Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN ASFIKSIA

I. KOSEP DASAR
A. Pengertian
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas secara
spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000)
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila proses
ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau kematian. Asfiksia
juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin, 2001)
Asfiksia lahir ditandai dengan hipoksemia (penurunan PaO2), hiperkarbia
(peningkatan PaCO2), dan asidosis (penurunan PH).

B. Jenis Asfiksia
Ada dua macam jenis asfiksia, yaitu :
1. Asfiksia livida (biru)
2. Asfiksia pallida (putih)

Perbedaan asfiksia livida dan pallida ditunjukkan dalam tabel berikut ini :
Perbedaan Asfiksia Pallida Asfiksia Livida
Warna kulit Pucat Kebiru-biruan
Tonus otot Sudah berkurang Masih baik
Reaksi rangsangan Negatif Positif
Bunyi jantung Tidak teratur Masih teratur
Prognosis Jelek Lebih baik

C. Klsifikasi Asfiksia

1
AGAR SCORE
Score 0 1 2
A : Appearance Biru, pucat Badan merah muda Seluruhnya merah
(warna kulit) Ekstremitas biru muda
P : Pulse Tidak ada Lambat (dibawah Diatas 100 x/mnt
(denyut nadi) 100 x/mnt)
G : Grimace
(refleks)
1. Respon Tidak ada respon Menyeringai Batuk atau bersin
terhadap
kateter dalam
lubang hidung
(dicoba setelah
orofaring
dibersihkan).
2. Tangensial Tidak ada respon Menyeringai Menangis dan
foot siap menarik kaki.
A : Activity Pincang Beberapa Fleksi dengan baik
(tonus otot) ekstremitas pincang
R : Respiration Tidak ada Tangisan lemah Tangisan kuat
(usaha bernafas) Hipoventilasi

Klasifikasi asfiksia berdasarkan nilai APGAR


1. Asfiksia berat dengan nilai APGAR 0-3
2. Asfiksia ringan sedang dengan nilai APGAR 4-6
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia dengan nilai APGAR 7-9
4. Bayi normal dengan nilai APGAR 10

D. Etiologi
Penyebab asfiksia menurut Mochtar (1989) adalah :
1. Asfiksia dalam kehamilan
a) Penyakit infeksi akut
b) Penyakit infeksi kronik
c) Keracunan oleh obat-obat bius
d) Uraemia dan toksemia gravidarum
e) Anemia berat
f) Cacat bawaan

2
g) Trauma
2. Asfiksia dalam persalinan
a) Kekurangan O2.
Partus lama (CPD, rigid serviks dan atonia/ insersi uteri)
Ruptur uteri yang memberat, kontraksi uterus yang terus-menerus mengganggu
sirkulasi darah ke uri.
Tekanan terlalu kuat dari kepala anak pada plasenta.
Prolaps fenikuli tali pusat akan tertekan antara kepaladan panggul.
Pemberian obat bius terlalu banyak dan tidak tepat pada waktunya.
Perdarahan banyak : plasenta previa dan solutio plasenta.
Kalau plasenta sudah tua : postmaturitas (serotinus), disfungsi uteri.
b) Paralisis pusat pernafasan
Trauma dari luar seperti oleh tindakan forseps
Trauma dari dalam : akibat obet bius.

Penyebab asfiksia Stright (2004)


1. Faktor ibu, meliputi amnionitis, anemia, diabetes hioertensi ynag diinduksi oleh
kehamilan, obat-obatan iinfeksi.
2. Faktor uterus, meliputi persalinan lama, persentasi janin abnormal.
3. Faktor plasenta, meliputi plasenta previa, solusio plasenta, insufisiensi plasenta.
4. Faktor umbilikal, meliputi prolaps tali pusat, lilitan tali pusat.
5. Faktor janin, meliputi disproporsi sefalopelvis, kelainan kongenital, kesulitan
kelahiran.

