Anda di halaman 1dari 27

Praktikum Mekanika Fluida

TEKANAN HIDROSTATIS
(HYDROSTATIC PRESSURE)
A. Teori Percobaan
Statika fluida merupakan bagian dari mekanika fluida yang mengkaji sifat-sifat dan
gaya-gaya yang timbul didalam fluida yang diam (fluida statis), sedangkan kajian
hidrostatik merupakan bagian dari statika fluida yang mempelajari pengaruh mekanik dari
suatu zat cair yang berada dalam keadaan diam.
Salah satu kajian hidrostatik yang paling penting adalah kajian mengenai tekanan
hidrostatik. Tekanan hidrostatik adalah tekanan yang diakibatkan oleh gaya berat zat cair
terhadap suatu permukaan atau bidang kontak.
Pada zat cair ini tidak terdapat gaya geser antar partikel zat cair, sehingga tekanan
hidrostatik bekerja secara tegak lurus terhadap permukaan bidang kontak dan tidak
dipengaruhi oleh keadaan viskositas (kekentalan) zat cair. Oleh karena itu penyelesaian
masalahnya termasuk sederhana, analisa perhitungan dilakukan dengan langsung
mempergunakan prinsip-prinsip mekanika tentang gaya dan momen.
Adapun sifat-sifat tekanan hidrostatis:
a. Selalu tegak lurus bidang kerjanya.
b. Tekanan pada suatu titik adalah sama ke semua arah.
Tekanan hidrostatik bergantung pada:
a. Tegangan permukaan.
b. Gaya dari luar.
c. Letak atau posisi bidang kontak.
Salah satu penerapan praktis dari tekanan hidrostatis yaitu gaya apung. Besarnya gaya
apung sama dengan berat cairan yang dipindahkan. Secara matematis, gaya apung
dinyatakan dengan persamaan:
Fb g V (1.1)

dalam hal ini, adalah kerapatan zat cair, g adalah percepatan gravitasi dan V adalah
volume cairan yang dipindahkan atau volume benda yang terendam.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 1
Praktikum Mekanika Fluida

B. Maksud dan Tujuan Percobaan


Untuk menentukan pusat tekanan dari bagian benda yang terendam, dengan kata lain
menentukan garis kerja gaya apung yang bekerja pada benda tersebut.

C. Alat dan Bahan yang Digunakan


- Alat tekanan hidrostatik (Hydrostatic Pressure Apparatus) dan perlengkapannya.
- Hydraulic Bench.
- Beban (anak timbangan).
- Gelas ukur.
- Mistar ukur.

D. Prosedur Percobaan
1. Tempatkan alat tekanan hidrostatis di atas hydraulic bench.
2. Levelkan alat tekanan hidrostatis dalam keadaan tanpa beban.
3. Hubungkan slang dari hydraulic bench ke drain cock yang terdapat pada alat.
4. Alirkan air kedalam alat tekanan dengan mengatur posisi katup kontrol pada hydraulic
bench dan drain cock sampai permukaan air tepat menyentuh bagian bawah dari benda
pada alat tekanan hidrostatis. Perhatikan bahwa alat masih tetap dalam posisi level.
5. Berikan beban dan alirkan air dengan mengatur drain cock pada alat tekanan sampai
alat tekanan kembali ke posisi level. Catat tinggi air (tinggi benda yang terendam) dan
volume air yang dialirkan kedalam alat.
6. Ulangi kembali prosedur di atas dengan menambah beban sesuai petunjuk asisten,
demikian juga pada saat pengurangan beban.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 2
Praktikum Mekanika Fluida

E. Analisa Data
Menghitung volume benda yang terendam
(r y )
1 = Arc cos 1
r1
Menghitung Jarak Xt1
Xt1 = r1 sin 1

Menghitung Luas Sektor OAB


1
As1 = r12
360
Menghitung Luas Segi Tiga OCB
Aj1 = Luas segitiga ADC
= ()(Xt1)(r1-y)
Menghitung Luas Segi Tiga CAB
At1 = As1 - Aj1
Terendam
Vbt = At1 x b
Menghitung Xcp
(m)(l1)
Xcp = - (l2)
xVbt
Menghitung Fb
( )( g )(Vbt )
Fb =
1000000

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 3
Praktikum Mekanika Fluida

F. Daftar Pustaka
a. Streeter V.L. & Wylie E.B. 1996. Mekanika Fluida, Edisi Delapan, Jilid 1. Penerbit
Erlangga, Jakarta.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 4
Praktikum Mekanika Fluida

OSBORNE REYNOLDS
A. Teori Percobaan
Secara umum, kondisi aliran dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu: (a) aliran laminer,
(b) aliran turbulen, dan (c) aliran transisi.

