Anda di halaman 1dari 11

SUMBANG SARAN

PEMBANGUNAN KLINIK DAN RUANG LAKTASI UNTUK IBU


MENYUSUI DI RS LAVALETTE

Oleh :
SAVITRI BUDI WARDANI

PT NUSANTARA SEBELAS MEDIKA


RUMAH SAKIT LAVALETTE
JL. W.R. Supratman No.10 MALANG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Manfaat ASI bagi ibu dan bayi begitu besar dan tak terbantahkan lagi. ASI merupakan
hak bagi bayi untuk mendapatkannya dan hak ibu untuk memberikan pada buah hatinya
sebagai wujud kasih sayang. Namun ada saja alasan yang menghalangi ibu dalam
memberikan ASI bagi bayinya, diantaranya alasan klasik seperti ibu yang sibuk bekerja
dan ibu sering berada di ruang pelayanan umum.

Meskipun ASI dapat diperah di tempat kerja, namun ibu kadang jadi malas
melakukannya karena tidak ada tempat yang aman, nyaman serta higienis untuk
melakukannya selain kamar mandi yang tentu saja tidak memenuhi syarat.

Demi mensukseskan program ASI Eksklusif dan agar pekerjaan ibu tidak
menjadi hambatan bagi pemberian ASI, maka pemerintah membuat aturan tentang ASI
Eksklusif yaitu UU no 13 tahun 2003 pasal 83 tentang ketenagakerjaan, UU no 36 tahun
2009 pasal 128 tentang kesehatan, dan pp no 33 tahun 2012 tentang pembarian ASI.
Dengan aturan ini pemerintah menjamin pemenuhan hak bayi dan perlindungan ibu
menyusui dan ini semua harus didukung oleh semua pihak keluarga, masyarakat dan semua
fasilitas umum seperti, bandara, perbelanjaan, tempat kerja, termasuk tempat pelayanan
umum seperti Rumah Sakit harus menyediakan ruang laktasi untuk ibu dalam menyusui
atau aktifitas lain seperti memerah dan menyimpan ASI.

Menurut Pedoman Teknis Bangunan Rumah Sakit Kelas B yang dikeluarkan


oleh Direktorat Bina Pelayanan Penunjang Medik dan Sarana Kesehatan Direktorat Bina
Pelayanan Penunjang Medik dan dab Sarana Kesehatan, Direktorat Bina Upaya Kesehatan,
Kementerian Kesehatan RI tahun 2012 disebutkan bahwa menyediakan ruang laktasi untuk
ibu menyusui, menjadi salah satu persyaratan ruangan yang ada. Pada ruangan laktasi juga
disebutkan dengan luas 6-12m harus tersedia wastafel dan sink, dispenser dengan
penghangat air, meja dan kursi, serta sirkulasi udara yang baik.
Upaya meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif pada bayi selain dengan
memberikan ruang laktasi, ruang khusus ibu menyusui, mendirikan klinik laktasi dapat
dipertimbangkan juga untuk menjadi salah satu alternatif cara meningkatkan pengetahuan
ibu maupun calon ibu akan pentingnya pemberian ASI eksklusif. Klinik laktasi adalah
tempat atau lembaga konseling bagi ibu atau calon ibu mengenai masalah menyusui. Tidak
semua rumah sakit yang menyediakan fasilitas bersalin, mempunyai klinik laktasi. Rumah
bersalin serta rumah sakit ibu dan anaklah yang pada umumnya mempunyai fasilitas ini,
karena mereka memang memberikan perhatian dan pelayanan lebih pada ibu dan
bayi. Akan tetapi rumah sakit umum, apalagi rumah sakit kelas B mendirikan klinik laktasi
dan ruang laktasi juga merupakan suatu hal yang perlu diprioritaskan adanya. Mengingat
makin maju, modernnya berbagai rumah sakit baru di Kota Malang.
Banyak calon ibu baru yang belum paham benar mengenai ASI. Di klinik laktasi, kita
akan memberikan banyak informasi yang dibutuhkan ibu dan calon ibu mengenai ASI dan
menyusui, mulai dari manfaat ASI dan menyusui, cara menyusui yang benar, cara memerah
ASI dan sebagainya. Klinik laktasi akan siap membantu para ibu dan calon ibu
mendapatkan solusi untuk masalah menyusui. Di klinik laktasi, antar ibu-ibu juga
bisa sharing pengalaman dengan ibu-ibu lain tentang menyusui, yang pasti menambah
pengetahuan dalam memberikan ASI bagi si kecil.
Berdasarkan pengamatan penulis selama orientasi di IGD, Poli umum, dan Ruangan
Rumah Sakit Lavalette (periode Desember-Januari 2016) dan melakukan pendidikan
internship selama 1 tahun di RS Lavalette, didapatkan banyak sekali pasien Ibu Hamil atau
post melahirkan kesulitan dan bingung bagaimana cara mendapatkan informasi lebih
mengenai menyusui yang benar, agar sukses pemberian ASI eksklusif dan infromasi lain
seputar laktasi. Serta penulis juga banyak menemui karyawan Rumah Sakit Lavalette yang
kebingungan untuk mencari tempat yang nyaman, aman, dan higienis untuk memompa
ASI. Para karyawan lebih sering memompa di ruang perawat, yang bisa saja perawat laki-
laki masuk dalam ruangan tersebut, sehingga memberikan ketidaknyamanan dalam
menyusui ASI. Penulis juga masih sering menemui karyawan memompa ASI di kamar
mandi atau toilet padahal hal tersebut sangat diresahkan kebersihan dan mempengaruhi
kualitas ASIP yang akan diberikan kepada anaknya.

