Anda di halaman 1dari 19

ORGANISASI KESEHATAN

disusun oleh :
TIO DORA ULTARIA NIM 25010112120028

RENI SETYARINI NIM 25010112120030

FIRSA OLIVIA SUSAN NIM 25010112120039

SARMAULINA SITOMPUL NIM 25010112120040

CLARA SYLVIA P NIM 25010112120043

WINDA ASRIYANI NIM 25010112120058

YOHANA NOVITASARI S NIM 25010112120068

AUFIR AMALIA NIM 25010112120079

FITA RIZQI RIYANSARI NIM 25010112120087

HELENA NAPITUPULU NIM 25010112120089

MEI TIKA ISDARINI NIM 25010112120091

DIAN FEBRINA H. NIM 25010112120095

NURMA KATRINNADA P NIM 25010112140115

ANANDA SURYO A.P NIM 25010112130117

HARTINI NIM 25010114140079

PEMINATAN ADMINISTRASI DAN KEBIJAKAN KESEHATAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYRAKAT

UNIVERSITAS DIPONEGORO

2015
ORGANISASI KESEHATAN

A. Pengertian Organisasi
Organisasi berasal dari kata organon dalam bahasa Yunani yang berarti alat.
Pengertian organisasi telah banyak disampaikan para ahli, tetapi pada dasarnya tidak
ada perbedaan yang prinsip, dan sebagai bahan perbandingan akan disampaikan
beberapa pendapat sebagai berikut :
a. Chester I. Barnard (1938) dalam bukunya The Executive Functions
mengemukakan bahwa : Organisasi adalah system kerjasama antara dua orang
atau lebih (I define organization as a system of cooperatives of two more
persons)
b. James D. Mooney mengatakan bahwa : Organization is the form of every
human association for the attainment of common purpose (Organisasi adalah
setiap bentuk kerjasama untuk mencapai tujuan bersama)
c. Menurut Dimock, organisasi adalah : Organization is the systematic bringing
together of interdependent part to form a unified whole through which authority,
coordination and control may be exercised to achive a given purpose (organisasi
adalah perpaduan secara sistematis daripada bagian-bagian yang saling
ketergantungan/berkaitan untuk membentuk suatu kesatuan yang bulat melalui
kewenangan, koordinasi dan pengawasan dalam usaha mencapai tujuan yang
telah ditentukan).

Jadi, dapat disimpulkan bahwa setiap organisasi harus memiliki tiga unsur dasar,
yaitu :sekumpulan orang, kerjasama, dan ada tujuan yang ingin dicapai. Suatu
organisasi yang berhasil dapat diukur dengan melihat pada sejauhmana organisasi
tersebut dapat mencapai tujuan yang ditetapkan.

B. Ciri-ciri Organisasi
Seperti telah diuraikan di atas bahwa organisasi memiliki tiga unsur dasar, dan
secara lebih rinci organisasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Adanya suatu kelompok orang yang dapat dikenal dan saling mengenal,
2. Adanya kegiatan yang berbeda-beda, tetapi satu sama lain saling berkaitan
(interdependent part) yang merupakan kesatuan kegiatan,
3. Tiap-tiap orang memberikan sumbangan atau kontribusinya berupa; pemikiran,
tenaga, dan lain-lain,
4. Adanya kewenangan, koordinasi dan pengawasan,
5. Adanya tujuan yang ingin dicapai