E. Manifestasi Klinik
1. Pada Kehamilan
Denyut jantung janin lebih cepat dari 160 x/mnt atau kurang dari 100 x/mnt, halus dan
ireguler serta adanya pengeluaran mekonium.
Jika DJJ normal dan ada mekonium : janin mulai asfiksia
Jika DJJ 160 x/mnt ke atas dan ada mekonium : janin sedang asfiksia

3
Jika DJJ 100 x/mnt ke bawah dan ada mekonium : janin dalam gawat
2. Pada bayi setelah lahir
a. Bayi pucat dan kebiru-biruan
b. Usaha bernafas minimal atau tidak ada
c. Hipoksia
d. Asidosis metabolik atau respiratori
e. Perubahan fungsi jantung
f. Kegagalan sistem multiorgan
g. Kalau sudah mengalami perdarahan di otak maka ada gejala neurologik : kejang,
nistagmus, dan menangis kurang baik/ tidak menangis.

F. Patofisiologi
Bila janin kekurangan O2 dan kadar CO2 bertambah, timbulah rangsangan terhadap
nervus vagus sehingga DJJ (denyut jantung janin) menjadi lambat. Jika kekurangan O2
terus berlangsung maka nervus vagus tidak dapat dipengaruhi lagi. Timbulah kini
rangsangan dari nervus simpatikus sehingga DJJ menjadi lebih cepat akhirnya ireguler
dan menghilang. Janin akan mengadakan pernafasan intrauterin dan bila kita periksa
kemudian terdapat banyak air ketuban dan mekonium dalam paru, bronkus tersumbat dan
terjadi atelektasis. Bila janin lahir, alveoli tidak berkembang.
Apabila asfiksia berlanjut, gerakan pernafasan akan ganti, denyut jantung mulai
menurun sedangkan tonus neuromuskuler berkurang secara berangsur-angsur dan bayi
memasuki periode apneu primer.
Jika berlanjut, bayi akan menunjukkan pernafasan yang dalam, denyut jantung terus
menurun , tekanan darah bayi juga mulai menurun dan bayi akan terluhat lemas (flascid).
Pernafasan makin lama makin lemah sampai bayi memasuki periode apneu sekunder.
Selama apneu sekunder, denyut jantung, tekanan darah dan kadar O2 dalam darah (PaO2)
terus menurun. Bayi sekarang tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidak akan
menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi jika resusitasi
dengan pernafasan buatan dan pemberian tidak dimulai segera.
G. Pathway Keperawatan

4
Persalinan lama, lilitan tali pusat Paralisis pusat pernafasan Faktor lain : anestesi,
Presentasi janin abnormal obat-obatan narkotik

ASFIKSIA

Janin kekurangan O2 Paru-paru terisi cairan


Dan kadar CO2 meningkat

Bersihan jln
nafas tidak
Nafas cepat efektif

Apneu Pola nafas Suplai O2 ke Suplai O2 dlm Ggn metabolisme&


tak efektif
paru menurun darah menurun perubahan asam- basa

Kerusakan otak
Resiko
ketdkseimbangn Asidosis respiratorik
suhu tubuh

Ggn perfusi ventilasi


DJJ & TD Kematian bayi
menurun
Kerusakan
pertukaran gas
Proses Resiko cedera
Janin tdk bereaksi keluarga
terhenti
Terhadap rangsangan

H. Kemungkinan Komplikasi Yang Muncul


5
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
1. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut sehingga
terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan menurun, keadaaan
ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang berakibat terjadinya edema
otak, hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.
2. Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia, keadaan ini
dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai dengan
perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak mengalir ke
organ seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya
hipoksemia pada pembuluh darah mesentrium dan ginjal yang menyebabkan
pengeluaran urine sedikit.
3. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran gas dan
transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan pengeluaran
CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena perfusi jaringan tak
efektif.
4. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan koma
karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.

I. Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksanaan asfiksia :
1. Pengaturan suhu
Segera setelah lahir, badan dan kepala neonatus hendaknya dikeringkan seluruhnya
dengan kain kering dan hangat, dan diletakan telanjang di bawah alat/ lampu pemanas
radiasi, atau pada tubuh Ibunya, bayi dan Ibu hendaknya diselimuti dengan baik,
namun harus diperhatikan pula agar tidak terjadi pemanasan yang berlebihan pada
tubuh bayi.

