Anda di halaman 1dari 24

Laporan Kasus Ilmu Penyakit Mata

Katarak Matur

Disusun Oleh:
Jancolin Yani
2011.071.0029
UPH

Pembimbing:
dr. Naila Karima, Sp.M

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat
Periode 3 Januari 2017 4 Februari 2017
BAB I
STATUS PASIEN

I.1 Identitas Pasien


Nama : Tn. LTM
Umur : 76 tahun
Alamat : Gg Kembang Sepatu RT/RW007/007, Jakarta Pusat
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Tidak bekerja
Agama : Kristen Protestan
Tanggal periksa : 9 Januari 2017

I.2 Anamnesa Auto-anamnesis pada pukul 8.15 WIB di ruang operasi.


- Keluhan Utama : Penglihatan kedua mata buram sejak 8 bulan lalu, mata tidak
merah
- Riwayat Perjalanan Penyakit :
Pasien datang kepoliklinik mata RSPAD dengan keluhan kedua mata buram sejak
8 bulan SMRS. Penglihatan buram secara perlahan. Meskipun pasien memicingkan
matanya untuk melihat jauh, hal tersebut tidak memperbaiki penglihatannya. Pasien
juga merasakan penglihatan dekat yang kabur, namun membaik jika menggunakan
kacamata. Mata cepat lelah jika melihat cahaya dan sekitarnya. Keluhan pusing
karena memakai kacamata disangkal.
3 bulan SMRS, mata kiri pasien lebih terasa buram dibanding sebelah kanan
bahkan penglihatannya semakin hari semakin memburuk. Pasien merasakan seperti
melihat awan atau kabut pada kedua mata, namun lebih dirasakan pada mata sebelah
kiri. Pasien mengatakan sulit jika berada dalam keadaan gelap, namun saat melihat
lampu, terasa lebih silau. Karena hal inilah aktivitas pasien sehari-hari menjadi
terganggu.
Keluhan nyeri kepala hilang timbul dan sering menabrak saat berjalan disangkal
pasien. Tampak pelangi jika melihat sinar terang juga disangkal.

Riwayat darah tinggi juga disangkal pasien. Pasien mengalami penglihatan turun
secara perlahan dan penglihatannya sulit beradaptasi pada tempat yang gelap.
Riwayat kencing manis disangkal. Penglihatan warna tidak terganggu.

- Riwayat Penyakit Terdahulu :


Trauma Mata : tidak ada

- Riwayat Sosial : Pasien sehari-harinya sudah tidak bekerja


- Riwayat Penyakit Keluarga : tidak ada yang mengalami keluhan yang sama
sebelumnya

I.3 Pemeriksaan Fisik


Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHG
Nadi : 82 kali/menit
Suhu : 36,3oC
RR :20 kali/menit
Kepala : normocephali
Leher : KGB tidak membesar
Cor : BJ1 dan BJ2 murni regular, tidak ada gallop, murmur (+)
Pulmo : Suara napas vesikuler, tidak ada ronki dan wheezing
Abdomen : bentuk datar, supel tidak ada nyeri tekan, bising usus normal.
Ekstremitas : tidak ada edema, dan akral hangat
I.4 Pemeriksaan Fisik Khusus / Status Oftalmologi
KETERANGAN OD OS
1. VISUS
20/70 (0,3) pinhole tidak
Acquity visus 1/60
maju
Koreksi Tidak terkoreksi Tidak terkoreksi
Distansia Pupil 60/62 60/62

Addisi +3.00 +3.00


Kaca mata lama - -
2. KEDUDUKAN BOLA MATA
Eksoftalmus Tidak ada Tidak ada
Endoftalmus Tidak ada Tidak ada
Deviasi Tidak ada Tidak ada
Gerakan mata Baik kesegala arah Baik ke segala arah
3. SUPRA SILIA
Warna Hitam Hitam

