Anda di halaman 1dari 38

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep, Konstruk, Variabel Penelitian

2.1.1 Auditing

2.1.1.1 Definisi Auditing

Auditing merupakan suatu kegiatan pemeriksaan yang

dilakukan oleh pihak independen berupa pengumpulan data dan bukti-

bukti secara analitikal, kritis, dan sistematis sesuai dengan prosedur-

prosedur untuk mengetahui tingkat kewajaran suatu informasi yang

diberikan oleh manajemen dengan kriteria yang telah ditetapkan dan

melaporkannya dalam bentuk pendapat (opinion). Terdapat definisi

mengenai auditing menurut para ahli yang pada dasarnya setiap definisi

auditing memiliki tujuan atau makna yang sama namun terdapat

perbedaan dalam sudut pandangnya serta pengungkapan definisi

menurut para ahli dapat memudahkan dalam pemahaman mengenai

auditing, yaitu :

Menurut Arens, et al (2012 : 4) mengatakan bahwa auditing

adalah

Auditing is the accumulation and evaluation of evidence


about information to determine and report on the degree of
correspondence between the information and established
criteria. Auditing should be done by a competent, independent
person.

13
14

Dalam buku yang diterbitkan oleh Hayes, et al (2005 : 11)

auditing didefinisikan sebagai berikut :

An audit is a systematic process of objectively obtaining and


evaluate evidence regarding assertions about economic actions
and events to ascertain the degree of correspondence between
the assertions and established criteria, and communicating the
result to interested users

Menurut Tuanakotta (2011 : 52) definisi audit dapat diartikan :

Auditing is analytical, not contructive, it is critical,


investigative, concerned with the basis for accounting
measurement and assertions.

Sedangkan menurut Mulyadi (2011 : 9) mengatakan bahwa

audit adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan

mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pertanyaan-pertanyaan

tentang kegiatan ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat

kesesuain antara pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan kriteria yang

telah ditetapkan, serta hasil-hasilnya kepada pemakai yang

berkepentingan.

2.1.1.2 Tujuan Audit

Berdasarkan beberapa definisi mengenai auditing yang telah

dijelaskan, terdapat tujuan dari adanya auditing, antara lain :

Dalam International Standard on Auditing (ISA) SA 200.4

Paragraf 11 mengatakan bahwa tujuan suatu audit adalah memperoleh

keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan secara


15

keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material, baik yang

disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan, dan oleh karena itu

memungkinkan auditor untuk menyatakan suatu opini tentang apakah

laporan keuangan disusun, dalam semua hal yang material, sesuai

dengan suatu kerangka pelaporan keuangan yang berlaku; dan

melaporkan atas laporan keuangan dan mengomunikasikannya

sebagaimana ditentukan oleh SA berdasarkan temuan auditor

(www.iapi.or.id)

Sedangkan menurut Hayes, et al (2005 : 3) menyebutkan

bahwa tujuan dari adanya auditing adalah :

It can be said the function of auditing is to lend credibility to


the financial statement. the financial statement are the
responsibility of management and the auditor responsibility is
to lend them credibility. by the audit process, the auditor
enhances the usefulness and the value of the financial
statements, but he also increases the credibility of other non
audited information released by management

2.1.1.3 Jenis-jenis Audit

Menurut Hayes, et al (2005 : 14), mengemukakan jenis-jenis

audit sebagai berikut:

1. Audits of Financial Statements


Audits of financial statements examine financial statement to
determine if they give a true and fair view or fairly present the
financial statements in conformity with specified criteria.
2. Operational Audits
Operational audits is study of spesific unit an organization for
the purpose of measuring its performance. operational audits
review all or part of the organizations operating procedures to
16

evaluate effectiviness and eficiency of the operation. Effectiviness


is a measure of whether an organization achieves its goal and
objectives. efficiency shows how well an organizations uses its
resources to achieves its goal.
3. Compliance audit
A compliance audit is a review of an organizations procedures
to determine whether the organization is following specific
procedures, rules or regulations set out by some higher authority.
a compliance audit measures the compliance of an entity with
established criteria. the performance of a compliance audit is
dependent upon the existence of verifiable data and of recognized
criteria or standards, such as established laws and regulations, or
an organizations policies and procedures.

2.1.1.4 Jenis-jenis Auditor

Dalam mendukung terlaksananya proses auditing, dibutuhkan

pihak independen yang melakukan proses auditing tersebut yaitu

auditor. Namun auditor diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yaitu

sebagai berikut :

Menurut Hayes, et al (2005 : 14) menyebutkan bahwa jenis-

jenis auditor, yaitu sebagai berikut:

1. Internal Auditors
Internal auditors are employed by individual companies to
investigate and appraise the effectiviness of company operations
for management much of their work consists of operational audits,
in heavily involved in financial audits.
The internal audit department report directly to the president
or board of directors. an internal audit must be independent of the
department heads and other executives whose work he reviews.
internal auditors, however, can never be independent in the same
sense as the independent auditors because they are employees of
the company they are examining.
Auditors have two primary effects on a financial statements audits:
A. To existence and work may effect the nature, timing, and
extent of audit procedures.
17

B. External auditor may use internal auditors to provide


direct assistance in performing the audit. if this is the case
the external auditors must assess internal auditor
competence (educations, experience, professional
certification, etc) dan objectivity ( organizational status
within the company).
2. The Independent External Auditors : Training, Licensing and
Authority
Independent auditors have primary responsibility to the
performance of the audit function on published financial statement
of publicly traded companies and non public companies. some
countries have several classes of auditors who have different
functions. independent auditors are typically certified either by a
professional organization or a government agency.

Sedangkan dalam buku yang diterbitkan Arens, et al (2012 :

15) mengatakan bahwa jenis-jenis auditor dibagi kedalam empat

kategori, yaitu :

1. Certified Public Accounting firms are responsible for auditing the


published hystorical financial statements of all publicly trades
companies, most other reasonably large companies, and many
smaller companies and non commercial organitations.
2. A Government Accountability Office Auditor is an auditor working
for the Government Accountability Office (GAO). Many of GAOs
audit responsibilities are the same as those of a CPA firm.
3. Internal Revenue Agents (IRS) is responsible for enforcing the
federal tax laws as they have been defined by congress and
interpreted by the courts. A mayor responsibility of the IRS is to
audit the taxpayers return to determine wheter they have complied
with the tax laws.
4. Internal auditors are employed by individual companies to audit
for management.
18

2.1.2 Kemampuan Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan

2.1.2.1 Definisi Kemampuan

Kemampuan berasal dari kata mampu yang berarti kuasa (bisa,

sanggup) melakukan sesuatu, sedangkan kemampuan berarti

kesanggupan, kecakapan, kekuatan (Tim Penyusun Kamus Besar

Bahasa Indonesia, 1989: 552-553). Kemampuan (ability) berarti

kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu

pekerjaan. (Stephen P. Robbins & Timothy A. Judge, 2009: 57).

