Anda di halaman 1dari 15

Makalah Usaha Kecil Menengah

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
pertolonganNya sehingga Kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Dalam Makalah ini kami membahas tentang UKM. Telah kita ketahui bahwa pembelajaran kita dalam
Teori Organisasi Umum ini menyangkut pembelajaran tentangUKM.

Makalah ini akan menjelaskan mengenai pengertian UKM dan hasil kunjungan kerja ke UKM yang
kami rangkum dari berbagi sumber informasi baik melalui buku penunjang maupun dari sumber-
sumber lainnya.

Untuk itu semoga makalah yang kami buat ini dapat menjadi acuan agar kita menjadi lebih kreatif
lagi dalam membuat suatu laporan atau makalah. Dalam makalah ini kami menyadari sepenuhnya
masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu kami mengharapkan saran-saran dan kritik-kritik yang
membangun untuk penyempurnaan penulisan ini.

Depok, 4 November 2014

Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................... 1

Daftar Isi ............................................................................................................... 2

1. Pendahuluan...................................................................................................... 3

1.1. Latar Belakang Masalah............................................................................. 3

1.2. Rumusan Masalah....................................................................................... 3

1.3. Tujuan......................................................................................................... 4

2. Pembahasan ...................................................................................................... 5
2.1 Pengertian Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah .......................... 5

2.2 Kunjungan Langsung ke Salah Satu UKM ........................................................... 6

2.2.1 Biografi Pemilik dan Jenis Usaha .........................................................6

2.2.2 Sejarah Awal Mula Usaha ...................................................................6

2.2.3 Produk yang Ditawarkan .....................................................................6

2.2.4 Bahan dan Pengolahan Kerupuk ..........................................................6

2.2.5 Segmen Pasar ......................................................................................6

2.2.6 Modal Awal Usaha dan Harga Jual .......................................................6

2.2.7 Kiat-kiat dari pemilik toko sebelum mendirikan suatu usaha ...............7

2.2.8 kerugian dan keuntungan .....................................................................7

3. Kesimpulan .............................................................................................................8

3.1 Kesimpulan ...............................................................................................8

3.2 Saran .........................................................................................................8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha Kecil Menengah (UKM) mempunyai peran yang sanagat penting dalampembangunan ekonomi
nasional. Selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi danpenerapan tenaga kerja, Usaha Kecil
Menengah (UKM) ini juga berperan dalampendistribusian hasil-hasil pembangunan. Sejak krisis
ekonomi melanda Negara kitabeberapa waktu yang lalu, yang dimana banyak usaha besar yang
mengalami penurunanatau bisa disebut bangkrut, justru UKM ini telah membuktikan bahwa UKM
lebih tangguhdalam menghadapi krisis ekonomi yang melanda Negara kita dibandingkan usaha-
usaha yang lebih besar. Dari kejadian tersebut harusnya UKM ini harus mendapatkan perhatianlebih
dari pemerintah maupun masyarakat dan jangan memandang UKM dari sebelahmata saja, karena
kami yakin jika UKM ini lebih di perhatikan, maka UKM ini dapatberkembang lebih kompetitif
bersama pelaku ekonomi lainnya.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagaiberikut:

1. Apa yang dimaksud UKM dan apa saja kriterianya?

2. Bagaimana cara pemilik Pabrik Pengolahan Kerupuk Cap Ikan & Angsa dalammembagi tugas
dengan karyawannya?

3. Kiat-kiat apa saja yang dilakukan pemilik Pabrik Pengolahan Kerupuk Cap Ikan &Angsa
sebelum mendirikan usaha tersebut?

1.3 Tujuan

Tujuan kami membuat makalah ini tidak semata-matahanya untuk menyelesaikan tugasSoftskill,
melainkan kami juga ingin mengetahui lebih luas tentang UKM dan juga kami ingin mengetahui
manajemen dan tatakerja organisasi dalam sebuah UKM.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah

Dalam perekenomian Indonesia usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengahmerupakan kelompok
usaha yang memiliki jumlah paling besar.Selain itu kelompok initerbukti tahan berbagai macam
goncangan krisis. Berdasarkan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah (UMKM), ada beberapakriteria yang dipergunakan untuk mendefinisikan pengertian
dan criteria tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
USAHA MIKRO adalah usaha ekonomi produktif milik orang perorangan dan/ ataubadan usaha
perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalamUndang Undang
Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Kriteria Usaha Kecil adalahsebagaiberikut :

1. Memili kekayaan bersih lebih dari Rp 50 Juta tidak termasuk tanah, bangunan,tempat
usaha, atau

2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 300 Juta sampai dengan paling banyak Rp
2,5Milliar.

