Anda di halaman 1dari 8

II.

LATAR BELAKANG
Pada dasarnya aktivitas-aktivitas operasi produksi dalam suatu perusahaan adalah
untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya dengan biaya sefesien mungkin. Perusahaan
untuk melakukan kegiatan operasinya memerlukan sumber daya-sumber daya yang memerlukan
biaya yang tidak sedikit. Perusahaan tidak ingin merugi yang diakibatkan akibat aktivitas-
aktivitas penggunaan sumber daya yang kurang efektif sehingga berpengaruh pada penetapan
harga yang cenderung tinggi. Perubahan harga akan mengakibatkan perubahan atau pergerakan
kurva permintaan yang telah terbentuk, baik harga itu mengalami penurunan atau pun kenaikan.
Perubahan kurva permintaan yang diakibatkan oleh kenaikan harga karna ketidakefesiennya
produksi akan mengakibatkan perubahan interaksi permintaan dan penawaran yang terjadi dan
keseimbangan pasar pun akan berubah. Perubahan keseimbangan pasar ini pada akhirnya
berdampak pada pembentukan surplus perusahaan itu sendiri. Harga yang cenderung bergerak
naik akan mengurangi surplus perusahaan yang telah dicapai dan juga sebaliknya.
Pemecahan masalah bagaimana suatu perusahaan mengatur suatu kegiatan operasi
produksi agar dapat meningkatkan keuntungan adalah bukan perkerjaan yang mudah. Perusahaan
memerlukan sejumlah teori yang dijadikan sebagai pedoman dalam membaca situasi dalan
kegiatan produksi, situasi pasar untuk menetapkan harga yang tepat dan wajar dan harga yang
sanggup dibayar oleh konsumen. Hal inilah yang sebagai dasar pemahaman bagaimana surplus
perusahaan terbentuk dari aktivitas-aktivitas operasi produksi perusahaan yang mempengaruhi
tingkat harga yang ditetapkan seminimal mungkin dan aktivitas-aktivitas pasar yang membetuk
keseimbangan pasar dan pada akhirnya mampu mengantarkan perusahaan dalam meraih
keuntungan yang maksimum.
Just, Hueth dan Schmitz (1982) menyatakan bahwa perubahan harga komoditi akan
mempengaruhi tingkat kesejahteraan produsend dan konsumen komoditi yang bersangkutan.
Pengaruh tersebut dapat diukur dari besarnya surplus produsen dan konsumen. Marshall
dalam Daryanto. A. (1989), surplus konsumen didefinisikan sebagai perbedaan antarajumlah
uang yang sebenarnya dibayarkan oleh konsumen dengan jumlah uang yang bersedia dibayarkan
daripada ia tidak memiliki barang tersebut. Dalam hal ini, surplus konsumen menunjukkan
keuntungan yang diperoleh konsumen karena membeli seluruh unit yang diinginkan dengan
harga berlaku P* meskipun mereka bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi. Surplus
konsumen merupakan perbedaan antara jumlah uang yang bersedia dibayarkan untuk jumlah Q*
.
Surplus produsen disebut pula sebagai sewa ekonomi (economic rent), jika
diasumsikan bahwa biaya tetap (fixed cost) tidak diperhitungkan (Pindyck R.S. and Rubinfeld.
D. L.,(1992). Surplus Ekonomi. Untuk mengukur tingkat kesejahteraan total dalam masyarakat
diperoleh dari penjumlahan antara surplus konsumen dan surplus produsen.
Surplus konsumen dan surplus produsen total bernilai maksimal pada titik ekuilibrium
di mana kurva permintaan dan kurva penawaran saling berpotongan. Konsumen menerima
keuntungan dari harga yang dibayarnya, sementara produsen menerima kompensasi dari biaya.
