Anda di halaman 1dari 36

Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Bab III
Prosedur dan Proses Penyusunan
RZWP-3-K
3.1. Prosedur Penyusunan RZWP-3-K
Prosedur penyusunan RZWP-3-K merupakan tahapan yang dilalui sebelum disusun RZWP-3-K,
meliputi tahap pra penyusunan RZWP-3-K, yaitu kegiatan identifikasi stakeholder, sosialisasi, dan
pelatihan/Bimbingan Teknis (Bimtek).

3.1.1. Pra Penyusunan RZWP-3-K


1) Identifikasi Stakeholder
Langkah awal sebelum disusun RZWP-3-K, harus dilakukan identifikasi Stakeholders
users laut dengan menggunakan pendekatan Stakeholders Analysis yang meliputi
identifikasi pemangku kepentingan, tingkat otoritas yang dimiliki, tingkat kepentingan
masing-masing pemangku kepentingan terhadap sumberdaya dan perencanaan RZWP-3-
K, pengaruh pemangku kepentingan dalam implementasi RZWP-3-K. Kegunaannya adalah
untuk melihat potensi-potensi peluang serta hambatan yang akan terjadi selama
pelaksanaan penyusunan RZWP-3-K, dan agar apabila terjadi hambatan dalam
penyusunan RZWP-3-K, dapat segera dianalisis pihak-pihak mana yang berpengaruh dan
untuk segera ditangani. Analisis ini diharapkan dapat menghasilkan pendekatan dan
strategi untuk melancarkan pelaksanaan penyusunan RZWP-3-K.

Tabel 3.1 Contoh Identifikasi Stakeholders

1. Daftar 2. Otoritas dan 3. Tingkat 4. Tingkat kepentingan 5. Saran 6. Pengaruh


Stakeholders; tingkat kepentingan dan Stakeholders dalam Keterlibatan Stakeholders
SKPD, kelompok kepentingan lokasinya proses perencanaan? dalam proses dalam
users dan masy Stakeholders penyusunan Implementasi
pesisir RZWP-3-K RZWP-3-K
Kelompok Tidak ada Sangat tinggi Sangat berpengaruh Anggota Pokja/ Kepatuhan dan
nelayan bagan otoritas, karena butuh and memiliki kelompok FGD/ Konsultasi kerjasama
tancap pengguna aktif di kualitas air yang nelayan yang Publik/ Stakeholders ini
laut, sangat baik di lokasinya, terorganisir baik. Dekat Responden / sangat penting
tergantung dgn pendukung dengan DKP setempat Gatekeeper/ Key
kualitas air. sumber ekonomi krn mendapatkan Informan Person/
nelayan bantuan modal/alat dll
tangkap,dll
Catatan : Langkah ini ditambahkan skoring analysis stakeholder, termasuk disertainya berita acara
berisikan data kuota anggota untuk verifikasi.

2) Sosialisasi
Sosialisasi perlu dilakukan sebelum dilakukan penyusunan RZWP-3-K. Sosialisasi
dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai pengelolaan
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil termasuk di dalamnya terkait kebijakan dan
program terkait penyusunan RZWP-3-K, menumbuhkan rasa kepemilikan dari para

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-1


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

pemangku kepentingan terhadap rencana yang berlangsung di daerahnya. Sosialisasi


perlu dilakukan untuk meminimalisir konflik di kemudian hari, oleh karena itu pada saat
sosialisasi harus melibatkan berbagai pihak terkait. Sosialisasi selayaknya diikuti oleh
target peserta seperti tercantum dalam tabel berikut :

Tabel 3.2 Tujuan dan Target Peserta Sosialisasi Penyusunan RZWP-3-K

Tujuan Target Peserta

Agar masyarakat mengenal, 1) Pemerintah


mengetahui, dan memahami SKPD daerah yang terdiri dari :
tentang kebijakan dan program Pemerintah Provinsi
Menjelaskan rencana 1. Bappeda Provinsi
penyusunan dokumen 2. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
perencanaan WP-3-K dan Pemerintah Kabupaten/Kota
menumbukan rasa kepemilikan 1. Bappeda
Stakeholder terhadap rencana 2. Dinas Kelautan dan perikanan
yang berlangsung di daerahnya 3. Dinas Pekerjaan Umum
Meningkatkan pemahaman dan 4. BPN
pengetahuan Stakeholder 5. Dinas Kehutanan
terhadap pengelolaan wilayah 6. Dinas Pertanian
pesisir dan pulau-pulau kecil 7. Dinas Pariwisata
8. Dinas Perhubungan
9. Dinas Perindustrian
10. Dinas Lingkungan hidup.
11. Dinas Pendapatan Daerah
12. Dinas Pertambangan/ESDM
13. BUMD
14. dll.
2) TNI AL dan POLAIRUD
3) DPRD
4) LSM
5) Perguruan Tinggi/Akademisi
6) Kelompok Masyarakat (Masyarakat Hukum Adat,
Masyarakat Lokal, dan Masyarakat Tradisional)
7) Camat, Lurah/Kepala Desa
8) Dunia Usaha di Bidang Kelautan dan Perikanan
9) Pers

Sosialisasi penyusunan RZWP-3-K harus memiliki strategi komunikasi agar tercapai tujuan
secara efektif. Penentuan target, pesan utama yang akan disampaikan (key message),
media penyampaian (channeling) dan metode penyampaian harus disusun sedemikian
rupa agar masing-masing Stakeholders memahami perlunya RZWP-3-K. Identifikasi target
sosialisasi dapat diselaraskan dengan identifikasi Stakeholders sehingga dapat
disinkronkan satu sama lain. Materi, jadwal pelaksanaan, metode, serta output sosialisasi
penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota, adalah sebagai berikut:

