Anda di halaman 1dari 9

BAB 13

Kekuasaan dan Politik


Definisi Kekuasaan
Menurut Max Weber, kekuasaan sebagai kemungkinan adanya satu aktor dalam
hubungan sosial yang berada pada posisi tertentu untuk melakukan kehendaknya tanpa
perlawanan.
Perbedaan Antara Kekuasaan, Otoritas Dan Pengaruh
Kekuasaan merupakan individu yang memiliki kekuasaan mempunyai kemampuan
untuk memanipulasi atau mengubah orang lain. Kekuasaan tidak mempunyai legitimasi.

Otoritas menurut Barnard sebagai karakter komunikasi (perintah) dalam organisasi


formal dimana niat baik diterima oleh kontributor atau anggota organisasi sebagai
pengaturan tindakan yang dikontribusikannya.

Menurut Grimes apa yang melegitimasi otoritas adalah promosi atau pengejaran
tujuan kolektif yang dihubungkan dengan konsensus kelompok. Sebaliknya kekuasaan
adalah pengejaran tujuan individu yang berhubungan dengan pencapaian kelompok.

Pengaruh mencakup kemampuan untuk mengubah orang lain seperti mengubah


kepuasan dan kinerja.

Klasifikasi Kekuasaan
1. Kekuasaan Penghargaan
Sumber kekuasaan ini didasarkan pada kemampuan orang untuk mengontrol SDA
dan memberi penghargaan pada orang lain.
2. Kekuasaan Koersif
Orang dengan kekuasaan koersif mempunyai kemampuan untuk menimbulkan
konsekuensi hubungan atau aversif pada orang lain, atau paling tidak melakukan apa
yang diyakini orang lain akan menghasilkan hukuman atau hasil yang tidak diinginkan.
3. Kekuasaan Legitimasi
Kekuasaan Legitimasi hampir serupa dengan otoritas dan berhubungan dekat
dengan kekuasaan penghargaan dan koersif karena orang dengan legitimasi juga berada
dalam posisi memberi penghargaan dan menghukum.

Kekuasaan legitimasi berasal dari tiga sumber :


1. Nilai budaya yang kuat dari masyarakat, organisasi atau kelompok menentukan apa
itu legitimasi.
2. Orang dapat memperoleh kekuasaan legitimasi dari struktur sosial yang diterima.
3. Sumber kekuasaan legitimasi muncul dari tujuan sebagai agen, representatif atau
kelompok yang berkuasa.
4. Kekuasaan Referen.
Jenis kekuasaan ini berasal dari hasrat sebagian orang untuk dikenal agen yang
memegang kekuasaan mereka ingin dikenal orang yang berkuasa tanpa
memedulikan hasil. Waktu adalah aspek yang menarik dari jenis kekuasaan referen
berupa iklan kesaksian mengenai suatu produk.
5. Kekuasaan Keahlian
Keahlian dinilai memiliki pengetahuan atau pemahaman hanya dalam area tertentu.

Pendekatan Kontingensi Pada Kekuasaan


Pfeffer mendeskripsikan tempat atau posisi yang tepat dalam organisasi dimana
manager harus:

1. Mengontrol sumber daya seperti anggaran, fasilitas fisik, dan posisi yang dapat
digunakan untuk memperkuat hubungan dan dukungan.
2. Mengontrol akses informasi yang ekstensif mengenai aktivitas organisasi, preferensi
atau penilaian pada orang lain, apa yang terjadi dan mengenai siapa yang
melakukannya.
3. Otoritas formal.
Terdapat beberapa dukungan penelitian untuk observasi tersebut, dan juga terdapat
beberapa penemuan penelitian yang menghasilkan kesimpulan kontingensi seperti
berikut ini :
1. Semakin besar orientasi profesional dari anggota kelompok, semakin besar kekuatan
relatif yang dimiliki kekuasaan referen dalam mempengaruhi anggota.
2. Semakin kecil usaha dan minat anggota berkedudukan tinggi untuk mengalokasikan
tugas, semakin mungkin anggota berkedudukan rendah untuk memperoleh
kekuasaan yang relefan dengan tugas ini.
Kemampuan Mempengaruhi Target Kekuasaan
Berikut ini karakteristik yang dinilai penting untuk kemampuan target untuk dapat
mempengaruhi :

