Anda di halaman 1dari 20

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Rumah Sakit
II.1.1 Pengertian Rumah Sakit
Definisi rumah sakit menurut Keputusan Menteri Republik Indonesia
nomor 983.MENKES/SK/1992 mengenai pedoman rumah sakit umum
dinyatakan bahwa: Rumah Sakit Umum adalah rumah sakit yang
memberikan pelayanan kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan
pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.58 Tahun 2014 pasal 1
tentang rumah sakit, rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan
yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara
paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan
gawat darurat.
Rumah sakit adalah salah satu sarana kesehatan tempat
menyelenggarakan upaya kesehatan dengan memberdayakan berbagai
kesatuan personel terlatih dan terdidik dalam menghadapi dan menangani
masalah medik untuk pemulihan dan pemeliharaan kesehatan yang baik.
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan yang bertujuan untuk mewujudkan derajat
kesehatan yang optimal bagi masyarakat dan tempat yang digunakan
untuk menyelenggarakannya disebut sarana kesehatan. Sarana kesehatan
berfungsi melakukan upaya kesehatan dasar, kesehatan rujukan dan atau
upaya kesehatan penunjang. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan
pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan
penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan
kesehatan (rehabilitatif) yang diselenggarakan secara menyeluruh,
terpadu dan berkesinambungan (Siregar, 2004).
II.1.2 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit, rumah sakit mempunyai tugas memberikan pelayanan
kesehatan perorangan secara paripurna.
Pada umumnya tugas rumah sakit adalah menyediakan keperluan
untuk pemeliharaan dan pemulihan kesehatan. Menurut Keputusan
Menteri Kesehatan RI No.983/Menkes/SK/XI/1992, tugas rumah sakit
umum adalah melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan
berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan
pemeliharaan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya
peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan rujukan (Siregar, 2004).
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 44 tahun 2009 Bab III pasal
5 tentang Rumah Sakit, rumah sakit mempunyai beberapa fungsi yaitu:
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan
sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit. Pelayanan penderita
yang langsung di rumah sakit terdiri atas pelayanan medis,
pelayanan farmasi, dan pelayanan keperawatan. Pelayanan penderita
melibatkan pemeriksaan dan diagnosa, pengobatan penyakit atau
luka, pencegahan, rehabilitasi, perawatan dan pemulihan kesehatan.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui
pelayanan kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai
kebutuhan medis. Tujuan utama dari fungsi rumah sakit sebagai
sarana kesehatan masyarakat adalah membantu komunitas dalam
mengurangi timbulnya kesakitan dan meningkatkan kesehatan umum
penduduk. Apoteker rumah sakit mempunyai peluang memberi
kontribusi pada fungsi ini dengan mengadakan brosur informasi
kesehatan, pelayanan pada penderita rawat jalan dengan memberi
konseling tentang penggunaan obat yang aman dan tindakan
pencegahan keracunan.
c. Penyelanggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia
dalam rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan
kesehatan.
d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan
teknologi bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan
kesehatan dengan memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang
kesehatan.
II.1.3 Klasifikasi dan Struktur Organisasi Rumah Sakit
II.1.3.1 Klasifikasi Rumah Sakit
Rumah sakit dapat diklasifikasikan berdasarkan berbagai kriteria
sebagai berikut:
a. Klasifikasi berdasarkan Kepemilikan
Klasifikasi berdasarkan kepemilikan terdiri atas Rumah Sakit
pemerintah; terdiri dari: Rumah Sakit yang langsung dikelola oleh
Departemen Kesehatan, Rumah Sakit pemerintah daerah, Rumah
Sakit militer, Rumah Sakit BUMN, dan Rumah Sakit swasta yang
dikelola oleh masyarakat.
b. Klasifikasi berdasarkan Jenis pelayanan
Klasifikasi berdasarkan jenis pelayanannya, rumah sakit terdiri
atas: Rumah Sakit Umum, memberi pelayanan kepada pasien dengan
beragam jenis penyakit dan Rumah Sakit Khusus, memberi
pelayanan pengobatan khusus untuk pasien dengan kondisi medik
tertentu baik bedah maupun non bedah. Contoh: rumah sakit kanker,
rumah sakit bersalin.