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-2


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tabel 3.3 Materi, Metode, Output dan Lokasi Sosialisasi


Penyusunan RZWP-3-K

Materi Metode Output Lokasi


Pengelolaan pesisir dan pulau-pulau Pengumuman Adanya kesamaan cara - Kabupaten/Kota
kecil sesuai dengan amanat UU No.27 Pemutaran film pandang dan pola pikir sasaran sosialisasi
Tahun 2007 tentang Pengelolaan berisikan yang sama para eksekutif - Kantor
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil contoh kasus dan legislatif di tingkat Pemerintah
Kebijakan RZWP-3-K Diskusi/ daerah dalam Daerah (Dinas
Harmonisasi Rencana Tata Ruang seminar/ perencanaan WP-3-K. Kelautan dan
Wilayah (RTRW) dengan Rencana pertemuan Adanya dukungan dan perikanan atau
Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau- terbuka partisipasi dari Bappeda)
Pulau Kecil (RZWP-3-K) Media cetak pemerintah daerah agar
dan media didapatkan suatu
elektronik komitmen baik dari
pemerintah daerah
maupun badan legislatif
setempat .
Adanya pemahaman
tentang RZWP-3-K sebagai
instrumen penataan
ruang perairan laut.

3) Pelatihan/Bimbingan Teknis (Bimtek)


Pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan anggota Kelompok Kerja
Perencanaan Tata Ruang pada lembaga yang mengkoordinasikan penataan ruang di
daerah/BKPRD (Tim Penyusun RZWP-3-K) dalam menyusun dokumen RZWP-3-K.

Tabel 3.4 Tujuan dan Target Peserta Bimtek Penyusunan RZWP-3-K

Tujuan Target Peserta

Agar peserta mengerti tentang kebijakan dan tahapan Peserta terdiri atas anggota Kelompok Kerja
penyusunan RZWP-3-K Perencanaan Tata Ruang BKPRD (Tim
Agar peserta mengerti kebutuhan data dasar dan Penyusun RZWP-3-K)
tematik, pengumpulan data, survey lapangan,
penyusunan peta tematik dan paket sumberdaya
Agar peserta memahami pengertian dan jenis bencana,
konsep mitigasi bencana dalam penyusunan RZWP-3-K
Agar peserta memahami pengertian zona, kebutuhan
data dan informasi, kriteria, pertimbangan dan
ketentuan, delineasi serta pengaturan zona.
Agar peserta mengerti kriteria, pertimbangan, dan
penentuan alokasi ruang RZWP-3-K
Agar peserta mengerti pengertian Alur Laut, kebutuhan
data dan informasi pertimbangan dan ketentuan,
delineasi serta pengaturan.
Agar peserta mengerti prosedur penanganan konflik
dalam RZWP-3-K
Agar peserta mengerti peran dan pelibatan pemangku
kepentingan dalam RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-3


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tabel 3.5 Materi, Metode, Output dan Lokasi Bimtek


Penyusunan RZWP-3-K

Materi Metode Output Lokasi


Proses penyusunan RZWP-3-K Simulasi Adanya - Kabupaten/Kota
Pengumpulan dan analisis data spasial serta Pemutaran peningkatan sasaran Bimtek
pemetaan film berisikan pemahaman - Kantor
RZWP-3-K berbasis Mitigasi Bencana contoh kasus dalam Pemerintah
Data Informasi, Kriteria, Pertimbangan dan Diskusi/ penyusunan Daerah (Dinas
Penentuan, Delineasi, serta Pengaturan Kawasan seminar/ RZWP-3-K Kelautan dan
Konservasi, Alur Laut, Zona perikanan budidaya, pertemuan perikanan atau
perikanan tangkap, Zona pertambangan, Zona terbuka Bappeda)
pariwisata, dll
Kriteria, pertimbangan, dan penentuan alokasi
ruang
Resolusi Konflik dalam RZWP-3-K
Pelibatan pemangku kepentingan dalam RZWP-3-K

3.2. Penyusunan RZWP-3-K


Seluruh tahapan dalam proses penyusunan RZWP-3-K merupakan langkah yang mutlak dilalui
untuk mencapai dokumen final yang merupakan hasil perencanaan bersama.

Proses penyusunan RZWP-3-K, meliputi tahapan sebagai berikut :


1. Persiapan Penyusunan RZWP-3-K
2. Penyusunan Dokumen Final RZWP-3-K
3. Penetapan Ranperda RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-4


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

TAHAPAN PROSES / OUTPUT


PROSES / OUTPUT
Persiapan

1 Persiapan Penyusunan Rencana Kerja


Penyusunan TOR/RAB

2 Pengumpulan Data Pengumpulan data sekunder

Pengumpulan data primer (apabila data sekunder yang telah


3 Survei Lapangan
dikumpulkan belum memenuhi kebutuhan)

Pengolahan dan Pengolahan dan analisis data untuk disusun dalam peta-peta
4
Analisis Data tematik

Deskripsi Potensi & Pendeskripsian terhadap peta-peta tematik yang telah disusun
5 Kegiatan Pemanfaatan
Peta-peta tematik
Penyusunan Dokumen Hasil Pendeskripsian terhadap peta-peta tematik yang disusun
6
Awal disusundisuusnyangtelahdisusun
ntifikasi potensi
Penyampaian wilayah
Draft Dokumen Awal RZWP3K