Sehingga kemampuan dapat definisikan sebagai kesanggupan

atau kecakapan seseorang dalam melakukan tugas sesuai dengan

bidangnya.

2.1.2.2 Definisi Kecurangan

Dalam International Standard on Audting (ISA) SA 240

mengungkapkan bahwa kecurangan merupakan perbuatan yang

disengaja oleh satu orang atau lebih dalam tim manajemen, pengawas,

karyawan, pihak ketiga, dengan cara menipu untuk memperoleh

keuntungan tidak halal (melawan hukum). (Tuanakotta : 2015 : 194)

Sedangkan Menurut Arens, et al (2012:336) fraud di

definisikan sebagai berikut :

Fraud is defined as an intentional misstatement of financial

statements.
19

Adapun pendapat definisi menurut Karyono (2013:4-5)

menyebutkan bahwa fraud dapat diistilahkan sebagai kecurangan yang

mengandung makna suatu penyimpangan dan perbuatan melanggar

hukum (illegal act), yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan

tertentu misalnya menipu atau memberikan gambaran keliru (mislead)

kepada pihak-pihak lain, yang dilakukan oleh orang-orang baik dari

dalam maupun dari luar organisasi. Kecurangan ini dirancang untuk

memanfaatkan peluang-peluang secara tidak jujur, yang secara langsung

maupun tidak langsung merugikan pihak lain.

Serta terdapat pernyataan Menurut Association of certified

Fraud Examiner (ACFE, 2016) yang mengungkapkan definisi audit

adalah :

Fraud is an intentional untruth or dishonest scheme used to

take deliberate and unfair advantage of another person of group

of person it included any mean, such cheats another.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa

kecurangan adalah suatu perbuatan melanggar hukum yang dilakukan

secara sengaja dengan cara menipu atau memanipulasi untuk tujuan

memperoleh keuntungan tidak halal bagi pribadi atau berkelompok.


20

2.1.2.3

Kecurangan dalam model yang diungkapkan oleh Association

of Certified Fraud Examiners (2016) terdiri dari tiga kategori yang biasa

disebut sebagai fraud tree, yaitu :

1. Asset Misappropriation (Penyalahgunaan Aset)


Kecurangan dalam bentuk penyalahgunaan asset dapat
digolongkan kedalam kecurangan kas seperti pencurian kas (theft
of cash on hand), pencurian penerimaan kas (theft of cash
receipts), dan pencairan penipuan (fraudlent disbursement) serta
kecurangan atas persediaan seperti penyalahgunaan (misuse) dan
pencurian (larceny).
2. Coruption (Korupsi)
Korupsi terbagi kedalam tiga bentuk, yaitu pertentangan
kepentingan (conflicts of interest), pemberian illegal (illegal
gratuities), penyuapan (bribery), dan pemerasan ekonomi
(economic extortion).
3. Financial Statement Fraud (Kecurangan Laporan Keuangan)
Kecurangan pada laporan keuangan dapat didefinisikan sebagai
kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah
saji laporan keuangan yang dapat merugikan investor ataupun
kreditor.

Berdasarkan uruain jenis-jenis kecurangan diatas, peneliti

melampirkan skema gambar untuk mempermudah dalam memahami

dan mengetahui jenis kecurangan yang dilakukan. Sebagai berikut yang

dijelaskan pada Gambar 2.1.


21

www.acfe.com (2016)

Gambar 2.1
Fraud Tree
22

2.1.2.4 Faktor-faktor Terjadinya Kecurangan

Tindakan kecurangan tidak seakan-akan terjadi begitu saja,

melainkan terdapat indikasi atau motif yang mendorong terjadinya

kecurangan tersebut. Dalam buku yang diterbitkan (Tuanakotta, 2014 :

207) terdapat 3 (tiga) faktor pendorong seseorang melakukan

kecurangan, yang dikenal sebagai fraud triangle, yaitu:

1. Pressure (Tekanan)
Pressure adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukan
fraud, bermula dari dari suatu tekanan yang menghimpitnya. Orang
ini mempunyai kebutuhan keuangan yang mendesak.
2. Opportunity (Kesempatan)
Opportunity adalah peluang yang memungkinkan fraud terjadi.
Biasanya disebabkan karena pengendalian internal suatu organisasi
yang lemah, kurangnya pengawasan, dan penyalahgunaan
wewenang.
3. Rationalization (Rasionalisasi)
Rationalization adalah mencari pembenaran sebelum melakukan
kejahatan, bukans sesudahnya. Mencari pembenaran sebenarnya
merupakan bagian yang harus ada dari kejahatan itu sendiri, bahkan
merupakan bagian dari motivasi untuk melakukan kejahatan.
Tiga Faktor tersebut digambarkan sebagaimana pada gambar 2.1:

Tuanakotta : 2014
Gambar 2.2
Fraud Triangle
23

2.1.2.5 Pendeteksian Kecurangan

Menurut Kumaat (2011:156) mendeteksi kecurangan (fraud

detection) adalah sebagai berikut :

Mendeteksi kecurangan adalah upaya untuk mendapatkan


indikasi awal yang cukup mengenai tindak kecurangan, sekaligus
mempersempit ruang gerak para pelaku kecurangan ( yaitu
ketika pelaku menyadari prakteknya telah telah diketahui, maka
sudah terlambat untuk berkelit).

Menurut Nurharyanto (2013: 31) mengungkapkan bahwa

adanya kecurangan dalam laporan keuangan dapat dideteksi dengan cara

menganlisis laporan keuangan. Pendeteksian atas kecurangan laporan

keuangan antara lain dilakukan dengan cara membandingkan hasil

analisis atas laporan tersebut dengan laporan periode sebelumnya.

Deteksi atas kecurangan laporan keuangan antara lain dengan

melakukan :

1. Analisis Vertikal
Merupakan teknik untuk menganalisis hubungan antara pos-pos
dalam laporan laba rugi, neraca dan laporan sumber dan penggunaan
dana dalam bentuk persentase.
2. Analisis Horizontal
Merupakan teknis untuk menganalisis perubahan dalam persentase
masing-masing pos laporan keuangan dari tahun ketahun.
3. Analisis Rasio
Merupakan teknis untuk mengukur hubungan antara dua jumlah
angka pada laporan keuangan.

Sehingga apabila hasil analisis yang telah dilakukan terjadi

perbedaan yang signifikan maka hal tersebut dapat menunjukan bahwa

adanya indikasi terjadinya kecurangan (fraud).


24

Dalam pelaksanaannya, untuk mendeteksi salah saji yang

disebabkan oleh kecurangan (fraud) tidak semudah mendeteksi salah

saji yang disebabkan oleh kekeliruan (error). Karena pelaku tindakan

kecurangan (fraud) umumnya berupaya menyembunyikan perbuatannya

sedemikian rupa sehingga sulit untuk dapat terdeteksi. Jika auditor gagal

mendeteksi kecurangan (fraud) tersebut, maka akan berdampak pada

kesalahan dalam pemberian pendapat (opinion) sehingga akan

memperngaruhi pengambilan keputusan oleh para pemakai laporan

keuangan.

