
ketentuan yang harus disituasi diantaranya, rumah, jalan,
alur,goronggorong, jembatan, tiang listrik, tiang telpon jalan
setapak dan sebagainya.

Pengukuran situasi harus serapat mungkin guna mendapatkan garis


kontur yang sesuai dengan geometrik areal pengukuran, untuk
mendapatkan gambaran secara detail kondisi tampungan, sehingga
nantinya diperoleh informasi besarnya tampungan dari peta yang
dibuat, cocok dengan kondisi lapangan. Alat yang digunakan untuk
pengukuran situasi umumnya yang biasa dipakai adalah Theodolit
dan satu set bak ukur.untuk ketentuan yang harus disituasi sampai
mencapai elevasi 10 meter dari as saluran sehingga hasilnya
situasinya tidak terbuang. detail situasi dapat dihitung dengan
Metode Sudut Kutub.

dimana :
P1,P2,P3 = titik poligon, P2 sebagai titik berdiri alat
A,B,C = titik detil
1,2,3 = sudut ikatan detil A,B dan C terhadap sisi P2- P1
Sedangkan untuk beda tinggi titik detil didapat dengan menggunakan
persamaan Metode Tachymetri seperti gambar berikut :

Gambar 5.2 : Pengukuran dengan Metode Tachymetri

dimana :
D = jarak horisontal dari tempat berdiri alat ke titik detil

Tg.h = tangent helling

Dokumen Penawaran
V-14
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Ti = tinggi alat
Bt = benang tengah
h = beda tinggi antara tempat berdiri alat ke titik detil

H. Pengukuran Cross Section


Pengukuran cross section, dilakukan dengan spesifikasi sebagai
berikut :
a. Cross section diukur dengan interval 25 m sepanjang pantai.
b. Penampang melintang diukur dengan mengambil detil yang mewakili
dan sesuai dengan skala yang digunakan.
c. Lebar pengukuran cross section adalah sampai pada elevasi walkway.
d. Pada setiap titik cross section dipasang patok kayu ukuran 3 cm x 5 cm
x 40 cm dan di atasnya diberi paku sebagai titik acuan pengukuran.
e. Setiap center line titik cross section dipakai juga sebagai pengukuran
long section.
f. Pengukuran cross section dilakukan dengan menggunakan alat
Theodolite T1.

2. Evaluasi Hasil Analisa


Dalam tahapan ini konsultan akan melaksanakan analisa kembali ( review)
terhadap jaringan yang ada berdasarkan hasil evaluasi terhadap perubahan
yang ada. Kegiatan yang dilakukan dalam tahapan ini meliputi:
Evaluasi analisa dan perhitungan terhadap kebutuhan air irigasi, bangunan
utama dan penunjang serta struktur.
Evaluasi Analisa Hidrolika
Evaluasi analisa dan perhitungan hidrolika dilakukan untuk mendapatkan
kapasitas saluran dan kebutuhan dimensi saluran yang telah direncanakan.

MASA KONSTRUKSI
Dalam masa konstruksi, Konsultan akan melaksanakan pengawasan dan
pemantauan terhadap pencapaian program fisik proyek secara menerus dilapangan dan
pengendalian proyek secara sistematis dengan menggunakan metode-metode yang
sudah baku, adalah sebagai berikut :
Membuat analisa, prediksi dan rekomendasi terhadap kendala kendala
yang berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan proyek.
Memberikan nasihat kepada Pemberi Tugas didalam menyusun kebijakan dan
langkah untuk mencegah dan mengurangi klaim.
Menyediakan bantuan dan arahan yang tepat bagi Kontraktor pada saat
ditemukannya masalah yang ada hubungannya dengan dokumen kontrak,
pemeriksaan terhadap survai tanah dasar, test pengawasan mutu, dan
masalah lain yang berhubungan dengan dipenuhinya kontrak dan kemajuan
pekerjaan.
Menyediakan informasi yang diperlukan oleh Pemberi Tugas, menghadiri dan
mencatat semua rapat/pertemuan dengan Kontraktor, Pemimpin Proyek, dan
instansi terkait lainnya serta menyediakan bantuan teknis apabila diperlukan
didalam kaitannya dengan pelaksanaan proyek dan masalah-masalah kontrak.

Dokumen Penawaran
V-15
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Sedangkan tugas Konsultan Pengawas dalam hal kontrak terhadap Kontraktor


secara garis besar akan meliputi :

Pengendalian teknis : aspek mutu, volume, waktu dan biaya.


Pengendalian atas proses koordinasi terkait.
Pengendalian administrasi proyek.
Evaluasi rencana proyek.
Pelaporan.

PENGENDALIAN PELAKSANA
Bertindak untuk dan atas nama Pemberi Tugas mengendalikan pelaksanaan fisik
pembangunan yang dilakukan oleh Pelaksana Kegiatan dengan rentang meliputi
Preaudit, Monitoring, dan Post-audit.

Lingkup pengendalian antara lain meliputi :


Aspek mutu hasil pekerjaan.
Aspek volume pekerjaan.
Aspek waktu penyelesaian pekerjaan.
Aspek biaya keseluruhan pekerjaan.

