Anda di halaman 1dari 15

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

California Pizza Kitchen merupakan salah satu perusahaan yang focus pada
restoran dan specialis Pizza. Restoran ini didirikan pada tahun 1985 oleh Attorneys
Rick Rosenfield dan Larry Flax di Baverly HillsCalifornia AS. Pada tahun 2007,
California Pizza Kitchen memiliki 213 restoran di 28 area dan 6 di negara asing
(luar negeri). Dengan bentuk restoran yang casual, ramah lingkungan, serta bahan-
bahan bagus, dan innovative menu yang membuat restoran CPK tumbuh dan
berkembang pesat di AS.

Ada tiga sumber utama yang mendorong revenue atau margin di California
Pizza Kitchen, yaitu antara lain:

a. Penjualan yang dilakukan perusahaan CPK


b. Royalty dari waralaba restoran
c. Royalty dari kerjasama yang dilakukan dengan perusahaan Kraft Foods
yamg menjual brand CPK Pizza beku di took-toko swalayan.

Analis memperkirakan adanya full service yang potensial yang dimiliki oleh 500
unit perusahaan CPK. Sehingga pada tahun 1996, perusahaan CPK pertama kalinya
membangun konsep ASAP dalam persetujuan waralaba dengan perusahaan
HMSHost. Yang mana franchise (waralaba) ASAP berlokasi di airport dengan
menu yang terbatas. Seperti menu pizza, salad, dan sandwich yang dijual dengan
sistem grab-n-go. Meskipun bukan merupakan sumber pendapatan yang besar,
akan tetapi konsep ASAP cukup sukses dan terdiri dari 16 lokasi.

Di awal tahun 2007, CPK memiliki 15 lokasi waralaba Internasional. Yang


mana dalam persetujuan waralaba tersebut adanya pembayaran awal ke CPK antara
$50.000 sampai dengan $65.000 untuk setiap lokasi pendirian usaha dan perkiraan
penjualan kotor sekitar 5%. Beberapa lokasi tersebut tersebar di Asia, seperti
Indonesia, Malaysia, China (termasuk HongKong), Jepang, Phillipin, dan
Singapore. CPK juga berencana memperluas usahanya dibeberapa negara lain
dalam pertengahan tahun 2007.
Pada tahun 1997, perusahaan CPK melakukan persetujuan licensing dengan
Kraft Foods untuk mendistribusikan pizza beku dengan merk CPK. Kerena
marketing merupakan hal penting, sehingga Kraft wajib menghabiskan 5% dari
penjualan kotor untuk memasarkan merk produk pizza beku CPK. Manajemen dari
perusahaan CPK sangat percaya akan sukses pertumbuhan perusahaannya secara
domestic maupun internasional dengan cara kerjasama dengan perusahaan Kraft,
dengan terus menerus memberikan pelayanan yang baik terhadap pelanggan, dan
juga menyediakan berbagai macam menu yang sangat innovative. Creaktivitas
menu dengan kualitas tinggi merupakan hal yang utama bagi CPK (menu-menu
yang ada di CPK bisa dilihat di Exhibit 1).

CPK menghabiskan 1% dari pendapatannya untuk advertising, yang mana


sangat jauh lebih rendah jika disbanding dengan pesaing-pesaingnya yang
menghabiskan antara 3% sampai 4% untuk advertising. CPK lebih mengabiskan
banyak biaya untuk menciptakan menu baru, yang mana sekitar 50% biaya yang
dibutuhkan dalam membangun menu baru. 50% sisanya digunakan untuk strategi
pemasaran offline dan online.

Dalam beberapa tahun CPK dan industri-industri restoran lainnya


mengalami tantangan, antara lain:

- Naiknya harga komoditas


- Tingginya biaya tenaga kerja
- Melunaknya permintaan akibat tingginya harga gas
- Memburuknya kekayaan perumahan
- Kepentingan yang kuat di industry oleh para pemegang saham

Tingginya harga gas tidak hanya berpengaruh pada permintaan untuk makan diluar
(ke restoran), juga akan mendorong naikkan harga komoditas. Yang otomatis
harga-harga menu di restoran akan meningkat dan biaya tenaga kerja meningkat.
sehingga dengan meningkatnya harga pokok penjualan (COGS), restoran tersebut
akan mengalami magin kotor dengan tekanan dari penururan permintaan.

