Anda di halaman 1dari 12

Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Produktivitas Kerja

Syahri Ramadon1, Yanti Pasmawati2, Ch. Desi Kusmindari3


Dosen Universitas Bina Darma
Jalan Jenderal Ahmad Yani No.12 Palembang
Email: Syahri_Kiyay@yahoo.com1, yantipasmawati@mail.com2,
desi_christofora@mail.binadarma.ac.id3

Abstract : Syahri Ramadon: Influence of Physical Work Environment on Productivity Working Physical Work
Environment is a condition that affects the ability of humans, Man will be able to carry out its activities and achieve
optimal results if the work environment to support humans will be able to perform the job well if supported by a good
working environment. bermaanfaat research to determine how the condition good physical working environment that
includes the situation of lighting, temperature and noise. So it gets comfortable circumstances so efficient and
ergonomic, the method used in this research is in the form of SPSS MANOVA. The results showed the condition of a
good physical working environment must be in accordance with the standards and regulations, particularly in the
laboratory, namely, a temperature between 24oc - 27oC, lighting 200 - 300lux, with a noise level 50 - 55dB.

Keywords: Physical Work Environment, Work Productivity, Manova

Abstrak : Syahri Ramadon : Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Produktivitas Kerja Lingkungan Kerja Fisik
adalah kondisi yang mempengaruhi terhadap kemampuan manusia, Manusia akan mampu melaksanakan
kegiatannya dengan baik dan mencapai hasil yang optimal apabila lingkungan kerjanya mendukung manusia akan
mampu melaksanakan pekerjaannya dengan baik apabila ditunjang oleh lingkungan kerja yang baik. penelitian ini
bermaanfaat untuk mengetahui bagaimana kondisi lingkungan kerja fisik yang baik yang meliputi situasi
pencahayaan, temperature dan kebisingan. Sehingga mendapat situasi dan kondisi yang nyaman supaya efisien dan
ergonomic, metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu manova dalam bentuk spss. Hasil penelitian
menunjukan kondisi suatu lingkungan kerja fisik yang baik harus sesuai dengan standard dan ketentuan yang
berlaku, khususnya pada laboratorium yaitu, suhu antara 24oc 27oc, pencahayaan 200 300lux, dengan tingkat
kebisingan 50 55db.

Kata Kunci : Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 1


1. PENDAHULUAN 1.1 Pencahayaan
Setiap hari manusia terlibat pada suatu
Satuannya adalah lux (1 lm/m2), dimana
kondisi lingkungan kerja yang berbeda-beda
lm adalah lumens atau lux cahaya. Salah satu
dimana perbedaan kondisi tersebut sangat
faktor penting dari lingkkungan kerja yang
mempengaruhi terhadap kemampuan manusia.
dapat memberikan kepuasan dan produktivitas
Manusia akan mampu melaksanakan
adalah adanya penerangan yang baik.
kegiatannya dengan baik dan mencapai hasil
Penerangan yang baik adalah penerangan yang
yang optimal apabila lingkungan kerjanya
memungkinkan pekerja dapat melihat obyek-
mendukung. Manusia akan mampu
obyek yang dikerjakan secara jelas, cepat dan
melaksanakan pekerjaannya dengan baik
tanpa upaya-upaya yang tidak perlu.
apabila ditunjang oleh lingkungan kerja yang
Penerangan yang cukup dan diatur dengan
baik.
baik juga akan membantu menciptakan
Suatu kondisi lingkungan kerja
lingkungan kerja yang nyaman dan
dikatakan sebagai lingkungan kerja yang baik
menyenangkan sehingga dapat memelihara
apabila manusia bisa melaksanakan
kegairahan kerja. Telah kita ketahui hampir
kegiatannya dengan optimal dengan sehat,
semua pelaksanaan pekerjaan melibatkan
aman dan selamat. Ketidakberesan lingkungan
fungsi mata, dimana sering kita temui jenis
kerja dapat terlihat akibatnya dalam waktu
pekerjaan yang memerlukan tingkat
yang lama. Lebih jauh lagi keadaan
penerangan tertentu agar tenaga kerja dapat
lingkungan yang kurang baik dapat menuntut
dengan jelas mengamati obyek yang sedang
tenaga dan waktu yang lebih banyak yang
dikerjakan. Intensitas penerangan yang sesuai
tentunya tidak mendukung diperolehnya
dengan jenis pekerjaannnya jelas akan dapat
rancangan sistem kerja yang efisien dan
meningkatkan produktivitas kerja. Sanders dan
produktif.
McCormick (1987) menyimpulkan dari hasil
Adapun factor-faktor yang
penelitian pada 15 perusahaan, dimana seluruh
mempengaruhi lingkungan kerja fisik yaitu,
perusahaan yang diteliti menunjukkan
temperature (suhu), pencahayaan, kebisingan,
kenaikkan hasil kerja antara 4-35%.
dan lain-lain. Kondisi lingkungan kerja akan
Selanjutnya Armstrong (1992) menyatakan
turut berpengaruh terhadap kinerja
bahwa intensitas penerangan yang kurang
operator/praktikan.
dapatmenyebabkangangguna visibilitas dan ey
Dengan mempertimbangkan seluruh
estrain. Sebaliknya intensitas penerangan yang
aspek lingkungan kerja fisik yang memiliki
berlebihan juga dapat menyebabkan glare,
potensi bahaya pada saat proses perancangan
reflections, excessive shadows, visibility dan
sistem kerja beserta sistem pengendalian,
eyestrain. Semakin halus pekerjaan dan
maka kondisi-kondisi bahaya tersebut dapat
mnyangkut inspeksi serta pengendalian
diantisipasi dan diberi tindakan-tindakan
kualitas, atau halus detailnya dan kurang
preventif lainnya.
kontras, makin tinggi illuminasi yang
Pada penelitian eksperimen kali ini
diperluka, yaitu antara 500 lux sampai dengan
operator/praktikan akan diberikan beberapa
100 lux (Sumamur, 1996).
perlakuan terkait dengan kondisi lingkunannya
Tenaga kerja disamping harus dengan
yaitu dari segi temperature (suhu),
jelas dapat melihat obyek-obyek yang sedang
pencahayaan, dan kebisingan. Diharapkan
dikerjakan juga harus dapat melihat dengan
pada penelitian eksperimen kali ini akan
jelas pula benda atau alat dan tempat
diketahui faktor-faktor lingkungan kerja fisik
disekitarnya yang mungkin mengakibatkan
apa saja yang dapat mempengaruhi
kecelakaan. Maka penerangan umum harus
performansi pekerja. Berdasarkan uraian
memadai. Dalam suatu pabrik dimana terdapat
diatas, maka penulis ingin mengadakan
banyak mesin dan proses pekerjaan yang
penelitian dengan judul Pengaruh lingkungan
berbahaya maka penerangan harus didesain
kerja fisik terhadap produktivitas kerja di
sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi
laboraterium ruang iklim Climate Chamber
kecelakaan kerja. Pekerjaan yang berbahaya
prodi Teknik Industri Universitas Bina darma
harus dapat diamati dengan jelas dan cepat,
Palembang.
karena banyak kecelakaan terjadi akibat
penerangan kurang memadai.Secara umum
. jenis penerangan atau pencahayaan dibedakan

