Anda di halaman 1dari 17

PENGENALAN

Sesungguhnya al -Quran itu selain merupakan wahyu, juga merupakan bagian


kehidupan umat yang dapat membukakan mata hati dalam diri setiap insan. Firman Allah
tersebut sudah dipandang sebagai kehidupan itu sendiri dan tidak semata-mata kitab biasa.
Layaknya sebuah kehidupan, untuk dapat memahaminya biasanya diperlukan alat bantu yang
kadang kala tidak sedikit. Pada masa-masa permulaan turunnya, Al-Quran lebih banyak dihafal
dan difahami oleh para sahabat nabi SAW. Sehingga kemudian tidak ada alternatif lain bagi para
sahabat kecuali berupaya menulisnya. Apabila tidak dituliskan, maka mutiara yang bernilai
demikian luhur dikhawatirkan akan bercampur dengan hal-hal lain yang tidak diperlukan.
Sehingga, firman Ilahi yang mengiringi kehidupan umat Islam (dan juga seluruh umat manusia)
telah tersedia dalam bentuk tertulis, bahkan berbentuk sebuah kitab. Oleh sebab itu, tidak dapat
dihindari jika kemudian berkembang ilmu pengetahuan tentang Al-Quran yang tidak lain
tujuannya untuk mempermudah dalam memahaminya. Salah satu ilmu pengetahuan tentang
Alquran adalah ilmu muhkam dan mutasyabih, biasa diartikan sebagai ilmu yang menerangkan
tentang ayat-ayat muhkamat dan mutasyabihat.

Justeru Muhkam berasal dari kata Ihkam, yang berarti kekukuhan, kesempurnaan,
keseksamaan, dan pencegahan. Sedangkan secara terminologi, Muhkam berarti ayat-ayat yang
jelas maknanya, dan tidak memerlukan keterangan dari ayat-ayat lain. Contoh: Surat Al-Baqarah
ayat 83, yang ertinya: Dan (ingatlah) tatkala Kami membuat janji dengan Bani Israil, supaya
jangan mereka menyembah melainkan kepada Allah, dan terhadap kedua Ibu Bapak hendaklah
berbuat baik, dan (juga) kepada kerabat dekat, dan anak-anak yatim dan orang orang miskin , dan
hendaklah mengucapkan perkataan yang baik kepada manusia, dan dirikanlah sholat dan
keluarkanlah zakat. Kemudian, berpaling kamu , kecuali sedikit, padahal kamu tidak
memperdulikan.

Kata Mutasyabih berasal dari kata tasyabuh, yang secara bahasa berarti keserupaan dan
kesamaan yang biasanya membawa kepada kesamaran antara dua hal. Tasyabaha, Isytabaha
sama dengan Asybaha (mirip, serupa, sama) satu dengan yang lain sehingga menjadi kabur,
tercampur. Sedangkan secara terminoligi Mutasyabih berarti ayat-ayat yang belum jelas
maksudnya, dan mempunyai banyak kemungkinan takwilnya, atau maknanya yang tersembunyi,
dan memerlukan keterangan tertentu, atau hanya Allah yang mengetahuinya. Contoh: Surat
Thoha ayat 5, yang Artinya: (Allah) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arasy. [1]

Selain itu ,m enurut kelompok Ahli ssunnah, ayat-ayat muhkam adalah ayat yang
maksudnya dapat diketahui dengan melihat , baik melaui takwil (metafora) ataupun tidak.
Sementara itu, ayat-ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang maksudnya hanya dapat diketahui
Allah, seperti saat kedatangan Hari Kiamat, keluarnya Dajjal, dan arti huruf-huruf muqaththaah.

Walaubagaimanapun Menurut Al- Mawardi, ayat-ayat muhkam adalah yang maknanya


dapat dipahami akal, seperti ayat-ayat mutasyabih adalah sebaliknya.

Dan Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang maksudnya segera dapat diketahui tanpa
penakwilan, sedangkan ayat-ayat mutasyabih memerlukan penakwilan untuk mengetahui
maksudnya,Ayat-ayat muhkam adalah ayat yang berbicara tentang kefarduan, ancaman, dan
janji, sedangkan ayat-ayat mutasyabih berbicara tentang kisah-kisah dan perumpamaan.