Pendapatan CPK meningkat lebih dari 16% di pertengahan tahun 2007.


Royalty dari kerjasamanya dengan Kraft meningkat 37% dan beberapa hanya 21%.
Strategi CPK meliputi pembukaan 16 sampai 18 lokasi baru di tahun 2007. Biaya
modal yang dibutuhkan sekitar $85.000.000 untuk pembukaan lokasi baru tersebut.
BAB 2

POKOK MASALAH

2.1 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang diuraikan diatas, diketahui bahwa Susan Collyns perlu
mengambil beberapa keputusan. Terdapat 2 isu utama yaitu bagaimana membiayai
ekspansi dan struktur modal perusahaan yang paling tepat. Fokus analisis ini akan
di perubahan struktur modal melalui pembelian kembali saham pada harga pasar
saat ini dari $ 22,10. Efek dari pembelian kembali tersebut akan dianalisis dari EBIT
impas, ROE, EPS, Biaya Modal, dan harga saham perspektif. Serta adanya biaya
$ 85.000.000 untuk mendanai ekspansi restoran layanan penuh mereka. Ini adalah
beban diketahui bahwa harus dibiayai dengan menerbitkan ekuitas atau
memanfaatkan perusahaan dengan mengambil utang.

2.2 Pertanyaan

Dari latar belakang dan rumusan masalah di atas, adapun beberapa pertanyaan
yang berkaitan dengan permasalahan yang ada. Antara lain:

a. Lakukan analisis CPK dengan menggunakan SWOT


b. Apakah California Pizza Kitchen perlu membeli sahamnya kembali?
c. Struktur modal seperti apa yang paling tepat terkait dengan perlu tidaknya
CPK untuk berhutang?
BAB 3
LANDASAN TEORI
3.1 Capital Structure
Struktur Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing
dan modal sendiri. Modal asing diartikan dalam hal ini adalah hutang baik jangka
panjang maupun dalam jangka pendek. Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas
laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan perusahaan. Struktur
modal yang optimal adalah struktur modal yang mengoptimalkan keseimbangan
antara resiko dan pengembalian sehingga memaksimumkan harga saham.

Salah satu alat untuk mengukur sejauh mana efektifitas utang digunakan untuk
membiayai perusahaan adalah debt ratio, yaitu rasio utang terhadap ekuitas
perusahaan. Debt ratio dapat dihitung dengan rumus berikut:

Debt Ratio = Debt / Equity (atau Utang dibagi Ekuitas)

Struktur modal yang dapat memaksimalkan harga saham adalah struktur modal
yang dapat meminimalkan WACC. Karena biasanya lebih mudah meramalkan
bagaimana perubahan struktur modal akan mempengaruhi WACC daripada harga
saham,kebanyakan manajer menggunakan perubahan WACC yang diramalkan
untuk membantu mereka mengambil keputusan struktur modal.

2.2 Leverage
Leverage merupakan pengukur besarnya aktiva yang dibiayai dengan
hutang-hutang yang digunakan untuk membiayai aktiva berasal dari kreditur, bukan
dari pemegang saham ataupun dari investor. Leverage atau solvabilitas suatu
perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi segala
kewajiban finansialnya apabila perusahaan tersebut likuidasi pada suatu waktu.
Weston dan Copeland (1992) merumuskan rasio leverage sebagai berikut:
Total hutang
=
Total aktiva

Leverage mengacu pada penggunaan asset dan sumber dana oleh perusahaan
dimana dalam penggunaan asset atau dana tersebut perusahaan harus mengeluarkan
biaya tetap atau beban tetap.
Jenis-jenis leverage:

1. Leverage operasi (operating leverage)


Menurut Syamsuddin (2001:107), leverage operasi adalah
kemampuan perusahaan di dalam menggunakan fixed operating cost untuk
memperbesar pengaruh dari perubahan volume penjualan terhadap earnings
before interest and taxes (EBIT).
Besar kecilnya leverage operasi dihitung dengan DOL (Degree of
operating leverage) yang dirumuskan sebagai berikut:

DOL =

Analisis leverage operasi dimaksudkan untuk mengetahui seberapa peka


laba operasi terhadap perubahan hasil penjualan dan berapa penjualan
minimal yang harus diperoleh agar perusahaan tidak menderita kerugian.
2. Leverage keuangan (financial leverage)
Financial leverage adalah penggunaan sumber dana yang memiliki
beban tetap dengan beranggapan bahwa akan memberikan tambahan
keuntungan yang lebih besar dari pada beban tetapnya sehingga akan
meningkatkan keuntungan yang tersedia bagi pemegang saham (Sartono,
2008:263).
Besar kecilnya leverage finansial dihitung dengan DFL (Degree of
financial leverage). DFL menunjukkan seberapa jauh perubahan EPS
karena perubahan tertentu dari EBIT. Makin besar DFL nya, maka makin
besar risiko finansial perusahaan tersebut. Dan perusahaan yang
mempunyai DFL yang tinggi adalah perusahaan yang mempunyai utang
dalam proporsi yang lebih besar. DFL (Degree of financial leverage)
dirumuskan sebagai berikut:

DFL =

DFL yang besar menunjukkan bahwa perubahan tingkat EBIT akan


menghasilkan perubahan yang besar pada laba bersih (EAT) atau
pendapatan per lembar saham (EPS). Beban tetap bunga ini pada
kenyataannya dapat berupa beban seluruh utang atau obligasi yang ada dan
biaya deviden untuk saham preferen yang mempunyai beban pembayaran
tetap setelah perhitungan sebelum pajak.
3. Leverage gabungan (combination leverage)
Leverage gabungan adalah pengaruh perubahan penjualan terhadap
perubahan laba setelah pajak untuk mengukur secara langsung efek
perubahan penjualan terhadap perubahan laba rugi pemegang saham dengan
Degree of Combine Leverage (DCL) yang didefinisikan sebagai persentase
perubahan pendapatan per lembar saham sebagai akibat persentase
perubahan dalam unit yang terjual. Combination leverage terjadi apabila
perusahaan memiliki baik baik operating leverage maupun financial
leverage dalam usahanya untuk meningkatkan keuntungan bagi pemegang
saham biasa (Sartono, 2008:267).

2.3 Coverage Ratio

Rasio leverage adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar
aktiva yang dimiliki perusahaan berasal dari hutang atau modal, sehingga dengan
rasio ini dapat diketahui posisi perusahaan dan kewajibannya yang bersifat tetap
kepada pihak lain serta keseimbangan nilai aktiva tetap dengan modal yang ada.

Return on Equity (ROE) adalah jumlah laba bersih yang dikembalikan sebagai
persentase ekuitas pemegang saham. ROE merupakan indikator yang diminati
banyak investor karena, hal itu menunjukkan kemampuan untuk menghasilkan
keuntungan satu dollar yang diinvestasikan investor ke ibukota perusahaan. Ini
dinyatakan sebagai persentase dan dihitung sebagai:


ROE =

Dengan rumus tersebut, ada dua cara untuk meningkatkan Return on Equity:
mengurangi ekuitas atau meningkatkan pendapatan bersih. Alasan sebenarnya
untuk meningkatkan ROE adalah karena laba bersih tersebar di ekuitas yang kurang.
BAB 4

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1 Analysis SWOT

SWOT analisis California Pizza Kitchen dilakukan karena merupakan salah


satu tolok ukur bagi perusahaan tersebut untuk berkembang dan membantu
perusahaan untuk mengambil keputusan yang tepat. Berikut adalah SWOT
California Pizza Kitchen:

STRENGTH WEAKNESS
The brand image is fairly good The largest portion of
Appropriate cost cutback restaurant chains are mainly
(pecifically, attempts to located in California => Lack
minimize long-term debts in of subsidiary diversification
consistent ways).
Business activities can be
A variety of groups of products harmed by acquisitions
be able to differentiate its
Has notorious reputation
industrial position from its
competitors.
Prices are still relatively
competitive in recession
without implementing short-
term discounts.
Professionally effective
management
OPPORTUNITIES THREATS
The business of both The restaurants sale revenues
franchised restaurants and are largely driven by external
frozen pizzas contributes to the factors such as: weather,
increase in long-term margins holidays, weekend or other
Quick serve restaurants, and special events
catering services will be Require substitute products
introduced to operate in
The marketing plans for frozen
support of traditional
pizzas might be discontinued
restaurants
because of Nestles agreement
Have chance to the penetration
into new target markets, for
example: college campuses
New services provide
assistance to customer
retention
Sumber Analisis SWOT dari Internet.
4.2 Effects of Capital Structure of CPK

Efek dari Struktur Hutang (Debt) untuk masing-masing struktur modal dapat
dihitung dengan menggunakan beberapa cara :

1. Return On Equity (ROE)

2. Cost Of Equity (CAPM)


levered = unlevered * 1+(1-Tax)(D/E)

= + ( )

Dimana:
Rf = risk-free rate (rate of return on a risk-free investment),
RM = return rate of the market

3. WACC
= / + ( ) /
Dimana:
RE = cost of equity
RD = cost of debt
E/V = percentage of financing that is equity
D/V = percentage of financing that is debt
TC = corporate tax rate

4. Share Price

=

5. Earnings Per share



EPS =

Dalam kasus ini CPK meminjam dana untuk tujuan penggunaan pada program
pembelian kembali sahamnya. Yang mana bergantung pada pasar pada saat ini,
sehingga akan menjadi prediktor kinerja keuangan mereka dalam memperdebatkan
jika meminjam dana adalah ide bagus atau buruk.
Pro Forma Tax Sield Effect of Recapitalization Scenarios (Dollar in thousands, excepet share data; figures based on end June 2007)

Debt/Total Capital

actual 10% 20% 30%


Interest rate 6.16% 6.16% 6.16% 6.16%
Tax rate 32.50% 32.50% 32.50% 32.50%
EBIT & Interest 30,054 30,054 30,054 30,054
Interest Expense 0 1,391 2,783 4,174
EBT 30,054 28,663 27,271 25,880
Income Taxes 9,755 9,303 8,852 8,400
Net Income 20,299 19,360 18,419 17,480
Book Value
Debt 0 22,589 45,178 67,766
Equity 225,888 203,299 180,710 158,122
Total Capital 225,888 225,888 225,888 225,888
Market Value
Debt 0 22,589 45,178 67,766
Equity 643,773 628,516 613,259 598,002
Market Value of Capital 643,773 651,105 658,437 665,768
ROE 8.99% 9.52% 10.19% 11.05%

Number of shares outstanding(before repurchasing) 29,130 29,130 29,130 29,130


Share Price per share MV 22.10 22.35 22.60 22.86
Share Price per share BV 7.75 6.98 6.20 5.43
Selisih MV dan BV 14.35 15.37 16.40 17.43
MV of Debt 0 22,589.00 45,178.00 67,766.00
MV of Eqity 643,773 628,516 613,259 598,002
MV of Capital 643,773 651,105 658,437 665,768
Cost of Debt 6.16% 6.16% 6.16% 6.16%
(1-Tax) 67.50% 67.50% 67.50% 67.50%
Cost of Equity 8.43% 8.52% 8.61% 8.69%
Debt Financed=D/V 0.00% 3.47% 6.86% 10.18%
Equity Financed = E/V 100.00% 96.53% 93.14% 89.82%
WACC 8.43% 8.37% 8.30% 8.23%
Risk Free Rate (Rf) of 30 yrs T-Bill (Exhibit 8) 5.20% 5.20% 5.20% 5.20%
Beta CPK (Exhibit 7) awal 0.85 0.85 0.85 0.85
beta CPK setelah ada penambahan hutang 0.85 0.873 0.896 0.919
Return of market (Rm) exhibit 6 9% 9% 9% 9%
Jumlah saham yang dibeli=hutang/harga pasar 0 1010.62 1998.73 2965.03
Number of shares outstanding(after repurchasing) 29,130 28,119 27,131 26,165
EPS=Net Income/Number of Share after repurchasing 0.697 0.688 0.679 0.668

