Anda di halaman 1dari 21

SEORANG LAKI-LAKI USIA 33 TAHUN DENGAN HIV

POSITIF STADIUM III DANKANDIDIASIS ORAL

Disusun Oleh:
Oki Saraswati Utomo
G99161069
Periode: 21 November 4 Desember 2016

Pembimbing:
Dr. Risya Cilmiaty drg., M.Si., Sp.KG

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU GIGI DAN MULUT


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2016
BAB I

PENDAHULUAN

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired


Immunodeficiency Syndrome (AIDS) masih merupakan masalah utama saat ini
diseluruh dunia. Banyak manifestasi klinis diarea mulut yang sering dijumpai
pada pasien yang terinfeksi oleh HIV&AIDS.Salah satu yang sering dijumpai
adalah kandidiasis oral (Egusa, 2008). Kandidiasis oral merupakan kelainan dari
mukosa mulut yang disebabkan oleh jamur patogen dengan genus candida.
Penyakit ini sering ditemui pada pasien dengan infeksi HIV&AIDS. Infeksi
kandidiasis oral memiliki beberapa gambaran klinis. Secara klinis ada tujuh tipe
kandidiasis oral yang dapat dijumpai yaitu kandidiasis pseudomembran,
kandidiasiseritematus, kandidiasis hiperplastik, angular cheilitis, kandidiasis
atrofik kronis, glosisitis rhomboid medial dan Black hairy tongue (Morgan, 2010).

Kejadian kandidiasis oral dihubungkan dengan faktor-faktor


predisposisi seperti usia, jenis kelamin, kebiasaan merokok, penggunaan
antibiotik oral, dan pengobatan antiretroviral. Menurut penelitian Shiboski dan
kawan-kawan, kejadian kandidiasis oral meningkat pada usia lebih dari 35 tahun.
Faktor predisposisi untuk timbulnya kandidiasis oral pada pasien dengan
HIV&AIDS disebabkan karena adanya kondisi immunocompromised oleh karena
faktor jumlah sel CD4 yang menurun. Patofisiologi terjadinya kandidiasis oral
pada pasien HIV&AIDS diperankan oleh beberapa faktor seperti virulensi dari
spesies Candida, imunitas selular yang diperankan terutama oleh sel CD4 dan
imunitas alamiah oleh sel keratinosit rongga mulut. Timbulnya gejala klinis
sangat tergantung antara kolonisasi Candida spp. pada mukosa mulut, virulensi
Candida spp., dan kerusakan dari sistem imun mukosa dan progresifitas dari
infeksi HIV (Egusa, 2008).

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kandidiasis oral adalah infeksi oportunistik umum yang menyerang
rongga mulut disebabkan karena petumbuhan yang berlebih dari spesies candida
(Akpar A, Morgan R, 2010) dengan manifestasi pada selaput lendir mulut tampak
pseudomembran putih coklat muda yang menutupi lidah, palatum mole, pipi
bagian dalam, dan permukaan rongga mulut. Bila pseudomembran terlepas
tambak bagian basah dan merah, lesi pada rongga mulut dapat terpisah-pisah dan
seperti kepala susu. Spesies candida yang kerap menyebabkan kandidiasis oral
diantaranya adalah Candida albicans, Candida glabrata dan Candida tropicalis
dengan prevalensi tertiniggi disebabkan oleh Candida albicans (Egusa, 2008).

B. Epidemiologi
Immunodeficiency virus yang dominan pada manusia adalah (HIV) HIV-1, dan
HIV-2 yang relatif jarang terkonsentrasi di Afrika Barat dan jarang ditemukan di
tempat lain. Kasus HIV/AIDS terkait kandidiasis oral pertama kali
didokumentasikan pada tahun 1981, pada lelaki muda hemoseksual muda yang
aktif. dan adanya kandidiasis oral yang tidak dapat dijelaskan pada individu yang
menderita AIDS.