Letak Simetris Simetris


4. PALPEBRA SUPERIOR DAN INFERIOR
Edema Tidak ada Tidak ada
Nyeri tekan Tidak ada Tidak ada
Ektropion Tidak ada Tidak ada
Entropion Tidak ada Tidak ada
Blefarospasme Tidak ada Tidak ada
Trikiasis Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Fisura palpebral Tidak ada Tidak ada
Hordeolum Tidak ada Tidak ada
Kalazion Tidak ada Tidak ada
Ptosis Tidak ada Tidak ada
5. KONJUNGTIVA TARSAL SUPERIOR DAN INFERIOR
Hiperemis Tidak ada Tidak ada
Folikel Tidak ada Tidak ada
Papil Tidak ada Tidak ada
Sikatriks Tidak ada Tidak ada
Anemia Tidak ada Tidak ada
Kemosis Tidak ada Tidak ada
6. KONJUNGTIVA BULBI
Injeksi konjungtiva Tidak ada Tidak ada
Injeksi siliar Tidak ada Tidak ada
Perdarahan sub-konjungtiva Tidak ada Tidak ada
Pterigium Tidak ada Tidak ada
Pinguekula Tidak ada Tidak ada
Nervus pigmentosus Tidak ada Tidak ada
7. SISTEM LAKRIMALIS
Punctum lakrimal Terbuka Terbuka
Tes Anel Tidak dilakukan Tidak dilakukan
8. SKLERA
Warna Putih Putih
Ikterik Tidak ada Tidak ada
9. KORNEA
Kejernihan Jernih Jernih
Permukaan Licin Licin
Ukuran 12 12
Sensibilitas Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Ilnfiltrat Tidak ada Tidak ada
Ulkus Tidak ada Tidak ada
Perforasi Tidak ada Tidak ada
Arkus senilis ada ada
Edema Tidak ada Tidak ada
Tes Plasido Lingkaran Konsentris Lingkaran Konsentris
10. BILIK MATA DEPAN
Kedalaman Dalam Dalam
Kejernihan Jernih Jernih
Hifema Tidak ada Tidak ada
Hipopion Tidak ada Tidak ada
Efek Tyndall Tidak dilakukan Tidak dilakukan
11. IRIS
Warna Coklat Coklat
Kripta Jelas Jelas
Bentuk Bulat Bulat
Sinekia Tidak Ada Tidak Ada
Koloboma Tidak Ada Tidak Ada
12. PUPIL
Letak Ditengah Ditengah
Bentuk Bulat Bulat
Ukuran 3 mm 3 mm
Refleks cahaya langung + +
Refleks cahaya tidak langsung + +
13. LENSA
Kejernihan Putih keabuan merata Putih keabuan merata
Letak Central Central
Shadow Test Negatif Negatif
14. BADAN KACA
Kejernihan Tak dapat dinilai Tak dapat dinilai
15. FUNDUS OKULI
Refleks fundus Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai
a. Papil
Batas Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai
Bentuk Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai
Warna Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai
CD ratio Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai
b. Arteri Vena Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai
c. Retina
Perdarahan Tidak ada Tidak ada
Sikatrik Tidak ada Tidak ada
Neovaskularisasi Tidak dapat dinilai Tidak dapat dinilai
16. PALPASI
Nyeri tekan Tidak Ada Tidak Ada
Massa tumor Tidak Ada Tidak Ada
Tensi digital Perpalpasi normal Perpalpasi normal
NCT 14.5 mmHg 15.2 mmHg
17. KAMPUS VISI
Tes konfrontasi Sama dengan pemeriksa Sulit dinilai

I.5 Resume
Pasien laki-laki 56 tahun, datang dengan keluhan penglihatan kedua mata buram sejak 8
bulan yang lalu, mata tidak merah. Keluhan ini dirasa perlahan-lahan semakin lama semakin
memburuk. Pasien mengaku penglihatan lebih buram di tempat gelap dan lebih silau saat
melihat cahaya. Pasien juga mengeluh pada kedua mata seperti melihat kabut atau asap dan
lebih terasa berat di mata sebelah kiri sejak 3 bulan SMRS. Riwayat nyeri kepala hilang
timbul, hipertensi, diabetes disangkal pasien.
Pemeriksaan mata di dapatkan adanya penurunan kedua visus, kedua bilik mata dalam,
terdapat kekeruhan merata di kedua lensa dengan Shadow Test (-). Tekanan bola mata kanan
dan kiri berada pada batas normal.

I.6 Diagnosis Kerja


- Katarak Senilis Matur OS
- Katarak Senilis Matur OD

I.7 Diagnosis Banding


- glaukoma kronik
- Retinopati Hipertensi
- Retinopati DM

I.8 Pemeriksaan Anjuran


- Biometri OS
- Pemeriksaan laboratorium ; darah lengkap, GDS
- EKG
I.9 Penatalaksanaan
Non medikamentosa : edukasi penyakit katarak kepada pasien
OD : pro Operasi Extra-Capsular Cataract Extraction (ECCE)/fakoemulsifikasi + IOL
OS : pro Operasi Extra-Capsular Cataract Extraction (ECCE)/fakoemulsifikasi + IOL
I.10 Prognosis
OD OS

Ad vitam : Dubia ad bonam dubia ad bonam


Ad fungsionam : Dubia ad bonam dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam dubia ad bonam
TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI DAN FISIOLOGI LENSA

Lensa merupakan jaringan yang berasal dari ektoderm permukaan yang berbentuk lensa
di dalam mata dan bersifat bening. Lensa di dalam bola mata terletak di belakang iris yang terdiri
dari zat tembus cahaya berbentuk seperti cakram yang dapat menebal dan menipis pada saat
terjadinya akomodasi. Lensa berbentuk lempeng cakram bikonveks dan terletak di dalam bilik
mata belakang. Di belakang iris, lensa terfiksasi pada serat zonula yang berasal dari badan siliar.
Serat zonula tersebut menempel dan menyatu dengan lensa pada bagian anterior dan posterior
dari kapsul lensa. Kapsul merupakan membran dasar yang melindungi nukleus, korteks, dan
epitel lensa. Permukaan anterior dan posterior lensa memiliki beda kelengkungan, dimana
permukaan anterior lensa lebih melengkung dibandingkan bagian posterior. Kedua permukaan
ini bertemu di bagian ekuator. Dengan bertambahnya usia, kemampuan akomodasi lensa akan
berkurang, sehingga kekuatan lensa pun akan menurun.1,5