Penyusunan Dokumen Final RZWP-3-K

Menjaring masukan
7 Konsultasi Publik
Tumpang susun peta-peta tematik dalam Dokumen Awal yang
telah diperbaiki dari hasil Konsultasi Publik (Penyusunan Paket
Sumberdaya)
Penentuan Usulan Analisis kesesuaian terhadap kriteria kawasan, zona, sub zona,
8 dan/atau pemanfaatannnya
Alokasi Ruang Penentuan usulan kawasan, zona, sub zona, dan/atau
pemanfaatannnya

Hasil perbaikan dokumen awal


Analisis non spasial
Analisis konflik pemanfaatan ruang (resolusi konflik)
Penyusunan Dokumen Penentuan Alokasi Ruang
9
Antara Penyelarasan , penyerasian dan penyeimbangan dengan RTRW
Penyusunan pernyataan pemanfaatan ruang peraturan
pemanfaatan ruang
Penyusunan Indikasi Program
Draft Rancangan Perda RZWP-3-K
10 Konsultasi Publik
Penyampaian Draft Dokumen Antara RZWP-3-K
Menjaring masukan
11
Penyusunan Dokumen
Final Hasil perbaikan Dokumen Antara

Permohonan
12
Permohonan tanggapan/saran terhadap Dokumen Final
Tanggapan/Saran
Penetapan


RZWP-3-K

Pembahasan
Ranperda

13 Pembahasan Draft Ranperda oleh DPRD


Ranperda Evaluasi

14 Penetapan Ranperda menjadi Perda RZWP-3-K


Penetapan

Gambar 3.1 Tahapan dan Proses/Output Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-5


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Secara umum, tahapan dalam proses penyusunan dokumen Final RZWP-3-K dapat dilihat dalam diagram berikut:

Gambar 3.2 Proses Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota melalui Pelibatan Masyarakat

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-6


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.3 Contoh Jangka Waktu Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Jangka waktu yang dibutuhkan dalam proses penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota hingga
dokumen final selesai diupayakan seefektif mungkin, minimal selama 12 (duabelas) bulan - 24 (dua
puluh empat) bulan dan maksimal adalah 5 (lima) tahun. Ilustrasi jangka waktu minimal proses
penyusunan RZWP-3-K dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Tahap penyusunan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi aspek politik, sosial, budaya,
pertahanan, keamanan, keuangan/pembiayaan pembangunan daerah, ketersediaan data, dan faktor
lainnya di dalam wilayah kabupaten/kota bersangkutan, sehingga perkiraan waktu yang dibutuhkan
untuk setiap tahap penyusunan RZWP-3-K disesuaikan dengan situasi dan kondisi kabupaten/kota
yang bersangkutan.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-7


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

3.2.1. Persiapan Penyusunan RZWP-3-K

Kegiatan yang dilakukan pada tahap persiapan, meliputi:


1) Persiapan awal pelaksanaan, meliputi: penyusunan rencana kerja, Kerangka Acuan Kerja
(KAK)/Terms of Reference (TOR) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Rencana kerja
adalah langkah-langkah yang dibuat untuk mencapai target yang disertai dengan jadwal
waktu pelaksanaan dan personil yang melaksanakan. Target yang akan dicapai adalah
tersusunnya Peraturan Daerah (PERDA) mengenai Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil. Kerangka Acuan Kerja (KAK) / Terms of Reference (TOR) adalah
dokumen perencanaan yang memberikan gambaran umum mengenai pekerjaan yang
akan dilaksanakan. Contoh lengkap TOR dan RAB sebagaimana dalam lampiran 8 dan 9.
2) persiapan teknis pelaksanaan yang meliputi:
a. Penyiapan personil dalam tim kerja
b. Penyiapan administrasi
c. Studi literatur sebagai awal atau referensi untuk pelaksanaan kegiatan.
d. Penyusunan rencana kerja
- Jadwal pekerjaan
- Metode pengumpulan data/survei lapangan berdasarkan Peta RBI, LPI, Peta Laut
Dishidros TNI AL, dan Citra Satelit di wilayah perencanaan.
- Peta rencana lokasi sampling
3) pemberitaan kepada publik perihal akan dilakukannya penyusunan RZWP-3-K

3.2.2. Penyusunan Dokumen Final RZWP-3-K


Secara umum, tahapan dalam proses penyusunan Dokumen Final RZWP-3-K adalah sebagai
berikut (Draft Revisi permen KP 16 Tahun 2008):
1) pengumpulan data;
2) survei lapangan;
3) pengolahan dan analisis data
4) deskripsi potensi dan kegiatan pemanfaatan sumberdaya pesisir dan pulau - pulau kecil;
5) penyusunan dokumen awal;
6) konsultasi publik;
7) penentuan usulan alokasi ruang;
8) penyusunan dokumen antara;
9) konsultasi publik;
10) penyusunan dokumen final; dan
11) permintaan tanggapan dan/atau saran.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-8


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 1 :
3.2.2.1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi yang tersedia berupa
spasial dan non spasial. Data dan informasi yang dikumpulkan terdiri dari 2 (dua) dataset dasar
(terrestrial dan batrimetri) dan 10 (sepuluh) dataset tematik (geologi dan geomorfologi laut,
oseanografi, Ekosistem Pesisir dan Sumberdaya Ikan (jenis dan kelimpahan ikan), penggunaan lahan
dan status lahan, Data Pemanfaatan Wilayah Laut Eksisting, Sumberdaya Air, Infrastruktur,
Demografi, Ekonomi Wilayah dan resiko bencana dan pencemaran). Data dan informasi tersebut
diatas dapat diperoleh dari lembaga atau institusi terkait dalam bentuk laporan, buku, diagram,
peta, foto, dan media penyimpanan lainnya.

