Anda di halaman 1dari 21

FILSAFAT HUKUM

ALIRAN-ALIRAN FILSAFAT HUKUM


Dosen pembimbing: Hendra Haryanto, SH.,SE.,MM.,MH.

Yunita Putri Melani (1433.001.008)

Dio Anugrah Wijaya (1433.001.034)

Joshua Marda Dolok (1433.001.046)

Jessika Octaviana LT. (1433.001.054)

Bagas Raihandika (1433.001.080)

Dinda Aris Savira (1433.001.100)

Elisa Nur Nasution (1433.001.129)

Andi Ade Arfebyasari (1433.001.145)

Kelompok IV

Fakultas hukum

Universitas krisnadwipayana

Tahun 2017
BAB IV

ALIRAN-ALIRAN DALAM FILSAFAT HUKUM

A. PENDAHULUAN

Apabila pada masa lalu, filsafat hukum merupakan produk sampingan


dari para filsuf, dewasa ini kedudukannya tidak lagi demikian karena masalah-
masalah filsafat hukum telah menjadi bahan kajian tersendiri bagi para ahli
hukum.

Dipaparkannya aliran-aliran filsafat hukum ini juga tidak sekadar


merupakan napak tilas perjalanan pemikiran para ahli tersebut. Dengan
mengetahui pemikiran-pemikiran tersebut kita akan mendapat banyak masukan
yang memungkinkan kita untuk menghargai pendapat orang lain.

Aliran-aliran filsafat hukum yang akan dibicarakan dalam tulisan


meliputi: (1) Aliran Hukum Alam; (2) Positivisme Hukum; (3) Utilitarianisme;
(4) Mazhab Sejarah; (5) Sociologizal Jurisprudence; (6) Realisme Hukum; (7)
Freirechslehre.

B. ALIRAN HUKUM ALAM

Dilihat dari sejarahnya, menurut Friedmann(1990:47), aliran ini timbul


karena kegagalan umat manusia dalam mencari keadilan yang absolut. Hukum
alam di sini dipandang sebagai hukum yang berlaku universal dam abadi.

Secara sederhana, menurut sumbernya, Aliran Hukum Alam dapat


dibedakan dalam dua macam: (1) irasional, dan (2) rasional. Aliran Hukum
Alam yang irasional berpendapat bahwa hukum yang berlaku universal dan
abadi itu bersumber dari Tuhan secara langsung. Sebaliknya, Aliran Hukum
Alam yang rasional berpendapat bahwa sumber dari hukum yang universal dan
abadi itu adalah rasio manusia.

1. Hukum Alam Irasional


Beberapa pendukung Aliran Hukum Alam Irasional yang akan diuraikan
pandangan-pandangannya adalah Thomas Aquinas, John Salisbury, Dante
Alighieri, Piere Dubois, Marsilius Padua, William Occam, John Wycliffe,
dan Johannes Huss.

Thomas Aquinas (1225-1275)

Filsafat Thomas Aquinas berkaitan erat dengan teologia. Ia


mengakui bahwa di samping kebenaran wahyujuga terdapat kebenaran
akal. Menurutnya, ada pengetahuan yang tidak dapat ditembusoleh akal,
dan untuk itulah diperlukan iman. Sekalipun akal manusia tidak dapat
memecahkan misteri, ia dapat meratakan jalan menuju pemahaman
terhadapnya.

Dengan demikian, menurut Aquinas, ada dua pengetahuan yang


berjalan bersama-sama, yaitu (1) pengetahuan alamiah (berpangkal pada
akal), dan (2) pengetahuan iman (berpangkal pada wahyu Ilahi).
Pembedaan tersebut juga digunakan oleh Aquinas dalam menjelaskan
perbedaan antara filsafat dan teologia.

Di antara banyak karya tulisnya, tulisan paling masyhur dari


Thomas Aquinas berjudul Summa Theologiae. Karya lainnya adalah De
Ente et Essentia dan Summa Contra Gentiles.

John Salisbury (1115-1180)


Salisbury adalah rohaniawan pada Abad Pertengahan. Ia banyak
mengkritik kesewenang-wenangan penguasa waktu itu. Gereja dan negara
perlu bekerja sama ibarat hubungan organis antara jiwa dan raga.

Menurut Salisbury, jikalau masing-masing penduduk bekerja untuk


kepentingannya sendiri, kepentingan masyarakat akan terpelihara dengan
sebaik-baiknya (Schmid, 1965: 91). Salisbury juga melukiskan kehidupan
bernegara itu seperti kehidupan dalam sarang lebah, yang sangat
memerlukan kerja sama dari semua unsur; suatu pandangan yang bertitik
tolak dari pendekatan organis.