(a) Aliran laminer adalah kondisi aliran dimana partikel-partikel fluida bergerak dalam
lintasan (garis alir) yang teratur dan saling sejajar.
(b) Aliran turbulen adalah kondisi aliran dimana partikel-partikel fluida bergerak dalam
lintasan yang tidak teratur dan saling berpotongan sehingga terjadi gesekan dan
tumbukan antar partikel fluida.
(c) Aliran transisi, merupakan peralihan dari kondisi aliran laminer ke turbulen.
Kondisi tersebut bergantung pada tiga faktor utama, yaitu kekentalan fluida, kecepatan
aliran dan geometri dari media pengaliran.

Reynolds, seorang berkebangsaan Inggris memperkenalkan suatu bilangan tanpa dimensi


yang dikenal sebagai bilangan Reynolds (Re) yang dapat dijadikan kriteria untuk
mengklasifikasikan kondisi-kondisi aliran fluida tersebut di atas. Secara matematis,
bilangan Reynolds dinyatakan dengan persamaan:

VL
Re (2.1)

V adalah kecepatan rata-rata aliran, L adalah panjang karakteristik, dan (baca: nu)

adalah kekentalan kinematik fluida, ; (baca: mu) adalah kekentalan dinamik dan

(baca: rho) adalah kerapatan massa fluida. Untuk aliran fluida melalui pipa, panjang

karakteristik L dianggap sama dengan diameter pipa D, sehingga bilangan Reynolds dapat
dinyatakan dengan persamaan:
VD
Re (2.2)

Pengamatan aliran dengan pesawat Osborne Reynolds menunjukkan bahwa untuk aliran
pipa, kondisi aliran laminer apabila Re 2000 dan kondisi aliran turbulen apabila Re >
2800. Apabila Re antara 2000 2800, kondisi aliran kadang laminer dan kadang turbulen
(aliran transisi). Sebagai pembanding, Chadwick A. J. dalam bukunya Hydraulics in Civil
& Environmental Engineering, Edisi Kedua (1993) menyatakan bahwa keadaan aliran

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 5
Praktikum Mekanika Fluida

akan laminar jika bilangan Reynolds (Re) 2000 dan turbulen penuh jika Re 4000. Jika
Re antara 2000 4000, aliran dalam keadaan transisi.

B. Maksud dan Tujuan Percobaan


Memahami sifat kekentalan fluida
Menentukan bilangan Reynolds (Re)
Memahami hubungan antara bilangan Reynolds (Re) dan keadaan aliran (laminar
turbulen)

C. Alat dan Bahan yang digunakan


Pesawat Osborne Reynolds
Hydraulic Bench
Stopwatch
Gelas ukur
Zat warna
D. Prosedur Percobaan
1. Levelkan alat pada pesawat Osborne Reynolds sampai siap untuk digunakan.
Hubungkan pipa-pipa pemasukan (inlet) dan pembuang (outlet) dengan Hydraulic
Bench.
2. Isi reservoir zat pewarna dan turunkan injektornya sampai ke mulut gentah bagian atas.
3. Buka katup pemasukan dan biarkan air mengisi tangki penenang. Usahakan elevasi
muka air konstan dengan membuang kelebihan air melalui pipa peluap.
4. Ukur temperatur air dengan termometer yang telah disiapkan.
5. Buka secara perlahan katup pengontrol aliran dan atur jarum pengontrol zat pewarna.
Amati gerakan dan interaksi zat pewarna dengan cairan yang mengalir.
6. Tampung dan ukur volume air yang keluar melalui pipa pembuang dan catat waktu
pengalirannya dengan Stopwatch. Ulangi pengukuran dan pembacaan 3 sampai 5 kali
7. Ulangi prosedur 5 dan 6 dengan debit yang bervariasi mulai dari kecil sampai besar.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 6
Praktikum Mekanika Fluida