c. Klasifikasi berdasarkan Lama tinggal
Berdasarkan lama tinggal, rumah sakit terdiri atas rumah sakit
perawatan jangka pendek yang merawat penderita kurang dari 30
hari dan rumah sakit perawatan jangka panjang yang merawat
penderita dalam waktu rata-rata 30 hari atau lebih.
d. Klasifikasi berdasarkan Kapasitas tempat tidur
Rumah sakit pada umumnya diklasifikasikan berdasarkan
kapasitas tempat tidurnya sesuai pola berikut ; di bawah 50 tempat
tidur, 50-99 tempat tidur, 100-199 tempat tidur, 200-299 tempat
tidur, 300-399 tempat tidur, 400-499 tempat tidur, 500 tempat tidur
atau lebih.
e. Klasifikasi berdasarkan Afiliasi pendidikan
Rumah sakit berdasarkan afilasi pendidikan terdiri atas 2 jenis,
yaitu: Rumah Sakit pendidikan, yaitu rumah sakit yang
menyelenggarakan program latihan untuk berbagai profesi dan
Rumah Sakit non pendidikan, yaitu rumah sakit yang tidak memiliki
hubungan kerjasama dengan universitas.
f. Klasifikasi berdasarkan status akreditasi
Berdasarkan status akreditasi terdiri atas rumah sakit yang telah
diakreditasi dan rumah sakit yang belum diakreditasi. Rumah sakit
telah diakreditasi adalah rumah sakit yang telah diakui secara formal
oleh suatu badan sertifikasi yang diakui, yang menyatakan bahwa
suatu rumah sakit telah memenuhi persyaratan untuk melakukan
kegiatan tertentu.
g. Klasifikasi Rumah Sakit Umum Pemerintah
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 340/MENKES/PER/III/2010 tentang Klasifikasi Rumah
Sakit pasal 4, berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan rumah
sakit. Rumah sakit umum diklasifikasikan menjadi:
1. Rumah sakit umum kelas A adalah rumah sakit yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 4
(empat) spesialis dasar, 5 (lima) spesialis penunjang medik, 12
(dua belas) spesialis lain dan 13 (tiga belas) sub spesialis.
2. Rumah sakit umum kelas B adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 4 (empat) spesialis dasar, 4 (empat) spesialis penunjang
medik, 8 (delapan) spesialis lain dan 2 (dua) subspesialis dasar
3. Rumah sakit umum kelas C adalah rumah sakit umum yang
mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling
sedikit 4 (empat) spesialis dasar dan 4 (empat) spesialis
penunjang medik
4. Rumah sakit umum kelas D adalah rumah sakit yang mempunyai
fasilitas dan kemampuan pelayanan medik paling sedikit 2 (dua)
spesialis dasar.
II.2 Struktur Organisasi Rumah Sakit
Struktur organisasi rumah sakit umumnya terdiri atas Badan
Pengurus Yayasan, Dewan Pembina, Dewan Penyantun, Badan
Penasehat, dan Badan Penyelenggara. Badan Penyelenggara terdiri atas
direktur, wakil direktur, komite medik, satuan pengawas, dan berbagai
bagian dari instalasi. Wakil direktur pada umumnya terdiri atas wakil
direktur pelayanan medik, wakil direktur penunjang medik dan
keperawatan, serta wakil direktur keuangan dan administrasi. Staf Medik
Fungsional (SMF) berada di bawah koordinasi komite medik. SMF
terdiri atas dokter umum, dokter gigi, dan dokter spesialis dari semua
disiplin yang ada di suatu rumah sakit. Komite medik adalah wadah
nonstruktural yang keanggotaannya terdiri atas ketua-ketua SMF
(Siregar, 2004).
Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah suatu unit di suatu rumah sakit
yang dipimpin oleh seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa apoteker
yang memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan kompeten secara profesional dan merupakan tempat penyelenggaraan
yang bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan
kefarmasian yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri
(Siregar, 2004).