Struktur lensa terdiri dari :

1. Kapsul lensa
Kapsul lensa merupakan membran dasar yang transparan. Kapsul lensa tersusun dari kolagen
tipe-IV yang berasal dari sel-sel epitel lensa. Kapsul berfungsi untuk mempertahankan
bentuk lensa saat akomodasi. Kapsul lensa paling tebal pada bagian anterior dan posterior
zona preekuator (14 um,) dan paling tipis pada bagian tengah kutub posterior (3um).3,5

2. Epitel anterior
Epitel anterior lensa dapat ditemukan tepat dibelakang kapsul anterior. Merupakan selapis sel
kuboid yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lensa dan regenerasi serat lensa. Epitel
lensa akan membentuk serat lensa terus menerus sehingga mengakibatkan memadatnya serat
lensa dibagian sentral lensa sehingga membentuk nukleus lensa.3,5

3. Serat lensa
Serat lensa merupakan hasil dari proliferasi epitel anterior. Serat lensa yang matur adalah
serat lensa yang telah kehilangan nucleus, dan membentuk korteks dari lensa. Serat-serat
yang sudah tua akan terdesak oleh serat lensa yang baru dibentuk ke tengah lensa.3,5

4. Ligamentum suspensorium (Zonulla zinnii)

Secara kasar, ligamentun suspensorium merupakan tempat tergantungnya lensa, sehingga


lensa terfiksasi di dalam mata. Ligamentum suspensorium menempel pada lensa di bagian
anterior dan posterior kapsul lensa. Ligamentum suspensorium merupakan panjangan dari
corpus silliaris.3,5

Gambar 2. Anatomi Lensa

Secara fisiologik lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu:1

- Kenyal atau lentur, memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung.
Akomodasi lensa merupakan mekanisme yang dilakukan oleh mata untuk mengubah fokus
dari benda jauh ke benda dekat yang bertujuan untuk menempatkan bayangan yang terbentuk
tepat jatuh di retina. Akomodasi terjadi akubat perubahan lensa oleh badan silluar terhadap
serat zonula. Saat m. cilliaris berkontraksi, serat zonular akan mengalami relaksasi sehingga
lensa menjadi lebih cembung dan mengakibatkan daya akomodasi semakin kuat. Terjadinya
akomodasi dipersarafi ole saraf simpatik cabang nervus III. Pada penuaan, kemampuan
akomodasi akan berkurang secara klinis oleh karena terjadinya kekakuan pada nukelus.
- Jernih atau transparan, diperlukan sebagai media penglihatan
- Terletak ditempatnya (terfiksasi)

Fisiologi Lensa
Mata dapat mengubah fokusnya dari objek jarak jauh ke jarak dekat karena kemampuan
lensa untuk mengubah bentuknya, suatu fenomena yang dikenal sebagai akomodasi.
Elastisitasnya yang alami memungkinkan lensa untuk menjadi cembung atau kurang bulat
(sferis), tergantung besarnya tegangan serat-serat zonula pada kapsul lensa. Tegangan zonula
dikendalikan oleh aktivitas musculus ciliaris, yang bila berkontraksi akan mengendurkan te-
gangan zonula. Dengan demikian, lensa menjadi lebih bulat dan dihasilkan daya dioptri yang
lebih kuat untuk memfokuskan objek-objek yang lebih dekat. Relaksasi musculus ciliaris akan
menghasilkan kebalikan rentetan peristiwa-peristiwa tersebut, membuat lensa mendatar dan
memungkinkan objek-objek jauh terfokus. Dengan bertambahnya usia, daya akomodasi lensa
akan berkurang secara perlahan-lahan seiring dengan penurunan elastisitasnya.1

KATARAK

Definisi
Katarak merupakan abnormalitas pada lensa mata berupa kekeruhan lensa yang
menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Katarak lebih sering dijumpai pada
orang tua, dan merupakan penyebab kebutaan nomor 1 di seluruh dunia. Kata katarak berasal
dari Yunani katarraktes yang berarti air terjun. Katarak sendiri sebenarnya merupakan
kekeruhan pada lensa akibat hidrasi atau denaturasi protein sehingga memberikan gambaran
area berawan atau putih.1,3

Klasifikasi
Katarak diklasifikasikan berdasarkan beberapa parameter, seperti usia, saat munculan dan
tempat terjadinya. Klasifikasi tersebut dijabarkan sebagai berikut.4
Klasifikasi katarak berdasarkan usia:4
1. Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun.
2. Katarak juvenile, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun.
3. Katarak senile, katarak setelah usia 50 tahun.

