Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang

Glikogen adalah molekul polisakarida yang tersimpan dalam

sel hewan dan sel manusia bersama dengan air digunakan ebagai

sumber energy. Ketika pecah didalam tubuh, glikogen diubah

menjadi glukosa ketika permintaan gul dalam tubuh meningkat,

maka glikogen akan dihidrolisis oleh sel.

Glikogen paling banyak di temukan dala sel hati yaitu,

sebanyak 7% dari berat biasanya didalam sel hati, glikogen

ditemukan dalam granula berukuran besar yang terdiri atas granula

yang disusun oleh beberapa juta molekul glikogen dengan

percabangan yang paling banyak didalam granula-granula yang

sangat padat tersebut juga terdapat enzim yang berfungsi untuk

sintesis dan degradasi glikogen.

Glikogen atau pati hewan disimpan pada jaringan hati dan

dapat diukur kadarnya dengan menggunakan reaksi iodium.

Glikogen tersusun atas rantai bercabang unit glukosa. Selama

proses metabolisme menjadi glukoa, dimana pada saat energi

diperlukan, glikogen diubah menjadi asam piruvat.


I. 2. Maksud, Tujuan dan Prinsip

I. 2.1. Maksud percobaan

Mengetahui dan memahami oerbedaan antara kandungan

glikogen pada kondisi puasa dan tidak puaa pada hewan

coba tikus, serta mengukur kadar glikogennya.

I.2.2. Tujuan percobaan

Mengidentifikasi dan mengetahui perbedaan kandungan

glikogen pada hewan puasa dan tidak puasa pada hewan

coba, juga kadar glukosanya.

I.2.3. Prinsip percobaan

a. Identifikasi kadar glikogen pada lumatan hati tikus

puasa, dengan penambahan KOH 60%, aquades dan

disaring. Kemudian filtratnya ditambahkan kalium

iodide, pp, etanol, dan HCl pekat, dimana endapanya

dikeringkan dan ditimbang sebagai berat kering

glikogen.

b. Identifikasi kadar glikogen pada lumatan hati tikus

tidak puasa dengan penambahan KOH 60%,

aquadest dan disaring, kemudian ditambahkan kalium

iodide, etanol, pp, HCl pekat. Dimana endapanya

dikeringkan sebagai berat glikogen.

c. Identifikasi kadar glukoa pada tikus puasa dan tidak

puasa dengan penambahan reagen 100 ml, setelah


disentrifus dan serum dimasukkan sebanyak 1000 l

kedalam kuvet, dan dibaca hasilnya oleh humalyzer

sebagai kadar glukosa dalam darah tikus puasa dan

tidak puasa.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Teori umum

Hati berada dikuadaran kanan atas rongga abdomen dan

merupakan organ terbesar ditubuh. Hati melakukan banyak fungsi

penting yang berbeda-beda dan bergantung pada system aliran

darahnya yang unik dan sel-selnya sangat khusus.( 1: 646)

Hati menerima suplai darahnya dari 2 sumber yang berbeda.

Sebagian besar aliran darah hati sekitar 1000 ml per menit, adalah

darah vena yang berasal dari lambung, usus halus, dann usus

besar, pancreas, dan limpa. (1: 647)

Setelah dicerna dan diserap kedalam aliran darah, glukosa

disalurkan kesemua sel tubuh untuk digunakan sebagai sumber

energy. Glukosa memerlukan insulin agar dapat masuk kedalam

sebagian besar sel. Apabila tidak segera diperlukan untuk

menghasilkan energy, maka glukosa akan disimpan didalam sel

sebagai glikoogen. Hati memiliki keistimewaan yaitu dapat

menyimpan sebagian besar glukosa sebagai glikogen. Hati

berfungsi sebgai penyangga glukosa untuk darah karena hati dapat

menyimpan glikogen. Apabila kadar glukosa dalam darah

meningkat, maka konversi glukosa akan menjadi glikogen dan

simpanan glikogen dihati juga meningkat. (1:648)


1. Metabolisme glikogen

glikogen merupakan bentuk simpanan kaarbohidrat yang

utama di dalam tubuh hewan dan analog dengan pati didalam

tumbuhan. Unsure ini terutama terdapat didalam hepar (sampai 60

%) dan otot yang jarang melampaui 1 %. (4 : 1)

Didalam hati dan otot, monosakarida mengalami sintesis

menghasilkan glikogen. Bila kadar glukosa dalam darah meningkat

sebagai akibat naiknya proses pencernaan dan penyerapan

karbohidrat, sintesis glikogen dari glukosa oleh hati akan naik.