USAHA MENENGAH adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh
perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan ataucabang perusahaan yang
dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupuntidak langsung dengan Usaha Kecil atau
Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atauhasil penjualan tahunan sebgaimana diatur dalam
Undang Undang Nomor 20 Tahun 2008 Tentang UMKM.

Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut :

1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 500 Juta sampai dengan paling banyak Rp 10
Milliar tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, atau

2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp 2,5 Milliar sampai dengan paling banyak
Rp 50 Milliar.

2.2 Kunjungan Langsung ke Salah Satu UKM Pembuat Kerupuk

2.2.1 Biografi Pemilik dan Jenis Usaha

Nama : Muhammad Syah

Jenis Usaha : Pabrik Kerupuk

Alamat : JL. Kampung Baru No.16 RT/RW : 08/012. Kelapa Dua Wetan, Kecamatan
Ciracas. Jakarta Timur

2.2.2 Sejarah Awal Mula Usaha


Sebelum mendirikan pabrik kerupuk, bapak sabamsi mendirikan UKM seperti berdagang bakso, roti
dan kue. Tapi banyak mengalami kegagalan dalam usaha tersebut, dari pengalaman beliau mencoba
usaha usaha kerupuk, yang di pasaran masih banyak peluangnya menurut beliau. Dan akhirnya beliau
merasa mantap untuk mengembangkan usaha kerupuk itu, dan diberi nama cap ikan dan angsa.
Nama ini di ambil dari kesukan beliau dengan hewan tersebut memiliki daya tarik tersendiri.

2.2.3 Produk yang Ditawarkan

Menjual Kerupuk Cap Ikan dan Angsa dengan berbagai macam varian rasa.

2.2.4 Bahan dan Pengolahan Kerupuk

Cara pengolahan kerupuk

- Kerupuk mentah dibeli ditoko

- Bumbu dibeli dipabrik

Bumbu dicampurkan dalam 2 produk yang rasa yang sama (ex;bumbu balado , bumbu cabe) untuk
rasa beda dari yang lain.

2.2.5 Segmen Pasar

- Mengirimkan kepasar

- Pembeli (biasanya pedagang warung-warung kecil)

- Pedagang makanan ringan

2.2.6 Modal Awal Usaha dan Harga Jual

Modal usaha awal kurang lebih 10 juta untuk semua dalam usaha produksi dan pemasaran. Profit
perbulan 5-10 juta. Laba kotor 8 juta, setelah dikurangi serba serbi, laba bersih sekitar 2 juta.

HARGA JUAL KERUPUK

1 IKET : Rp 70.000-,

1 PACK (isi 20 bungkus ) : Rp 8.000-,

1 Bungkus Rp 500-,
2.2.7 Kiat-kiat dari pemilik toko sebelum mendirikan suatu usaha

mencari tempat yang strategis,

usaha yang akan kita dirikan harus sesuai dengan yang kita sukai.

Promosi, agar menarik pembeli.

Selain itu harus mempunyai keuletan, dan jangan mudah menyerah dalam berusaha.

2.2.8 kerugian dan keuntungan

Kerugian / Kendala yang dimiliki pabrik

- Jika turun hujan , sulit untuk menjemur/ memanaskan kerupuknya

- Jika lagi sepi pembeli stok digudang tidak semua bisa dibeli /terjual dan bisa jadi basi

Keuntungan yang didapat

- Perbulan 3jt, Jika ramai pembeli (bersih)

- Tidak memiliki karyawan ,namun berkerjasama dengan saudara dekat dan tidak di gajisecara
tetap.

BAB 3 Kesimpulan & Saran

3.1 Kesimpulan

Untuk memulai usaha tidak harus mencari jenis usaha yang sulit. Tapi hanya dengan hobi yang
dimiliki itu juga dapat menjadi peluang bisnis. Dalam masa krisis ekonomi seperti saat ini, banyak
perusahaan besar yang mengalami kebangkrutan. Tetapi itu tidak menggoyahkan UKM yang berdiri
saat ini, mereka mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional. Hal itu
dikarenakan UKM dapat menyerap tenaga kerja.

3.2 Saran

Karena UKM mempunyai peranan yang penting dlam pembangunan nasional, maka sebaiknya UKM
mendapat dukungan penuh dari pemerintah agar UKM yang ada sekarang semakin baik. Bila UKM
didukung penuh oleh pemerintah, mungkin saja terjadi berkurangnya pengangguran karena makin
banyaknya UKM yang bermunculan.

Pengertian profil diri adalah, sebuah tulisan singkat menggambarkan seseorang dari lahir sampai
saat itu juga. Profil diri akan menggambarkan nama, tempat tanggal lahir, umur, alamat, agama,
pendidikan terakhir, hobi, nomor telepon, pengalaman kerja, pengalaman organisasi, dan referensi
terhadap semua pengalaman tersebut.

