Anda di halaman 1dari 11

Jahitan Septum Nasi yang dikombinasikan dengan Coblasi Konka Inferior

Setelah Septoplasti: Apakah tindakan ini meningkatkan kualitas hidup dan


mengurangi komplikasi?
Hui Li, Min Wang, Yu Xiao Wu, Szuchi Wang, Zhi-Min Xing

Abstrak Tujuan: tampon hidung digunakan secara rutin setelah septoplasti.


Namun, pasien melaporkan perasaan yang sangat tidak nyaman ketika tampon
berada di tempatnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan
pengaruh jahitan pada septum nasi yang dikombinasikan dengan koblasi konka
inferior dengan pengaruh tampon hidung setelah septoplasti.
Metode: Dalam penelitian ini, 135 pasien yang menjalani septoplasti dibagi
menjadi 3 kelompok: pasien kelompok 1 menjalani mikrodebrider dengan
tampon, kelompok 2 mendapatkan koblasi dengan tamon dan kelompok 3
menjalani koblasi dengan jahitan. Kualitas hidup dan komplikasi dini pasca
operasi dibandingkan antara 3 kelompok.
Hasil: Pasien dalam kelompok 1 mengalami nyeri nasal pasca operasi yang paling
berat, nyeri kepala, disfagia, gangguan tidur dan perdarahan pada malam hari
setelah operasi; sementara pasien dalam kelompok 3 mengalami gejala yang
paling sedikit. Tidak ada perbedaan dalam epifora yang teramati antara 3
kelompok. Nyeri dan perdarahan yang lebih banyak dialami ketika
membandingkan pembukaan tampon (kelompok 1 dan 2) dengan pembersihan
rongga hidung (Kelompok 3). Kami mencatat satu kasus perdarahan pascaoperatif
pada kelompok 1, satu hematoma septum pada kelompok 1 dan hematoma septum
kedua pada kelompok 2. Tidak terdapat komplikasi pascaoperatif seperti itu yang
ditemukan dalam kelompok 3.
Kesimpulan: Jahitan septum nasi yang dikombinasikan dengan koblasi konka
inferior tidak hanya berkaitan dengan rasa nyeri yang lebih sedikit, peningkatan
kepuasan pasien dan perbaikan kualitas hidup; namun juga mengurangi
komplikasi pascaoperasi. Hasil kami mengonfirmasi bahwa ini merupakan suatu
alternatif yang lebih nyaman dan dapat diandalkan dibandingkan dengan tampon
hidung yang lebih sering dilakukan.
Pendahuluan
Septoplasti saat ini merupakan satu-satunya cara untuk mengobati deviasi septum
nasi. Tindakan ini tidak hanya meringankan gejala-gejala pasien, namun juga
memberikan ruang yang lebar untuk akses terhadap meatus media selama operasi
sinus endoskopi.1 Tampon hidung setelah septoplasti dilakukan secara rutin oleh
sebagian besar ahli bedah untuk mengurangi komplikasi. Namun
ketidaknyamanan pasien selalu merupakan keluhan yang paling sering ditemukan.
Faktanya, pasien telah melaporkan menderita nyeri secara konstan hingga
pengangkatan bahan tampon.2-4 Nyeri ini terutama berat pada saat pengangkatan
tampon,5 dan hampir selalu dianggap oleh pasien sebagai salah satu pengalaman
mereka yang paling menyakitkan.
Sebagian ahli bedah telah melaporkan bahwa jahitan septum selama
septoplasti tanpa tampon hidung bersifat aman dan efektif. 6,7 Namun, hanya
septoplasti yang dilakukan pada sebagian besar dari penelitian-penelitian ini, dan
turbinoplasti biasanya dihilangkan. Septoplasti tanpa reduksi konka inferior tidak
dapat menyembuhkan obstruksi nasal secara total. Jika reduksi konka inferior
dilakukan secara bersamaan dengan mikrodebrider untuk mengurangi jaringan
lunak konka inferior yang mengalami hipertropi, tampon hidung selalu tidak dapat
terelakkan. Penelitian ini dirancang untuk mengombinasikan teknik jahitan
septum dengan koblasi konka inferior selama septoplasti dan turbinoplasti.
Menurut pengetahuan terbaik kami, penelitian ini adalah yang pertama kalinya 2
teknik ini dikombinasikan selama septoplasti dan reduksi konka inferior,
menghilangkan kebutuhan untuk tampon hidung.