Data dasar dan tematik untuk pemetaan rencana zonasi WP-3-K kabupaten dan kota memiliki
skala, ketelitian dan kedetilan informasi yang berbeda, yaitu:
- Kabupaten : skala minimal 1:50.000
- Kota : skala minimal 1:25.000

Ketersediaan data harus memenuhi persyaratan secara kualitas maupun kuantitas, yaitu :
a) Kualitas
1. skala;
2. akurasi geometri;
3. kedetailan data;
4. kedalaman data;
5. kemutakhiran data;
6. kelengkapan atribut.
b) Kuantitas
secara kuantitas memenuhi ketentuan kelengkapan jenis data (12 dataset).

Apabila ketersediaan data belum memenuhi persyaratan kualitas dan kuantitas di atas maka
perlu dilakukan survei lapangan.

Dalam penyusunan rencana zonasi WP-3-K, dibutuhkan data dasar dan tematik dengan skala,
ketelitian data dan kedetilan informasi yang berbeda. Jenis data yang digunakan dalam penyusunan
rencana zonasi dibedakan untuk kabupaten/kota, yang terdiri atas :
1) Peta Dasar dan Citra Satelit
2) Data Spasial Dasar
3) Data Spasial dan Non Spasial Tematik

Jenis, fungsi, dan manfaat data yang diperlukan dapat mengacu pada Pedoman Teknis
Penyusunan Peta RZWP-3-K. Untuk alokasi ruang yang memerlukan kegiatan reklamasi diperlukan
data tambahan berupa data geoteknik.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-9


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 2 :
3.2.2.2. Survei Lapangan

Survei lapangan dilaksanakan dalam rangka melengkapi data yang belum sesuai kebutuhan.
Adapun jenis data yang akan dikumpulkan adalah data primer. Pengumpulan data primer bertujuan
untuk:
o Melakukan verifikasi terhadap data sekunder yang sudah terkumpul sebelumnya
o Melakukan pengumpulan data primer yang belum tersedia.

Data primer yang dikumpulkan, antara lain :


1. Data Terestrial
a. tanah
b. topografi
c. kemiringan lereng
2. Data Bathimetri
3. Data Geologi dan Geomorfologi Laut (substrat dasar laut)
4. Data Oseanografi (arus, pasang surut, gelombang, kualitas air, biologi perairan)
5. Data Ekosistem Pesisir dan Sumberdaya Ikan
a. Data ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove, lamun)
b. Data jenis dan kelimpahan ikan
6. Data Penggunaan Lahan dan Status Lahan (kepemilikan lahan)
7. Data Pemanfaatan Wilayah Laut Eksisting (misalnya : perikanan budidaya, perikanan
tangkap, pariwisata, pertambangan, pelabuhan, alur pelayaran, alur biota, kawasan
konservasi)
8. Data Sumberdaya Air
9. Data Infrastruktur
10. Data Demografi dan Sosial
a. Jumlah penduduk
b. Jumlah tenaga kerja
c. Kepadatan penduduk
d. Proyeksi pertumbuhan penduduk
e. Mata pencaharian penduduk
f. Jumlah nelayan dan dan pembudidaya ikan
g. wilayah masyarakat hukum adat
h. wilayah penangkapan ikan secara tradisional
i. kondisi dan karakteristik masyarakat setempat termasuk tempat suci dan
kegiatan peribadatannya
j. aktifitas/ritual keagamaan dan situs cagar budaya.
11. Data Ekonomi Wilayah
a. PDRB
b. Pendapatan per kapita

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-10


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

c. Angkatan kerja dan tingkat pengangguran


d. Laju pertumbuhan ekonomi sektoral dan kabupaten
e. Komoditi unggulan
f. Kegiatan perekonomian perikanan dan kelautan
g. Produksi perikanan
12. Data Resiko Bencana dan Pencemaran
a. Jenis, lokasi, batas riwayat kebencanaan, tingkat kerusakan dan kerugian
bencana
b. Sumber dan lokasi pencemaran

Teknik untuk melakukan survei di lapangan yang antara lain meliputi:

Observasi
Pengambilan sampel
Pengukuran
Wawancara
Penyebaran kuesioner
Focus Group Discussion (FGD)

FGD bertujuan untuk menjaring aspirasi dan masukan dari masyarakat dan para
pemangku kepentingan lain, terkait dengan permasalahan pemanfaatan sumberdaya
pesisir dan pulau-pulau kecil. FGD ini melibatkan instansi pemerintah terkait, unsur
perwakilan masyarakat, tokoh-tokoh masyarakat (tokoh adat), kelompok-kelompok
masyarakat yang bergerak di wilayah pesisir dan laut dan LSM. Metode survei tiap data
akan dibahas lebih lanjut pada Pedoman Teknis Penyusunan Peta RZWP-3-K.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-11


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 3 :
3.2.2.3. Pengolahan dan Analisis Data

Penyusunan peta rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di tingkat
kabupaten/kota membutuhkan data dasar dan tematik pendukung dalam proses
penyusunannya. Data/peta dasar yang dibutuhkan dalam penyusunan peta rencana zonasi
tematik yang disusun dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) dataset dasar, terdiri dari data
terestrial dan bathimetri. Data/peta dasar tersebut secara umum telah disediakan oleh instansi
terkait, namun apabila tidak tersedia maka perlu dilakukan pemetaan dan analisis sesuai
dengan kebutuhan perencanaan yang dilakukan.