C. Prinsip-prinsip Organisasi
Prinsip-prinsip organisasi banyak dikemukan oleh para ahli, salah satunya A.M.
Williams yang mengemukakan pendapatnya cukup lengkap dalam bukunya
Organization of Canadian Government Administration (1965), bahwa prinsip-
prinsip organisasi meliputi :
1) Prinsip bahwa Organisasi Harus Mempunyai Tujuan yang Jelas
Organisasi dibentuk atas dasar adanya tujuan yang ingin dicapai, dengan
demikian tidak mungkin suatu organisasi tanpa adanya tujuan. Misalnya,
organisasi pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas sebagai suatu
organisasi, mempunyai tujuan yang ingin dicapai antara lain, memberikan
pelayanan kesehatan yang berkualitas dan lain lain.
2) Prinsip Skala Hirarkhi
Dalam suatu organisasi harus ada garis kewenangan yang jelas dari
pimpinan, pembantu pimpinan sampai pelaksana, sehingga dapat mempertegas
dalam pendelegasian wewenang dan pertanggungjawaban, dan akan menunjang
efektivitas jalannya organisasi secara keseluruhan
3) Prinsip Kesatuan Perintah,
Dalam hal ini, seseorang hanya menerima perintah atau bertanggung jawab
kepada seorang atasan saja.
4) Prinsip Pendelegasian Wewenang,
Seorang pemimpin mempunyai kemampuan terbatas dalam menjalankan
pekerjaannya, sehingga perlu dilakukan pendelegasian wewenang kepada
bawahannya. Pejabat yang diberi wewenang harus dapat menjamin tercapainya
hasil yang diharapkan. Dalam pendelegasian, wewenang yang dilimpahkan
meliputi kewenangan dalam pengambilan keputusan, melakukan hubungan
dengan orang lain, dan mengadakan tindakan tanpa minta persetujuan lebih
dahulu kepada atasannya lagi.
5) Prinsip Pertanggungjawaban
Dalam menjalankan tugasnya setiap pegawai harus bertanggung jawab
sepenuhnya kepada atasan.
6) Prinsip Pembagian Pekerjaan,
Suatu organisasi, untuk mencapai tujuannya, melakukan berbagai aktivitas
atau kegiatan. Agar kegiatan tersebut dapat berjalan optimal maka dilakukan
pembagian tugas/pekerjaan yang didasarkan kepada kemampuan dan keahlian
dari masing-masing pegawai. Adanya kejelasan dalam pembagian tugas, akan
memperjelas dalam pendelegasian wewenang, pertanggungjawaban, serta
menunjang efektivitas jalannya organisasi.
7) Prinsip Rentang Pengendalian,
Artinya bahwa jumlah bawahan atau staf yang harus dikendalikan oleh
seorang atasan perlu dibatasi secara rasional. Rentang kendali ini sesuai dengan
bentuk dan tipe organisasi, semakin besar suatu organisasi dengan jumlah
pegawai yang cukup banyak, semakin kompleks rentang pengendaliannya
8) Prinsip Fungsional,
Bahwa seorang pegawai dalam suatu organisasi secara fungsional harus jelas
tugas dan wewenangnya, kegiatannya, hubungan kerja, serta tanggung jawab
dari pekerjaannya.
9) Prinsip Pemisahan,
Bahwa beban tugas pekerjaan seseorang tidak dapat dibebankan tanggung
jawabnya kepada orang lain
10) Prinsip Keseimbangan,
Keseimbangan antara struktur organisasi yang efektif dengan tujuan
organisasi. Dalam hal ini, penyusunan struktur organisasi harus sesuai dengan
tujuan dari organisasi tersebut. Tujuan organisasi tersebut akan diwujudkan
melalui aktivitas/ kegiatan yang akan dilakukan. Organisasi yang aktivitasnya
sederhana (tidak kompleks) contoh koperasi di suatu desa terpencil, struktur
organisasinya akan berbeda dengan organisasi koperasi yang ada di kota besar
seperti di Jakarta, Bandung, atau Surabaya
11) Prinsip Fleksibilitas,
Organisasi harus senantiasa melakukan pertumbuhan dan perkembangan
sesuai dengan dinamika organisasi sendiri (internal factor) dan juga karena
adanya pengaruh di luar organisasi (external factor), sehingga organisasi mampu
menjalankan fungsi dalam mencapai tujuannya
12) Prinsip Kepemimpinan.
Dalam organisasi apapun bentuknya diperlukan adanya kepemimpinan, atau
dengan kata lain organisasi mampu menjalankan aktivitasnya karena adanya
proses kepemimpinan yang digerakan oleh pemimpin organisasi tersebut.

D. Jenis-Jenis Organisasi
Pengelompokan jenis organisasi dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria
sebagai berikut :
1. Berdasarkan jumlah orang yang memegang pucuk pimpinan.
(1) bentuk tunggal, yaitu pucuk pimpinan berada ditangan satu orang, semua
kekuasaan dan tugas pekerjaan bersumber kepada satu orang. (2) bentuk komisi,
pimpinan organisasi merupakan suatu dewan yang terdiri dari beberapa orang,
semua kekuasaan dan tanggung jawab dipikul oleh dewan sebagai suatu
kesatuan.
2. Berdasarkan lalu lintas kekuasaan.
Bentuk organisasi ini meliputi; (1) organisasi lini atau bentuk lurus,
kekuasaan mengalir dari pucuk pimpinan organisasi langsung lurus kepada para
pejabat yang memimpin unit-unit dalam organisasi, (2) bentuk lini dan staff,
dalam organisasi ini pucuk pimpinan dibantu oleh staf pimpinan ahli dengan
tugas sebagai pembantu pucuk pimpinan dalam menjalankan roda organisasi, (3)
bentuk fungsional, bentuk organisasi dalam kegiatannya dibagi dalam fungsi-
fungsi yang dipimpin oleh seorang ahli dibidangnya, dengan hubungan kerja
lebih bersifat horizontal.