Materi dan Metode


Pasien
Sejumlah 135 pasien menderita obstruksi nasal karena deviasi septum nasi
dan hipertropi konka inferior direkrut untuk penelitian ini. Semua subjek
berkebangsaan Han dan berusia berkisar dari 18 hingga 60 tahun. Hipertensi,
diabetes, masalah jantung dan masalah kesehatan lainnya dieksklusikan. Suatu CT
scan dilakukan untuk menghilangkan penyakit nasal lainnya. Pemeriksaan
laboratorium pra operatif rutin normal untuk semua subjek. Tindakan dilakukan di
departemen THT di Peoples Hospital of Peking University di Cina, dan semua
subjek memberikan persetujuan tertulis setelah mengetahui dan memahami
penelitian ini sepenuhnya. Penelitian ini disetujui oleh Komite Etik Universitas
Peking, dan dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam
Deklarasi Helsinki. Pasien dialokasikan secara sebanding menjadi 3 kelompok
yang secara acak dicocokkan untuk usia dan jenis kelamin.
Pasien dalam kelompok 1 mendapatkan penatalaksanaan dengan
mikrodebrider dengan tampon. Merocel R digunakan untuk tampon hidung
setelah septoplasti dan reduksi konka inferior dengan menggunakan mesin. Pasien
dalam kelompok 2 mendapatkan koblasi dengan tampon. Merocel R digunakan
untuk tampon hidung setelah septoplasti dan koblasi konka inferior. Pasien dalam
kelompok 3 menjalani coblasi dengan penjahitan. Jahitan septum dan koblasi
konka inferior dilakukan setelah septoplasti tanpa tampon hidung.

Tindakan Pembedahan
1. Septoplasti dan turbinoplasti yang bertenaga mesin
Septoplasti endoskopi dilakukan dengan teknik standar dalam anestesi
umum. Setelah elevasi muko-perikondro-periosteal, septum tulang yang
mengalami deviasi diangkat dan bagian kartilago dipertahankan dan direposisi.
Setiap deviasi sisa yang terlihat dalam kartilago dilemahkan dengan insisi
multipel.
Pada kelompok 1, hipertropi konka inferior dikurangi dengan mikrodebrider
dengan mesin dalam teknik klasik.8 Dua potong Merocel (Metronic Xomed,
Jacsonville, FL, AS) dimasukkan kedalam kedua lubang hidung pada akhir
operasi dan tampon diangkat setelah 24- 48 jam.

2. Coblasi konka inferior


Pada kelompok 2 dan 3, reduksi konka inferior dengan koblasi mengikuti protokol
sebelumnya.9 Singkatnya, rongga hidung dianestesi topikal dengan neuro paties
bedah yang telah dibasahkan dengan dicaine. Hipertropi konka inferior diinfiltrasi
dengan 2.5l lidocaine 1%. Pertama, outfracture dilakukan dengan suatu elevator
untuk menghancurkan konka inferior ke arah lateral, dan kemudian dilakukan
coblasi (Arthrocare Corp, Sunnyvale, CA). Tongkat ini dijaga pada posisi ini
selama 15 detik pada tingkat kekuatan 4 penarikan dilakukan pada mode
koagulasi. Tongkat coblasi kemudian diinsersikan ke dalam pembesaran mukosa
di bagian anterior, media dan posterior konka inferior. Jumlah dan kedalaman
yang dilewati ditentukan oleh ukuran konka praoperatif dan pengerutan visual
selama tindakan. Untuk subjek dalam kelompok 2, 2 potong Merocel R juga
diinsersikan ke dalam kedua lubang hidung setelah operasi dan diangkat dalam
waktu 24 48 jam. Pada kelompok 3, tidak dimasukkan tampon pasca operatif di
rongga hidung setelah operasi.