E. Analisa Data
1. Menghitung bilangan Reynolds
1
A = D 2
4
Q = V/t
v = Q/A
(v)( D)
Re =

2. Menghitung faktor hambatan/koefisen gesekan (f)


f = 64/ Re ( Untuk aliran laminer dan transisi)
f = 0.316/Re0,25 ( Untuk aliran turbulen)

3. Menghitung tegangan geser ()


1
= f v2
8

F. Daftar Pustaka
1. Streeter V.L. & Wylie E.B. 1996. Mekanika Fluida, Edisi Delapan, Jilid 1. Penerbit
Erlangga, Jakarta.

2. Chadwick A.J., 1993. Hydraulics in Civil & Environmental Engineering, Edisi


Kedua, E & FN Spon Pub., London.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 7
Praktikum Mekanika Fluida

O R I F I C E

A. Teori Percobaan
Sebuah orifice yang dipasang pada sebuah dinding tangki seperti pada gambar dibawah ini
dengan luas penampang A0. Tinggi fluida H diukur di atas sumbu orifice. Fluida dialirkan
melalui lubang orifice dan menghasilkan pancaran (jet) fluida.

C
zA
y0
P
zC x0

Datum

Titik A diatas permukaan air mempunyai tekanan pA yang sama dengan tekanan atmosfir
sedangkan kecepatan VA dianggap sama dengan nol (karena head-nya tetap). Pada titik C
kecepatan air VC dan tekanannya juga sama dengan tekanan atmosfir, jadi pA = pC .
Dengan menerapkan persamaan Bernoulli antara titik A dan C, maka:

p A VA 2 p C VC 2
zA zC (2.9)
2g 2g
Jika zA zC = H ; VA = 0 ; VC = Vt ; dan pA = pC maka kecepatan teoritis:

Vt 2 g H (2.10)
Debit teoritis sama dengan hasil kali antara luas penampang lubang orifice (A0) dan
kecepatan teoritis:

Q t A 0 Vt A 0 2 g H (2.11)
Jadi kecepatan teoritis yang keluar dari orifice hanyalah merupakan fungsi dari tekanan air
di dalam tangki dan debit teoritis adalah fungsi dari diameter orifice dan tinggi tekanan air
di dalam tangki. Jika kita memperhatikan gerakan partikel air dari titik C (titik vena
contracta) ke titik P, maka kecepatan aktual dapat diperoleh dari analisa gerakan fluida

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 8
Praktikum Mekanika Fluida

tersebut, dimana gerakan mendatar adalah gerak lurus beraturan (kecepatan konstan),
sedangkan gerakan dalam arah vertikal adalah gerak berubah beraturan dengan kecepatan
awal 0 dan percepatannya sama dengan percepatan gravitasi (g).
Kecepatan aliran dalam arah horizontal:
x0
Vx 0 (2.12)
t
Kecepatan aliran dalam arah vertical:
gt y 0
Vy0 (2.13)
2 t
gt 2
Persamaan (2.13) di atas dapat disederhanakan menjadi y 0
2
2y 0
atau t (2.14)
g

Dengan mengkombinasikan kedua persamaan di atas, diperoleh kecepatan actual sebagai


berikut :

x0
Va (2.15)
2y 0 / g

Persamaan (2.15) ini adalah persamaan parabola dan dapat dimaklumi bahwa pancaran juga
adalah parabola (lihat gambar). Sedangkan debit aktualnya diperoleh dengan mengukur
aliran yang keluar dari orifice pada selang waktu (t) tertentu:
Qa = V / t (m3/dtk ) (2.16)

Koefisien kecepatan (Cv)


Perbandingan antara kecepatan pancaran aktual dengan kecepatan teoritis disebut koefisien
kecepatan,
Va
Cv (2.17)
Vt
dengan Va = kecepatan pancaran actual dan Vt = kecepatan teoritis

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 9
Praktikum Mekanika Fluida

Koefisien kecepatan ini juga dipengaruhi oleh gesekan dan bentuk tepi dari orifice. Nilai
Cv bertambah jika tekanan bertambah. Nilai Cv berkisar 0,95 0,99.