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 2


menjadi dua yaitu penerangan buatan kontinyu
(penerangan artifisial) dan penerangan alamiah
(dan sinar matahari). Untuk mengurangi Pekerjaan 200 Pekerjaan
pemborosan energi disarankan untuk kasar dan dengan mesin
mengunakan penerangan alamiah, akan tetapi terus dan perakitan
setiap tempat kerja harus pula disediakan menerus kasar
penerangan buatan yang memadai. Hal mi
untuk menanggulangi jika dalam keadaan 300 Ruang
mendung atau kerja di malam hari. Perlu administrasi,
diingat bahwa penggunaan penerangan buatan Pekerjaan ruang kontrol,
harus selalu diadakan perawatan yang baik rutin pekerjaan
oleh karena lampu yang kotor akan mesin &
menurunkan intensitas penerangan sampai perakitan/peny
dengan 30%. Tingkat penerangan pada-tiap usun
tiap pekerjaan berbeda tergantung sifat dan
jenis pekerjaannya. Sebagai contoh gudang 500 Pembuatan
memerlukan intensitas penerangan yang lebih gambar atau
rendah dan tempat kerja administrasi, dimana Pekerjaan
agak bekerja dengan
diperlukan ketelitian yang lebih tinggi. mesin kantor,
halus
pekerjaan
Menurut Grandjean (1993) penerangan pemeriksaan
yang tidak didesain dengan baik akan atau pekerjaan
menimbulkan gangguan atau kelelahan dengan mesin
penglihatan selama kerja. Pengaruh dan
penerangan yang kurang memenuhi syarat 1000 Pemilihan
akan mengakibatkan dampak, yaitu: Pekerjaan
warna,
halus
1. Kelelahan mata sehingga berkurangnya pemrosesan
daya dan effisiensi kerja. teksti,
2. Kelelahan mental. pekerjaan
3. Keluhan pegal di daerah mata dan sakit mesin halus &
kepala di sekitar mata. perakitan halus
4. Kerusakan indra mata dan lain-lain. 1500
Pekerjaan Mengukir
Selanjutnya pengaruh kelelahan pada
amat dengan tangan,
mata tersebut akan bermuara kepada
halus pemeriksaan
penurunan performansi kerja, sebagai berikut:
1. Kehilangan produktivitas pekerjaan
2. Kualitas kerja rendah mesin dan
3. Banyak terjadi kesalahan perakitan yang
4. Kecelakan kerja meningkat sangat halus

Tabel 2.1 Tingkat Pencahayaan


Lingkungan Kerja
Jenis Tingkat Keterangan 3000 Pemeriksaan
Kegiatan Pencahayaan pekerjaan,
Minimal Pekerjaan perakitan
(Lux) terinci sangat halus
Pekerjaan 100 Ruang
kasar dan penyimpanan Sumber: KEPMENKES RI. No. 1405/MENKES/SK/XI/02
tidak & ruang
terus peralatan/instal Penerangan untuk membaca dokumen
menerus asi yang lebih tinggi dari pada penerangan untuk
memerlukan melihat komputer, karena tingkat penerangan
pekerjaan yang yang dianjurkan untuk pekerja dengan