Segala sesuatunya merujuk kepada ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum


dalam kontrak pemborongan.
Rentang Kendali Pre-audit
Kegiatan konsultan dalam rangka pengendalian teknis dalam rentang pre-
audit
adalah seluruh kegiatan Konsultan sebelum melakukan pengawasan, yang terdiri
dari :
Pengumpulan dan analisa terhadap data.
Pengecekan hasil perencanaan dengan membandingkan terhadap kondisi
lapangan.
Pemeriksaan terhadap kesipan Pelaksana Kegiatan, yang meliputi
material, peralatan, tenaga dan jadwal pelaksanaan.

a. Pengumpulan dan analisa data, informasi dan hasil perencanaan akan


menghasilkan catatan mengenai seluruh kegiatan antara lain :
- Jenis Pekerjaan.
- Kuantitas Pekerjaan.
- Kualitas yang dipersyaratkan.
- Schedule pelaksanaan
- Schedule pembayaran.
b. Review Design
Pengecekan hasil perencanaan dilakukan dengan cara membawa hasil
perencanaan ke lokasi untuk menentukan apakah hasil perencanaan tersebut
telah sesuai dengan kondisi yang ada.
Apabila ternyata dari hasil pengecekan design tidak sesuai dengan
kondisi lapangan, Konsultan Coordination tim akan membuat alternatif lain
yang sesuai untuk diajukan kepada Pemberi Tugas.
Dokumen Penawaran
V-16
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

c. Persiapan Konstruksi
Material dan peralatan yang didatangkan Pelaksana Kegiatan akan diperiksa
terlebih dahulu oleh Konsultan sehingga benar-benar memenuhi spesifikasi
yang telah ditetapkan.

Jadwal waktu yang dibuat oleh Pelaksana Kegiatan akan diteliti terlebih dahulu
apakah sudah memadai terhadap volume pekerjaan yang akan dilaksanakan
dengan perkiraan tenaga kerja/tukang yang akan mengerjakannya serta alat
yang akan digunakan. Apabila menurut analisa tidak seimbang antara volume
dengan tenaga kerja dan peralatan terhadap waktu yang tersedia maka
Konsultan akan menyarankan kepada Pelaksana Kegiatan untuk menyiapkan
tenaga kerja dan peralatan yang memadai agar bias selesai tepat pada
waktunya.

Penyimpangan biaya keseluruhan biasanya disebabkan oleh adanya pekerjaan


tambahan sebagai akibat dari perubahan design dan pertambahan volume
pekerjaan.

Agar tidak terjadi perubahan biaya terlalu besar, Konsultan akan mengusulkan
menggantikan nilai pekerjaan tambah itu dengan pengurangan pekerjaan
lainnya sehingga terjadi kompensasi dan tidak memerlukan biaya tambah
sepanjang hal tersebut memungkinkan dan mendapat persetujuan dari Kepala
SNVT / Pemimpin Bagian Pelaksana Kegiatan Fisik.

Dalam hal ini, Konsultan berupaya menghindari pekerjaan tambah, justru


mengupayakan pekerjaan kurang jika memang dari evaluasi teknis dan biaya
memungkinkan untuk dilakukan pekerjaan kurang.

d. Pre Construction Meeting (PCM)


Dalam waktu kurang dari 14 hari sejak SPMK, diadakan Pre Construction
Meeting (PCM) dengan meteri seperti telah dijelaskan dimuka.

Rentang Kendali Monitoring


Kegiatan pengendalian teknis rentang monitoring adalah kegiatan-kegiatan
yang dilakukan selama masa pelaksanaan pekerjaan. Meskipun Konsultan
Pengawas telah melakukan pre-audit namun setiap langkah pelaksanaan
pekerjaan akan terus dimonitor agar kalau terjadi penyimpangan segera
diketahui dan dapat diluruskan kembali sesuai petunjuk yang benar. Selama
periode ini Konsultan akan selalu melakukan evaluasi terhadap progress dan
kualitas pekerjaan yang dilaksanakan oleh Pelaksana Kegiatan.

Dalam melakukan monitoring, kerjasama antara anggota tim akan kita jaga
sebaik- baiknya sehingga informasi dan pelaporan bisa berjalan dengan cepat,
sehingga kerugian yang menyangkut aspek mutu, volume, waktu, dan biaya
keseluruhan hasil pekerjaan dapat dihindari atau ditekan sekecil-kecilnya. Selain
Dokumen Penawaran
V-17
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

mengawasi pekerjaan fisik Konsultan Pengawas juga memonitor aspek


lingkungan sekitar proyek, agar jangan sampai pelaksana lapangan berikut
tukang-tukangnya mengganggu, mematikan serta merusak flora dan fauna yang
ada.
Faktor keselamatan kerja juga akan dimonitor secara rutin dengan
memperhatikan peraturan-peraturan yang berlaku.

Rentang Kendali Post-audit


Setiap kemajuan penyelesaian pekerjaan akan merupakan prestasi kerja bagi
Pelaksana Kegiatan. Kemajuan fisik ini akan dipakai untuk pengajuan
pembayaran senilai hasil kerjanya. Namun Pelaksana Kegiatan tidak akan bisa
mengajukan permintaan pembayaran sebelum mendapat rekomendasi dari
Konsultan Pengawas bahwa hasil
pekerjaannya sudah memenuhi persyaratan teknis
atau tidak.