Ada juga yang mengklasifikasikan katarak menjadi katarak kongenital dan akuisita.
Klasifikasi katarak akuisita :1,5
1. Katarak terkait usia
- Katarak subkapsular
Katarak ini bisa terjadi di subkapsular anterior dan posterior. Katarak ini termasuk
katarak imatur dan pemeriksaannya menggunakan slitlamp.5
- Katarak nuklearis
Katarak nuklearis cenderung progresif perlahan-lahan, dan secara khas
mengakibatkan gangguan penglihatan jauh yang lebih besar daripada penglihatan dekat.
Pada awal terjadinya katarak nuklearis, sering terjadi miopisasi: pandangan jauh tiba-tiba
kabur, dengan koreksi sferis -5 sampai dengan -6 D. Semakin lama semakin besar koreksi
yang diperlukan. Miopisasi ini terjadi karena pada katarak nuklearis nucleus mengeras
secara progresif, sehingga mengkibatkan naiknya indeks refraksi.
Pada beberapa kasus, justru miopisasi mengakibatkan penderita presbiopia mampu
membaca dekat tanpa harus menggunakan kacamata, kondisi ini disebut second sight.
Perubahan mendadak indeks refraksi antara nukleus sklerotik dan korteks lensa dapat
mengakibatkan diplopia monocular. Kekuningan lensa progresif yang dijumpai pada katarak
nuklearis mengakibatkan penderita sulit membedakan corak warna.5

2. Katarak kortikal
Biasanya terjadi bilateral namun dapat juga asimetris dan berpengaruh terhadap
fungsi visual tergantung lokasi kekeruhan terhadap aksis. Keluhan yang paling sering
dijumpai pada katarak kortikal yaitu silau jika melihat ke sumber cahaya. Pemeriksaan
slitlamp biomikroskop berfungsi untuk melihat ada tidaknya vakuola degenerasi hidropik
yang merupakan degenerasi epitel posterior, dan menyebabkan lensa elongasi ke anterior.
Gambaran seperti embun.6
3. Katarak Pohon Natal
Ada gambaran huruf Y atau salib. Biasa ditemukan pada kekeruhan polikromatik
distrofi miotonik. Penyebab lainnya yaitu diabetes mellitus dan dermatitis atopic. Pada 2%
dermatitis atopic didapatkan katarak. Katarak disebabkan oleh penggunaan kortikosteroid
jangka panjang (>6 bulan) dan terus menerus untuk pengobatan dermatitis.5

4. Katarak traumatik
Katarak traumatik sering disebabkan oleh trauma benda asing pada lensa atau trauma
tumpul pada bola mata, kena tinju, ionisasi radiasi (radiasi inframerah, UV 290-320 nm,
serta radiasi gelombang mikro), tersengat listrik, sinar, dll. Lensa menjadi putih segera
setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus
dan kadang-kadang vitreus masuk ke dalam struktur lensa. Pasien sering kali adalah seorang
pekerja industri yang pekerjaannya memukulkan baja ke baja lain. Sebagai contoh, potongan
kecil palu baja dapat menembus kornea dan lensa dengan kecepatan yang sangat tinggi lalu
tersangkut di vitreus atau retina. 1,5
Katarak yang disebabkan oleh rudapaksa dapat berbentuk vossius ring yang
merupakan indicator adanya trauma tumpul, stelata/roset, kadang berada di aksial dan
melibatkan kapsul posterior. 1
5. Katarak sekunder akibat penyakit intraocular (Katarak Komplikata)
Katarak dapat terbentuk akibat efek langsung penyakit intraokular yang
mempengaruhi fisiologi lensa (mis., uveitis rekuren yang parah). Katarak biasanya berawal
di daerah subkapsular posterior dan akhirnya mengenai seluruh struktur lensa. Penyakit-
penyakit intraokular yang sering berkaitan dengan pembentukan katarak adalah uveitis
kronik atau rekuren, glaukoma, retinitis pigmentosa, dan ablatio retinae. Katarak-katarak ini
biasanya unilateral. Prognosis visual tidak sebaik katarak terkait-usia biasa.1
6. Katarak akibat penyakit sistemik: Katarak bilateral dapat terjadi karena berbagai
gangguan sistemik berikut ini: diabetes mellitus, hipokalsemia (oleh sebab apapun),
distrofi miotonik, dermatitis atopik, galaktosemia, dan sindroma Lowe, Wetner, serta
Down. 1
7. Katarak Terinduksi Obat: Kortikosteroid yang diberikan dalam waktu yang lama, baik
secara sistemik maupun dalam bentuk obat tetes, dapat menyebabkan kekeruhan lensa,
terutama katarak posterior kapsular. Obat-obat lain yang diduga menyebabkan katarak,
antara lain: phenotiazine, amiodarone, dan obat tetes miotik kuat/kerja panjang, seperti
phospholine iodide, klorpromazin, busulfan.1,6
8. Katarak Ikutan (Membran Sekunder): Katarak-ikutan merupakan kekeruhan kapsul
posterior yang terjadi setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular. Epitel lensa subkapsular
yang tersisa mungkin menginduksi regenerasi serat-serat lensa, memberikan gambaran
"telur ikan" pada kapsul posterior (mutiara Elschnig). Lapisan epitel yang berproliferasi
tersebut dapat membentuk banyak lapisan dan menimbulkan kekeruhan yang jelas. Sel-
sel ini mungkin juga mengalami diferensiasi miofibroblastik. Kontraksi serat-serat
tersebut menimbulkan banyak kerutan kecil di kapsul posterior,yang menimbulkan
distorsi penglihatan. Semua faktor ini dapat menyebabkan penurunan ketajaman
penglihatan setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular.1

