Anda di halaman 1dari 16

DESAIN HIGH PERFORMANCE BUILDING

PADA PERANCANGAN ARSITEKTUR

Disusun oleh

George J Triatmo
13021102087

Dibimbing oleh

Chintya Wuisang, ST M.UrbHarbMgt, PhD

ABSTRAK

Manusia memiliki kebutuhan kebutuhan yang harus di penuhi dalam


kehidupannya. Salah satu kebutuhan manusia yang paling utama adalah kebutuhan
akan tempat tinggal atau bangunan yang dapat mewadahi aktifitas manusia. Seiring
berjalannya waktu, perkembangan teknologi menjadi semakin maju dan jumlah
manusia semakin meningkat. Semakin banyak jumlah manusia, semakin banyak
kebutuhan akan bangunan dan mengakibatkan timbulnya permasalahan,
Permasalahan lingkungan khususnya pemanasan global menjadi topik permasalahan
yang mencuat akhir-akhir ini.
Dalam dunia arsitektur muncul fenomena sick building syndrome yaitu
permasalahan kesehatan dan ketidak nyamanan karena kualitas udara dan polusi
udara dalam bangunan yang ditempati yang mempengaruhi produktivitas penghuni,
adanya ventilasi udara yang buruk, dan pencahayaan alami kurang.
Untuk mencegah dan mengatasi masalah tersebut, Arsitektur dapat berperan
sangat penting sebagai media solusi dari permasalahan lingkungan dan alam akibat
pembangunan bangunan dan penggunaan energy dalam bangunan. HPB (High
Performance Building) merupakan respon dari permasalahan yang timbul karena HPB
menggunakan konsep yang meminimalisasi penggunaan energi dengan
memanfaatkan energi dari alam ( Energy of Nature ) dan dipadukan dengan teknologi
tinggi ( High Technology Performance ) serta keselarasan bentuk dan orientasi
bangunan terhadap alam.
Kata kunci : High performance building, bangunan hemat energi, energi, alam.

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Permasalahan lingkungan khususnya pemanasan global menjadi topik
permasalahan yang mencuat akhir-akhir ini. Dalam dunia arsitektur muncul fenomena
sick building syndrome yaitu permasalahan kesehatan dan ketidak nyamanan karena
kualitas udara dan polusi udara dalam bangunan yang ditempati yang mempengaruhi
produktivitas penghuni, adanya ventilasi udara yang buruk, dan pencahayaan alami
kurang.
Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, misalnya: emisi ozon mesin fotocopy,
polusi dari perabot dan panel kayu, asap rokok,dan sebagainya. Menurut World Health
Organisation (WHO), 30% bangunan gedung di dunia mengalami masalah kualitas
udara dalam ruangan. Untuk itu muncul adanya konsep High Performance Building
yaitu pendekatan perencanaan arsitektur yang berusaha meminimalisasi berbagai
pengaruh membahayakan pada kesehatan manusia dan lingkungan.
Konsep High Performance Building adalah perencanaan arsitektur yang
berusaha meminimalisasi penggunaan energi dengan memanfaatkan energi dari alam
( Energy of Nature ) dan dipadukan dengan teknologi tinggi ( High Technology
Performance ). Konsep High Performance Building memberi kontribusi pada masalah
lingkungan khususnya pemanasan global. Apalagi bangunan adalah penghasil
terbesar lebih dari 30% emisi global karbon dioksida sebagai salah satu penyebab
pemanasan global. Kerusakan alam akibat eksploitasi sumber daya alam telah
mencapai taraf pengrusakan secara global, sehingga lambat tetapi pasti, bumi akan
semakin kehilangan potensinya untuk mendukung kehidupan manusia, akibat dari
berbagai macam eksploitasi sumber daya alam tersebut.