KOORDINASI DENGAN INSTANSI TERKAIT


Konsultan Pengawas dalam rangka melaksanakan tugas pengendalian teknis
tersebut diatas berkewajiban mengendalikan proses koordinasi yang perlu dilakukan
oleh pihak lain (khususnya oleh Pemberi Tugas).
Koordinasi dengan instansi terkait, antara lain dilakukan dengan :
Dinas PU Provinsi setempat
Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik.
Konsultan lain yang terkait.
Instansi terkait lainnya.

PENGENDALIAN ADMINISTRASI PROYEK


Dalam hal ini Konsultan Pengawas akan merancang, memberlakukan serta
mengendalikan pelaksanaan keseluruhan sistem administrasi proyek yang diawasinya,
yaitu mencakup antara lain : surat, memoramdum, risalah, laporan, contoh barang, foto,
berita acara, gambar, sketsa, brosur, kontrak dan addendum dan lain-lain yang dianggap
perlu.

Langkah-langkah dan tindakan yang akan dilakukan Konsultan Pengawas untuk maksud
diatas adalah :

Mempelajari, menanggapi, memecahkan dan menyelesaikan sampai tuntas


maksud dari surat masuk maupun keluar.
Memperhatikan memorandum dan risalah untuk pedoman dalam
pelaksanaan tugas konsultan.
Mempersiapkan dan mengecek contoh barang agar memenuhi persyaratan
yang ditetapkan baik kualitas dan kuantitas.
Membuat foto-foto dokumentasi pada setiap paket pekerjaan.
Mempelajari dan mengecek gambar-gambar/sketsa pelaksanaan agar

Dokumen Penawaran
V-18
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

sebelum maupun sesudah pekerjaan selesai tidak terjadi penyimpangan.


Membantu/menyiapkan addendum serta lain-lain yang dianggap perlu.

EVALUASI RENCANA
Konsultan Pengawas terus-menerus melakukan evaluasi atas rencana proyek
yang akan dilaksanakan serta menyarankan perubahan / penyempurnaan / penyesuaian
rencana yang perlu dilakukan (bila ada) guna menjamin tercapainya maksud dan
tujuan proyek dengan sebaik-
baiknya.

VERIFIKASI HASIL PEKERJAAN PELAKSANA KEGIATAN


Konsultan Pengawas berwenang dan pada saatnya berkewajiban
menyatakan bahwa hasil pekerjaan Pelaksana Kegiatan telah memenuhi segala
persyaratan untuk proses selanjutnya yaitu persetujuan Pemberi Tugas. Verifikasi ini
berupa sertifikasi pada saat Pelaksana Kegiatan mengajukan pembayaran. Rekomendasi-
rekomendasi persetujuan, penundaan ataupun penolakan hasil kerja dilakukan saat
tersebut berdasarkan hasil penelitian mutu dan volume yang
diproduksi.

KONTROL SISTEMATIK TERHADAP KEGIATAN LAPANGAN


Dalam konteks lebih luas, pekerjaan supervisi mengemban juga fungsi kontrol
manajemen proyek konstruksi. Sebelum memeriksa hasil pekerjaan, perlu diperiksa
dahulu persiapan kerjanya. Persiapan pekerjaan yang dilakukan setengah-setengah atau
dengan cara perencanaan yang mendadak akan mengakibatkan hasil kerja yang tidak
memuaskan. Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan suatu kontrol yang sistematik.
Pengawas lapangan perlu menerapkan sistem kontrol yang baik di lapangan.

Kontrol yang sistematik terhadap kegiatan di lapangan memiliki 3 tujuan yaitu :


Meninjau secara periodik hasil dan kemajuan pekerjaan pada beberapa bidang
kegiatan pokok. Bila mana terdapat kekurangan yang terjadi, maka harus
dikembangkan sasaran jangka pendek dan program kerja untuk
mengantisipasinya.
Memastikan bahwa pekerjaan pengawasan berjalan secara benar sehingga
peringatan secara dini dapat diberikan apabila terjadi sesuatu kesalahan.
Mengamankan bahwa biaya yang sudah dianggarkan oleh proyek tidak
dilampaui bila tidak terjadi perubahan kontrak.

Bidang-bidang sasaran kegiatan pokok yang perlu dikontrol pada waktu peninjauan
dilapangan yaitu :

Pencapaian target kemajuan fisik.


Pencapaian target keuangan.
Pengadaan dan pembelian barang, bahan dan peralatan.
Pemakaian tenaga kerja dan peralatan untuk menjamin efektifitas dan
efisiensi kerja lapangan.
Pemantapan kerja sama pekerja proyek dari seluruh bagian / divisi.

Dokumen Penawaran
V-19
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Hubungan dengan pihak pemilik.

Tiap bidang tersebut diatas ditinjau apakah situasinya mantap, kurang memadai atau
menunjukkan tendensi yang tidak menggembirakan.
Dengan mengetahui keadaan dan situasi masalah dengan benar,maka langkah-
langkah yang
diambil untuk mengatasinya akan lebih cepat dan efektif.