Menurut SK Menkes No. 1197/Menkes/SK/X/2004 fungsi Instalasi
Farmasi rumah sakit adalah sebagai tempat pengelolaan perbekalan
farmasi serta memberikan pelayanan kefarmasian dalam penggunaan
obat dan alat kesehatan
II.2 Tim Farmasi dan Terapi
II.3.1 Pengertian
Berdasarkan Menurut PerMenKes RI Nomor 58 tahun 2014 tentang
Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Dalam pengorganisasian
Rumah Sakit dibentuk Tim Farmasi dan Terapi (TFT) yang merupakan
unit kerja dalam memberikan rekomendasi kepada pimpinan Rumah
Sakit mengenai kebijakan penggunaan Obat di Rumah Sakit yang
anggotanya terdiri dari dokter yang mewakili semua spesialisasi yang ada
di Rumah Sakit, Apoteker Instalasi Farmasi, serta tenaga kesehatan
lainnya apabila diperlukan. TFT harus dapat membina hubungan kerja
dengan komite lain di dalam Rumah Sakit yang berhubungan/berkaitan
dengan penggunaan Obat.
Ketua TFT dapat diketuai oleh seorang dokter atau seorang
Apoteker, apabila diketuai oleh dokter maka sekretarisnya adalah
Apoteker, namun apabila diketuai oleh Apoteker, maka sekretarisnya
adalah dokter. TFT harus mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2
(dua) bulan sekali dan untuk Rumah Sakit besar rapat diadakan sekali
dalam satu bulan. Rapat TFT dapat mengundang pakar dari dalam
maupun dari luar Rumah Sakit yang dapat memberikan masukan bagi
pengelolaan TFT, memiliki pengetahuan khusus, keahlian-keahlian atau
pendapat tertentu yang bermanfaat bagi TFT.
II.3.2 Tujuan dibentuknya Panitia Farmasi dan Terapi
Tujuan dibentuknya Panitia Farmasi dan Terapi yaitu:
a. Menerbitkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat,
penggunaan obat, dan evaluasinya.
b. Melengkapi staf profesional di bidang kesehatan dengan
pengetahuan terbaru yang berhubungan dengan obat dan penggunaan
obat sesuai kebutuhan.
II.3.3 Fungsi Dan Ruang Lingkup PFT
Menurut Kepmenkes No. 1197/Menkes/SK/X/2004 fungsi dan ruang
lingkup PFT terkait perannya dalam pelayanan farmasi rumah sakit
adalah:
a. Menyusun formularium rumah sakit sebagai pedoman utama bagi
para dokter dalam memberi terapi kepada pasien. Pemilihan obat
untuk dimasukkan ke dalam formularium harus didasarkan pada
evaluasi terhadap efek terapi, keamanan serta harga obat dan juga
harus meminimalkan duplikasi produk obat yang sama. PFT
berdasarkan kesepakatan dapat menyetujui atau menolak produk
obat atau dosis obat yang diusulkan oleh SMF.
b. Menetapkan pengelolaan obat yang digunakan di rumah sakit
c. Melakukan tinjauan terhadap penggunaan obat di rumah sakit
dengan meneliti rekam medik kemudian dibandingkan dengan
standar diagnosa dan terapi.
d. Mengumpulkan dan meninjau laporan mengenai efek samping obat.
e. Mengembangkan ilmu pengetahuan yang menyangkut obat kepada
staf medis dan perawat.
f. Membantu instalasi farmasi dalam mengembangkan tinjauan
terhadap kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan mengenai
penggunaan obat di rumah sakit sesuai dengan peraturan yang
berlaku secara lokal maupun nasional.
II.3.4 Sistem Formularium
Sistem formularium adalah suatu metode yang digunakan staf medik
di suatu rumah sakit untuk mengevaluasi, menilai dan memilih produk
obat dianggap paling berguna dalam perawatan penderita. Obat yang
ditetapkan dalam formularium harus tersedia di IFRS (Siregar, 2004).
Sistem formularium merupakan sarana penting dalam memastikan
mutu penggunaan obat dan pelegalisasian harganya. Sistem formularium
menetapkan pengadaan, penulisan, dan pemberian suatu obat dengan
nama dagang atau obat dengan nama generik apabila obat itu tersedia
dalam dua nama tersebut.
