Anda di halaman 1dari 5

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ASTRONOMI

Sebelum abad ke-16 model alam semesta kita dapatkan dari hipotesis planet Ptolemeus atau
sumber-sumber arab dan latin yang ada. Menurut Fraser "Pertama dimensi Ptolemeus dimulai
dengan perhitungan jari-jari bumi menggunakan metode Eratosthenes, dipadukan dengan
pengukuran jarak ke bulan yang diperoleh dari nilai paralaks setiap harinya." Berdasarkan
metode Eratosthenes kemudian Ptolemeus membentuk model alam semestanya sebagai berikut:
"Urutan benda-benda langit dari bumi adalah bulan, merkurius, venus, matahari, mars, jupiter,
saturnus, dan sekumpulan bintang-bintang yang tidak berubah (sphere of the fixed stars)." (CPH,
73) Dalam model alam semestanya Ptolomeus menunjukkan dimensi antara planet yang satu
dengan yang lain itu sama, dan jarak antara bintang-bintang dengan saturnus y.i. "20, 000 jari-jari
bumi. (bintang terdekat dengan bumi saat ini diketahui berada di jarak lebih dari 6,000,000,000
jari-jari bumi)."

Hipotesis Ptolomeus tentang dimensi planet-planet yang sama akan dipatahkan oleh
Copernicus. Menurut Fraser, "Lahirnya sistem Copernican mengakibatkan perombakan total
terhadap dimensi planet yang sejak saat itu dimensi dari seluruh sistem ini ditentukan oleh
geometri di mana jarak dari bumi ke matahari disajikan." Sistem yang diajukan oleh Copernicus
telah membawa kita kepada kenyataan baru bahwa dimensi tiap-tiap planet berbeda-beda.
Ukuran dimensi yang ada di dalam sistem Copernican relatif sama dengan perhitungan modern,
tetapi mengenai jarak absolut antara planet-planet Copernicus gagal. Fraser menunjukkan
kegagalan perhitungan sistem Copernican dalam jarak absolut antar planet sebagai berikut: "
jarak rata-rata dari matahari ke bumi dalam jari-jari bumi dihitung dengan sistem Copernicus
menjadi 1,142, tetapi dengan perbandingan yang sama nilai yang sebenarnya (dalam perhitungan
modern) adalah 23,466."

Pada dasarnya apa yang sesungguhnya ditemukan oleh Copernicus di dalam sistem
Copernicannya bukan hanya ukuran dimensi planet-planet ataupun jarak antara planet-planet,
tetapi yang lebih penting dari semua itu adalah astronomi Copernicus telah membuat "alam
semesta menjadi tempat yang luar biasa besar yang tak terbatas..." (CPH, 74). Pandangan
astronomi Copercinus yang melihat alam semesta yang sangat luas itu, telah membuat generasi
berikutnya mencari jarak sesungguhnya planet-planet. Usaha pencarian jarak sesungguhnya dari
planet-planet tersebut telah membuat para astronom melahirkan instrument-instrument baru
seperti teleskop, mikrometer, dan kuadran untuk mendapatkan jarak antara planet-planet yang
lebih akurat. Dengan menggunakan ketiga instrument tersebut para astronom menemukan sebuah
kenyataan y.i. "diameter planet tentu jauh lebih kecil dari pada pandangan tradisional yang
mengklaim bahwa planet berada di jarak yang jauh lebih besar." (CPH, 74) Diameter planet yang
jauh lebih kecil memberi asumsi bahwa perhitungan tradisional mengenai jarak antara planet-
planet kurang akurat.

Pada bagian sebelumnya kita telah melihat bagaimana cara pandang alam semesta yang
berubah dari alam semesta yang terbatas menjadi alam semesta yang tidak terbatas. Perubahan
cara pandang alam semesta ini telah membuat para astronom mencari jarak absolut antara planet-
planet di dalam sistem matahari. Pencarian jarak tersebut telah menciptakan tiga instrument yang
akan mempengaruhi perkembangan astronomi ke depan. Misalnya saja penemuan teleskop yang
memberi jalan baru untuk mengamati alam semesta yang jauh lebih baik dari pada mata
telanjang, sehingga kita dapat melihat lebih rinci pergerakan planet-planet yang ada ataupun
bintang-bintang yang tidak terjangkau oleh mata telanjang.