Koefisien pengaliran (Cd)


Koefisien pengaliran atau biasa juga disebut koefisien debit (Cd) adalah perbandingan
antara debit actual dengan debit teoritis.
Qa
Cd (2.18)
Qt
Koefisien kontraksi (Cc)
Koefisien kontraksi adalah perbandingan antara luas penampang aliran pada vena contracta
dengan luas lubang orifice.
A
Cc (2.19)
A0
dengan A adalah luas aliran pada vena kontrakta dan A0 adalah luas orifice.
Nilai koefisien kontrasi tergantung pada fakor-faktor ukuran dan bentuk orifice, tinggi
tekanan, viskoitas fluida, dan lain-lain. Untuk mengukur luas pancaran pada vena kontrakta
agak sulit dilakukan dalam praktek. Hal ini bisa diperoleh dari hubungan antara Cd dan Cv,
sebagai berikut:
Cd C v Cc

Cd
atau Cc (2.20)
Cv

B. Maksud dan Tujuan Percobaan


Mengamati hubungan antara tinggi tekanan H dan kecepatan aliran melalui orifice.
Menentukan koefisien pengaliran melalui orifice dan membandingkannya dengan teori.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 10
Praktikum Mekanika Fluida

C. Alat dan Bahan yang Digunakan


Tabung orifice, dilengkapi dengan kran suplai dan lubang peluap
Hydraulic Bench.
Manometer untuk mengukur tinggi permukaan air dalam tangki.
Landasan untuk mengukur jarak pancaran air beserta point gauge.
Stop watch.
Gelas ukur.
Waterpas

D. Prosedur Percobaan
1. Catat diameter orifice.
2. Hubungkan pipa over flow dengan selang hydrolic bench.
3. Naikkan pipa over flow dan buka katup suplai agar air mengalir mengisi tangki tekanan.
4. Atur katup hingga air mengalir keluar melalui pipa over flow agar diperoleh head yang
diinginkan.
5. Catat tinggi permukaan air (head) yang terbaca pada skala.
6. Taksir posisi vena kontrakta secara visual dan catat jarak x dari orifice.
7. Atur setiap jarum untuk menentukan lintasan pancaran dan tandai bagian atas jarum
pada kertas skala yang terpasang. Ukur dan catat jarak vertical lintasan pancaran (y)
dari sumbu orifice.
8. Ulangi untuk head yang berbeda sesuai petunjuk asisten.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 11
Praktikum Mekanika Fluida

E. Analisa Data
Menentukan Koefisien Pengaliran :
Menghitung Debit aktual (Qa) :
V
Qa =
t
Menghitung kecepatan aktual (va)
x1
Va =
2 y1 g

Menghitung Kecepatan teoritis (Vt) :

Vt = 2 g H
Menghitung Luas Penampang lubang orifice (A0) :
1
A0 = D2
4
Menghitung Debit Teoritis (Qt) :
Qt = A0 x Vt
Menghitung Koefisien lubang (Cd) :
Qa
Cd =
Qt

Menghitung Koefisien Kecepatan (Cv) :


va
Cv =
vt

Menghitung koefisien Konstraksi (Cc) :


Cd
Cc =
Cv

Menghitung luas penampang aliran sebenarnya (A) :


A = Cc x A0
Menghitung diameter aliran sebenarnya (D) :

D= 4A
Hitung bilangan Reynolds (Re):
va D
Re

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 12
Praktikum Mekanika Fluida

F. Daftar Pustaka
1. Streeter V.L. & Wylie E.B. 1996. Mekanika Fluida, Edisi Delapan, Jilid 1. Penerbit
Erlangga, Jakarta.