Pemerintah menetapkan kebijakan ceiling price (harga tertinggi) dan floor price(harga dasar)
sebagai standar dalam system penawaran transaksi antara produsen dan konsumen untuk
menciptakan keseimbangan surplus ekonomi, oleh karena itu teori surplus ekonomi sangat
bermanfaat dalam menganalisis dampak campur tangan pemerintah. Campur tangan pemerintah
dianggap makin buruk bila total kehilangan surplus ekonomi (kehilangan surplus konsumen dan
surplus produsen) makin besar yang disebut deadweight loss.
Maka dari beberapa hal mengenai surplus konsumen dan produsen, dirumuskan 3
masalah :
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi surplus konsumen dan produsen ?
2. Bagaimana pengaruhnya surplus ekonomi terhadap keseimbangan harga dan kuantitas ?
3. Bagaimana kebijakan pemerintah dalam menetapkan floor and ceiling price ?
VI. PEMBAHASAN
A. Pengertian Surplus Produsen (perusahaan)
Surplus produsen adalah jumlah produsen yang menguntungkan dengan menjual pada
mekanisme harga pasar yang lebih tinggi daripada harga mereka yang bersedia untuk menjual.
Perhatikan bahwa surplus produsen umumnya mengalir melalui kepada pemilik faktor-
faktor produksi: dalam persaingan sempurna, tidak ada surplus produsen timbul untuk
perusahaan individual. Ini adalah sama dengan mengatakan bahwa keuntungan ekonomi
didorong menjadi nol. Bisnis dunia nyata umumnya memiliki atau mengontrol beberapa
masukan mereka, yang berarti bahwa mereka menerima surplus produsen karena mereka: ini
dikenal sebagai keuntungan normal, dan merupakan komponen biaya peluang perusahaan. Jika
faktor-faktor pasar persaingan sempurna juga, surplus produsen pada akhirnya berakhir sebagai
sewa ekonomi kepada pemilik input langka seperti tanah.
Dalam beberapa aliran heterodoks ekonomi, surplus ekonomi menunjukkan total
pendapatan yang berasal dari kelas penguasa yang langka kepemilikan faktor-faktor produksi
yang baik diinvestasikan kembali. Dalam ekonomi Marxis, istilah surplus mungkin juga
merujuk kepada nilai lebih, produk surplus dan surplus buruh.

B. JenisJenis Kelompok Produsen (perusahaan)


Kelompok produsen dapat dibagi dalam tiga kelompok sehubungan dengan kemampuan
menjualnya, yaitu:
1. Penjual Supermarginal
Penjual supermarginal adalah penjual yang berani menjual produknya di bawah harga pasar.
Produsen ini menggunakan konsep dan falsafah produksi dalam pemasarannya yaitu
memproduksi barang sebanyak-banyaknya kemudian menjualnya dengan harga yang semurah-
murahnya tapi tetap masih peroleh keuntungan.
2. Penjual Marginal
Penjual marginal adalah produsen yang menjual produknya sama dengan harga pasar. Biasanya
produsen ini hanya menjual produknya di tempat-tempat yang tawar-menawar tidak
diberlakukan, sehingga mereka menyiasatinya dengan memberi label harga produknya.
3. Penjual Submarginal
Penjual submarginal adalah kelompok penjual yang hanya menjual produknya di atas harga
pasar. Produsen kelompok ini menganggap bahwa produknya sangat eksklusif, unik,
produsennya sangat ternama dan terkenal atau sejenisnya.
Analisis surplus konsumen dan produsen sebanarnya hanya ditujukan pada kelompok
konsumen dan produsen yang submarginal dan supermarginal, karena dua kelompok ini yang
mungkin dapatkan surplus dari pembelian dan atau penjualan produknya. Konsumen akan
dapatkan suplus jika preferensi harga yang diperkirakannya lebih tinggi dari harga keseimbangan
pasar. Besarnya surplus tentu saja bergantung pada berapa banyak jumlah kuantitas yang akan
dibeli dikalikan dengan selisih harga tersebut. Sedangkan produsen akan dapatkan surplus
penjualannya jika harga jual produknya lebih rendah dari harga yang mampu dibeli oleh
konsumen dalam kondisi keseimbangan pasar
4. Proses Terbentuknya Surplus Produs
Standar pada penawaran dan permintaan (S & D) Diagram, surplus konsumen (CS) adalah area
berbentuk segitiga abE di atas tingkat harga dan di bawah kurva permintaan, karena
intramarginal konsumen membayar lebih sedikit untuk item daripada maksimum bahwa mereka
akan membayar. Sebaliknya, surplus produsen (PS) adalah area berbentuk segitiga bcE di bawah
tingkat harga dan di atas kurva penawaran, karena itu adalah jumlah minimum produsen dapat
menghasilkan.