Piere Dubois (lahir 1255)

Dubois adalah salah satu filsuf terkemuka Prancis. Kedudukannya


sebagai pengacara Raja Prancis pada masa itu selaras dengan pandangan-
pandangannya yang propenguasa. Ia mencita-citakan suatu Kerajaan
Inggris yang maha luas, yang menjadi pemerintah tunggal dunia. Di sini
tampak, bahwa Dubois sangat meyakini adanya hukum yang dapat
berlaku universal.

Sama seperti filsuf Dante, Dubois menyatakan, bahwa penguasa


(raja) dapat langsung menerima kekuasaan dari Tuhan, tanpa perlu
melewati pemimpin Gereja. Bahkan, Dubois ingin agar kekuasaan
duniawi Gereja (paus) dicanbut dan diserahkan sepenuhnya kepada raja.

Marsilius Padua (1270-1340) dan William Occam (1280-1317)

Pemikiran Marsilius Padua seringkali diuraikan bersama-sama


dengan pemikiran William Occam, mengingat keduanya banyak
persamaan. J. J. Von Schmid (1965: 109) menyebutkan, kedua orang ini
termasuk tokoh penting Abad ke-14, sama-sama dari Ordo Fransiscan,
dan pernah memberi kuliah di universitas di kota Paris.

Padua berpendapat bahwa negara berada di atas kekuasaan paus.


Kedaulatan tertinggi ada di tangan rakyat. Padua juga berpendapat bahwa
tujuan negara adalah untuk memajukan kemakmuran dan memberikan
kesempatan seluas-luasnya kepada warga negara agar dapat
mengembangkan dirinya secara bebas.

Di sisi lain, filsafat Occam sering disebut Nominalisme, sebagai


lawan dari pemikiran Thomas Aquinas (yang sesungguhnya sama-sama
Aliran Hukum Alam yang irasional). Jika Thomas meyakini kemampuan
rasio manusia untuk mengungkapkan kebenaran, Occam berpendapat
sebaliknya. Rasio manusia tidak dapat memastikan kebenaran.

John Wycliffe (1320-1384) dan Johannes Huss (1369-1415)

John Wycliffe mengibaratkan hubungan antara kekuasaan


ketuhanan dan kekuasaan duniawi seperti hubungan antara pemilik dan
penggarap tanah. Masig-masing memiliki bidangnya sendiri, sehingga
tidak boleh saling mencampuri.

Urusan negara tidak boleh dicampuri oleh rohaniawan, karena


corak pemerintahan para rohaniawan itu adalah corak kepemimpinan
yang paling buruk. Menurutnya, pemerintahan yang baik adalah
pemerintahan yang dipimpin para bangsawan,orang awam sama
derajatnya di mata Tuhan.

Johannes Huss berpendapat bahwa bahwa penguasa boleh


merampas hak milik itu apabila Gereja salah menggunakan haknya. Paus
dan hirarki Gereja tidak diadakan menurut perintah Tuhan, melainkan
dibentuk oleh semua orang yang beriman. (Schmid, 1965:115)

2. Hukum Alam Rasional

Tokoh-tokoh dari aliran ini antara lain adalah : Hugo de Groot, Samuel
von Pufendorf, Chirstian Thomasius, dan Immanuel Kant.

Hugo de Groot alias Grotius (1583-1645)

Hugo de Groot atau Grotius, ialah Bapak Hukum Internasional, karena ia


mempopulerkan konsep-konsep hukum dalam hubungan antar negara.

Menurut Grotius, sumber hukum adalah rasio manusia. Karena


karakteristik yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah
kemampuan akalnya, seluruh kehidupan manusia harus berdasarkan pada
kemampuan akal (rasio).

Hukum alam ialah hukum yang selalu muncul sesuai kodrat manusia, dan
tidak mungkin dapat diubah (secara ekstrim) bahkan oleh Tuhan sekalipun!
Hukum alam itu diperoleh manusia dari akalnya, tetapi Tuhannlah yang
memberikan kekuatan mengikatnya.

Karya Grotius yang termasyur berjudul : (1) De Jure Belli ac Pacis, dan (2)
Mare Liberium.

Samuel von Pufendorf (1632-1694) dan Chrstian Thomasius (1655-1728)

Pufendorf adalah penganjur pertama hukum alam di jerman pekerjaannya


dilanjutkan oleh Christian Thomasius.