2. Chadwick A.J,1993. Hydrulics in civil & Engineering, edisi Kedua, E & FN Spon
Pub,London.

3. Chow V.T.1997,Hidrolika Saluran Terbuka, cetakan keempat, Penerbit Erlangga,


Jakarta

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 13
Praktikum Mekanika Fluida

VENTURI METER

A. Teori Percobaan
Venturimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur debit aliran saluran tertutup
(aliran pipa bertekanan). Zat cair mengalir melalaui bagian kontraksi (leher) dari pipa yang
mempunyai luas lebih kecil dari pada pipa utama, sehingga kecepatan zat cair melalui leher
lebih tinggi daripada di dalam pipa. Meningkatnya kecepatan disertai dengan turunnya
tekanan yang besarnya tergantung dari kecepatan aliran, sehingga dengan mengukur
perubahan tekanan debit dapat dihitung.
Setelah melewati bagian leher, zat cair mengalami perlambatan di dalam pipa yang
membesar (bagian divergen), sehingga tekanan meningkat sedangkan kecepatan menurun.

V12
2g
garis energi

V2 2
h 2g

p
h1 1

p
h2 2

D1 V1 D2 V2

1 2

z1 z2

Datum

Dengan menganggap tidak ada gesekan antara zat cair dengan pipa, persamaan Bernoulli
dapat diterapkan antara penampang 1 dan 2 sebagai berikut:

p V2 p V 2
z1 1 1 z 2 2 2 (2.21)
2g 2g
p
Karena z1 = z2 dan h , persamaan (2.21) dapat disederhanakan menjadi:

V 2 V12
h1 h 2 2 (2.22)
2g

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 14
Praktikum Mekanika Fluida

A1
Dari persamaan kontinuitas: Q A1V1 A 2 V2 , diperoleh V2 V1 . Subsitusikan hal
A2
ini ke persamaan (2.22) kemudian disederhanakan, diperoleh:

2gh1 h 2
V1
A1 A2 1
2

sehingga debit teoritis dapat dihitung dengan persamaan:

2gh1 h 2
Q t A1
A1 A2 1
2
(2.23)

Dari persamaan (2.23) jelas bahwa dengan mengetahui diameter pipa dan mengukur
perbedaan tekanan antara penampang 1 dan 2, dapat ditentukan debit aliran melalui pipa
tersebut.
Pada kenyataannya debit aktual lebih kecil dari debit teoritis. Oleh karena itu, dalam praktek
penggunaan venturi meter sebagai alat ukur debit harus dilakukan kalibrasi. Perbandingan
antara debit aktual dan debit teoritis dikenal sebagai koefisien pengaliran venturi meter (Cd).
Debit aktual dapat dihitung dengan rumus:
V
Q
t
dengan V = volume air yang tertampung di dalam bak hydraulic bench
t = waktu yang diperlukan untuk menampung air dengan volume V.
Selanjutnya koefisien pengaliran Venturi meter dapat ditentukan dengan persamaan:
Qa
Cd
Qt

B. Maksud Dan Tujuan Percobaan


Memahami prinsip persamaan Bernoulli
Menentukan koefisien pengaliran melalui vebturi meter
Mengukur debit aliran saluran tertutup (pipa bertekanan)

C. Alat dan Bahan yang Digunakan


Hydraulic Bench
Venturimeter dilengkapi dengan tabung-tabung manometer.
Stopwatch

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 15
Praktikum Mekanika Fluida

D. Prosedur Percobaan
1. Tempatkan venturi meter di atas hydraulic bench dan hubungkan slang hydraulic bench
dengan venturi meter.
2. Levelkan skala manometer dengan membuka kedua katup pengontrol dan katup pengisi
yang mengakibatkan air mengalir beberapa detik untuk menghilangkan gelembung
udara dari alat suplai.
3. Tutup katup pengontrol secara perlahan sehingga alat akan mendapatkan penambahan
tekanan yang teratur, menyebabkan muka air naik di dalam tabung manometer. Ketika
permukaan air naik pada tinggi yang sesuai, katup benchnya juga menutup perlahan-
lahan sehingga kedua katupnya akhirnya tertutup.
4. Atur debit aliran melalui venturi meter sesuai petunjuk Asisten dan baca tinggi tekanan
(kedudukan muka air) pada skala manometer.
5. Ukur debit aktual dengan mengukur volume aliran yang tertampung di dalam tangki
hydraulic bench selama interval waktu tertentu.
6. Ulangi prosedur diatas untuk beberapa variasi debit yang ditentukan atau sesuai
petunjuk Asisten Praktikum.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 16
Praktikum Mekanika Fluida