1. Katarak Insipien
Stadium yang paling dini, yang belum menimbulkan gangguan visus. Dengan koreksi
visus masih dapat 5/5 5/6. Kekeruhan terutama terdapat pada bagian perifer berupa bercak-
bercak seperti jari-jari roda, terutama mengenai korteks anterior, sedang aksis relatif masih
jernih. Gambaran inilah yang disebut spokes of a wheel, yang nyata bila pupil dilebarkan. Pada
stadium yang lanjut, gambaran baji dapat dilihat pada pupil yang normal.2
Pada katarak stadium insipien terjadi kekeruhan mulai dari tepi ekuator menuju korteks
anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks. Pada katarak
subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk
antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak
insipien.
Kekeruhan ini dapat menimbulkan polipia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama
pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama. 4
Gambar 1. Katarak Insipien
2. Katarak Imatur
Katarak imatur memiliki sebagian protein transparan. Pada katarak senilis stadium imatur
sebagian lensa keruh atau katarak yang belum mengenai seluruh lapis lensa. Kekeruhan itu
terutama terdapat dibagian posterior dan bagian belakang nucleus lensa. Kalau tidak ada
kekeruhan di lensa, maka sinar dapat masuk ke dalam mata tanpa ada yang dipantulkan. Oleh
karena kekeruhan di bagian posterior lensa, maka sinar oblik yang mengenai bagian yang keruh
ini, akan dipantulkan lagi, sehingga pada pemeriksaan terlihat daerah terang di pupil sebagai
refleks pemantulan cahaya pada daerah lensa yang keruh dan di daerah yang gelap akibat
bayangan iris pada bagian lensa yang keruh. Keadaan ini disebut shadow test (+).1,2
Pada stadium ini mungkin terjadi hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa menjadi
cembung, sehingga indeks refraksi berubah karena daya biasnya bertambah dan mata menjadi
myopia. Keadaan tersebut dinamakan intumesensi. Dengan mencembungnya lensa iris terdorong
ke depan, menyebabkan sudut bilik mata depan menjadi lebih sempit, sehingga dapat
menimbulkan glaucoma sebagai penyulitnya.2
Pada katarak intumesen jika dilakukan pemeriksaan slitlamp, maka akan terlihat vakuol
pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa.4
Terdapat 2 bentuk secara morfologis:6
1. Katarak kuneiformis: Kekeruhan berbentuk baji / wedge tampak pada korteks perifer
dan progresif menuju nucleus. Penglihatan lebih buruk pada kegelapan saat pupil berdilatasi.
2. Katarak kupuliformis: Kekeruhan berbentuk diskus atau piring terbang pada area
korteks kapsul posterior. Kekeruhan berada di sentral, penglihatan buruk pada daerah yang
terang ketika terjadi konstriksi pupil.
Gambar 2. Katarak Imatur
3. Katarak Matur
Pada katarak senilis stadium matur kekeruhan telah mengenai seluruh massa lensa.
Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Pada stadium matur, terjadi
pengeluaran air, sehingga lensa akan berukuran normal kembali. Sudut bilik depan normal
kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.
Kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. Di pupil tampak
lensa yang seperti mutiara. Shadow test membedakan stadium matur dari imatur dengan syarat
harus diperiksa lebih lanjut dengan midriatika, oleh karena pada katarak polaris anterior juga
terdapat shadow test yang negatif. 4

Gambar 3. Katarak Matur


4. Katarak Hipermatur
Pada katarak stadium hipermatur terjadi proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras
atau lembek dan mencair. Massa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa sehingga
lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam
dan lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan
zonula Zinn menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang
tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan
memperlihatkan bentuk sebagai sekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam
korteks lensa karena lebih berat. Keadaan ini disebut sebagai katarak Morgagni.
Katarak brunesen adalah katarak berwarna coklat sampai hitam (katarak nigra) terutama
pada nucleus lensa, juga dapat terjadi pada katarak pasien diabetes melitus dan myopia tinggi.4