1.2 Rumusan Masalah dan Tujuan


Adakah upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan penyedia
layanan kesehatan, dalam hal ini menyediakan ruang laktasi dan klinik laktasi bagi ibu
hamil dan ibu menyusui?
1.3 Usulan Penulisan
Usulan penulis dalam penulisan makalah ini adalah :
1.3.1 Mengusulkan pembangunan Klinik Laktasi dan Ruang Laktasi yang nyaman, aman,
serta higienis.
1.3.2 Mengusulkan diadakannya kegiatan seputar menyusui ASI, pemberian vaksin rutin
pada bayi dan kelas parenting dalam klinik laktasi yang akan didirikan
BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Klinik Laktasi

2.1.1 Pengertian Klinik Laktasi

Klinik laktasi adalah tempat atau lembaga konseling bagi ibu atau calon ibu mengenai
masalah menyusui. Tidak semua rumah sakit yang menyediakan fasilitas bersalin,
mempunyai klinik laktasi. Rumah bersalin serta rumah sakit ibu dan anaklah yang pada
umumnya mempunyai fasilitas ini, karena mereka memang memberikan perhatian dan
pelayanan lebih pada ibu dan bayi.

Banyak calon ibu baru yang belum paham benar mengenai ASI. Di klinik laktasi, ibu
menyusui dan ibu hamil akan mendapatkan banyak informasi yang butuhkan mengenai ASI
dan menyusui, mulai dari manfaat ASI dan menyusui, cara menyusui yang benar, cara
memerah ASI dan sebagainya. Klinik laktasi siap membantu ibu-ibu memberikan solusi
untuk masalah menyusui mereka Di klinik ini, ibu menyusui dan ibu hamil juga
bisa sharing pengalaman dengan ibu-ibu lain tentang menyusui, yang pasti menambah
pengetahuan mereka dalam memberikan ASI bagi si kecil.