KUNJUNGAN LAPANGAN/SITE VISIT


Frekuensi kunjungan ke lapangan tergantung dari pentingnya keadaan lapangan,
sifatnya dapat secara harian atau mingguan. Frekuensi kunjungan juga dapat
tergantung pada tahapan dari Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik yang mengelolanya
beserta para timnya sesuai urgensinya.

PENGENDALIAN WAKTU
Merencanakan dan membangun adalah suatu aktifitas yang dinamis, dan yang
dipengaruhi oleh bermacam-macam factor. Karena itu network / s-curve chart
yang telah disetujui sebagai pegangan untuk pelaksanaan harus secara periodik atau
sesuai kondisi dicheck kembali :
Apakah waktu yang direncanakan telah ditepati.
Akan ditepati dalam jangka panjang atau segera dan / atau.
Nantinya akan ditepati (jangka panjang).

Bila perlu dapat diadakan perubahan baru untuk mengendalikan jalannya proyek
seperti yang dikehendaki.

1. Jarak Waktu Kontrol


Jarak waktu kontrol dapat dibedakan menjadi 2 macam rentang waktu yaitu :
1 2 minggu untuk aktifitas yang kritis atau bisa kurang dari 1 minggu.
2 4 minggu untuk aktifitas-aktifitas yang tidak kritis.

2. Cara Mengontrol
Dibedakan 3 cara mengontrol, sebagai berikut :
Untuk sebuah aktifitas yang akan dimulai : disajikan langkah-langkah cara
mengontrol seperti flow chart Gambar 5.3.
Untuk menguji pekerjaan yang seharusnya sudah dimulai : disajikan
langkah-langkah cara mengontrol seperti flow chart Gambar 5.4.
Uji pekerjaan yang seharusnya sudah selesai : disajikan langkah-langkah
cara mengontrol seperti flow chart Gambar 5.5.

Dokumen Penawaran
V-20
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Gambar 5.3 : Flowchart Langkah-Langkah Cara Mengontrol Untuk Aktivitas Yang Akan
Dimulai

Dokumen Penawaran
V-21
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Gambar 5.4 : Flowchart Langkah-Langkah Cara Mengontrol Pekerjaan Yang Seharusnya


Sudah Dimulai

Dokumen Penawaran
V-22
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Gambar 5.5 : Flowchart Langkah-Langkah Cara Mengontrol Untuk Aktivitas Sudah Selesai

Untuk monitoring dan pengontrolan proyek ini akan digunakan sistem informasi
pengendalian proyek yang dilaksanakan dengan suatu aplikasi berbasis komputer.
Monitoring dan pengendalian proyek dilakukan pada aspek-aspek berikut :

Planning dan scheduling pekerjaan yang meliputi quantity, duration,


dates, network planning atau precedence diagram methode.
Progress Performance.
Schedule Control.
Project cost control yang meliputi pelaporan status nilai kontrak vs aktual,
perhitungan pembayaran progress pekerjaan.

Unsur-unsur tersebut merupakan informasi dasar untuk memonitoring,


pengendalian, analisis dan manajemen proyek.
Pekerjaan pengendalian proyek ini diawali dengan pemasukan data-data proyek
(project data entry) yang akan menjadi acuan (baseline) dalam monitoring
dan pengendalian pelaksanaan proyek selanjutnya. Data-data tersebut disimpan
didalam database di kantor proyek, dan selalu di up-date untuk keperluan pelaporan
dan analisa secara periodik. Berdasarkan target-target pengendalian yang
ditentukan sebelumnya maka dapat dilakukan analisa terhadap permasalahan yang
timbul dalam aspek skedul, progress dan pembiayaan proyek. Dari analisa masalah
tersebut dilakukan upaya perbaikan untuk membawa program proyek kembali ke
rencana semula. Gambar 5.6. Skematika aliran kerjanya adalah sebagai
berikut :

Dokumen Penawaran
V-23
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Gambar 5.6 : Skema pengendalian proyek

Informasi yang di peroleh dari pelaporan tersebut dapat di analisa dan di jadikan
bahan dalam pengambilan keputusan menajemen kegiatan. Pelaporan kegiatan
dibuat dengan format dan prosedur yang standar untuk memperoleh peningkatan
efisiensi, efektifitas dan optimalisasi sinergi kerja, sehingga Dinas Pekerjaan Umum
setempat dapat mencapai performansi dan kualitas akhir manajemen pembangunan
yang lebih baik. Manfaat utama lainnya dari sistem ini antara lain adalah :

a. Satuan Kerja/Pejabat membuat Komitmen dapat memonitor dan mengendalikan


kegiatan secara terintegrasi dengan sistem yang ada di Dinas Pekerjaan Umum.
b. Memberikan tambahan kapasitas kepada Dinas Pekerjaan Umum untuk
meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan kepada pengguna jalan melalui
penyelesaian pembangunan jalan beserta falisilitas pendukung lainnya yang
sesuai jadwal dan alokasi biaya.