Gambar 4. Katarak Morgagni

Tabel 1. Perbedaan Stadium Katarak4


Insipien Imatur Matur Hipermatur
Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif
Cairan lensa Normal Bertambah Normal Berkurang (air
(air masuk) keluar) Manifes

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans tasi

Bilik mata depan Normal Dangkal Normal Dalam Klinis

Sudut bilik mata Normal Sempit Normal Terbuka K

Shadow test - + - Pseudopositif atarak


didiagno
Penyulit - Glaukoma - Uveitis +
sa
Glaukoma
melalui
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang lengkap. Keluhan yang
membawa pasien datang antara lain:6
1. Pandangan kabur
Kekeruhan lensa mengakibatkan penurunan penglihatan yang progresif atau berangsur-
angsur dan tanpa nyeri, serta tidak mengalami kemajuan dengan pin hole. Pada katarak
imatur, seorang akan memiliki visus sekitar 5/60 sampai dengan 1/60. Jika sudah matur akan
menjadi 1/300.
2. Penglihatan silau/Glare
Ketika pasien melihat sumber cahaya terang yang putih dan berwarna akan menurunkan
ketajaman penglihatan. Sehingga akan mengganggu saat mengendarai mobil di malam hari.
Katarak subkapsular posterior (cupuliform) terutama menyebabkan glare.
3. Miopisasi
Perkembangan katarak ada awalnya dapat meningkatkan kekuatan dioprtri lensa, biasanya
menyebabkan derajat myopia yang ringan hingga sedang. Ketergantungan pasien presbiopia
pada kaca mata bacanya akan berkurang karena pasien ini mengalami penglihatan kedua.
Namun setelah sekian waktu bersamaan dengan memburuknya kualitas lensa rasa nyaman
ini berlangsung menghilang dan diikuti dengan terjadinya katarak sklerotik nuclear.
Perkembangan miopisasi yang asimetris pada kedua mata akan menyebabkan anisometropia
yang tidak dapat dikoreksi lagi dan cendrung diatasi dengan ektraksi katarak.
4. Variasi diurnal penglihatan
Pada katarak sentral (cupuliform) kadang-kadang penderita mengeluhkan penglihatan
menurun ada siang hari dan membaik saat matahari terbenam. Sementara kebalikan pada
katarak kortikal perifer (cuneiform) yang memiliki penglihatan lebih baik pada sinar terang
dibanding pada sinar redup.
5. Distorsi
Katarak dapat menimbulkan keluhan benda bersudut tajam menjadi tampak tumpul atau
bergelombang (metamorfopsia).
6. Halo
Penderita dapat mengeluh adanya lingkaran berwarna pelangi yang terlihat disekeliling
sumber cahaya terang, yang harus dibedakan dengan halo pada penderita glukoma. Hal ini
dapat dibedakan dengan tes Fincham dimana stenopic slit dilewatkan pada mata pasien
ketika ia melihat sumber cahaya. Halo akan tampak pada katarak (lentikular) seperti kipas
angin yang berputar atau terputus-putus menjadi beberapa segmen, sementara pada
glaucoma (corneal) halo tidak terputus.
7. Diplopia / poliopia
Gambaran ganda dapat terbentuk pada retina akibat refraksi ireguler dari lensa yang keruh,
menimbulkan diplopia monokuler, yang dibedakan dengan diplopia binokuler dengan cover
test dan pin hole.
8. Perubahan persepsi warna
Perubahan inti nucleus menjadi kekuningan menyebabkan perubahan persepsi warna yang
akan digambarkan menjadi lebih kekuningan atau kecoklatan dibanding warna sebenarnya.

Diagnosis
Diagnosis katarak senilis dibuat berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Pemeriksaan laboratorium preoperasi dilakukan untuk mendeteksi adanya penyakit-penyakit
yang menyertai (contoh: diabetes melitus, hipertensi, cardiac anomalies). Penyakit seperti
diabetes militus dapat menyebabkan perdarahan perioperatif sehingga perlu dideteksi secara dini
sehingga bisa dikontrol sebelum operasi (Ocampo, 2009).
Pada pasien katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan visus untuk mengetahui
kemampuan melihat pasien. Visus pasien dengan katarak subkapsuler posterior dapat membaik
dengan dilatasi pupil.
Pada pemeriksaan slit lamp biasanya dijumpai keadaan palpebra, konjungtiva, dan kornea
dalam keadaan normal. Iris, pupil, dan COA terlihat normal. Pada lensa pasien katarak,
didapatkan lensa keruh. Lalu, dilakukan pemeriksaan shadow test untuk menentukan stadium
pada penyakit katarak senilis. Ada juga pemeriksaan-pemeriksaan lainnya seperti biomikroskopi,
stereoscopic fundus examination, pemeriksaan lapang pandang dan pengukuran TIO.
Oftalmoskop direk :
- Normal : refleks fundus merah didalam pupil
- Katarak : sulit atau tidak terlihat sama sekali seiring kepadatan kekeruhan lensa
Tatalaksana