Sebaliknya boila glukosa menurun, glikogen diuraikan menjadi

glukosa untuk selanjutnya mengalami proses katabolisme

mengahasilkan energy (dalam bentuk energy kimia ATP ) yang

dibutuhkan oleh kegiatan seperti olah raga.

Jumlah simpanan glikogen dalam otot biasa mencapai tiga

hingga empat kali jumlahnya dalam hepar. Seperti pati, glikogen

merupakan polimer -D-glukosa yang becabang. (4:1)

a. Glikogenesis

Gugus fosfat dan energy yang diperlukan dalam reaksi

pembentukan glukosa diberikan oleh ATP berperan sebagai

senyawa kimia berenergi tinggi, energy yang mengkatalisisnya

adalah glukokinase. Dengan fosfoglukomutase 6- fosfat

mengalami reaksi isomerisasi menjadi glukosa 1-fosfat. Glukosa


1-fosfat uridil transaferase menghasilkan uridin difosfat glukosa (

UDP-glukosa) dan pirofosfat (PPi). (4:1)

Pada tahap terakhir glikogenesis terjadi reaksi kondensasi

antara UDP-glukosa dengan unit glukosa nomor satu dalam

rantai glikogen primer menghasilkan rantai glikogen baru

dengan tambahan satu unit glukosa. Ikatan yang terjadi dalam

reaksi yang dikatalisis oleh glikogen sintesa ini adalah ikatan

(1-4) glikosida baru antara glukosa yang dilepaskan dari UDP-

glukosa dengan unit glukosa nomor satu pada rantai glikogen

primer. Mekanisme reaksi glikogenesis juga merupakan jalur

metabolism umum untuk biosintesis disakarida dan polisakarida,

dimana disakariida sukrosa dihasilkan dari glukosa dan fruktosa

melalui mekanisme biosintesis tersebut. Sukrosa 6-fosfat

terbentuk dari UDPG yang bereaksi dengan fruktosa 6-fosfat,

yang dikatalisis oleh sucrose fosfat sintesa, kemudian dengan

ennzim sukrosa fosfatase dihidrollisis menjadi sukrosa. (4:2)

b. Glikogenesis

Kebalikan dari glikogenesis, glikogenesis yaitu reaksi

pemecahan molekul glikogen menjadi molekul-molekul glukosa.

Glikogen yang etrdapat dalam hati dan otot dapat dipecah

menjadi molekul glukosa-1-fosafat melalui suatu proses yang

disebut fosforolisis, yaitu reaksi dengan asam fosfat. Enzim


fosforilase ialah enzim yang menjadi katalis pada reaksi

glikogenolisis.(4:3)

2. Lintasan biosintesi glikogen

Reaksi yang lazim terjadi sebagai reaksi pertama dalam

lintasan glikolisis dari gluukosa, dimana disaat glukosa

mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat. Reaksi

fosforilasi dikatalisis oleh enzim heksokinase didalam otot dan

glukokinase didalm hepar. Glukosa 6-fosfat akan diubah

menjadi glukosa 1-fosfat yang dikatalisi oleh enzim

fosfoglukomutase. Enzim ini akan mengalami fosforilasi, dan

reaksi reversible yang terjadi pada gugus fosfo dimana glukosa

1,6-bisfosfat merupakan senyawa antara :

Enz-P + glukosa 6-fosfat< ---- enz + glukosa 1,6- bifosfat

-> enz-P + glukosa 1-fosfat

Selanjutnya, senyawa glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin

trifosfat (UTP) untuk membentuk nukleotida aktif uridiin difosfat

glukosa (UDPGIc).

Reaksi antara glukosa 1-fosfat dan UTP dikatalisis oleh

enzim pirofosforilase.

UTP + Glukosa 1-fosfat - UDPGIc + PPi

Hidrolisis pirofosfat anorganik oleh enzim pirofosfatase

anorganik akan menarik reaksi kearah kanan persamaan reaksi.