2
1.2 Tujuan
Tujuan dari penulisan adalah untuk membahas tentang salah satu desain dalam
arsitektur, yaitu high performance building. Dimana high performance building memiliki
peran penting dalam perancangan arsitektur yang hemat energi dan bewawasan
lingkungan yang memiliki dampak positif terhadap pembangunan yang
mempertahankan dan menjaga lingkungan sekitarnya.
Studi literatur penulisan ini ditujukan untuk memahami pertimbangan-
pertimbangan apa sajakah yang dimaksud dengan high performance building dalam
dunia arsitektur, sehingga dapat membangun bangunan yang hemat energi dengan
memanfaatkan energi alami yang dipadukan dengan teknologi tinggi tanpa merusak
ekosistem lingkungan.

3
BAB II
PEMBAHASAN
1.3 High Performance Building
Pengertian High Performance Building bila di artikan dalam bahasa indonesia
terbagi menjadi 3 yaitu :
High = Tinggi.
Performance = Performa,Kinerja.
Building = Bangunan,Gedung.

Dari pengertian di atas High Performance Building dapat diartikan Bangunan


dengan Performa Tinggi, yang di maksudkan dengan performa atau kinerja tinggi itu
sendiri adalah dengan meminimaliskan penggunaan energi dengan memanfaatkan
energi yang berasal dari alam (Energy of nature) dan dengan dipadukan dengan
teknologi tinggi (High technology performance) dengan kata lain desain High
Performance Building yang dimaksudkan adalah Desain bangunan yang Hemat Energi
atau Desain bangunan dengan performa tinggi berarti bangunan yang
mengintegrasikan dan mengoptimalkan semua atribut bangunan berkinerja tinggi,
termasuk efisiensi energi, daya tahan, kinerja siklus hidup, dan produktivitas
penghunian.

Pada prinsipnya High Performance Building atau bangunan hemat energi


mempunyai tujuan yang sangat baik dan ramah bagi lingkungan dan pada desain high
performance building sendiri memiliki prinsip dasar yaitu, sebagai berikut :

Bentuk &
orientasi
bangunan
selaras
dengan alam

HIGH Aspek
PERFORMANCE lingkungan
BUILDING eksternal

Perhitungan
OTTV

Double
Penggunaan skin/
solar panel Building Envelope
management 4
system
Penggunaan panel surya (Solar cell) yang berfungsi untuk memanfaatkan
energi panas matahari sebagai sumber atau penambah pembangkit tenaga
listrik pada bangunan,contoh pengaplikasinya pada bangunan :

Gambar 1. Tokyo institute of technology building


Sumber : http://www.titech.ac.jp/english/research/stories/eei_building.html

Gambar 2. Panel Surya (Solar Panel) / Solar Cell / Photovoltaic (PV)


Sumber : https://www.wbdg.org/images/photovoltaics_1.jpg

Output Power 20 50 80 80 120


Cell Type Multi Multi Amorphous Multi Multi
Max Power (W) 20 50 88 85 120
Min Power (W) 76 76 114
Open Circuit Voltage (Voc) 21.6 21.6 63.3 21.6 21.3
Short Circuit Curent (Isc) 1.3 2.98 2.08 5.15 7.81
Max Power Voltage (Vpm) 17.2 17.6 47.6 17.3 17.1
5
Max Power Current (Ipm) 1.17 2.85 1.68 4.63 7.02
Max System Voltage (V) 600 600 540
Dimension L x W x H (mm) 639 x 835 x 1129 x 934 1214 x 1499 x
294 x 540 x x 46 545 x 662 x
23 28 35 46
Module Efficiency 7.6 14.1 13.1
Weight (Kg) 2.4 5.5 17 9 15
Spesifikasi teknis Panel Surya (Solar Panel) / Solar Cell / Photovoltaic (PV)

Penggunaan Double skin/ Selubung Bangunan yang di pasang di luar


bangunan yang memiliki rongga udara untuk mengalirkan udara didalamnya
sehingga menjaga kenyamanan termal didalam ruangan. Juga sebagai shading
pada bangunan, sehingga cahaya yang masuk bukanlah cahaya matahari
langsung melainkan bayangan dari cahaya itu sendiri yang menjadikan ruangan
memiliki cahaya alami yang cukup namun tidak silau.