1. Dependensi
2. Ketidakpastian
3. Kepribadian
4. Intelegensi
5. Gender
6. Umur
7. Budaya
Model Kontingensi Kekuasaan Keseluruhan
Beberapa variabel kontingensi dalam kekuasaan perilaku selain lewat target dapat
diduga melalui beberapa tipe kekuasaan seperti kredibilitas dan pengawasan. Model
kekuasaan memiliki pertimbangan relefan seperti bagaiamana dan dalam kondisi apa
penyelia dan manager memberi pengaruh kepada karyawannya. Mereka tidak memiliki
kredibilitas yang cukup, atau tidak memiliki keahlian atau kekuasaan legitimasi yang
memungkinkan terjadinya internalisasi. Internalisasi menjadi hal yang penting dalam
organisasi saat ini, yang ditandai dengan otonomi, struktur datar dengan budaya
keterbukaan , pemberdayaan dan kepercayaan.

Para agen harus mempunyai keahlian atau kekuasaan legitimasi (kredibilitas) dan,
lebih baik lagi jika relevan. Model kekuasaan ini memiliki pertimbangan elevan seperti
bagaimana dan dalam kondisi apa penyelia dan manager memberi pengaruh kepada
karyawannya. Riset kelman menunjukan bahwa internalisasi berdampak lama, tidak perlu
pengawasan dan menonjolkan diri. Secara umum kepemimpinan lebih berhubungan dengan
bagaimana mendapatkan perhatian orang bukan sekedar tunduk, tetapi juga mengetahui
maksud dan tujuan pemimpin, dan bahkan menginternalisasi apa yang di lakukan para
pemimpin saat mereka memberi pengaruh. Internalisasi menjadi hal yang penting dalam
organisasi saat ini, yang di tandai dengan otonomi, struktur datar dengan budaya
keterbukaan, dan kepercayaan.

Dua Wajah Kekuasaan


Ada dua tipe kekuasaan utama yaitu positif dan negatif. Selama bertahun-tahun
kekuasaaan memiliki konotasi negatif. Istilah haus kekuasaan biasa digunakan untuk
mencerminkan suatu keuasaan yang negatif mengenai kekuasaan. Dalam definisi kekuasaan
sosial, manager sering berada pada posisi yang genting saat berjalan pada jalur antara
menunjukan dominasi personal atau lebih menggunakan kekuasaan fungsi sosial. McClelland
mengakumulasikan beberapa bukti empiris bahwa manager dengan kekuasaan lebih efektif.
Ada bukti empiris terbaru yang menentang pandangan McClelland. Sebuah studi
menemukan bahwa mereka yang memiliki kebutuhan tinggi akan kekuasaan, dapat
menekan aliran informasi, terutama informasi yang bertentangan dengan tindakan yang
disukai dan memiliki dampak negatif terhadap pembuatan keputusan manajerial yang
efektif. Penggunaan kekuasaan secara negatif juga muncul pada situasi pelecahan
seksual.Dalam keadaan yang tidak mendukung, pelecehan didasarkan pada kekuasaan yang
dipakai untuk mengintimidasi orang lain, terutama mereka yang posisinya lemah. Bagaimana
kekuasaan dinamis digunakan dan tipe kekuasaan apakah yang digunakan, dapat secara
viktal memengaruhi kinerja manusia dan tujuan organisasi.

