Anda di halaman 1dari 27

PSIKOFARMAKOLOGI

I. Definisi

Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif
pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas mental
dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang berpengaruh terhadap
taraf kualitas hidup pasien.
Obat psikotropik dibagi menjadi beberapa golongan, diantaranya: anti-
psikosis, anti-depresi, anti-mania, anti-ansietas, anti-insomnia, anti-panik, dan anti
obsesif-kompulsif.

II. Obat-Obat Psikotropika


a. Obat Anti-Psikosis
No
Golongan Obat Sediaan Dosis Anjuran
.

1. Fenotiazin Chlorpromazin Tablet 25 dan 100 mg, 150-600


mg/hari
Injeksi 25 mg/ml

Thioridazin Tablet 50 dan 100 mg 150-600


mg/hari

Trifluoperazin Tablet 1 mg dan 5 mg 10-15 mg/hari

Perfenazin Tablet 2, 4, 8 mg 12-24 mg/hari

Flufenazin Tablet 2,5 mg, 5 mg 10-15 mg/hari

2. Butirofenon Halloperidol Tablet 0,5 mg, 1,5 mg, 5 5-15 mg/hari


mg

Injeksi 5 mg/ml
Droperidol Amp 2.5 mg/ ml 7,5 15
mg/hari

4. Difenilbutil Pimozide Tablet 1 dan 4 mg 1-4 mg/hari


piperidin

5. Atypical Risperidon Tablet 1, 2, 3 mg 2-6 mg/hari

Mekanisme Kerja

Semua obat anti-psikosis merupakan obat-obat potensial dalam memblokade


reseptor dopamin dan juga dapat memblokade reseptor kolinergik, adrenergik dan
histamin. Pada obat generasi pertama (fenotiazin dan butirofenon), umumnya tidak
terlalu selektif, sedangkan benzamid sangat selektif dalam memblokade reseptor
dopamine D2. Anti-psikosis atypical memblokade reseptor dopamine dan juga
serotonin 5HT2 dan beberapa diantaranya juga dapat memblokade dopamin sistem
limbic, terutama pada striatum.

Cara Penggunaan

Umumnya dikonsumsi secara oral, yang melewati first-pass metabolism di


hepar. Beberapa diantaranya dapat diberikan lewat injeksi short-acting Intra
muscular (IM) atau Intra Venous (IV), Untuk beberapa obat anti-psikosis (seperti
haloperidol dan flupenthixol), bisa diberikan larutan ester bersama vegetable oil
dalam bentuk depot IM yang diinjeksikan setiap 1-4 minggu. Obat-obatan depot
lebih mudah untuk dimonitor.

Pemilihan jenis obat anti-psikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang


dominan dan efek samping obat. Penggantian obat disesuaikan dengan dosis
ekivalennya. Apabila obat psikosis tertentu tidak memberikan respon klinis dalam
dosis optimal setelah jangka waktu memadai, dapat diganti dengan obat anti-psikosis
lainnya. Jika obat anti-psikosis tersebut sebelumnya sudah terbukti efektif dan efek
sampingnya dapat ditolerir dengan baik, dapat dipilih kembali untuk pemakaian
sekarang.
Dalam pemberian dosis, perlu dipertimbangkan:
Onset efek primer (efek klinis) : sekitar 2-4 minggu
Onset efek sekunder (efek samping) : sekitar 2-6 jam
Waktu paruh 12-24 jam (pemberian 1-2 kali perhari)
Dosis pagi dan malam berbeda untuk mengurangi dampak efek samping,
sehingga tidak menganggu kualitas hidup pasien

Obat anti-psikosis tidak menimbulkan gejala lepas obat yang hebat walaupun
diberikan dalam jangka waktu lama, sehingga potensi ketergantungan sangat kecil.
Jika dihentikan mendadak timbul gejala cholinergic rebound, yaitu: gangguan
lambung, mual, muntah, diare, pusisng, gemetar dan lain-lain dan akan mereda jika
diberikan anticholinergic agents (injeksi sulfas atropine 0,25 mg IM dan tablet
trihexylfenidil 3x2 mg/hari).

Indikasi
Obat anti-psikosis merupakan pilihan pertama dalam menangani skizofreni, untuk
memgurangi delusi, halusinasi, gangguan proses dan isi pikiran dan juga efektif
dalam mencegah kekambuhan. Major transquilizer juga efektif dalam menangani
mania, Tourettes syndrome, perilaku kekerasan dan agitasi akibat bingung dan
demensia. Juga dapat dikombinasikan dengan anti-depresan dalam penanganan
depresi delusional.