Gambar 3. Double skin pada gedung


Sumber : http://smartbuildings.unh.edu/wp-content/uploads/2013/10/double-skin-
facade-1170x500.jpg

Pemakaian Bahan Selubung Bangunan (Envelope) : Selubung bangunan


(dinding luar) mencakup antara lain seluruh permukaan bangunan yang
berhubungan langsung dengan lingkungan eksternal, antara lain : dinding
(masif atau transparant), atap dan lantai. Namun, perpindahan panas (heat
transfer) secara signifikan terjadi hanya melalui permukaan-permukaan dinding
dan atap, sehingga perencanaan (konstruksi) yang dilakukan pada permukaan
6
tersebut perlu mendapat perhatian serius agar tujuan penghematan dapat
tercapai. Magnitude perpindahan panas suatu permukaan tergantung
kepada thermal conductivity dari gabungan bahan bangunan yang membentuk
permukaan tersebut dan perbedaan temperatur luar dan dalam yang terjadi.
Untuk suatu bahan bangunan, besarnya penerusan panas tergantung terhadap
faktor konduktivitas bahan bangunan tersebut (U-value).
Bentuk dan orientasi bangunan didasarkan pada selaras dengan alam
sekitarnya,kebutuhan penghuni dan iklim,tidak mengarah pada bentuk
bangunan atau style tertentu. Sehingga dapat memanfaatkan energi alami
dari alam seperti angin maupun sinar matahari untuk pencahayaan alami di
dalam ruangan.

Gambar 4. Bentuk dan orientasi bangunan


http://belajardesaindanarsitektur.blogspot.co.id/2012/07/pendekatan-ekologi-dalam-
perancangan.html

Aspek Lingkungan Eksternal di Luar Bangunan,Aspek lingkungan eksternal


utama yang sangat berperan di dalam menentukan tingkat kenyamanan dan
selanjutnya menentukan tingkat kehematan energi adalah Iklim yang mencakup
antara lain:
o panas radiasi matahari (diffuse atau direct) ambient
o temperaturkelembaban curah hujan (prespitasi)
o kecepatan angin (arah dan kekuatan)
o kemurnian udara (air quality)
Aspek lingkungan external lainnya yang ikut menentukan antara lain:
1. topografi.
2. hewan.
3. vegetasi (landscape).
7
Perhitungan OTTV ,OTTV atau overall thermal transfer value suatu permukaan
fasade adalah suatu metode perhitungan yang dilakukan untuk menentukan
secara teoritis besarnya beban panas yang akan masuk melalui suatu
konstruksi permukaan bangunan (dinding dan atap) pada bangunan yang
menggunakan peralatan pendingin (AC). Perhitungan OTTV oleh sementara
ahli bangunan dan pemerintah beberapa negara di ASEAN (Singapore,
Malaysia, Thailand) dianggap cukup baik untuk mengontrol dan memprediksi
besarnya beban panas yang akan terjadi.
Sebagai contoh OTTV untuk bangunan hemat energi bagi beberapa negara
tersebut diatas pernah disepakati bersama sebesar 45W/m 2 bangunan, namun
pada tahun 2001, diturunkan lagi menjadi 30 - 35W/m2 karena perkembangan
teknologi bahan bangunan seperti bahan dinding dan kaca pada bangunan
bukaan (fenestration) dan pemakaian teritisan {shading device) secara baik
dan benar. Suatu perkembangan yang menarik adalah meningkatnya
kesadaran bersama antara pemilik dan pemakai (pengelolah) gedung,
pemerintah dan arsitek terhadap penghijauan lingkungan dan perkotaan pada
negara-negara tersebut di atas.