Kerja enzim glikogen sintase, dimana atom C1 pada glukosa

aktif UDPGIc membentuk ikatan glikosidik dengan C4 pada

residu glukosa terminal glikogen, dan uridin difosfat (UDP)

dibebaskan. Molekul glikogen yang sudah ada sebelumnya atau

molekul glikogen primer harus dapat emmicu reaksi ini.

Molekul primer glikohen selanjutnya dapat terbentuk pada

primer protein yang dikenal sebagai glikogenin.

UDPGIc + (C6)n - UDP + (C6)n + 1

Glikogen glikogen

(4:5)
BAB III

METODE PERCOBAAN

III.1. Alat dan bahan

III..1.1. Alat

alat-alat yang digunakan yaitu tabung reaksi, rak tabung, corong

gelas, pipet ukur, pipet tetes, gelas piala, cawan porselin, gelas arloji,

batang pengaduk, pengering (oven), penangas air, penjepit tabung dan

timbangan sentrifuge.

III.1.2. Bahan

Bahan- bahan yang digunakan antara lain yaitu : tikus puasa dan

tikus tidak puasa, kertas saring, spoit (3cc& 5cc), larutan KOH 60 %, air

suling, KI (Kalium iodide), etanol absolute, fenoftalein, HCl 50 %.

III.2. Cara kerja

a. Pengambilan darah tikus ( puasa dan tidak puasa)

1. Alat dan bahan yang digunakan disiapkan

2. Tikus ( puasa & tidak puasa) dibius dengan eter

3. Darah tikus diambil dengan spoit 3cc secara intra kardial

4. Darah yang diperoleh dimasukkan kedalam tabung sentrifuge

yang telah dilabel ( puasa/tidak puasa) melalui dinding tabung

b. Pengambilan organ hati tikus (puasa/ tidak puasa)

1. Alat dan bahan yang akan digunakan disiapkan

2. Tikus yang telah dibius dan diambil darahnya, dibedah pada

bagian perut dengan menggunakan bisturi dan gunting operasi


3. Organ hati diangkat dengan pinsset dan diletakkan diatas gelas

arloji

4. Organ hati tikus (puasa/tidak puasa) ditimbang untuk diketahui

beratnya masing-masing dan dicatat

c. Proses isolasai glikogen

1. Hati tikus diambil sebanyak 2,66 gram dan dilumatkan didalm

beker gelas dengan menggunakan batang pengaduk

2. Ditambahkan KOH 60 % sebanyak 6,5, ml dan diaduk selama

45 menit

3. Ditambahkan aquadest sebanyak 5 ml dan dididihkan selama

10 menit diatas penangas

4. Campuran disaring dan fitratnya diambil 2 ml dan dimasukkan

kedalam tabung

5. Filtrate ditambahkan KI sebanyak 0,1 gram dan 2,1 ml etanol

serta inhibitor fenolftalein 1 tetes

6. Ditambahkan HCl 50 % tetes sampai warnanya hilang

7. Dilakukan penyaringan kemudian endapan dikeringkan dioven

pada suhu 115 c selama jam

8. Endapan yang telah dikeringkan ditimbang ( hal ini dilakukan

selama beberapa kali sampapi didapatkan bobot rata-rata)

d. Uji / tes glukosa

1. Darah tikus ( puasa dan tidak puasa) disentrifuge slama 15

menit dengan kecepatan 3000 rpm.


2. Serum dipipet kedalam kuvet sebanyak 10 ml dengan

menggunakan mikropipet

3. Ditambahkan reagen sebanyak 100 l dan dihomogenkan

4. Diinkubasi pada suhu 37 C selama 5 menit

5. Dibaca pada alat humalyzer dan dicatat hasil yang diperoleh


BAB IV

HASIL PENGAMATAN

IV.1. Tabel pengamatan

Uji hasil isolasi glikogen

Pemeriksaan berat hati Tikus puasa Tikus tidak puasa 8,777

total (gr) 10,664 gr gr

Kelompok 1 3 5 2 4 6

Berat yang diperiksa 3,059 2,66 2,646

Berat glikogen 3,9253 3,297 3,7658

Uji glikolisis pada serum

Serum (kadar glukosa)

puasa Tidak puasa

99,0 mg/dl 103,5 mg/dl

IV.2. Perhitungan

a. Berat sampel hati 2,66 x 2,5 KOH 60 % = 6,5 ml

2,66 x 2 ml aquadest = 5,2 ml

2,66 x 0,05 gr KI = 0,13 gr

2,66 x 0,2 ml etanol= 2 ml etanol

Bobot hati tidak puasa = 8,772 gr yang dilumatkan 2,66 gr


Bobot pengeringan : timbangan I = 0,958 gr, II = 0,921 gr, III = 0,479

gr, IV= 0,438 gr

Gram glikogen 0,438 dalam 2,66 gr = bobot hati tidak puasa = 8,772
Bobot yang dilumatkan 2,66
= 3,297