Data yang telah dikumpulkan diolah dan dianalisis sehingga menghasilkan peta-peta tematik.
Pengolahan data dilakukan untuk memperoleh data yang siap digunakan untuk analisis.
Pengolahan data meliputi:

1. Konversi data non spasial ke format spasial


2. Standarisasi format dan kelengkapan data
3. Perbaikan data

Analisis data dilakukan untuk memperoleh informasi sesuai dengan tema yang
dibutuhkan. Aktivitas yang dilakukan adalah:

1. Interpolasi spasial/pemodelan ruang untuk menghasilkan keseragaman data melalui


pendekatan nilai yang sama.
2. Pemodelan matematis
3. Simbolisasi dan penyajian hasil analisis menjadi peta-peta tematik

Data tematik yang dibutuhkan dalam penyusunan peta rencana zonasi terdiri dari 10 (sepuluh)
dataset peta, meliputi geologi dan geomorfologi; oseanografi; penggunaan lahan, status lahan
dan rencana tata ruang wilayah; pemanfaatan wilayah laut; sumberdaya air; ekosistem wilayah
pesisir dan sumberdaya ikan; infrastruktur; demografi dan sosial; ekonomi wilayah; dan
kerawanan dan risiko bencana. Fungsi data/peta tematik tersebut adalah sebagai dasar
penyusunan peta paket sumberdaya dan kesesuaian lahan/perairan.

Pengolahan dan analisis peta tematik dilakukan sesuai dengan hirarki perencanaan, baik
provinsi, kabupaten maupun kota. Beberapa komponen yang harus diperhatikan antara lain
input data, proses pengolahan data dan output peta tematik yang dihasilkan. Input data untuk
penyusunan peta tematik provinsi, kabupaten dan kota berbeda, demikian pula proses
pengolahan yang dilakukan dan kerincian informasi tematik pada output peta.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-12


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 4 :
3.2.2.4. Deskripsi Potensi dan Kegiatan Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil

Setelah dilakukan pengolahan dan analisis data serta disajikan dalam bentuk peta tematik
selanjutnya dilakukan pendeskripsian terhadap peta-peta tematik yang telah disusun.

1) Deskripsi potensi sumberdaya Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil

Deskripsi potensi sumberdaya dilakukan untuk mengetahui potensi sumberdaya saat


ini (eksisting) berdasarkan peta tematik yang telah disusun. Potensi sumberdaya yang
dapat dideskripsikan antara lain potensi sebaran ikan, potensi ekosistem pesisir,
potensi pariwisata, potensi pertambangan, dll.

2). Deskripsi Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil

Deskripsi ini meliputi deskripsi terhadap potensi kegiatan-kegiatan pemanfaatan


sumberdaya di masa lalu dan saat ini (eksisting) yang terdiri dari rona-rona dan fasilitas
yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya alam (penangkapan ikan, budidaya
perairan, pertanian, penambangan, kehutanan, wisata, habitat cagar alam laut,
kapabilitas sumberdaya), pelabuhan, lokasi-lokasi industri, lokasi-lokasi pemukiman
dan perkotaan, serta fasilitas wisata.

Gambar 3.4 Ilustrasi Contoh Ilustrasi Pemanfaatan Sumberdaya Pesisir Eksisting di Kab. Banggai

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-13


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 5 :
3.2.2.5. Penyusunan Dokumen Awal

Penyusunan dokumen awal dilaksanakan setelah Tim Teknis melakukan pengolahan dan
analisis data untuk disusun dalam peta-peta tematik. Output dokumen awal adalah peta-peta
tematik.

Sistematika Dokumen Awal, sekurang-kurangnya memuat :


1) Pendahuluan
- Dasar Hukum Penyusunan RZWP-3-K
- Profil Wilayah
- Isu-isu Strategis Wilayah
- Peta-peta yang minimal mencakup peta orientasi wilayah
2) Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
3) Deskripsi Potensi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan Kegiatan Pemanfaatan
4) Album Peta Tematik, yang mengacu pada Pedoman Teknis Penyusunan Peta RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-14


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 6 :
3.2.2.6. Konsultasi Publik I

Selanjutnya Dokumen awal RZWP-3-K wajib dilakukan konsultasi publik untuk memverifikasi
data dan informasi, dan untuk mendapatkan masukan, tanggapan atau saran. Konsultasi publik
adalah suatu proses penggalian dan dialog masukan, tanggapan dan sanggahan antara pemerintah
daerah dengan pemerintah, dan pemangku kepentingan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
yang dilaksanakan antara lain melalui rapat, musyawarah/rembug desa, dan lokakarya. Tahap ini
merupakan pelaksanaan konsultasi publik I (pertama). Hasil konsultasi publik dituangkan ke dalam
Berita Acara (Lampiran 6), dilengkapi dengan notulensi, daftar hadir, dan dokumentasi.

Tabel 3.6 Tujuan, Output dan Target Peserta Konsultasi Publik I Penyusunan RZWP-3-K
Tujuan Output Target Peserta
Memverifikasi data Informasi potensi 1) Pemerintah
dan informasi dan permasalahan SKPD daerah yang terdiri dari :
Menjaring di wilayah Pemerintah Provinsi
perencanaan 1. Bappeda Provinsi
masukan,
2. Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi
tanggapan, koreksi verifikasi data dan
Pemerintah Kabupaten/Kota
dan usulan informasi 1. Bappeda
terhadap data dan Tanggapan berupa 2. Dinas Kelautan dan perikanan
informasi. masukan/usulan 3. Dinas Pekerjaan Umum
4. BPN
5. Dinas Kehutanan
6. Dinas Pertanian
7. Dinas Pariwisata
8. Dinas Perhubungan
9. Dinas Perindustrian
10. Dinas Lingkungan hidup.
11. Dinas Pendapatan Daerah
12. BUMD
13. BPBD
14. Administrasi Pelabuhan
15. dll.
2) TNI AL dan POLAIRUD
3) LSM
4) Perguruan Tinggi/Akademisi
5) Ormas
6) Kelompok Masyarakat (Masyarakat Hukum Adat,
Masyarakat Lokal, dan Masyarakat Tradisional)
7) Camat, Lurah/Kepala Desa
8) Dunia Usaha di Bidang Kelautan dan Perikanan