Efek Samping
1. Extrapiramidal: distonia akut, parkinsonism, akatisia, dikinesia tardiv
2. Endokrin: galactorrhea, amenorrhea
3. Antikolinergik: hiperprolaktinemia

Kontraindikasi
Penyakit hati, penyakit darah, epilepsi, kelainan jantung, febris yang tinggi,
ketergantungan alkohol, penyakit SSP dan gangguan kesadaran
b. Obat Antidepresan
Sinonim antidepresan adalah thimoleptika atau psikik energizer. Umumnya
yang digunakan sekarang adalah dalam golongan trisiklik (misalnya imipramin,
amitriptilin, dothiepin dan lofepramin)
No. Golongan Obat Sediaan Dosis Anjuran

1. Trisiklik Amitriptilin Tablet 25 mg 75-150 mg/hari


(TCA)

Imipramin Tablet 25 mg 75-150 mg/hari

2. SSRI Sentralin Tablet 50 mg 50-150 mg/hari

Fluvoxamin Tablet 50 mg 50-100 mg/hari

Fluoxetin Kapsul 20 mg, 20-40 mg/hari

Kaplet 20 mg

Paroxetin Tablet 20 mg 20-40 mg/hari

3. MAOI Moclobemide Tab 150 mg 300-600 mg/


hari

4. Atypical Mianserin Tablet 10, 30 mg 30-60 mg/hari

Trazodon Tab 50 mg, 100 mg 75-150 mg/hari


dosis terbagi

Maprotilin Tab 10, 25, 50, 75 mg 75-150 mg/hari


dosis terbagi

Mekanisme Kerja
Trisiklik (TCA) memblokade reuptake dari noradrenalin dan serotonin yang
menuju neuron presinaps. SSRI hanya memblokade reuptake dari serotonin. MAOI
menghambat pengrusakan serotonin pada sinaps. Mianserin dan mirtazapin
memblokade reseptor alfa 2 presinaps. Setiap mekanisme kerja dari antidepresan
melibatkan modulasi pre atau post sinaps atau disebut respon elektrofisiologis.

Cara Penggunaan
Umumnya bersifat oral, sebagian besar bisa diberikan sekali sehari dan
mengalami proses first-pass metabolism di hepar. Respon anti-depresan jarang timbul
dalam waktu kurang dari 2-6 minggu
Untuk sindroma depresi ringan dan sedang, pemilihan obat sebaiknya
mengikuti urutan:
Langkah 1 : golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor)
Langkah 2 : golongan tetrasiklik (TCA)
Langkah 3 :golongan tetrasiklik, atypical, MAOI (Mono Amin Oxydase Inhibitor)
reversibel.

Indikasi
Obat antidepresan ditujukan kepada penderita depresi dan kadang berguna
juga pada penderita ansietas fobia, obsesif-kompulsif, dan mencegah kekambuhan
depresi.

Efek Samping
Trisklik dan MAOI : antikolinergik(mulut kering, retensi urin, penglihatan
kabur, konstipasi, sinus takikardi) dan antiadrenergik (perubahan EKG, hipotensi
SSRI : nausea, sakit kepala
MAOI : interaksi tiramin

Kontraindikasi
Penyakit jantung koroner
Glaucoma, retensi urin, hipertensi prostat, gangguan fungsi hati, epilepsy
c. Obat Antimania
Obat anti mania mempunyai beberapa sinonim antara lain mood modulators,
mood stabilizers dan antimanik. Dalam membicarakan obat antimania yang menjadi
acuan adalah litium karbonat.

No Nama Generik Sediaan Dosis anjuran


1 Litium karbonat 250-500 mg

2 Haloperidol Tab 0,5 mg,2 mg, 5 mg 4,5-15 mg

Liq 2 mg/hr

Injk 5 mg/ml

3 Karbamazepin Tab 200 mg 400-600 mg/hr

2-3 x/hr

Efek samping
1. Gejala efek samping pada pengobatan jangka lama:

Mulut kering, haus, gastrointestinal distress (mual, muntah, diare feses lunak),
kelemahan otot, poliuria, tremor halus (fine tremor, lebih nyta pada pasien
usia lanjut dan penggunaan bersamaan dengan neuroleptika dan antidepresan)
Tidak ada efek sedasi dan gangguan akstrapiramidal

2. Efek samping lain :


Hipotiroidisme, peningkatan berat badan, perubahan fungsi tiroid, edema pada
tungkai metalic taste, leukositosis, gangguan daya ingat dan kosentrasi pikiran

Cara Penggunaan Obat


Pada mania akut diberikan haloperidol IM atau tablet litium karbonat. Pada
gangguan afektif bipolar dengan serangan episodik mania depresi diberi litium
karbonat sebagai obat profilaks. Daapt mengurangi frekwensi, berat dan lamanya
suatu kekambuhan
Bila penggunaan obat litium karbonat tidak memungkinkaan dapat digunakan
karbamezin. Obat ini terbukti ampuh meredakan sindroma mania akut dan profilaks
srerangan sindroma mania pada gangguan afektif bipolar.
Pada ganguan afektif unipolar, pencegahan kekambuhan dapat juga denagn
obat antidepresi SSRI yang lebih ampuh daripada litium karonat. Dosis awal harus
lebih rendah pada pasien usia lanjut atau pasien gangguan fisik yang mempengaruhi
fungsi ginjal. Pengukuran serum dilakukan dengan mengambil sampeel darah pagi
hari, yaitu sebelum makan obat dan sekitar 12 jam setelah dosis petang.