Tegas dapat dikatakan bahwa asal mula adanya ayat-ayat muhkamah dan mutasyabihat
ialah dari Allah SWT. Allah SWT memisahkan atau membedakan ayat-ayat yang muhkam dari
yang mutasyabih, dan menjadikan ayat muhkam sebagai bandingan ayat yang mutasyabihat.
Allah SWT berfirman:

(: )

ertinya: Dia-lah yang telah menurunkan Al-Kitab (Alquran) kepada kamu. Di antara
(isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Alquran, dan yang lain ayat-ayat
mutasyabihat. (Q. S. Ali Imron: 7)

Dari ayat tersebut, jelas Allah SWT menjelaskan bahwa Dia menurunkan Alquran itu
ayat-ayatnya ada yang muhkamat dan ada yang mutasyabihat. Menurut kebanyakan ulama, sebab
adanya ayat-ayat muhkamat itu sudah jelas, yakni sebagaimana sudah ditegaskan dalam ayat 7
surah Ali Imran di atas. Di samping itu, Al Quran merupakan kitab yang muhkam, seperti
keterangan ayat 1 surah Hud:

(: )

ertinya: Suatu Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi.

Juga karena kebanyakan tertib dan susunan ayat-ayat Alquran itu rapi dan urut, sehingga
dapat dipahami umat dengan mudah, tidak menyulitkan dan tidak samar artinya, disebabkan
kebanyakan maknanya juga mudah dicerna akal pikiran. Tetapi sebab adanya ayat-ayat
mutasyabihat dalam Alquran ialah karena adanya kesamaran maksud syarak dalam ayat-ayat-
Nya sehingga sulit dipahami umat, tanpa dikatakan dengan arti ayat lain, disebabkan karena bisa
ditawilkan dengan bermacam-macam dan petunjuknya pun tidak tegas, karena sebagian besar
merupakan hal-hal yang pengetahuannya hanya dimonopoli oleh Allah SWT.[3]

Sebab-Sebab Terjadinya Tasyabuh dalam Al Quran

Menurut Imam Ar-Raghib Al- Asfihani dalam kitabnya Mufradatil Quran


menyatakan bahwa sebab adanya tasyabuh (kesamaran) dalam Alquran itu pada garis besarnya
ada 3 perkara, sebagai berikut, Kesamaran dari aspek lafal saja. Kesamaran ini ada dua macam,
sebagai berikut Kesamaran dari aspek lafal mufradnya, karena terdiri dari lafal yang gharib
(asing), atau yang musyatarak (bermakna ganda), dan sebagainya. Kesamaran lafal murakkab
disebabkan terlalu ringkas atau terlalu luas.Kesamaran dari aspek maknanya, seperti mengenai
sifat-sifat Allah SWT, sifat-sifat hari kiamat, sorga, neraka, dan sebagainya. Semua sifat-sifat itu
tidak terjangkau oleh pikiran manusia.Kesamaran dari aspek lafal dan maknanya. Kesamaran ini
ada lima aspek, sebagai berikut:Aspek kuantitas (al-kammiyyah), seperti masalah umum atau
khusus. Contohnya, ayat 5 surah At-Taubah:

(: )

Artinya: Maka bunuhlah kaum musyrikin itu di manapun kalian temukan mereka itu.Di
sini batas kuantitasnya yang harus dibunuh masih samar.

Aspek cara (al-kaifiyyah), seperti bagaimana cara melaksanakan kewajiban agama atau
kesunahannya. Contohnya, ayat 14 surah Thoha:
(: )

Artinya: Dan dirikanlah salat untuk mengingat Aku (Allah).

Dalam ayat ini terdapat kesamaran, dalam hal bagaimana cara salat agar dapat
mengingatkan kepada Allah SWT. Aspek waktu, seperti batas sampai kapan melaksanakan
sesuatu perbuatan. Contohnya, dalam ayat 102 surat Ali Imran:

(: )

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar


taqwa kepada-Nya.