Penemuan teleskop tidak hanya memindahkan fokus pengamatan dari alam semesta yang
terbatas kepada alam semesta yang tidak terbatas. Kehadiran teleskop sebagai instrument yang
sangat penting dalam astronomi pada akhirnya membawa astronomi ke dunia yang baru. Sebuah
dunia yang tidak hanya berpusat kepada planet-planet yang ada di alam semesta khususnya di
dalam sistem matahari, tetapi juga kepada cara pandang baru tentang bintang-bintang. Cara
pandang baru tentang bintang-bintang di dalam astronomi dapat kita lihat dari perubahan
pemaknaan bintang di dalam sejarah.

Menurut Fraser, "Sejak dahulu kala sampai abad ke-16 masehi bintang-bintang
dimengerti sebagai sesuatu yang tetap/tidak berubah (fixed)...Tidak seperti planet-planet, bintang
merupakan subjek yang tak memiliki gerak revolusi (respect) antara yang satu dengan yang
lain." (CPH, 75) Dalam pandangan jaman ini kita dapat melihat bahwa bintang merupakan
sesuatu yang berada di luar sistem tata surya, karena tidak seperti planet-planet yang melakukan
gerak revolusi antara yang satu sama lain, maka bintang merupakan sesuatu yang tidak bergerak
karena tidak melakukan gerak revolusi antara yang satu dengan yang lain.
Namun, pada abad yang sama tepatnya setelah tersebarnya "Copernicus's Revolution"
bintang-bintang mulai dilihat dengan cara berbeda. Pada abad tersebut bintang merupakan "objek
bercahaya yang tersebar di alam semesta. Sebuah objek yang mirip seperti matahari hanya saja
letaknya lebih jauh dari matahari." (CPH, 76) Dalam pandangan di jaman ini bintang masih tetap
dianggap sebagai sesuatu yang tidak bergerak atau tidak memiliki gerak revolusi dan terpisah
dari sistem tata surya. Perbedaan dari jaman sebelumnya adalah pengakuan bahwa bintang
merupakan sesuatu yang mirip seperti matahari dan bintang-bintang memiliki konstelasi
standardnya masing-masing.

Pengakuan bintang sebagai sesuatu yang mirip seperti matahari menjadi sangat penting
untuk perkembangan astronomi di abad selanjutnya (Abad ke-18). Pada awal abad ke-18 seorang
astronom Inggris yang bernama Edmund Halley (1656-1742) menyatakan, "...jika pada
kenyataanya bintang merupakan sesuatu (objects) yang mirip dengan matahari, maka bintang-
bintang seharusnya memiliki gerak revolusi di dalam sistem tata surya (solar system) seperti
matahari dan planet-planet yang bergerak dalam revolusi antara yang satu dengan yang lain."
(CPH, 76) Dalam pandangan jaman ini kita dapat melihat perubahan drastis pemaknaan bintang-
bintang yang sebelumnya hanya sebuah objek yang tidak bergerak menjadi objek yang memiliki
gerak.

Menurut Fraser untuk membuktikan hipotesisnya tetang bintang-bintang, maka "Halley


mulai berkonsentrasi kepada tiga bintang yang paling besar y.i. Arcturus, Sirius, dan Aldebaran."
(CPH, 76) Halley mencoba melihat posisi ketiganya pada saat itu dan mulai membandingkannya
dengan catatan-catatan kuno tentang posisi ketiganya. Berdasarkan perbandingan dari catatan-
catatan kuno dengan posisi ketiga bintang pada tahun 1718 ditemukan bahwa posisi ketiganya
telah berubah. Untuk Fraser penelitian yang dilakukan oleh Halley merupakan, "pengamatan
bintang yang memiliki gerak revolusi terhadap sistem matahari yang disebut gerak yang
seharusnya (proper motion)" (CPH, 76) Berdasarkan "gerak yang seharusnya" yang
dikembangkan oleh Halley, kita mulai melihat perubahan fokus pengamatan dari planet-planet
kepada bintang-bintang.
Halley telah membawa astronomi kepada tingkat yang berbeda dari sebelumnya. Terlebih
lagi penemuan Halley tentang "gerak yang seharusnya" di masa mendatang akan menjadi "dasar
dari metode yang disebut statistika paralaks berdasarkan jarak antara bintang-bintang (statistical
parallax for determining distances to stars)." (CPH, 76) Dari sini kita dapat melihat tanda-tanda
dari kelahiran astronomi yang mengkaji bintang-bintang (Stellar Astronomy). Sebuah pertanda
yang menunjukkan semakin banyaknya cabang-cabang astronomi yang mana sebelumnya hanya
mengamati alam semesta yang tetap, secara perlahan-lahan mulai berubah kepada alam semesta
yang tak terbatas sampai kepada pengamatan atas bintang-bintang yang lebih mendalam.