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 3


komputer tidak dapat berdasarkan satu nilai mendinginkan tubuhnya malalui sistem
dan sampai saat ini masih kontroversial. penguapan. Hal ini menyebabkan temperatur
Grandjean menyusun rekomendasi tingkat tubuh menjadi ikut naik dengan tingginya
penerangan pada tempat-tempat kerja dengan temperatur udara. Temparatur yang terlalu
komputer berkisar antara 300-700 lux seperti dingin akan mengakibatkan gairah kerja
berikut. menurun. Sedangkan temperatur udara yang
terlampau panas, akan mengakibatkan cepat
Tabel 2.3 Rekomendasi Tingkat timbulnya kelelahan tubuh dan cenderung
Pencahayaan Pada Tempat Kerja melakukan kesalahan dalam bekerja.
Dengan Komputer Secara fundamental, ergonomi
merupakan studi tentang penyerasian antara
pekerja dan pekerjaannya untuk meningkatkan
Keadaan Pekerja Tingkat
Pencahayaan performansi dan melindungi kehidupan. Untuk
(lux) dapat melakukan penyerasian tersebut kita
Kegiatan Komputer dengan 300 harus dapat memprediksi adanya stressoryang
sumber dokumen yang terbaca menyebabkan terjadinya strain dan
jelas mengevaluasinya. Mikroklimat dalam
lingkungan kerja menjadi sangat penting
Kegiatan Komputer dengan 400-500 karena dapat bertindak sebagai stressor yang
sumber dokumen yang tidak menyebabkan strain kepada pekerja apabila
terbaca jelas tidak dikendalikan dengan baik. Mikroklimat
dalam lingkungan kerja terdiri dan unsur suhu
Tugas memasukan data udara (kering dan basah), kelembaban nisbi,
500-700
panas radiasi dan kecepatan gerakan udara.
Sumber: Grandjean Negara dengan empat musim,
rekomendasi untuk comfort zone pada musim
dingin adalah suhu ideal berkisar antara 19-
1.2 Temperatur
23C dengan kecepatan udara antara 0,1-0,2
Manusia selalu berusaha mempertahankan m/det dan pada musim panas suhu ideal antara
keadaan normal tubuh dengan sistem tubuh 22-24C dengan kecepatan udara antara 0,15-
yang sangat sempurna sehingga dapat 0,4 m/det serta kelembaban antara 40-60%
menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi sepanjang tahun (WHS, 1992; Grantham, 1992
diluar tubuhnya. Tubuh manusia dan Grandjean, 1993). Sedangkan untuk
menyesuaikan diri karena kemampuannya negara dengan dua musim seperti Indonesia.
untuk melakukan proses konveksi, radiasi, dan rekomendasi tersebut perlu mendapat koreksi.
penguapan juka terjadi kekurangan atau Kaitannya dengan suhu panas lingkungan
kelebihan yang membebaninya. Tetapi, kerja, Grandjean (1993) memberikan batas
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan toleransi suhu tinggi sebesar 35-40C,
temperatur luar jika perubahannya tidak kecepatan udara 0,2 m/detik, kelembaban
melebihi 20% untuk kondisi panas dan 35% antara 40-50%, perbedaan suhu permukaan
untuk kondisi dingin terhadap temperatur <4C.Dengan demikian jelas bahwa
normal 24 C. mikroklimat yang tidak dikendalikan dengan
Temperatur udara lebih rendah dari 37 C baik akan berpengaruh terhadap tingkat
berati temparatur dara ini dibawah kenyamanan pekerja dan gangguan kesehatan,
kemampuan tubuh unutk menyesuaikasn didi sehingga dapat meningkatkan beban kerja,
(35% dibawah normal), maka tubuh manusia mempercepat munculnya kelelahan dan
akan mengalami kedinginan, karena hilangnya keluhan subjektif serta menurunkan
panas tubuh yang sebagian besar diakibatkan produktivitas kerja.
oleh konveksi dan radiasi, juga sebagian kecil Metode terbaik untuk menentukan
akibat penguapan. Sebaliknya jika temperatur apakah tekanan panas di tempat kerja
udara terlalu panas dibanding temperatur menyebakan gangguan kesehatan adalah
tubuh, maka tubuh akan menerima panas dengan mengukur suhu inti tubuh pekerja yang
akibat konveksi dan radiasi yang jauh lebih bersangkutan. Normal suhu inti tubuh adalah
besar dari kemampuan tubuh untuk 37 C, mungkin mudah dilampaui dengan
akumulasi panas dan konveksi, konduksi,