Frekuensi candida yang terisolasi dan tanda-tanda klinis kandidiasis oral juga
meningkat dengan infeksi HIV yang semakin berkembang. Kandidiasis oral telah
dilaporkan terjadi pada 50-95% dari semua orang HIV-positif di beberapa waktu
semasa perkembangan ke full-blown AIDS. Sebuah laporan mengungkapkan
bahwa mereka yang memiliki kandidiasis oral akan berisiko 2,5 kali lipat untuk
menderita AIDS.

Pada satu laporan terbaru tentang prevalensi global kandidiasis oral pada
orang dewasa yang terinfeksi HIV di berbagai negara, frekuensi kandidiasis oral
pada orang dewasa yang terinfeksi HIV dilaporkan setelah tahun 2001 berkisar
5,8 - 98,3%. Prevalensi di Asia berkisar dari 8% hingga 98,3% sementara di

2
Afrika berkisar antara 34,9% dan sampai 80% di Kenya. Prevalensi kandidiasis
oral di Amerika Selatan bervariasi dari 28,6% hingga 52%.

C. Patofisiologi

Th 17 dan CD4 membentuk


IL-17, IL-21, IL-22 untuk
menekan virulensi HIV

Di oral terbentuk mekanisme


protektif oleh saliva (lactoperoxidase,
lysozyme, thrombospondin, mucins,
Pasien proline-rich proteins, defensins,
Sistemimunitastu
HIV/AIDS secretory leukocyte protease inhibitor
buhmelemah
(SLPI), dan gp340)

Produksi saliva menurun,


mikroflora berkembang pesat
(Candida albicans) pada mukosa Sistem imun oral gagal
labial, bukal, lidah, dan palatum membendung replikasi virus HIV

Terbentuk
Candida albicansberubah bentuk plak/pseudomembran berwarna
dari ragi menjadi hifa dan putih atau kuning yang terdiri
memproduksi enzim hidrolitik dari sel epitel, deskuamasi,
(aspartyl proteinase) serta fibrin, dan hifa jamur pada
mebentuk lapisan biofilm mukosa labial, bukal, palatum,
lidah, jaringan periodontal, dan
orofaring

3
D. Klasifikasi dan Gambaran Klinis
Gambaran klinis kandidiasis oral tergantung pada keterlibatan
lingkungan dan interaksi organisme dengan jaringan pada host. Adapun
kandidiasis oral dikelompokkan atas tiga, yaitu :
1. Akut, dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a. Kandidiasis Pseudomembranosus Akut
Kandidiasis pseudomembranosus akut yang disebut juga sebagai
thrush, pertama sekali dijelaskan kandidiasis ini tampak sebagai plak
mukosa yang putih, difus, bergumpal atau seperti beludru, terdiri dari sel
epitel deskuamasi, fibrin, dan hifa jamur, dapat dihapus meninggalkan
permukaan merah dan kasar. Pada umumnya dijumpai pada mukosa pipi,
lidah, dan palatum lunak. Penderita kandidiasis ini dapat mengeluhkan
rasa terbakar pada mulut. Kandidiasis seperti ini sering diderita oleh
pasien dengan sistem imun rendah, seperti HIV/AIDS, pada pasien yang
mengkonsumsi kortikosteroid, dan menerima kemoterapi. Diagnosa dapat
ditentukan dengan pemeriksaan klinis, kultur jamur, atau pemeriksaan
mikroskopis secara langsung dari kerokan jaringan

Gambar 1. Kandidiasis Pseudomembranosus Akut pada lidah dan mukosa


bukal pasien

4
b. Kandidiasis Eritematous Akut
Kandidiasis jenis ini membuat daerah permukaan mukosa oral
mengelupas dan tampak sebagai bercak-bercak merah difus yang rata.
Infeksi ini terjadi karena pemakaian antibiotik spektrum luas, terutama
Tetrasiklin, yang mana obat tersebut dapat mengganggu keseimbangan
ekosistem oral antara Lactobacillus acidophilus dan Candida albicans.
Antibiotik yang dikonsumsi oleh pasien mengurangi populasi
Lactobacillus dan memungkinkan Candida sp. tumbuh subur. Pasien yang
menderita Kandidiasis ini akan mengeluhkan sakit seperti terbakar.