3. Teknik jahitan septum


Pada kelompok 3, teknik jahitan berlapis kontinyu dilakukan dengan sedikit
modifikasi.10 Singkatnya, suatu jahitan yang dapat diserap dari Vicryl Rapide 4.0
(violet braided) digunakan (Ethicon Inc, Somerville, NJ, AS) pada suatu jarum
cutting melengkung yang kecil (FS-2). Suatu simpul diletakkan pada ujung distal
bahan jahitan. Satu jarum dipertahankan di sepanjang batang pemegang jarum.
Jahitan pertama ditusukkan pada tepat di anterior konka media. Jarum
ditembuskan kembali melalui septum, di anterior terhadap konka media, ke sisi
yang berlawanan. Suatu ruang sebesar beberapa sentimeter kemudian dibiarkan
sebelum melewatkan jarum melalui septum, yang menciptakan efek lapisan.
Dengan menggunakan jahitan kontinyu, flap diperdekat karena jarum dimajukan
ke arah ujung kaudal septum. Tusukan terakhir jahitan diletakkan tepat di anterior
tempat insisi melalui kulit vestibulum. Pada akhir kahitan, hanya satu bagian
Nasopore (polyganics, Rozenburgiaan, Groningen, Belanda) yang sangat kecil
yang diletakkan di area pembengkokan jika bagian kartilago yang tersisa masih
agak terdeviasi pada sebagian pasien karena memori kartilago. Tidak dilakukan
insersi tampon lainya ke dalam rongga hidung. Rongga hidung dibersihkan 48 jam
setelah operasi.
Penilaian
Pasien diminta untuk menilai ketidaknyamanannya dan gejala-gejala, yang
mencakup nyeri pada hidung, nyeri kepala, epifora, disfagia, gangguan tidur dan
perdarahan pada skala analog visual (VAS) sebesar 1 (minimal) hingga 10 (tidak
tertahankan) pada malam setelah operasi. Ketika Merocel diambil (Kelompok 1
dan 2) dan rongga hidung dibersihkan (kelompok 3), ketidaknyamanan
pascaoperasi, yang mencakup nyeri dan perdarahan diberikan skor kembali pada
skala yang sama.
Pasien dipantau di klinik dalam waktu 1 bulan setelah operasi. Perdarahan
pascaoperasi, infeksi, perforasi septum, hematoma septum, dan pembentukan
sinekia diperiksa dan dicatat.

Metode statistik
Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan perangkat SPSS versi 13.0
untuk Windows. Perbandingan antara kelompok dilakukan dengan menggunakan
analisis varian one way (ANOVA) atau ANOVA pada ranks (metode Kruskal-
Wallis, dalam kasus outcome yang terdistribusi tidak secara normal). Tindakan
perbandingan multipel berpasangan dengan metode Bonferroni atau Dunnett
(dalam kasus outcome yang tidak terdistribusi secara normal) dilakukan jika
perubahannya signifikan. Suatu nilai P sebesar < 0.05 dianggap signifikan secara
statistik.

Hasil
Karakteristik pasien
Semua kelompok terdiri atas 45 pasien. Kelompok 1 memiliki distribusi
sebanyak 39 subjek laki-laki dan 6 subjek perempuan, dengan rerata usia 37
tahun. Pada kelompok 2, terdapat 37 subjek laki-laki dan 8 subjek perempuan,
dengan rerata usia 36 tahun. Kelompok terakhir terdiri atas 38 subjek laki-laki dan
7 subjek perempuan, dengan rerata usia 36 tahun. Tidak terdapat perbedaan yang
signifikan dalam hal jenis kelamin atau usia antara kelompok.
Perbandingan ketidaknyamanan pada malam hari setelah operasi antara 3
kelompok
Sebagaimana yang diperlihatkan pada Tabel 1, pasien dalam kelompok 1
menderita nyeri hidung yang paling signifikan, nyeri kepala, disfagia, gangguan
tidur dan perdarahan di malam hari setelah operasi. Hasil ini semuanya dihitung
dengan one way ANOVA, dengan pengecualian skor nyeri kepala, yang dihitung
dengan metode Kruska-Wallis (P < 0.001). Nyeri hidung (x = 6.7) dan perdarahan
(x = 7.4) merupakan nyeri yang paling berat pada pasien di kelompok 1.
Sementara nyeri hidung (x = 2.1) dan perdarahan (x = 1.7) dalam kelompok 3
secara signifikan lebih kurang dibandingkan dengan 2 kelompok lainnya.