6
2. Lakukan tindakan A-B-C-D (Airway/ membersihkan jalan nafas, Breathing/
mengusahakan timbulnya pernafasan/ ventilasi, Circulation/ memperbaiki sirkulasi
tubuh, Drug/ memberikan obat)
A : Memastikan saluran nafas terbuka
Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi, bahu diganjal.
Menghisap mulut, hidung dan trakhea.
Bila perlu, masukkan pipa ET untuk memastikan saluran pernafasan terbuka.
B : Memulai pernafasan
Memakai rangsangan taktil untuk memulai pernafasan.
Memakai VTP bila perlu, seperti sungkup dan balon, pipa ET dan balon, mulut
ke mulut (hindari paparan infeksi)
C : Mempertahankan sirkulasi darah
Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara :
Kompresi dada
Pengobatan
D : Pemberian obat-obatan
Epineprin
Indikasi : diberikan apabila frekuensi jantung tetap di bawah 80 x/mnt
walaupun telah diberikan paling sedikit 30 detik VTP adekuat dengan oksigen
100 % dan kompresi dada atau frekuensi jantung. Dosis 0,1 0,3 ml/kg untuk
larutan 1:10000. Cara pemberian dapat melalui intravena (IV) atau melalui pipa
endotrakheal.
Efek : Untuk meningkatkan kekuatan dan kecepatan konstraksi jantung
Volume ekspander (darah/ whole blood, cairan albumin-salin 5%, Nacl, RL).
Indikasi : digunakan dalam resusitasi apabila terdapat kejadian atau diduga
adanya kehilangan darah akut dengan tanda-tanda hipovolemi. Dosis 10 ml/ kg.
Cara pemberian IV dengan kecepatan pemberian selama waktu 5-10 menit.
Efek : meningkatkan volume vaskuler, meningkatkan asidosis metabolik.

7
Natrium Bikarbonat
Indikasi : digunakan apabila terdapat apneu yang lama yang tidak memberikan
respon terhadap terapi lain. Diberikan apabila VTP sudah dilakukan.
Efek : memperbaiki asidosis metabolik dengan meningkatkan ph darah apabila
ventilasi adekuat, menimbulkan penambahan volume disebabkan oleh cairan
garam hipertonik.
Nalakson hidroklorid/ narcan
Indikasi : depresi pernafasan yang berat atau riwayat pemberian narkotik pada
Ibu dalam 4 jam sebelum persalinan.
Efek : antagonis narkotik.

8
II. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. Pengkajian
1. Sirkulasi
Nadi apikal dapat berfluktuasi dari 110 sampai 180 x/mnt. Tekanan darah 60
sampai 80 mmHg (sistolik), 40 sampai 45 mmHg (diastolik).
Bunyi jantung, lokasi di mediasternum dengan titik intensitas maksimal tepat di
kiri dari mediastinum pada ruang intercosta III/ IV.
Murmur biasa terjadi di selama beberapa jam pertama kehidupan.
Tali pusat putih dan bergelatin, mengandung 2 arteri dan 1 vena.
2. Eliminasi
Dapat berkemih saat lahir.
3. Makanan/ cairan
Berat badan : 2500-4000 gram
Panjang badan : 44-45 cm
Turgor kulit elastis (bervariasi sesuai gestasi)
4. Neurosensori
Tonus otot : fleksi hipertonik dari semua ekstremitas.
Sadar dan aktif mendemonstrasikan refleks menghisap selama 30 menit pertama
setelah kelahiran (periode pertama reaktivitas). Penampilan asimetris (molding,
edema, hematoma).
Menangis kuat, sehat, nada sedang (nada menangis tinggi menunjukkan
abnormalitas genetik, hipoglikemi atau efek narkotik yang memanjang)
5. Pernafasan
Skor APGAR : 1 menit......5 menit....... skor optimal harus antara 7-10.
Rentang dari 30-60 permenit, pola periodik dapat terlihat.
Bunyi nafas bilateral, kadang-kadang krekels umum pada awalnya silindrik
thorak : kartilago xifoid menonjol, umum terjadi.
6. Keamanan
Suhu rentang dari 36,5 C sampai 37,5 C. Ada verniks (jumlah dan distribusi
tergantung pada usia gestasi).

