Anda di halaman 1dari 2

TUGAS ORIENTASI PPDS-1 NEUROLOGI FKUI JUNI 2007

ESTIMASI VOLUM HEMATOMA INTRASEREBRAL,


SUBDURAL, DAN EPIDURAL DARI CT SCAN
DENGAN RUMUS ABC/2
Arthur H.P. Mawuntu

Volume hematoma intraserebral merupakan prediktor mortalitas independen untuk kasus


perdarahan intraserebral. Suatu metode estimasi volume hematoma intraserebral yang
umum dikenal adalah dengan menggunakan rumus ABC/2 atau XYZ/2 di mana A = panjang,
B = lebar, dan C = tinggi. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Kwak, et al (1983) lalu
Broderick, et al (1990), dan divalidasi lewat studi Kothari, et al (1996). Teknik ini lalu
diadaptasi untuk estimasi volume hematoma subdural dan epidural. Studi uji diagnostik oleh
Gebel, et al (1998) yang membandingkan rumus ABC/2 dengan analisis volumetrik dibantu
komputer sebagai baku emas terhadap estimasi volume perdarahan hematoma
intraparenkimal dan subdural menyimpulkan bahwa rumus ABC/2 adalah teknik yang
sederhana dan akurat dalam estimasi volume hematoma intraparenkimal dan subdural.
Meskipun demikian, studi reliabilitas terhadap metode ini yang dilakukan oleh Bhattathiri, et
al menunjukkan reliabilitas yang rendah bila ditemukan hidrosefalus.

International Surgical Trial on Intracerebral Hemorrhage (STICH) merekomendasikan


guidelines dalam analisis CT scan penderita perdarahan intraserebral yang mencantumkan
pemakaian rumus ABC/2. Guidelines ini bisa diadaptasi untuk estimasi volume perdarahan
pada kasus hematoma subdural dan epidural.

Guidelines analisis CT scan pada penderita perdarahan intraserebral.


A. Semua dimensi harus ditampilkan dalam senti meter.
B. Jika memungkinkan, terdapat skala pada CT scan untuk mengkonversi pengukuran
pada CT scan ke pengukuran sebenarnya.
C. Panjang: 1 . Slide di mana hematoma terlihat besar dipilih untuk pengukuran; 2. Diukur
dimensi terpanjang; 3. Bila ada bercak yang masih tersambung pada hematoma,
dianggap bagian hematoma, sedangkan bila terpisah tidak dimasukkan dalam
perhitungan.
D. Lebar: 1.Diukur pada slide yang sama dengan panjang; 2. Merupakan dimensi
terpanjang yang tegak lurus dengan panjang.
E. Dalam: 1. Dihitung pada tepi hematoma yang terdekat dengan permukaan dalam
tulang tengkorak dan tidak harus sama dengan slide yang digunakan untuk
pengukuran panjang dan lebar; 2. Jarak terpendek antara permukaan dalam tulang
tengkorak dan titik terdekat dari hematoma dianggap sebagai dalam.
F. Pergeseran garis tengah: Titik terjauh pada septum intraventrikularis anterior; falks
diukur sebagai bentuk tegak lurus garis yang menghubungkan bagian yang paling
anterior maupun posterior yang terlihat.
G. Tinggi: 1. Titik bawah adalah slide di mana terlihat gambaran hematoma pertama kali,
2. Titik ke dua adalah slide setelah hematoma terakhir terlihat; 3. Titik ke dua dapat
digunakan slide bila masih terlihat sedikit bercak; 4. Tinggi adalah jarak antara kedua
titik tersebut.
H. Volume: Menggunakan rumus panjang x lebar x tinggi / 2, digunakan untuk
mengukur volume dalam milimeter.
I. Hidrosefalus: 1. Gambaran subyektif dilatasi abnormal ventrikular dicatat sebagai
hidrosefalus; 2. Faktor yang berkontribusi adanya gambaran tersebut adalah: adanya
darah di ventrikel, pembesaran ventrikel tanpa atrofi kortikal.
J. Lokasi: Lokasi dapat di lobus frontalis, temporalis, parietalis, oksipitalis, ganglia basalis
atau bagiannya, serta kapsula interna.