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 4


radiasi dan panas metabolisme. Apabila rerata Hadiyarto, 2000). Kebisingan sering dan
suhu inti tubuh pekerja >38 C, diduga paling mudah didefinisikan sebagai suara yang
terdapat pemaparan suhu lingkungan panas tidak dikehendaki (Rau dan Wooten, 1978).
yang dapat meningkatkan suhu tubuh tersebut. Bunyi yang menimbulkan bising
Selanjutnya harus dilakukan pengukuran suhu disebabkan oleh sumber yang bergetar.
lingkungan kerja. Getaran sumber suara mengganggu molekul-
Menurut Sutalaksana, dkk (1979) berbagai molekul udara di sekitar sehingga molekul-
tingkat temperatur akan memberikan pengaruh molekul ikut bergetar. Getaran sumber ini
yang berbeda-beda sebagai berikut: menyebabkan terjadinya gelombang rambatan
49 C: Temperatur yang dapat ditahan energi mekanis dalam medium udara menurut
sekitar 1 jam, tetapi jauh diatas tingkat pola rambatan longitudinal (Sasongko dan
kemampuan fisik dan mental. Lebih kurang Hadiyarto, 2000).
30 derajat Celcius: aktivitas mental dan daya Dampak Kebisingan Menurut World
tanggap mulai menurun dan cenderung untuk Health Organization (WHO) definisi sehat
membuat kesalahan dalam pekerjaan. Timbul adalah keadaan fisik lengkap, mental dan
kelelahan fisik. 30 C: Aktivitas mental dan kesejahteraan sosial dan tidak semata-mata
daya tanggap mulai menurun dan cenderung tidak ada penyakit dan kelemahan. Menurut
untuk membuat kesalahan dalam pekerjaan, definisi ini, dampak dari kebisingan seperti
timbul kelelahan fisik. 24 C: Kondisi ketidaknyamanan, gangguan komunikasi dan
optimum. 10 C: Kelakuan fisik pengaruh terhadap perfoma kerja merupakan
yang extrem mulai muncul. masalah kesehatan (Schomer, 2001). Menurut
Harga-harga diatas tidak mutlak Hadi (1998), tingkat gangguan bising
berlaku untuk setiap orang karena sebenarnya tergantung pada: kondisi fisik (pola, frekuensi,
kemampuan beradaptasi tiap orang berbeda- energi getar), mekanisme perambatan (pola,
beda, tergantung di daerah bagaimana dia jenis, kerapatan, tekanan dan suhu media) dan
biasa hidup. Orang yang biasa hidup di daerah fonoreseptor (pendengaran, respon, kondisi
panas berbeda kemampuan beradaptasinya psikologis dan faal). Masalah kebisingan
dibandingkan dengan mereka yang hidup di merupakan masalah yang komplek, melibatkan
daerah dingin atau sedang. Tichauer telah aspek teknis, ekonomis dan psikologis yang
menyelidiki pengaruh terhadap produktifitas semuanya bervariasi terhadap waktu
para pekerja penenunan kapas, yang (Sasongko, Hadiyarto, 2000). Kebisingan tidak
menyimpulkan bahwa tingkat produksi paling hanya terkait dengan komponen fisiologis
tinggi dicapai pada kondisi temperatur 750F - seperti struktur otak dan indera pendengaran,
800F (240C - 270C). akan tetapi dievaluasi dari faktor psikologis
Nilai Ambang Batas (NAB) untuk yaitu sebagai suatu rangsang bunyi yang tidak
iklim kerja adalah situasi kerja yang masih diinginkan (Sukmana, 2003).
dapat dihadapi tenaga kerja dalam bekerja Menurut Rau dan Wooten (1978), respon
sehari-hari dimana tidak mengakibatkan masyarakat terhadap sumber bising tergantung
penyakit atau gangguan kesehatan untuk dari.
waktu kerja terus menerus selama 8 jam kerja
sehari dan 40 jam seminggu. Menurut 1. Bagaimana variasi bising setiap waktu
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: termasuk jenis bising. Hal ini berhubungan
405/Menkes/SK/XI/2002) NAB terendah dengan kebisingan yang tetap (steady
untuk temperatur ruangan adalah 18 C dan noise) tidak terlalu mengganggu seperti
NAB tertinggi adalah 30 pada kelembaban bising yang bervariasi keras suaranya atau
nisbi udara antara 65% sampai dengan 95%. bising jalan 11 raya yang intermiten, dan
waktu yang sedikit sumber bising
1.3 Kebisingan mengeluarkan tingkat bising yang tinggi
sedikit pengaruhnya terhadap masyarakat.
Kebisingan adalah bunyi yang tidak 2. Waktu terjadinya bising bising yang terjadi
dikehendaki karena tidak sesuai dengan pada malam hari di permukiman akan
konteks ruang dan waktu sehingga dapat mengganggu tidur.
menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan 3. Lokasi dari sumber bising Berkaitan
dan kesehatan manusia (Sasongko dan penggunaan lahan yang sensitif terhadap
bising. Faktor yang menentukan dampak