Gambar 2. Kandidiasis Atropik Akut


2. Kronik, dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
a. Kandidiasis Eritematous Kronik
Disebut juga denture stomatitis atau alergi gigi tiruan.Mukosa
palatum maupun mandibula yang tertutup basis gigi tiruan akan
menjadi merah, kondisi ini dikategorikan sebagai bentuk dari infeksi
Kandida. Kandidiasis ini hampir 60% diderita oleh pemakai gigi tiruan
terutama pada wanita tua yang sering memakai gigi tiruan selagi tidur.

Gambar 3. Kandidiasis Atropik Kronik

5
b. Kandidiasis Hiperplastik Kronik
Infeksi jamur timbul pada mukosa bukal atau tepi lateral lidah berupa
bintik-bintik putih yang tepinya menimbul tegas dengan beberapa daerah
merah. Kondisi ini dapat berkembang menjadi displasia berat atau
keganasan, dan kadang disebut sebagai Kandida leukoplakia. Bintik-bintik
putih tersebut tidak dapat dihapus, sehingga diagnosa harus ditentukan
dengan biopsi.Kandidiasis ini paling sering diderita oleh perokok.

Gambar 4. Kandidiasis Hiperplastik Kronik


3. Kandidiasis bentuk sekunder, dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Median Rhomboid Glositis
Median Rhomboid Glositis adalah daerah simetris kronis di anterior
lidah ke papila sirkumvalata, tepatnya terletak pada duapertiga anterior
dan sepertiga posterior lidah. Gejala penyakit ini asimptomatis dengan
daerah tidak berpapila

E.
Gambar 5. Median Rhomboid Glositis

6
b. Keilitis Angularis
Keilitis angularis merupakan infeksi Kandida albikan pada sudut
mulut, dapat bilateral maupun unilateral. Sudut mulut yang terkena infeksi
tampak merah dan pecah-pecah, dan terasa sakit ketika membuka mulut.
Keilitis angularis ini dapat terjadi pada penderita defisiensi vitamin B12
dan anemia defisiensi besi.

Gambar 6. Angular Cheilitis

E. Terapi
Pada pasien yang kesehatan tubuhnya normal, seperti perokok dan
pemakai gigi tiruan, perawatan kandidiasis oral relatif mudah dan efektif,
namun pasien yang mengkonsumsi antibiotik jangka panjang, dan pasien
dengan sistem imun tubuh rendah dimana keadaan tersebut rentan
menimbulkan infeksi jamur, maka terapi dan perawatan kandidiasisnya lebih
spesifik, yaitu dengan menjaga kebersihan rongga mulut, memberi obat-
obatan antifungal baik lokal maupun sistemik, dan berusaha menanggulangi
faktor predisposisi, sehingga infeksi jamur dapat dikurangi.
Kebersihan mulut dapat dijaga dengan menyikat gigi maupun menyikat
daerah bukal dan lidah dengan sikat lembut. Pada pasien yang memakai gigi
tiruan, gigi tiruan harus direndam dalam larutan pembersih seperti
Klorheksidin, hal ini lebih efektif dibanding dengan hanya meyikat gigi
tiruan, karena permukaan gigi tiruan yang tidak rata dan poreus menyebabkan
Kandida mudah melekat, dan jika hanya menyikat gigi tiruan tidak dapat
menghilangkannya.