Dengan demikian, untuk memenuhi harapan publik kepada

auditor dalam memastikan apakah laporan keuangan memiliki tingkat

kewajaran, tanpa adanya indikasi kecurangan (fraud) ataupun kekeliruan

(error), untuk mewujudkan harapan publik tersebut maka perlu bagi

auditor untuk menerapkan audit plus yang dijelaskan dalam

(Tuanakotta, 2015 : 204) mencakup hal-hal sebagai berikut :

1. Pastikan adanya potensi fraud


Untuk mendeteksi adanya potensi fraud, audit plus dimulai dengan:
a. Memahami bisnis dan industri klien secara mendalam;
b. Memahami berbagai gejala fraud (red flags);
c. Mengetahui untuk apa dan siapa laporan keuangan dibuat.
2. Terapkan sikap yang kondusif
Sikap auditor yang membantunya mendeteksi dan membuktikan
fraud yang terjadi, diantaranya:
a. Kewaspadaan profesional (professional skepticism);
b. Senantiasa memperhatikan hal yang seharusnya ada namun
dibuat sedemikian rupa hingga tidak nampak;
25

c. Selalu menerapkan sikap mempertanyakan (who, what, why,


when, where, how, how much) untuk memahami keseluruhan
cerita di balik fraud.
3. Manfaatkan pengendalian internal
Lingkungan dan sistem pengendalian internal dibangun oleh entitas
antara lain untuk mencegah fraud, mendeteksi fraud, menemukan
fraud, dan melakukan tindakan koreksi pasca ditemukannya fraud.
Audit plus seharusnya memanfaatkan pengendalian internal untuk:
a. Memahami management override;
b. Komunikasi dengan TCWG (Those Charged With Governance);
c. Melibatkan audit internal dalam memperoleh informasi
mengenai efektivitas pengendalian internal entitas.
4. Seleksi teknik audit forensik yang tepat
Forensik adalah penerapan disiplin ilmu tertentu untuk
menyelesaikan masalah hukum. Beberapa contoh audit plus yang
menerapkan teknik audit forensik diantaranya:
a. Pendadakan;
b. Pendalaman;
c. Pengembangan;
d. Manfaatkan tip;
e. Data analytics.
5. Dokumentasi
Semua pekerjaan audit harus didokumentasikan dalam kertas kerja
audit sebagai bukti auditor telah melaksanakan audit sesuai standar
dan ketentuan lain yang berlaku. Dalam merancang dan
melaksanakan audit plus, terutama jika telah mengidentifikasi dan
menilai ada risiko terjadinya kecurangan (fraud), dokumentasi ini
menjadi penting sebagai bukti bahwa auditor telah melaksanakan
tugasnya.

2.1.2.6 Teknik Pendeteksian Kecurangan

Menurut Karyono (2013 : 93) teknik pendeteksian fraud sesuai dengan

jenis fraud secara umum upaya mendeteksi fraud antara lain:

1. Pengujian pengendalian intern


Meliputi pengujian pelaksanaan secara acak dan mendadak. Hal ini
untuk mendeteksi fraud yang dilakukan dengan kolusi sehingga
pengendalian intern yang ada tidak berfungsi efektif.
2. Dengan audit keuangan atau operasional
26

Seorang auditor harus merancang dan melaksanakan auditnya


sehingga fraud dapat terdeteksi.
3. Pengumpulan data intelejen dengan teknis elisitasi terhadap gaya
hidup dan kebiasaan pribadi.
Dijelaskan bahwa pendeteksian ini dilakukan secara tertutup atau
diam-diam mencari informasi tentang orang yang sedang dicurigai.
4. Penggunaan prinsip pengecualian dalam pengendalian dan prosedur
dimaksud antara lain:
a. Adanya pengendalian intern yang tidak dilaksanakan.
b. Transaksi-transaksi yang janggal seperti waktu transaksi hari
minggu atau hari libur.
c. Tingkat motivasi, moral dan kepuasan kerja terus-menerus .
d. Sistem pemberian penghargaan yang ternyata mendukung
perilaku tidak etis.
e. Dilakukan kaji ulang terhadap penyimpangan dalam kinerja
operasi.
f. Pendekatan reaktif meliputi adanya pengaduan dan keluhan
karyawan, kecurigaan, dan intuisi atasan.

Sedangkan dalam kumaat (2011 : 157) mengungkapkan bahwa

audit berbasis risiko dalam konteks mendeteksi tindak kecurangan

sebagai berikut :

Rangkaian aktivitas pengawasan yang terencana, terpadu,


dan berkesinambungan dalam rangka memetakan,
mengamati, memverifikasi, dan menganalisi semua titik-titik
kritis risiko (critical risk points) yang berpotensi
menimbulkan tindak kecurangan.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Kumaat pula dijelaskan

jenis aktivitas yang dilakukan untuk pengawasan dalam mendeteksi

kecurangan, yaitu :

1. Pemetaan (Mapping) bertujuan untuk mengidentifikasi titik-titik


resiko terjadinya tindakan kecurangan.
2. Pengamatan (Observing) bertujuan untuk memperdalam semua
titik risiko berdasarkan situasi akrual dilapangan.
27

3. Verifikasi Transaksi dan Analisi Data (Verifying and Analyzing)


bertujuan untuk mempertegas kesimpulan bahwa tindak
kecurangan mungkin ada atau rawan terjadi

2.1.2.7 Karakteristik Kemampuan Auditor Dalam Mendeteksi Kecurangan

Kemampuan yang dimiliki seorang auditor dapat membantu

dalam pelaksanaan auditnya, terutama dalam pendeteksian kecurangan.

Dengan adanya kemampuan yang dimilki, auditor akan lebih mudah

dalam membaca mengenai tanda-tanda dan gejala-gejala telah terjadinya

indikasi salah saji yang disebabkan oleh kecurangan.

Dalam International Standard on Audting (ISA) SA 240.5

sampai dengan 204.8 dalam Tuanakotta (2013 : 116) menyebutkan

bahwa :

The auditor ability to detect a fraud dependens of factors

such as the skillfulness of the perpetrator, the frequency and

extent of manipulation, and the seniority of those individuals

involved.

Penelitian yang dilakukan oleh Jaffar (2009) menyebutkan bahwa:

The study can conclude whether the ability external auditors to

dtect possible fraud solely influenced bye their ability to assess

the risk of fraud.


28

Menurut Karyono (2013) dengan mengenali gejala dapat pula

mengenali sinyal atau mengenal adanya indikasi fraud. Hal ini

diungkapkan bahwa seorang auditor gagal mendeteksi kecurangan

dikarenakan auditor tidak menyadari adanya gejala kecurangan

(Tunggal, 2011 : Bagian A : 106).