Sebab-sebab adanya ayat mutasyabihat dalam Alquran dengan adanya kesamaran maksud
syarak dalam ayat-ayat-Nya sehingga sulit dipahami umat, tanpa dikatakan arti yang lain,
disebabkan karena bisa ditawilkan dengan bermacam-macamayat mutasyabihat itu ada 3
macam, sebagai berikut:

Ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat diketahui oleh seluruh umat manuia, kecuali Allah
SWT.

Contohnya seperti Dzat Allah SWT, hakikat sifat-sifat-Nya, waktu datangnya hari kiamat
dan sebagainya. Hal-hal ini termasuk urusan-urusan ghaib yang diketahui Allah SWt, seperti ayat
34 surah Lukman:

ertinya: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari
kiamat., dan Dialah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan
tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok.
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.Ayat-ayat
mutasyabihat yang dapat diketahui oleh semua orang dengan jalan pembahasan dan pengkajian
yang mendalam.

Contohnya seperti merinci yang mujmal, menentukan yang musytarak, mengqayyidkan


yang mutlak, menertibkan yang kurang tertib, dan sebagainya.
Ayat-ayat mutasyabihat yang hanya dapat diketahui oleh para pakar ilmu dan sain, bukan
oleh semua orang, apalagi orang awam. Hal-hal ini termasuk urusan-urusan yang hanya
diketahui oleh Allah SWT dan orang-orang yang rosyikh ilmu pengetahuannya, seperti
keterangan ayat 7 surah Ali Imrom: 1

Nilai- Nilai Pendidikan dalam Ayat- Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Al-Quran adalah rahmat bagi seluruh alam, yang didalamnya terdapat berbagai mukzijat
dan keajaiban serta berbagai misteri yang harus dipecahkan oleh umat di dunia ini. Alloh tidak
akan mungkin memberikan sesuatu kepada kita tanpa ada sebabnya. Di bawah ini ada beberapa
hikmah tentang adanya ayat-ayat muhkan dan mutasyabih, diantara hikmahnya adalah :

Seluruh ayat Al-Quran terdiri dari ayat-ayat muhkamat, maka akan sirnalah ujian
keimanan dan amal karena pengertian ayat yang jelas.Apabila seluruh ayat Al-Quran
mutasyabihat, niscaya akan padamlah kedudukannya sebagai penjelas dan petunjuk bagi manusia
orang yang benar keimanannya yakin bahwa Al-Quran seluruhnya dari sis Allah, segala yang
datang dari sisi Allah pasti hak dan tidak mungkin bercampur dengan kebatilan.

Terjemahan: Tidak akan datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan, baik dari depan
maupun dari belakang, yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Bijaksana
lagi Maha Terpuji.(Q.S. Fushshilat [41]: 42)

Justeru Al-Quran yang berisi ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat, menjadi
motivasi bagi umat Islam untuk terus menerus menggali berbagai kandungannya sehingga kita
akan terhindar dari taklid, membaca Al-Quran dengan khusyu sambil merenung dan berfikir.

Ayat-ayat Mutasyabihat ini mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap
maksudnya, sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya. Jika Al-Quran
mengandung ayat-ayat mutasyabihat, maka untuk memahaminya diperlukan cara penafsiran dan
tarjih antara satu dengan yang lainnya. Hal ini memerlukan berbagai ilmu, seperti ilmu bahasa,
gramatika, maani, ilmu bayan, ushul fiqh dan sebagainya. Apabila ayat-ayat mutasyabihat itu
tidak ada niscaya tidak akan ada ilmu-ilmu tidak akan muncul.

Menurut Yusuf Qardhawi, adanya muhkam dan mutasyabih sebenarnya merupakan ke-
mahabijaksanaan-Nya Allah, bahwa Al-Quran ditujukan kepada semua kalangan, karena bagi
orang yang mengetahui berbagai tabiat manusia, di antara mereka ada yang senang terhadap
bentuklahiriyah dan telah merasa cukup dengan bentuk literal suatu nash. Ada yang memberikan
perhatian kepada spritualitas suatu nash, dan tidak merasa cukup dengan bentuk lahiriyahnya
saja, sehingga ada orang yang menyerahkan diri kepada Allah dan ada orang yang melakukan
pentakwilan, ada manusia intelek dan manusia spiritual. mengajarkan ajaran muhkam dan
mutasyabih kepada manusia agar kita mengakui adanya perbedaan karakter pada setiap individu,
sehingga kita harus menghargainya. Kalau kita sebagai guru, sudah sepatutnya meneladani-Nya
untuk kita aplikasikan dalam menyampaikan pelajaran yang dapat diterima oleh peserta didik
yang berbeda-beda dalam kecerdasan dan karakter.