7
Pengobatan farmakologis kandidiasis oral dikelompokkan dalam tiga
kelas agen antifungal yaitu: polyenes, azoles, dan echinocandins. Antifungal
Polyenes mencakup Amphotericin B dan Nystatin. Amphotericin B dihasilkan
oleh Streptomyces nodosus dan memiliki aktivitas antijamur yang luas. Di
samping keuntungannya, antifungal ini dapat menimbulkan efek nefrotoksik.
Obat antifungal lain yang sekarang banyak digunakan adalah Nystatin. Azoles
dibagi dalam dua kelompok yaitu imidazoles dan triazoles. Azoles akan
menghambat ergosterol yang merupakan unsur utama sel membran jamur
sedangkan Caspofungin termasuk golongan antifungal echinocandins yang
digunakan untuk pengobatan terhadap infeksi jamur Candida sp. dan
Aspergillus sp.
Obat anti jamur dapat diberikan secara topikal maupun sistemik, dengan
syarat pemakaiannya harus sesuai dengan tipe kandidiasis yang akan dirawat.
Obat - obat anti jamur yang dapat diberikan secara topikal berupa:
clotrimazole lozenge, nystatin pastiles, dan nystatin suspensi oral, sedangkan
obat anti jamur yang dapat diberikan secara sistemik yaitu: ketoconazole
tablet, itraconazole tablet, fluconazole tablet.

8
BAB III

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. AS
Umur : 33 tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Supir
Alamat : Jagalan, Jebres, Surakarta
Tanggal masuk : 26 November2016
Tanggal pemeriksaan : 29November 2016
No RM : 01356xxx

II. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Demam sejak 7 hari sebelum masuk rumah sakit.

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang dengan keluhan demam sejak 7 hari sebelum masuk
rumah sakit. Berdasarkan keterangan dari pasien, demam dirasakan naik
turun dan dirasakan makin tinggi pada sore hari dan turun pada pagi hari.
Demam dirasa berkurang dengan menggunakan obat penurun
panasnamun demam muncul lagi apabila penggunaan obat dihentikan.
Demam kadang dirasakan sangat tinggi hingga pasien merasa menggigil.
Pasien juga merasakan adanya sakit tenggorokan sejak 2 minggu
sebelum masuk rumah sakit. Selain sakit tenggorokan, pasien juga
mengeluhkan adanya sariawan di langit-langit mulut, di permukaan atas
dan bawah lidah yang tak kunjung sembuh, timbul rasa seperti terbakar
dan terasa sakit apabila digunakan untuk makan sehingga membuat
pasien kehilangan nafsu makan dan mengakibatkan pasien mengalami
berat badan sebanyak 4 kg dari 54 kg menjadi 50 kg dalam 2 minggu.

9
Pasien juga mengeluhkan batuk-batuk sejak 1 bulan yang lalu.
Batuk kering tidak disertai dengan keluarnya dahak. Batuk sudah dicoba
diobati dengan obat yang dibeli di warung namun batuk tak kunjung
sembuh.
Pasien mengeluhkan diare yang sudah dirasakan selama 1 bulan
terakhir. Diare berkonsistensi cair dan berwarna kuning. Diare dikeluhkan
keluar sedikit-sedikit namun tidak kunjung sembuh. Pasien memiliki
mondok sekitar 1 bulan yang lalu selama 4 hari dengan keluhan diare.

3. Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat Diabetes Mellitus : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
Riwayat Penyakit Hati : disangkal

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat Hipertensi : disangkal
Riwayat Diabetes Mellitus : disangkal
Riwayat Penyakit Jantung : disangkal
Riwayat Penyakit Hati : disangkal

5. Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien merupakanpasienumumtanpamenggunakan BPJS.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : GCS 4/5/6
Vital sign :
Tekanan darah : 120/80mmHg Nadi : 110x/menit
RR : 20x/menit Suhu : 39.00C
Kulit : sawo matang, turgor menurun (-), ikterik(-),

10
Kepala : mesocephal
Mata : Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), reflek
cahaya (+/+)
Telinga : Sekret (-), nyeri tekan tragus (-), darah (-)
Hidung : Epistaksis (-/-), nafas cuping hidung (-), sekret (-)
Mulut : Sianosis (-), bibir pecah-pecah (-), sariawan (+)
Leher : Trakhea di tengah, simetris;pembesaran KGB (-), JVP
tidak meningkat, nyeri telan (-), faring hiperemis (-),
tonsil T1-T1
Thoraks : Normochest, simetris, retraksi dinding dada (-)