Penelitian yang dilakukan peneliti menduplikasi indikator yang

didapat pada penelitian Jaffar (2009) dan menurut (Karyono : 2013)

menyebutkan bahwa dalam mengukur kemampuan mendeteksi

kecurangan dapat dilihat dari penilaian auditor atas risiko kecurangan

yang terjadi pada perusahaan lalu gejala-gejala yang ada pada

perusahaan tersebut.

a) Risiko Kecurangan

Kemampuan auditor dapat dilihat dari segi menilai risiko

kecurangan yang akan terjadinya apakah tingkat risiko besar atau

kecil dalam melihat dari beberapa faktor menurut Statement on

Auditing Standars (SAS) 99 (Arens, 2012) seperti mengindikasi

apakah ada tekanan untuk berbuat curang, kesempatan untuk

berbuat curang, dan membenarkan tindakan yang curang.

Seorang auditor harus mempertimbangkan untuk menilai

seberapa besar tingkat risiko kecurangan yang terjadi. SAS 99

dalam Arens (2012) memberikan pedoman bagi auditor dalam


29

menilai risiko kecurangan, termasuk faktor-faktor risiko

kecurangan.

b) Gejala Kecurangan (Fraud Symsptoms)

Menurut Albrecht (Karyono, 2013) ada enam tanda-tanda fraud,

tiga diantaranya digunakan sebagai indikator pada penelitian ini

yaitu:

1. Keganjilan akuntansi

Keganjilan akuntansi (Accounting Anomalies) karena adanya

rekayasa dari pelaku, sehingga penyimpangan yang terjadi

tidak dapat terdeteksi ari akuntansinya, meliputi:

a. Ketidakberesan dokumen, seperti halnya:

1. Menghilangkan, merusak atau mengubah dokumen-

dokumen pendukung aktivitas atau transaksi dimana

pelaku melakukan kecurangan.

2. Membuat dokumen ganda.

3. Membuat uraian dokumen yang ganjal atau tidak

masuk akal.

b. Kesalahan penjurnalan, kesalahan penjurnalan antara lain

berupa jurnal tanpa dokumen pendukung, jurnal yang

dibuat oleh petugas atau orang yang tidak biasa atau tidak

berwenang, jurnal yang tidak seimbang.


30

2. Penyimpangan analisis

Memahami tanda fraud dilakukan dengan berbagai analisis

yaitu:

1. Analisis Vertikal: analisis hubungan antar item dalam

laporan keuangan tahun lalu dengan tahun ini

digambarkan dengan persentase.

2. Analisis horizontal: analisis persentase perubahan item

laporan keuangan selama beberapa periode laporan.

3. Analisis Rasio: perbandingan item-item dalam laporan

keuangan.

4. Analisis rendeman: perbandingan antara hasil barang jadi

dan bahan bakunya.

3. Kelakuan tidak biasa

Kelakuan tidak biasa (unusual behavior) atau perilaku

menyimpang sebagai akibat rasa bersalah dan adanya rasa

takut sehingga kelakuan tidak biasa ini merupakan gejala,

contohnya:

4. Gelisah atau tidak dapat santai karena selalu dihantui rasa

bersalah dan takut.

5. Tidak mampu menatap muka lawan bicara karena takut.

6. Bila diajak bicara soal fraud, biacaranya defensive atau

berargumen untuk mencari pembenaran atau alasan.


31

2.1.3 Kompetensi

2.1.3.1 Definisi Kompetensi

Definisi kompetensi menurut Mulyadi (2011 : 58) dapat diartikan

sebagai berikut :

Kompetensi menunjukan terdapatnya pencapaian dan

pemeliharaan suatu tingkatan dan pengetahuan yang

memungkinkan sesorang anggota untuk memberikan jasa

dengan kemudahan dan kecerdikan.

Menurut Arens et al (2012) menegaskan tentang kompetensi, bahwa:

Auditor harus memiliki kualifikasi untuk memahami


kriteria yang digunakan dan harus kompeten untuk
mengetahui jenis serta jumlah bukti yang akan dikumpulkan
guna mencapai kesimpulan yang tepat setelah memeriksa
bukti itu.

Menurut Wibowo (2016: 324), mengatakan bahwa pengertian

kompetensi merupakan kemampuan melaksanakan pekerjaan atau

tugas yang didasari ketrampilan maupun pengetahuan dan didukung

oleh sikap kerja yang ditetapkan oleh pekerjaan. Kompetensi

menunjukan pengetahuan, ketrampilan dan sikap tertentu dari suatu

profesi dalam ciri keahlian tertentu, yang menjadi ciri dari seorang

professional.

Prinsip-prinsip fundamental IFAC menyebutkan bahwa:


32

Seorang akuntan profesional mempunyai kewajiban untuk


memelihara pengetahuan dan keterampilan profesional secara
berkelanjutan pada tingkat yang diperlukan untuk
menjamin seorang klien atau atasan menerima jasa
profesional yang kompeten yang didasarkan atas
perkembangan praktik, legislasi, dan teknik. Seorang akuntan
profesional harus bekerja secara tekun serta mengikuti
standar-standar profesional harus bekerja secara tekun serta
mengikuti standar-standar profesional dan teknik yang
berlaku dalam memberikan jasa profesional.

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa

kompetensi merupakan keahlian atau kemampuan yang dimiliki oleh

seorang auditor untuk melaksanakan tugasnya. Dengan pelaksanaan

kompetensi yang memadai dapat membantu auditor untuk berkerja

secara objektif, sistematis, cermat, dan seksama.

2.1.3.2 Indikator Kompetensi

Spencer and Spencer (Tjutju dan Suwatno 2009: 23)


menyatakan bahwa terdapat lima karakteristik kompetensi, yaitu
sebagai berikut :

1. Keterampilan (skill), kemampuan untuk mampu melaksanakan


tugas-tugas fisik dan mental tertentu.
2. Pengetahuan (knowledge), yaitu suatu informasi yang dimiliki
seseorang khususnya pada bidang spesifik. Pengetahuan
merupakan kompetensi yang kompleks. Biasanya tes pengetahuan
mengukur kemampuan untuk memilih jawaban yang paling benar,
tetapi tidak bisa melihat apakah seseorang dapat melakukan
pekerjaan berdasarkan pengetahuan yang di milikinya itu.
3. Konsep diri (self concept), sikap, nilai, atau self image dari
orang-orang. Konsep diri yaitu semua ide, pikiran, kepercayaan
dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan
mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain.
33

4. Motif (motive), apa yang secara konsisten di pikirkan atau


keinginan-keinginan yang menyebabkan melakukan tindakan. Apa
yang mendorong perilaku yang mengarah dan di pilih terhadap
kegiatan atau tujuan tertentu.
5. Sifat / ciri bawaan (trait), cirri fisik dan reaksireaksi yang
bersifat konsisten terhadap situasi atau informasi.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Hayes, et al (2005:79) pada

The IFAC Code Ethics for Professional Accountants (Sec.3:

Professional Competence and Due Care) mengatakan bahwa :

Professional competence requires a high standard of


general education followed by specific education,
training, examination in relevant subjects, and work
experience. competence also requires continuing
awareness by the professional accountants of
developments in the accountancy profession and adoption
of a quality control program.