Sistem formalium dapat direvisi pada setiap batas waktu yang
ditentukan (Kepmenkes No.1197/Menkes/SK/X/2004). Isi formularium
adalah:
a. Halaman judul.
b. Daftar nama anggota PFT.
c. Daftar isi.
d. Informasi mengenai kebijakan dan prosedur di bidang obat.
e. Produk obat yang diterima untuk digunakan.
f. Lampiran.
II.4 Instalasi Farmasi Rumah Sakit
II.4.1 Pengertian Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Instalasi farmasi di rumah sakit adalah instalasi di rumah sakit yang
dipimpin oleh seorang apoteker dan dibantu oleh beberapa orang
apoteker, tenaga ahli madya farmasi (D-3) dan tenaga menengah farmasi
(AA) yang memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang
berlaku, dan merupakan tempat atau fasilitas penyelenggaraan yang
bertanggung jawab atas seluruh pekerjaan serta pelayanan kefarmasian
yang terdiri atas pelayanan paripurna, mencakup perencanaan,
pengadaan, produksi, penyimpanan perbekalan kesehatan, dispensing
obat, pengendalian mutu dan pengendalian distribusi dan penggunaan
seluruh perbekalan kesehatan di rumah sakit serta pelayanan farmasi
klinik (Menkes RI, 2014).
Kegiatan pada instalasi ini terdiri dari pelayanan farmasi minimal
yang meliputi perencanaan, pengadaan, penyimpanan perbekalan
farmasi, dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan
rawat jalan, pengendalian mutu, pengendalian distribusi pelayanan umum
dan spesialis, pelayanan langsung pada pasien serta pelayanan klinis
yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar dan
Amalia, 2004).
Menurut Kepmenkes No. 1197/Menkes/SK/X/2004 fungsi Instalasi
Farmasi rumah sakit adalah sebagai tempat pengelolaan perbekalan
farmasi serta memberikan pelayanan kefarmasian dalam penggunaan
obat dan alat kesehatan.
Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 983/
MenKes/SK/XI/1992 tentang pedoman organisasi rumah sakit umum bab
IV pasal 41, instalasi merupakan fasilitas penyelenggara palayanan
penunjang medis, kegiatan penelitian, pengembangan, pendidikan,
pelatihan dan pemeliharaan sarana rumah sakit. Instalasi Rumah Sakit
meliputi instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap, instalasi gawat darurat,
bedah sentral, perawatan intensif, radiologi, farmasi, gizi, patologi dan
pemeliharaan sarana rumah sakit.
II.4.2 Tugas Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Menurut PerMenKes Nomor 58 Tahun 2014 tentang standar
pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit, Tugas Instalasi Farmasi Rumah
Sakit yaitu:
1. Menyelenggarakan, mengkoordinasikan, mengatur dan mengawasi
seluruh kegiatan Pelayanan Farmasi Klinis yang optimal dan
profesional serta sesuai prosedur dan etik profesi.
2. Melaksanakan pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang efektif, aman, bermutu dan efisien.
3. Melaksanakan pengkajian dan pemantauan penggunaan Sediaan
Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai guna
memaksimalkan efek terapi dan keamanan serta meminimalkan
risiko.
4. Melaksanakan Komunikasi, Edukasi dan Informasi (KIE) serta
memberikan rekomendasi kepada dokter, perawat dan pasien.
5. Berperan aktif dalam Tim Farmasi dan Terapi.
6. Melaksanakan pendidikan dan pelatihan serta pengembangan
Pelayanan farmasi klinis.
7. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan
formularium Rumah Sakit.
Adapun tugas seorang apoteker di rumah sakit adalah melaksanakan
kegiatan kefarmasian seperti mengawasi pembuatan, pengadaan,
pendistribusian obat/ perbekalan farmasi serta berperan dalam program
pendidikan dan penelitian, pembinaan kesehatan masyarakat melalui
pemantauan keamanan, efektifitas, efisiensi biaya dan ketepatan
penggunaan obat oleh pasien. Dengan demikian apoteker di rumah sakit
dapat membantu tercapainya suatu pengobatan yang aman dan rasional
yang berorientasi pada pasien dan bukan hanya berorientasi pada produk.