3. Berdasarkan sifat hubungan personal, yaitu ;


(1) organisasi formal, adalah organisasi yang diatur secara resmi, seperti :
organisasi pemerintahan, organisasi yang berbadan hukum (2) organisasi
informal, adalah organisasi yang terbentuk karena hubungan bersifat pribadi,
antara lain kesamaan minat atau hobby, dll.
4. Berdasarkan tujuan.
Organisasi ini dapat dibedakan, yaitu : (1) organisasi yang tujuannya mencari
keuntungan atau profit oriented dan (2) organisasi sosial atau non profit
oriented
5. Berdasarkan kehidupan dalam masyarakat, yaitu ;
(1) organisasi pendidikan, (2) organisasi kesehatan, (3) organisasi pertanian,
dan lain lain.
6. Berdasarkan fungsi dan tujuan yang dilayani, yaitu :
(1) Organisasi produksi, misalnya organisasi produk makanan, (2)
Organisasi berorientasi pada politik, misalnya partai politik (3) Organisasi yang
bersifat integratif, misalnya serikat pekerja (4) Organisasi pemelihara, misalnya
organisasi peduli lingkungan, dan lain lain.
7. Berdasarkan pihak yang memakai manfaat.
Organisasi ini meliputi; (1) Mutual benefit organization, yaitu organisasi
yang kemanfaatannya terutama dinikmati oleh anggotanya, seperti koperasi, (2)
Service organization, yaitu organisasi yang kemanfaatannya dinikmati oleh
pelanggan, misalnya bank, (3) Business Organization, organisasi yang bergerak
dalam dunia usaha, seperti perusahaan-perusahaan, (4) Commonwealth
organization, adalah organisasi yang kemanfaatannya terutama dinikmati oleh
masyarakat umum, seperti organisasi pelayanan kesehatan, contohnya rumah
sakit, Puskesmas, dll

E. Organisasi Kesehatan
Dari beberapa uraian tentang organisasi diatas, dapat disimpulkan bahwa
Organisasi pelayanan kesehatan merupakan suatu organisasi yang aktivitas
pokoknya melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan salah satu
tujuan yang ingin dicapai dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas.
Menurut Pohan (2007:13) mutu layanan kesehatan dapat dilihat berdasarkan
beberapa perspektif, yaitu:
1. Perspektif pasien atau masyarakat
Bahwa pasien atau masyarakat melihat layanan kesehatan yang bermutu
sebagai suatu layanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan yang
dirasakannya dan diselenggarakan dengan cara yang sopan santun, tepat waktu,
tanggap dan mampu menyembuhkan keluhannya serta mencegah
berkembangnya atau meluasnya penyakit.
2. Perspektif pemberi layanan kesehatan
Pemberi layanan kesehatan (provider) mengaitkan layanan kesehatan yang
bermutu dengan ketersediaan peralatan, prosedur kerja atau protokol, kebebasan
profesi dalam melakukan layanan kesehatan sesuai dengan teknologi kesehatan
mutahir, dan bagaimana keluaran (outcome) atau hasil layanan kesehatan itu.

Menurut Pohan (2007:28) standar layanan kesehatan merupakan suatu alat


organisasi untuk menjabarkan mutu layanan kesehatan kedalam terminologi
operasional sehingga semua orang yang terlibat dalam layanan kesehatan akan
terikat dalam suatu sistem, baik pasien, penyedia layanan kesehatan, penunjang
layanan kesehatan, ataupun manajemen organisasi layanan kesehatan, dan akan
bertanggung gugat dalam melaksanakan tugas dan perannya masing-masing.

Untuk itu, agar organisasi pelayanan kesehatan dalam hal ini rumah sakit dan
puskesmas dapat menjalankan fungsinya secara optimal, perlu melakukan
perubahan atau reformasi. rumah sakit dan puskesmas sebagai suatu organisasi
pelayanan kesehatan, apabila ingin tetap mampu menjalankan fungsinya secara
optimal perlu melakukan perubahan dalam organisasi tersebut, terutama perubahan
tata nilai yang dapat menciptakan suasana organisasi yang kondusif, memiliki visi
dan misi yang jelas sebagai pedoman dalam kegiatan ke masa depan, menetapkan
strategi yang konkrit, dan juga perubahan strukur yang mendukung tujuan dan visi
organisasi.

Menurut Dydiet Hardjito (1997:65) mengemukakan bahwa keberhasilan


organisasi dalam mencapai tujuannya dipengaruhi oleh komponen-komponen
organisasi yang meliputi: struktur, tujuan, manusia, hukum, teknologi, lingkungan,
spesialisasi, kewenangan serta pembagian tugas.

Dalam mencapai efektivitas suatu organisasi sangat dipengaruhi oleh berbagai


faktor yang berbeda-beda tergantung pada sifat dan bidang kegiatan atau usaha suatu
organisasi. Adapun pengaruh 4 faktor tersebut terhadap efektivitas organisasi
sebagai berikut:
1. Karakteristik Organisasi
Karakteristik organisasi terdiri dari struktur dan teknologi. Struktur diartikan
sebagai hubungan yang relatif tetap sifatnya, merupakan cara suatu organisasi
menyusun orang-orangnya untuk menciptakan sebuah organisasi yang meliputi
faktor-faktor seperti desentralisasi pengendalian, jumlah spesialisasi pekerjaan,
cakupan perumusan interaksi antar pribadi dan seterusnya.
Secara singkat struktur diartikan sebagai cara bagaimana orang-orang akan
dikelompokkan untuk menyelesaikan pekerjaan. Faktor lain yaitu spesialisasi
pekerjaan yang membuka peluang bagi para pekerja untuk mengembangkan diri
dalam bidang keahliannya sehingga tidak mengekang daya inovasi mereka.
2. Karakteristik Lingkungan
Karakteristik lingkungan ini mencakup dua aspek yaitu internal dan
eksternal.Lingkungan internal dikenal sebagai iklim organisasi.Yang meliputi
macam-macam atribut lingkungan yang mempunyai hubungan dengan segi-segi
dan efektivitas khususnya atribut yang diukur pada tingkat individual.
Lingkungan eksternal adalah kekuatan yang timbul dari luar batas organisasi
yang memperngaruhi keputusan serta tindakan di dalam organisasi seperti kondisi
ekonomi, pasar dan peraturan pemerintah. Hal ini mempengaruhi: derajat
kestabilan yang relatif dari lingkungan, derajat kompleksitas lingkungan dan
derajat kestabilan lingkungan.