PANDANGAN PANDANGAN ULAMA

Pada dasarnya perbezaan pendapat para Ulama dalam menanggapi sifat-sifat


mutasyabihat dalam Al-Quran dilatarbelakangi oleh perbedaan pemahaman atas firman Allah
SWT dalam Al-Quran Surah Ali Imran ayat 7.

Subhi Al-Shalih membedakan pendapat para ulama ke dalam dua mazhab, yaitu:

1. Mazhab Salaf

Yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabihat ini dan
menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Para Ulama Salaf mengharuskan kita berwaqaf
(berhenti) dalam membaca QS. Ali Imran : 7 pada lafal jalalah. Hal ini memberikan pengertian
bahwa hanya Allah yang mengerti takwil dari ayat-ayat mutasyabihat yang ada. Mazhab ini juga
disebut mazhab Muwaffidah atau Tafwid

2. Mazhab Khalaf

Yaitu orang-orang yang mentakwilkan (mempertangguhkan) lafal yang mustahil


dzahirnya kepada makna yang layak dengan zat Allah. Dalam memahami QS. Ali-Imran : 7
mazhab ini mewaqafkan bacaan mereka pada lafal Warraasikhuuna fil Ilmi. Hal ini
memberikan pengertian bahwa yang mengetahui takwil dari ayat-ayat mutasyabih adalah Allah
dan orang-orang yang Rasikh (mendalam) dalam ilmunya. Mazhab ini disebut juga Mazhab
Muawwilah atau Mazhab Takwil.

Berikut ini adalah beberapa contoh sifat-sifat mutasyabih yang menjadikan perbedaan
pendapat antara mazhab Salaf dan mazhab Khalaf:

1. Lafal stawa pada Al-Quran surah Thaha ayat 5. Allah berfirman:

Artinya: (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah. yang bersemayam di atas Ars.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa pencipta langit dan bumi ini adalah Allah Yang Maha
Pemurah yang bersemayam di atas Arsy.

Menurut mazhab Salaf, arti kata Istiwa sudah jelas, yaitu bersemayam (duduk) di atas
Arsy (tahta). Namun tata cara dan kafiatnya tidak kita ketahui dan diharuskan bagi kita untuk
menyerahkan sepenuhnya urusan mengetahui hakikat kata Istiwa itu kepada Allah sendiri.
Sedangkan mazhab Khalaf memaknakan Istiwa dengan ketinggian yang abstrak berupa
pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan.

2. Lafal yadun pada Al-Quran surah Al-Fath ayat 10. Allah berfirman:

Artinya: Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya


mereka berjanji setia kepada Allah tangan Allah di atas tangan mereka.

Pada ayat di atas terdapat lafal yadun yang secara bahasa berarti tangan. Para ulama salaf
mengartikan sebagaimana adanya dan menyerahkan hakikat maknanya kepada Allah. Sedangkah
ulama Khalaf memaknai lafal yadun dengan kekuasaan karena tidak mungkin Allah itu
mempunyai tangan seperti halnya pada makhluk.[5]
Al-Quran, kalam Tuhan yang dijadikan sebagai pedoman dalam setiap aspek kehidupan umat
Islam, tentunya harus dipahami secara mendalam. Pemahaman Al-Quran dapat diperoleh dengan
mendalami atau menguasai ilmu-ilmu yang tercangkup dalam ulumul quran. Dan menjadi salah
satu bagian dari cabang keilmuan ulumul quran adalah ilmu yang membahas tentang Muhkam
Mutasyabbih ayat.

Sehubungan dengan persoalan ini, Ibn Habib An-Naisabari pernah mengemukakan tiga pendapat
mengenai kaitan ayat-ayat Al-Quran terhadap muhkam-mutasyabih.