II.5 Sumber Daya Manusia Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Instalasi Farmasi harus memiliki Apoteker dan tenaga teknis
kefarmasian yang sesuai dengan beban kerja dan petugas penunjang lain
agar tercapai sasaran dan tujuan Instalasi Farmasi Rumah Sakit.
Ketersediaan jumlah tenaga Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian di
Rumah Sakit dipenuhi sesuai dengan ketentuan klasifikasi dan perizinan
Rumah Sakit yang ditetapkan oleh Menteri.
Uraian tugas tertulis dari masing-masing staf Instalasi Farmasi harus
ada dan sebaiknya dilakukan peninjauan kembali paling sedikit setiap
tiga tahun sesuai kebijakan dan prosedur di Instalasi Farmasi Rumah
Sakit.
a. Kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM)
Berdasarkan pekerjaan yang dilakukan, kualifikasi SDM
Instalasi Farmasi diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Untuk pekerjaan kefarmasian terdiri dari Apoteker dan Tenaga
Teknis Kefarmasian.
2. Untuk pekerjaan penunjang terdiri dari Operator
Komputer/Teknisi yang memahami kefarmasian, Tenaga
Administrasi, dan Pekarya/Pembantu pelaksana.
Untuk menghasilkan mutu pelayanan yang baik dan aman, maka
dalam penentuan kebutuhan tenaga harus mempertimbangkan
kompetensi yang disesuaikan dengan jenis pelayanan, tugas, fungsi,
wewenang dan tanggung jawabnya.
b. Persyaratan SDM
Pelayanan Kefarmasian harus dilakukan oleh Apoteker dan
Tenaga Teknis Kefarmasian. Tenaga Teknis Kefarmasian yang
melakukan Pelayanan Kefarmasian harus di bawah supervisi
Apoteker.
Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian harus memenuhi
persyaratan administrasi seperti yang telah ditetapkan dalam
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ketentuan terkait
jabatan fungsional di Instalasi Farmasi Rumah Sakit diatur menurut
kebutuhan organisasi dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Instalasi Farmasi Rumah Sakit harus dikepalai oleh seorang
Apoteker yang merupakan Apoteker penanggung jawab seluruh
Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Kepala Instalasi Farmasi
Rumah Sakit diutamakan telah memiliki pengalaman bekerja di
Instalasi Farmasi Rumah Sakit minimal 3 (tiga) tahun.
II.6 Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
II.6.1 Pengelolaan sediaan farmasi, alat kesehatan, dan bahan medis habis
pakai
Apoteker bertanggung jawab terhadap pengelolaan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang
menjamin seluruh rangkaian kegiatan perbekalan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan ketentuan yang
berlaku serta memastikan kualitas, manfaat, dan keamanannya.
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai dari pemilihan,
perencanaan kebutuhan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
pendistribusian, pemusnahan dan penarikan, pengendalian, dan
administrasi yang diperlukan bagi kegiatan Pelayanan Kefarmasian.
Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis
Habis Pakai harus dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir dan
menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan
kendali biaya. Dalam ketentuan Pasal 15 ayat (3) Undang-Undang
Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit menyatakan bahwa
Pengelolaan Alat Kesehatan, Sediaan Farmasi, dan Bahan Medis Habis
Pakai di Rumah Sakit harus dilakukan oleh Instalasi Farmasi sistem satu
pintu. Alat Kesehatan yang dikelola oleh Instalasi Farmasi sistem satu
pintu berupa alat medis habis pakai/peralatan non elektromedik, antara
lain alat kontrasepsi (IUD), alat pacu jantung, implan, dan stent.
Sistem satu pintu adalah satu kebijakan kefarmasian termasuk
pembuata formularium, pengadaan, dan pendistribusian Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang bertujuan untuk
mengutamakan kepentingan pasien melalui Instalasi Farmasi Rumah
Sakit. Dengan demikian semua Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang beredar di Rumah Sakit merupakan
tanggung jawab Instalasi Farmasi Rumah Sakit, sehingga tidak ada
pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai di Rumah Sakit yang dilaksanakan selain oleh Instalasi Farmasi
Rumah Sakit.