1) Karakteristik Pekerja
Karakteristik pekerja berhubungan dengan peranan perbedaan individu para
pekerja dalam hubungan dengan efektivitas.Para individu pekerja mempunyai
pandangan yang berlainan, tujuan dan kemampuan yang berbeda-beda pula.
Variasi sifat pekerja ini yang sedang menyebabkan perilaku orang yang berbeda
satu sama lain. Perbedaan tersebut mempunyai pengaruh langsung terhadap
efektivitas organisasi.Dua hal tersebut adalah rasa keterikatan terhadap organisasi
dan prestasi kerja individu.
2) Kebijakan dan praktek manajemen
Karena manajer memainkan peranan central dalam keberhasilan suatu
organisasi melalui perencanaan, koordinasi dan memperlancar kegiatan yang
ditujuan kearah sasaran.Kebijakan yang baik adalah kebijakan tersebut secara
jelas membawa kita kearah tujuan yang diinginkan. Kebijakan harus dipahami
tidak berarti bahwa kebijakan harus ditulis

Regulasi pelayanan kesehatan menurut Ratminto (2005:25) adalah upaya publik


untuk memberikan pengaruh secara langsung atau tidak langsung terhadap perilaku dan
fungsi organisasi maupun perorangan yang menyediakan pelayanan
kesehatan.Diterapkan otonomi daerah bukan berarti organisasi pelayanan kesehatan di
daerah dapat melakukan kegiatan pelayanan secara bebas tanpa adanya kendali.Peran
pemerintah pusat dan masyarakat diperlukan sebagai pengendali melalui kegiatan
regulasi.Peran pemerintah pusat tersebut tentunya juga dapat diwujudkan melalui
lembaga masyarakat yang dipercaya dan mendapatkan otoritas untuk melakukan
kegiatan regulasi.

Berikut ini perangkat organisasi kesehatan di Indonesia :

1. Organisasi Kesehatan di Tingkat Pusat


Organisasi tingkat pusat adalah Departemen Kesehatan RI. Organisasi tingkat
pusat (Depkes) adalah satu kesatuan yang terdiri dari unsur Sekretaris Jendral,
Inspektorat Jendral, Direktorat Jendral, Badan Litbang, Pusdiklat, termasuk
unit Pelaksana Teknik, Unit Organik (rumah sakit) dan Proyek Pembangunan
Sektor Kesehatan dengan perincian sebagai berikut :
1. Sekretaris Jendral danProyek Pembangunan dalam lingkungannya
2. Inspektorat Jendral dan Proyek Pembangunan dalam lingkungannya
3. Direktorat Jendral Pelayanan Kesehatan termasuk Rumah Sakit Umum,
Rumah Sakit Jiwa, Rumah Sakit Mata, Rumah Sakit Paru-paru, Rumah
Sakit Ketergantungan Obat, Rumah Sakit Orthopedi dan Prothese, Rumah
Sakit Kusta Balai Laboratorium Kesehatan, Balai Kesehatan Lingkungan
dan Proyek Pembangunan Lingkungan.
4. Direktorat Jendral pembinaan Kesehatan Masyarakat termasuk Balai
Pengobatan penyakit Paru-paru dan Proyek Pembangunan dalam
lingkungannya.
5. Direktorat Jendral pencegahan dan pemberantasan Penyakit Menular
termasuk kantor kesehatan pelabuhan, Rumah Sakit Karantina, dan Proyek
pembangunan dalam lingkungannya.
6. DirektoratJendralPengawasanObatdanMakanantermasukPusatPemeriksaan
ObatdanMakanan, BalaiPemeriksaanObatdanMakanan, sertaproyek
Pembangunan dalamlingkungannya
7. Badan penelitian dan pengembangan Kesehatan termasuk Balai Penelitian
Tanaman Obat dan Proyek pembangunan dalam lingkungannya.
8. Pusat Pendidikan dan Latihan termasuk sekolah, akademi, balai latihan
kesehatan masyarakat dan unit pelaksana teknis lainnya serta Proyek
Pembangunan dalam lingkungannya.