9
Kulit : lembut, fleksibel, pengelupasan tangan/ kaki dapat terlihat, warna merah
muda atau kemerahan, mungkin belang-belang menunjukkan memar minor (misal :
kelahiran dengan forseps), atau perubahan warna herlequin, petekie pada kepala/
wajah (dapat menunjukkan peningkatan tekanan berkenaan dengan kelahiran atau
tanda nukhal), bercak portwine, nevi telengiektasis (kelopak mata, antara alis mata,
atau pada nukhal) atau bercak mongolia (terutama punggung bawah dan bokong)
dapat terlihat. Abrasi kulit kepala mungkin ada (penempatan elektroda internal)

B. Pemeriksaan Diagnostik
PH tali pusat : tingkat 7,20 sampai 7,24 menunjukkan status parasidosis, tingkat
rendah menunjukkan asfiksia bermakna.
Hemoglobin/ hematokrit (HB/ Ht) : kadar Hb 15-20 gr dan Ht 43%-61%.
Tes combs langsung pada daerah tali pusat. Menentukan adanya kompleks antigen-
antibodi pada membran sel darah merah, menunjukkan kondisi hemolitik.

C. Prioritas Keperawatan
Meningkatkan upaya kardiovaskuler efektif.
Memberikan lingkungan termonetral dan mempertahankan suhu tubuh.
Mencegah cidera atau komplikasi.
Meningkatkan kedekatan orang tua-bayi.

D. Diagnosa Keperawatan
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
2) Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi
3) Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.
4) Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi
pemajanan pada agen-agen infeksius.
5) Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.
6) Proses keluarga terhenti b.d pergantian dalam status kesehatan anggota
keluarga.

10
E. Intervensi
No Diagnosa NOC NIC
1 Bersihan jalan nafas Status Pernafasan : Suction jalan nafas
tidak efektif b.d Kepatenan Jalan Nafas 1. Tentukan kebutuhan oral/
produksi mukus Status Pernafasan : suction tracheal.
banyak. Pertukaran Gas 2. Auskultasi suara nafas
sebelum dan sesudah suction .
Kriteria Hasil : 3. Beritahu keluarga tentang
1. Tidak menunjukkan demam. suction.
2. Tidak menunjukkan cemas. 4. Bersihkan daerah bagian
3. Rata-rata repirasi dalam tracheal setelah suction selesai
batas normal. dilakukan.
4. Pengeluaran sputum melalui 5. Monitor status oksigen
jalan nafas. pasien, status hemodinamik
5. Tidak ada suara nafas segera sebelum, selama dan
tambahan. sesudah suction.
Resusitasi : Neonatus
1. Siapkan perlengkapan
resusitasi sebelum persalinan.
2. Tes resusitasi bagian suction
dan aliran O2 untuk
memastikan dapat berfungsi
dengan baik.
3. Tempatkan BBL di bawah
lampu pemanas radiasi.
4. Masukkan laryngoskopy
untuk memvisualisasi trachea
untuk menghisap mekonium.
5. Intubasi dengan endotracheal
untuk mengeluarkan
mekonium dari jalan nafas
bawah.
6. Berikan stimulasi taktil pada
telapak kaki atau punggung
bayi.
7. Monitor respirasi.
8. Lakukan auskultasi untuk
memastikan vetilasi adekuat.

2 Pola nafas tidak Status respirasi : Ventilasi Manajemen jalan nafas


efektif b.d Kriteria hasil : 1. Pertahankan kepatenan
hipoventilasi/ 1. Pasien menunjukkan pola jalan nafas dengan
hiperventilasi nafas yang efektif. melakukan pengisapan
2. Ekspansi dada simetris. lender.
3. Tidak ada bunyi nafas 2. Pantau status pernafasan

11
tambahan. dan oksigenasi sesuai
4. Kecepatan dan irama dengan kebutuhan.
respirasi dalam batas 3. Auskultasi jalan nafas
normal. untuk mengetahui adanya
Keterangan skala : penurunan ventilasi.
1 : Selalu Menunjukkan 4. Kolaborasi dengan dokter
2 : Sering Menunjukkan untuk pemeriksaan AGD
3 : Kadang Menunjukkan dan pemakaian alan bantu
4 : Jarang Menunjukkan nafas
5 : Tidak Menunjukkan 5. Siapkan pasien untuk
ventilasi mekanik bila
perlu.
6. Berikan oksigenasi sesuai
kebutuhan.