Gambar table: hasil perhitungan Excle

Dari tabel perhitungan, terlihat bahwa ROE meningkat karena turunnya ekuitas
pada nilai buku (book value). Pada akhir Juni 2007, Return on Equity yang
sebenarnya adalah 8,98% (Exhibit 9 Pro Forma). Dengan masing-masing opsi
kenaikan hutang menjadi 10%, 20% dan 30%, ROE masing-masing meningkat
menjadi 9,52%, 10,19% dan 11,05%. Dengan mendasarkan hal ini, kita dapat
menyatakan bahwa menambahkan beberapa hutang adalah cara untuk menghemat
keuntungan bagi pemegang saham. Namun, pada saat ini, perusahaan tidak
memanfaatkan keuntungan dari memanfaatkan hutang mereka untuk meningkatkan
keuntungan mereka kepada pemegang saham. Sejak go public pada tahun 2002,
manajemen California Pizza Kitchen telah menghindari meletakkan hutang pada
neraca untuk secara konservatif mempertahankan apa yang oleh CEO Rick
Rosenfeld disebut sebagai "daya tahan".

Tingginya Financial leverage, maka tinggi pula nilai ROE dimana artinya resiko
juga bertambah besar. Unlevered Beta pada California Pizza Kitchen adalah 0,85
(tercantum pada exhibit:7). Unlevered beta adalah jenis metrik yang
membandingkan risiko perusahaan yang tidak terpakai dengan risiko pasar. Beta
yang tidak leluasa (unlevered) adalah versi beta dari sebuah perusahaan tanpa
hutang apapun. Unlevered beta menghilangkan efek finansial dari leverage. Maka
dari itu diperlukan perhitungan Beta pada saat ada penambahan hutang (Levered
Beta). Yang mana dihitung dengan: BL = BU * [1+(1-TC) * D/E]

Dari hasil yang didapat, bahwa dengan bertambahnya hutang, maka Beta Leverage
juga meningkat, artinya resiko perusahaan juga semakin tinggi.

Biaya modal memperhitungkan biaya ekuitas dan biaya hutang. Yang mana
dihitung dengan menggunakan rumus CAPM, yaitu: RE= Rf + Beta x (RM Rf),
dimana Rf merupakan resiko bebas dari investasi yang tertera pada T-Bill yang
dimiliki CPK, T-Bill yang digunakan dengan jangka waktu lama yaitu 30 tahun.
Sedangkan Rm merupakan tingkat bunga pengembalian berdasarkan harga di pasar.
Yang mana grafik Exhibit 6 menunjukkan bahwa S&P Small Cap dari 7/3/2006,
Stock price = $100 dan ketika pada tanggal 6/3/2007 stock price = $109, selisih
antara kedua harga adalah 9. Jadi return rate on market adalah 9%. Dari
perhitungan dapat dilihat bahwa tingginya financial leverage menghasilkan cost of
equity yang tinggi pula.

WACC pada menunjukkan semakin besar persentase hutang, maka semakin


rendah nilai WACC. Artinya financial leverage yang lebih tinggi menyebabkan
biaya modal lebih rendah.
Dalam konteks sekuritas, nilai pasar seringkali berbeda dari nilai buku karena
pasar memperhitungkan potensi pertumbuhan di masa depan. Sebagian besar
investor yang menggunakan analisis fundamental untuk memilih saham melihat
nilai pasar perusahaan dan kemudian menentukan apakah nilai pasarnya memadai
atau jika nilainya undervalued dibandingkan dengan nilai buku, aset bersih atau
lainnya. Sehingga dari hasil perhitungan, bahwa nilai pasar lebih tinggi dari nilai
buku, meskipun dalam kenyataannya stock tidak undervalued.

Ketika perusahaan menggunakan hutang untuk membeli kembali saham,


mereka menerapkan harga saham baru. Sehingga nilai saham baru juga bertambah.