E. Analisa Data
Qa = V/t
A1 = D12
A2 = D2 2

Qt = A1 2 g ( H 1 H 6) / ( A1 A2 ) 2 1

Qa
Cd =
Qt

G. Daftar Pustaka
1. Streeter V.L. & Wylie E.B. 1996. Mekanika Fluida, Edisi Delapan, Jilid 1. Penerbit
Erlangga, Jakarta.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 17
Praktikum Mekanika Fluida

PANCARAN (JET) FLUIDA

A. Teori Percobaan
Percobaan pancaran fluida adalah merupakan salah satu cara untuk menghasilkan usaha
serta daya dari suatu fluida yang ada dengan memanfaatkan tekanan. Akibat tekanan
tersebut, fluida/zat cair akan memancar dengan kecepatan yang tinggi, dimana gaya
tumbukan yang dihasilkan oleh suatu pancaran fluida (jet impact) dapat diukur dan
dibandingkan dengan besar laju aliran momentum dalam pancaran tersebut.
Percobaan ini didasarkan atas hukum kelembaman Newton:
Sebuah benda akan tetap berada dalam keadaan diam atau bergerak dalam
kecepatan yang beraturan dalam garis lurus sampai suatu pengaruh akibat beban
luar.
Derajat perubahan momentum dari suatu benda adalah sebanding dengan gaya yang
bekerja pada benda itu dan arahnya sama dengan arah gaya yang bekerja. Terhadap setiap
gerakan aksi dan reaksi yang bekerja bersama-sama, maka pancaran fluida yang terjadi
simetris dalam arah sumbu x.
Pada percobaan ini air akan terpancar keluar dari nozzle dan kemudian menumbuk piringan.
Besarnya laju momentum piringan adalah = AV1 cos
1
dengan: A = luas penampang ujung nozzle/corot . .D 2
4
= berat spesifik (=berat jenis) fluida
g
= rapat massa fluida
g = percepatan gravitasi
VO = kecepatan awal, saat keluar dari nozzle
V1 = kecepatan air pada saat menumbuk piringan
= sudut dalam piringan

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 18
Praktikum Mekanika Fluida

Setelah air menumbuk piringan, air akan jatuh tidak pada posisi lurus tetapi terpancar,
dimana arah pancaran air dipengaruhi oleh sudut dalam piringan. Pada percobaan ini dapat
diamati efek tumbukan pada tiga model piringan yaitu: datar, cekung, dan setengah bola.
Besarnya gaya yang ditimbulkan akibat pancaran fluida untuk masing-masing piringan
adalah sebagai berikut:

Q2
Untuk piring datar Fy
A
(2.5)
3.Q 2
Untuk piringan cekung Fy (2.6)
2A
2 .Q 2
Untuk piringan setengah bola Fy (2.7)
A
dengan: = rapat massa air.
Q = debit air yang mengalir.
A = luas penampang ujung corot (nozzle).

B. Maksud dan Tujuan Percobaan


Memahami konsep momentum aliran
Menentukan gaya tumbukan fluida pada piringan datar, cekung, dan setengah bola
Menentukan efisiensi tumbukan fluida

C. Alat dan Bahan yang Digunakan


Hydraulic Bench.
Peralatan Jet Impact dan kelengkapannya.
Beban.
Piringan cekung.
Mistar ukur/geser.
Stop Watch

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 19
Praktikum Mekanika Fluida