3 Kerusakan Status respiratorius : Manajemen asam basa


pertukaran gas b.d Pertukaran gas 1) Kaji bunyi paru, frekuensi
ketidakseimbangan Kriteria hasil : nafas, kedalaman nafas dan
perfusi ventilasi Tidak sesak nafas produksi sputum.
Fungsi paru dalam batas 2) Pantau saturasi O2 dengan
normal oksimetri
Keterangan skala : 3) Pantau hasil Analisa Gas
1 : Selalu Menunjukkan Darah
2 : Sering Menunjukkan
3 : Kadang Menunjukkan
4 : Jarang Menunjukkan
5 : Tidak Menunjukkan

4 Risiko cedera b.d Pengetahuan : Keamanan Anak Kontrol Infeksi


anomali kongenital Kriteria hasil : 1. Cuci tangan setiap sebelum
tidak terdeteksi atau 1. Bebas dari cidera/ dan sesudah merawat bayi.
tidak teratasi komplikasi. 2. Pakai sarung tangan steril.
pemajanan pada 2. Mendeskripsikan 3. Lakukan pengkajian fisik
agen-agen infeksius. aktivitas yang tepat dari secara rutin terhadap bayi
level perkembangan baru lahir, perhatikan
anak. pembuluh darah tali pusat
3. Mendeskripsikan teknik dan adanya anomali.
pertolongan pertama. 4. Ajarkan keluarga tentang
Keterangan Skala : tanda dan gejala infeksi dan
1 : Tidak sama sekali melaporkannya pada pemberi
2 : Sedikit pelayanan kesehatan.
3 : Agak 5. Berikan agen imunisasi sesuai
4 : Kadang indikasi (imunoglobulin
5 : Selalu hepatitis B dari vaksin

12
hepatitis B bila serum ibu
mengandung antigen
permukaan hepatitis B (Hbs
Ag), antigen inti hepatitis B
(Hbs Ag) atau antigen E (Hbe
Ag).

5 Risiko Termoregulasi : Neonatus Perawatan Hipotermi


ketidakseimbangan Kriteria Hasil : 1. Hindarkan pasien dari
suhu tubuh b.d 1. Temperatur badan dalam kedinginan dan tempatkan
kurangnya suplai batas normal. pada lingkungan yang
O2 dalam darah 2. Tidak terjadi distress hangat.
pernafasan. 2. Monitor gejala yang
3. Tidak gelisah. berhubungan dengan
4. Perubahan warna kulit. hipotermi, misal fatigue,
5. Bilirubin dalam batas apatis, perubahan warna
normal. kulit dll.
Keterangan skala : 3. Monitor temperatur dan
1 : Selalu Menunjukkan warna kulit.
2 : Sering Menunjukkan 4. Monitor TTV.
3 : Kadang Menunjukkan 5. Monitor adanya
4 : Jarang Menunjukkan bradikardi.
5 : Tidak Menunjukkan 6. Monitor status pernafasan.
Temperatur Regulasi
1. Monitor temperatur BBL
setiap 2 jam sampai suhu
stabil.
2. Jaga temperatur suhu tubuh
bayi agar tetap hangat.
3. Tempatkan BBL pada
inkubator bila perlu.

6 Proses keluarga Koping keluarga Pemeliharaan proses keluarga


terhenti b.d Kriteria Hasil : 1. Tentukan tipe proses
pergantian dalam 1. Percaya dapat mengatasi keluarga.
status kesehatan masalah. 2. Identifikasi efek
anggota keluarga. 2. Kestabilan prioritas. pertukaran peran dalam
3. Mempunyai rencana proses keluarga.
darurat. 3. Bantu anggota keluarga
4. Mengatur ulang cara untuk menggunakan
perawatan. mekanisme support
yang ada.
4. Bantu anggota keluarga
untuk merencanakan
strategi normal dalam

13
segala situasi.
Dukungan Keluarga
1. Pastikan anggota
keluarga bahwa pasien
memperoleh perawat
yang terbaik.
2. Tentukan prognosis
beban psikologi dari
keluarga.
3. Beri harapan realistik.
4. Identifikasi alam
spiritual yang diberikan
keluarga.

