Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

PEMBAHASAN

Ny R, 60 tahun, mengeluhkan nyeri tajam hilang timbul yang spesifik di sisi wajah
kiri menjalar hingga ke belakang telinga dan dagu. Keluhan bertambah apabila terkena air dan
mengunyah makanan. Nyeri tajam yang dirasakan oleh pasien merupakan jenis nyeri neuropati.
Hal ini merujuk pada gangguan persyarafan di area sensorik dan motorik pada dermatom
nervus trigeminal (N. V). Pemeriksaan terhadap fungsi nervus fasialis (N. VII) dalam batas
normal dengan disfungsi minimal saat menutup mata.
Neuralgia Trigeminal adalah sindrom nyeri pada area persyarafan nervus trigeminus
baik pada satu cabang atau lebih. Angka kejadiannya meningkat pada wanita, terutama pada
usia di tahun 40 tahun (?).
Pasien mengatakan mengalami onset Herpes Zooster 2 bulan yang lalu. Nyeri
neuropati dapat terjadi akibat gangguan persyarafan dari virus varicella zooster yang
menyerang pasien sebelumnya. Keadaan nyeri neuropati setelah onset awal Herpes Zooster
disebut Neuralgia pasca herpetik.
Neuralgia pasca herpetik adalah keadaan nyeri neuropati yang menetap setelah onset
ruam awal dari proses penyembuhan herpes zooster. 10-70% penderita herpes zooster akan
mengalami neuralgia paska herpetika. 25% penderita herpes zoster dengan terapi asiklovir
lengkap akan mengalami neuralgia paska herpetika. Insidensi meningkat seiring dengan
bertambah usia penderita (?).
Pasien didiagnosa dengan Neuralgia Trigeminal Pasca Herpetika + Parese Nervus
Fasialis (disfungsi ringan). Penatalaksanaan terhadap pasien meliputi 2 jenis terapi berupa non-
medikamentosa dan medikamentosa. Tatalaksana non-medikamentosa berupa fisioterapi dan
kompres handuk hangat. Tatalaksana medikamentosa berupa metilprednisolon 2x8mg, natrium
diclofenac 3x500mg, metilkobalamin 2x500mcg, hidrocortison zalp 2x/hari.
Berdasarkan teori, penatalaksanaan neuralgia pasca herpetik difokuskan kepada
pemberian analgetik. Jenis analgetik yang dapat diberikan diantaranya analgetik opioid,
antidepresan, antikonvulsan dan terapi topikal. (K Ho & Pasutharnchat, 2008; Katherine EG,
2009; Saru S dkk., 2013; Young HJ, 2015).
Pasien mengalami nyeri neuropati ringan (skala 3), sehingga pemberian analgesik non-
opioid berupa Natrium diclofenac dari golongan NSAID dirasakan cukup. Penggunaan
analgesik opioid memberikan efektivitas yang lebih baik, namun diindikasikan pada kasus
nyeri berat karena efek takifilaksisnya. Analgetik non opioid seperti NSAID dan parasetamol
mempunyai efek analgetik perifer maupun sentral walaupun efektifitasnya kecil terhadap nyeri
neuropatik (Saru S., dkk., 2013).
Pemberian analgetik berupa antidepresan dan antikonvulsan merupakan pilihan lain
untuk tatalaksana neuralgia paska herpetika yang kronik, digunakan pada skala nyeri sedang
hingga berat. Jenis analgetik tersebut tidak diberikan terhadap pasien dengan neuropati ringan.
Terapi medikamentosa lain terhadap pasien berupa metilprednisolon dari golongan
kortikosteroid. Beberapa sumber menyebutkan pemberian kortiksteroid tidak efektif untuk
mengurangi nyeri kronik seperti pada Neuralgia Paska Herpetik. Hanya ada sedikit literatur
yang membahas efek kortikosteroid sebagai penghilang nyeri neuropati. Namun, Pemberian
kostikosteroid disetujui sebagai terapi adjuvant (Saru S., dkk., 2013; Young HJ, 2015).
Kortikosteroid sebagai terapi adjuvant memberikan efek langsung untuk mengurangi
nyeri karena proses inhibisi dalam sintesis prostaglandin. Studi menunjukkan ditemukannya
reseptor steroid di sistem nervus perifer dan sentral. Respon perbaikan inflamasi oleh
kortikosteroid dapat menurunkan nyeri neuropati (K Ho & Pasutharnchat, 2008; Melissa V,
2010).
Kortikosteroid merupakan pilihan terapi adjuvant pada infeksi zooster. Terapi
kortikosteroid oral menunjukkan kemampuan perbaikan kondisi terhadap proses inflamasi dan
secara kosmetik membantu perbaikan jaringan kulit. Ini menunjukkan peranan kortikosteroid
oral dalam proses penatalaksanaan di fase akut. Namun, kortikosteroid sebagai adjuvant
dipercaya memiliki kemampuan menurunkan nyeri akibat inflamasi zooster (Katherine EG,
2009; Young HJ, 2015).
Deksametason sering digunakan untuk mengontrol nyeri, tapi prednison dan
metilprednisolon juga dapat digunakan. Keuntungan terapi menggunakan prednison adalah
rendahnya efek samping miopati. Sedangkan keuntungan menggunakan deksametason adalah
rendahnya kemungkinan retensi cairan dibandingkan steroid lain (Liu dkk., 2013).
Kortikosteroid direkomendasikan untuk terapi jangka pendek. Terapi kortikosteroid
yang dihentikan secara mendadak setelah penggunaan jangka panjang (> 2 minggu)
menyebabkan peristiwa rebound. Tappering off atau penurunan dosis secara bertahap
diperlukan untuk menghindari itu. Tappering off disarankan dilakukan setiap 2 minggu hingga
dosis fisiologis kortikosteroid tercapai. Tidak ada metode baku tappering off yang dipatenkan
dalam berbagai literatur (Melissa V, 2010; Liu dkk., 2013).
Ada dua metode tapering off yang sering digunakan yaitu metode persentase dan
metode alternate. Tapering off metode persentase dimulai dengan penurunan dosis terapi
sebanyak 10-20% setiap 1 atau 2 minggu dari dosis total terapi. Tapering off prednison pada
dewasa dilakukan secara perlahan, dimulai dengan penurunan dosis 2,5 5 mg setiap 3-7 hari
hingga tercapai dosis fisiologis (5 7,5 mg/ hari). Sedangkan untuk hidrokortison, diturunkan
10-20 mg setiap 1 atau 2 minggu hingga tercapai dosis fisiologisnya (100 mg/hari). Metode ini
banyak digunakan karena prosesnya perlahan dan memberikan hasil yang stabil (Liu dkk.,
2013; John S dkk., 2016).
Tapering off metode alternate adalah penurunan dosis yang dilakukan selang-seling
setiap hari nya. Penyesuaian dosis ini dilakukan setiap hari selang-seling selama 1 minggu dan
menetap pada dosis terendah pada minggu berikutnya. Penurunan dosis alternate hidrokortison
adalah 2,5 mg per hari dan untuk prednison adalah 1-2 mg per hari. Berikut contoh tapering
off metode alternate untuk terapi hidrokortison:
Minggu 1 : hari 1 65 mg, hari 2 62,5 mg, hari 3 65 mg, hari 4 62,5 mg, hari 5- 65 mg,
hari 6 62,5 mg, hari 7 65 mg.
Minggu 2 : melanjutkan dosis terendah minggu sebelumnya, yaitu 62,5 mg, selama 7 hari.
Minggu 3 : kembali melakukan dosis alternate yaitu 62,5 mg dan 60 mg.
Minggu 4 : melanjutkan dosis terendah, yaitu 60 mg, selama 7 hari.
Minggu 5 : dosis alternate, dan seterusnya.
Metode tapering off ini efektif sebagai terapi pada penyakit reumatik. Namun, tidak ada data
yang membuktikan secara ilmiah keefektifan metode alternate ini (John S dkk., 2016).
Terapi terhadap pasien ini telah sesuai dengan teori yang dikaji. Beberapa teori memang
tidak berdasarkan evidence based namun pengalaman klinisi menunjukkan hasil yang efektif
terhadap penggunaan kortikosteroid sebagai terapi adjuvant. Hal yang perlu diperhatikan
adalah pentingnya metode tapering off setelah konsumsi kortikosteroid jangka panjang.