Jika keseimbangan terjadi sehingga harga pasar telah terbentuk maka tentu akan ada konsumen
yang diuntungkan karena merasa bahwa harga itu terlalu rendah. Demikian pula, tentu ada saja
produsen yang merasa diuntungkan karena setelah dipertimbangkan harga keseimbangan itu
terlalu tinggi. Untuk memahami ini perhatikan gambar 1.
Harga keseimbangan adalah E. di antara para konsumen, tentu ada kemungkinan yang
sebenarnya mampu membeli lebih tinggi dari harga yang telah ditetapkan, misalnya titik E
menggambarkan harga Rp.100. Karena harga hanya Rp.100, maka ia merasa diuntungkan.
keuntungan yang diterima oleh masing-masing konsumen itu disebut consumer surplus
(surplus konsumen). Jika seluruh surplus konsumen yang diterima oleh seluruh konsumen itu
dijumlahkan, totalnya adalah seluas segitiga abE.
Hal yang sama juga terjadi di antara para produsen. Di anatara mereka ada yang
sebenarnya -karena efesiensi produksinya- mampu menjual lebih rendah dari harga
keseimbangan itu. keuntungan yang diterima oleh masing-masing produsen itu di sebut
producer surplus (surplus produsen). Jika seluruh surplus porodusen yang diterima oleh seluruh
produsen itu dijumlahkan, totalnya adalah seluas segi tiga bcE.
Jika pemerintah melakukan intervensi dengan menerapkan, misalnya, pajak atau subsidi,
maka grafik permintaan dan penawaran menjadi lebih rumit dan juga mencakup daerah surplus
pemerintah mewakili. Dikombinasikan, surplus konsumen, surplus produsen, dan pemerintah
surplus (jika ada) membuat surplus sosial atau total surplus. Total surplus adalah ukuran utama
dalam ekonomi kesejahteraan digunakan untuk mengevaluasi efisiensi kebijakan yang diusulkan.
5. Surplus Perusahaan Pada Pasar Persainagn Sempurna, Monopoli, dan Monopolistik.
Surplus produsen adalah harga jual suatu barang dikurangi biaya produksinya dan produsen akan
mendapat surplus penjualannya jika harga jual produknya lebih rendah dari harga yang mampu
dibeli oleh konsumen dalam kondisi keseimbangan pasar. Suatu alokasi sumber-sumber daya
yang memaksimalkan nilai surplus produsen adalah alokasi yang efisien. Para pembuat
kebijakan sering kali sangat memperhatikan efisiensi dan juga pemerataan dari hasil-hasil
ekonomi, akan tetapi pasar tidak dapat mengalokasikan sumber-sumber daya secara efisien
ketika terjadi kegagalan pasar seperti adanya kekuasaan pasar atau eksternalitas.
Seperti yang telah dijelaskan bahwa surplus perusahaan pada dasarnya adalah harga jual
suatu barang dikurangi baiaya produksinya. Oleh karena itu, dalam menganalisis proses
terbentuknya surplus produsen (surplus perusahaan) akan diterangkan melalui pendekatan biaya-
biaya produksi dan tambahan keuntungan marginal; dalam hal ini adalah biaya marginal (MC),
biaya variabel rata-rata (AVC), biaya rata-rata total (AC) dan tambahan keuntungan (MR).
