Anda di halaman 1dari 3

Nama : Mohammad Rakha Rajasa Putra

NIM : 03021181419063

PEMANFAATAN BATUBARA SEBAGAI KOKAS

Kokas ialah residu padat yang tertinggal bila batubara dipanaskan tanpa
udara sampai sebagian zat yang mudah menguapnya hilang. Batubara kokas adalah
batubara yang bila dipanaskan tanpa udara sampai suhu tinggi akan menjadi lunak,
terdevolatilasasi, mengembang, dan memadat kembali membentuk material yang
porous. Material ini merupakan padatan kaya karbon yang disebut kokas.
Kebanyakan kokas digunakan dalam pembuatan besi dan baja karena
memberikan energi panas dan sekaligus bertindak sebagai zat pereduksi (reduktor)
terhadap bijih besi yang dikerjakan didalam tanur suhu tinggi atau tungku
pembakaran (blast furnace). Kokas untuk keperluan tersebut, umumnya padat dan
relatif kuat, dihasilkan dari batubara tertentu., baik tunggal maupun campuran,
dalam oven kokas (coke oven). Residu hasil karbonisasi yang merupakan material
serbuk yang tidak berlubang atau massanya menggumpal disebut char. Bahan ini
dapat dibuat briket dan digunakan sama seperti kokas (kokas jenis ini disebut
sebagaiformed coke) atau langsung dipakai sebagai elektroda karbon.
Umumnya, ada dua istilah yang dapat membingungkan kita, yaitu istilah
caking dan coking. Caking ialah kemampuan batubara untuk meleleh ketika
dipanaskan dan kembali membentuk residu yang koheren ketika didinginkan.
Syarat mutlak untuk batubara kokas ialah batubara itu harus meleleh
membentuk cake jika dipanaskan. Tidak semua caking coal adalah cooking coal.
Coking digunakan untuk menerangkan bahwa batubara tersebut cocok untuk dibuat
kokas. Walaupun begitu, keterangan ini berlawanan dengan definisi klasifikasi
batubara hard coal menurut ISO yang mendefinisikan caking kebalikan dari
coking. Caking menunjukkan penggumpalan (agglomeration) dan pengembangan
(swelling). Selama dipanaskan (index crucible swelling
number dan Roga),sedangkan coking menunjukkan penggumpalan dan
pengembangan selama pemanasan lambat (dilatation atau Gray-King coke type).
Hal ini menimbulkan kerancuan dalam pemakaian kedua istilah tersebut.
Batubara yang dapat dibuat kokas harus mempunyai peringkat dan tipe
tertentu. Sebagian zat organik dalam batubara mempunyai peranan dalam sifat-sifat
pelelehan tadi. Dalam batubara kokas yang prima, yaitu yang membentuk kokas
metalurgi yang sangat baik, harus dicapai suatu perbandingan yang optimal antara
zat yang reaktif dan zat yang inert (tidak meleleh).
Berbagai parameter yang menentukan batubara kokas (peringkat dan
jenisnya telah memenuhi syarat), termasuk kokas metalurgi, ialah
kandungan ash tidak terlalu tinggi, hampir tidak mengandung sulfur dan fosfor,
serta zat yang mudah menguapnya dalam kokas harus kecil. Untuk menentukan
sifat-sifat batubara kokas digunakancrucible swelling number, Gray King coke type,
plastisitas danfluiditas.
Batubara kokas, pada umumnya dipakai pada blast furnace (tungku
peleburan besi). Kokas yang dipakai pada blast furnace biasanya dimasukkan ke
dalam tungku / tanur dari jarak yang cukup tinggi. Oleh karena itu batubara kokas
haruslah memiliki kekuatan dan kekerasan yang cukup untuk dapat menahan
benturan dan tekanan saat kokas dijatuhkan ataupun ditumpuk. Kuat tekan kokas
harus mencapai lebih dari 9,81 Mpa atau setara dengan 200 kg/cm2. Selain kuat
tekan batubara kokas harus memiliki porositas mendekati 50%, agar pada saat
pembakaran batubara tidak hanya terbakar pada bagian luarnya saja, tetapi pada
bagian dalamnya juga. Porositas tidak boleh terlalu besar karena apabila porositas
terlalu besar maka kuat tekan kokas akan berkurang. Yang mempengaruhi besar
kecilnya porositas adalah kandungan volatile matter pada batubara. Batubara
dengan volatile matter tinggi akan membentuk banyak gelembung gelembung gas
pada pembuatan kokas yang membuat banyaknya pori pori. Umumnya batubara
dengan VM 26-29% dianggap baik untuk tujuan mendapatkan kokas. Batubara
kokas harus memiliki memiliki reaktifitas yang tinggi. Angka free swelling index
(FSI) atau Crucible Swelling Number (CSN) juga berpengaruh dalam pembuatan
kokas. Free Swelling Index digunakan untuk meramalkan kecenderungan batubara
untuk membentuk kokas . FSI berpengaruh pada sifat caking dan cooking pada
batubara. Sifat caking adalah sifat batubara untuk mengembang apabila dipanaskan
hingga suhu 800-820oC pada tungku listrik. Sedangkan sifat cooking adalah
kecenderungan batubara untuk memadat kembali setelah mengembang.
Batubara dengan FSI rendah tidak memiliki sifat caking, sedangkan batubara
dengan FSI tinggi memiliki sifat caking. Batubara yang digunakan untuk membuat
kokas adalah batubara dengan FSI sedang (berkisar antara 5,5-7,5) sebab apabila
angka FSI terlalu tinggi, maka kecenderungan untuk memadat kembali akan
semakin kurang. Selain itu, untuk membuat batubara kokas diperlukan juga
parameter fixed carbon. Batubara kokas menggunakan batubara dengan fixed
carbon tinggi (FC>80%). Batubara kokas dimanfaatkan dalam peleburan bijih besi
dengan suhu mencapai 1800-2000oC. Oleh karena itu dibutuhkan batubara dengan
Fixed Carbon yang tinggi karena semakin tinggi FC akan semakin besar pula nilai
kalori dari batubara tersebut. Selain itu moisture dan HGI (Hardgrove Grindability
Index) juga berpengaruh pada proses pembuatan kokas. HGI adalah parameter yang
menunjukkan sukar mudahnya batubara untuk digerus, HGI diperlukan karena pada
proses pembuatan kokas memerlukan penggerusan. Batubara dengan kandungan
moisture yang besar memiliki angka HGI yang rendah (batubara sulit digerus). Oleh
karena itu kandungan moisture juga berpengaruh pada pembuatan kokas.