Mekanisme kerja
Efek antimania lithium disebabkan oleh kemampuannya mengurangi
dopaminereseptor supersensitivity meningkatkan cholinergic muscarinic activity
dan menghambat cyclic AMP (adenosine monophospat)

Kontra Indikasi
Wanita hamil
d. Anti-Ansietas
Obat anti-ansietas mempunyai beberapa sinonim, antara lain psikoleptik,
transquilizer minor dan anksioliktik. Dalam membicarakan obat antiansietas yang
menjadi obat racun adalah diazepam atau klordiazepoksid
No Nama Generik Golongan Sediaan Dosis aniuran

1 Diazepam Benzodiazepin Tab 2- 5 mg Peroral


10-30mg/hr, 2-3
x/hari
Parenteral
IV/IM
2-10 mg/kali,
setiap 3-4 jam
2 Klordiazepoksoid Benzodiazepin Tab 5 mg 15-30 mg/hari
Kap 5 mg 2-3x/sehari

3 Lorazepam Benzodiazepin Tab 0,5-2 mg 2-3x1 mg/hr

4 Clobazam Benzodiazepin Tab 10 mg 2-3x10


mg/hr

5 Brumazepin Benzodiazepin Tab 1,5-3-6 3 x 1,5 mg/hr


mg
6 Oksazolom Benzodiazepin Tab 10 mg 2-3x10
mg/hr

7 Klorazepat Benzodiazepin Cap 5-10mg 2-3 x 5 mg / hr


8 Alprazolam Benzodiazepin Tab0,25-0,5- 3x0,25-0,5
mg/hr
1 mg

2-3x5 mg/hr
9 Prazepam Benzodiazepin Tab 5 mg

NonBenzodiazep
10 Sulpirid Cap 50 mg 100-200
in
mg/hari

NonBenzodiazep
11 Buspiron Tab 10 mg 15-30 mg/hari
in

Mekanisme kerja
Sindrom ansietas disebabkan hiperaktivitasndari system limbic yang terdiri
dari dopaminergic, nonadrenergic, seretonnergic yang dikendalikan oleh GABA
ergic yang merupakan suatu inhibitory neurotransmitter. Obat antiansietas
benzodiazepine yang bereaksi dengan reseptornya yang akan meng-inforce the
inhibitory action of GABA neuron, sehingga hiperaktivitas tersebut mereda.

Cara Pengguanan
Klobazam untuk pasien dewasa dan pada usia lanjut yang ingin tetap aktif
Lorazepam untuk pasien-pasien dengan kelainan fungsi hati atau ginjal
Alprazolam efektif untuk ansietas antosipatorik, mula kerja lebih cepat dan
mempunyai komponen efek antidepresan.
Sulpirid 50 efektif meredakan gejala somatic dari sindroma ansietas dan
paling kecil resiko ketergantungan obat.

Mulai dengan dosis awal (dosis anjuran) kemudian dinaikkan dosis setiap 3-5
hari sampai mencapai dosis optimal. Dosis ini dipertahankan 2-3 minggu. Kemudian
diturunkan 1/8 x dosis awal setiap 2-4 minggu sehingga tercapai dosis pemeliharan.
Bila kambuh dinaikkan lagi dan tetap efektif pertahankan 4-8 mingu. Terakhir
lakukan tapering off. Pemberian obat tidak lebih dari 1-3 bulan pada sindroma
ansietas yang disebabkan factor eksternal.

Efek samping
1. Sedasi ( rasa mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerka psikomotor
menurun, kemampuan kognitif melemah)
2. Relaksasi otot ( rasa lemas, cepat lelah dan lain-lain)
3. Potensi menimbulkan ketergntungan lebih rendah dari narkotika
4. Potensi ketergantungan obat disebabkan oleh efek obat yang masih dapat
dipertahankan setelah dosis trerakhir berlangsung sangat singkat.
5. Penghentian obat secara mendadak, akan menimbulkan gejala putus obat,
pasien menjadi iritabel, bingung, gelisah, insomania, tremor, palpitasi,
keringhat dingin, konvulsi.

Kontra Indikasi
Pasien dengan hipersensitif terhadap benzodiazepin, glaukoma, miastenia
gravis, insufisiensi paru kronik, penyakit ginjal dan penyakit hati kronik Pada pasien
usia lanjut dan anak dapat terjadi reaksi yang berlawanan (paradoxal reaction) berupa
kegelisahan, iritabilitas, disinhibisi, spasitas oto meningkat dan gangguan tidur.
Ketergantungan relatif sering terjadi pada individu dengan riwayat peminum alkohol,
penyalagunaan obat atau unstable personalities. Untuk mengurangi resiko
ketergantungan obat, maksimum lama pemberian 3 bulan dalam rentang dosis
terapeutik.
e. Anti-Insomnia
Sinonimnya adalah hipnotik, somnifacient, atau hipnotika. Obat acuannya
adalah fenobarbital.