Cor : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak


Palpasi : Ictus cordis teraba di SIC V linea
midclavicularis, tidak kuat angkat
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi : BJ I-II int normal, reguler, bising (-)
Pulmo : Inspeksi : Pengembangan dada kanan=kiri
Palpasi : Fremitus raba kanan=kiri, krepitasi (-/-)
Perkusi : Sonor/sonor
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (-/-),ronkhi basah
halus (-/-), ronki basah kasar (-/-)
wheezing (-/-)
Abdomen : Inspeksi : Dinding perut sejajar dengan dinding dada
Auskultasi : Bising usus (+) 12 x/menit
Perkusi : Timpani
Palpasi :Supel, Hepar & lien tidak teraba, nyeri
tekan epigastrium (-)
Ekstremitas : Oedem - - Akral Dingin - -
- - - -
CRT < 2 detik

11
IV. ORAL STATUS
Ekstra Oral
Maxilla : tak tampak kelainan
Mandibula : tak tampak kelainan
Lips : tak tampak kelainan
Intra Oral
Palatum : tampak plak putih dengan ukuran diameter +/- 1 cm,
tunggal, berbatas tegas
Lingua : tampak plak putih berbatas tidak tegas, multipel,
terletak pada lingua dan mukosa sublingua
Upper Gingiva : tak tampak kelainan
Lower Gingiva : tak tampak kelainan
Left Bucal : tak tampak kelainan
Right Bucal : tak tampak kelainan
Gigi : a. Terdapat karies pada gigi molar 1,2 dan gigi
premolar 1, 2 kanan atas
b. Terdapat Radix pada gigi insisivus 1 dan 2 kanan
atas
c. Tidak ada gigi caninus kanan atas dan molar 3
kanan atas dan gigi molar 1 dan 3 kiri atas
Oral Hygiene : buruk

12
Gambar 7. Kondisigigidanmulutpasien

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan laboratorium tanggal 26 November 2016
Nilai Satuan Rujukan
Hematologi Rutin
Haemoglobin 11.6 g/dL 13.5-17.5
Hematokrit 24 % 33-45
Leukosit 10.6 ribu/uL 4.5-11.0
Trombosit 101 ribu/uL 150-450
Eritrosit 3.42 ribu/uL 4.50-5.90
Indeks Eritrosit
MCV 71.5 /um 80.0-96.0
MCH 24.9 Pg 28.0-33.0
MCHC 34.8 g/dl 33.0-36.0
RDW 16.2 % 11.6-14.6
MPV 7.9 Fl 7.2-11.1

Hitung Jenis
Eosinofil 0.00 % 0.00-4.00
Basofil 0.00 % 0.00-2.00

13
Netrofil 60.00 % 55.00-80.00
Limfosit 34.00 % 55.00-80.00
Monosit 6.00 % 0.00-7.00

Hemostasis
PT 15.2 Detik 10.00-15.00
APTT 28.0 Detik 20.00-40.0

Kimia Klinik
GDS 115 mg/dl 60-140
SGOT 40 u/l <35
SGPT 69 u/l <45
Creatinine 0.8 mg/dl 0.9-1.3
Ureum 39 mg/dl <50
Elektrolit
Natrium Darah 119 mmol/L 136-145
Kalium Darah 3.9 mmol/L 3.3-5.1
Kalsium Ion 1.04 mmol/L 1.17-1.29

V. ASSESSMENT
1. Diagnosis
B 20 Stadium III dengan infeksi oportunistik candidiasis oral
B 20 stadium III dengan infeksi oportunistik diare kronis
Anemia hipokromik mikrositik
Hiponatremia berat
Hipokalsemia sedang