Hukum alam adalah aturan yang berasal dari akal pikiran yang murni.
Lambat laun unsur naluriah manusia yang lebih berperan, maka timbul
pertentangan kepentingan satu dengan yang lainnya. Lau dibuatlah perjanjia
secara sukarela di antara rakyat. Dengan adanya perjanjian itu, berarti tidak ada
kekuasaan yang absolut. Memberika pembedaan yang tegas antara hukum dan
moral (Aliran Positivisme Hukum daripada Hukum Alam).

Menurut Thomasius, manusia hidup dengan bermacam-macam naluri


yang bertentangan satu dengan yang lain. Karena itu diperlukan adanya aturan-
aturan yang mengikat, agar ia mendapat kepastian dalam tindakan-tindakannya.

Karanga terpenting Pufendorf berjudul fundamental Juris Nature et


Gentium.

Immanuel Kant (1724-1804)

Filsafat Kant dikenal sebagai filsafat kritis, sebagai lawan dari filsafat
dogmatis. Sekalipun demikian, sesungguhnya filsafat kritis dari Kant tersebut
adalah periode kedua dari pemikiran Kant.

Seperti diungkapkan oleh Bertens (1992: 59), kehidupan Kant sebagai


filsuf dapat dibagi atas dua periode, yakni jaman prakritis dan jaman kritis.
Dalam jaman prakritis, Kant menganut pendirian rasionalistis yang dilancarkan
oleh Wolff dan kawan-kawannya. Akibat pengaruh dari David Hume (1711-
1776), berangsur-angsur Kant meninggalkan rasionalismenya. Ia sendiri
mengatakan bahwa Hume-lah yang membangunkan dia dari tidur dogmatisnya.
Setelah itu, Kant mulai mengubah pandangan filsafatnya menjadi pandangan
yang bersifat kritis.

C. Positivisme Hukum

Positivisme Hukum (Aliran Hukum Positif) memandang perlu


memisahkan secara tegas antara hukum dan moral (hukum yang berlaku dan
hukum yang seharusnya, antara Das Sein dan Das Sollen). Aliran Hukum
Positif yang dikenal dengan nama Legisme, berpendapat lebih tegas, bahwa
hukum itu identik dengan undang-undang.
Positivisme Hukum dapat dibedakan dalam dua corak: (1) aliran hukum positif
analitis (Analytical Jurisprudence), dan (2) aliran hukum Murni (Reine
Rechtslehre) dipelopori oleh John Austin dan oleh Hans Kelsen.

1. Aliran Hukum Positif Analitis : John Austin (1790-1859)

Hukum adalah perintah dari penguasa negara. Dalam bukunya, The


Province of Jurisprudence dan ajarannya dikenal dengan sebutan the imperative
School.

Pihak superior itulah yang menentukan apa yang diperbolehkan.


Kekuasaan dari superior itu memaksa orang lain untuk taat, yaitu dengan cara
menakut-nakuti dan mengarahkan tingkah laku orang lain kea rah yang
diinginkannya. Hukum adalah perintah yang memaksa, yang dapat saja
bijaksana dan adil, atau sebaliknya (Lyons, 1983:7-8).

Austin membedakan hukum dalam dua jenis

1. Hukum dari Tuhan untuk Manusia (The divine law)


2. Hukum yang dibuat oleh Manusia
a. Hukum yang sebenarnya (hukum positif)
Memiliki 4 unsur, yaitu : (1) perintah (command), (2) sanksi
(sanction) (3) kewajiban (duty) (4) kedaulatan (sovereignty).

b. Hukum yang tidak sebenarnya (hukum yang tidak dibuat oleh


penguasa, sehingga tidak memenuhi persyaratan sebagai hukum,
seperti ketentuan dari suatu organisasi olahraga.

2. Aliran Hukum Murni : Hans Kelsen (1881-1973)


Teori Hukum Murni (Reine Rechtslehre), hukum adalah suatu
Sollencategorie (kategori keharusan / ideal), bukan Seincategorie (kategori
factual).

Hukum adalah suatu keharusan yang mengatur tingkah laku manusia


sebagai makhluk rasional. Kelsen mendasarkan pemikirannya pada
Neokantianisme sedangkan Austin pada Utilitarianisme. Sebagian besar
kaum Neokantian menggunakan pemikiran dari Kant yaitu tentang
pemisahan antara bentuk dan isi, jadi dengan demikian hukum dapat saja
tidak adil, tetapi tetaplah hukum dikeluarkan oleh pengusaha.