Kasus Khusus Dalam Pemberdayaan


Pemberdayaan adalah otoritas dalam membuat keputusan di area tanggung jawab
seseorang tanpa meminta persetujuan orang lain. Ada dua karakteristik yang menjadikannya
unik. Pertama, karyawan didukung untuk memakai inisiatif mereka sendiri. Kedua,
pemberdayaan karyawan tidak hanya memberi otoritas, tetapi juga sumber daya sehingga
mereka mampu membuat keputusan dan memiliki kekuasaan untuk di implementasikan.
Ada hubungan antara kekuasaan dengan kepercayaan diri, otoritas manageria, dan
pengharapan terhadap komitmen kontributor. Agar ini bisa terjadi, pemberdayaan harus
tertanam dalam nilai-nilai budaya organisasi yang dioperasionalisasikan melalui partisipasi,
inofasi, akses, keinformasi, dan akuntabilitas.
Kompleksitas Pemberdayaan
Dalam pemberdayaan, karyawan dianggap bersedia menerima tanggung jawab dan
bersedia meningkatkan pekerjaan serta relasi sehari-hari mereka. Banyak perusahaan kini
menemukan bahwa pelatihan pemberdayaan sangat membantu meningkatkan partisipasi
karyawan secara lebih efektif dan membuat segala sesuatu bisa terjadi. Contoh yang baik
dari divisi kimia Georgia-Pasifik, dimana penyelia kualitas dan penyelia asuransi lingkungan
dan operator pabrik mendapat pelatihan pemberdayaan melalui saling berbagi ide untuk
meningkatkan keefektifan kesiapan sample tes kimia. Banyak manager lini tengah mendapat
masalah ketika harus berhadapan dengan dua budaya ketika strategi memberi kekuasaan
digunakan.

Implikasi Inovasi
Pemberdayaan membawa inovasi karena kayawan mempunyai otoritas untuk
mencoba ide baru dan membuat keputusan yang menghasilkan sebuah cara baru untuk
melakukan banyak hal.

Akses Informasi
Ketika karyawan diberi akses informasi sebagai bagian vital dalam pemberdayaan,
mereka lebih bersedia bekerja sama. Hasil pengaksesan informasi adalah tim kerja sanggup
mengelola dan mengontrol pengoperasian menjadi lebih efektif dibanding dengan birokrasi
hierarkis dan segala sesuatu yang bersifat rahasia, hanya berdasarkan informasi yang perlu
diketahui saja. Dengan nilai budaya open book dan teknologi intranet, karyawan diberi
wewenang memiliki semua informasi (dan pengetahuan) organisasi yang tersedia untuk
melaksanakan tugas seefektif mungkin.

Mengimplementasikan Pemberdayaan
Beberapa cara yang dipakai manager untuk mengimplementasikan pemberdayaan
yaitu :

1. Kaizen dan prinsip just do it


2. Membangun kepercayaan
Tujuannya untuk mengikat pemberdayaan dengan tindakan yang digerakan oleh
pendekatan hasil. Pendekatan ini ditemukan di Cummins Engien. Perusahaan
mengadakan program pelatihan 5 hari dimana kaizen (kemajuan terus menerus)
dikombinasikan dengan JDIT. Prinsip-prinsipnya meliputi :
1. Mengubah cara-cara konfensional, memperbaiki ide cara kerja.
2. Lebih berfikr bagaimana melakukan sesuatu daripada berpikir mengapa tidak
dapat dilakukan.
3. Mulai dengan pertanyaan-pertanyaan praktis terbaru.
4. Mulai membuat kemajuan dengan segera, walaupun hanya 50% saja yang bisa
dilengkapi.
5. Segera perbaiki kesalahan.
Bowen dan Lawler menyatakan bahwa organisasi memliki 4 tingkat pemberdayaan
yang harus di jalankan :

1. Tingkat keterlibatan yang rendah


2. Tingkat keterlibatan sedang
3. Tingkat keterlibatan subtansial
4. Tingkat keterlibatan tinggi

Secara umum pemberdayaan dapat di pandang sebagai kekuasaan sosial dalam


organisasi.

Implikasi Politik Dari Kekuasaan


Alvin Toffler, menulis Futre Shoca, The Third Waffe, dan Powershift, mengamati
bahwa perusahaan selalu berada dalam situasi perjuangan politik internal, perjuangan
kekuasaan, pertarungan, dan lain sebagainya. Kemampuan politik erat hubungannya dengan
akuisisi kekuasaan.