2. Organisasi Kesehatan di Provinsi


Di wilayah Provinsi Daerah Tingkat I terdapat Organisasi Kesehatan
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
1) Organisasi Kesehatan Pemerintah Pusat
Organisasi Kesehatan Pemerintah Pusat yang ada di Provinsi/ Dati I adalah
Unit pelaksanaTeknis (UPT) Depkes (pusat) di provinsi. Menurut Sistem
Kesehatan Nasional (SKN) Kantor wilayah Departemen Kesehatan
Provinsi tugas utamanya adalah membina dan mengatur pelaksanaan asa
dekonsentrasi. Untuk melaksanakan tugas tersebut diperlukan suatu
organisasi yang berfungsi :
- membina intervensi perorangan yang berbeda-beda sesaui dengan
kebutuhannya
- membina intervensi kepada kelompok resiko tinggi yang berbeda-beda
sesuai dengan kebutuhannya
- membina intervensi kepada lingkungan sosial budaya, fisik, dan
biologik. Dalam fungsi ini termasuk pembinaan kegiatan lintas sektoral
- membina dan mengatur masalah obat, makanan, dan alat kesehatan
- menyusun rencana program, rencana pelaksanaan, dan mengadakan
evaluasi pelaksanaan
- mengatur fungsi upaya penunjang yang dapat ditampung dalam tata
usaha dengan pemusatan kepada kegiatan-kegiatan pengelolaan
ketenagaan, administrasi umum, pendidikan dan latihan, serta perjanjian
- melaksanakan sistem rujukan. Untuk keperluan ini kantor wilayah
dibantu Unit Pelaksanaan Teknik (UPT) Pusat.
Bertugas melaksanakan tugas pokok dan fungsi departeman
kesehatan pada tingkat provinsi dalam rangka pembinaan usaha kesehatan
yang telah diserahkan pada daerah otonom, swasta, perseorangan, atau
badan hukum lain di wilayah provinsi daerah tingkat I.
2) Organisasi Kesehatan Pemerintah Daerah
Daerah Tingkat I ( yang juga merupakan wilayah provinsi) mempunyai
organisasi kesehatan:
a) Dinas Kesehatan Daerah Tingkat I,
b) Unit Pelaksana Tingkat Daerah (UPTD) Dinkes,
c) Unit Pelaksana Daerah (UPD) Pemda Tk I.
Menurut Sistem Kesehatan Nasional (SKN), Dinas Kesehatan Daerah
Tingkat I tugas utamanya adalah membina pelaksanaan asas desentralisasi
dan menunjang pelayanan tingkat kabupaten/kotamadya.
Untuk melaksanakan tugas tersebut diperlukan suatu organisasi yang
berfungsi:
a) Membina pelaksanaan asas desentralisasi yang meliputi baik
intervensi-intervensi terhadap perorangan, kelompok resiko tinggi,
dan masalah lingkungan;
b) Melaksanakan asas pembantuan yang meliputi intervensi terhadap
kelompok resiko tinggi dan masalah lingkungan. Di dalamnya
termasuk pelaksanaan pemberian bantuan kepada daerah untuk
penanggulangan wabah;
c) Melaksanakan sistem rujukan. Dinas Kesehatan Dati I dibantu oleh
UPT Dati I dibantu oleh UPT Dati I, seperti rumah sakit provinsi, unit
pendidikan dan latihan, dan sebagainya;
d) Menampung fungsi penunjang dalam bentuk tata usaha yang perlu dan
dipusatkan kepada beberapa segi yaitu untuk menunjang pembiayaan,
logistic, pengadaan sarana fisik, pengelolaan ketenagaan, pengelolaan
informasi, dan perencanaan, serta administrasi umum.
Dinas Kesehatan Daerah Tingkat I adalah unsure pelaksana Pemerintah
Daerah Tingkat I yang berada dan bertanggung jawab langsung kepada
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Bertugas melaksanakan sebagian
urusan-urusan rumah tangga daerah di bidang kesehatan.
3) Rumah Sakit Kelas A maupun Kelas B
Rumah Sakit kelas A maupun kelas B di tingkat I dapat dimiliki oleh
Depkes RI dan Pemda Tingkat 1. Rumah Sakit yang disetarakan dengan
Rumah Sakit kelas A dan kelas B dapat diusahakan Departemen non-
Depkes, ABRI, dan organisasi kesehatan swasta.
4) Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Departemen Kesehatan dan Kanwil Depkes
Provinsi antara lain: Balai Latihan Kesehatan (Bapelkes), Balai
Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM), Balai teknik Kesehatan
Lingkungan (BTKL), akademi, sekolah-sekolah kesehatan, kantor
kesehatan pelabuhan, Rumah Sakit Umum Pusat, Rumah Sakit Jiwa, dan
lain-lain.
Dinas Kesehatan Daerah Tingkat I dapat memiliki UPT. Dinas Kesehatan
Tingkat I seperti: Rumah Sakit khusus paru, kusta, akademi kesehatan,
sekolah kseehatan, dan sebagainya.
5) Organisasi Kesehatan Keluarga
Organisasi kesehatan swasta di tingkat I seperti rumah sakit, laboratorium
kesehatan, akdemi kesehatan, sekolah kesehatan, dan sebagainya.