Rumah Sakit harus menyusun kebijakan terkait manajemen
pengunaan Obat yang efektif. Kebijakan tersebut harus ditinjau ulang
sekurang-kurangnya sekali setahun. Peninjauan ulang sangat membantu
Rumah Sakit memahami kebutuhan dan prioritas dari perbaikan sistem
mutu dan keselamatan penggunaan Obat yang berkelanjutan.
Rumah Sakit perlu mengembangkan kebijakan pengelolaan Obat
untuk meningkatkan keamanan, khususnya Obat yang perlu diwaspadai
(high-alert medication). High-alert medication adalah Obat yang harus
diwaspadai karena sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan
serius (sentinel event) dan Obat yang berisiko tinggi menyebabkan
Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan (ROTD). Kelompok Obat high-alert
diantaranya:
a. Obat yang terlihat mirip dan kedengarannya mirip (Nama Obat Rupa
dan Ucapan Mirip/NORUM, atau Look Alike Sound Alike/LASA).
b. Elektrolit konsentrasi tinggi (misalnya kalium klorida 2meq/ml atau
yang lebih pekat, kalium fosfat, natrium klorida lebih pekat dari
0,9%, dan magnesium sulfat
II.6.1.1 Pemilihan
Pemilihan adalah kegiatan untuk menetapkan jenis Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan kebutuhan.
Pemilihan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai.
II.6.1.2 Perencanaan
Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan
jumlah dan periode pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk
menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan
efisien.
Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan Obat dengan
menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-
dasar perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi,
epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi dan
disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. Pedoman perencanaan harus
mempertimbangkan:
a. Anggaran yang tersedia;
b. Penetapan prioritas;
c. Sisa persediaan;
d. Data pemakaian periode yang lalu;
e. Waktu tunggu pemesanan; dan
f. Rencana pengembangan.
II.6.1.3 Pengadaan
Pengadaan merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk
merealisasikan perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus
menjamin ketersediaan, jumlah, dan waktu yang tepat dengan harga yang
terjangkau dan sesuai standar mutu. Pengadaan merupakan kegiatan yang
berkesinambungan dimulai dari pemilihan, penentuan jumlah yang
dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan dana, pemilihan metode
pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan spesifikasi kontrak,
pemantauan proses pengadaan, dan pembayaran.
Untuk memastikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai sesuai dengan mutu dan spesifikasi yang
dipersyaratkan maka jika proses pengadaan dilaksanakan oleh bagian lain
di luar Instalasi Farmasi harus melibatkan tenaga kefarmasian.
Pengadaan dapat dilakukan melalui:
a. Pembelian
b. Produksi Sediaan Farmasi
c. Sumbangan/Dropping/Hibah
II.6.1.4 Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis,
spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera
dalam kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang diterima.
Semua dokumen terkait penerimaan barang harus tersimpan dengan baik.
II.6.1.5 Penyimpanan
Setelah barang diterima di Instalasi Farmasi perlu dilakukan
penyimpanan sebelum dilakukan pendistribusian. Penyimpanan harus
dapat menjamin kualitas dan keamanan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan persyaratan
kefarmasian. Persyaratan kefarmasian yang dimaksud meliputi
persyaratan stabilitas dan keamanan, sanitasi, cahaya, kelembaban,
ventilasi, dan penggolongan jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai.
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai
yang harus disimpan terpisah yaitu:
a. Bahan yang mudah terbakar, disimpan dalam ruang tahan api dan
diberi tanda khusus bahan berbahaya
b. Gas medis disimpan dengan posisi berdiri, terikat, dan diberi
penandaaan untuk menghindari kesalahan pengambilan jenis gas
medis. Penyimpanan tabung gas medis kosong terpisah dari tabung
gas medis yang ada isinya. Penyimpanan tabung gas medis di
ruangan harus menggunakan tutup demi keselamatan.