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 5


bising adalah berapa keras dan berapa lama 1. Yang menyangkut kualitas dan
paparan bising yang akan sampai pada kemampuan fisik karyawan yang
penduduk sekitar. meliputi: tingkat pendidikan, latihan,
motivasi kerja, etos kerja, mental dan
1.4 Produktivitas Kerja
kemampuan fisik karyawan
Hasibuan (2007:127) mengungkapkan 2. Sarana pendukung, meliputi:
bahwa secara lebih sederhana maksud dari a. Lingkungan kerja, meliputi: produksi,
produktivitas adalah perbandingan secara ilmu sarana dan peralatan produksi, tingkat
hitung antara jumlah yang dihasilkan dan keselamatan, dan kesejahteraan kerja.
jumlah setiap sumber yang dipergunakan b. Kesejahteraan karyawan, meliputi:
selama produksi berlangsung. Sumber tersebut Manajemen dan hubungan industri.
dapat berupa:
Tanah, Bahan baku dan bahan pembantu,
Pabrik, mesin-mesin dan alat-alat, Tenaga Menurut Muchdarsyah (2005)
kerja. Senada dengan Sinungan (2005:64) juga menyebutkan bahwa yang dapat
mengisyaratkan dua kelompok syarat bagi mempengaruhi produktivitas kerja adalah.
produktivitas perorangan yang tinggi: 1. Tenaga kerja, kenaikan sumbangan tenaga
1. Kelompok pertama kerja pada produktivitas adalah karena
a. Tingkat pendidikan dan keahlian
adanya tenaga kerja yang lebih sehat,
b. Jenis teknologi dan hasil produksi
c. Kondisi kerja lebih terdidik dan lebih giat. Produktivitas
d. Kesehatan, kemampuan fisik dan dapat meningkat karena hari kerja yang
mental lebih pendek. Imbalan dari pengawas
2. Kelompok kedua dapat mendorong karyawan lebih giat
a. Sikap mental (terhadap tugas), teman dalam mencapai prestasi. Dengan
sejawat dan pengawas demikian jelas bahwa tenaga kerja
b. Keaneka ragam tugas
berperan penting dalam produktivitas.
c. Sistem insentif (sistem upah dan bonus)
d. Kepuasan kerja 2. Seni serta ilmu manajemen, manajemen
e. Konsep produktivitas kerja dapat adalah faktor produksi dan sumberdaya
dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi ekonomi, sedangkan seni adalah
individu dan organisasi. Dimensi pengetahuan manajemen yang
individu melihat produktivitas dalam memberikan kemungkinan peningkatan
kaitannya dengan karakteristik- produktivitas. Manajemen termasuk
karakteristik kepribadian individu yang
perbaikan melalui penerapan teknologi
muncul dalam bentuk sikap mental dan
mengandung makna keinginan dan dan pemanfaatan pengetahuan yang
upaya individu yang selalu berusaha memerlukan pendidikan dan penelitian.
untuk meningkatkan kualitas 3. Modal, modal merupakan landasan gerak
kehidupannya. Sedangkan dimensi suatu usaha perusahaan, karena dengan
keorganisasian melihat produktivitas modal perusahaan dapat menyediakan
dalam kerangka hubungan teknis antara
peralatan bagi manusia yaitu untuk
masukan (input) dan keluaran (output)
(Kusnendi, 2008). membantu melakukan pekerjaan dalam
meningkatkan produktivitas kerja.
1.4.1 Faktor-Faktor Mempengaruhi Fasilitas yang memadai akan membuat
Produktivitas Kerja semangat kerja karyawan bertambah
Simanjutak (2011) faktor yang secara tidak langsung sehingga
mempengaruhi produktivitas kerja karyawan produktivitas kerja karyawan akan dapat
perusahaan dapat digolongkan pada dua meningkat
kelompok, yaitu:

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 6


1.4.2 Pengukuran Produktivitas Kerja 8. Mendorong departemen-departemen
untuk bekerja sama alih-alih
Simamora (2006:612) faktor-faktor berkonsentrasi pada perbedaan masing-
yang digunakan dalam pengukuran masing departemen atau divisi.
produktivitas kerja meliputi kuantitas kerja, 9. Jangan menerapkan tujuan numeris yang
kualitas kerja dan ketepatan waktu: kaku.
10. Mintalah karyawan untuk melakukan
1. Kuantitas kerja adalah merupakan suatu pekerjaan berkualitas.
hasil yang dicapai oleh karyawan dalam
11. Latih karyawan untuk memahami metode
jumlah tertentu dengan perbandingan
standar ada atau ditetapkan oleh statistik.
perusahan. 12. Latih karyawan terhadap keterampilan
2. Kualitas kerja adalah merupakan suatu baru ketika dibutuhkan.
standar hasil yang berkaitan dengan mutu 13. Buatlah manajer puncak bertanggung
dari suatu produk yang dihasilkan oleh jawab untuk menerapkan prinsip-prinsip
karyawan dalam hal ini merupakan suatu ini.
kemampuan karyawan dalam
menyelesaikan pekerjaan secara teknis
dengan perbandingan standar yang 1.4.4 Pentingnya Produktivitas
ditetapkan oleh perusahaan.
3. Ketepatan waktu merupakan tingkat suatu Sinungan (2008) menyatakan bahwa
aktivitas diselesaikan pada awal waktu pentingnya arti produktivitas dalam
yang ditentukan, dilihat dari sudut meningkatkan kesejahteraan nasional telah
koordinasi dengan hasil output serta
disadari secara universal. Tidak ada jenis
memaksimalkan waktu yang tersedia
untuk aktivitas lain. Ketepatan waktu kegiatan manusia yang tidak mendapatkan
diukur dari persepsi karyawan terhadap keuntungan dari produktivitas yang
suatu aktivitas yang disediakan diawal ditingkatkan sebagai kekuatan untuk
waktu sampai menjadi output. menghasilkan lebih banyak barang maupun
jasa. Produktivitas itu penting sekali karena
1.4.3 Hal-hal yang Dapat Meningkatkan pendapatan nasional atau GNP banyak
Produktivitas diperoleh dengan meningkatkan keefektifan
Deming dalam Robbins (2003) dan mutu tenaga kerja dibandingkan dengan
menguraikan empat belas poin untuk melalui formasi modal dan penambahan kerja.
meningkatkan produktivitas manajemen. Dengan kata lain pendapatan nasional atau
Buatlah rencana jangka panjang. GNP melaju lebih cepat dari faktor masukan.
1. Jangan pernah puas dengan kualitas Peningkatan produktivitas juga menghasilkan
produk Anda. peningkatan langsung pada standar hidup yang
2. Ciptakan pengendalian statistik terhadap berada di bawah kondisi distribusi yang sama
proses produksi Anda dan mintalah dari perolehan produktivitas yang sesuai
pemasok untuk melakukan hal yang sama. dengan masukan tenaga kerja.
3. Hanya berhubungan dengan sedikit Robbins (2003) peningkatan
pemasok dan yang terbaik. produktivitas menjadi tujuan utama di setiap
4. Ketahui apakah masalah Anda terbatas organisasi. Bagi negara, produktivitas tinggi
pada bagian proses produksi tertentu saja menimbulkan pertumbuhan dan perkembangan
atau menjadi pangkal dari keseluruhan ekonomi. Karyawan menerima bayaran yang
proses itu sendiri. lebih tinggi, dan laba perusahaan meningkat
5. Latih karyawan untuk melakukan tanpa menyebabkan inflasi. Bagi masing-
pekerjaan yang diminta. masing organisasi, peningkatan produktivitas
6. Tingkatkan kualitas supervisor lini Anda. menghasilkan struktur biaya yang lebih
7. Usir rasa takut.