No Nama Generik Golongan Sediaan Dosis aniuran

1 Nitrazepam Benzodiazepin Tab 5 mg Dewasa 2 tab

Lansia 1 tab

2 Triazolam Benzodiazepin Tab 0,125 mg Dewasa 2 tab

Lansia 1 tab

Tab 0,250 mg Dewasa 2 tab

Lansia 1 tab

3 Estazolam Benzodiazepin Tab 1 mg 1-2 mg/malam

Tab 2mg

4 Chloral hydrate Non- Soft cap 500 mg 1-2 cap, 15-30


Benzodiazepin menit sebelum
tidur

Mekanisme kerja
Obat anti-insomnia bekerja pada reseptor BZ1 di susunan saraf pusat yang
berperan dalam memperantarai proses tidur.

Cara Penggunaan
Dosis anjuran untuk pemberian tunggal 15-30 menit sebelum tidur.
Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan
dipertahankan sampai 1-2 minggu, kemudian secepatnya tapering off untuk
mencegah timbulnya rebound dan toleransi obat.
Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih
perlahan-lahan untuk menghidari oversedation dan intoksikasi.
Lama pemberian tidak lebih dari 2 minggu agar risiko ketergantungan kecil.

Efek samping
Supresi SSP pada saat tidur
Rebound Phenomen
Disinhibiting efect yang menyebabkan perilaku penyerangan dan ganas pada
penggunaan golongan benzodiazepine dalam waktu yang lama

Kontra indikasi
Sleep apnoe syndrome
Congestive heart failure
Chronic respiratory disease
Wanita hamil dan menyusui
f. Obat anti Obsesif-Kompulsif
Obat anti obsesi kompulsi dapat digolongkan menjadi :
1. Obat anti obsesi kompulsi trisiklik, contoh klomipramin
2. Obat anti obsesi kompulsi SSRJ, contoh sentralin, paroksin, flovokamin,
fluoksetin

No Nama Generik Sediaan Dosis anjuran

1 Clompramine Tab 25 mg 75-200 mg/hr

2 Fluvoxamine Tab 50 mg 100-200 mg/hr

3 Sertraline Tab 50 mg 50-150 mg/hr

4 Fluxetine Cap 20 mg, caplet 20-80 mg/hr


20 mg

5 Paroxetine Tab 20 mg 40-60 mg/ hr

Mekanisme kerja
Menghambat re-uptake neurotransmitter serotonin sehingga gejala mereda.

Cara penggunaan
Sampai sekarang obat pilihan untuk gangguan obsesi kompulsi adalah
klomipramin. Terhadap meraka yang peka dapat dialihkan ke golongan SSRI dimana
efek samping relatif aman. Obat dimulai dengan dosis rendah klomopramin mulai
dengan 25-50 mg /hari (dosis tunggal malam hari), dinaikkan secara bertahap
dengan penambahan 25 mg/hari sampai tercaapi dosis efektif (biasanya 200-300
mg/hari).
Dosis pemeliharan umumnya agak tinggi, meskipun bersifat individual,
klomipramin sekitar 100-200 mg/hari dan sertralin 100 mg/hari. Sebelum dihentikan
lakukan pengurangan dosis secara tappering off. Meskipun respon dapat terlihat
dalam 1-2 minggu, untuk mendapatkan hasil yang memadai setidaknya diperlukan
waktu 2- 3 bulan dengan dosis antara 75-225 mg/hari
g. Obat Anti panik
Dalam membicarakan antipanik yang menjadi obat acuan adalah imipramin

No Nama Generik Sediaan Dosis Anjuran

1 Imipramin Tab 25 mg 75-150 mg/hr

2 Clomipramin Tab 25 mg 75-150 mg/hr

3 Alprazol Tab 0,25 mg,0,5 mg, 2-4 mg/hr


1 mg

4 Moclobemid Tab 150 mg 300-600 mg/hr

5 Sertralin Tab 50 mg 50-100 mg/hr

6 Fluoxetin Cap dan caplet 20 20-40 mg/hr


mg

7 Parocetin Tab 20 mg 20-40 mg/hr

8 Fluvoxamine Tab 50 mg 50-100 mg/hr

Mekanisme kerja
Sindrom panik berkaitan dengan hipersensitivitas dari serotonic reseptor di
SSP. Mekanisme kerja obat antipanik adalah menghambat reuptake serotonin pada
celah sinaptik antar neuron

Cara Penggunaan Obat


Golongan SSRI mempunyai efek samping yang lebih ringan
Alprozolam merupakan obat yang paling kurang toksiknya dan onset kerjanya
lebih cepat

Efek samping obat


Mengantuk, sedasi, kewaspadaan berkurang
Neurotoksik
Teknis Wawancara Psikiatri

Nancy Anderson dan Donald Black telah menuliskan 11 teknik yang sering
pada sebagian besar situasi wawancara psikiatrik.
1. Dapatkan rapport dengan pasien di awal wawancara
2. Tentukan keluhan utama pasien
3. Gunakan keluhan utama untuk mengembangkan diagnosis banding sementara
4. Singkirkan atau masukkan berbagai kemungkinan diagnostik dengan
menggunakan pertanyaan yang terpusat dan terperinci
5. Ikuti jawaban yang samar-samar atau tak jelas dengan seksama untuk
menentukan keakuratan jawaban atas pertanyaan.
6. Biarkan pasien berbicara dengan cukup bebas untuk mengamati bagaimana
kuatnya pikiran berkaitan

7. Gunakan campuran pertanyaan terbuka dan tertutup


8. Jangan takut untuk menanyakan tentang topik yang anda atau pasien rasakan
sulit atau memalukan
9. Tanyakan tentang pikiran atau ide bunuh diri
10. Berikan pasien kesempatan untuk menanyakan pertanyaan pada akhir
wawancara
11. Simpulkan wawancara awal dengan mendapatkan rasa kepercayaan, dan jika
mungkin harapan.