Profil diri biasa dibuat untuk melamar kerja, mengikuti pelatihan, kenaikan jabatan untuk mengurus
pasport dan sebagainya, profol diri atau curriculum vitae sebaiknya diketik agar memudahkan dalam
membacanya. profil diri ini sebenarnya sama dengan surat pernyataan jadi pada akhir profil dibubuhi
tanda tangan.

Mengapa profil diri diperlukan, ini karena setiap orang memiliki perbedaan dalam berbagai hal,
selain itu orang lain akan sangat membutuhkan gambaran seseorang yang jelas dan singkat agar
dapat diposisikan dengan tepat pada pekerjaan tertentu.

Siapapun dapat membuat profil diri, tidak terbatas oleh umur, pendidikan status sosial agama dan
sebagainya. yang penting seseorang itu memiliki nama dan umur

Pengertian profil

Profil adalah sebuah gambaran singkat tentang seseorang,, organisasi, benda lembaga
ataupun wilayah.
Cara menulis profil yang baik ditulis secara singkat dan jelas dan dapat menggambarkan
sesuatu yang kita tulis baik itu berupa seseorang ,benda lembaga ataupun wilayah.
profil bisa dibuat tertulis, baik di dalam sebuah buku ,di blog atau website sesuai dengan
kebutuhan kita

Cara Membuat Profil

Untuk memudahkan pembuatan atau menulis sebuah profil ada beberapa panduan penulisan,
profil membutuhkan ketegasan dalam penulisan dalam format yang singkat namun harus
jelas dan harus benar benar menggambarkan dari sesuatu yang kita tulis . membuat profil
tidaklah sulit,namun kita harus mengetahui dulu sumber yang akan kita tulis untuk di jadikan
sebuah profil

a. Pengertian Motivasi
Menurut Hasibuan Malayu S.P dalam Sunyoto Danang (2012:191) motivasi adalah

suatu perangsang keinginan daya gerak kemauan bekerja seseorang, setiap motif mempunyai

tujuan tertentu yang ingin dicapai.


Sedangkan Asaad dalam Pasolog, Harbani (2010:140) motivasi adalah sesuatu yang

menimbulkan semangat atau dorongan kerja.

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi

merupakan dorongan yang dapat membangkitkan kemauan kerja karyawan untuk memulai

melaksanakan pekerjaan sesuai tugas dan tanggung jawabnya.


b. Tujuan Motivasi
Menurut Sunyoto Danang (2012:198) tujuan motivasi antara lain :
1) Mendorong gairah dan semangat kerja karyawan
2) Meningkatkan moral dan kepuasan kerja karyawan
3) Meningkatkan produktivitas kerja karyawan
4) Mempertahankan loyalitas dan kestabilan karyawan perusahaan
5) Menciptakan suasana dan hubungan kerja yang baik.
6) Meningkatkan kreativitas dan partisipasi karyawan.

Sedangkan menurut Pasolog, Harbani (2008:142) menyatakan pentingnya motivasi

yaitu :

1) Motivasi merupakan masalah terpenting dalam proses hidup dan kehidupan.


2) Kinerja karyawan rata-rata 60% tingkat evisiennya, dengan motivasi yang baik dapat

meningkat s/d 80% keatas.


3) Orang bekerja bukan hanya karena uang tapi kepuasan kerja.
4) Motivasi adalah tugas yang paling crusial para pemimpin.

Berdasarkan pendapat diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa motivasi betujuan

untuk membantu perusahaan mencapai tujuannya dengan peningkatan prestasi kerja dari para

karyawan.

c. Jenis-jenis Teori Motivasi


Menurut Husein Umar dalam Sunyoto Danang (2012:192) teori motivasi pada

dasarnya dibedakan menjadi dua, yaitu teori motivasi kepuasa dan teori motivasi proses.
1) Teori kepuasan (content theory)
Teori ini mendasarkan pada factor-faktor kebutuhan dan kepuasan individu sehingga mereka

mau melakukan aktivitasnya, jadi mengacu pada diri seseorang. Teori ini mencoba mencari

tahu tentang kebutuhan apa yang dapat memuaskan dan yang dapat mendorong semangat