Gambar 5. Contoh perhitungan OTTV


Sumber : https://greenzains.files.wordpress.com/2016/07/summary-ottv-
rscm.jpg?w=640

8
Konsep seperti menghijaukan kembali setiap permukaan dengan tanaman
hidup seperti pada setia pengerasan (hard surface) atau pada dak beton
dengan suatu taman tap (roof top garden), secara tidak langsung mengurangi
perbedaan temperatur lingkungan secara signifikan, dan selanjutnya
menurunkan perbedaan temperatur eksternal dengan temperatur internal
bangunan. Suatu penelitian yang dilakukan di Singapura menunjukkan
permukaan dak beton yang ditanam dengan tanaman rumput dan perpohonon
rendah mengurangi reduksi panas permukaan sebesar 25 C - 33C. Dan
temperatur lingkungan pun turun antara 1C - 2C.
Effek perbedaan temperatur lingkungan akan menyebabkan perbedaan
tekanan udara yang menyebabkan pergerakan udara (angin). Angin yang
bergerak akan memnerikan efek penyegaran dan juga secara langsung
mengurangi temperatur permukaan (dinding) bangunan yang dilaluinya atau
mengurangi heat transfer permukaan dinding pada bangunan. Sehingga efek
tidak langsung di atas secara langsung mengurangi beban panas yang masuk
ke bangunan dan dapat mencapai sekitar 30% dari situasi sebelumnya.

Aspek Pengoperasian Peralatan Mekanis: AC Peralatan mekanis seperti unit


AC banyak digunakan sebagai penyelesaian desain secara aktif, karena
metodologi desain secara pasif sudah tidak memungkinkan lagi karena
konstrain tertentu. Fungsi utama unit AC adalah pengkondisian udara yaitu
menjaga kondisi ruang agar tetap nyaman dalam batas-batas sebagai berikut:
o temperatur (22C - 23C)
o kelembaban (60%)
o kemurnian (filter) udara (bebas pollutant),
o menghilangkan bau
o pertukaran udara: unfresh indoor air dengan fresh outdoor air.

Terjadinya efek pergerakan udara dengan suatu kecepatan rendah


(dibawah 0.5 m/s).Penggunaan unit AC sebagai peralatan mekanis gedung
yang menurut pengukuran adalah pemakai energi listrik terbesar (40% - 60%)
sudah menunjukan suatu kecenderungan dan kemapanan. Sehingga,
keyakinannya adalah bahwa pemakaian AC adalah suatu hal yang mutlak dan
tidak dapat terhindarkan. Oleh karena itu, penghematan dari aspek berikut
menjadi sangat tergantung kepada tingkat efisiensi atau performance
9
system peralatan tersebut secara utuh (set) didalam memberikan pelayanan
dan menjalankan fungsinya.

Tingkat efisiensi dari pengoperasian sistem AC ditentukan antara lain oleh


nilai COP (coefficient of performance) atau nilai EER (energy efficient
ratio). Semakin tinggi nilai COP atau EER, maka semakin tinggi tingkat
effisiensi atau hemat energi suatu sistem AC beroperasi. penggunaan sistem
pendingin air akan membutuhkan kesediaan air bersih serta ruang pengolahan
air yang cukup besar dibandingkan dengan pendingin udara yang cukup
diletakkan pada daerah terbuka saja (umumnyadi rooftop).

Pemakaian peralatan mekanis lainnya yang cukup signifikan untuk ditinjau


segi hemat energi-nya adalah sistem penerangan ( 20%) dan pemakaian unit-
unit beban dalam jumlah besar seperti komputer, printer, mesin fotocopy dan
pemanas lainnya yang terdapat di dalam gedung, bisa menjadi pemakai energi
listrik signifikan di dalam bangunan dan perlu diatur management
pengoperasiannya. Selama ini, perkembangan menunjukkan prosentase
pemakaian energi dan penghematan yang dimungkinkan oleh peralatan
tersebut umumnya jauh lebih kecil dari pada sistem pendingin AC.