Pertama, seluruh ayat Al-Quran adalah muhkam berdasarkan firman Allah dalam QS. Hud : 1,
sebagai berikut :

(1)

Kedua, seluruh ayat Al-Quran adalah mutasyabih berdasarkan firman Allah dalam QS. Az-
Zumar : 39, sebagai berikut :

(39)

Ketiga, pendapat yang paling tepat, ayat-ayat Al-Quran terbagi dalam dua bagian, yaitu muhkan
dan mutasyabih berdasarkan firman Allah dalam QS. Ali Imran : 7, sebagai berikut :


[1]

Tuntasnya,Muhkam Mutasyabbih ayat hendaknya dapat dipahami secara mendalam. Hal


ini dikerenakan, dua hal ini termasuk dalam objek yang halus dalam kajian/pemahaman Al-
Quran. Jika kita tengok dalam Ilmu Kalam, hal yang mempengaruhi adanya perbedaan pendapat
antara firqoh satu dengan yang lainnya, salah satunya adalah pemahaman tentang ayat muhkam
dan mutasyabbih. Bahasa Al-Quran ada kalimat yang jelas (muhkam) dan yang belum jelas
(mitasyabih), hingga dalam penafsiran Al-Quran (tentang ayat muhkam mutasyabih-red) terdapat
perbedaan-perbedaan.[2]

Namun sebagian besar sahabat, tabiin, generasi sesudahnya, terutama kalangan


Ahlussunnah berpihak pada gramatikal ungkapan yang kedua. Seperti pendapat dari :

1. Al-Bukhari, Muslim, dan yang lainnya mengeluarkan sebuah riwayat dari Aisyah yang
mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda ketika mengomentari QS. Ali Imran ayat
7:
Jika engkau menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyabih untuk
menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, orang itulah yang dicela Allah, maka
berhati-hatilah menghadapi mereka.

2. Ibn Abu Dawud, dalam Al-Mashahif, mengeluarkan sebuah riwayat dari Al-Amasy. Ia
menyebutkan bahwa diantara qiraah Ibn Masud disebutkan :

Sesungguhnya penakwilan ayat-ayat mutasyabih hanya milik Allah semata, sedangkan orang-
orang yang mendalami ilmunya berkata, Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabih.[9]

3. Imam Malik pernah ditanya mengenai pengertian lafadz istawa. Ia mengatakan: Istawa
adalah diketahui. dan bagaimananya adalah sesuatu yang tidah diketahui. Bertanya tentangnya
adalah Bidah.[10]

Sedang Ar-raghib Al-Ashfahany mengambil jalan tengah dalam masalah ini. Beliau membagi
mutasyabih dari segi kemungkinan mengetahuinya menjadi tiga bagan:

1. Bagian yang tak ada jalan untuk mengetahuinya, seperti waktu tibanya hari kiamat.

2. Bagian manusia menemukan sebab-sebab mengetahuinya, seperti lafadz-lafadz yang ganjil,


sulit difahami namun bisa ditemukan artinya.

3. Bagian yang terletak di antara dua urusan itu yang hanya diketahui oleh Ulama yang
mumpuni saja.[11]

Sebab-Sebab Adanya AyatMutasyabbih

Dikatakan dengan tegas, bahawa sebab adanya ayat Muhkam dan Mutasyabih ialah
kerana Allah SWT menjadikan demikian. Allah membedakan antara ayat ayat yang Muhkam
dari yang Mutasyabih, dan menjadikan ayat Muhkam sebagai bandingan ayat yang Mutasyabih.

Dasarnya sebab adanya ayat ayat Mutasyabihat dalam Al Quran ialah karena adanya
kesamaran maksud syara dalam ayat ayat-Nya sehingga sulit dipahami umat, tanpa dikatakan
dengan arti ayat lain, disebabkan karena bisa ditawilkan dengan bermacam macam dan
petunjuknya pun tidak tegas, karena sebagian besar merupakan hal hal yang pengetahuanya
hanya dimonopoli oleh Allah SWT saja.
2.5 Faedah Ayat-Ayat Muhkamat dan Ayat-Ayat Mutasyabihat

Dalam pembahasan ini perlu dijelaskan faedah atau hikmah ayat-ayat muhkam lebih dahulu
sebelum menerangkan faedah ayat-ayat mutasyabihat.