D. Prosedur Percobaan
1. Letakkan pesawat Jet Impact di atas hydraulic bench dan levelkan pesawat tersebut
dengan melihat nivo pada pesewat Jet Impact.
2. Pasanglah corot/nozzle dan salah satu model piringan pada pesawat Jet Impact.
3. Atur dan levelkan jarum petunjuk posisi (level gauge) sehingga tepat menunjuk pada
garis yang terlihat pada bangku beban (weight pan).
4. Letakkan beban seperti yang telah ditentukan oleh asisten pada bangku beban. Akibat
beban tersebut, bangku beban melesak sedikit ke bawah sehingga tidak level dengan
alat/jarum penunjuk posisi.
5. Hidupkan pompa air pada hydraulic bench dan buka kran air perlahan-lahan sehingga
air akan terpancar keluar dari nozzle, menumbuk piringan, dan bangku beban perlahan-
lahan akan terangkat ke atas. Atur bukaan kran sehingga posisi bangku beban segaris
(selevel) dengan jarum.
6. Baca dan catat debit aliran serta waktu yang dibutuhkan untuk mengangkat beban
tersebut pada point 5 diatas.
7. Ulangi percobaan dengan beban yang bervariasi untuk masing-masing piringan

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 20
Praktikum Mekanika Fluida

E. Analisa Data
1. Hitung gaya tumbukan akibat pancaran fluida

a. Hitung Luas penampang nozzle; A= D2



b. Hitung debit yang melalui corot ; Q =

c. Hitung gaya pancaran fluida

3( )(Q 2 )
Untuk piringan cekung : Fy =
2 A

.Q 2
Untuk piringan datar : Fy =
A

2( )(Q 2 )
Untuk piringan setengah bola : Fy =
2 A

2. Hitung gaya aktual ;Fp = m x g

Fp
3. Hitung Efisiensi gaya pancaran fluida () = x100%
Fy

F. Daftar Pustaka
1. Streeter V.L. & Wylie E.B. 1996. Mekanika Fluida, Edisi Delapan, Jilid 1. Penerbit
Erlangga, Jakarta.

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 21
Praktikum Mekanika Fluida

TABEL PENGAMATAN PERCOBAAN ALAT TEKAN HIDROSTATIK


(HYDROSTATIC PRESSURE APPARATUS)

Tinggi rendaman (mm)


No Beban(gr) Pengisian Tanki Pengosongan Tangki
1 2 Rata2 1 2 Rata2

Catatan: Jarak dari pivot ke balance pan (L1) = cm


Jarak dari pivot ke ujung muka quadran (L2) = cm
Lebar ujung muka quadrant (b) = cm
Jari-jari quadrant (r1) = cm
(r2) = cm
0
Suhu air (T) = C

Makassar, 2017
Asisten

.................................................

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 22
Praktikum Mekanika Fluida

TABEL PENGAMATAN PERCOBAAN OSBORNE REYNOLDS

WAKTU
VOLUME PENGALIRAN SUHU AIR
ALIRAN
(ml) (0C)
t1 t2 trata-rata

LAMINER

TURBULEN

TRANSISI

Catatan: Diameter Pipa = mm


0
Suhu air (T) = C

Makassar, 2017
Asisten,

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 23
Praktikum Mekanika Fluida

Tabel Pengamatan Percobaan Orifice Head Constan

H Volume Waktu y (cm)


No
(mm) (ml)
t1 t2 Rata2 X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7

Catatan : Diameter Oriffice = mm


0
Temperatur = C

Makassar, 2017
Asisten,

..

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 24
Praktikum Mekanika Fluida

TABEL PENGAMATAN PENGUJIAN VENTURI METER

TINGGI TEKANAN
VOLUME AIR WAKTU H ( mm )
NO
( cm3) (DETIK)
H1 H2 H3 H4 H5 H6 H7 H8

Catatan:
D1 = mm
D2 = mm
o
Temperatur air = C

Makassar, 2017
Asisten

.........................................................

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 26
Praktikum Mekanika Fluida

TABEL PENGAMATAN PERCOBAAN PANCARAN AIR/FLUIDA

WAKTU PENGAMATAN
VOLUME AIR (cm3) JENIS
BEBAN (DETIK)
NO. PIRINGAN
(gr) Vrata-
V1 V2 t1 t2 trata-rata
rata

CEKUNG

CEMBUNG

DATAR

Catatan: Diameter nozzel/corot = mm


0
Suhu = c

Makassar, 2017
Asisten

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 26
Praktikum Mekanika Fluida

Laboratorium Mekanika Fluida Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Paulus 26