3. Organisasi Kesehatan Tingkat Kabupaten/ Kota


1) Dinas Kesehatan Daerah Tingkat I
Adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah Tingkat II yang bertanggung
jawab dab dibawah Bupati/Walikota Kepala Daerah Tingkat II. Bertugas
melaksanakan sebagian urusan rumah tangga daerah di bidang kesehatan
2) Rumah Sakit Umum Daerah Kelas C
Adalah UPT Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II yang bertugas
melaksanakan pelayanan kesehatan dan penyembuhan penderita serta
pemulihan kesehatan, keadaan cacat badan, dan jiwa.
3) Unit Pelaksana Teknis
Adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II
yang dibentuk apabila dipandang perlu selain RS dan puskesmas, antara
lain laboratorium kesehatan daerah, apotek, akademi kesehatan, sekolah
kesehatan, dan sebagainya.
4) Organisasi Kesehatan Swasta
Setiap rumah sakit swasta, Rumah Sakit Bersalin (RSB), dan sebagainya.

4. Organisasi Kesehatan Tingkat Kecamatan


Organisasi kesehatan di Kecamatan adalah puskesmas yang merupakan Unit
Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II, di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II.
Puskesmas mempunyai tugas pelayanan upaya kesehatan yang urusannya telah
diserahkan kepada otonom dan tugas pembantuan.
1) Puskesmas
a. Puskesmas adalah satu kesatuan organisasi kesehatan fungsional yang
merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat dan membina
peran serta masyarakat disamping memberikan pelayanan secara
menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya dalam
bentuk kegiatan pokok.
b. Kegiatan pokok Puskesmas.
Sesuai dengan kemampuan tenaga dan fasilitas yang berbeda-beda,
maka kegiatan pokok yang dilaksanakan oleh puskesmas akan berbeda
pula. Namun demikian, kegiatan pokok puskesmas yang seharusnya
dilaksanakan adalah delapan belas usaha pokok.
c. Fungsi Puskesmas
1) Sebagai pusat pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya.
2) Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka
meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat.
3) Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu
kepada masyarakat wilayah kerjanya.
2) Puskesmas pembantu adalah unit pelayanan kesehatan sederhana yang
berfungsi menunjang dan membantu melaksanakan kegiatan-kegiatan yang
dilakukan puskesmas dalam ruang lingkup wilayah lebih kecil.
3) Puskesmas keliling adalah unit pelayanan kesehatan keliling yang
dilengkapi dengan kendaraan bermotor roda empat atau perahu bermotor
dan peralatan komunikasi, serta sejumlah tenaga yang berasal dari
puskesmas.
4) Unit Pelaksana Teknis Puskesmas
Dibentuk apabila perlu, bertugas melaksanakan salah satu upaya kesehatan
secara terpisah. di antaranya adalah puskesmas pembantu atau bidan di
desa.

5. Organisasi Kesehatan Tingkat Desa


Kegiatan upaya kesehatan dalam ruang lingkup Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa (PKMD) diselenggarakan oleh kader atau tenaga yang dipilih
dan dibiayai oleh masyarakat, serta diberi latihan-latihan yang memadai agar
mampu melakukn hal-hal yang sederhana, tetapi bermanfaat sesuai dengan
prioritas dan kondisi masyarakat.
Beberapa organisasi kesehatan yang ada di desa adalah sebagi beikut:
2) Puskesmas Pembantu ( Pustu)
Puskesmas pembantu adalah unit pelaksana teknik puskesmas yang
menjalankan sebagian tugas pokok puskesmas. Puskesmas pembantu
berada dibawah dan bertanggungjawab kepada kepala puskesmas.
3) Pondok Bersalin Desa ( Polindes) dan bidan desa
Pondok bersalin desa (polindes) adalah tempat pelayanan kesehatan ibu
dan anak (KIA) termasuk pertolongan persalinan serta keluarga berencana
(KB) yang dipimpin oleh bidan desa. Pondok bersalin desa berada di
bawah dan bertanggungjawab langsung kepada kepala puskesmas.
Kegiatan yang dilakukan antara lain sebagai berikut:
a. Pemeriksaan kehamilan
b. Merujuk ibu hamil yng berisiko tinggi ke fasilitas kesehatan yang
lebih mampu.
c. Menolong persalinan normal
d. Memberikan pertolongan pertama pada gawat darurat obstetric.
e. Memberikan pelayanan kesehatan ibu menyusui termasuk nifas.
f. Menerima rujukan dari dukun bayi dan kader (posyandu, kelompok
peminat KIA, dan dasawaisma)
g. Kegiatan pelaksanaan lain yang dapat dilakukan antara lain:
- Memberikan pelayanan kesehatan bayi, anak balita, dan anak
prasekolah
- Memberikan pelayanan KB
- Memberikan pelayanan imunisasi
- Membina dan melatih dukun bayi
- Memberikan penyuluhan kesehatan ibu dan anak, peningkatan
penggunaan ASI dan KB
- Penanggulangan diare
Tugas utama bidan tersebut adalah membina peran serta masyarakat
melalui pembinaan posyandu dan pembinaan pimpinan kelompok
dasawisma. Disamping memberikan pelayanan langsung di posyandu dan
pertolongan persalinan di rumah-rumah, bidan juga menerima rujukan
masalah kesehatan anggota keluarga dasawisma untuk diberi pelayanan
seperluny atau dirujuk lebih lanjut ke puskesmas atau fasilitas kesehatan
yang lebih mampu dan terjangkau secara rasional.
4) Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)
Pos pelayanan terpadu (posyandu) adalah pos pelayanan KB-kesehatan
yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan
dukugan teknis dari petugas dalam rangka pencapaian Norma Keluarga
Kecil Bahagia dan Sejahtera (NKKBS).
Posyandu melaksanakan lima program:
1) Keluarga berencana (KB)
2) Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA)
3) Perbaikan gizi keluarga
4) Imunisasi
5) Penanggulangan penyakit diare
4) Pos Kesehatan Desa dan Pos Obat Desa (POD)
Adalah tempat pelayanan kesehatan dengan persediaan obat bebas
ederhana yang dikelola oleh kader kesehatan sebelum dirujuk ke polindes,
puskesmas, pustu, dsb di bawah pembinaan dan pengawasan puskesmas.