1) Hikmah Ayat-Ayat Muhkamat

a) Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya orang kemampuan bahasa Arabnya lemah.
Dengan adanya ayat-ayat muhkam yang sudah jelas arti maksudnya, sangat besar arti dan
faedahnya bagi mereka.

b) Memudahkan bagi manusia mengetahui arti dan maksudnya. Juga memudahkan bagi
mereka dalam menghayati makna maksudnya agar mudah mengamalkan pelaksanaan ajaran-
ajarannya.

c) Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati, dan mengamalkan isi kandungan Al-
Quran, karena lafal ayat-ayatnya telah mudah diketahui, gampang dipahami, dan jelas pula untuk
diamalkan.

d) Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umat dalam mempelajari isi ajarannya, karena
lafal ayat-ayat dengan sendirinya sudah dapat menjelaskan arti maksudnya, tidak harus menuggu
penafsiran atau penjelasan dari lafal ayat atau surah yang lain.

2) Hikmah Ayat-Ayat Mutasyabihat

a) Memperlihatkan kelemahan akal manusia. Akal sedang dicoba untuk meyakini keberadaan
ayat-ayat mutasyabih sebagaimana Allah memberi cobaan pada badan untuk beribadah.
Seandainya akal yang merupakan anggota badan paling mulia itu tidak diuji, tentunya seseorang
yang berpengetahuan tinggi akan menyombongkan keilmuannya sehingga enggan tunduk kepada
naluri kehambaannya. Ayat-ayat mutasyabih merupakan sarana bagi penundukan akal terhadap
Allah karena kesadaraannya akan ketidakmampuan akalnya untuk mengungkap ayat-ayat
mutasyabih itu.
b) Teguran bagi orang-orang yang mengutak-atik ayat-ayat mutasybih. Sebagaimana Allah
menyebutkan wa ma yadzdzakkaru ila ulu al-albab sebagai cercaan terhadap orang-orang yang
mengutak-atik ayat-ayat mutasyabih. Sebaliknya Allah memberikan pujian bagi orang-orang
yang mendalami ilmunya, yakni orang-orang yang tidak mengikuti hawa nafsunya untuk
mengotak-atik ayat-ayat mutasyabih sehingga mereka berkata rabbana la tuzighqulubana.
Mereka menyadari keterbatasan akalnya dan mengharapkan ilmu ladunni.

c) Membuktikan kelemahan dan kebodohan manusia. Sebesar apapun usaha dan persiapan
manusia, masih ada kekurangan dan kelemahannya. Hal tersebut menunjukkan betapa besar
kekuasaan Allah SWT, dan kekuasaan ilmu-Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

d) Memperlihatkan kemukjizatan Al-Quran, ketinggian mutu sastra dan balaghahnya, agar


manusia menyadari sepenuhnya bahwa kitab itu bukanlah buatan manusia biasa, melainkan
wahyu ciptaan Allah SWT.

e) Mendorong kegiatan mempelajari disiplin ilmu pengetahuan yang bermacam-macam. [13]

ahim-Nyaatau sifat qudrat iradat-Nya, maupun sifat sifat lainnya. Dan seperti makna dari ihwal
hari kiamat, kenikmatan surga, siksa kubur, dan se

Langkah-langkah Menafsirkan Ayat Mutasyabih

Para mufassir Al-Quran memiliki metode beragam ketika berhadapan dengan ayat
mutasyabih. Mulla Shadra dalam kitab Risalah Mutasyabihat Al-Quran, mengemukakan empat
jalan dalam manafsirkan ayat-ayat mutasyabih.[7]
Metode ahli bahasa dan perawi hadist menyatakan bahwa ayat-ayat mutasyabih harus dimaknai
sesuai makna lahiriahnya. Jika ayat-ayat ini dimaknai bertentangan dengan makna lahiriah, hal
ini sangatlah dilarang, meskipun maknanya bertentangan dengan kaidah akal. Sesuai pandangan
ini, setiap jenis takwil dianggap salah dan terlarang.

Metode peneliti dan mutakallim Mutazilah memperbolehkan takwil pada ayat mutasyabih,
ketika sesuai dengan kaidah-kaidah logis. Dalilnya adalah bahwa Allah SWT terbebas dari
berbagi sifat kekurangan.