Metodologi Pengontrolan Proyek


Untuk menerapkan metodologi pengendalian proyek secara baik dan sistematis,
maka Konsultan membaginya ke dalam beberapa tahap :

Tahapan Initialisasi
Tahap initialisasi dilakukan untuk menjabarkan aktifitas-aktifitas proyek
(workBreakdown Structurel WBS) sampai ke level yang terendah yang
mencerminkan keterkaitan antar aktifitas. Tahapan ini dimulai dari pendeskripsian
dan penggolongan aktifitas proyek yang ada, menentukan volume dan bobot dari
masing-masing aktifitas, pengurutan pekaksanaan aktifitas (network planning
predecessor dan successor dari setiap aktifitas detail) dan tipe dari relasi-relasi antar
aktifitas, yaitu SS-Start to Start, SF Start to finish, FS finish to Start atau FF
Dokumen Penawaran
V-24
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Finish to Finish.

Juga dideskripsikan mengenai penjadwalan pekerjaan, resources atau sumber daya


yang terlibat dalam pelaksanaan proyek, seperti tenaga ahli, konsultan, tenaga
pekerja, administrator, serta bahan dan alat penunjang pelaksanaan proyek.

Setiap aktuifitas dilengkapi dengan volume pekerjaan, bobot (persentase


perbandingan antar volume pekerjaan dengan nilai nominal rupiah). Hasil dari
tahap ini akan digunakan sebagai base line/dasar untuk pemgendalian proyek pada
saat pelaksanaan

Tahapan Pelaksanaan
Tahap ini dipergunakan untuk memonitor dan mengawasi jalannya pelaksanaan
proyek. Termasuk didalam tahapan ini adalah proses update data kemajuan hasil
pelaksanaan proyek, yang diperinci dari prestasi detail sampai ke prestasi secara
umum, mengawasi aktifitas-aktifitas kritis yang ditampilkan pada barchart dan
pengawasan terhadap resource yang terlibat dengan menambah atau mengurangi
jumlah resource (tenaga, bahan dan alat) apabila perlu.
Pengisian hasil kemajuan proyek dapat dilihat dari hasil pencapaian kemajuan
proyek pada minggu sebelumnya, sehingga project control dapat memperlihatkan
aktifitas yang tidak memperlihatkan kemajuan yang berarti atau justru berada pada
kondisi kritis yaitu aktifitas yang memiliki total Float sama dengan nol. Pelaksanaan
aktifitas tersebut tidak boleh mengalami penundaan lebih dari satu hari kerja.
Keberadaan kondisi kritis dari suatu aktifitas digambarkan dalam garis yang berbeda
warna pada tampilan barchart, yaitu sebagai berikut :

Total Float = 0, digambarkan dengan warna merah;


1 < Total float < 5, digambarkan dengan warna kuning;
Sedangkan total Float >=6, digambarkan dengan warna hijau.

Hal tersebut perlu menjadi perhatian bagi project control dan menjadi salah satu
acuan bagi analisa kemajuan pelaksanaan proyek yang menjadi tanggung jawabnya.
Selanjutnya dapat dilakukan beberapa tindakan untuk meningkatkan kinerja proyek,
seperti penambahan tenaga ahli, tenaga pekerja, bahan dan alat penunjang, atau
merubah metode pelaksanaannya.

Tahap Pelaporan
Tahap pelaporan ini ditujukan untuk menyampaikan kemajuan pelaksanaan proyek
actual di lapangan kepada pihak Pemberi Tugas / pemilik proyek untuk
mendapatkan gambaran kemajuan proyek di lapangan, dengan ikut
memperhatikan hal-hal kritis yang di peroleh dari analisa pelaksanaan proyek.
Bentuk laporan ini disesuaikan dengan kebutuhan pelaporan, dan terbagi menjadi
pelaporan kemajuan proyek secara tabular, pelaporan kemajuan proyek secara
barchart, serta dalam bentuk S-Curve; yang membandingkan pencapaian actual
dengan baseline proyek.
Dibawah ini adalah bagaimana pengendalian waktu perlu mendapat perhatian agar
Dokumen Penawaran
V-25
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

tidak terjadi perpanjangan waktu yang tidak perlu yang akan memboroskan waktu,
tenaga dan biaya.

1. Schedule Pelaksanaan Kegiatan


Sebelum pekerjaan dimulai konsultan akan mengecek schedule pelaksanaan
yang dibuat Pelaksana Kegiatan.
Apakah rencana kerja Prosress pekerjaan yang di targetkan sudah layak dan
realistis. Misalnya dalam musim hujan, target pekerjaan lebih kecil bila
dibandingkan pada musim kemarau untuk pekerjaan pengaspalan misalnya
untuk kondisi kerja yang sama. Kemudian juga construction method, urutan
Kerja Pelaksanan Kegiatan apakah sudah sistematis, konsepsional dan benar.
Selanjutnya berdasarkan schedule Pelaksana Kegiatan yang sudah disetujui,
Konsultan Pengawas akan mengendalikan waktu pelaksanaan tersebut.
Dari time schedule tersebut bisa dijabarkan ke dalam target harian, sehingga
setiap hari apakah target volume tersebut bisa tercapai atau tidak, bila target
volume tersebut tidak tercapai maka selisih volume harus diprogramkan/dikejar
untuk schedule hari berikutnya.
Dengan time schedule yang dibuat dan disetujui itu bila dilaksanakan dengan
sebagaimana mestinya dan dikendalikan dengan baik maka diharapkan proyek
bisa diselesaikan on schedule.