Dengan persiapan-persiapan di atas maka seorang dokter psikiatri dapat membuat


sebuah wawancara yang baik, memperoleh kepercayaan dari pasien, yang dapat
digunakan untuk membuat suatu diagnosis yang tepat. Untuk mendapatkan hasil yang
baik seorang dokter psikiatri perlu memperhatikan beberapa hal berikut:

1. Pendahuluan
Mulailah dengan memperkenalkan diri. Jelaskan secara jujur status dan kapasitas
anda, bangun kepercayaan tunjukkan sikap penuh pengertian dan minat, serta selalu
waspada jangan sampai mengganggu rasa harga diri penderita mengingat cara
pemeriksaan dan keadaan lingkungan waktu pemeriksaan mempengaruhi reaksi
penderita.
2. Penatalaksanaan Waktu

Untuk sebuah konsultasi awal hendaklah suatu wawancara berkisar antara 30


menit hingga 1 jam, tergantung pada keadaan. Wawancara dengan pasien psikotik
atau pada pasien dengan penyakit medis biasanya singkat, hal ini dikarenakan oleh
pasien yang mungkin merasakan bahwa wawancara adalah suatu hal yang
menegangkan. Wawancara yang panjang mungkin diperlukan di ruang gawat darurat.
Kunjungan yang kedua maupun kunjungan selanjutnya beserta wawancara psikiatrik
yang terus menerus juga bervariasi dalam lamanya.
3. Screening dan Follow Up
Awali dengan pertanyaan terbuka (open ended question), kemudian sesuaikan
gaya wawancara dengan komunikasi yang berjalan spontan saat itu. Ingatlah untuk
tetap fleksibel, menjauhkan dari asumsi pribadi terhadap keadaan penderita, dan
waspada terhadap reaksi emosional yang mungkin terjadi. Gunakan pertanyaan
tertutup (closed ended question) pada saaat yang tepat untuk mengumpulkan berbagai
detil yang tidak dapat diformulasikan menjadi gambaran klinis atau diagnosis.
Pendekatan yang baik adalah dengan mengkombinasikan keduanya dengan teknik
yang berkelanjutan dari pertanyaan luas ke pertanyaan yang terfokus dan tajam.
Memulai topik baru dengan pertanyaan terbuka yang luas; lanjutkan dengan
memfokuskan pada satu topik target; dan akhiri dengan serial pertanyaan yang
semakin menyempit, sesekali tertutup tipe ya/tidak. Pertanyaan ya/tidak dapat
digunakan untuk verivikasi, spesifik, atau memancing respon. Jika ingin menghindari
pertanyaan tertutup, gunakan pertanyaan terbuka yang tajam dan fokus.
Anamnesis, bertujuan untuk menggali data subyektif dengan menanyakan alasan
berobat dari keluhan utama pasien, riwayat gangguan sekarang, gangguan dahulu,
riwayat perkembangan diri, latar belakang sosial, keluarga, pendidikan, pekerjaan,
dan perkawinan. Jangan terlalu berharap pada wawancara yang pertama, tapi
pupuklah kepercayaan pelan-pelan sehingga dengan pertanyaan-pertanyaan yang
halus kita dapat membuka rahasia hidup penderita tanpa menimbulkan rasa cemas
yang berlebihan. Penderita yang sangat terganggu secara akut harus diperiksa secepat
mungkin sebab keadaannya mungkin cepat berubah.

4. Klarifikasi Riwayat
Tiap pasien mempunyai cara menjawab yang berbeda - beda. Beberapa pasien
menjawab pertanyaan dengan jelas, yang lainnya menjawab secara sempit, tidak
sesuai dengan pertanyaan, tidak jelas, atau sirkumstansial. Dalam beberapa situasi,
pewawancara perlu membantu pasien untuk dapat memberi jawaban yang lebih jelas.
Teknik yang dapat membantu pasien memperjelas jawabannya adalah specification,
generalization, checking symptom, leading question, probing, interrelation, dan
summarizing.
Spesifikasi dilakukan bila pasien yang memberikan jawaban tidak jelas maka
pertanyaan bias ubah menjadi lebih tertutup, generalisasi dilakukan bila pasien hanya
memberikan informasi yang spesifik saat pewawancara memerlukan penjelasan
mengenai pola perilaku secara keseluruhan. Pewawancara dapat mengajukan
beberapa daftar gejala (checking symptom) kepada pasien untuk membentu menilai
adanya psikopatologi, hal tersebut dilakukan jika cerita yang disampaikan pasien
tidak jelas. Leading question mengarahkan pasien pada jawaban yang spesifik. Pasien
kadang menyampaikan makna dan pentingnya suatu situasi yang ia alami tanpa
menjelaskan alasannya. Pewawancara harus mencoba untuk menemukan alasan
tersebut dengan teknik yang disebut probing. Pewawancara harus melakukan
eksplorasi mengenai hubungan (interrelation) yang tidak logis yang disampaikan oleh
pasien dalam wawancara. Teknik summaries berguna pada pasien yang memberikan
jawaban yang tidak jelas atau sirkumstansial, asosiasi longgar, flight of ideas, seperti
pada pasien bipolar atau siklotimia.