Metode penyimpanan dapat dilakukan berdasarkan kelas terapi,
bentuk sediaan, dan jenis Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai dan disusun secara alfabetis dengan menerapkan
prinsip First Expired First Out (FEFO) dan First In First Out (FIFO)
disertai sistem informasi manajemen. Penyimpanan Sediaan Farmasi,
Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang penampilan dan
penamaan yang mirip (LASA, Look Alike Sound Alike) tidak
ditempatkan berdekatan dan harus diberi penandaan khusus untuk
mencegah terjadinya kesalahan pengambilan Obat.
Rumah Sakit harus dapat menyediakan lokasi penyimpanan Obat
emergensi untuk kondisi kegawatdaruratan. Tempat penyimpanan harus
mudah diakses dan terhindar dari penyalahgunaan dan pencurian.
II.6.1.6 Pendistribusian
Distribusi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka
menyalurkan/menyerahkan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan
Medis Habis Pakai dari tempat penyimpanan sampai kepada unit
pelayanan/pasien dengan tetap menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah,
dan ketepatan waktu. Rumah Sakit harus menentukan sistem distribusi
yang dapat menjamin terlaksananya pengawasan dan pengendalian
Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di unit
pelayanan.
II.6.1.7 Pemusnahan dan Penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai
Pemusnahan dan penarikan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai yang tidak dapat digunakan harus dilaksanakan
dengan cara yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Pemusnahan dilakukan untuk Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai bila:
a. Produk tidak memenuhi persyaratan mutu.
b. Telah kadaluwarsa.
c. Tidak memenuhi syarat untuk dipergunakan dalam pelayanan
kesehatan atau kepentingan ilmu pengetahuan.
d. Dicabut izin edarnya.
II.6.1.8 Pengendalian
Pengendalian dilakukan terhadap jenis dan jumlah persediaan dan
penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis
Pakai. Pengendalian penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai dapat dilakukan oleh Instalasi Farmasi harus
bersama dengan Tim Farmasi dan Terapi (TFT) di Rumah Sakit.
II.6.1.9 Administrasi
Administrasi harus dilakukan secara tertib dan berkesinambungan
untuk memudahkan penelusuran kegiatan yang sudah berlalu. Kegiatan
administrasi terdiri dari pencatatan dan pelaporan, administrasi keuangan,
dan administrasi penghapusan.
II.6.2 Pengkajian dan pelayanan resep
Pelayanan Resep dimulai dari penerimaan, pemeriksaan
ketersediaan, pengkajian Resep, penyiapan Sediaan Farmasi, Alat
Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai termasuk peracikan Obat,
pemeriksaan, penyerahan disertai pemberian informasi. Pada setiap tahap
alur pelayanan Resep dilakukan upaya pencegahan terjadinya kesalahan
pemberian Obat (medication error).
Kegiatan ini untuk menganalisa adanya masalah terkait Obat, bila
ditemukan masalah terkait Obat harus dikonsultasikan kepada dokter
penulis Resep. Apoteker harus melakukan pengkajian Resep sesuai
persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis
baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
a. Persyaratan administrasi meliputi:
1. Nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien.
2. Nama, nomor izin, alamat dan paraf dokter.
3. Tanggal resep.
4. Ruangan/unit asal resep.
b. Persyaratan klinis meliputi:
1. Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat.
2. Duplikasi pengobatan.
3. Alergi, interaksi dan efek samping obat.
4. Kontraindikasi.
5. Efek aditif.
II.6.2.1 Penelusuran riwayat penggunaan Obat
Penelusuran riwayat penggunaan Obat merupakan proses untuk
mendapatkan informasi mengenai seluruh Obat/Sediaan Farmasi lain
yang pernah dan sedang digunakan, riwayat pengobatan dapat diperoleh
dari wawancara atau data rekam medik/pencatatan penggunaan Obat
pasien.
II.6.2.2 Rekonsiliasi Obat
Rekonsiliasi Obat merupakan proses membandingkan instruksi
pengobatan dengan Obat yang telah didapat pasien. Rekonsiliasi
dilakukan untuk mencegah terjadinya kesalahan Obat (medication error)
seperti Obat tidak diberikan, duplikasi, kesalahan dosis atau interaksi
Obat. Kesalahan Obat (medication error) rentan terjadi pada pemindahan
pasien dari satu Rumah Sakit ke Rumah Sakit lain, antar ruang
perawatan, serta pada pasien yang keluar dari Rumah Sakit ke layanan
kesehatan primer dan sebaliknya.