Pada bahagian sebelumnya kita sudah melihat metode yang sistematik di dalam
astronomi yang mengkaji tentang bintang-bintang mulai diperkenalkan oleh Herschel. Dari
tangan Herschel kajian tentang bintang-bintang mulai diperhitungkan di dalam astronomi. Cita-
cita Herschel yang ingin menemukan jarak yang sesungguhnya bintang-bintang menjadi bagian
penting dalam perkembangan astronomi di abad ke-19.

Menurut Fraser, pada abad ke-19 terdapat "...asumsi yang menyatakan bahwa semua
bintang memiliki tingkat kecerahan yang sama seperti matahari terbukti salah...Jarak yang akurat
hanya mungkin dicapai dengan metode trigonometri paralaks tahunan." Runtuhnya asumsi
tentang kecerahan bintang-bintang yang sama dengan matahari dan munculnya metode
trigonometri telah menghasilkan instrument baru dalam astronomi y.i. teleskop refraktor. Alasan
teleskop tersebut bernama teleskop refraktor karena "instrument tersebut pertama kali digunakan
untuk mengukur diameter matahari."

Penggunaan metode trigonometri paralaks tahunan dapat kita lihat dari Fried Bessel yang
meneliti bintang Cygni 61 selama delapan belas bulan. Menurut Fraser, alasan Bessel memilih
bintang Cygni 61 karena "...gerak bintang tersebut mengindikasikan bahwa ia terletak cukup
dekat dengan matahari." Hasil dari penelitian Bessel menyimpulkan bahwa "...nilai dari paralaks
bintang tersebut kurang lebih 0.314 detik per arc yang mengindikasikan bahwa bintang tersebut
berjarak 10.3 tahun cahaya (observasi lanjutan mengindikasikan kenaikan dari angka ini menjadi
11.2 tahun cahaya)." (CPH, 82) Dari sini kita dapat melihat metode trigonometri paralaks
tahunan memiliki keakuratan dalam perhitungan yang lebih baik untuk mengukur jarak bintang
dibandingkan metode-metode yang sudah ada sebelumnya.
Namun, metode paralaks tahunan sendiri memiliki kelemahan y.i. "metode paralaks
tahunan hanya dapat memberikan hasil perhitungan untuk jarak bintang-bintang yang cukup
dekat dengan matahari, atau sampai dengan 50 tahun cahaya saja." (CPH, 82) Meskipun
demikian kita tidak dapat memungkiri bahwa metode paralaks tahunan menjadi dasar yang kuat
untuk perhitungan jarak bintang di masa mendatang.

Dalam paruh kedua abad ke-19, ilmu fisika berkembang amat subur sekali, sehingga ilmu
ini mulai mempengaruhi pekerjaan di bidang lainnya termasuk astronomi. Fraser menunjukan
salah satu contoh pengaruh fisika terhadap astronomi y.i. Gustav Robert Kirchhoff (1824-1887)
dan Robert Bunsen (1811-1899) yang terlibat dengan spektroskopi yang kemudian menciptakan
teori instrumen spektroskopi Bunsen-Kirchhof. Instrumen spektoskopi merupakan instrument
penting untuk menganalisa unsur-unsur kimia yang ada dan penemuan unsur-unsur baru di
bumi.

Penemuan spektroskopi Bunsen-Kirchof membuat seorang astronom Inggris bernama


William Huggins (1824-1910) melakukan revolusi terhadap astronomi. Dia merevolusi
astronomi observasional dengan menerapkan metode spektroskopi untuk penentuan kandungan
kimia dari bintang-bintang dan benda-benda langit lainnya di tahun 1860-an. Menurut Fraser,
"Huggins berhasil menunjukkan element-element yang berbeda-beda muncul dari bintang-
bintang yang berbeda-beda dan ada element-element yang sama di bintang-bintang terdapat di
bumi."

Apa yang kita lihat dari penemuan Huggins menjelaskan kebutuhan astronomi terhadap
ilmu-ilmu yang lain untuk menemukan jawaban atas gejalan-gejalan yang ditemukan di alam
semesta ini. Kebutuhan ini memperlihatkan kepada kita semakin spesifiknya objeknya, maka
semakin banyak ilmu-ilmu yang dibutuhkan untuk menjelaskan objek tersebut. Dari sini
astronomi telah masuk ke dunia baru yang bukan hanya mengenal alam semesta sebagai objek
kajian miliknya sendiri. Astronomi telah berubah menjadi sebuah lahan tambang yang harus
digarap bersama-sama dengan ilmu-ilmu lainnya