2.1.2 Syarat Klinik Laktasi

Klinik laktasi akan berjalan baik jika memenuhi persyaratan yang memandai.
Persyaratan itu adalah persetujuan tertulis dari direktur rumah sakit, mempunyai tenaga
terlatih dan mempunyai saraana yang cukup.
Persetujuam dari direktur rumah sakit diperlukan, karena semua kegiatan rumah sakit
termasuk klinik laktasi harus didukung fasilitas yang cukup, dan dengan adanya
persetujuan dari direktur, kegiatan klinik laktasi diharapkan tidak banyak mengalami
hambatan.
Kegiatan klinik akan lancar kalau didukungolah tenaga terlatih. Karena kegiatan klinik
dimulai sejak kehamilan sampai pasca persalinan, maka tenaga terlatih hendakanya
meliputi:
a. Tenaga terlatih yanga mampu melaksanakan pemeriksaan payudara pasca
persalinan.
b. Tenaga terlatih yang mampu mengadakan penyuluhan tentang manfaat ASI dan
kerugian susu bantuan, mamapu memberikan penyuluhan tentang rawat gabung
dan manfaatnya.
c. Tenaga terlatig yang mampu memberikan penyuluhan/ konsultsi gizi untuk bayi,
ibbu hamil dan ibu menyusui.
d. Tenaga terlatih yang mampu menjelaskan tentang masalah menyusui yang
dihadapai oleh bayi dan ibu menyusui.
Sarana yang cukup memadai untuk kelancaran kegian klinik laktasi hendaknya
tersedia. Sarana yang seharusnya tersedia adalah:
a. Ruang dan peralatan untuk pemerikasan payudara dan perawata payudara serta
pemeriksaan bayi.
b. Ruang penyuluhan dan alat yang diperlukan seperti boneka, leaflets, OHP,
proyektor slide, televisi,dan video, poster, lembar balik, food model (contoh
makan sesungguhnya atau alat peraga) untuk penyuluhan atau konsultasi gizi,
KMS Ibu hamil, dan KMS balita.
c. Catatan medik klinik laktasi
Setiap klinik laktasi dapat menyesuaikan persyaratan sesuai dengan kondisi masing-
masing.
2.1.3 Kegiatan Klinik Laktasi
Sesuai dengan fungsinya, kegiatan klinik laktasi dibedakan menjadi kegiatan
pelayanan medis dan kegiatan pendidikan.
a. Kegiatan pelayanan medis
Kegiatan pelayanan medis pada masa kehamilan disebut Bimbingan Persiapan
Menyusui (BPM). BPM meliputi:
1. Mempersiapkan psikis ibu
Psikis ibu haruslah diperiapkan sejak masa kehamilan, karena ibu yang siap
untuk menyusui sangat membantu kelancaran laktasi, sebaliknya ibu yang memang
tidak siap/ mau menyusui akan mengganggu kelancaran laktasi
2. Pemeriksaan payudara khususnya puting susu
Kalau dijumpai kelainan puting datar atau terbenam, berikan pengertian
kepada ibu bahwa bayi tidak menyusu pada puting, tetapi pada payudara (areola
masuk ke mulut bayi). Karena ada kekhawatiran ibu, maka ibu perlu mendapatkan
bantuan segera setelah bayi lahir agar bisa berhasil menyusui. Keterampilan
memeras ASI perlu diberikan.
3. Penyuluhan tentang manfaat ASI dan kerugian susu buatan
Kegiatan penyuluhan ini dapat diintegrasikan dengan kegiatan penyuluhan lain
di klinik laktasi misalnya penyuluhan rawat gabung, gizi ibu hamil dan meyusui, dan
sebagainya.
4. Penyuluhan tentang rawat gabung dan manfaatnya
Penyuluah ini penting untuk mempersiapkan ibu mengerti masalah rawat
gabung yang akan dijalani setelah persalinan, penyluhan ini dapat dilaksanakan
secara terintegritasi dengan penyuluhan lain.
5. Penyuluhan atau konsultasi gizi ibu hamil
Penyuluhan gizi dilakukan secara kelompok san bila ada ibu yang memerlukan
konsultasi khusus dapat dilakukan konsultasi oleh ahli gizi di poliklinik gizi.
b. Kegiatan pelayanan medis pada masa pasca persalinan disebut Bimbinga Ibu Menyusui
(BIM). BIM meliputi:
1. Membimbing ibu mengenai teknik menyusui yang benar
Walaupun ibu sudah mendapatkan bimbingan tentang teknik menyusui yang
benar saat di ruang rawat agbung, kadang-kadang masih ada ibu yang belum
menguasai dengan baik teknik menyusui yang benar. Dengan demikian petugas
harus mengecek kembali teknik menyusui dengan cara meminta ibu memperagakan
cara meyusui bayinya dan petugas menunjukan cara yang benar bila masih ada
kesalahan.
2. Perawatan payudara pasca persalinan
Seperti halnya tenik menyusui, wlaupun ibu sudah mendapatkan cara merawat
payudara pasca persalinan, tetapi kadang-kadang ada ibu yang belum
menguasai perawatan ini. Petugas hendaknya mengecek kembali dan memberikan
penjelasan cara perawatan yang benar.
3. Memantau masalah nenyusui pada ibu
Setelah pulang dari rumah sakit, kadang-kadang ibu mempunyai masalh yang
berhubungan dengan menyusui. Bilamana ada, petugas haruslah mengecek keadaan
bayi dan ibu. Bayi dilihat keadaan umumnya, diuji reflek menghisap dan
menelannya, dan cari apakah ada kelainan seperti stomatitis, sumbing atau kelainan
sistemik lain seperti infeksi. Payudara ibu diperiksa dan ditentukan kelainan yang
ada seperti puting susu lecet, sumbatan saluran susu, mastitis, abses dan sebagainya.
4. Memberikan penyuluhan atau konsultasi gizi bayi dan ibu menyusui, perawatan
bayi, tumbuh kembang bayi, KB, dll.
Seperti halnya ibu hamil, konsultasi gizi bayi dan gizi ibu menyusui dilakukan
secara kelompok, bilamana ada ibu yang mempunyai masalh khusus untuk bayi dan
dirinya dapat dikirim ke poliklinik gizi untuk konsultasi.