Kelsen mengakui bahwa hukum positif menjadi tidak efektif lagi. Karena
kepentingan masyarakat sudah tidak ada dan penguasa pun tidak akan
memkasakan penerapannya. Keadaan ini dikenal dengan istilah
dekriminaliasasi dan depenalisasi. Selain toeri hukum murni kelsen dianggap
mengembangkan Teori Jenjang (stuffentheorie) yang semula dikemukakan
oleh Adolf Merkl (1836-1896). Menurutnya, hukum sebagai suatu susunan
norma berbentuk piramida. Norma yang lebih rendah memperoleh
kekuatannya dari suatu norma yang lebih tinggi. Semakin tinggi suatu norma
sifatnya akan semakin abstrak, dan sebaliknya.

D. UTILITARIANISME

Utilitarianisme atau Utilisme adalah aliran yang meletakkan kemanfaatan


sebagai tujuan utama hukum. Baik buruk atau adil tidaknya suatu hukum,
bergantung pada hukum itu yang memberikan kebahagiaan kepada manusia.
tujuan hukum yaitu menciptakan ketertiban masyarakat, untuk memberikan
manfaat yang sebesar-besarnya kepada sejumlah orang.

Pendukung utilitarianisme yang paling penting adalah Jeremy Bentham,


John Stuart Mill, dan Rudolf von Jhering.
1. Jeremy Bentham (1748-1832)
Bentham berpendapat bahwa alam memberikan kebahagiaan dan
kesusahan. Manusia selalu berusaha memperbanyak kebahagiaan dan
mengurangi kesusahannya. Kebaikan adalah kebahagiaan, dan kejahatan
adalah kesusahan.ada keterkaitan yang erat antara kebaikan dan kejahatan
dan kebahagiaan dan kesusahan. Tugas hukum adalah memelihara
kebaikan dan mencegah kejahatan. Tegasnya, memelihara kegunaan.ia
menginginkan agar hukum dapat memberikan jaminan kebahagiaan
kepada individu. Namun, Bentham tidak menyangkal bahwa disamping
kepentingan individu., kepentingan masyarakat pun perlu diperhartikan
dan dibatasi. Jika tidak akan terjadi homo homini lupus ( manusia akan
menjadi serigala bagi manusia lain ). Ia menyarankan agar ada simpati
dari tiap-tiap individu. Jika setiap individu telah memperoleh
kebahagiannya,dengan sendirinya kebahagiaan
(kesejahteraannya)masyarakat akan dapat diwujudkan secara simultan.

Pemidanaan hanya bisa diterima apabila ia memberikan harapan


bagi tercegahnya kejahatan yang lebih besar (Rahardjo, 1986:239).
Ajaran seperti ini didasarkan atas hedonistic utilitarianism.
Kekurangan yang dimiliki Bentham menurut Friedman.
1. Rasionalisme yang abstrak dan doktriner
2. Terlalu yakin kemungkinan kodifikasi ilmiah yang lengkap melalui
prinsip-prinsip yang rasional, sehingga menghiraukan perbedaan-
perbedaan nasional atau historis.

2. John Stuard Mill (1806-1873)


Pemikirannya dipengaruhi oleh pertimbangan psikologis yang awalnya
dikembangkan oleh ayahnya, James Mill. Yang bertujuan untuk memperoleh
kebahagiaan melalui hal yang membangkitkan nafsunya (dapat ditimbulkan ).
Bagi Mill psikologi merupakan ilmu yang paling fundamental
(penginderaan(sensation) dan cara susunannya)

Menurut Friedmann, (1990a:120-121)

Peran Mill dalam ilmu hukum terletak dalam penyelidikannya


mengenai hubungan antara keadilan, kegunaan, kepentingan individu, dan
kepentingan umum. Ia menolak pandangan Bentham bahwa antara
kepentingan individu dan kepentingan umum tidak ada pertentangan. Ia pun
menolah cara pandang Immanuel Kant yang mengjakan agar individu harus
bersimpati pada kepentingan umum. Pada hakikatnya, perasaan individu
akan keadilan akan membuat individu itu menyesal dan ingin membalas
dendam kepada tiap yang tidak menyenangkannya. Mill menyatakan bahwa
orang yang baik menyesalkan itindakan yang tidak baik terhadap masyarakat,
walaupun tidah mengenai dirinya sendiri, dan sebaliknya.