2. Peralatan
Untuk mengerjakan pekerjaan jalan, diperlukan peralatan dengan
kombinasi/beberapa jenis alat dan jumlah alat yang mencukupi. Sedemikian
hingga volume pekerjaan yang direncanakan bisa diselesaikan dalam waktu yang
ditentukan.

3. Tenaga Kerja
Demukian juga untuk tenaga kerja, untuk suatu pekerjaan diperlukan tenaga
kerja yang mencukupi, sehingga pekerjaan akan bisa diselesaikan oleh tenaga
kerja sesuai dengan jadwal/waktu yang ditentukan. Bila kondisi pekerjaan
diperkirakan tidak bisa diselesaikan, maka tenaga kerja perlu ditambah atau
kerja dua shift atau kerja lembur/overtime.

4. Jumlah Jam Kerja


Untuk penyelesaian suatu pekerjaan, tergantung juga pada jam kerja per hari.
Jumlah jam kerja yang sedikit akan menghasilkan produk yang lebih kecil dari
pada bila per hari jam kerjanya lebih banyak.
Jam kerja perlu disesuaikan dengan kapasitas alat, tenaga kerja, sedemikian
hingga volume pekerjaan yang ditargetkan bisa diselesaikan. Kalau suatu
pekerjaan tidak bisa diselesaikan dalam satu hari siang, maka perlu untuk kerja
malam/overtime.
Untuk administrasi pengendalian waktu, agar pengendalian dapat dicapai
secara optimal maka Konsultan memahami secara sungguh-sungguh
Network Planning yang umumnya telah dibuat oleh Pelaksana Kegiatan

Dokumen Penawaran
V-26
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

dengan metode lintas kritis (Critical Path Method/CPM).


Mengingat sangat pentingnya time schedule ini didalam suatu pekerjaan
pengawasan, maka Konsultan akan menganalisa secara rutin time schedule dari
Pelaksana Kegiatan dan akan membantu Pelaksana Kegiatan dalam mereview
dan menyusun kembali time schedule tersebut bila memang diperlukan.
Pengendalian schedule pelaksanaan lainnya dapat menggunakan Barchart/S-
Curve yang biasa dan juga dapat digunakan Vector Diagram yang baik/cocok
untuk pekerjaan jalan karena dapat mengetahui/menunjukkan lokasi dan waktu.
Schedule ini, pada arah absis menunjukkan lokasi atau STA, sedangkan arah
ordinat menggambarkan waktu

PENGENDALIAN MUTU
Selama periode konstruksi, Konsultan akan senantiasa memberikan pengawasan,
arahan, bimbingan dan instruksi yang diperlukan kepada Pelaksana Kegiatan guna
menjamin bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan baik, tepat kualias untuk
semua jenis pekerjaan baik untuk konstruksi-konstruksi pokok maupun perlengkapan
jembatan, untuk itu akan di uraikan disini.
Aspek-aspek pengendalian mutu yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan konstruksi
antara lain sebagai berikut dibawah ini namun tidak terbatas pada :
Peralatan laboratorium.
Penyimpanan bahan/material
Cara pengakutan material / campuran ke lokasi kerja.
Pengujian material yang akan diginakan
Penyiapan job mix formula campuran.
Pengujian rutin laboratorium selama pelaksanaan.
Test lapangan.
Administrasi dan formulir-formulir.

Pengendalian kualitas tersebut di atas seperti di uraikan berikut ini :


1. Peralatan Laboratorium dan Personil
Peralatan laboratorium yang perlu dipergunakan untuk pekerjaan utama (major
work).
Personil/tenaga yang terkait untuk maksud pengujian harus cukup
berpengalaman dan mengenal dengan baik tentang testing laboratorium
maupun lapangan.

2. Penyimpanan Bahan/Material
Bahan-bahan harus disimpan dengan suatu cara yang sedemikian rupa
untuk menjamin perlindungan kualitas.
Bahan-bahan yang disimpan harus ditempatkan sedemikian rupa yang
mudah dapat diperiksa oleh Konsultan.
Tempat penyimpanan harus bebas dari tumbu-tumbuhan dan puing, harus
mempunyai drainase yang lancar.
Bahan-bahan yang diletakkan langsung diatas tanah tidak boleh digunakan
dalam pekerjaan kecuali tempat kerja tersebut telag dipersiapkan dan diberi
lapisan atas dengan suatu lapisan pasir atau kerikil setebal 10 cm.
Bahan-bahan harus disimpan dengan cara yang sedemikian rupa untuk

Dokumen Penawaran
V-27
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

mencegah segregasi dan untuk menjamin gradasi yang sesuai serta


mengontrol kadar air. Tinggi maksimum tumpukan 5 m.
Penumpukan berbagai ragam agregat untuk hotmix, beton, harus dipisahkan
dengan papan pembatas guna mencegah pencampuran bahan-bahan.
Tumpukan agregat harus dilindungi dari hujan untuk mencegah kejenuhan
agregat yang akan mengakibatkan penurunan kualitas.