F. Kasus dan Pembahasaan


1. Kasus

Warga Batu Bara Keluhkan Pustu Tak Berfungsi

Senin, 04 Mei 2015 09:43 Kirim Komentar!

Batu Bara-andalas Sejumlah warga di desa-desa di Kecamatan Tanjung Tiram


Kabupaten Batu Bara, mengeluhkan fungsi Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu
(Pustu) di desa mereka. Pasalnya, hal itu dianggap tidak berfungsi sebagaimana
mestinya.

Padahal, menurut warga di sana, mereka sangat membutuhkan jasa pelayanan


kesehatan tersebut, khusus bagi ibu-ibu hamil dan Program Posyandu bagi bayi/
balita. Namun, tugas dan fungsi Pustu yang menjadi akses utama bagi warga di desa
itu seakan terputus. Sehingga jika ada warga yang sakit harus menuju Puskesmas
atau RS dengan menempuh jarak yang jauh.

Kepada andalas, Minggu (3/5), Direktur Format NGO Azmi Saini Batubara sangat
menyesalkan keadaan Pustu yang ada di desa-desa, tidak hanya Pustu di Kecamatan
Tanjung Tiram, bahkan hampir semua Pustu di desa Kabupaten Batu Bara dinilai
gagal dalam memberikan pelayanan ke warganya.

Azmi mengatakan, sering mendapatkan keluhan dari masyarakat terkait tidak


maksimalnya pelayanan Pustu tersebut."Bahkan keberadaan Pustu itu hanya sebagai
sarang orang nikah di desa,"beber Azmi dengan nada kesal.

Menurutnya, keberadaan Pustu di desa perannya sangat membantu. Namun, karena


tidak dapat difungsikan dengan baik, dan kurang proaktif para kepala desa, sehingga
keberadaan Pustu tidak beroperasi setiap hari. Bahkan setengah hari saja pun tidak
berfungsi, sehingga bagi warga membutuhkan jasa pelayanan kesehatan tidak bisa
mendapatkan hal itu.

Buat apa ada Pustu, jika tidak bisa melayani masyarakat. Untuk saat ini warga
sangat membutuhkan Pustu tersebut, diharapkan kepada Dinas Kesehatan untuk
memberikan tindakan kepada petugas Pustu ini, kata Azmi.

Sebelumnya, Saparuddin mengatakan, pelayanan Puskesmas di Kecamatan Tanjung


Tiram juga belum begitu maksimal. Sebab, dirinya pernah berobat ke Puskesmas
Tanjung Tiram dengan menggunakan kartu miskin, tidak mendapatkan perawatan
serius.

Saya sempat marah-marah di Puskesmas, masya' saya sakit tidak ada perawatan
serius, hanya diberi obat, tetapi badan saya tidak diperiksa dan didiagnosa. Kalau
begitu sama saja halnya saya beli obat di kedai biasa,"kata Saparuddin mengisahkan
pengalaman pribadinya.