3. Rudolf van Jhering (1818-1892)

Teorinya merupakan gabungan antara teori Bentham, Stuart Mill, dan


positivisme hukum dari John Austin (Rasjidi,1990:45) mulanya ia menganut
mazhab sejarah, namun kelamaan ia menentang pandangan Von Savigny.
Menurut Von Savigny seluruh hukum romawi merupakan pernyataan jiwa
bangsa romawi dan karenanya merupakan hukum nasional, tetapi pada
tingkat perkembangannya yang lebih lanjut hukum itu makin mendapat ciri-
ciri universal (hukum yang mulanya nasional menjadi hukum universal)
menurutnya hukum timul dari jiwa bangsa secara spontan, tetapi menurut
Von Jhering hukum adalah untuk melindungi kepentingan-kepentingan
(pengejaran kesenangan dan menghindari penderitaan dengan
menghubungkan tujuan pribadi seseorang dan kepentingan orang lain)

E. MAZHAB SEJARAH
Mazhab sejarah (historische rechtsschule) merupakan reaksi terhadap tiga
hal (Basuki,1989:32), yaitu :
1. Rasionalisme abad ke-18 yang didasarkan pada hukum alam, kekuatan
akal dan prinsip dasar yang berperan pada filsafat hukum.
2. Semangat revolusi perancis yang menentang wewenang tradisi dengan
misi kosmopolitan.
3. Pada zaman itu melarang hakim menafsirkan hukum karena undang-
undang dianggap dapat memecahkan semua masalah hukum.

Di samping itu, terdapat faktor lain, yaitu masalah kodifikasi hukum


Jerman setelah berakhirnya masa Napoleon Bonaparte, yang diusulkan oleh
Thibaut (1772-1840), guru besar pada Universitas Heidelberg di Jerman
dalam tulisannya yang terbit tahun 1814, berjudul Uber die Notwendigkeit
eines Allegemeinen Burgerlichen Rechts fur Deutchland (Tentang
Keharusan Suatu Hukum Perdata bagi Jerman). Karena dipengaruhi oleh
keinginannya akan kesatuan negara, ia menyatakan keberatan terhadap
hukum yang tumbuh berdasarkan sejarah. Hukum itu sukar untuk diselidiki,
sedangkan jumlah sumbernya bertambah banyak sepanjang masa, sehingga
hilanglah keseluruhan gambaran darinya.

1. Friedrich Karl van Savigny (1770-1861)


Timbulnya hukum sama dengan timbulnya bahasa di suatu bangsa.
Karena setiap bangsa mempunyai ciri khusunya masing-masing. Yaitu
tidak ada bahasa yang universal, tidak ada pula hukum yang universal.
Hukum timbul bukan karena perintah penguasa atau karena kebiasaan,
tapi karena perasaan keadilan yang terdapat didalam jiwa bangsa dan
tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Pendapatnya ini bertolak
belakang dengan aliran hukum alam serta pandangan positivisme
hukum.
Paton (1951:16) mengkritik bahwa :
1. Jangan sampai kepentingan golongan masyarakat tertentu dinyatakan
sebagai Volksgiest ( jiwa bangsa ).
2. Tidak selamanya peraturan perundang-undangan itu timbul begitu saja
karena banyak ketentuan mengenai serikat kerja diinggris yang tidak
akan terbentuk tanpa perjuangan keras.
3. Jangan sampai peranan hakim dan ahli hukum lainnya tidak dapat
perhartian.
4. Dalam kasus peniruan memainkan peranan yang lebih besar dari pada
yang akui penganut Mazhab sejarah.

2. Puchta (1798-1846)
Menurut Puchta hukum dapat berbentuk
1. Adat istiadat
2. Undang-undang
3. Ilmu hukum dalam bentuk karya para ahli hukum( Huijbers,
1988:120)
Menurutnya pula membedakan pengertian bangsa yaitu,
1. Bangsa dalam pengertian etnis (bangsa alam)
2. Dalam arti nasional

Hukum yang sah hanyalah bangsa dalam pengertian nasional, bangsa


alam memiliki hukum sebagai keyakinan belaka. Keyakinan tersebut
hidup dalam jiwa bangsa harus disahkan melalui kehendak umum
masyarakat yang teroganisasi dalam negara.

3. Henry sumner Maine (1822-1888)


Menurut teorinya dipengaruhi oleh pemikiran Von Savigny yang
dikembangkan lebih lanjut olehnya tentang studi perbandingan
perkembangan lembaga-lembaga hukum yang ada pada masyarakat
sederhana maupun masyarakat yang telah maju, ia membuktikan adanya
pemikiran Van Savigny tentang pola evolusi pada pelbagai masyarakat
dalam situasi sejarah yang sama.