3. Cara Pengukuran Material / Campuran


Konsultan dapat mengenakan pembatasan bobot pengangkutan untuk
perlindungan terhadap setiap jalan atau struktur yang ada disekitar proyek.
Pengangkutan hotmix perlu ditutup dengan bahan tebal guna
mempertahankan suhu campuran. Walaupun pekerjaan ini kelak bukan
pekerjaan utama tetapi perlu ditekankan karena akan mempengaruhi kinerja
jembatan nantinya.
Bilamana terjadi gangguan diantara operasi berbagai pekerjaan, Konsultan
akan mempunyai wewenang untuk memerintahkan Pelaksana Kegiatan dan
untuk menentukan urutan pekerjaan yang diperlukan guna mempercepat
penyelesaian seluruh proyek.

4. Pengujian Material Yang Akan Digunakan


Semua material dari setiap bagian pekerjaan akan di inspeksi oleh
Konsultan.
Setiap saat Konsultan akan menginspeksikan material yang akan digunakan
berdasarkan atas jadwal Kerja Pelaksana Kegiatan.
Walaupun bahan yang disimpan telah disetujui sebelum penyimpanan,
namun dapat diperiksa ulang dan ditest kembali oleh Konsultan.
Material yang akan digunakan harus ditest di laboratorium untuk mendapat
persetujuan dari Konsultan, jenis dan jumlah test seperti yang
disebutkan dalam spesifikasi.

5. Job Mix Formula


Agar mendapatkan campuran yang baik dan memenuhi persyaratan
spesifikasi, sebelum pekerjaan dimulai perlu dibuatkan dahulu suatu job Mix
Formula yang disetujui Konsultan, antara lain untuk pekerjaan Beton.

6. Pengujian Rutin Laboratorium


Selama pelaksanaan seperti yang disebutkan dalam spesifikasi, bahan-bahan
atau campuran-campuran perlu dilakukan pengujian rutin harian atau
selama pekerjaan berlangsung guna menjamin kualitas sesuai dengan
persyaratan.
Jenis dan frekuensi/jumlah test rutin ini seperti yang disebutkan dalam
spesifikasi.

7. Pengujian Hasil Kerja / Test Lapangan (Uji Terima)


Sertelah pekerjaan selesai dilaksanakan, produk tersebut perlu diadakan
pengujian/test lapangan guna memastikan kwalitas pekerjaan sesuai dengan
yang direncanakan.
Tahap demi tahap pekerjaan ini sebagaimana yang didiagramkan pada
Dokumen Penawaran
V-28
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Gambar 5.7.
Flowchart Pengendalian Mutu.

Gambar 5.7 : Flowchart Pengendalian Mutu


ADMINISTRASI DAN FORMULIR-FORMULIR
Gambar 5.8. menunjukkan kelengkapan administrasi proyek yang umum
digunakan. Dokumen kontrol diperlukan proyek anatara lain sebagai berikut dibawah ini:
Buku direksi
Time schedule
MCA (Mutual Check Awal)
Dokumen Penawaran
V-29
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

Request & shop drawing


Laporan harian
Laporan mingguan
Risalah Rapat
Berita acara opname pekerjaan
Record cuaca
Photo dokumentasi
Change order
Addendum
Monthly certificate (MC)
PHO (Provinsial Hand Over) / FHO (Final Hand Over)
Dan lain-lain disesuaikan dengan kebutuhan proyek.

GAMBAR E.14. ADMINISTRASI PROYEK PERIODE PELAKSANAAN FISIK

Gambar 5.8 : Administrasi Proyek Periode Pelaksanaan Fisik

PENGENDALIAN KUALITAS
Pengawasan kuantitas, akan mengecek bahan-bahan/campuran yang
ditempatkan atau dipindahkan oleh Pelaksana Kegiatan atau yang terpasang. Secara
umum terdapat 2 jenis pemeriksaan kuantitas yaitu :
Pemeriksaan terhadap bahan-bahan yang bisa dibayarkan sebagai material saja.
Pemeriksaan terhadap hasil kerja.
Untuk pemeriksaan hasil kerja Konsultan akan memproses bahan-bahan/campuran
berdasarkan atas :
Hasil pengukuran yang memenuhi batas toleransi pembayaran.
Metode Perhitungan
Lokasi kerja.
Jenis Pekerjaan
Tanggal diselesaikannya pekerjaan.

Setelah produk pekerjaan memenuhi persyaratan baik kualitas maupun elevasi dan
persyaratan lainnya, maka pengukuran kuantitas dapat dilakukan agar volume
pekerjaan dengan teliti/akurat yang disetujui oleh Konsultan sehingga kuantitas dalam
Dokumen Penawaran
V-30
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

kontrak adalah benar di ukur dan di rekomendasikan untuk dibayar oleh Konsultan dan
mendapat persetujuan Pemberi Tugas. Rekomendasi hasil pengukutan kuantitas ini Harus
dalam suatu Berita Acara yang disetujui bersama oleh tiga pihak pelaksana proyek.
Formulir untuk perhitungan kuantitas tersebut untuk semua item pekerjaan dalam
kontrak berupa Quantity Sheet dapat disiapkan semuanya oleh Konsultan.