Perspektif Politik Kekuasaan Dalam Organisasi


Pentingnya aspek kekuasaan dan keunggulan strategis tampil di garis depan. Seperti
ditekankan oleh Preffer : Organisasi, khususnya organisasi besar adalah seperti politik
fundamental pemerintahan yang nyata kehadirannya.

Walter Nord memberikan 4 dalil kekuasaan dalam oganisasi agar tetap terfokus pada
realitas politik :

1. Organisasi tersusun dari koalisi yang bersaing satu sama lain dalam sumber daya, energi,
dan pengaruh.
2. Koalisi yang berbeda-beda berusaha melindungi minat mereka terhadap posisi yang
berpengaruh
3. Ketidakseimbangan distribusi kekuasaan mempunyai efek terdapat penurunan derajat
kemanusiaan
4. Penggunaan kekuasaan dalam organisasi adalah salah satu aspek kursial dari
pembangunan kekuasaan dalam sistem sosial yang lebih luas.

Para peneliti politik organsasi menyimpulkan bahwa politik organisasi hanyalah


sebuah fakta kehidupan. Pengalaman pribadi dan bukti-bukti anekdot sudah bertahun-tahun
mendukung keyakinan umum yang menyatakan perilaku indifusi dalam organisasi dan
perilaku organisasi itu sendiri merupakan sifat dasar organisasi.

Riset politik organisasi mengidentifikasi beberapa area yang relevan pada tingkat
tertentu apakah sebuah organisasi lebih politis daripada rasionalis. Area-area tersebut
adalah :

1. Sumber daya
2. Keputusan
3. Tujuan
4. Teknologi dan lingkungan eksternal
5. Perubahan

Strategi Politik Khusus Untuk Akuisisi Kekuasaan


Salah satu riset menemukan bahwa strategi politik yang berfokus pada penyelia
akan meningkatkan kesuksesan karier. Sebaliknya, strategi politik yang berfokus pada
pekerjaan menurunkan kesuksesan karier. Taksonomi strategi politik terbaru menyatakan:

1. Strategi informasi: menarget pengambilan keputusan politis dengan menyediakan


informasi dengan melobi atau menyediakan status atau laporan teknis.
2. Strategi insentif finansial: menarget pengambilan keputusan politis dengan menyediakan
insentif finansial seperti honor untuk berbicara atau honor untuk melakukan perjalanan.
3. Strategi membentuk komstilaside: menarget pengambilan keputusan secara tidak
langsung melalui dukungan pemilih seperti mobilisasi karyawan rendahan,para
pemasok, pelanggan, hubungan masyarakat atau konfirmasi pers

Strategi Poltik untuk mendapatkan kekuasaan dalam organisasi:


1. Menerima nasihat
2. Mempertahankan kemampuan manuver
3. Mengembangkan keterbatasan komunikasi
4. Menunjukan kepercayaan diri
5. Mengontrol akses terhadap informasi dan manusia
6. Membuat aktivitas sentral yang tidak bisa digantikan
7. Membentuk hubungan sponsor-protege
8. Menstimulasi kompetisi antar karyawan ambisius
9. Menetralkan pihak oposisi yang berpotensi
10. Membuat strategi pemindahan
11. Mengubah yang tidak berkomitmen menjadi berkomitmen
12. Membentuk koalisi yang menguntungkan
13. Mengembangkan keahlian
14. Membentuk orang yang ahli di bidangnya
15. Mengusahakan imbal balik
16. Riset data untuk mendukung cara pandang seseorang
17. Melarang komunikasi dengan tujuan yang baik
18. Menghindari perselisihan yang tidak berguna