Pendekatan ilmiahnya jauh berbeda dengan pendekatan yang lazim


dipergunakan dalam pemikiran filosofis dan spekulatif (Soekanto,
1985:12-14 )

F. SOCIOLOGICAL JURISPRUDENCE

Menurut aliran Sosiological Jurisprudence ini, hukum yang baik haruslah


hukum yang sesuai dengan hukum yang berlaku di masyarakat. Aliran ini
memisahkan secara tegas antara hukum positif (the positive law) dan hukum
yang hidup (the living law).

Aliran Positivisme Hukum mementingkan akal, sementara aliran Mazhab


Sejarah lebih mementingkan pengalaman, dan Sociological Jurisprudence
menganggap keduanya sama pentingnya.

Tokoh-tokoh aliran Sociological Jurisprudence antara lain adalah Eugen


Ehrlich dan Roscoe Pound.

1. Eugen Ehrlich (1862-1922)

Eugen Ehrlich dapat dianggap sebagai pelopor aliran Sociological


Jurisprudence, khususnya di Eropa. Ia adalah seorang ahli hukum dari
Austria dan tokoh pertama yang meninjau hukum dari sudut sosiologi.

Ehrlich melihat ada perbedaan antara hukum positif di satu pihak


dengan hukum yang hidup dalam masyarakat (living law) di lain pihak.
Menurutnya, hukum positif baru akan memiliki daya berlaku yang efektif
apabila berisikan, atau selaras dengan hukum yang hidup dalam
masyarakat tadi (Rasjidi, 1988: 55). Di sini jelas bahwa Ehrlich berbeda
pendapat dengan penganut Positivisme Hukum.

Ehrlich ingin membuktikan kebenaran teorinya, bahwa titik pusat


perkembangan hukum tidak terletak pada undang-undang, putusan hakim,
atau ilmu hukum, tetapi pada masyarakat itu sendiri.

Buku Ehrlich yang terkenal antara lain berjudul Grundlegung der


Soziologie des Rechts.

2. Roscoe Pound (1870-1964)

Pound terkenal dengan teorinya bahwa hukum adalah alat untuk


memperbarui (merekayasa) masyarakat (law as a tool of social
engineering). Untuk dapat memenuhi peranannya sebagai alat tersebut,
Pound lalu membuat penggolongan atas kepentingan-kepentingan yang
harus dilindungi oleh hukum sebagai berikut.

a. Kepentingan umum (public interest) :

1. kepentingan negara sebagai badan hukum;

2. kepentingan negara sebagai penjaga kepentingan masyarakat.

b. Kepentingan masyarakat (social interest) :

1. kepentingan akan kedamaian dan ketertiban;

2. perlindungan lembaga-lembaga sosial;

3. pencegahan kemerosotan akhlak;

4. pencegahan pelanggaran hak;

5. kesejahteraan sosial.
c. Kepentingan pribadi (private interest) :

1. kepentingan individu;

2. kepentingan keluarga;

3. kepentingan hak milik.

Dari klasifikasi tersebut, dapat ditarik dua hal. Pertama, Pound


mengikuti garis pemikiran yang berasal dari von Jhering dan Bentham,
yaitu berupa pendekatan terhadap hukum sebagai jalan ke arah tujuan
sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial (Rasjidi, 1990: 134).
Kedua, klasifikasi tersebut membantu menjelaskan premis-premis hukum,
sehingga membuat pembentuk undang-undang, hakim, pengacara, dan
pengajar hukum menyadari akan prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang
terkait dalam tiap-tiap persoalan khusus.

G. REALISME HUKUM

Karl N. Llewellyn, yang juga dikenal sebagai seorang ahli sosiologi


hukum, menyebutkan beberapa ciri dari Realisme ini, yang terpenting di
antaranya adalah sebagai berikut.

1. Tidak ada mazhab realis; realisme adalah gerakan dari pemikiran dan
kerja tentang hukum.
2. Realisme adalah konsepsi hukum yang terus berubah dan alat untuk
tujuan-tujuan sosial, sehingga tiap bagian harus diuji tujuan dan
akibatnya.
3. Realisme menganggap adanya pemisahan sementara antara hukum
yang ada dan yang seharusnya ada, untuk tujuan-tujuan studi.
4. Realisme tidak percaya pada ketentuan-ketentuan dan konsepsi-
konsepsi hukum, sepanjang ketentuan-ketentuan dan konsepsi hukum
menggambarkan apa yang sebenarnya dilakukan oleh pengadilan-
pengadilan dan orang-orang.
5. Realisme menekankan evolusi tiap bagian dari hukum dengan
mengingatkan akibatnya (Friedmann, 1990: 191-192).