F. Evaluasi
DP I. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d produksi mukus banyak.
NOC I
Kriteria Hasil :
1. Tidak menunjukkan demam.(skala 3)
2. Tidak menunjukkan cemas.(skala 3)
3. Rata-rata repirasi dalam batas normal.(skala 3)
4. Pengeluaran sputum melalui jalan nafas.(skala 3)
5. Tidak ada suara nafas tambahan.(skala 3)
NOC II
Kriteria Hasil :
1. Mudah dalam bernafas.(skala 3)
2. Tidak menunjukkan kegelisahan.(skala 3)
3. Tidak adanya sianosis.(skala 3)
4. PaCO2 dalam batas normal.(skala 3)
5. PaO2 dalam batas normal.(skala 3)

DP II. Pola nafas tidak efektif b.d hipoventilasi/ hiperventilasi.


Kriteria hasil :
1. Pasien menunjukkan pola nafas yang efektif.(skala 3)

14
2. Ekspansi dada simetris.(skala 3)
3. Tidak ada bunyi nafas tambahan.(skala 3)
4. Kecepatan dan irama respirasi dalam batas normal.(skala 3)

DP III. Kerusakan pertukaran gas b.d ketidakseimbangan perfusi ventilasi.


Kriteria hasil :
1. Tidak sesak nafas.(skala 3)
2. Fungsi paru dalam batas normal.(skala 3)

DP IV. Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi
pemajanan pada agen-agen infeksius.
Kriteria hasil :
1. Bebas dari cidera/ komplikasi.(skala 4)
2. Mendeskripsikan aktivitas yang tepat dari level perkembangan anak.
(skala 4)
3. Mendeskripsikan teknik pertolongan pertama.(skala 4)

DP V. Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh b.d kurangnya suplai O2 dalam darah.


NOC I
Kriteria Hasil :
1. Temperatur badan dalam batas normal.(skala 3)
2. Tidak terjadi distress pernafasan. (skala 3)
3. Tidak gelisah. (skala 3)
4. Perubahan warna kulit. (skala 3)
5. Bilirubin dalam batas normal. (skala 3)
NOC II
Kriteria Hasil :
1. Status kekebalan anggota keluarga. (skala 3)
2. Anak mendapatkan perawatan tindakan pencegahan. (skala 3)
3. Akses perawatan kesehatan. (skala 3)
4. Kesehatan fisik anggota keluarga. (skala 3)
15
DP IV. Risiko cedera b.d anomali kongenital tidak terdeteksi atau tidak teratasi
pemajanan pada agen-agen infeksius.
NOC I
Kriteria Hasil :
1. Percaya dapat mengatasi masalah. (skala 3)
2. Kestabilan prioritas. (skala 3)
3. Mempunyai rencana darurat. (skala 3)
4. Mengatur ulang cara perawatan. (skala 3)
NOC II
Kriteria Hasil :
1. Status kekebalan anggota keluarga. (skala 3)
2. Anak mendapatkan perawatan tindakan pencegahan. (skala 3)
3. Akses perawatan kesehatan. (skala 3)
4. Kesehatan fisik anggota keluarga.

16
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC


Hassan, R dkk. 1985. Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jilid 3. Jakarta : Informedika
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid II. Jakarta : Media
Aesculapius.
Santosa, B. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda. Definisi dan Klasifikasi. Jakarta :
Prima Medika.
Wilkinson. 2007. Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Criteria Hasil
NOC. Edisi 7. Jakarta : EGC
Manuaba, I. B. 1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta :
EGC
Mochtar. R. 1989. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Saifudin. A. B. 2001. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Straight. B. R. 2004. Keperawatan Ibu Baru Lahir. Edisi 3. Jakarta : EGC
terdapat pada http: www. Freewebs.comasfiksia pola cidera asfiksia.htm (1 Juni
2008)

17