kerja seseorang.
(a) Teori kebutuhan
Menurut ini kebutuhan dan kepuasan pekerja identic dengan kebutuhan biologis dan
psikologis, yaitu berupa material maupun non-material. Dasar teori ini adalah bahwa manusia
merupakan mahkluk yang keinginannya tak terbatas, alat motivasinya adalah kepuasan yang
belum terpenuhi serta kebutuhannya berjenjang. Atas dasar asumsi di atas. Kebutuhan
manusia menurut Maslow dalam Sunyoto Danang (2012:194) adalah sebagai berikut :
(1) Kebutuhan fisiologis (physiological needs)
Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan manusia yang paling dasar yang merupakan
kebutuhan untuk dapat hidup seperti makanan, minuman, oksigen, tidur dan sebagainya.
(2) Kebutuhan rasa aman (safety needs)
Kebutuhan ini meliputi keamanan dan perlindungan dari bahaya kecelakaan kerja, jaminan
akan berlangsung pekerjaanya, dan jaminan akan hari tuanya pada saat mereka tidak lagi
bekerja.
(3) Kebutuhan social (social needs)
Meliputi kebutuhan untuk persahabatan, afiliasi, dan interaksi yang lebih erat dengan orang
lain. Dalam organisai akan berkaitan dengan kebutuhan akan adanya kelompok kerja yang
kompak, supervise yang baik.
(4) Kebutuhan penghargaan (esteem needs)
Kebutuhan ini meliputi kebutuhan keinginan untuk dihormati, dihargai atas prestasi
seseorang, pengakuan atas factor kemampuan dan keahlian seseorang serta efektivitas kerja
seseorang.
(b) Teori ERG (Existence, Relatedness, and Growht) dari Clayton Alfeder.
Sebagaimana halnya teori-teori kebutuhan, teori ERG dari Calyton Alfeder sependapat bahwa
orang cenderung meningkat kebutuhannya sejalan dengan terpuaskannya kebutuhan di
bawahnya. Menurut ERG ada 3 kelompok kebutuhan yang utama, yaitu :
(1) Kebutuhan akan keberadaan (existence needs)
Kebutuhan ini berhubungan dengan kebutuhan dasar termasuk juga kebutuhan fisiologis yang
di dalamnya meliputi kebutuhan makan, minum, pakaian, perumahan dan keamanan.
(2) Kebutuhan akan afilasi (relatedness needs)
Kebutuhan ini menekankan akan pentingnya hubungan antara individu dan juga hubungan
bermasyarakat tempat kerja di perusahaan tersebut.
(3) Kebutuhan akan pertumbuhan (growth needs)
Keinginan akan pengembangan potensi dalam diri seseorang untuk maju dan menigkatkan
kemampuan pribadinya.
(c) Teori motivasi prestasi dari Mc. Clellad
Teori ini menyatakan bahwa seseorang bekerja memiliki energy potensial yang dapat
dimanfaatkan tergantung pada dorongan motivasi, situasi, dan peluang yang ada. Mc. Clellad
meneliti tiga jenis kebutuhan, yaitu :
(1) Kebutuhan akan prestasi, ciri-cirinya:
- Orang yang memiliki kebutuhan prestasi tinggi memiliki rasa tanggung jawab terhadap
pelaksanaan suatu tugas.
- Orang yang memiliki kebutuhan akan prestasi yang tinggi dan ia memiliki suatu keinginan
besar untuk dapat berhasil dalam menyelesaikan pekerjaanya.
- Orang yang melilih kebutuhan prestasi tinggi memiliki keinginan untuk bekerja keras guna
memperoleh tanggapan atau umpan balik atas pelaksanaan tugasnya.
(2) Kebutuhan akan afiliasi,ciri-cirinya:
- Mereka memiliki suatu keinginan dan mempunyai perasaan diterima oleh orang lain di
lingkungan dimana mereka bekerja.
- Mereka cenderung berusaha membina hubungan social yang menyenangkan dan rasa saling
membantu dengan orang lain.
(3) Kebutuhan akan kekuasaan, ciri-cirinya:
- Keinginan untuk memengaruhi secara langsung terhadap orang lain.
- Keinginan untuk mengadakan pengendalian terhadap orang lain.
- Adanya suatu upaya untuk menjaga hubungan pimpinan pengikut.
- Mereka pada umumnya berusaha mencari posisi pimpinan.
2) Teori motivasi proses (process theory of motivation)
Teori ini berusaha agar setiap karyawan mau bekerja giat sesuai dengan harapan. Daya

penggerak yang memotivasi semangat kerja terkandung dari harapan yang akan diperolehnya.
Jika harapan menjadi kenyataan maka karyawan cenderung akan menigkatkan kualitas