1. Realisme Amerika

Tokoh-tokoh utama Realisme Amerika antara lain Charles Sanders


Peirce, Jhon Chipman Gray, Oliver Wondell Holmes Jr.,William James,
John Dewey, B.N. Cardozo, dan Jerome Frank.

Charles Sanders Peirce (1839-1914)

Peirce disebut-sebut sebagai orang pertama yang memulai


pemikiran pragmatisme ini, walaupun ia juga menyebutkan jasa seorang
ahli hukum sahabatnya, Nicholas St. John Green.

Pragmatisme menyangkal kemungkinan bagi manusia untuk


mendapat suatu pengetahuan teoritis yang benar. Oleh karena itu ide-ode
perlu diselidiki dalam praktik hidup. Menurut Peirce, ide-ide diterangkan
dengan jalan analitis. Metode analitis ini harus digunakan secara
fungsional, yakni dengan menyelidiki seluruh konteks suatu pengertian
dalam praktik hidup.

John Chipman Gray (1839-1915)

Sebagaimana ciri Realisme Amerika, Gray menempatkan hakim


sebagai pusat perhatiannya. Semboyannya yang terkenal adalah All the
law is judge-made-law.

Ia menyatakan bahwa di samping logika sebagai faktor penting


dalam pembentukan perundang-undangan, unsur kepribadian, prasangka,
dan faktor-faktor lain yang tidak logis memiliki pengaruh yang besar
dalam pembentukan hukum.

Oliver Wendell Holmes Jr. (1841-1935)

Menurut Holmes, seorang sarjana hukum harus menghadapi gejala-


gejala hidup secara realistis. Kalau ia berusaha mengambil sikap
demikian, ia akan sampai pada keyakinan bahwa para penjahat pun sama
sekali tidak menaruh minat pada prinsip-prinsip normatif hukum,
sekalipun kelakuan mereka seharusnya diatur menurut prinsip-prinsip itu.

Ucapan Holmes yang terkenal, yang dianggap secara tepat


menggambarkan Realisme Hukum Amerika berbunyi, The prophecies of
what the courts will do in fact and nothing more pretentious, are what I
mean by the law (Shuchman, 1979: 73).

William James (1842-1910)

Menurut James, pragmatisme adalah nama baru untuk beberapa


cara pemikiran yang sama, yang sebenarnya juga positivis. Ia
menyatakan bahwa seorang pragmatis menolak abstraksi dan hal-hal yang
tidak memadai, penyelesaian secara verbal, alasan apriori yang tidak baik,
prinsip yang ditentukan, sistem yang tertutup, dan hal-hal yang dianggap
mutlak dan asli.

John Dewey (1859-1952)

Dewey termasuk salah satu peletak realisme dalam hukum yang


penting. Sebagaimana dikutip oleh Friedmann (1990: 190) dari artikel
Dewey berjudul Logical Method of Law, (10 Cornell L.Q. 17) inti ajaran
Dewey adalah bahwa logika bukan berasal dari kepastian-kepastian dari
prinsip-prinsip teoretis, seperti silogisme, tetapi suatu studi tentang
kemungkinan-kemungkinan.
Benjamin Nathan Cardozo (1870-1938)

Cardozo sangat terpengaruh oleh teori-teori ilmu hukum sosiologis,


yang menekankan pada kepekaan yudisiil terhadap realitas sosial. Tokoh
ini beranggapan bahwa hukum mengikuti perangkat aturan umum dan
yakin bahwa penganutan terhadap preseden seharusnya merupakan
aturannya, dan bukan merupakan pengecualian dalam pelaksanaan
peradilan. Namun ia mengemukakan adanya kelonggaran atau keluwesan
pelaksanaan aturan ketat itu apabila penganutan terhadap preseden tidak
konsisten dengan rasa keadilan dan kesejahteraan sosial.