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 7


kompetitif dan penawaran harga yang lebih 2. Data sekunder
bersaing. Yaitu data yang dikumpulkan bersumber
pada buku pedoman yang disusun oleh
2. METODOLOGI PENELITIAN para ahli yang berhubungan dengan
masalah yang di analisis atau
2.1 Tempat dan Objek Penelitian pengumpulan data-data dengan jalan
Penelitian dilakukan di membaca dan mempelajari buku-buku
Laboratorium ruang iklim climate chamber yang behubungan dengan judul penelitian.
prodi Teknik Industri Universitas
a. Studi pustaka
Binadarma Palembang di Jalan Jend. A. Studi pustaka dilakukan dengan mencari
Yani No. 12 Palembang, penelitian referensi dan literatur yang berkaitan
dilakukan pada responden sebanyak 38 dengan kegiatan yang dilakukan, baik
orang dengan tiga perlakuan. sedangkan berasal dari studi pustaka maupun data
waktu penelitian dilakukan selama empat dan informasi yang diperoleh dari
bulan pada bulan September-Desember industri.
2014. Data yang didapat dari hail studi pustaka
adalah :
2.2 Metode Pengumpulan Data 1. Lingkungan Kerja Fisik
2. Pencahayaan, kebisingan dan
Metode dalam penelitian yang temperatur
digunakan yaitu sebagai berikut:
1. Data Primer b. Browsing
Yaitu data yang diambil dan diminta Mencari informasi lewat internet dengan
langsung dengan wawancara dan survey membuka website-website yang ada
lapangan. hubungannya dengan topik pembahasan
laporan penelitian. Data yang didapat dari hail
a. Observasi browsing adalah :
Langsung dilapangan terhadap aspek- 1. Jurnal-jurnal penelitian tentang
aspek yang berkenaan dengan pencahayaan, kebisingan dan temperature
pencahayaan dan temperatur. 2. Gambar-gambar yang berhubungan dengan
Pengumpulan data dilakukan secara perusahaan
langsung pada Lab Teknik Industri
2.3 DIAGRAM ALIR PENELITIAN
Universitas Bina Darma.
Data yang didapat dari hail observasi Setelah data diperoleh, proses
adalah: selanjutnya yang dilakukan adalah mengolah
1. Data tingkat pencahayaan data, serta literatur dengan tetap mengacu pada
2. Data tingkat temperature tujuan penelitian. Gambar 2.1 di bawah ini
3. Data tingkat kebisingan memperlihatkan kerangka berpikir metode
penelitian, yaitu bagan yang menjelaskan
b. Wawancara langkah-langkah penelitian dari awal hingga
Dengan cara melakukan tanya jawab selesai
terhadap karyawan maupun dosen
Universitas Binadarma. Data yang didapat
dari hasil wawancara adalah

1. Sejarah perusahaan
2. Bagaimana penerangan/pencahayaan ,
temperature sudah sesuai dengan
produktivitas kerja

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 8


Perlakuan Warna Lampu Dan
Kesalahan
Merah Kuning Hijau
1 353 277 364
2 357 196 307
3 348 253 368
Total 1.058 726 1.039
Kesalahan
Eksperimen I Eksperimen I Eksperimen I
Suhu : 20 Suhu : 20 Suhu : 20
Pencahayaan :200 lux Pencahayaan :200 lux Pencahayaan :200 lux