kerjanya, begitu pula sebaliknya. Ada 3 macam teori proses yang utama. antara lain:
(a) Teori harapan (expectancy theory)
Teori ini dikemukakan oleh Victor H. Vroom yang mengatakan bahwa seseorang bekerja
untuk merealisasikan harapan-harapan dari pekerjaan itu. Teori ini di dasarkan pada 3
komponen, yaitu:
- Harapan, adalah suatu kesempatan yang disediakan dan akan terjadi karena perilaku.
- Nilai (value) merupakan nilai yang di akibatkan oleh perilaku tertentu.
- Peraturan, yaitu besarnya probalitas jika bekerja secara efektif maka akan mengarah ke hasil-
hasil yang menguntungkan.
(b) Teori keadilan
Dalam hal ini suatu keadilan merupakan daya penggerak yang memotivasi semangat kerja
seseorang, jadi atasan harus bertindak adil terhadap semua bawahannya secara objektif.
Dalam teori keadilan, masukan (inputs) meliputi factor-faktor seperti, tingkat pendidikan,
keahlian, upaya, masa kerja, kepangkatan dan produktivitas kerja. Sedangkan hasil (outcome)
adalah semua imbalan yang dihasilkan dari pekerjaan seseorang seperti : gaji, promosi,
penghargaan, prestasi dan status.
(c) Teori penguatan
Ada tiga jenis penguatan yang dapat dipergunakan manajer untuk memodifikasi motivasi
karyawan, yaitu:
- Penguatan positif, bias penguat premier seperti minuman dan makanan yang memuaskan
kebutuhan biologis, ataupun penguatan sekunder seperti penghargaan berwujud hadiah,
promosi dan uang.
- Penguatan negative, dimana individu akan mempelajari perilaku yang membawa
konsekuensi tidak menyenangkan dan kemudia menghindari perilaku tersebut dimasa
mendatang.
- Hukuman, penerapan hukuman dimaksudkan untuk mengurangi atau menghilangkan
kemungkinan perilaku yang tidak diinginkan akan diulang kembali.
Sedangkan menurut Mangkunegara, A.A Anwar Perabu (2011:94-100)

mengungkapkan teori motivasi sebagai berikut :

1) Teori kebutuhan
Teori kebutuhan (Abraham Maslow) dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan
atau pertentangan yang di alami antara sesuatu kenyataan dengan dorongan yang ada dalam
diri. Apabila karyawan kebutuhannya tidak terpenuhi maka karyawan tersebut akan
menunjukan sikap kecewa. Sebaliknya, jika kebutuhan terpenuhi maka karyawan tersebut
akan memperhatikan prilaku yang gembira sebagai bentuk dari rasa puasnya.

2) Teori insting
Teori motivasi insting timbulnya berdasarkan teori evolusi Carles Darwin berpendapat
bahwa tindakan yang intelegen merupakan reflek dari insting yang diwariskan. Oleh karena
itu tidak semua tingkah laku dapat direncanakan sebelumnya dan dikontrol oleh pikiran.

3) Teori drive
Woodworth mengungkapkan konsep tersebut sebagai energy yang mendorong suatu
organisasi untuk melakukan tindakan. Motivasi diartikan sebagai suatu dorongan yang
membangkitkan untuk keluar dari ketidak seimbang atau tekanan.
4) Teori lapangan
Teori lapangan merupakan konsep dari kurt lewin. Teori ini merupakan pendekatan
konitif untuk mempelajari prilaku dan motivasi. Teori lapangan lebih mempokuskan pada
pikiran nyata seseorang karyawan ketimbang pada insting.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan teori-teori menunjukan berbagai

motivasi yang mendorong gairah dan semangat kerja karyawan. Kebutuhan menjadi salah

satu motivasi yang penting, kebutuhan manusia ini berbeda-beda bukan hanya dari segi

materi maupun non materi.

d. Langkah-langkah Memotivasi
Menurut Danang Sunyoto (2012:198) dalam memotivasi bawahan, ada beberapa

petunjuk atau langkah-langkah yang perlu diperhatikan oleh setiap pimpinan, yaitu:
1) Pemimpin harus tahu apa yang harus dilakukan oleh bawahan.
2) Pemimpin harus berorientasi kepada kerangka acuan orang.
3) Tiap orang berbeda-beda di dalam memuaskan kebutuhan.
4) Setiap pemimpin harus memberikan contoh yang baik bagi karyawan.
5) Pemimpin mampu mempergunakan keahlian dalam berbagai bentuk.
6) Pemimpin harus berbuat dan berlaku realistis.

Sedangkan menurut Mangkunegara, A.A Anwar Prabu (2012:76-77) teknik

memotivasi karyawan sebagai berikut:

1) Teknik pemenuhan kebutuhan karyawan


Pemenuhan kebutuhan merupakan fundamental yang mendasari perilaku kerja. Kita tidak

mungkin dapat memotivasi kerja karyawan tanpa memperhatikan apa yang dibutuhkan.
2) Teknik komunikasi persuasi
Teknik komunikasi persuasi merupakan salah satu teknik motivasi kerja karyawan yang

dilakukan dengan cara mempengaruhi karyawan secara ekstralogis.

Berdasarkan pendapat di atas penulis dapat menyimpulkan bahwa memotivasi para

karyawan untuk bekerja dapat dilakukan dengan cara memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan

juga ditambah dengan menggunakan teknik komunikasi yang baik.