Tabel 3.7 Materi, Metode, dan Lokasi Konsultasi Publik I


Penyusunan RZWP-3-K
Materi Metode pelaksanaan Lokasi
Draft Dokumen Awal yang memuat : Fokus group Discussion Kantor Pemerintah Daerah
data dan informasi penyusunan (FGD) (Dinas Kelautan dan perikanan
rencana zonasi Rembug Desa atau Bappeda)
peta-peta tematik (dapat dilakukan dengan Kantor kecamatan/
menerapkan model Simulasi) Kelurahan

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-15


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 7 :
3.2.2.7. Penentuan Usulan Alokasi Ruang

Setelah dokumen awal diperbaiki sesuai dengan masukan, tanggapan, atau saran pada saat
konsultasi publik I, maka dilanjutkan dengan kegiatan penentuan usulan alokasi ruang. Peta-peta
tematik yang telah disepakati pada saat Konsultasi Publik I (pertama) dan tersusun dalam Dokumen
Awal, selanjutnya dianalisis melalui dua metode, yaitu : a) penyusunan Paket Sumberdaya terhadap
kriteria kawasan, zona; dan/atau b) kesesuaian lahan (perairan pesisir dan/atau daratan pulau kecil)
terhadap kawasan, zona, sub zona. Hasil analisis ini berupa usulan alokasi ruang. Untuk
mempertajam usulan alokasi ruang maka dilakukan analisis non spasial.

1). Penyusunan Paket Sumberdaya


Paket atau satuan sumberdaya merupakan informasi mengenai kondisi sumberdaya yang ada di
area tertentu di dalam satu unit perencanaan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Unit
perencanaan merupakan kawasan tertentu yang ada di suatu wilayah perencanaan (Provinsi
atau Kabupaten/kota).
Batas spasial unit perencanaan merupakan kombinasi dari kondisi topografi,
oseanografi, ekologi, pemanfaatan/penggunaan lahan/perairan saat ini (eksisting). Di dalam
setiap unit perencanaan terdapat paket-paket sumberdaya yang memiliki potensi untuk
dikembangkan sesuai dengan karakteristik biofisik dan lingkungannya. Berbagai kegiatan
pemanfaatan umum yang dapat dikembangkan diantaranya perikanan tangkap, budidaya
perairan, wisata bahari, permukiman, rekreasi, industri, pertambangan, hutan dan sebagainya.
Secara umum, peta paket sumberdaya secara spasial merupakan kombinasi dari 2 (dua) dataset
dasar (baseline dataset) dan 10 (sepuluh) dataset tematik (thematic dataset) yang diperoleh
melalui tumpangsusun (overlay) peta tematik.
Berdasarkan Peta Paket Sumberdaya hasil proses matching, kemudian dilakukan
pendeskripsian nilai-nilai sumberdaya yang ada di setiap unit pemetaan sumberdaya yang ada.
Secara teknis, proses penyusunan Paket Sumberdaya dan identifikasi nilai-nilai sumberdaya
mengacu pada Pedoman Teknis Penyusunan Peta RZWP-3-K.

Berikut adalah contoh peta paket sumberdaya hasil tumpangsusun berbagai karakteristik lahan
dan perairannya.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-16


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.5 Peta Paket Sumberdaya


Hasil Tumpangsusun Berbagai Karakteristik Lahan dan Perairan

Tabel 3.8 Nama Paket Sumberdaya dan Karakteristik Nilai-nilai Sumberdaya

Wilayah
Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah
Perencanaan:

Nama
PaketSumber Nilai-Nilai Sumberdaya Usulan Zona
daya

H memiliki kedalaman yang relatif dangkal, kondisi arus yang tenang, Perikanan
memiliki keterlindungan yang baik dengan tinggi gelombang yang budidaya
kecil, salinitas yang tidak terlalu tinggi, dan oksigen terlarut yang
tinggi, kandungan pH rata-rata air laut, dengan TSS yang rendah,
kandungan klorofil yang tidak terlalu tinggi.

Substrat dasar berupa karang mati, dimana tutupan karang sedang


dengan jumlah famili ikan yang rendah dan jumlah individu ikan yang
relatif tinggi.

I Berjarak sekitar 2 mil laut dari bibir pantai, rata-rata merupakan Perikanan
perairan laut dalam dengan kecerahan perairan yang sedang, suhu tangkap
rata-rata perairan terbuka, dengan salinitas yang tidak terlalu tinggi,
memiliki kecepatan arus yang cepat dan gelombang yang tinggi.

Memiliki kandungan pH rata-rata air laut pada umumnya, dengan TSS

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-17


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Wilayah
Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah
Perencanaan:

Nama
PaketSumber Nilai-Nilai Sumberdaya Usulan Zona
daya

yang rendah, dengan kandungan klorofil yang cukup tinggi.

J Memiliki tutupan terumbukarang yang baik. Dekat dari darat tetapi Pariwisata
terlindung dari aktivitas yang bersifat destruktif. Kedalaman perairan
yang relatif dangkal. Terletak di sekitar teluk sehingga cukup
terlindung dari arus.