6. Surplus Perusahaan Pada Pasar Persaingan Sempurna
Surplus perusahaan (surplus produsen) dalam pasar persaingan sempurna akan terbentuk pada
saat di mana MR=MC
Kegiatan perusahaan akan mencapai surplus keuntungan maksimum apabila jumlah
produksi yang digambarkan dalam grafik tercapai keadaan di mana MR=MC dan berlaklu pada
waktu produksi adalah 7 unit. Denghan demikian perusahaan mencapai keuntungan maksimum
apabila produksi adalah sebanyak 7 unit. Jika seluruh surplus porodusen atau perusahaan yang
diterima oleh seluruh produsen itu dijumlahkan, totalnya adalah seluas Eabc.
7. Surplus Perusahaan Pada Pasar Monopoli
Gambar 3 menunjukkan bagaimana surplus perusahaan dapat terjadi di mana keuntungan
maksimum dicapai dengan menggunakan pendekatan hasil penjualan marjinal sama dengan
biaya marjinal.
Kurva AC, MC, D = AR, MR dibuat berdasarkan pada bentuk kurva-kurva tersebut.
Kemudian telah diterangkan bahwa keuntungan maksimum atau bisa disebut juga surplus
perusahaan maksimum dapat ditentukan dengan melihat pada tingkat produksi yang mana
keadaan MR=MC ada. Kurva MR dan MC berpotongan pada waktu tingkat produksi sebanyak Q
unit. Hasil penjualan total adalah OP x OQ, atau sama dengan OPAQ. Sedangkan biaya total
adalah OC x OQ, atau sama dengan OCBQ. Dengan demikian, surplus perusahaan maksimum
ditunjukkan oleh kotak PABC.
8. Surplus Perusahaan Pada Pasar Monopolistik
Surplus perusahaan yang dicapai dalam pasar monopolisttik adalah sama dengan di
surplus perusahaan pada pasar monopoli. Bedanya, di dalam monopoli yang dihadapi adalah
permintaan dari seluruh pasar, sedangkan dalam pasar persaingan monopolistis, permintaan yang
dihadapi perusahaan adalah sebagian dari keseluruhan pasar.
III KESIMPULAN
Pemecahan masalah bagaimana suatu perusahaan mengatur suatu kegiatan operasi
produksi agar dapat meningkatkan keuntungan adalah bukan perkerjaan yang mudah. Perusahaan
memerlukan sejumlah teori yang dijadikan sebagai pedoman dalam membaca situasi dalan
kegiatan produksi, situasi pasar untuk menetapkan harga yang tepat dan wajar dan harga yang
sanggup dibayar oleh konsumen. Harga yang mahal mengakibatkan konsumen akan membayar
terlalu tinggi untuk membeli suatu barang dibanding benefit yang konsumen dapatkan, jelas
berdasarkan hukum permintaan, permintaan perlahan akan turun dan mempengaruhi keadaaan
keseimbangan pasar serta secara tidak langsung surplus perusahaan yang telah tercapai
sebelumnya akan mengalami penurunan dan berlaku juga sebaliknya. Hal inilah yang sebagai
dasar pemahaman bagaimana surplus perusahaan pada awalnya terbentuk dari aktivitas-aktivitas
operasi produksi perusahaan yang mempengaruhi tingkat harga yang ditetapkan seminimal
mungkin dan aktivitas-aktivitas pasar yang membetuk keseimbangan pasar dan pada akhirnya
mampu mengantarkan perusahaan dalam meraih keuntungan yang maksimum.
Memahami tentang teori surplus perusahaan (surplus produsen) adalah penting untuk
bagi siapa pun yang terlibat dalam aktivitas operasi produksi, operasi pasar. Namun, dalam
pemahaman teori ini dibutuhkan juga pemahaman-pemahaman teori-teori lain yang secara
langsung berhubungan, misalnya: teori permintaan, teroi penawaran, teori biaya dan produksi
dan lain sebagainya.

Anda mungkin juga menyukai