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja


Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja menurut Sustermeister dalam

Djatmiko, Yayat Hayati (2002:67) yaitu:


1) Kondisi lingkungan kerja
2) Kondisi social lingkungan kerja
3) Keterpenuhan kebutuhan dasar individu
Sedangkan menurut Pasualang, Harbani (2010:152) faktor-faktor yang mempengaruhi

motivasi kerja yaitu:

1) Faktor eksteren
(a) Kepemimpinan
(b) Lingkungan kerja yang menyenangkan
(c) Komposisi yang memadai
(d) Adanya penghargaan akan prestasi
(e) Status dan tanggung jawab
2) Faktor interen
(a) Kematangan pribadi
(b) Tingkat pendidikan
(c) Keinginan dan harapan pribadi
(d) Kebutuhan terpenuhi
(e) Kelemahan dan keborosan
(f) Kepuasan kerja

Berdasarkan pendapat diatas bahwa yang mempengaruhi motivasi kerja yaitu faktor eksteren
dan interen. Faktor eksteren yang mempengaruhi motivasi kerja kondisi linkungan kerja,
kepemimpinan, status dan jabatan. Faktor interen kebutuhan terpenuhi, tingkat pendidikan
dan kepuasan kerja.

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM)

Definisi UMKM
Contoh UMKM
Terdapat beberapa lembaga atau instansi yang memberikan definisi mengenai usaha mikro
kecil menengah (UMKM). Sesuai dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha
Mikro, Kecil, dan Menengah, UMKM didefinisikan sebagai berikut:
Pasal 6
(1) Kriteria Usaha Mikro adalah sebagai berikut:
a. memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) tidak
termasuk tanah dan bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).

(2) Usaha Kecil adalah sebagai berikut:


a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) sampai
dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah)
sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00 (dua milyar rupiah).

(3) Usaha Menengah adalah sebagai berikut:


a. memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) sampai
dengan paling banyak Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah
dan bangunan tempat usaha; atau
b. memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua milyar lima ratus
juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).
Sementara itu, Rahmana (2009) mengungkapkan batasan pengertian UMKM yang ditetapkan
oleh BPS berdasarkan jumlah tenaga kerja, untuk usaha kecil berjumlah lima sampai dengan
sembilan belas orang, sementara usaha menengah berkisar antara dua puluh sampai dengan
sembilan puluh sembilan tenaga kerja. Batasan pengertian UMKM diatas sesuai dengan
defiinisi UMKM yang diberlakukan bagi Asian Development Bank (ADB) yang dikutip oleh
Eva (2007).

Karakteristik UMKM
UMKM memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dengan jenis usaha besar,
termasuk karakteristik yang membedakan usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah
sendiri. Berdasarkan data BPS (2006) yang dikutip oleh Tambunan (2009) dalam buku
UMKM di Indonesia, diketahui bahwa dari segi tenaga kerja, lebih dari sepertiga (sekitar
34,5 persen) UMKM dikelola oleh tenaga kerja berusia di atas 45 tahun, dan hanya sekitar
5,2 persen pengusaha UMKM yang berumur di bawah 25 tahun.
Tambunan (2000) seperti dikutip oleh Sulistyastuti (2004) mengungkapkan bahwa tenaga
kerja yang diperlukan oleh industri kecil tidak menuntut pendidikan formal yang tinggi.
Sebagian besar tenaga kerja yang diperlukan oleh industri ini didasarkan atas pengalaman
(learning by doing) yang terkait dengan faktor historis (path dependence). Tulisan lanjutan
Tambunan (2009) mengenai UMKM mengungkapkan bahwa struktur pengusaha menurut
tingkat pendidikan formal memberi kesan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan
rata-rata pengusaha dengan skala usaha. Artinya, semakin besar skala usaha, yang umumnya
berasosiasi positif dengan tingkat kompleksitas usaha yang memerlukan keterampilan tinggi
dan wawasan bisnis yang lebih luas, semakin banyak pengusaha dengan pendidikan formal
tersier.
Mengacu pada data BPS (2006) yang dikutip Tambunan (2009) diketahui bahwa sebagian
besar pengusaha UMKM mengungkapkan alasan kegiatan usaha yang mereka lakukan adalah
latar belakang ekonomi. Artinya usaha ini dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh
perbaikan penghasilan dan atau merupakan startegi untuk bertahan hidup. Hal ini didukung
dengan kondisi tingkat pendidikan pengusaha yang mayoritas tergolong rendah. Usaha ini
dilakukan dengan alasan tidak ada lagi jenis pekerjaan lain yang dapat dilakukan dengan
tingkat pendidikan formal yang tergolong rendah. Beberapa pengusaha juga menjalankan
usaha dengan mempertimbangkan prospek usaha ke depan, seperti adanya peluang dan
pangsa pasar yang aman dan besar. Namun, sebagian lainnya mengungkapkan latar belakang
keturunan, artinya meneruskan usaha warisan keluarga.
Data BPS (2006) yang dikutip oleh Tambunan (2009) juga menunjukkan bahwa Indonesia
memiliki banyak UMKM, namun tidak seluruh UMKM ini berbadan hukum. Justru sebagian
besar UMKM yang ada, yakni sekitar 95,1 persen dari jumlah unit usaha tidak berbadan
hukum. Hal ini dapat diterima dengan alasan kebanyakan UMKM memiliki modal yang
sangat minim dan terbentur berbagai birokrasi dan persyaratan yang rumit dan kompleks
untuk mendapatkan pelayanan dalam pengembangan usahanya.
Menurut Sulistyastuti (2004), yang juga menjadi karakteristik UMKM adalah pemakaian
bahan baku lokal. Keberadaan UMKM seringkali terkait dengan tingginya intensitas
pemakaian bahan baku lokal, misalnya UMKM kerajinan meubel ukiran khas Jepara, batik
asal Pekalongan dan berbagai komoditas lokal unggulan lain yang dijadikan bahan baku
dalam usaha.