5. Identifikasi
Meliputi pertanyaan tentang identitas dan orientasi. Bermanfaat untuk
administrasi dan agar tidak salah mengenali pasien. Selain itu, komponen-komponen
ini ada kaitannya dengan penyakit tertentu. Misalnya schizophrenia serangan
pertamanya biasanya pada usia kurang dari 45 tahun, depresi lebih banyak terjadi
pada wanita. Daerah Blitar secara epidemiologis banyak penduduknya yang terkena
schizophrenia. Identifikasi pasien meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, suku
bangsa/latar belakang, kebudayaan, status sipil, pendidikan, dan pekerjaannya.
Orientasi dinilai dengan menanyakan posisi pasien sekarang dalam ruang dan waktu.

6. Keluhan utama
Sebab utama yang menyebabkan seseorang secara aktif/pasif datang/dibawa
berobat (tidak harus ke dokter) menurut pasien dan/atau keluarganya. Misalnya,
tertawa sendiri tanpa sebab, nangis tanpa sebab, gaduh gelisah, bingung, kemudian
dikaitkan dengan fungsi mental yang mana. Lakukan autoanamnesa terlebih dahulu
dengan menanyakan alasan pasien datang/berobat, berapa lama ia mengalami
gangguan tersebut, apakah ada pencetus yang berhubungan dengan awal keluhannya,
dan bagaimana pasien memahami gangguannya. Heteroanamnesa yang ditanyakan
meliputi sejak kapan tampak perilaku tidak yang wajar tersebut, perkiraan mengapa
hal tersebut terjadi, dan berapakali kambuhnya.

7. Riwayat Penyakit Sekarang


Bertitik tolak dari keluhan utama yaitu permulaan gangguan (gejala/tanda
pertama) hingga keadaan sekarang. Susun secara sistematis dan kronologis.
Didapatkan dari anamnesa baik secara heteroanamnesa atas ijin penderita (bila
diindikasikan agar secara cepat tahu gambaran gejala) maupun autoanamnesa
(dahulukan) dengan prinsip 5W+How. Tanyakan fungsi jiwa secermat mungkin
antara lain:
Afek emosi : apa pasien pernah menangis/tertawa tanpa sebab

Proses berfikir : apakah pasien pernah berbicara melantur. Rincilah apa yang
dibicarakan nilailah bentuk dan isi pikiran, sedangkan arus pikiran tidak bisa
dinilai karena tidak direkam saat itu.

Presepsi : pernahkan melihat/mendengar sesuatu yang tidak dilihat/didengar


orang lain

Kemauan : bagaimana tentang perawatan diri, pekerjaan, pergaulan sosial

8. Riwayat Penggunaan Obat-obatan

Tanyakan pola penggunaan obat-obatan terlarang termasuk intake alkohol dan


penggunaan mariyuana, kokain, heroin dan halusinogen.

9. Riwayat Psikiatri terdahulu

Tanyakan apakah pasien sebelumnya pernah mengalami gangguan yang sejenis,


termasuk apakah sudah pernah menemui dokter dan mendapat pengobatan. Bila
sudah, rinci jumlah, warna obat yang pernah diterima dan hasil pengobatan serta
riwayat perawatan di rumah sakit.

10. Riwayat Perkembangan dan Sosial

Riwayat pribadi ditanyakan antara lain mengenai perkembangan fisik dan mental,
hubungan antar manusia, hidup, emosi, sifat, minat, kemampuan, prestasi,
ketrampilan, pengalaman penting, kepercayaan, gangguan jiwa yang pernah dialami
yang dapat dibagi dalam masa-masa : graviditas ibunya, kelahiran bayi, kanak-kanak,
pubertas, adolesens, dewasa, tua/senja usia. Misalnya menanyakan penderita anak ke
berapa dari berapa bersaudara (predesposisi anak ke-1 dan terakhir atau anak
tunggal), masa kelahiran, pertumbuhan, dididik, tinggal dengan siapa, riwayat
perkembangan pendidikan, riwayat pekerjaan (suka pindah? kenapa?), bakat, minat,
penggunaan waktu luang dan riwayat pernikahan.