Adapun pernyataan yang disampaikan oleh Tuanakotta (2011)

mengatakan bahwa kompetensi merupakan keahlian seorang auditor

diperoleh dari pengetahuan, pengalaman, dan pelatihan.

Berdasarkan uraian tersebut, maka keahlian atu kemampuan

seorang auditor dapat diperoleh melalui pelatihan, pengalaman dalam

bekerja sebagai auditor dan pengetahuannya mengenai auditing

maupun akuntansi. Sehingga dalam penelitian ini peneliti hanya

mengambil 3 (tiga) dimensi saja untuk mengukur kompetensi dari

seorang auditor, yaitu : (1) Pelatihan, (2) Pengalaman. Unsur-unsur

tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :


34

1) Pendidikan

Standar Umum Pertama seksi 210 yang ditetapkan oleh Ikatan

Akuntan Indonesia (IAI) disebutkan bahwa audit harus

dilakukan oleh orang yang sudah mengikuti pelatihan dan

memiliki kecakapan teknis yang memadai sebagai seorang

auditor. Pelatihan dan kecakapan teknis yang memadai

biasanya di interpretasikan sebagai keharusan bagi auditor

untuk memiliki pendidikan formal di bidang audit dan

akuntansi, pengalaman praktik yang memadai bagi pekerjaan

yang sedang dilakukan, serta mengikuti pendidikan profesional

yang berkelanjutan. Perlu dipahami bahwa yang dimaksud

dengan pelatihan seorang profesional bertujuan agar auditor

tetap terjaga pengetahuannya sehingga menimbulkan kesadaran

untuk secara terus menerus mengikuti perkembangan yang

terjadi dalam bisnis dan profesinya, serta mempelajari,

memahami dan menerapkan ketentuan-ketentuan baru dalam

prinsip akuntansi dan standar auditng yang ditetapkan oleh

Institut Akuntan Publik Indonesia.

2) Pengalaman

Menurut Agoes (2012:33) yang dimaksud pengalaman

adalah auditor yang mempunyai pemahaman yang lebih baik.


35

Mereka juga lebih mampu memberi penjelasan yang masuk

akal atas kesalahan-kesalahan dalam laporan keuangan dan

dapat mengelompokkan kesalahan berdasarkan pada tujuan

audit dan struktur dari sistem akuntansi yang mendasar.

2.1.4 Independensi

2.1.4.1 Definisi Independensi

Defini independensi menurut IFAC dalam (Tuanakotta, 2013 :

xvi) menggunakan istilah independence of mind dan independence in

appearance, yang didefiniskan sebagai berikut :

1. Independence of mind
Hal-hal yang ada dalam benak ( the state of mind) auditor yang
memungkinkannya memberi pendapat (opinion) tanpa dipengaruhi
hal-hal yang mengompromikan (compromise) kearifan
professional atau professional judgment , dan dengan orang dapat
bertindak dengan integritas penuh, tidak berpihak, dan
melaksanakan skeptisme professional (professional skepticism).
2. Independence in appearance
Penghindaran fakta dan keadaan yang begitu signifikan bagi pihak
ketiga yang layak dan mempunyai cukup informasi (reasonable
and informed third party) akan menyimpulkan bahwa integrity,
objectivity, atau professional skepticism dari anggota tim
(assurance team) diragukan atau tercemar.

Sedangkan Menurut Mulyadi (2011:26) independensi dalam

auditing diartikan sebagai berikut:

Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh,


tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada
orang lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam
diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya
36

pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam diri auditor


dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.

Sedangkan menurut Hayes, et al (2005 : 85) independensi

auditor dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Having a position to take an unbiased viewpoint in the


performance of the audits test, analysis of result, and
attestation in the audit report.
2. Independent is fact, accountants ability to maintain an
unbiased attitude throught the audit, so being objective and
impartial.
3. Independent in appearance, the result of others interpretation
of this independence.

Berdasarkan pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan

bahwa independensi merupakan sikap yang terbebas dari pengaruh,

tekanan, intervensi, ataupun keterlibatan campur tangan dari pihak

manapun yang bermaksud untuk mengendalikan serta dapat

mempengaruhi pertimbangan auditor dalam pemberian pendapat

(opinion). Sehingga sikap independensi harus dipertahankan selama

proses pelaksanaan audit.

2.1.4.2 Dimensi dan Indikator Independensi

Mauts dan Sharaf dalam (Tuankotta, 2011 : 64) menekankan

tiga dimensi dari independensi, yaitu :

a. Programming Independence
Kebebasan (bebas dari pengendalian atas pengaruh orang lain,
misalnya dalam bentuk pembatasan) untuk memilih teknik dan
prosedur audit dan berapa dalamnya teknik dan prosedur audit
itu diterapkan.
37

Indikator :
1. Bebas dari tekanan atau intervensi manejarial atau friksi
yang dimaksudkan untuk menghilangkan (eliminate),
menentukan (specifi), atau mengubah (modifie) apapun
dalam audit.
2. Bebas dari intervensi apapun atau dari sikap kooperatif yang
berkenaan dengan penerapan prosedur audit yang dipilih.
3. Bebas dari upaya pihak luar yang memaksakan pekerjaan
audit di review diluar batas-batas kewajaran dalam proses
audit.

b. Investigative Independence
Kebebasan (seperti diartikan diatas) untuk memilih area, kegiatan,
hubungan pribadi, dan kebijakan manejerial yang akan diperiksa.
Ini berarti, tidak boleh ada sumber informasi yang legitimate (sah)
yang tertutup bagi auditor.
Indikator :
1. Akses langsung dan bebas atas seluruh buku, catatan,
pimpinan, pegawai perusahaan dan sumber informasi
lainnya mengenai kegiatan perusahaan, kewajibannya dan
sumber-sumbernya.
2. Kerja sama yang aktif dari pimpinan perusahaan selama
berlangsungnya kegiatan audit.
3. Bebas dari upaya pimpinan perusahaan untuk menugaskan
atau mengatur kegiatan yang harus diperiksa atau
menenrtukan dapat diterimanya suatu evidential matter
(sesuatu yang mempunyai nilai pembuktian).
4. Bebas dari kepentingan atau hubungan pribadi yang akan
menghilangkan atau membatasi pemeriksaan atas kegiatan,
catatan, atau orang yang seharusnya masuk dalam lingkup
pemeriksaan.
c. Reporting Independence
Kebebasan (seperti diartikan diatas) untuk menyajikan fakta yang
terungkap dari pemeriksaan atau pemberian rekomendasi atau opini
sebagai hasil pemeriksaan.
Indikator :
1. Bebas dari perasaan loyal kepada seseorang atau merasa
berkewajiban kepada sesorang untuk mengubah dampak dari
fakta yang dilaporkan.
2. Menghindari praktik untuk mengeluarkan hal-hal penting
dari laporan formal dan memasukannya ke dalam laporan
informal dalam bentuk apapun.
3. Menghindari penggunaan bahasa yang tidak jelas (kabur,
38

samar-samar) baik yang disengaja maupun dalam


pernyataan fakta, opini, rekomendasi dan dalam interpretasi
4. Bebas dari upaya untuk memveto judgment auditor
mengenai apa yang seharusnya masuk dalam laporan audit,
baik yang bersifat fakta maupun opini.