Memiliki suhu dan salinitas perairan laut rata-rata dengan kandungan


oksigen terlarut yang relatif tinggi dengan TSS yang rendah dan tingkat
kecerahan yang tinggi.

Substrat dasar berupa karang hidup yang memiliki tutupan karang


yang tinggi dengan keberagaman jenis ikan karang yang berlimpah.

K Tersedia cukup infrastruktur, lahan berbatu, dekat dengan bahan industri


baku, tersedia air bersih yang cukup, didukung oleh kondisi
sumberdaya sosial ekonomi dan budaya

L merupakan daerah yang terlindung dengan kecepatan arus dan tinggi Perikanan
gelombang yang relatif rendah. Kedalaman perairan yang relatif budidaya
dangkal dan memiliki suhu dan salinitas perairan laut rata-rata dengan
kandungan oksigen terlarut yang relatif tinggi dengan TSS yang rendah
dan tingkat kecerahan yang tinggi sehingga memungkinkan cahaya
matahari tembus sampai dasar perairan. Substrat dasar berupa pasir
dan karang mati.

2). Analisis Kesesuaian Lahan (Perairan Pesisir dan/atau Daratan Pulau Kecil) Terhadap Kawasan,
Zona, Sub Zona
Analisis kesesuaian lahan dilakukan terhadap wilayah perairan pesisir dan/atau daratan pulau
kecil. Analisis kesesuaian lahan dilakukan dengan cara mendeliniasi masing-masing parameter
peta-peta tematik berdasarkan kriteria kesesuaian zona/subzona tertentu. Hasil deliniasi
masing-masing parameter peta-peta tematik tersebut diatas dilakukan overlay/tumpang susun.
Proses ini dilakukan dengan cara yang sama terhadap parameter peta-peta tematik tertentu
berdasarkan kriteria zona/subzona lainnya.
Hasil dari proses overlay tersebut diatas adalah peta-peta kesesuaian untuk masing-masing
zona/subzona dengan kategori kesesuaiannya (sesuai (S1), kurang sesuai (S2), dan tidak sesuai
(N)). Masing-masing peta-peta kesesuaian zona/subzona tersebut kemudian dioverlay sehingga
menghasilkan peta multikesesuaian untuk zona/subzona. Berdasarkan peta multikesesuaian
dilakukan penilaian kesesuaian akhir untuk zona/subzona, sehingga dihasilkan usulan alokasi
ruang dalam bentuk peta Alokasi Ruang.
Apabila dalam satu lokasi memiliki beberapa kategori kesesuaian yang sama maka perlu
dilakukan analisis non spasial.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-18


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.6 Contoh Proses Analisis Kesesuaian Lahan Untuk Zona Pariwisata

III-19 III-19
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

3). Penentuan Alokasi Ruang


Rencana alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil kabupaten/ kota merupakan
rencana distribusi peruntukan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di kabupaten
dan kota yang meliputi rencana peruntukan ruang yang ada di kawasan pemanfaatan
umum, kawasan konservasi, kawasan strategis nasional tertentu, dan alur laut. Klasifikasi
kawasan pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berdasarkan UU Nomor 27 tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan
UU Nomor 1 Tahun 2014 adalah sebagai berikut:

Tabel 3.9 Klasifikasi Kawasan dalam RZWP-3-K


Klasifikasi Kawasan
Keterangan
(Berdasarkan UU Nomor 27 tahun 2007)
Kawasan Konservasi merupakan kawasan pesisir dan Kawasan Konservasi pada UU No 27 tahun
pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang 2007 setara dengan Kawasan Lindung pada
dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan pesisir dan UU No 26 tahun 2007
pulau-pulau kecil yang berkelanjutan
Kawasan Pemanfaatan Umum merupakan kawasan Kawasan Pemanfaatan Umum pada UU No 27
yang dipergunakanuntuk kepentingan ekonomi, sosial tahun 2007 setara dengan Kawasan Budidaya
budaya seperti kegiatan perikanan, prasarana pada UU No 26 tahun 2007
perhubungan laut, industri maritim, pariwisata,
permukiman, dan pertambangan
Alur merupakan perairan yang dimanfaatkan antara lain Aturan mengenai alur pelayaran dapat
untuk alur pelayaran, pipa/kabel bawah laut, dan mengikuti Permen Perhubungan No.68 tahun
migrasi biota laut yang perlu dilindungi 2011 tentang Alur Pelayaran di Laut
Kawasan Strategis Nasional Tertentu adalah Kawasan Kawasan Strategis Nasional Tertentu
yang terkait dengan kedaulatan negara, pengendalian memperhatikan kriteria; batas-batas maritim
lingkungan hidup, dan/atau situs warisan dunia, yang kedaulatan negara; kawasan yang secara
pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan geopolitik, pertahanan dan keamanan negara;
nasional situs warisan dunia; pulau-pulau kecil terluar
yang menjadi titik pangkal dan/atau habitat
biota endemik dan langka

Klasifikasi Kawasan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil berdasarkan UU No. 27 tahun 2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dapat dilihat pada ilustrasi gambar
di bawah ini.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-20


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.7 Contoh Ilustrasi Klasifikasi Kawasan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Subandono,

2008)

Peta Rencana Alokasi Ruang WP-3-K Kabupaten atau Kota disusun berdasarkan peta paket
sumberdaya dan/atau kesesuaian terhadap kriteria. Diagram alir penyusunan peta rencana
alokasi ruang berdasarkan peta paket sumberdaya sebagai berikut:

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-21


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.8 Diagram Penyusunan Peta Alokasi Ruang Wilayah Laut/Perairan Kabupaten/Kota
Berdasarkan Peta Paket Sumberdaya