2. Tatalaksana
Bed rest tidak total

14
Diet TKTP lunak 1700 kkal
Infus NaCl 3% 1 fl/24 jam
Infus clinimix 1 fl/24 jam
Injeksi Ceftriaxon 2 gr/12 jam
Paracetamol 500 mg/8 jam
CaCO3 1 tab/8 jam
Nystatin drop. 4 ml/6 jam
Cotrimoksazole 960 mg/12 jam
New diatab 1 tab apabila diare

3. Prognosa
Advitam : dubia ad malam
Ad sanam : dubia ad malam
Ad fungsionam : dubia ad malam

15
BAB IV

PEMBAHASAN

Pada kasus bangsal kali ini diketahui pasien berinsial AS berusia 33


tahun mengeluhkan bahwa pasien mengalami demam selama 7 hari, diare
sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit serta adanya adanya batuk-batuk
selama 1 bulan yang tak kunjung sembuh.
Pasien juga mengeluhkan penurunan nafsu makan dan disertai
dengan penurunan berat badan dalam dua minggu terakhir. Keluhan tidak
mau makan dikarenakan mulut yang terasa nyeri dan terdapat bercak putih
di daerah tepi lidah dan di bagian langit-langit mulut. Bercak - bercak
tersebut dapat terkelupas ketika diangkat dan dikelilingi oleh daerah yang
eritem disekitarnya. Keadaan tersebut dapat mengarah pada bentuk
kandidiasis oral pseudomembranous akut yang memiliki ciri khas lesi
putih dapat dihilangkan dengan kerokan halus dan meninggalkan
permukaan mukosa yang eritematous. Selain itu, pada bagian bawah lidah
didapatkan rasa nyeri terus-menerus yang dapat mengarah pada bentuk
kandidiasis oral eritematuos akut yang memiliki ciri khas lesi sering
muncul di bagian dorsum lingua dan menimbulkan rasa nyeri terus -
menerus. Manifestasi klinis yang muncul pada pasien tidak menutup
kemungkinan bahwa pasien memiliki kedua bentuk kandidiasis oral
tersebut.Kondisi pasien untuk menderita kandidiasis oral sangat didukung
dengan riwayat penyakit yang sedang diderita pasien yaitu HIV/AIDS.
Pada orang dengan HIV/AIDS akan terjadi imunocompromised,
yaitu menurunnya sistem imunitas pada tubuh. Hal ini mengakibatkan
infeksi oportunistik seperti kandidiasis oral mudah terjadi karena
mekanisme imun oral melalui upaya mekanisme protektif oleh saliva gagal
membendung replikasi virus HIV sehingga produksi saliva menurun dan
menyebabkan mikroflora candida albicans berkembang pesat dan
menyebabkan candida albicans berubah bentuk menjadi hifa dan
memproduksi enzim hidrolitik dan membentuk lapisan biofilm.

16
Pemeriksaan klinis dilakukan untuk melihat gambaran klinis lesi yang
terdapat pada rongga mulut. Pemeriksaan penunjang untuk pasien dengan
kandidiasis yaitu pemeriksaan sitologi eksfoliatif, kultur swab, uji saliva,
dan biopsi hal ini berkaitan dengan diagnosis dan terapi yang tepat untuk
pasien.
Dalam kasus ini, terapi kandidiasis oral yang diberikan adalah :
1. Cotrimoxazole
Cotrimoxazole adalah bakterisid yang merupakan kombinasi
sulfametoksazol dan trimetoprim dengan perbandingan 5 : 1.
Kombinasi tersebut mempunyai aktivitas bakterisid yang besar karena
menghambat pada dua tahap biosintesis asam nukleat dan protein yang
sangat esensial untuk mikroorganisme sehingga diharapkan
pertumbuhan Candida sp. dapat dihambat dengan lebih
maksimal. Dosis Cotrimoxazole yang diberikan pada orang dewasa
adalah 20-40 mg/kgBB/hari. Pada kasus ini, berat badan pasien adalah
50 kg sehingga dosis pengobatan yang diberikan pada pasien adalah
cotrimoxazole 960 mg dengan frekuensi 2 x sehari (setiap 12 jam).
2. Nystatin drop
Nystatin adalah agen fungistatik dan fungisidal in vitro pada
beberapa jenis ragi dan jamur. Nystatin berikatan dengan sterol dalam
membral sel dari Candida sp. yang sensitif sehingga mengakibatkan
perubahan pada permabilitas membra dan selanjudnya menimbulkan
kehilangan komponen intraseluler tidak berkembang selama terapi.
Nystatin tidak menunjukan aktivitas perlawanan pada bakteri,
protozoa, atau virus.
Preparat nystatin yang digunakan pada pasien ini adalah
Kandistatin suspensi oral dimana tiap ml kandistatin mengandung
Nystatin 100.000 IU. Dosis Nystatin untuk candidiasis oral bagi orang
dewasa adalah 400.000-500.000 IU setelah makan dengan frekuensi 4x
sehari, sehingga pasien diberikan nystatin drop sebanyak 4 ml dengan
frekuensi 4x sehari (setiap 6 jam).