2.1.5 Skeptisme

2.1.5.1 Definisi Skeptisme

Skeptisme adalah suatu sikap berfikir secara kritis yang tidak

langsung mempercayai informasi yang diberikan oleh manajemen,

dimana auditor seakan-akan selalu mempertanyakan sumber yang jelas

dari informasi tersebut. Terdapat beberapa definsi mengenai skeptisme

menurut para ahli, antara lain :

Menurut Tuanakotta (2015 : 232) mengakatan bahwa

skeptisme Profesional adalah kewajiban auditor untuk menggunakan

dan mempertahankan skeptisme professional, sepanjang periode

penugasan. Terutama kewaspadaan atas kemungkinan terjadinya

kecurangan.

Sedangkan Menurut IFAC dalam (Tuanakota, 2011 : 78)

mendefinisikan skeptisme professional atas bukti audit dalam konteks

sebagai berikut:

Skeptisism means the auditor makes a critical assesment, with


a questioning mind, of the validity of audit evidance obtained
and is alert to audit evidance that contradicts or brings into
question the reliability of documents and responses to inquiries
and other information obtained from management and those
charged with governance (ISA 200.16).
39

2.1.5.2 Unsur-unsur Skeptisme

Unsur-unsur dalam skeptisme profesional menurut definisi

IFAC ada 6 macam (Tuanakotta, 2011 : 78) yaitu :

a. A critical assessment
Dalam IFAC menjelaskan bahwa unsur profesional skeptisisme
adalah a critical assessment yang dimaksudkan ada penilaian
yang kritis, tidak menerima begitu saja.
b. With a questioning mind
Dalam IFAC dijelaskan dengan with a questioning mind yaitu
cara berpikir terus menerus bertanya dan mempertanyakan.
c. Of the validity of audit evidence obtained
Dalam IFAC menjelaskan bahwa auditor harus mensahihkan
dari bukti audit yang didapat atau diperoleh.
d. Alert to audit evidence that contradicts
Dalam IFAC dijelaskan bahwa auditor diharuskan untuk
waspada terhadap bukti yang kontradiktif.
e. Brings into question the reliability of document and
responses to inquiries and other information
Bahwa seorang auditor harus mempertanyakan keandalan
dokumen dan jawaban atas pertanyaan serta informasi lain.
f. Obtained from management and those charged with
governance
Menjelaskan bahwa data yang diperoleh dari manajemen dan
mereka yang berwenang dalam pengelolaan (perusahaan).

2.1.5.3 Karakteristik Skeptisme

Menurut Hurt (2010) (alwee, 2010), (Median, 2013)

menerangkan tentang karakteristik skeptisme professional yang

dibentuk oleh oleh beberapa faktor, seperti :

1. Memeriksa dan Menguji Bukti (examination of Evidence)


Karakteristik yang berhubungan dengan pemeriksaan dan
pengujian bukti (examination pf evidence) yang terdiri dari
questioning mind, suspension on judgement, dan search for
knowledge.
A. Questioning mind
Adalah karakter skeptis seseorang untuk mempertanyakan
40

alasan, penyesuaian, dan pembuktian akan sesuatu.


Karakter skeptis ini dibentuk dari beberapa indikator:
a) Menolak suatu pernyataan atau statement tanpa
pembuktian yang jelas.
b) Mengajukan banyak pertanyaan untuk pembuktian akan
suatu hal.
B. Suspension in judgment
adalah karakter skeptis yang mengindikasikan seseorang
butuh waktu lebih lama untuk membuat pertimbangan yang
matang, dan menambahkan informasi tambahan untuk
mendukung pertimbangan tersebut.
Karakter skeptis ini dibentuk dari beberapa indikator yaitu:
a) Membutuhkan informasi yang lebih lama.
b) Membutuhkan waktu yang lama namun matang
untukmembuat suatu keputusan.
c) Tidak akan membuat keputusan jika semua informasi
belum terungkap.
C. Search for knowledge
Adalah karakter skeptis seseorang yang didasari oleh rasa
ingin tahu (curiosity) yang tinggi.
Karakter skeptis ini dibentuk dari beberapa indikator:
a) Berusaha untuk mencari dan menemukan informasi
baru.
b) Adalah sesuatu yang menyenangkan jika menemukan
hal-hal yang baru.
c) Tidak akan membuat keputusan jika semua informasi
belum terungkap.
2. Memahami Penyedia Informasi (Understanding Evidence
Providers)
Karakteristik yang berhubungan dengan pemahaman terhadap
karakteristik penyedia informasi (understanding evidence
providers) adalah interpersonal understanding.
Interpersonal understanding adalah karakter skeptis yang
dibentuk dari pemahaman tujuan, motivasi, dan integritas dari
penyedia informasi.
Karakter skeptis ini dibentuk dari beberapa indikator:
a. Berusaha untuk memahami pelaku orang lain.
b. Berusaha untuk memahami alasan mengapa seseorang
berperilaku
3. Mengambil Tindakan atas Bukti (Acting in the Evidence)
Karakteristik yang berhubungan dengan pengambilan tindakan
atas bukti yang diperoleh (acting in the evidence) adalah self
confidence dan self determination.
41

A. Self confidence
Adalah sikap seseorang untuk percaya diri secara
profesional untuk bertindak atas bukti yang sudah
dikumpulkan.
Karakter skeptis ini dibentuk dari Indikator percaya akan
kapasitas dan kemampuan diri sendiri
B. Self Determination
Adalah sikap seseorang untuk menyimpulkan secara
objektif atas bukti yang sudah dikumpulkan.
Karakter skeptis ini dibentuk dari beberapa indikator:
a) Tidak langsung menerima atau membenarkan
pernyataan dari orang lain.
b) Berusaha untuk mempertimbangkan penjelasan
orang lain.
c) Menekankan pada suatu hal yang bersifat tidak
konsisten.
d) Tidak mudah untuk dipengaruhi oleh orang lain
atau suatu hal.