Taktik Politik Melalui Riset


1. Taktik tekanan: menggunakan tuntutan, ancaman, atau intimidasi
untuk memastikan anda tunduk pada permintaan atau mendukung
proposal
2. Daya tarik tingkat atas: mempengaruhi anda dengan mengatakan bahwa
proposal telah di setujui managemen atas agar anda dapat memenuhi
tuntutan
3. Taktik pertukaran: membuat janji implisit atau ada eksplisit yang
menyatakan bahwa anda akan menerima penghargaan atau keuntungan
nyata jika anda mampu memenuhi tuntutan dan mendukung
proposal,atau mengingatkan anda kepada perjanjian awal untuk saling
memberi bantuan
4. Taktik koalisi: mencari bantuan orang lain untuk meyakinkan anda agar
anda mau melakukannya atau menggunakan pengaruh orang lain
sebagai argumen supaya anda menyetujuinya
5. Persusasi rasional: memakai argumen logis dan bukti faktual untuk
meyakinkan anda bahwa proposal dan permintaan tersebut berjalan
dengan baik dan berhasil mencapai tujuan tugas
6. Daya tarik inspirasional: membuat permintaan yang emosional atau
proposal yang menimbulkan antusiasme yang dapat menampilkan nilai-
nilai dan idealisme anda, atau meningkatkan kepercayaan diri anda
bahwa anda dapat melakukannya
7. Taktik konsultasi: menggunakan partisipasi anda dalam membuat suatu
keputusan atau perencanaan bagaimana mengimplementasikan
kebijakan, strategi, atau perubahan.

Mempertahakan Aliansi Dengan Orang-Orang Yang Berkuasa


Formasi koalisi (aliansi) penting bagi akuisisi kekuasaan dalam organisasi. Koalisi
yang nyata terlihat adalah koalisi degan anggota departemen yang memegang kedudukan
penting atau dengan anggota managemen tingkat atas.

Kawan Atau Lawan


Salah seorang penulis managemen telah mengaplikasikan prinsip ini dalam
perusahaan modern. Contohnya, untuk pengambil alihan perusahaan, dia mengikuti prinsip
Machiavelli dalam hal:
Prinsip tuntunannya adalah, seorang manager senior pada perusahaan yang telah di ambil
alih harus disambut dengan dukungan dan atau pemecatan.

Memisahkan Dan Memerintah


Strategi politik dari militer yang sudah sangat di kenal ini juga dapat di aplikasikan
dalam akuisisi kekuasaan organisasi modern. Asumsinya, kadang kadang tidak menjamin
bahwa mereka yang di pisahkan tidak akan membentuk kualisi dengan sendirinya.

Manipulasi Informasi Yang Di Kelompokan


Anggota organisasi dengan taktik politik yang tajam dan cermat, mengontrol
informasi demi mendapatkan kekuasaan. Seorang CIO (Chief Information Officer) bisa saja
membocorkan informasi mengenai ketentuan harga terbaru kepada Insinyur Desain sebelum
rapat mulai. CIO tersebut memiliki kekuasaan karena sang insinyur berhutang budi
kepadanya.
Melakukan Pertunjukan Kilat
Strategi ini berurusan dengan memberi penampilan terbaik dalam proyek atau tugas
pekerjaan secepat mungkin agar mendapat perhatian. Jika mendapat perhatian positif,
kekuasaan akan didapat untuk melakukan proyek yang lebih sulit dan berjangka panjang.

Mengumpulkan Dan Menggunakan IOU


Dalam stategi ini, orang yang mencari kekuasaan akan memberi banyak memberi
bantuan kepada orang lain dengan harapan orang-orang tersebut akan berhutang budi
kepadanya dan akan membalasnya ketika diminta.

Menghindari Keterlibatan Dengan Tugas (Fabianisme)


Strategi ini lambat dan mudah-lebih mendekati pendekatan evolusioner daripada
revolusioner.

Menyerang Dan Menyalahkan Orang Lain


Taktik poitis ini membuat orang lain terlihat buruk agar si pencari kekuasaan
terlihat baik.

Maju Satu Langkah Dalam Satu Waktu


Strategi ini mengambil satu langkah dalam satu waktu, bukan memaksakan diri
mengerjakan seluruh proyek besar atau upaya reorganisasi.

