Anda di halaman 1dari 4

Tugas 3

SISTEM HUKUM INDONESIA

MANSUR / 023214414

Upbjj UT Kendari
HAKIKAT PELANGGARAN DALAM HUKUM PIDANA

Pengertian Pelanggaran Hukum Pidana


Pelanggaran adalah perbuatan pidana yang ringan, ancaman hukumannya berupa
denda atau kurungan. Semua perbuatan pidana yang tergolong pelanggaran diatur dalam
buku III KUHP.

Secara teoritis memang sulit sekali untuk membedakan antara kejahatan dengan
pelanggaran, istilah kejahatan berasal dari kata jahat yang artinya sangat tidak baik,
sangat buruk, sangat jelek, yang ditumpukan terhadap tabiat dari kelakuan orang. Kejahatan
berarti mempunyai sifat yang jahat atau perbuatan yang jahat (Pipin Syarifudin, 2000 : 93).
Perbuatan-perbuatan pidana menurut sistem KUHP dibagi atas kejahatan dan pelanggaran
dimana buku II KUHP (pasal 104 KUHP pasal 488 KUHP) mengatur mengenai kejahatan dan
buku III KUHP (pasal 489 KUHP pasal 569 KUHP) mengatur tentang pelanggaran.

Terdapat dua cara pandang dalam membedakan antara kejahatan dan pelanggaran
(Moeljatno, 2002 : 72), yakni pandangan pertama yang melihat adanya perbedaan antara
kejahatan dan pelanggaran dari perbedaan kualitatif. Dalam pandangan perbedaan kualitatif
antara kejahatan dan pelanggaran dikatakan bahwa kejahatan adalah perbuatan-perbuatan
yang meskipun tidak ditentukan dalam undang-undang sebagai perbuatan pidana, telah
dirasakan sebagai perbuatan yang bertentangan dengan tata hukum. Pelanggaran
sebaliknya adalah perbuatan-perbuatan yang sifat melawan hukumnya baru dapat diketahui
setelah ada wet yang menentukan (Moeljatno, 2002 : 71). Pandangan kedua yakni
pandangan yang menyatakan bahwa hanya ada perbedaan kuantitatif (soal berat atau
entengnya ancaman pidana) antara kejahatan dan pelanggaran.

Macam-macam pelanggaran adalah :


1. Pelanggaran terhadap keamanan umum bagi orang, barang dan kesehatan umum
yang diatur dalam pasal 498 502.
2. Pelanggaran terhadap ketertiban umum diatur dalam pasal 503 - 520.
3. Pelanggaran terhadap penguasa umum diatur dalam pasal 521 - 528.
4. Pelanggaran terhadap asal-usul dan perkawinan, diatur dalam pasal 529 - 530.
5. Pelanggaran terhadap orang yang perlu ditolong, diatur dalam pasal 531.
6. Pelanggaran terhadap kesusilaan, diatur dalam pasal 532 547.
7. Pelanggaran terhadap tanah, tananaman, dan pekarangan, diatur dalam pasal 548
551
8. Pelanggaran dalam jabatan diatur dalam pasal 552 559.
9. Pelanggaran dalam pelayaran, diatur dalam pasal 560 569.

Macam-macam sanksi atas pelanggaran hukum


Pernahkah kalian melihat tayangan iklan layanan masyarakat di televisi yanaag
menggambarkan seorang wasit sepak bola ragu untuk memberikan kartu peringatan kepada
pemain yang melakukan pelanggaran. Apakah kartu merah atau kartu kuning yang akan
diberikan. Keragu-raguan wasit itu merupakan satu bukti penegakan sanksi tidak tegas.

Peristiwa serupa seringkali kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari misalnya,


mengapa supir angkutan kota tidak sungkan-sungkan berhenti menunggu penumpang pada
tempat yang jelas-jelas dilarang berhenti, penyebabnya karena petugas tidak tegas
menindaknya. Karena peristiwa seperti itu dibiarkan, tidak ditindak oleh petugas, maka
lama-kelamaan dianggap hal yang biasa. Dengan kata lain, jika suatu perbuatan dilakukan
berulang-ulang, tidak ada sanksi, walaupun melanggar aturan, maka akhirnya perbuatan itu
dianggap sebagai norma. Seperti kebiasaan supir angkutan kota tadi, karena perbuatannya
itu tidak ada yang menindak, maka akhirnya menjadi hal yang biasa saja.

Hal yang sama bisa juga menimpa kita misalnya jika para siswa yang melanggar tata
tertib sekolah dibiarkan begitu saja, tanpa ada sanksi tegas, maka esok lusa pelanggaran
akan menjadi hal biasa. Prilaku yang bertentangan dengan hukum menimbulkan dampak
negatif bagi kehidupan pribadi maupun kehidupan bermasyarakat. Ketidaknyamanan dan
ketidakteraturan tentu saja akan selalu meliputi kehidupan kita jika hukum sering dilanggar
atau ditaati. Untuk mencegah terjadinya tindakan pelanggaran terhadap norma atau
hukum, maka dibuatlah sanksi dalam setiap norma atau hukum tersebut.

Sanksi terhadap pelanggaran itu amat banyak ragamnya. Sifat dan jenis sanksi dari
setiap norma atau hukum berbeda satu sama lain. Akan tetapi dari segi tujuannya sama,
yaitu untuk mewujudkan ketertiban dalam masyarakat. Berikut ini sanksi dari norma-norma
yang berlaku di masyarakat.

1. Tegas, berarti adanya aturan yang telah dibuat secara material telah diatur, misalnya
dalam hukum pidana mengenai sanksi diatur dalam pasal 10 KUHP. Dalam pasal
tersebut ditegaskan bahwa sanksi pidana berbentuk hukuman yang mencakup :
1. Hukuman pokok, yang terdiri atas :
a. Hukuman mati,
b. Hukuman penjara yang terdiri dari hukuman seumur hidup dan hukuman
sementara waktu (setinggi-tingginya 20 tahun dan sekurang-kurangnya 1
tahun).
2. Hukuman tambahan, yang terdiri atas :
a. Pencabutan hak-hak tertentu ,
b. Perampasan barang-barang
c. Pengumuman putusan hakim
2. Nyata, berarti adanya aturan yang secara material telah ditetapkan kadar hukuman
berdasarkan perbuatan yang dilanggarnya. Contoh : pasal 338 KUHP, menyebutkan
barang siapa sengaja merampas nyawa orang lain, diancam, karena pembunuhan,
dengan pidana penjara paling lama 15 tahun . Jika sanksi hukum diberikan oleh
negara, melalui lembaga-lembaga peradilan, sedangkan sanksi sosial diberikan oleh
masyarakat. Misalnya dengan menghembuskan desas desus, cemoohan, dikucilkan
dari pergaulan, bahkan yang paling berat diusir dari lingkungan masyarakat
setempat.

Jika sanksi hukum maupun sanksi sosial tidak juga mampu mencegah orang dari
perbuatan melanggar aturan, ada satu jenis sanksi lain, yakni sanksi psikologis. Sanksi
psikologis dirasakan dalam batin kita sendiri. Jika seseorang melakukan pelanggaran
terhadap peraturan, tentu saja didalam batinnya ia merasa bersalah. Selama hidupnya ia
akan dibayang-bayangi oleh kesalahannya itu. Hal ini akan sangat memebebani jiwa dan
pikiran kita. Sanksi inilah yang merupakan gerbang terakhir yang dapat mencegah seseorang
melakukan pelanggaran terhadap aturan.

Anda mungkin juga menyukai