Anda di halaman 1dari 4

Darmayantie Syahputri 11-003

Dinda Rizvina Nasution 11-007

Novika Susi Lestari 11-025

Siti Habibah Rhadiatullah 11-027

Yan Adelaila Rambe 11-047

Nurul Fadillah Siregar 11-071

Defi Chairunisa 11-085

TES PROYEKTIF

Bentuk-Bentuk Distorsi Apersepsi Bellak

1. Inverted Projection

Inverted Projection, merupakan proses dari proyeksi yang merupakan apperceptive distortion
bertaraf paling tinggi, secara hipotesis memiliki arti yang bertolak belakang dengan persepsi
yang sebenarmya. Proyeksi ini dapat menunjukkan indikasi gangguan psikosis, neurotic defense
dan beberapa proses maturational.

Misalnya pada sebuah kasus seorang homoseksual (gay) yang mencintai sesama jenis. Perasaan
cinta ini tidak dibenarkan dalam lingkungan sosialnya karena melanggar nilai sosial bahwa
seharusnya laki-laki mencintai perempuan, dan sebaliknya. Dengan kata lain, impuls ini
merupakan sesuatu yang membahayakan. Perasaan cinta ini kemudian berubah menjadi benci
sebagai bentuk reaksi formasi. Terlihat pada kasus inverted projection ini, yang pertama muncul
adalah reaksi formasi, kemudian disusul oleh simple projection dalam bentuk apperception
distortion yang merupakan proyeksi kepada dunia luar.
2. Simple Projection

Simple Projection, merupakan proses yang tidak mempunyai indikasi klinis, dan merupakan
kejadian yang umum di dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya ketika ingin pergi ke sebuah pesta, Lulu menyadari bahwa dia tidak terlalu memiliki
pilihan gaun untuk pergi ke pesta, maka Lulu bermaksud untuk meminjam gaun kepada Lala
(saudara kembarnya), saat mau meminjamnya ke Lala, tiba-tiba Lulu terpikir, kalau nanti Lala
tidak mau meminjamkannya karena dulu Lulu pernah meminjam gaunnya juga dan
mengembalikannya dalam keadaan yang rusak (luntur misalnya), Lulu harus bagaimana? Lalu
Lulu terpikir lagi, dia bilang saja kalau sewaktu dulu Lulu meminjamnya, gaun itu memang
dalam keadaan rusak (luntur warnanya)

Kemudian datanglah Lulu ke kamar Lala, terlihat Lala sedang berkaca di depan cerminnya, Lulu
pun berbasa basi dengan memuji-muji Lala, kalau Lala cantik, manis, baik dan sebagainya. Lalu
Lala berkata ada apa Lu? tumben muji-muji, ada maunya ni biasanya. Lalu dengan cepat Lulu
berkata ah, bilang saja kalau kamu tidak mau meminjamkan gaunmu.

3. Sensitization
Di dalam kasus mahasiswa yang terlambat mengumpulkan tugas, dapat dilihat sebagai suatu
fenomena baru, dimana ada beberapa subjek yang sama sekali acuh dan tidak memberikan reaksi
apa-apa, tetapi ada pula subjek-subjek yang sangat memperhatikan dan menunjukkan reaksinya
terhadap kemarahan tersebut.
Subjek-subjek yang sangat memperhatikan dan merasakan kemarahan dosen walaupun pada saat
itu, secara objektif, stimulus kemarahan kepada mahasiswa tidak ada . Proses ini secara klinis
disebut : sensitivity of neurotics (kesensitifan yang neurotis). Jika kita lihat dari segi ketiadaan
persepsi yang objektif, maka proses tersebut dapat kita katakan sebagai a more sentitive
perception of existing stimuli (suatu persepsi yang memiliki kesensitifan melebihi keadaan
stimulusnya).
Hipotesis sensitization adalah bahwa suatu objek yang sesuai dengan pola-pola tingkah laku
yang pernah dilakukan akan lebih mudah diterima daripada objek-objek yang tidak sesuai
dengan pola-pola tingkah laku yang pernah dilakukannya.
Misalnya di dalam masalah persepsi membaca, kata-kata yang pernah dipelajari akan lebih
mudah diterima pola-polanya daripada ejaan-ejaannya.

4. Externalization

Inverted projection, simple projection dan sensitization adalah merupakan proses-proses yang
terjadinya tidak disadari individu yang bersangkutan, dan sukar untuk dapat menyadarkan
individu terhadap proses yang terjadi pada dirinya itu. Tetapi sebaliknya, ada proses-proses
tertentu yang sering dijumpai oleh ahli-ahli klinis, yang berbeda dengan proses-proses yang
disebutkan di atas. Proses-proses ini sering dijumpai pada subjek-subjek yang menceritakan
suatu gambar pada kartu TAT, misalnya :

Ini adalah gambar seorang ibu yang sedang melihat ke dalam kamar untuk memastikan
apakah anaknya sudah selesai mengerjakan pekerjaan rumahnya. Dan kemudian ia
nampak sedang menegur anaknya karena belum selesai mengerjakan pekerjaan rumah
itu.

Ketika proses inquiry (penjajagan), subjek tersebut secara spontan mengatakan; Saya
merasa bahwa kejadian di dalam gambar ini persis seperti apa yang pernah saya alami,
yaitu antara saya dan ibu saya, walaupun saya tidak merealisir hal itu di dalam cerita
yang saya kemukakan tadi.

Di dalam ulasan psikoanalitik, dikatakan bahwa proses mengemukakan cerita tersebut berasal
dari daerah pra-sadar (preconscious), dimana subjek tidak menyadari apa yang diceritakan (pada
mulanya), tetapi hal itu mudah untuk disadarkan atau dibawa ke alam sadar
(melalui inquiry). Fenomena semacam itu, disebut eksternalisasi (externalization), yaitu bahwa
represi terhadap pola image yang membentuk suatu efek yang terorganisir akan mudah untuk
dimunculkan kembali.
Misalnya seorang mahasiswa yang memiliki trait ceroboh, memutuskan kabel mik pada saat
akan presentasi, kemudian dia mengeluhkan bang Guritno (selaku yang bertanggung jawab
terhadap proyektor) yang memasang kabel terlalu pendek.

Sumber Pustaka

BEM Psikologi UIT. (2011, Juli 13). KONSEPSI PSIKOLOGI PROYEKSI (Telaah Tentang
Apperseption dan Apperseptive Distortion). Retrieved 3 4, 2014, from BEM Psikologi UIT:
http://bempsikologiuit.wordpress.com/

http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_psikologi_proyektif/bab1-
teori_apperceptive_distortion.pdf