11. Faktor Premorbid

Untuk mengetahui penyebab dan prognosa penyakit. Mulai dari lahir, balita,
sekolah dasar, hingga sekarang. Berhubungan dengan keturunan, riwayat
perkembangan dan stressor psikososial. Kepribadian premorbid, diperlukan untuk
mengetahui prognosa. Tentukan sifat-sifat sebelum timbulnya gangguan bila tidak
ditemukan gangguan kepribadian sebutkan ciri-ciri kepribadian. Jika ditemukan
sesuaikan dengan kriteria PPDGJ III.

12. Faktor Keturunan


Riwayat keluarga orang tua, saudara, susunan keluarga, susunan anggota rumah
tangga dalam rumah yang ditempatinya, anggota keluarga yang pernah atau sedang
menderita gangguan jiwa atau penyakit fisik lain. Apakah ada keluarga (ayah, ibu,
saudara, suami/istri) yang menderita gangguan jiwa dan apakah pernah sampai masuk
rumah sakit.

13. Faktor Pencetus


Faktor pencetus/stressor psikososial, peristiwa apa yang mendahului gejala, untuk
mengetahui prognosa dan cara terapi.
14. Faktor Organik/Riwayat penyakit medis terdahulu
Pernahkah mengalami penyakit fisik misalnya kejang (mulai lahir sampai
sekarang), DM, stroke, Hipertensi.

15. Riwayat Pengobatan


Tanyakan obat-obatan yang sering ia gunakan baik yang dengan resep atau tanpa
resep.

16. Pemeriksaan Status Mental

Selanjutnya psikiater melakukan pemeriksaan mental yang dapat membantu


memahami keadaan sakit pasien yang kemudian dicatat dalam status pemeriksaan
mental. Status pemeriksaan mental adalah bagian dari pemeriksaan klinis yang
menggambarkan jumlah total observasi pemeriksa dan kesan atau impresi tentang
pasien psikiatri saat wawancara.
Deskripsi Umum :
Merupakan gambaran tampilan dan kesan keseluruhan terhadap pasien
yang direfleksikan dari postur, sikap, cara berpakaian dan berdandan. Seorang
dokter harus memperhatikan tatapan mata, kerutan dahi, tremor atau keringat
di muka yang merupakan tanda adanya kecemasan. Perlambatan dari
pergerakkan tubuh, aktivitas tanpa tujuan, hiperaktivitas, dan agitasi perlu
diperhatikan. Penilaian terhadap sikap pasien dapat digambarkan sebagai
sikap yang kooperatif, bersahabat, penuh perhatian, jujur.

Mood dan Afek :


Mood didefinisikan sebagai suasana perasaan yang bersifat pervasive dan
bertahan lama, yang mewarnai persepsi seseorang terhadap kehidupannya.
Pemeriksaan dapat menilai suasana perasaan pasien dari pernyataan yang
disampaikan oleh pasien, dari ekspresi wajah, perilaku motorik, atau bila perlu
dapat dinyatakan kepada pasien tentang suasana perasaan yang dialaminya.
Afek merupkan respons emosional saat sekarang, yang dapat dinilai
melalui ekspresi wajah, pembicaraan, sikap dan gerak gerik tubuh pasien
(bahasa tubuh). Afek mencerminkan situasi emosi sesaat, dapat bersesuaian
dengan mood maupun tidak. Penilaian terhadap afek dapat berupa afek
normal, terbatas, tumpul, atau mendatar.
Pembicaraan:
Seorang dokter harus dapat menilai pembicaraan pasien apakah ia
berbicara spontan atau tidak, kecepatan berbicara, dan kualitas bicara. Amati
cara pasien berbicara seperti banyak berbicara, mengomel, fasih, pendiam,
tidak sopan atau berespon normal terhadap isyarat yang disampaikan.
Pembicaraan dapat cepat atau lambat, tertekan, ragu-ragu, emosional,
dramatik, monoton, keras, berbisik, cadel, terpatah-patah, atau bergumam.

Persepsi :
Gangguan persepsi seperti halusinasi dan ilusi dapat dihayati pasien
terhadap diri dan lingkungannya. Gangguan persepsi melibatkan sistem
sensorik seperti auditorik, visual, olfaktorik, atau taktil, isi halusinasi atau ilusi
perlu digambarkan.

Pikiran:
Pikiran dapat dibagi menjadi proses dan isi pikir. Proses pikir
merupakan cara saat seseorang menyatukan semua ide-ide dan asosiasi-
asosiasi yang membentuk pemikiran seseorang. Pada proses pikir dapat
ditemukan adanya arus pikir yang cepat, yang secara ekstrim disebut flight of
ideas. Perhatikan apakah pasien sungguh-sungguh menjawab pertanyaan yang
disampaikan pemeriksa, apakah respons yang disampaikan pasien relevan atau
tidak. Sedangkan isi pikir merujuk kepada apa yang dipikirkan oleh seseorang
berupa ide, keyakinan, preokupasi, dan obsesi.