Gambar 6. building management system


Sumber : https://visual.ly/how-new-hospitals-can-use-60-less-energy

10
o Penerapan Sistem Automasi Gedung Untuk mengoptimalkan sistem
pengoperasian dan distribusi pemakaian energi seluruh peralatan
mekanis (M&E) yang terdapat di dalam gedung seperti:sistem HVAC.
o sistem penerangan.
o sistem transportasi vertikal/ horisontal (lift dan escalator).
o sistem plumbing (air bersih/ kotor dan kotoran).
o distribusi beban listrik, dan lain lain.

secara tepat dan efisien agar penghematan energi dan sinergi


tercapai,maka pemilihan sistem operasi yang terintergrasi secara utuh (total)
menjadi suatu pilihan yang tepat. Suatu sistem operasi gedung yang
terintegrasi dalam satu sistem manajemen pengendalian terpadu dikenal
dengan sistem BMS gedung (building management system).
Tujuan dari sistem manajemen adalah meningkatkan efisiensi
pemakaian beban dan menghilangkan pemakaian energi yang sia-sia
(idle).Agar pengoperasian seluruh sistem M&E dapat berjalan secara automatic
(mandiri) maka pada sistem bangunan dikembangkan suatu sistem
BAS (building automation system), karena dengan sistem manual tidak akan
mencapai suatu kondisi optimum, misalnya pengaturan temperatur dan
penerangan interior dengan sensor sesuai dengan perubahan dinamis beban
panas dan kuat penerangan yang disyaratkan sehingga dapat menghidup-
matikan penerangan secara automatis, dan Iain-lain.
Sistem BAS juga dilengkapi dengan suatu sistem monitoring (kontrol)
terintegrasi dengan schedulle maintenance, sehingga waktu servis dapat
ditentukan sesuai dengan kondisi performance peralatan mekanis yang
dioperasikan. Penerapan sistem BMS dan BAS selanjutnya banyak dibahas
sebagai bagian dari sistem bangunan pintar atau intelligent building systems.

11
1.4 Studi kasus
1. Unilever headquarter, Germany
Arsitek : Behnisch Architekten
Lokasi : Hamburg, German
Luas : 38000.0 meter persegi
Proyek : Tahun 2009
Foto : Adam Mrk

Gambar 7. Unilever headquarter, Germany


Sumber http://farm8.staticflickr.com/7168/6564851801_48c769feda_b.jpg
Unilever headquarter, Germany adalah perusahaan multinasional yang
berkantor pusat di Rotterdam, Belanda (dengan nama Unilever N.V.)
dan London, Inggris (dengan nama Unilever plc.) . Unilever memproduksi makanan,
minuman, pembersih, dan juga perawatan tubuh. Unilever adalah produsen barang
rumah tangga terbesar ketiga di dunia, jika didasarkan pada besarnya pendapatan
pada tahun 2012, di belakang P&G dan Nestl. Unilever juga merupakan produsen
olesan makanan (seperti margarin) terbesar di dunia. Unilever adalah salah satu
perusahaan paling tua di dunia yang masih beroperasi, dan saat ini menjual produknya
ke lebih dari 190 negara.

Mengikuti beberapa prinsip dasar High Performance Building. Yang


menerapkan beberapa teknologi yang membantu menghemat energi dalam
bangunan, pada area kantor sendiri didinginkan dengan menggunakan langit-langit
beton bertulang termal sehingga dapat mengurangi pemakaian pendingin ruangan
atau AC.
12
Gambar 8. Unilever headquarter, Germany
Sumber : http://www.archdaily.com/41761/unilever-headquarters-behnisch-
architekten

13
Gambar 9. Unilever headquarter, Germany
Sumber : http://www.archdaily.com/41761/unilever-headquarters-behnisch-
architekten