Non Bedah
Tatalaksana non bedah hanya efektif dalam memperbaiki fungsi visual untuk sementara
waktu. Disamping itu, walaupun banyak penelitian mengenai tatalaksana medikamentosa bagi
penderita katarak, hingga saat ini belum ditemukan obat-obatan yang terbukti mampu
memperlambat atau menghilangkan pembentukkan katarak pada manusia. Beberapa agen yang
mungkin dapat memperlambat pertubuhan katarak adalah penurun kadar sorbitol, pemberian
aspirin, antioksidan vitamin C dan E. 6
Bedah
Ada dua teknik pembedahan katarak, menurut Vaughan yaitu: 1
1. Intra-Capsular Cataract Extraction (ICCE)
Mengeluarkan lensa secara bersama-sama dengan kapsul lensa. Ekstraksi jenis ini
merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada katarak senil. Lensa beserta
kapsulnya dikeluarkan dengan memutus zonula Zinn yang telah mengalami degenerasi.
Pengambilan lensa dilakukan secara in toto sebagai satu potongan utuh, dimana nukleus
dan korteks diangkat didalam kapsul lensa dengan menyisakan vitreus dan membrana
Hyaloidea. Kapsula posterior juga diangkat sehingga IOL tidak dapat diletakkan di bilik
mata posterior. IOL dapat diletakkan di bilik mata anterior dengan risiko infeksi kornea.
Selain itu tidak ada lagi batasan antara segmen anterior dan posterior yang dapat
meningkatkan kemungkinan komplikasi lainnya seperti vitreus loss, cystoid macular
edema, dan endophtalmitis. Teknik ini digunakan dalam kasus tertentu antara lain bila
terjadi subluksasio lensa atau dislokasi lensa.
2. Extra-Capsular Cataract Extraction (ECCE)
Nukleus dan korteks diangkat dari kapsul dan menyisakan kapsula posterior yang utuh,
bagian perifer dari kapsula anterior, dan zonula zein. Teknik ini selain menyediakan
lokasi untuk menempatkan intra ocular lens (IOL), juga dapat dilakukan pencegahan
prolaps vitreus dan sebagai pembatas antara segmen anteror dan posterior. Sebagai
hasilnya, teknik ECCE dapat menurunkan kemungkinan timbulnya komplikasi seperti
vitreusloss, edema kornea.
3. Fakoemulsifikasi
Fakoemulsifikasi merupakan bentuk EKEK yang terbaru dimana menggunakan getaran
ultrasonik untuk menghancurkan nukleus sehingga material nukleus dan kortek dapat
diaspirasi melalui insisi 3 mm. Teknik operasi ini tidak berbeda jauh dengan cara
ECCE, tetapi nucleus lensa diambil dengan menggunakan gelombang suara berfrekuensi
tinggi (emulsifier). Dibanding ECCE, maka irisan luka operasi lebih kecil sehingga
setelah diberi IOL rehabilitasi visus lebih cepat, di samping itu penyulit pascabedah lebih
sedikit ditemukan.

4. Small Incision Cataract Surgery (SICS)


Adalah modifikasi dari ekstraksi katarak ekstrakapsular merupakan salah satu teknik
pilihan yang dipakai dalam operasi katarak dengan penanaman lensa intraokuler. Teknik
ini lebih menjanjikan dengan insisi konvensional karena penyembuhan luka yang lebih
cepat, astigmatisme yang rendah, dan tajam penglihatan tanpa koreksi yang lebih baik.

Komplikasi Pembedahan7
1. Komplikasi Intra Operatif
Edema kornea, COA dangkal, ruptur kapsul posterior, pendarahan atau efusi suprakoroid,
pendarahan suprakoroid ekspulsif, disrupsi vitreus, incacerata kedalam luka serta retinal
light toxicity.
2. Komplikasi dini pasca operatif
a. COA dangkal karena kebocoran luka dan tidak seimbangnya antara cairan yang keluar
dan masuk, adanya pelepasan koroid, block pupil dan siliar, edema stroma dan epitel,
hipotonus, brown-McLean syndrome (edema kornea perifer dengan daerah sentral
yang bersih paling sering)
b. Ruptur kapsul posterior, yang mengakibatkan prolaps vitreus
c. Prolaps iris, umumnya disebabkan karena penjahitan luka insisi yang tidak adekuat
yang dapat menimbulkan komplikasi seperti penyembuhan luka yang tidak sempurna,
astigmatismus, uveitis anterior kronik dan endoftalmitis.
d. Pendarahan, yang biasa terjadi bila iris robek saat melakukan insisi.
3. Komplikasi lambat pasca operatif
a. Ablasio retina
b. Endoftalmitis kronik yang timbul karena organissme dengan virulensi rendah yang
terperangkap dalam kantong kapsuler
c. Post kapsul kapacity, yang terjadi karena kapsul posterior lemah Malformasi lensa
intraokuler, jarang terjadi.