Berat glikogen dalam 2,66 gr x bobot timbangan terakhir

3,297 gr x 0,438 = 1,44 gr glikogen dalam 1 ekor tikus tidak

puasa

% glikogen dalam 2,66 gr = gr glikogen = 100 %


Bobot yang dilumatkan

= 1,44 x 100 %

2,66

= 54,13 %

IV.3. Reaksi

Pemeriksaan glukosa darah

Glukosa + ATP - - - - - - -> glukosa- 6 fosfat + ADP

+ GGD -OH

Glukosa- 6- phosphatase + NAD - - - - - - - - - > glukonat- 6

phosphate NaDH + H+

Pembentukan glikogen

Glukosa sintase

UDPG + glukosa - - - - - - - - - - - - -> ( glukosa)


IV.4. Gambar
BAB V

PEMBAHASAN

Glikogen merupakan bentuk simpanan kerbohidrat yang utama

didalam tubuh hewan dan analog dengan pati didalam tumbuhan. Unsur

ini terutama terdapat didalam hepar (sampai 6%) dan otot yang jarang

melampaui 1%.

Didalam hati dan otot, monosakarida mengalami proses sintesis

menghasilkan glikogen. Bila kadar glukosa dalam darah meningkat

sebagai akibat naiknya proses pencernaan dan penyerapan karbohidrat,

sintesis glikogen diuraikan menjadi glukosa untuk selanjutnya mengalami

proses katabolisme menghasilkan energy ( dalam bentuk energy kimia,

ATP ) yang dibutuhkan oleh kegiatan olah raga.

Jumlah simpanan glikogen dalam otot biasa mencapai tiga hingga

empat kali jumlahnya dalam hepar. Seperti pati, glikogen merupakan

D glukosa yang bercabang. Pada jaringan otot, glukosa yang tersimpan

dalam bentuk glikogen dapat digunakan secara langsunug oleh otot

tersebut untuk menghasilkan energy. Begitu juga dengan hati yang dapat

mengeluarkan glukosa apabila dibutuhkan untuk memproduksi energy

didalam tubuh. Selain itu glikogen hati juga mempunyai peranan yang

penting dalam menjaga kesehatan tubuh, yaitu berfungsi untuk menjaga

level glukosa darah.

Pada praktikum ini, untuk mengetahui kadarnya glikogen yang ada

dalam hati, pertama-tama dimasukkan 2,66, gr hati tikus yang tidak


puasa, dimasukkan kedalam selas piala. Kemudian ditambahkan 6,5 ml

KOH 60% pada hati yang telah dilumatkan, dimana fungsi dari KOH 60%

ini adalah untuk memecah membrane sel. Setelah itu dididihkan selam 45

menit. Tambahkan aquadest 5 ml dan aduk sampai larut. Kemudian,

disaring filtratnya, dan ditambahkan kalium iodide 00,1, gram untuk

menghidrolisi lemak menjadi gliserol. Setelah itu ditambahkan lagi larutan

PP beberapa tetes dan terjadi perubahan warna ungu pada sampel. Hal

ini terjadi karena penambahan indicator PP berfungsi / berguna untu

mempercepat perubahan warna. Setelah itu ditambhakan HCl untuk

membeningkan larutan, dimana HCl ini memepercepat reaksi kaltalisis

yang menyebabkan pecahnya glikogen menjadi gugus glukosa, setelah

itu saring endapannya, dikeringkan untuk mendapatkan bobot kering.