PENGENDALIAN BIAYA PELAKSANAAN PROYEK


Didalam kontrak pelaksanaan pekerjaan tercantum :
Biaya proyek.
Estimated quantity /volume pekerjaan.
Harga satuan pekerjaan

Guna pengendalian biaya pelaksanaan proyek, hal-hal pokok yang perlu diperhatikan
antara lain sebagai berikut :
Pengukuran hasil pekerjaan, harus dilakukan dengan akurat dan benar-benar
sehingga kuantitas yang dibayar sesuai dengan gambar rencana. Dengan demikian
volume dalam kontrak tidak dilampaui yang pada akhirnya biaya yang dikeluarkan
sudah sesuai dengan yang dianggarkan.
Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang sudah diterima dari segi
pengukuran/kuantitas dan kualitas, sehingga biaya yang dikeluarkan adalah benar-
benar untuk pekerjaan yang sudah memenuhi spesifikasi.
Pekerjaan yang bisa dibayar adalah pekerjaan yang tercantum dalam kontark dan
harga satuan pekerjaan yang sudah ada dalam kontrak pelaksanaan,sehingga
biaya proyek dibayarkan sesuai dengan item pekerjaan yang ada dalam kontrak.

PEMERIKSAAN MONTHLY CERTIFICATE (MC)


Pelaksanaan kegiatan harus menyerahkan suatu nilai estimasi dari pekerjaan yang
dilaksanakan kepada Site Engineer pada setiap akhir bulan yang berjalan, yang
selanjutnya disebut sebagai Sertifikat bulanan (Monthly Certificate MC). Format
sertifikat bulanan harus sesuai dengan standar atau di usulkan oleh Konsultan dan
disetujui oleh Pemberi Tugas.

Site Engineer akan memeriksa/memverifikasi kemajuan pekerjaan yang diajukan


pada sertifikat bulanan berdasarkan hasil pemeriksaan volume (Chief Inspector) dan hasil
pemeriksaan mutu (Quality Engineer). Apabila telah dianggap sesuai dengan sebenarnya
yang telah terjadi di lapangan, selanjutnya dapat disetujui untuk menandatangani
bersama oleh wakil Pelaksana Kegiatan, Konsultan, dan Kepala Satuan Kerja Proyek
Fisik.
PEMERIKSAAN PEMBAYARAN AKHIR
Tim Pengawas Teknis akan memeriksa kembali seluruh pembayaran yang telah
lalu. Pembayaran terdahulu yang sudah disetujui apabila terdapat kesalahan masih
dapat dikoreksi pada pembayaran berikutnya.

Dalam tahap pembayaran akhir, perlu diperiksa dan dievaluasi kuantitas yang
telah dibayar sebelumnya, sehingga kuantitas/volume yang dibayar dalam pembayaran
akhir merupakan final quantity yang benar.

Dokumen Penawaran
V-31
Supervisi Pengendalian Banjir Kota Merauke Kabupaten Merauke
Tahun Anggaran 2017

PROSEDUR PERUBAHAN (CONTRACT CHANGE ORDER)


Perubahan terhadap pekerjaan dapat dimulai oleh Kepala Satuan Kerja Proyek
Fisik atau Pelaksana Kegiatan dan harus disetujui dengan suatu Perintah perubahan
yang ditanda tangani oleh kedua belah pihak. Jika dasar pembayaran yang ditetapkan
dalam suatu Perintah Perubahan tersebut menyajikan suatu perubahan dalam struktur
Harga Satuan Jenis Pembayaran atau suatu perubahan yang diperkirakan dalam Jumlah
Kontrak, Maka Perintah Perubahan harus dirundingkan dan dirumuskan dalam suatu
Addendum.

SERTIFIKAT PENYELESAIAN AKHIR


Bila Pelaksanaan Kegiatan menganggap pekerjaan akan selesai, termasuk semua
kewajiban dalam Periode Jaminan, maka Pelaksana Kegiatan harus membuat permohonan
untuk serah terima pertama.

Setelah penyelesaian dari setiap pekerjaan perbaikan yang diminta oleh Panitia
Serah Terima, dan dilanjutkan dengan pemeriksaan akhir terhadap pekerjaan tersebut,
maka Konsultan membantu mempersiapkan Sertifikat Penyelesaian Akhir.

PERNYATAAN PERHITUNGAN AKHIR


Pelaksana Kegiatan harus membuat permohonan untuk pembayaran perhitungan
akhir, bersama-sama dengan semua rincian pendukung sebagaimana diperlukan oleh
Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Proyek Fisik.

Setelah peninjauan kembali oleh Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu Proyek Fisik
dan jika diperlukan, amandemen oleh Pelaksana Kegiatan, Kepala Satuan Kerja Proyek
Fisik akan mengeluarkan suatu pernyataan Perhitungan Akhir yang disetujui untuk
pembayaran oleh Pemberi Tugas.

ADDENDUM PENUTUP
Berdasarkan pada rincian Pernyataan Kepala Satuan Kerja Proyek Fisik mengenal
Perhitungan Akhir, setelah disetujui dan ditanda tangani Pelaksana Kegiatan, Kepala
Satuan Kerja Proyek Fisik akan menyampaikan addendum penutupan tersebut kepada
Pemberi Tugas untuk ditanda tangani bersama-sama dengan Pernyataan Perhitungan
Akhir yang disetujui.

DOKUMEN CATATAN PROYEK


Pelaksana Kegiatan harus memelihara suatu catatan yang cermat tentang semua
perubahan dalam Dokumen Kontrak dan Dokumen Catatan Proyek selama pelaksanaan
pekerjaan.

Dokumen Penawaran
V-32