2.2 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu

No. Peneliti Judul Variabel Hasil penelitian


1 Prasetya Pengaruh redflags, Variabel X : Hasil penelitian
(2015) skeptisme, Redflags, menjelaskan bahwa
professional auditor, Skeptisme redflags, skeptisme
kompetensi, Profesional, professional auditor,
independensi, dan Kompetensi, kompetensi, dan
profesionalisme Independensi profesionalisme
terhadap kemampuan Profesionalisme berpengaruh signifikan
auditor dalam Variabel Y : terhadap kemampuan
mendeteksi Kemampuan auditor dalam mendeteksi
kecurangan auditor dalam kecurangan. Sedangkan
mendeteksi independensi tidak
Keurangan berpengaruh signifikan
terhadap kemampuan
auditor dalam mendeteksi
kecurangan.
42

2 Anggriawan Pengaruh pengalaman Variabel X :


(2014) kerja, skeptisme Pengalaman Terdapat pengaruh positif
professional dan Kerja, Skeptisme antara pengalaman kerja,
tekanan waktu Professional dan skeptisme profesional dan
terhadap kemampuan Tekanan Waktu pengaruh negatif antara
auditor dalam Variabel Y : tekanan waktu terhadap
mendeteksi fraud Kemampuan kemampuan auditor dalam
Auditor dalam mendeteksi fraud
Mendeteksi fraud

3 Surtiana Pengaruh keahlian Variabel X : Terdapat pengaruh dari


(2015) audit dan pengalaman Keahlian Audit keahlian dan pengalaman
audit terhadap dan Pengalaman audit terhadap kemampuan
kemampuan auditor Audit audit dalam mendeteksi
mendeteksi Variabel Y : kecurangan
kecurangan Kemampuan
Auditor
Mendeteksi
Kecurangan
4 Simanjuntak Pengaruh Variabel X : Hasil penelitian menunjukan
(2015) independensi, Independensi, bahwa independensi tidak
kompetensi, Kompetensi, berpengaruh signifikan
skeptisme Skeptisme terhadap kemampuan
professional dan Professional dan auditor dalam mendeteksi
profesionalisme Profesionalisme kecurangan. Sedangkan
terhadap kemampuan Variabel Y : kompetensi, skeptisme
mendeteksi Kemampuan professional, dan
kecurangan (fraud) Mendeteksi profesionalisme
Kecurangan berpengaruh signifikan
(fraud) terhadap kemampuan
auditor dalam mendeteksi
kecurangan
5 DR. A. O. The Effect of Accounting Ethics Temuan penelitian
Enofe, Accounting Ethics In In Improving menunjukkan adanya positif
Innocent Improving Auditor Auditor dan signifikan hubungan
Ukpebor, Professional Professional antara etika akuntansi dan
and N. Skepticism Skepticism Auditor skeptisisme
Ogbomo profesional. Selain itu,
(Nigeria, auditor
2015) kepemilikan dan biaya audit
ditemukan memiliki
hubungan yang signifikan
43

negatif dengan auditor


skeptisisme profesional
sementara pengalaman
Auditor ditemukan untuk
mengerahkan efek positif
yang signifikan
pada Auditor skeptisisme
profesional

6 Aulia Pengaruh Variabel X: Hasil penelitian


(2013) Pengalaman, Pengalaman, menjelaskan bahwa
Independensi dan Independensi, dan Pengalaman, Independensi
Skeptisme Profesional Skeptisme dan Skeptisme Profesional
Auditor Terhadap Profesional berpengarug positif terhdap
Pendeteksian Variabel Y : pendeteksian kecurangan.
Kecurangan. Pendeteksian
Kecurangan
7 Hutabarat Pengaruh Variabel X : Hasil penelitian menunjukan
(2015) Profesionalisme, Profesionalisme, bahwa pengabdian pada
independensi, independensi, profesi, kewajiban social,
kompetensi, dan kompetensi, dan kemandirian, keyakinan
tanggung jawab tanggung jawab terhadap profesi, hubungan
auditor terhadap auditor dengan sesame profesi,
kemampuan auditor Variabel Y : independensi, kompetensi,
dalam mendeteksi kemampuan dan tanggung jawab auditor
kecurangan. auditor dalam memiliki pengaruh yang
mendeteksi signifikan terhadap
kecurangan kemampuan auditor dalam
mendeteksi kecurangan.
8 Jaffar Fraud detection: the Variabel X : Menyimpulkan bahwa
(2009) moderating role of Financial konseptual tingkat penipuan
fraud risk level Accounting memiliki dampak terhadap
Fraud, Fraud risiko penipuan dan
Detection, kemampuan mendeteksi
Variabel Y : kecurangan
Data Mining
44

2.3 Kerangka Pemikiran

2.3.1 Hubungan Kompetensi dengan Kemampuan Auditor Dalam

Mendeteksi Kecurangan

Menurut Wibowo (2016 :324), mengatakan bahwa pengertian

kompetensi merupakan kemampuan melaksanakan pekerjaan atau tugas

yang didasari ketrampilan maupun pengetahuan dan didukung oleh sikap

kerja yang ditetapkan oleh pekerjaan.

Dalam Kode Etik Profesi Akuntan Publik 130.1 mengatakan

bahwa Prinsip kompetensi serta sikap kecermatan dan kehati-hatian

professional mewajibkan setiap Praktisi untuk: (a) Memelihara

pengetahuan dan keahlian profesional yang dibutuhkan untuk menjamin

pemberian jasa profesional yang kompeten kepada klien atau pemberi

kerja; dan (b) Menggunakan kemahiran profesionalnya dengan saksama

sesuai dengan standar profesi dan kode etik profesi yang berlaku dalam

memberikan jasa profesionalnya

Kompetensi menunjukan pengetahuan, keterampilan dan sikap

tertentu dari suatu profesi dalam ciri keahlian tertentu, yang menjadi ciri

dari seorang professional. Kompetensi diperlukan agar auditor dapat

mendeteksi dengan cepat dan tepat ada tidaknya kecurangan serta trik-trik

rekayasa yang dilakukan dalam melakukan kecurangan tersebut karena

keahlian yang dimilikinya dapat menjadikannya lebih sensitive (peka)


45

terhadap tindak kecurangan. (Lastanti, 2005) dalam (Julia Fitri

Hutabarat, 2015)

Pengetahuan mengenai kekeliruan dan kecurangan diperlukan

untuk memenuhi standar pekerjaan lapangan sebagaimana diatur dalam

standar profesional akuntan publik (SPAP) No. 01 SPAP tersebut yang

menjelaskan bahwa akuntan pemeriksa memiliki tanggung jawab untuk

mendeteksi kekeliruan dan ketidakberesan. Pengetahuan tersebut bisa

auditor dapatkan dari pengalaman selama auditor tersebut menjaankan

penugasan audit. Pengalaman membentuk seorang auditor menjadi

terbiasa dengan situasi dan keadaan dalam setiap penugasan.