Metode mayoritas kelompok Asyariyah dan sebagian dari Mutazilah: kelompok ini
memperbolehkan tafsil dalam memahami ayat dan riwayat, cara tanzih dan penisbahan juga
dilakukan oleh sebagian kelompok lain. Namun ada pula yang secara tegas menolak penggunaan
cara penisbahan dan tanzih ini. Adapun ayat-ayat mutasyabih yang berkait dengan hari kiamat,
dimaknai langsung secara lahiriahnya menggunakan metode tasybih.

Metode para arif: Mulla Shadra dalam masalah ini, menjelaskan bahwa para arif memahami
hakikat dari ayat-ayat mutasyabih melalui jalan penyaksian (syuhud) batin, dan menjauhi metode
Tanzih atau Tasybih. Penyingkapan makna ayat-ayat mutasyabih bisa dilakukan melalui
penjernihan batin dan pencerahan dari sumber kenabian. Proses ini menjadikan manusia tidak
hanya terikat dengan makna takwil dan tasybih yang sekedar bagian lahiriah ayat.

Metode Ahlulbait dalam Menafsirkan Ayat Mutasyabih

Dalam kitab Uyunul Akhbar disebutkan Imam Ridha as berkata, "Barangsiapa memahami ayat
mutasyabih Al-Quran dengan merujuk pada ayat muhkam maka ia benar-benar ditunjukkan
pada jalan yang lurus." [8] Ia berkata, "Dalam riwayat-riwayat kami juga banyak terdapat
riwayat mutasyabih dari Al-Quran yang harus merujuk pada ayat muhkam."[9] Satu hal penting
harus menjadi acuan adalah semua ayat-ayat Al-Quran baik mutasyabih, dapat diketahui
maknanya. Ayat-ayat mutasyabih dapat diketahui maknanya dengan merujuk pada ayat muhkam.
Keyakinan ini berseberangan dengan sebagian kelompok yang menganggap bahwa ayat
mutasyabih hanya diketahui oleh Allah swt. Dalam keyakinan Ahlulbait pemahaman tentang Al-
Quran tidak terhenti pada ayat-ayat mutasyabih.[10]
Defenisi Rasikhun Ilmi

Salah satu pembahasan penting diantara para peneliti terkait dengan ayat-ayat muhkam dan
mutasyabih adalah mengenai Surah Ali Imran ayat 7 yang berbunyi, "Padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya [mereka]
berkata, Kami beriman kepada semua [ayat-ayat yang mutasyaabihaat dan ayat muhkam],
semuanya itu dari sisi Tuhan kami".

, Rasikhuun Ahli Ilmu-


Jika di ayat ini kalimat dirujuk pada
mampu memahami kandungan dari ayat mutasyabih, namun jika kalimat itu dianggap kalimat
baru dan tidak kembali pada kalimat sebelumnya, maka kata Rasikhuun bermakna orang yang
tidak mampu memahami makna ayat mutasyabih, dan mereka sekedar berkata kami beriman
pada semua yang telah diturunkan dari sisi Tuhan kami.

Sebagian besar ulama Ahlusunnah meyakini bahwa hanya Allah swt lah yang mengetahui makna
sebenarnya ayat mutasyabih, dan ketika berhadapan dengan ayat ini maka mereka mengharuskan
kita untuk berhenti, dan mereka yang termasuk golongan ahli ilmu (Rosikhun) cukup
mengatakan bahwa kami meyakininya. [11]

Sebagian besar ulama Syiah dan sebagian kecil ulama Ahlusunnah [12]meyakini [keterangan 1]
memahami kalimat itu dikembalikan pada lafadz Allah, sehingga mereka
Rasikhun diberi kemampuan memahami ayat mutasyabih. Dalil akan hal ini adalah, jika
Rasikhun disamakan dengan orang biasa maka penjelasan Ilmu menjadi tidak bermakna, lalu
mengapa Al-Quran memuliakan/mengagungkan para Rosikhun (Ahli Ilmu)? Lebih jauh, para
ulama Syiah meyakini bahwa yang dimaksud Rasikhun dalam ilmu disini adalah para Imam
Ahlulbait as. [13]
KESIMPULAN