Untuk mendapatkan bobot kering, dilakukan penyaringan untuk

mengambil filtratnya setelah itu dikeringkan pada suhu 115 C. kemudian

ditimbang sampai mendapatkan bobot dengan range 0,001- 0,005. Dari

percobaan yang dilakukan pada pengeringan pertama didapatkan bobot

sampel 0,958 gr, dan bobot sampel kedua setelah dikeringkan kembali

ditimbang bobot ke tiga didapatkan 0,479 dan bobot keempat 0,438 gr,

jadi berat glikogen hati pada 2,66 gr hati adalah 3,297 gr. Hasil ini

diperoleh dari :

Gram glikogen 0,438 dalam 2,66 gr =

Bobot hati tidak puasa = 8,772 = 3,297

Bobot yang dilumatkan 2,66


3,297 x 0,438 = 1,44 gr glikogen dalam 1 ekor tikus tidak puasa

% = gram glikogen = x 100 %

0,438

= 3,28 %

Kadar glukosa tikus puasa pada percobaan ini adalah 99,0 mg/dl

dan tidak puasa 103,5 mg/dl, dimana rentang nilai yang diperoleh

berbeda. Karena pada tikus tidak puasa, kadar glukosa 103,5 mg/dl

kadarnya lebih tinggi dari yang puasa. Hal ini disebabkan karena asupan

karbohidrat pada kondisi tidak puasa lebih tinggi sehingga energy yang

disimpan dapat diubah menjadi glukosa yang beredar didalam serum.

- Fungsi dari penyaringan adalah untuk memisahkan glikogen dengan

zat-zat lain seperti lemak dan protein.

- Fungsi pemanasan adalah agar struktur senyawa lemak yang

terdapat diorgan hati bisa dibebaskan.

Penyakit Hipoglikemia

Hipoglikemia adalah kadar glukosa darah yang kurang dari

50 mg/ 100 ml darah. Hipoglikemia dapat disebabkan oleh puasa

atau khususnya puasa yang disertai olah raga, karena olah raga

meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel-sel otot rangka.

Kebanyakan hipoglikemia lebih sering disebabkan karena

kelebihan dosisi insulin pada pengidap diabetes dependen insulin.

Karena otak memerlukan glukosa darah sebagai sumber

energy utama, hipoglikemia menyebabkan terjadinya berbagai


gejala gangguan fungsi system saraf pusat (SSP) seperti konfusi,

iritabilitas, kejang dan koma. Hipoglikemia dapat menyebabkan

sakit kepala akibat perubahan aliran darah otan dan perubahan

keseimbangan air. Secara sistemis, hipoglikemia menyebabkan

pengaktifan system saraf simpatis dan menstimulasi rasa lapar,

gelisah, berkeringat dan takikardia. Tingkat kecemasan meningkat

dengan gemetar dan gelisah.


BAB VI

PENUTUP

VI.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum dapat disimpulkan, bahwa :

1. Pada uji glukosa dalam serum tikus tidak puasamempunyai

berat 103 mg/dl dan kadar glukosa dalam serum tikus puasa

adalah 99 mg/dl.

2. Pada isolasi glikogen, tikus yang puasa mempunyai berat kering

yaitu 0,438 gr dan kandungan glikogen pada 2,66 gr adalah

54,13.

VI.2. Saran

Disarankan agar waktu istrahat lebih diperhatikan lagi,

jangan sampai karena waktu istrahan yang terlalu lama biasa

mengulur waktu pada saat praktikum.


DAFTAR PUSTAKA

1. Corwin J. Elizabeth. 2009. Buku saku patofisiologi, Jakarta ; penerbit

buku Kedokteran

2. Joon. Koolman. 2001. Atlas Berwarna Biokimia, Jakarta : Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia

3. Murray, Robert. 2002. Biokimia Harper. Jakarta ; penerbit buku

Kedokteran

4. Nur. Adi. 2005. Diktat Biokima. Jakarta . 2009

5. Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia. IV. Depkes RI. Jakarta

6. Dirjen POM. 1975. Farmakope Indonesia. III. Depkes RI. Jakarta


PROPOSAL PENELITIAN

HUBUNGAN KADAR ASAM URAT SERUM DENGAN

PEMBENTUKAN BATU URAT

NAMA MAHASISWA : YANTI SUNAIDI

NOMOR MAHASISWA : N 121 09 512

TEKNOLOGI LABORATORIUM KESEHATAN

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2013
LABORATORIUM KIMIA FARMASI

TEKNOLOGI LABORATORIUM KESEHATAN

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS HASANUDDIN

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA KLINIK

PEMERIKSAAN GLIKOGEN
KELOMPOK : I(SATU)

ASISTEN : WA ODE MIFTAH HUDAYAH

MAKASSAR

2011