Kebisingan :45 dB Kebisingan :45 dB Kebisingan :45 dB


Tabel 3.1 total kesalahan perlakuan

Dari hasil tabel di atas maka dapat di


bedakan nilai total kesalahan yang paling
tinggi yaitu dengan warna lampu berwarna
merah dengan kondisi suhu 200C, pencahayaan
Gambar 2.1 Bagan Alir (Flowchart) 200 lux, dan kebisingan 35db, maka dapat
dikatakan hal ini berpengaruh terhadap
keberhasilan kerja. Sedangkan untuk nilai
3 HASIL
kesalahan yang paling rendah terdapat pada
3.1 PENGOLAHAN DATA
lampu berwarna kuning dengan kondisi suhu
Data eksperimen tentang Lingkungan 250C, pencahayaan 300 lux dan kebisingan
Kerja Fisik diperoleh pada penelitian yang 55db, maka dari ketiga kondisi dan warna
dilaksanakan di Laboratorium Ruang Iklim lampu dapat disimpul yang paling berpengaruh
Climate Chamber Prody Teknik Industri yaitu terletak pada kesalahan warna lampu
Universitas Bina Darma Palembang pada hari berwarna merah dan yang tidak terlalu
Rabu tanggal 3 Desember 2014. Data diambil berpengeruh yaitu terletak pada kesalahan
dari 38 mahasiswa Binadarma, dengan umur lampu berwarna kuning.
responden berusia 18 sampai dengan 25 tahun
yang masing masing akan diberikan 3.2 Hipotesa
kesempatan satu persatu memasuki ruangan
lab iklim dengan cara mengerjakan atau H01 : Perlakuan tidak mempengaruhi
menjawab soal-soal tes buta warna sebanyak pada penggunaan lampu berwarna merah
23 soal dengan rincian waktu menjawab soal H11 : Perakuan mempengaruhi pada
selama 35 detik. pengguanaan lampu berwarna merah
Dengan kondisi Suhu, kebisingan, H02 : Perlakuan tidak mempengaruhi
pencahayaan diatur sesuai kondisi yang di pada penggunaan lampu berwarna kuning
perlukan dalam penelitian, warna lampu H12 : perlakuan mempengaruhi pada
menggunakan 3 jenis warna yaitu merah, pengguanaan lampu berwarna kuning
kuning dan hijau, dipilih warna tersebut karena H03 : Perlakuan tidak mempengaruhi
warnanya walaupun dalam kondisi terang pada pengguanaan lampu berwarna hijau
masih susah dilihat dibandingkan dengan H13 : Perlakuan mempengaruhi pada
warna lampu rumahan yang dominan berwarna penggunaan lampu berwarna hijau
putih.Lalu dilihat berapa banyak kesalahan H0 Diterima : Perlakuan mempengaruhi
yang dilakukan oleh operator/praktikan dalam H1 Ditolak : Perlakuan tidak mempengaruhi
mengerjakan atau menjawab soal-soal
tersebut.

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 9


3.3 Analisi Berdasarkan Manova pengaruh yang signifikan antara dari variabel
independen dari satu set kelompok variabel
dependen jadi dapat disimpulkan jika nilai P-
Value menunjukan <0,05 maka signifikan
pada level 95%.

3.5 Test of between - Subjects effects

Sumber dari output manova


Gambar 4.1 Descriptive statistics

Tabel diatas menunjukan hasil


descriptive dengan responden perlakuan 1, 2,
dan 3 dengan masing masing warna lampu
yang berbeda yaitu Merah, Kuning, dan Hijau
dengan jumlah rata- rata (mean) total dari
setiap lampu yaitu 9,28, 6,37, dan 9,13 dan
jumlahnya masing- masing perlakun 38 orang.

3.4 Multivariate Test

Sumber dari output manova


Gambar 3.3 Test of between - Subjects
effects
Tabel diatas menunjukan uji manova,
seperti biasa pada uji f akan di bahas beberapa
nilai yaitu, Corrected Model, Intercept,
Perlakuan, Error dan Total. Pada baris
perlakuan pada baris tersebut ada 3 baris
lagi yaitu, merah , kuning dan hijau ,
tiap baris menunjukan hasil uji variabel
independen yaitu perlakuan terhadap masing
masing variabel dependen. Dari hasil diatas
dapat dilihat pada kolom sig dikatakan
signifikan apabila nilai sig <0,05 dari ketiga
Sumber output manova nilai diatas menunjukan 0,863, 0,000, dan
Gambar 3.2 Multivariate test 0,001sehingga dapat disimpulkan yaitu

Tabel diatas menujukan bahwa seperti A. Perlakuan pertama terpengaruh terhadap


biasa untuk hasil uji f, kita mengabaikan lampu berwarna merah dengan nilai 0,863
bagian yang diberi tanda intercept. Pada yang artinya H0 diterima H1 ditolak
tabel diatas menunjukan 4 nomor diberikan karna tidak signifikan.
nilai P-value untuk empat uji multivariate B. Perlakuan kedua tidak terlalu terpengaruh
berbeda, yaitu 0,357, 0,648, 0,535 dan 0,519 terhadap lampu berwarna kuning dengan
maka dapat dikatakan keseluruhannya ada

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 10


nilai 0,000 yang artinya h1 diterima h0 Tabel diatas menujukan uji Post Hoc,
ditolak. karna pada uji homogenitas menunjukan hasil
C. Perlakuan ketiga terpengaruh terhadap yang sig >0,005 pada semua variabel, maka
lampu yang berwarna hijau dengan nilai masing masing pengaruh variabel
0,001, yang artinya dalam hal ini masih independen terhadap variabel dependen
signifikan H1 diterima dan H0 ditolak. menggunakan uji beferoni. Dikatakan ada
perbedaan dependen yaitu nilai warna lampu
3.6 Post hoc test berdasarkan variabel independen yaitu
perlakuan apabila memiliki tanda bintang,
dalam hal ini dapat disimpulkan
A. Untuk perbedaan nilai warna lampu
merah berdasarkan perlakuan, yang
memiliki perbedaan adalah perlakuan 1
dengan 2 dan perlakuan 1 dengan 3
B. Untuk perbedaan lampu bewarna kuning
berdasarkan perlakuan yang memiliki
perbedaan adalah perlakuan 1 dengan 2
dan perlakuan 1 dengan 3
C. Untuk perbedaan lampu berwarna merah
berdasarkan perlakuan, yang memilik
perbedaan adalah perlakuan 1 dengan 2
dan perlakuan