PSA No. 4 Standar Umum juga menjelaskan bahwa seberapa

tinggi kemampuan seseorang dalam bidang auditing, ia tidak dapat

memenuhi persyaratan yang ditegaskan dalam standar auditing. Jika ia

tidak memiliki pendidikan serta pengalaman memadai dalam bidang

auditor. Keahlian auditor merupakan keahlian untuk melaksanakan tugas

sesuai dengan bidangnya dengan menerapkan standar baku dalam profesi

yang bersangkutan dan menjalankan tugas profesinya dengan mematuhi

etika profesi yang telah di tetapkan.

2.3.2 Hubungan Independensi dengan Kemampuan Auditor Dalam

Mendeteksi Kecurangan

Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh,

tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain.
46

Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam

mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif tidak

memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan

pendapatnya Mulyadi (2011 : 26). Independensi dapat diartikan sebagai

suatu sikap yang terbebas dari tekanan atau intervensi dari pihak manapun.

Sehingga auditor Wajib menjaga independensi selama periode perikatan,

yang dimulai sejak dilaksanakannya perikatan dan berakhir ketika laporan

assurance diterbitkan. Khusus untuk perikatan yang berulang, berakhirnya

periode perikatan ditentukan oleh terjadinya lebih akhir salah satu dari

peristiwa di bawah ini: (i) salah satu pihak yang mengadakan perikatan

memberitahukan berakhirnya hubungan profesional di antara mereka, atau

(ii) ketika laporan assurance final diterbitkan.

Hubungan antara Independensi terhadap kemampuan auditor

dalam mendeteksi kecurangan ditinjau dari aspek-aspek independennya itu

sendiri yaitu berupa kejujuran dan tidak adanya tekanan dari pihak

manapun. Karena apabila auditor itu independen dan auditor tersebut

menemukan temuan, maka auditor tersebut akan menindaklanjuti dan

mengungkap temuan-temuan itu tanpa ada yang ditutup-tutupi. Agar dalam

memberikan opininya auditor tidak ada pada tekanan dari pihak manapun

dan memberikan opini sesuai dengan kenyataan yang ada.

Semakin tinggi sikap independensi yang dimiliki oleh seorang

auditor maka semakin tinggi pula kemampuan auditor dalam mendeteksi


47

kecurangan. Seorang auditor yang memiliki sikap independensi dalam

penugasan auditnya, auditor tersebut bebas mengeluarkan opini audit tanpa

tekanan dari pihak manapun sehingga memudahkannya dalam proses

mendeteksi kecurangan. Hal ini didukung dengan penelitian yang

dilakukan oleh Aulia (2013) Pengaruh Pengalaman, Independensi dan

Skeptisme Profesional Auditor Terhadap Pendeteksian Kecurangan. Yang

menjelaskan bahwa Pengalaman, Independensi dan Skeptisme Profesional

berpengarug positif terhadap pendeteksian kecurangan.

2.3.3 Hubungan Skeptisme dengan Kemampuan Auditor Dalam Mendeteksi

Kecurangan

Skeptisme adalah seorang auditor membuat assesment kritis,

dengan pikiran yang mempertanyakan, validitas audit buktinya diperoleh

dan waspada untuk mengaduit buktinya yang bertentangan atau membawa

mempertanyakan keandalan dokumen dan tanggapan terhadap pertanyaan

dan informasi lainya yang diperoleh dari manajemen dan orang yang

bertanggung jawab.

Auditor harus merencanakan dan melaksanakan audit dengan

skeptisme professional mengingat kondisi tertentu dapat saha terjadi yang

menyebabkan laporan keuangan mengandung kesalahan penyajian material

(International Standard on Auditing, SA 200 A18).

Salah satu terjadinya kegagalan audit (Audit failure) adalah

rendahnya sikap skeptisme professional dari seorang auditor itu sendiri.


48

Skeptisme professional yang rendah ini menumpulkan kepekaan dari

seorang auditor terhadap kecurangan baik yang nyata maupun yang berupa

potensi, atau terhdap tanda-tanda (red flags, warning signs) yang

mengindikasikan adanya kesalahan (error) atau kecurangan (fraud).

(Tuanakotta, 2011 : 77).

Dari definisi tersebut dikaitkan dengan kemampuan auditor

dalam mendeteksi kecurangan yaitu dengan menanamkan sikap skeptisme

maka akan memudahkan auditor dalam mendeteksi kecurangan yang

terjadi, karena dengan sikap skeptisme auditor seakan-akan memiliki sifat

mempertanyakan dan tidak percaya terhadap kebenaran serta kevalidan

bukti yang diberikan oleh pihak organisasi.

Semakin tinggi sikap skeptisme profesional yang dimiliki oleh

seorang auditor maka semakin tinggi pula kemampuan seorang auditor

dalam mendeteksi kecurangan.Dengan adanya sikap Skeptisme Profesional

yang dimiliki seorang auditor dalam penugasan auditnya, dapat membuat

kemampuan mendeteksi kecurangannya menjadi lebih baik dan dapat

mengungkap terjadinya suatu kecurangan

Basically, Professional skepticism generally requires that an

auditor should not believe documents presented by client on till

it sees evidence that they are genuine. (Enofe et al, 2015)


49

2.3.4 Skema Kerangka Pemikiran

Kompetensi
(X1)

Kemampuan Auditor
Independensi
Dalam Mendeteksi
(X2) Kecurangan
(Y)

Skeptisme
(X3)

Gambar 2.3

Skema Kerangka Pemikiran

Keterangan :

= Secara simultan

= Secara partial
50

2.4 Hipotesis Penelitian

Menurut Nuryaman & Veronica (2015:18), hipotesis adalah jawaban

sementara atas masalah penelitian berdasarkan kerangka teori, yang harus

diuji benar atau tidaknya secara empiris melalui pengumpulan data atau fakta.

Adapun Menurut Sugiyono (2013: 96) Hipotesis merupakan jawaban

semetara terhadap rumusan masalah penelitian.

Sedangkan Menurut Bungin (2014:85) hipotesis adalah suatu

kesimpulan yang masih kurang atau kesimpulan yang belum sempurna,

sehingga perlu disempurnakan dengan membuktikan kebeneran hipotesis itu

dengan penelitian.

Berdasarkan kerangka pemikiran yang menguraikan keterkaitan antara

kompetensi, independensi, dan skeptisme terhadap kemampuan auditor dalam

mendeteksi kecurangan, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

H1 : Kompetensi berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam

mendeteksi kecurangan.

H2 : Independensi berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam

mendeteksi kecurangan.

H3 : Skeptisme berpengaruh terhadap kemampuan auditor dalam

mendeteksi kecurangan.

H4 : Kompetensi, independensi, dan skepetisme mempengaruhi

kemampuan auditor dalam mendeteksi kecurangan.