Menunggu Saat Terjadinya Krisi (Bersusah Susah Dahulu,Bersenang


Senang Kemudian)
Strategi ini merupakan kebalikan dari tidak ada kabar baik sehingga kabar buruk
mendapat perhatian. Ide dasarnya adalah jika mengizinkan bawahan untuk berpatisipasi dan
memiliki harapan, dapat mengurangi kekuasaan manajer.

Waspada Terhadap Ketergantungan Sumber Daya


Sub unit dan individu yang paling berkuasa adalah mereka yang berkontribusi
dengan sumberdaya yang bernilai. Semua taktik politis ini adalah bagian dari suatu
permainan dan pertempuran dalam organisasi masa kini. Banyak manajer percaya bahwa
mereka harus mengambil langkah untuk menghentikan permainan dengan membangun
kepercayaan dan program tujuan bersama. Usaha usaha ini secara kusus dijamin
keberhasilannya saat sebuah organisasi sedang menghadapi krisis. Akhir akhir ini, beberapa
pengamat menyarankan agar manajer membaca buku karangan shakespeare agar
memahami intrik dan seluk beluk taktik politik dalam organisasi masa kini.
Catatan Penutup Tentang Kekuasaan Dan Politik
Perhatian tehadap masalah etika ditujukan agar berhasil dan efektif. Sebagai contoh,
dari 10 aktifitas nonetis yang berhasil diidentifikasi, tiga diantaranya bersifat politis:

1. Membuat perjanjian dengan vendor, dengan tujuan pribadi.


2. Adanya pebedaan standar gaji berdasarkan hubungan pertemanan.
3. Memilih untuk mempekerjakan, melatih dan mempromosikan orang
orang kesayangan ketimbang memilih merka yang benar benar
berkualitas.

Membantu mengatasi dampak negatif yang dimiliki politik organisasi mengingat


adanya etika organisasi. Beberapa panduan yang dapat dipakai adalah:

1. Tetap mempertahankan keterbukaan komunikasi


2. Model aturan etika dan perilaku non politik
3. Waspada tehadap para pemain yang hanya berakting demi
mendapatkan keunatungan pribadi
4. Melindungi minat privasi individu
5. Selalu menggunakan penilaian adilkah ini?

Implikasi etika kekuasaan dan politik jugga membawa efek disfungsional seperti
merdunya nilai moral, munculnya para pemenang dan korban dan terkurasnya energi
dan waktu karena menyusun rencana serangan atau serangan balasan, bukanya
berkonsentrasi kepada pekerjaan. Bukti politik perusahaan adalah permainan politik
seseorang dalam perencanaan bagi hasil, layaknya sebuah lonceng kematian. Bukti
pengamatan empiris terhadap para manajer yang menggunakan politik organiasi. Mereka
lebih memiliki kesempatan untuk di promosikan, tetapi relatif kurang efektif dalam
mengatasi masalah kepuasan karyawan, komitmen serta kinerja unitnya. Bukti penelitian
yang menunjukkan manufer politik untuk memajukan organisasi tetapi manufer tersebut
menurunkan kinerja efektif unit, dapat terjadi pada lintas budaya.

Dalam lingkungan sosial sekarang ini, banyak karyawan tertarik pada pekerjaan yang
memiliki nilai politik dan kekuasaan. Dengan kata lain, harapan anggota organisasi masa kini
terhadap kehidupan yang lebih baik dan lebih berarti di gantikan dengan pengajaran
kekuasaan.

Organisasi modern yang kompleks cenderung menciptakan iklim yang mendukung


pencarian kekuasaan dan manufer politik. Sekarang aktifitas politik berkembang melebihi
perbatasan organisasi tradisional. Contohnya, microsoft mempelajari cara yang sulit bahwa
taktik politik menjilat lebih berhasil ketimbang hanya mencoba menggertak petgas
pemerintahan ketika ada investigasi pelanggaran hukum. Kekuasaan dan politik adalah
sebuah fakta kehidupan organisasi modern, dan ada harapan bagi penelitian di masa depan
yang akan berlanjut dan membantu para manajer dalam upaya memahami dinamika, arti,
dan aplikasi keberhasilannya.