Jerome Frank (1889-1957)

Frank adalah salah seorang penganut pemikiran Holmes. Menurut


Frank, hukum tidak dapat disamakan dengan suatu aturan yang tetap.
Dalam aturan tetap, norma-norma hukum berperan seakan-akan
merupakan prinsip-prinsip logika. Dengan berpegang pada prinsip-prinsip
tersebut, hakim kemudian menjatuhkan putusannya. Dalam pandangan
Frank, gambaran seperti itu menyerupai bayangan yang dimiliki seorang
anak dalam hubungannya dengan ayahnya. Dalam bayangan itu, ayah
bersifat sempurna dan tidak dapat bersalah.

2. Realisme Skandinavia

Tokoh-tokoh utama Realisme Skandinavia antara lain adalah Axel


Hagerstorm, Olivecrona, Alf Ross, H.L.A. Hart, Julius Stone, dan John
Rawls.

Axel Hagerstorm (1868-1939)

Hagerstorm, seorang sarjana Swedia, menyelidiki asas-asas hukum


yang berlaku pada jaman Romawi. Ia melihat nahwa rakyat Romawi
menaati hukum secara irasional, berdasarkan bayangan yang bersifat
magis atau ketakutan pada tahyul. Jadi, segalanya bersifat metafisis, dan
segala pikiran metafisis, menurut Hagerstorm, adalah khayalan belaka.

Karl Olivecrona (1897-1980)

Olivecrona (ahli hukum Swedia) menyamakan hukum dengan


perintah-perintah yang bebas (independent imperatives). Menurutnya,
adalah keliru untuk menganggap hukum sebagai perintah dari seseorang
manusia, sebab tidak mungkin ada manusia yang dapat memberikan
semua perintah yang terkandung dalam hukum itu. Ia juga menolak untuk
mengidentikkan pemberi perintah dari hukum itu dengan negara atau
rakyat. Identifikasi demikian merupakan abstraksi dan tidak realistis.

Alf Ross (1899-1979)

Sebagaimana penganut Realisme Hukum, Ross (ahli hukum


Denmark) berpendapat bahwa hukum adalah suatu realitas sosial. Ross
berusaha membentuk suatu teori hukum yang empiris belaka, tetapi yang
dapat mempertanggungjawabkan keharusan normatif sebagai unsur
mutlak dari gejala hukum. Hal ini hanya mungkin, kalau berlakunya
normatif dari peraturan-pereaturan hukum ditafsirkan sebagai
rasionalisasi atau ungkapan simbolis dari kenyataan-kenyataan fisio-
psikis.

H.L.A. Hart (lahir 1907)

Herbert Lionel Adolphus Hart mengatakan, hukum harus dilihat,


baik dari aspek ekstern maupun internnya. Dari segi ekstern, berarti
hukum dilihat sebagai perintah penguasa, sebagaimana diartikan oleh
Austin. Di samping itu, ada aspek intern, yaitu keterikatan terhadap
perintah dari penguasa itu secara batiniah.
Julius Stone

Julius Stone memandang hukum sebagai suatu kenyataan sosial.


Makna dari kenyataan sosial ini dapat ditangkap melalui suatu
penyelidikanlogis-analitis, sebagaimana telah dipraktikkan dalam mazhab
hukum Austin dan kawan-kawan. Akan tetapi, niat Stone menjangkau
lebih jauh lagi. Stone bermaksud mengerjakan suatu ajaran tentang
keadilan yang menjadi ukuran bagi tata hukum yang berlaku.

John Rawls (lahir 1921)

Rawls adalah tokoh yang meyakini bahwa prinsip-prinsip etika


dapat menjadi dasar yang kuat dalam membangun masyarakat yang adil.
Rawls mengembangkan pikirannya tentang masyarakat yang adil dengan
teori keadilannya yang dikenal pula dengan teori Posisi Asli.

H. FREIRECHTSLEHRE

Freirechtslehre (Ajaran Hukum Bebas) merupakan penentang paling


keras Positivisme Hukum. Dalam penentangan terhadap Positivisme Hukum itu,
Freirechtslehre sejalan dengan kaum realis di Amerika. Hanya saja, jika aliran
Realisme menitikberatkan pada penganalisaan hukum sebagai kenyataan dalam
masyarakat, Freirechtslehre tidak berhenti sampai di situ.

Aliran Hukum Bebas berpendapat bahwa hakim mempunyai tugas untuk


menciptakan hukum. Penemu hukum yang bebas tugasnya bukanlah
menerapkan undang-undang, tetapi menciptakan penyelesaian yang tepat untuk
peristiwa konkret, sehingga peristiwa-peristiwa berikutnya dapat dipecahkan
menurut norma yang telah diciptakan oleh hakim.