4 SIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan
Dari experiment yang telah dilakukan,
maka dapat disimpulkan dari ketiga prilaku,
kondisi, dan warna lampu yang berbeda beda
dan telah dilakukan uji dalam bentuk manova
maka experiment kondisi lingkungan kerja
fisik para responden bisa dikatakan ada yang
terpengaruh, tidak terlalu terpengaruh dan
sangat terpengaruh yaitu :
1. Pada Perlakuan I dengan warna
Lanjutan lampu berwarna merah, suhu
200C, tingkat kebisingan 45db
dan pencahayaan 200lux dengan
tingkat kesalahan dengan nilai
rata-rata di dapat hasil 9,29 dan
dengan uji test dalam bentuk
manova didapat hasil 0,863
dikatakan tidak signifikan maka
berpengaruh terhadap keberhasilan
kerja / tingkat kesalahan operator.
2. Pada perlakuan II dengan warna
lampu berwarna kuning, suhu
250C, tingkat kebisingan 55db dan
pencahayaan 300lux dengan
tingkat kesalahan dengan nilai
Sumber dari output manova rata-rata di dapat hasil 6,37 dan
Gambar 3.4 post hoc test dengan uji test dalam bentuk
manova didapat hasil 0,000
dikatakan signifikan maka tidak

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 11


berpengaruh terhadap keberhasilan Pasmawati Yanti. 2012. Pengaruh Ruang
kerja / tingkat kesalahan operator. Design Berdasarkan Suhu dan Tingkat
3. Pada perlakuan III dengan warna Iluminasi Terhadap Kerja Produktivitas.
lampu berwarna hijau, suhu 320C, Jurnal Prosiding.
tingkat kebisingan 55db dan
pencahayaan 450lux dengan Pasmawati Yanti & Rachawaty. 2012.
tingkat kesalahan dengan nilai Pengaruh Design Lingkungan Fisik Dalam
rata-rata di dapat hasil 9,13 dan Ruangan Terhadap Pproduktivitas Berfikir
dengan uji test dalam bentuk (Kognisi).Proposal HibahPenelitian
manova didapat hasil 0,1 Multidisiplin Universitas Bina Darma
dikatakan tidak signifikan maka Palembang.
berpengaruh terhadap keberhasilan
kerja / tingkat kesalahan operator.. Samara Pane, Ferlita Ersalina.2012. Analisa
Jadi dari ketiga eksperiment dan Pengaruh Suhu Ruangan dan Intensitas
ketiga warna lampu yang berbeda beda maka Pencahayaan Terhadap Kecepatan Respon
dapat disimpulkan yang tidak terpengaruh Konsentrasi dan Tingkat Stress Pada Siswa
adalah kondisi dengan warna lampu berwarna Sekolah Dasar.Fakultas Teknik Depok .
kuning dengan suhu 250C, kebisingan 55db,
dan pencahayaan 300lux. Dengan hasil uji Setynto. R Hari, Subyanti, & Wiryanto. 2011.
manova 0,000 dikatakan signifikan. Pengaruh Faktor Lingkungan FisikKerja
Terhadap Waktu Penyelesaian Pekerjaan
4.2 Saran (Studi Laboratorium)Jurnal EKOSAINS | Vol.
1. Kondisi suatu lingkungan kerja III | No. 2 | Juli 2011.
fisik yang baik yaitu dengan
menggunakan warna lampu yang Vem Pangela, Chalos. 2013. Analisa
sesuai standar yaitu warna putih Ergonomi Berdasarkan Pada Lingkungan
dan dengan situasi dan kondisi Kerja Fisik Redesign Fasilitas Kerja. Jurnal
yaitu, suhu antara 24oc 27oc, Teknik Industri.
pencahayaan 200 300lux, http://eprints.undip.ac.id/31693/1/tesisperbaika
dengan tingkat kebisingan 50 n.pdf. Diakses Pada Tanggal 5Desember 2014
55db. .
2. Penyediaan alat alat dan tata http://ejournal.ukrida.ac.id/ojs/index.php/Ked/
ruang yang lengkap dan nyaman article/viewFile/206/201.DiaksesPada Tanggal
supaya mendapat hasil yang 5 Desember 2014.
efisien dan ergonomis.
http://putraprabu.wordpress.com/2099/01/06/s
DAFTAR RUJUKAN ystem-dan-stndar-pencahayaan-ruang.diakses
10 desember 2014.
Agus & J Hudyono.2011.Penyakit Akibat
Kerja Disebabkan Faktor Fisik. Journal
Vol 17 No.43. Hlm 36-41

Nora Azmi.2010. Penentuan Kriteria Fisik


Pekerja Yang Sesuai UntukMeningkatkan
Produktivitas Kerja Pada Stasiun Blow
Moulding Dengan Pendekatan Fisiologi
Kerja. Vol V No 1.

Padamanaba, Cok Gd Rai. 2006. Pengaruh


Penerangan Dalam RuanganTerhadap
Produktivitas Kerja Mahasiswa Design
Interior. Jurnal FakultasSeni dan Design.Vol.
4 no 2. Hlm 57-63.

Lingkungan Kerja Fisik, Produktivitas Kerja, Manova (SyahriRamadon ) 12