Ctt:
(?) sumber referensi wid ambil dari tinjauan pustaka mamas.
Pada anamnesis tambahin cerita nyeri tajam dan hilang timbul.
Pada anamnesis RPD tambahin pengobatan herpes zooster tuntas berupa 7
hari asiklovir 5x800mg dan asiklovir salp.
Kontrol ulang 5 mei 2017 tambahin skala nyeri 3.
Daftar Pustaka

John S, Paul M, Mitchell EG, Maria S dan Paul M. 2016. Glucocorticoid tapering and
adrenal suppression testing guide. Diakses di https://aiunited.org/glucocorticoid-tapering-and-
adrenal-suppression-testing-guide/ pada tanggal 19 Juli 2017 pukul 10.20 WIB.
Katherine EG. 2009. Managing Herpes zoster and postherpetic neuralgia. J Am
Osteopati Assoc. 109(suppl 2):S7-S12.
K Ho & Pasutharnchat. 2008. Intrathecal dexamethasone for the treatment of intravtable
postherpetic neuralgia: a case report. The Internet Journal of Pain, Symptom Control and
Palliative Care. 6(2):1-4.
Liu dkk. 2013. A practical guide to the monitoring and management of the
complications of systemic corticosteroid therapy. Allergy, Asthma & Clinical Immunology.
9:30. Doi: 10.1186/1710-1492-9-30.
Melissa V. 2010. Steroids as pain relief adjuvants. Canadian Family Physician. Vol 56:
1295-1297.
Saru S, Ruchi G, Sukhdeep K, Jasleen K. 2013. Post herpetic neuralgia: a review of
current management strategies. Indian Journal of Pain. 27(1):12-21. Doi: 10.4103/0970-
5333.114857.
Young HJ. 2015. Herpes zoster and postherpetic neuralgia: practical consideration for
prevention and treatment. Korean J Pain. 28(3):177-184.