17
BAB V

KESIMPULAN

- Kandidiasis merupakan penyakit infeksi oral yang disebabkan oleh


jamur Candida sp., yang merupakan flora normal di mulut.
- Faktor risiko dari pasien ialah keadaan immunocompromised sehingga
mengakibatkan infeksi oportunistik kandidiasis oral.
- Dalam penegakkan diagnosis kandidiasis oral, perlu dilakukan
pemeriksaan yang cermat pada pasien sehingga dapat diberikan terapi
yang efektif untuk kondisi pasien yang lebih baik.

18
DAFTAR PUSTAKA

Akpan A, Morgan R. Oral candidiasis. Postgrad MedJ 2010; 78: 45559.

Andryani S (2010). Skripsi: Kandidiasis oral pada pasien tuberkulosis pada


akibat pemakaian antibiotik dan steroid. Medan: Fakultas Kedokteran
Gigi Universitas Sumatra Utara.

Bagtzoglou A.D, Fidel PL. The host cytokine responses and protective immunity
in orophayngeal candidiasis. J Dent Res 2005;84(11):966-77.

Egusa H, Soysa N.S, Ellepola.AN, Yatani H, Samaranayake LP. Oral candidiasis


in HIV infected patients. Curr HIV research 2008;6:485-99.

Findya A (2010). Pemeliharaan oral hygiene dan penanggulangan komplikasi


perawatan ortodonti. Sumatera Utara: USU.

Harty FJ (1995). Kamus kedokteran Gigi, terj. alih bahasa drg. Narlan
Sumawinata. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Machfoedz I (2006). Menjaga kesehatan gigi dan mulut anak-anak dan ibu hamil.
Yogyakarta: Fitramaya.

Repentigny L, Lewandowski D, Jolicouer P. Imunopathogenesis of oropharyngeal


candidiasis in human immunodeficiency virus Infection. Clin Microbiol
rev. 2014;17:729-59.
Setiani dan Sufiawati (2005). Efektifitas heksetidin sebagai obat kumur terhadap
frekuensi kehadiran jamur candida albicans pada penderita kelainan
lidah.http://resources.unpad.ac.id/unpad-content/uploads/
publikasi_dosen/EFEKTIVITAS%20HEKSETIDIN%20SBG%20OBAT%
20KUMUR.pdf Diakses tanggal 12 Juni 2016.

19
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. 2009. Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam Edisi V. Jakarta: Interna Publishing

Thoothclub (2011). Dental diagnosis poor oral hygiene overview.


http://www.toothiq.com/dental-diagnoses/dental-diagnosis-poor-oral-
hygiene-overview.html/ Diakses tanggal 12 Juni 2016.

Widyanti N (2005). Pengantar ilmu kedokteran gigi pencegahan. Yogyakarta:


Medika Fakultas Kedokteran UGM.

Williams D (2011). Pathogenesis and treatment of oral candidosis. Journal of


Oral Microbiology 2011, vol 3: 5771.

20