Perbandingan ketidaknyamanan pascaoperasi berkenaan dengan


pengangkatan tampon (kelompok 1 dan 2 ) dan pembersihan rongga hidung
(kelompok 3) antara 3 kelompok
Sebagaimana yang disajikan dalam tabel 2, pasien dalam kelompok 1 masih
menderita nyeri pascaoperatif yang paling signifikan (x = 8.7) dan perdarahan (x
= 7.2). Meskipun nyeri pascaoperatif (x = 1.6) dan perdarahan (x = 1.1) pada
kelompok 3 secara signifikan lebih sedikit dibandingkan 2 kelompok lainnya
(One way ANOVA, P < 0.001).

Perbandingan kunjungan follow up dalam waktu 1 bulan operasi


Selama kunjungan follow up pasien di klinik, kami mengamati satu kasus
perdarahan pascaoperasi dalam kelompok 1, satu kasus hematoma septum pada
kelompok 1 dan satu kasus hematoma septum pada kelompok 2. Kami juga
mencatat 2 kasus sinekia pada kelompok 1, 3 kasus pada kelompok 2 dan 2 kasus
pada kelompok 3. Kasus perdarahan pascaoperasi pada kelompok 1 membutuhkan
pemasangan tampon ulang, 2 kasus hematoma septum pada kelompok 1 dan 2
membutuhkan tusukan dan drainase. Semua sinekia dipisahkan dengan mudah.
Semua pasien pulih kemudian tanpa adanya efek samping apapun. Tidak ada
infeksi atau perforasi septum yang teramati pada kasus manapun.
Tabel 1. Analisis hasil perbandingan antara 3 kelompok mengenai
ketidaknyamanan pada malam setelah operasi
Skor VAS
Gejala Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Nilai F Nilai P
N1 = 45 N2 = 45 N3 = 45
Nyeri hidung 6.7 1.6 3.8 1.7 2.1 1.7 86.8 <0.001
Nyeri kepala 4.9 1.7 4.0 1.5 2.3 2.2 34.1 <0.001
Epifora 1.5 1.1 1.9 1.6 1.2 1.5 2.8 0.063
Disfagia 5.7 1.7 2.4 2.3 1.3 1.7 66.4 <0.001
Gangguan tidur 3.0 1.8 3.4 2.2 1.7 1.6 214.8 <0.001
Perdarahan 7.4 1.8 2.9 1.0 1.7 1.2 304.2 <0.001
a
One way ANOVA, nilai F
b
metode Kruskal-Wallis, nilai Chi square

Tabel 2. Analisis hasil perbandingan antara 3 kelompok mengenai


ketidaknyamanan berkanaan dengan pengangkatan tamon (kelompok 1 dan 2) dan
pembersihan rongga hidung (kelompok 3) 48 jam setelah operasi.
Skor VAS (X SD)
Gejala Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Nilai F Nilai P
N1 = 45 N2 = 45 N3 = 45
Nyeri 8.7 1.5 8.0 1.8 1.6 1.2 304.2 <0.001
Perdarahan 7.2 1.8 3.4 1.7 1.1 1.1 182.8 <0.001