Ditabmahkan, Puskesmas Tanjung Tiram sepele dengan warga miskin yang


menggunakan Kartu Miskin, bahkan boleh disebut pelayanan ke warga miskin
setengah hati dilayani di Puskesmas. Kami berobat tidak gratis, perobatan kami
sudah dibayar melalui anggaran pemerintah. Jadi kami meminta disamakan
pelayanannya dengan yang lain,"harapnya.(zn)

Sumber : http://harianandalas.com/kanal-sumatera-utara/warga-batu-bara-keluhkan-
pustu-tak-berfungsi
2. PEMBAHASAN
Puskesmas pembantu memberikan pelayanan kesehatan secara permanen di
suatu lokasi dalam wilayah kerja Puskesmas. Diselenggarakannya upaya kesehatan
strata pertama oleh puskesmas pembantu, pada dasarnya merupakan realisasi dari
pelaksanaan azas pertanggungjawaban wilayah dari Puskesmas. Puskesmas
Pembantu merupakan jaringan Pelayanan dari puskesmas. Manfaat Puskesmas
Pembantu adalah menunjang dan membantu memperluas jaringan Puskesmas
dengan melaksanakan kegiatan yang dilakukan puskesmas dalam ruang lingkupp
wilayah yang lebih kecil serta jenis dan kompetensi pelayanan yang disesuaikan
dengan kemampuan tenaga dan sarana yang tersedia. Landasan pelaksanaan
Puskesmas Pembantu adalah :
a. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 128 Tahun 2014 Tentang
Kebijakan Dasar Puskesmas
b. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 Tahun 2014 Teentang
Puskesmas
Berdasarkan kasus diatas, diketahui bahwa puskesmas pembantu di desa-desa di
Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batu Bara belum berjalan secara optimal.
Hal ini dapat dilihat dari Puskesmas Pembantu tidak melaksanakan tugas dan
fungsinya dengan baik. Tugas dan fungsi dari Puskesmas Pembantu diatur oleh
Pemerintah daerah masing-masing. Berikut ini adalah tugas pokok dan fungsi
dari Puskesmas Pembantu :
a. Tugas Pokok
Melaksanakan dan mengerakkan pembangunan berwawasan Kesehatan
dalam wilayah kerjanya di kelompok masyarakat. ( Kampung ).
b. Kegiatan Pokok
1. Memberikan Pelayanan secara langsung kepada masyarakat di wilayah
kerjanya.
2. Mengerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat.
3. Meningkatkan Akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang
berkualitas.
4. Meningkatkan system surveilans, monitoring dan informasi kesehatan
dengan tingkat Puskesmas.
5. Menggerakan pembangunan kesehatan dan mendorong kemandirian hidup
sehat, melalui UKBM dan PHBS.
6. Memelihara, meningkatkan mutu dalam pemerataan keterjangkauan
pelayanan kesehatan.
7. Memelihara dan meningkatkan Kesehatan perorangan.
8. Memberikan Sistim Informasi Kesehatan (SIK) ke tingkat Puskesmas
9. Membantu Melakukan Kegiatan Kegiatan Yang Dilakukan Unit
Pelaksana Teknis Dinas ( UPTD ) Dalam Ruang Lingkup Wilayah Yang
Lebih Kecil.
10. Melaksanakan Pelayanan Kesehatan Dasar Kepada masyarakat Melalui
Pelayanan Kesehatan Ibu Dan Anak, keluarga Berencana, Perbaikan Gizi,
Imunisasi Dan Pengobatan Sederhana
11. Melaksanakan Penyuluhan Dan Pembinaan Peran Serta Masyarakat Dalam
Wilayah Kerja Tertentu Yang Ditetapkan Unit Pelaksana Teknis Dinas
( UPTD ).
12. Melaksanakan Tugas Tugas Lain Yang Diberikan Oleh Kepala Unit
Pelaksana Teknis Dinas ( UPTD ) Sesuai Dengan Tugas Dan Fungsinya.

Pada kasus diatas juga terdapat masalah yaitu orang miskin/orang yang
memiliki kartu miskin tidak dilayani secara serius oleh petugas Puskesmas
Pembantu. Hal ini bertentangan dengan pasal 5 ayat 2 UU Kesehatan No 36 Tahun
2009 yaitu setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh pelayanan kesehatan
yang aman, bermutu dan terjangkau. Selain itu hal ini juga bertentangan dengan
Pancasila sila ke 2 dan ke 5. Pada sila ke 2 yaitukemanusiaan yang adil dan
beradab dan pada sila ke 5 yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia,
maksudnya dalam pelayanan kesehatan yang di berikan pihak Puskesmas beserta
tenaga medisnya kepada masyarakat harus secara merata tanpa membedakan status
ekonomi, derajat, kedudukan, dan sosial dengan tujuan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat. Tenaga medis yang memberikan pelayanan kesehatan
semestinya sesuai dengan kode etik yang menaungi mereka
DAFTAR PUSTAKA

AM. Willms (1965), Organization of Canadian Government Administration, Ottawa

Djatmiko, Yayat Hayati. 2002. Perilaku Organisasi. Bandung : Alfabeta

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 128 Tahun 2014 Tentang
Kebijakan Dasar Puskesmas

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 Tahun 2014 Teentang


Puskesmas

Satrianegara, M. Fais. Saleha, Sitti. 2009. Organisasi dsn Manajemen Pelayanan


Kesehatan serta Kebidanan. Bandung : Salemba Medika

Undang-Undang Kesehatan No 36 tahun 200 tentang Kesehatan

Anda mungkin juga menyukai