Harga saham perusahaan naik karena hutangnya meningkatkan. Harga saham


Ditentukan oleh Total Market Value of Equity dibagi dengan jumlah saham saat ini.
Dengan meningkatnya hutang perusahaan, perusahaan membeli kembali saham,
dan juga mengurangi ekuitasnya. Tingkat penurunan ekuitas lebih kecil dari pada
saham yang dibeli kembali, Sehingga menyebabkan kenaikan harga saham.

4.3 Pembelian Saham Kembali

Jika dilihat dari kasusnya yang dialami oleh California Pizza Kitchen,
perusahaan sebenarnya tidak masalah jika harus membeli sahamnya kembali.
Karena harga saham CPK juga lagi turun sekitar 10%. Selain itu, CPK memiliki
reputasi yang sangat bagus yang memungkinkan jika dia mampu meningkatkan
nilai perusahaannya.

Pembelian kembali saham merupakan salah satu sisa keuntungan yang tersisa
dari perusahaan. Dengan cara ini, CPK dapat mengurangi jumlah saham yang
dimiliki oleh masyarakat (public). Pengurangan saham publik akan berarti bahwa
meskipun keuntungan mereka tetap sama. Jadi, membeli kembali saham, terutama
bila harga saham perusahaan dianggap undervalued atau tertekan, dapat
menghasilkan tingkat pengembalian investasi yang kuat.

Pembelian kembali juga dapat mengindikasikan kelalaian perusahaan. Jika


CEO CPK, Rick Rosenfield yakin saham perusahaan mereka saat ini
diperdagangkan di bawah nilai dasarnya (nilai pasar adalah $ 22.1 dan nilai buku
adalah $ 7.75) mereka mungkin mempertimbangkan pembelian kembali. Pembelian
kembali pasar terbuka, dimana tidak ada premi yang dibayarkan di atas harga pasar
saat ini, menawarkan investasi yang berpotensi menguntungkan bagi manajer.
Artinya, perusahaan dapat membeli kembali saham yang saat ini undervalued,
menunggu pasar untuk memperbaiki nilai undervalued.
BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

CPK merupakan perusahaan yang memiliki Strenght yang cukup kuat, akan
tetapi ada weakness yang mungkin bisa dikurangi nantinya. Banyaknya
Opportunity yang dengan cepat ditanggapi oleh CPK merupakan suatu peluang
yang bagus bagi perkembangan perusahaan dalam memperluas pasarnya dan juga
meningkatkan profitnya. Akan tetapi ada beberapa threat yang kemungkinan
menjadi hambatannya.

Dengan kenaikan hutang, imbal hasil ekuitas meningkat. Jadi, ini berarti
bahwa secara keseluruhan, sedikit hutang tidak buruk untuk dikonsumsi. Dengan
adanya hutang aka nada keuntungan pajak untuk perusahaan. Walaupun, hutang
menempatkan tekanan pada perusahaan karena interest dan pokok pembayaran
kewajiban. Sehingga struktur modal yang tepat untuk CPK berhutang adalah
struktur modal yang dapat menghasilkan keuntungan terbesar bagi perusahaan.
Yakni struktur modal 30% hutang, dan 70% modal sendiri. Karena dapat
mengoptimalkan ROE dan Nilai saham. Tapi perlu diingat bahwa resiko perusahaan
untuk bangkrut juga akan meningkat seiring dengan bertambahnya hutang.

5.2 Saran

Sebaiknya CPK perlu membeli kembali sahamnya karena ketika CPK


menggunakan Debt 10% hingga 30%, maka terjadi kenaikan ROE dan Harga saham,
sehingga untuk menyeimbangkannya perlu mengurangi jumlah saham yang beredar
dengan cara membeli kembali saham yang beredar. Jumlah saham yang perlu dibeli
secara berurutan yakni (1010.62), (1998.73), dan (2965.03) juta lembar saham
untuk komposisi hutang 10%, 20% dan 30%.

CPK memiliki Stenght yang cukup banyak, yang mampu merupakan


keunikan dari perusahaan. Serta opportunity yang begitu besar akan membuat
perusahaan mampu bertahan dan berkembang meskipun jika CPK membeli
sahamnya kembali.