Pembahasan
Tampon hidung setelah septoplasti seringkali digunakan oleh kebanyakan ahli
bedah untuk beberapa alasan. Pertama, tampon nasal mempertahankan aposisi flap
muko-perikondrial dan menstabilkan septum nasi untuk membuatnya lurus setelah
operasi. Selain itu, tindakan ini dapat membantu mengendalikan perdarahan,
mencegah ruang mati, hematoma dan infeksi. Terakhir, tindakan ini dapat
mencegah sinekia dan adhesi. Kassa pita dan Merocel biasanya dipertahankan
dalam rongga hidung selama 24 48 jam setelah operasi. Namun, pasien dengan
tampon hidung sangat sering mengeluhkan mengenai nyeri yan gberat dan ingin
sekali mengeluarkan tampon sedini mungkin. Pengeluaran tampon biasanya
menyebabkan pasien merasakan nyeri yang sangat berat. Meskipun tujuan tampon
hidung adalah untuk mengurangi komplikasi, tidak jarang kita masih menemukan
komplikasi pascaoperatif. Pada tahun 2011 Naghibzadeh dkk11 membandingkan
tampon hidung dengan tanpa tampon hidung pada pasien setelah septoplasti dan
menemukan bahwa angka komplikasi seperti hematoma septum, sinekia dan
perdarahan pascaoperasi adalah sama, kecuali untuk nyeri pasca operasi dan
ketidaknyamanan yang meningkat pada kelompok dengan tampon hidung.
Tampon hidung juga menyebabkan kerusakan mokosa yang signifikan dengan
kerusakan silia, dan dapat mempengaruhi pembersihan mukosilier hidung pada
fase penyembuhan pascaoperasi.12 Selain itu beberapa komplikasi yang serius
seperti sindroma syok toksik dan refleks nasopulmonal dapat menyebabkan
masalah yang mengancam nyawa.13
Untuk mengatasi masalah ini, beberapa penulis telah mencoba jalan
alternatif untuk mencegah nyeri dan komplikasi lainnya. Splint intranasal telah
digunakan untuk menggantikan tampon nasal, namun juga menyebabkan nyeri
yang signifikan dan tidak mengurangi komplikasi pascaoperasi.14
Sedini tahun 1970-an dan 1980-an, beberapa penulis mulai menggunakan
jahitan septum nasi untuk meminimalkan morbiditas tampon nasal pasca operasi.
Dalam abad ini semakin banyak ahli bedah yang lebih menyukai jahitan septum
nasi dibandingkan tampon hidung. Dibandingkan dengan tampon hidung, jahitan
pada septum dapat mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan lainnya untuk pasien,
meminimalkan komplikasi dan meningkatkan stabilitas septum.6,7 Genc dkk15
membandingkan pengaruh jahitan dan tampon hidung pada hidung kelinci di
tahun 2004, dan menemukan bahwa jahitan septum memiliki pengaruh yang
hampir sama sebagaimana dengan tampon hidung dalam tampilan histologi
septum nasi. Suatu teknik jahitan kontinyu setelah septoplasti, yang dirancang
oleh Hari dkk10 pada tahun 2008, mudah untuk dilakukan dan merupakan suatu
cara yang efektif untuk mencegah komplikasi. Pada tahun 2011, Gunaydin dkk 16
menemukan bahwa ketika dibandingkan dengan kelompok tampon hidung, pasien
pada kelompok jahitan lebih nyaman, ekstubasi lebih mudah dan pemantauan
pasca anestesi lebih singkat. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam hal
perdarahan besar, hematoma dan infeksi.
Hasil penelitian terhadap 135 pasien ini yang menjalani septoplasti
menunjukkan perbedaan yang signifikan antara 3 kelompok dalam 5 aspek
ketidaknyamanan pada malam setelah operasi. Pasien dalam kelompok 1
mengalami ketidaknyamanan yang paling besar, yang mencakup nyeri pada
hidung, nyeri kepala, disfagia, ganggun tidur dan perdarahan. Skor VAS untuk
nyeri pada hidung (x = 6.7) dan perdarahan (x = 7.4) tertinggi pada kelompok 1,
dan yang terendah (x = 7.4) pada kelompok 3. Temuan ini menunjukkan bahwa
mengombinasikan tampon hidung dan coblasi konka inferior tanpa tampon dapat
secara signifikan mengurangi ketidaknyamanan pasien. Hasil kami juga
menyatakan bahwa coblasi saja dengan tampon juga dapat mengurangi beberapa
ketidaknyamanan pasien, sementara menggunakan microdebrider dengan tampon
hidung dapat memperburuk ketidaknyamanan pada pascaoperatif.
Temuan kami juga menunjukkan bahwa nyeri hidung pada pengangkatan
tampon paling menyakitkan (x = 8.7) bagi pasien pada kelompok 1, sementara
nyeri hidung pada pembersihan rongga hidung terendah (x = 1.6) bagi pasien
dalam kelompok 3. Skor VAS untuk perdarahan selama pengangkatan tampon
atau pembersihan rongga hidung juga paling tinggi pada kelompok 1 (x = 7.2) dan