Al-Quran adalah rahmat bagi seluruh alam, yang didalamnya terdapat berbagai mukzijat
dan keajaiban serta berbagai misteri yang harus dipecahkan oleh umat di dunia ini. Alloh tidak
akan mungkin memberikan sesuatu kepada kita tanpa ada sebabnya. Di bawah ini ada beberapa
hikmah tentang adanya ayat-ayat muhkan dan mutasyabih, diantara hikmahnya adalah :

Andai kata seluruh ayat Al-Quran terdiri dari ayat-ayat muhkamat, maka akan sirnalah ujian
keimanan dan amal karena pengertian ayat yang jelas.

Apabila seluruh ayat Al-Quran mutasyabihat, niscaya akan padamlah kedudukannya sebagai
penjelas dan petunjuk bagi manusia orang yang benar keimanannya yakin bahwa Al-Quran
seluruhnya dari sis Allah, segala yang datang dari sisi Allah pasti hak dan tidak mungkin
bercampur dengan kebatilan.

Al-Quran yang berisi ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat, menjadi motivasi bagi
umat Islam untuk terus menerus menggali berbagai kandungannya sehingga kita akan terhindar
dari taklid, membaca Al-Quran dengan khusyu sambil merenung dan berpikir.

Ayat-ayat Mutasyabihat ini mengharuskan upaya yang lebih banyak untuk mengungkap
maksudnya, sehingga menambah pahala bagi orang yang mengkajinya.

Jika Al-Quran mengandung ayat-ayat mutasyabihat, maka untuk memahaminya diperlukan cara
penafsiran dan tarjih antara satu dengan yang lainnya. Hal ini memerlukan berbagai ilmu, seperti
ilmu bahasa, gramatika, maani, ilmu bayan, ushul fiqh dan sebagainya. Apabila ayat-ayat
mutasyabihat itu tidak ada niscaya tidak akan ada ilmu-ilmu tidak akan muncul.

Menurut Yusuf Qardhawi, adanya muhkam dan mutasyabih sebenarnya merupakan ke-
mahabijaksanaan-Nya Allah, bahwa Al-Quran ditujukan kepada semua kalangan, karena bagi
orang yang mengetahui berbagai tabiat manusia, di antara mereka ada yang senang terhadap
bentuk lahiriyah dan telah merasa cukup dengan bentuk literal suatu nash. Ada yang memberikan
perhatian kepada spritualitas suatu nash, dan tidak merasa cukup dengan bentuk lahiriyahnya
saja, sehingga ada orang yang menyerahkan diri kepada Allah dan ada orang yang melakukan
pentakwilan, ada manusia intelek dan manusia spiritual.
Dengan mengajarkan ajaran muhkam dan mutasyabih kepada manusia agar kita mengakui
adanya perbedaan karakter pada setiap individu, sehingga kita harus menghargainya. Kalau kita
sebagai guru, sudah sepatutnya meneladani-Nya untuk kita aplikasikan dalam menyampaikan
pelajaran yang dapat diterima oleh peserta didik yang berbeda-beda dalam kecerdasan dan
karakter.
RUJUKAN

Al-Qattan, Manna Khalil. 2009, Studi Ilmu-Ilmu Quran, Bogor:Lintera Antar Nusa

Anwar, Rosihon. 2004, Ulumul Quran. Bandung: Pustaka Media

Djalal, Abdul, 2008, Ulumul Quran. Surabaya: Dunia Ilmu

Hadi, Abd. 2010, Pengantar Studi Ilmu-Ilmu Al-Quran, Surabaya:Graha Pustaa Islamic Media

Hermawan, Acep, 2011. Ulumul Quran:Ilmu Untuk Memahami Wahyu, Bandung:PT Remaja
Rosdakarya

Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel, 2012, Studi Al-Quran. Surabaya : IAIN Sunan Ampel
Press

Zenrif, MF. 2008. Sintesis Paradigma Studi Al-Quran, Malang:UIN Malang Perss

[1]Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel, 2012, Studi Al-Quran. Surabaya : IAIN Sunan
Ampel Press