Pada fasad bangunan juga memakai Ethylene Tetra Fluoro Ethylene (ETFE). Ethylene
Tetra Fluoro Ethylene adalah polimer bening yang diekstrusi menjadi film tipis (atau
foil) yang digunakan untuk membentuk lembaran lapisan tunggal atau bantalan
berlapis banyak. film lapis tunggal yang ditempatkan di depan kaca isolasi bangunan
berguna untuk melindungi sinar matahari langsung pada siang hari dan dari angin laut
yang kencang dan pengaruh cuaca lainnya.
Bangunan ini juga menerapkan atap sklight terutama pada bagian atrium agar
memungkinkan cahaya matahari dapat masuk dan memberikan cahaya alami kedalam
bangunan, dan juga sebagian atapnya adalah greenroof yang memberiakan efek
nature pada bangunan. Konsumsi energi utama bangunan selama beroperasi akan
berada di bawah 100 kWh / a sqm termasuk energi yang digunakan dalam pemanasan,
pendinginan dan pencahayaan. Sistem SMD-LED (surface-mount device light-emitting
diode module) yang baru dikembangkan dan telah digunakan, baik untuk penerangan
umum bangunan maupun pencahayaan di tempat kerja. Sistem ini sampai 70% lebih
efisien daripada pencahayaan halogen atau metal halide konvensional.

14
BAB III
PENUTUP
1.5 Kesimpulan

Realisasi dan keberhasilan dari keinginan di atas sangat tergantung kepada


kerjasama semua pihak yang terlibat, pengetahuan akan metoda penghematan energi
yang diaplikasikan dan batas-batas penghematan yang realitis tanpa mengorbankan
batas kenyamanan yang telah di tentukan. Arsitek memiliki peran yang sangat penting
terhadap lingkungan karena bangunan bangunan arsitektural yang dirancang dan
dibuat oleh arsitek memerlukan energi baik dalam pembuatan maupun
penggunaannya.

Energi yang biasa digunakan adalah energi tak terbarukan (unrenewable


energy) yang dapat habis suatu hari nanti dan penggunaanya dapat menimbulkan efek
negatif terhadap lingkungan dan alam. HPB(High Performance Building) merupakan
respon dari permasalahan lingkungan yang terjadi dan disebabkan oleh bidang
arsitektur. Bentuk dan material merupakan bagian yang paling penting dalam
bangunan. Dengan merancang bentukan secara vertikal dan dapat memanfaatkan
alam serta menggunakan material material yang yang dapat memanfaatkan alam
dan merubahnya menjadi energi (renewable energy) pada bangunan, arsitek dapat
mengoptimalkan penggunaan energi tak terbarukan serta mencegah permasalahan
keterbatasan lahan pembangunan, keterbatasan sumber energi tak terbarukan, dan
permasalahan lingkungan dan alam dalam hal ini efek rumah kaca.

15
DAFTAR PUSTAKA

Atkin, Brian (1988), Intelligent Buildings - Application of IT Automation to


High Technology Construction Projects, New York , John Willey & Sons
Harjanto, John Budi

High Performance Building by Vidar Lerum

High Performance Building Guidelines


City of new york
Departement of design
and construction
april 1999

Priatman, Ir. Jimmy, M Arch. Konsep Green Building dan Green Architecture.
Pimpinan Center for Building Energy Study Universitas Petra.

American Society of Heating, Refrigerating and Air Conditioning Engineers,


Atlanta, ASHRAE Handbook Fundamentals SI edition, 1993

Konservasi Energy Pada Bangunan Modern, Universitas


Katolik Atmajaya Jaya, Jakarta, 2002

Green Arsitektur , Jembatan , Langgam , Teori Arsitektur.

http://arch07.blogspot.com/2009/11/green-architecture.html

http://yudha-arch.blogspot.com

http://iconarchitecture.weebly.com/

https://en.wikipedia.org/wiki/Double-skin_facade

https://id.pinterest.com/pin/414823815647280244/

16