terendah (x = 1.1) pada kelompok 3. Semua hasil ini sesuai dengan penelitian
sebelumnya.
Pada kunjungan follow up, terdapat lebih banyak morbiditas dalam
kelompok 1 dan kelompok 2 dibandingkan kelompok 3. Satu kasus perdarahan
pasca operatif ditemukan pada kelompok 1, dan 2 kasus hematoma septal
ditemukan pada kelompk 1 dan 2 pada pasien-pasien yang semuanya ditampon
pasca operatif, namun tidak pada kelompok 3 (tanpa tampon). Meskipun
keinginan ahli bedah untuk meminimalkan komplikasi seperti perdarahan pasca
operasi dan hematoma septum dengan tampon hidung, hasilnya seringkali
bertentangan dengan keinginannya. Tampon hidung tidak dapat mencegah
komplikasi. Jahitan septum mungkin lebih dapat diandalkan.
Beberapa kasus sinekia ditamukan pada ketiga kelomok, dan mereka
menyoroti pentingnya manipulasi yang sangat cermat untuk mencegah kerusakan
pada mukosa nasal. Kunjungan rawat jalan pasca operatif adalah hal yang penting.
Deviasi septum nasi selalu disertai dengan hipertropi konka inferior. Tidak
terdapat kesepakatan mengenai apakah harus melakukan atau tidak melakukan
operasi konka selama septoplasti. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa,
dibandingkan dengan tulang dan mukosa lateral, mukosa medial dari konka
inferior pada sisi yang konkaf menjadi lebih tebal. 17 Septoplasti tanpa
turbinoplasti inferior akan meningkatkan patensi sisi yang terdeviasi, namun
memperburuk sisi yang konkaf. Sebagai hasilnya, beberapa ahli bedah
menyatakan bahwa reduksi konka inferior harus dilakukan secara simultan selama
septoplasti.
Terdapat banyak metode untuk reduksi konka, yang mencakup kauter
submukosa, reduksi konka laser, eksisi konka dan reduksi konka dengan bantuan
mikrodebrider. Mudah untuk memanipulasinya namun dapat menyebabkan
perdarahan dan nyeri pada pasien, yang membuat tampon tidak dapat dihindari. 19
Bahkan dengan tindakan konservatif turbinoplasti inferior dengan bantuan mesin, 1
pasien masih mengalami perdarahan dan perlu ditampon dengan surgicel untuk
menciptakan hemostasis. Coblasi merupakan suatu teknik yang relatif baru
dengan banyak manfaat. Ini merupakan tindakan yang minimal invasif, dapat
dilakukan pada suhu yang rendah dan melindungi fungsi silia mukosa secara
pascaoperatif.19,20 Tindakan ini bersifat sederhana, dan efektivitasnya bersifat
signifikan dalam reduksi obstruksi nasal.
Menurut pengetahuan terbaik kami, penelitian ini merupakan yang pertama
yang menggabungkan jahitan septum nasal dengan coblasi konka inferior untuk
mengatasi deviasi septum nasi dan hipertropi konka inferior tanpa tampon. Kami
melakukan outfracture konka inferior sebelum coblasi konka, karena outfracture
adjuvant dapat secara efektif meningkatkan patensi jalan napas nasal dan
memungkinkan visualisasi bagian posterior konka inferior yang baik untuk
coblasi selanjutnya.20
Dengan perkembangan teknik operasi endoskopi fungsional, lebih banyak
dan lebih banyak lagi ahli bedah yang mengadopsi pendekatan konservatif untuk
septoplasti. Hanya bagian tulang septum yang mengalami deeviasi yang diatasi
dengan operasi dan kartilago dipertahankan sebanyak mungkin. Namun, kartilago
septum sebagian pasien dapat kadangkala masih membengkok atau terpelintir
bahkan setelah beberapa isisi pada kartilago karena memori kartilago. Memori
kartilago sangat jelas ketika berdekatan dengan ujung septum. 21 Untuk beberapa
kasus yang terdeviasi, mukosa pada sisi yang melengkung juga cenderung tetap
mempertahankan deviasinya bahkan setelah pengangkatan tulang dan kartilago.
Oleh karena itu kami menggunakan sepotong kecil Nasopore di rongga hidung
pada sisi yang terdeviasi untuk menekan bagian kartilago dan mukosa yang
terdeviasi dari septum nasi untuk memastikan bahwa septum nasi akan tetap
terjaga lurus pascaoperatif. Potongan kecil Nasopore dapat diangkat dengan
mudah dengan suction, dan pengangkatan tampon tidak dibutuhkan.
Jahitan septum nasi yang digabungkan dengan coblasi konka inferior tidak
hanya berkaitan dengan nyeri pasien yang lebih sedikit, kepuasan pasien yang
lebih tinggi dan perbaikan kualitas hidup, namun juga mengurangi komplikasi. Ini
merupakan suatu metode alternatif yang lebih nyaman dan dapat diandalkan
terhadap tampon hidung.