Analisa Kasus
Pasien laki-laki 76 tahun, datang dengan keluhan penglihatan kedua mata buram sejak 8
bulan yang lalu, mata tidak merah. Keluhan ini dirasa perlahan-lahan semakin lama semakin
memburuk. Pasien mengatakan penglihatan lebih buram di tempat gelap dan lebih silau saat
melihat cahaya. Hal ini mengganggu aktivitas pasien sehari-hari

Pasien mengeluhkan buram saat melihat jauh, memicingkan matanya saat melihat tidak
memperbaiki penglihatannya, hal tersebut menyingkirkan gejala miopia. Penglihatan dekat juga
buram namun sudah terkoreksi dengan kacamata, tidak ada pandangan ganda, tidak juling, Mata
yang cepat lelah, berair, terasa pedas, dan sering sakit kepala disangkal. Nyeri kepala hilang
timbul dan lapang pandang tidak menyempit disangkal, menyingkirkan diagnosa glaukoma. Sulit
melihat di tempat gelap diakui, namun penglihatan warna tidak terganggu, menyingkirkan
diagnosa retinitis pigmentosa. Selain itu dari hasil pemeriksaan fisik, juga dapat menyingkirkan
diagnosa banding yang ada.
Pasien juga mengeluh pada kedua mata seperti melihat kabut atau asap dan lebih terasa
berat di mata sebelah kiri sejak 3 bulan SMRS. hal ini memperkuat diagnosis katarak senilis,
ditambah lagi usia pasien yang lebih dari 50 tahun juga merupakan faktor penting untuk
mendiagnosa katarak senilis.
Pada pemeriksaan fisik, visus OD 20/70, pinhole tidak membaik. Visus OS 1/60. Lensa
OD dan lensa OS tampak putih merata, kekeruhan seluruhnya, tidak dapat dilakukan
pemeriksaan funduskopi. Pemeriksaan shadow test OD dan OS didapatkan hasil negatif. Pada
pemeriksaan opthalmologi, tidak ditemukan adanya hiperemi pada konjungtiva serta rasa nyeri
pada mata (-). Pada pemeriksaan tekanan kedua bola mata masih dalam batas normal.
Dapat disimpulkan dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik, didapatkan diagnosis yang
sesuai adalah katarak senilis matur OS dan OD.
Usulan pemeriksaan yang dilakukan pada pasien ini adalah pemeriksaan biometri
sebelum tindakan operasi untuk mengukur kekuatan lensa tanam serta integritas kornea.
Pemeriksaan laboratorium, dan EKG sebagai pemeriksaan pre-operatif.
Penatalaksanaan pada katarak matur adalah Ekstraksi lensa dapat dilakukan dengan
metode EKEK dan fakoemulsifikasi, dengan cara menganti lensa yang telah keruh dengan lensa
yang baru yaitu dengan cara membelah bagian anterior dari kapsul lensa dengan sayatan kecil,
kemudian dikeluarkan kapsul dan nukleus dan menyisakan kapsul posterior. Kemudian akan
dimasukkan intraocular lens. Masa penyembuhan akan lebih cepat dibanding operasi EKEK biasa
mengingat sayatan yang dibuat tidak besar. Sementara mata kanan dapat dikoreksi dengan kacamata.
Prognosis pada kedua mata pasien ini baik karena penglihatan dapat kembali lebih jelas setelah
melakukan operasi katarak.

Daftar Pustaka

1. Eva PR, Whitcher JP. Oftalmologi umum Vaughan & Asbury. Edisi 17. Jakarta: Widya
Medika; 2010. h.169-78.
2. Wijana N. Ilmu penyakit mata, Cetakan ke-6. Jakarta: Penerbit Abadi Tegal; 1993. h.
190-200.
3. Kementrian kesehatan RI. Katarak sebabkan 50% kebutaan. 9 Januari 2016 [ dikutip 21
Maret 2016]. Diunduh dari http://www.depkes.go.id/article/view/16011100003/katarak-
sebabkan-50-kebutaan.html#sthash.ZWw9pyzl.dpuf
4. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata Edisi 4. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2013. h.204-16.
5. Scanlon VC, Sanders T. Indra. In. : Komalasari R, Subekti NB, Hani A, editors. Buku
Ajar Anatomi dan Fisiologi. 3rd ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2007
6. Suhardjo, Hartono. Ilmu kesehatan mata. Edisi pertama. Yogyakarta: Bagian ilmu
penyakit mata FK UGM; 2007. h.87-100.
7. Dhawan S. Lens and cataract. 3 Maret 2005 [dikutip 21 Maret 2016]. Diunduh dari
http://sdhawan.com/ophthalmology/lens.html