2.2 Ruang Laktasi

Ruang Laktasi adalah sebuah ruangan khusus yang sengaja disediakan oleh institusi
(perkantoran, perusahaan, tempat bekerja, layanan umum, seperti Rumah Sakit) yang
memiliki fungsi untuk memberikan privasi bagi seorang ibu menyusui yang juga bekerja
untuk memberikan ASI kepada bayinya ataupun untuk memerah ASI.

2.2.1 Standar Ruang Laktasi


Ruangan aman dan nyaman. Biasanya untuk memberikan rasa aman dan nyaman
ruangan yang tidak sempit dan sejuk dan ruangan harus menguramakan privasi
Ruangan tidak sempit minimal ukuran ruangan 3 x 3 meter.
Ruangan yang nyaman biasanya ibu menyusui bisa tenang dan nyaman. Ruangan harus
sejauk dengan sirkulasinyang baik. Minimal bila udara gerah diberi kipas angin. Saat
memberi ASI atau memompa ASI agar produktifitas jumlah dan kualitas ASI bisa
optimal.
Kursi empuk dan nyaman untuk ibu menyandarkan punggungnya ketika menyusui.
Wastafel, tempat mencuci tangan dan botol dengan air mengalir. Wastafel wajib dijaga
kebersihannya dan tetap kering, karena kuman gemar bersarang di tempat basah dan
lembab.
Changing table atau Baby tafel untuk ibu mengganti popok sebelum atau sesudah
menyusui.
Ruangan Laktasi akan lebih ideal apabila ditambahkan fasilitas seperti di bawah ini,
Dispenser untuk ibu yang membutuhkan minum karena ibu menyusui mudah haus.
Dispenser dengan air panas juga berguna untuk membuat susu, jika si ibu tidak
menyusui.
Ruangan sejuk dengan pendingin AC
Ruangan dilengkapi Kulkas untuk tempat penyimpanan ASI Perah ibu menyusui
Ruangan dilengkapi alunan musik atau televisi. Sehingga saat dalam proses menyusui
ibu bisa relaks dan tenang tidak terburu buru. Hiasan dinding dengan beragam informasi
seputar ibu dan anak.
BAB III
SUMBANG SARAN

3.1 Saran Pembangunan dan Mendirikan Klinik Laktasi serta Ruang Laktasi di RS
Lavalette
Tujuan :
- Menyediakan ruangan khusus yang nyaman, aman dan higienis untuk karyawan RS
Lavalette dan pasien ibu menyusui untuk menyusui bayi dan memerah ASI
- Menyediakan wadah khusus untuk memberikan informasi seputar pemberian ASI
eksklusif, pemberian vaksinasi pada bayi, dan kelas parenting ibu dan anak
Sasaran kegiatan :
- Tenaga medis/paramedis/bidan pewakilan dari Tim Ponek
- Karyawan RS Lavalette yang sedang hamil atau sedang menyusui
- Seluruh pengunjung termasuk pasien RS Lavalette yang sedang hamil atau menyusui
Tujuan kegiatan :
- Meningkatkan pengetahuan pasien ibu hamil dan menyusui di RS Lavalette mengenai
pemberian ASI yang benar dan tepat sehingga dapat sukses pemberian ASI eksklusif
- Meningkatkan pengetahuan pasien ibu hamil dan menyusui di RS Lavalette mengenai
pemberian vaksinasi rutin kepada bayi dan kelas parenting dalam mengasuh bayi dan
balita
- Meningkatkan angka kunjungan RS Lavalette, dalam hal ini khususnya kunjungan
pasien triage hijau.
Materi yang disampaikan bisa dalam bentuk kelas diskusi, seminar maupun pemberian leaflet
yang disediakan oleh RS Lavalette
LAMPIRAN

Contoh Klinik Laktasi dan Ruangan Laktasi yang Ideal