Modal Kerja UMKM


Clapham (1991) menyebutkan bahwa hampir tanpa kecuali, pengusaha kecil dan menengah
mengatakan bahwa masalah yang paling besar yang mereka hadapi adalah masalah keuangan.
Mereka mengeluh tentang kekurangan modal tetap dan modal kerja. Bidang lain yang juga
banyak menimbulkan kesulitan adalah kredit bagi konsumen. Dalam berbagai hal, demi
kemajuan dan pengembangan UMKM, pemerintah maupun berbagai lembaga keuangan, baik
bank maupun lembaga keuangan non bank telah berupaya dalam memberikan pelayanan,
terutama dalam hal pinjaman modal usaha. Namun kenyataannya, untuk mengakses
pelayanan ini, UMKM dibebani berbagai persyaratan dan jalur birokrasi yang panjang dan
rumit. Akibatnya, pemberian layanan pinjaman modal dan kredit pun menjadi tidak dapat
diakses UMKM secara optimal. Pada intinya perbaikan sistem perkreditan perlu ditempuh
melalui pengadaan pelayanan pendampingan yang profesional serta pemberian kredit yang
terintegrasi dengan intervensi lain untuk mengatasi faktor-faktor penghambat pengembangan
usaha kecil itu sendiri.

Salah satu sumber modal UMKM yakni Koperasi


Akses Pasar dan Informasi
Ketidakpercayaan terhadap kemampuan UMKM dalam menghadapi era globalisasi
berorientasi pada mekanisme pasar bebas memang cukup beralasan, karena keterbatasan-
keterbatasan yang ada dalam kelompok tersebut. Namun demikian perlu diingat bahwa sejak
era penjajahan, UMKM sudah dihadapkan dan ditempa dengan berbagai masalah termasuk
dari aspek pemasaran, tetapi UMKM tetap eksis dalam mendukung pertekonomian nasional.
Ketidakmampuan UMKM untuk menghadapi pasar global mungkin timbul karena lemahnya
akses terhadap informasi (Syarif, 2008).
Clapham (1991) menyatakan bahwa terdapat kekurangan penyalur informasi yang mampu
bagi perusahaan kecil dan menengah. Perusahaan-perusahaan menemui kesulitan untuk
memperoleh peluang masuk ke pasar pemerintah karena mereka kurang mengetahui seluk-
beluk peraturan pemerintah yang berkaitan atau persyaratan pemerintah.
Lemahnya kemampuan UMKM dalam mengakses informasi diduga terkait langsung dengan
kondisi faktor internal UMKM yang dibayangi oleh berbagai keterbatasan untuk mampu
memberikan informasi kepada konsumen. Akibatnya produk UMKM yang sebenarnya
memiliki pangsa pasar yang cukup besar di dunia internasional, belum banyak diketahui
konsumen. Salah satu masalah besar yang dihadapi dalam pemberdayaan UMKM adalah
rendahnya akses UMKM terhadap pasar (Syarif, 2008).