Sensorium dan Kognisi:


Bertujuan untuk menilai fungsi kognitif, orientasi, daya ingat,
kalkulasi, kemampuan membaca dan menulis, kemampuan visuospasial, dan
berbahasa. Gangguan kesadaran biasanya menunjukkan adanya gangguan otak
organik. Kesadaran berkabut merupakan penurunan kewaspadaan menyeluruh
terhadap lingkungan. Pasien yang mengalami perubahan kesadaran biasanya
ditandai dengan gangguan orientasi. Penilaian orientasi terhadap waktu,
tempat, dan orang. Dokter harus menentukan apakah pasien dapat
menyebutkan dengan tepat tanggal, waktu, dan hari. Penilaian terhadap tempat
dapat dinilai dari bagaimana mereka berperilaku dan mengetahui dimana
mereka berada. Penilaian terhadap orang dapat dinilai dengan menanyakan
nama-nama orang terdekat.
Gangguan konsentrasi dapat disebabkan oleh adanya gangguan fungsi
kognitif, ansietas, depresi, dan halusinasi auditorik. Selain itu seorang psikiatri
harus menguji kemampuan membaca dan menulis pasien dengan meminta
pasien menuliskan satu kalimat kemudian dibacakan. Pemeriksa juga harus
memperhatikan intelegensi pasien yang berhubungan dengan kosa kata dan
pengetahuan umum yang dimilikinya seperti nama presiden saat ini dan
informasi-informasi terkini.

Pengendalian Impuls :
Seorang dokter harus menilai kemampuan pasien untuk mengontrol
impuls seksual, agresi, dan impuls lainnya. Penilaian terhadap impuls
dilakukan untuk menilai apakah pasien berpotensi membahayakan diri dan
orang lain.

Daya Nilai dan Tilikan :


Selama wawancara psikiatrik berlangsung, pemeriksa perlu
memperhatikan kemampuan daya nilai sosial pasien. Apakah pasien dapat
memahami akibat dari perbuatan yang dilakukannya dan apakah
pemahamannya ini mempengaruhi dirinya. Selain itu dokter perlu menilai
pemahaman pasien terhadap penyakit yang dideritanya. Derajat tilikan terdiri
atas:
- tilikan derajat 1 menyangkal bahwa dirinya sakit
- tilikan derajat 2 Mengakui dan menyangkal bahwa dirinya sakit pada saat
yang bersamaan.
- tilikan derajat 3 menyalahkan orang lain/faktor eksternal sebagai
penyebab sakitnya
- tilikan derajat 4 sadar bahwa sakitnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak
diketahui dalam dirinya
- tilikan derajat 5 sadar bahwa dirinya sakit tetapi tidak bisa menerapkan
dalam mengatasinya (tilikan intelektual)
- tilikan derajat 6 sadar bahwa dirinya sakit dan sudah bisa menerapkannya
sampai kesembuhannya (tilikan emosional sejati)

Reliabilitas :
Pemeriksaan psikiatrik juga memperhatikan kesan pemeriksa terhadap
kemampuan pasien untuk dapat dipercaya dan bagaimana ia menyampaikan
peristiwa dan situasi yang terjadi secara akurat. Pemeriksa dapat menilai
kejujuran dan keadaan yang sebenarnya dari yang dikatakan pasien.
Setelah pemeriksa melakukan wawancara psikiatrik komprehensif,
pemeriksaan status mental, informasi yang didapat dirangkum dalam bentuk
laporan psikiatrik, dengan susunan sesuai standar riwayat psikiatrik dan status
mental. Setelah itu pemeriksa menyarankan pemeriksaan lebih lanjut bila
diperlukan dan membuat resume tentang penemuan yang bermakna dan tidak,
membuat diagnosa multiaksial sementara, membuat prognosis, bila perlu
membuat formulasi psikodinamik dan terakhir membuat rencana
penatalaksanaan.

17. Kesimpulan
Kasus Psikiatri ditegakkan bila mana terdapat gejala klinis yang nyata berupa
sindroma perilaku dan psikologi (terdapat gangguan fungsi kognitif, afektif dan
psikomotor), ditemukan kondisi penderitaan atau distress berupa rasa nyeri, tak
nyaman, disfungsi organ, dan lainnya serta timbulnya disabilitas dalam aktivitas
kehidupan sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk perawatan diri dan
kelangsungan hidup (mandi, berpakaian, makan, pekerjaan, social, dan lainnya).

Anamnesis, merupakan pemeriksaan yang terpenting dalam mendiagnosis


gangguan jiwa. Ada dua jenis anamnesis yaitu :
Alloanamnesis, merupakan anamnesis yang dilakukan kepada keluarga,
saudara atau teman dekat penderita dengan tujuan untuk mendapatkan
informasi tentang:
o Gejala gangguan jiwa saat ini,
o Riwayat gangguan jiwa sebelumnya,
o Riwayat perkembangan,
o Riwayat penyakit dalam keluarga (nuclear dan extended),
o Silsilah keluarga,
o Riwayat pribadi penderita, dan
o Stressor psikososial.
Autoanamnesis, menggali informasi, tanda dan gejala langsung kepada
penderita:
o Menggali gejala yang ada, karena penderita psikotik memiliki insight
yang buruk,
o Menggali stressor yang dialami bagi penderita non psikotik,
o Menggali riwayat kehidupan, pekerjaan dan informasi lainnya bagi
penderita non psikotik.