II.6.2.3 Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan
dan pemberian informasi, rekomendasi Obat yang independen, akurat,
tidak bias, terkini dan komprehensif yang dilakukan oleh Apoteker
kepada dokter, Apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya serta pasien
dan pihak lain di luar Rumah Sakit.
PIO bertujuan untuk:
a. Menyediakan informasi mengenai Obat kepada pasien dan tenaga
kesehatan di lingkungan Rumah Sakit dan pihak lain di luar Rumah
Sakit.
b. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan yang
berhubungan dengan Obat/Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan
Bahan Medis Habis Pakai, terutama bagi Tim Farmasi dan Terapi.
c. Menunjang penggunaan Obat yang rasional.
II.6.2.4 Konseling
Konseling Obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran
terkait terapi Obat dari Apoteker (konselor) kepada pasien dan/atau
keluarganya. Konseling untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap di
semua fasilitas kesehatan dapat dilakukan atas inisitatif Apoteker,
rujukan dokter, keinginan pasien atau keluarganya. Pemberian konseling
yang efektif memerlukan kepercayaan pasien dan/atau keluarga terhadap
Apoteker.
Pemberian konseling Obat bertujuan untuk mengoptimalkan hasil
terapi, meminimalkan risiko reaksi Obat yang tidak dikehendaki
(ROTD), dan meningkatkan cost-effectiveness yang pada akhirnya
meningkatkan keamanan penggunaan Obat bagi pasien (patient safety).
II.6.2.5 Visite
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang
dilakukan Apoteker secara mandiri atau bersama tim tenaga kesehatan
untuk mengamati kondisi klinis pasien secara langsung, dan mengkaji
masalah terkait Obat, memantau terapi Obat dan Reaksi Obat yang Tidak
Dikehendaki, meningkatkan terapi Obat yang rasional, dan menyajikan
informasi Obat kepada dokter, pasien serta profesional kesehatan lainnya.
Visite juga dapat dilakukan pada pasien yang sudah keluar Rumah
Sakit baik atas permintaan pasien maupun sesuai dengan program Rumah
Sakit yang biasa disebut dengan Pelayanan Kefarmasian di rumah (Home
Pharmacy Care).
Sebelum melakukan kegiatan visite Apoteker harus mempersiapkan
diri dengan mengumpulkan informasi mengenai kondisi pasien dan
memeriksa terapi Obat dari rekam medik atau sumber lain.
II.6.2.6 Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Pemantauan Terapi Obat (PTO) merupakan suatu proses yang
mencakup kegiatan untuk memastikan terapi Obat yang aman, efektif dan
rasional bagi pasien. Tujuan PTO adalah meningkatkan efektivitas terapi
danmeminimalkan risiko Reaksi Obat yang Tidak Dikehendaki (ROTD).
II.6.2.7 Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
Monitoring Efek Samping Obat (MESO) merupakan kegiatan
pemantauan setiap respon terhadap Obat yang tidak dikehendaki, yang
terjadi pada dosis lazim yang digunakan pada manusia untuk tujuan
profilaksis, diagnosa dan terapi. Efek Samping Obat adalah reaksi Obat
yang tidak dikehendaki yang terkait dengan kerja farmakologi.
II.6.2.8 Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) merupakan program evaluasi
penggunaan Obat yang terstruktur dan berkesinambungan secara
kualitatif dan kuantitatif.
II.6.2.9 Dispensing sediaan steril
Dispensing sediaan steril harus dilakukan di Instalasi Farmasi
Rumah Sakit dengan teknik aseptik untuk menjamin sterilitas dan
stabilitas produk dan melindungi petugas dari paparan zat berbahaya
serta menghindari terjadinya kesalahan pemberian Obat.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2004, Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1197/Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah
Sakit, Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta.

Dep.Kes RI, 2009, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009


Tentang Kesehatan, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Dep.Kes RI, 2009, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009


Tentang Rumah Sakit, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta

Siregar, C.J.P. dan Amalia, L, 2003, Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan,
EGC, Jakarta.