Mediasi sebagai salah satu cara merangkul UMKM


Kondisi Pemasaran UMKM
Tingkat keterbukaan di pasar konsumen rendah karena perusahaan tidak memiliki peluang
yang cukup pada masyarakat umum dan sejauh ini hanya beberapa pameran dagang khusus,
pameran tetap atau kampanye penjualan saja yang pernah diadakan. Konsumen dalam negeri,
terutama di daerah kota, sering kurang mengetahui produk-produk yang dihasilkan
perusahaan kecil dan menengah dalam negeri atau sangat tidak percaya dan penuh prasangka
terhadap produk-produk ini bila diukur menurut standar mutu internasional (Clapham, 1991).
Menurut Sadoko (1995), akses pemasaran merupakan akses terpenting. Dalam membantu
usaha kecil, akses ini dibuka melalui pengembangan pola subkontrak, mekanisme pusat pasar
informasi, promosi pasaran atau konsumsi melalui anggaran pemerintah. Promosi dan pusat
informasi akan sangat berguna bila didukung oleh kemampuan profesional membaca peluang
pasar bagi usaha kecil tersebut dan pelayanan tersebut disediakan bagi siapa saja.
Pola subkontrak seringkali dilakukan UMKM, namun pola ini cenderung menjadikan industri
bapak memiliki posisi yang lebih baik dibandingkan dengan usaha anak. Dalam
prakteknya, ketika industri bapak melakukan order, maka usaha anak, dalam hal ini
UMKM akan berkompetisi untuk mendapatkan pesanan tersebut. Kondisi ini membuat
industri bapak mampu menekan harga produksi UMKM. Strategi penekanan ongkos
produksi seperti ini dilakukan untuk mempertahankan jalur pemasaran yang ada. Sepakat
dengan hal ini, Amidi (2008) juga menyebutkan bahwa masalah pemasaran yang dihadapi
UMKM adalah lemahnya barganing power pengusaha kecil dalam menghadapi perusahaan
besar.
Menurut Clapham (1991), selama perusahaan menjual barangnya melalui pengecer, mereka
tidak perlu mengembangkan kegiatan pemasaran sendiri. Namun, perusahaan yang menjual
sendiri barang-barang yang dihasilkannya (seperti mebel, sepatu, tekstil) perlu memberikan
perhatian pada bidang pemasaran. Umumnya pelaku usaha tidak memiliki kepandaian khusus
dalam soal-soal ini dan tidak tahu kemana ia dapat mencari informasi yang dapat dipercaya
mengenai perkembangan pasar, iklan, atau saluran pemasaran yang lebih baik.
Masalah pemasaran merupakan salah satu penyebab penting mengapa pengusaha tidak
mampu membuat rencana jangka menengah dan jangka panjang. Dapat diperkirakan bahwa
masalah-masalah pemasaran bagi pengusaha kecil dan menengah akan makin meningkat.
Secara keseluruhan, masalah-masalah pemasaran mengakibatkan bahwa perusahaan kecil dan
mengengah sulit memainkan peranannya dalam pembangunan sebagai pelengkap sektor
industri dan pemasok barang bagi konsumen. Karena itu, program-program promosi dalam
masa yang akan datang harus lebih banyak memberikan perhatian pada soal pemasaran
daripada dalam masa yang sudah-sudah (Clapham, 1991).

Sumber:
Anonim, 2010. Undang-Undang No.20 Tahun 2008.
(http://www.smecda.com/Files/infosmecda/uu_permen/UU_2008_20_TENTANG_USAHA_
MIKRO_KECIL_DAN_MENENGAH.pdf) diunduh tanggal 30 April 2012.

Clapham, Ronald, 1991. Pengusaha Kecil dan Menengah di Asia Tenggara. Penerjemah
Masri Maris. Lembaga Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial. Jakarta.

Eva, Agustine, 2007. Persepsi Penggunaan Aplikasi Internet untuk Pemasaran Produk Usaha
Kecil Menengah. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2007, ISSN: 1907-5022.
http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/viewFile/1719/1500 diunduh tanggal 2 Mei
2012.

Rahmana, Arief, 2009. Peranan Teknologi Informasi dalam Peningkatan Daya Saing Usaha
Kecil Menengah. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2009, ISSN: 1907-5022.
http://journal.uii.ac.id/index.php/Snati/article/viewFile/1033/989 diunduh tanggal 2 Mei
2012.

Sadoko, et al., 1995. Pengembangan Usaha Kecil: Pemihakan Setengah Hati. Yayasan
Akatiga. Bandung.

Sulistyastuti, Dyah Ratih, 2004. Dinamika Usaha Kecil dan Menengah (UKM): Analisis
Konsentrasi Regional UKM di Indonesia 1999-2001. Jurnal Ekonomi Pembangunan, Volume
9, Nomor 2 Desember 2004, Halaman 143-164.
http://journal.uii.ac.id/index.php/JEP/article/view/617/543 diunduh tanggal 30 April 2012.

Syarif, Teuku, 2008. Kajian Efektivitas Model Promosi Pemasaran Produk UMKM.
http://www.smecda.com/kajian/files/Jurnal_3_2008/01_T.Syarif.pdf. diunduh tanggal 30
April 2012.