Penentuan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil harus memperhatikan hal-hal,
sebagai berikut:
1) Penentuan Kawasan Konservasi
Penentuan Kawasan konservasi harus memperhatikan keberadaan wilayah yang
berpotensi menjadi kawasan konservasi. Kawasan konservasi ditetapkan untuk wilayah
yang memiliki ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan pesisir
dan pulau-pulau kecil yang berkelanjutan. Pembagian kawasan konservasi disesuaikan
dengan jenis/kategori kawasan konservasi yang ada di Kabupaten/Kota.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-22


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

2) Penentuan Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT)


Penentuan Kawasan Strategis Nasional Tertentu memperhatikan kriteria-kriteria: batas-
batas maritim kedaulatan negara; kawasan yang secara geopolitik, pertahanan dan
keamanan negara; situs warisan dunia; pulau-pulau kecil terluar yang menjadi titik
pangkal dan/atau habitat biota endemik dan langka.

3) Penentuan Kawasan Pemanfaatan Umum


Penentuan Kawasan Pemanfaatan Umum memperhatikan kriteria: tidak termasuk ke
dalam wilayah yang ditetapkan menjadi kawasan konservasi dan Kawasan Strategis
Nasional Tertentu, dan merupakan wilayah yang sebagian besar dipergunakan untuk
aktivitas ekonomi.

4) Penentuan Alur Laut


Penentuan Alur Laut memperhatikan kriteria: ruang yang dapat dimanfaatkan untuk
alur pelayaran, pipa/kabel bawah laut, dan migrasi biota laut yang perlu dilindungi.
Aturan mengenai alur pelayaran dapat mengikuti Permen Perhubungan No.68 tahun
2011 tentang Alur Pelayaran di Laut, dimana alur pelayaran di laut terdiri atas : (1) Alur
pelayanan umum dan perlintasan; dan (2) Alur pelayaran masuk pelabuhan.
Pipa/kabel bawah laut merupakan instalasi yang dapat dibangun di perairan, dengan
persyaratan, sebagai berikut :
a. penempatan, pemendaman, dan penandaan;
b. tidak menimbulkan kerusakan terhadap bangunan atau instalasi Sarana Bantu
Navigasi-Pelayaran dan fasilitas Telekomunikasi-Pelayaran;
c. memperhatikan ruang bebas dalam pembangunan jembatan;
d. memperhatikan koridor pemasangan kabel laut dan pipa bawah laut; dan
e. berada di luar perairan wajib pandu.
Sedangkan Alur Migrasi Ikan adalah pola ruaya (migrasi) ikan yang dipengaruhi suhu,
salinitas, kecepatan dan arah arus, pasang surut, tinggi dan panjang gelombang, warna
perairan, substrat dasar, kedalaman perairan, dan tipologi kelandaian dasar laut.
Kecepatan dan arah arus akan memberikan indikasi terhadap pola pergerakan dan alur
migrasi ikan, sementara keterkaitan suhu, salinitas, kedalaman perairan, kontur dasar,
dan warna perairan memberikan informasi perairan optimum terhadap ikan-ikan target
tangkapan yang dikehendaki. Alur migrasi biota laut, dapat berupa : alur migrasi
cetacea, tuna, penyu belimbing, penyu lekang, paus dll.

Selanjutnya, penentuan arahan pemanfaatan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
dilakukan melalui penentuan zona dan sub zona atau arahan pemanfaatannya pada masing-
masing kawasan. Penentuan zona pada masing-masing kawasan dilakukan dengan
menggunakan metode kesesuaian perairan. Hasil kesesuaian perairan dan contoh peta alokasi
ruang dapat dilihat pada ilustrasi gambar di bawah ini.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-23


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Gambar 3.9 Ilustrasi Contoh Pembagian Kawasan menjadi Zona (Subandono, 2008)

Deliniasi batas kawasan, zona dan sub-zona ditampilkan pada Peta yang menggunakan grid
dengan sistem koordinat lintang (longitute) dan bujur (latitute) pada lembar peta yang
diterbitkan oleh lembaga yang berwenang.

4). Analisis Non Spasial


Setelah diperoleh Peta Alokasi Ruang selanjutnya dilakukan analisis nonspasial :
a. Analisis Kebijakan dan Kewilayahan
Analisis Kebijakan digunakan untuk melihat kedudukan wilayah perencanaan terhadap
kebijakan rencana tata ruang nasional/provinsi/Kabupaten/Kota, dan menyesuaikan
perencanaan yang dibuat dengan kebijakan pembangunan daerah, dengan tujuan agar
tidak terjadi tumpang tindih kegiatan. Disamping itu, analisis yang didasarkan pada
kebijakan pembangunan nasional, termasuk kebijakan geopolitik dan pertahanan
keamanan. Sedangkan analisis kewilayahan merupakan analisis untuk melihat
kecenderungan perkembangan kawasan di wilayah perencanaan berdasarkan potensi
fisik wilayah dan kondisi ekonomi, sosial budaya yang ada.

b. Analisis Sosial dan Budaya


Dalam upaya untuk mencapai pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan bagi
peningkatan kesejahteraan masyarakat, perlu dilakukan penilaian/analisis sosial budaya
di wilayah dan atau kawasan. Penilaian/analisis sosial (urban social indicator) misalnya
kependudukan/demografi, struktur sosial budaya, pelayanan sarana dan prasarana sosial
dan budaya, potensi sosial budaya masyarakat, atau kesiapan masyarakat terhadap suatu
pengembangan.
Tujuan analisis ini adalah mengkaji kondisi sosial budaya masyarakat yang mendukung
atau menghambat pengembangan wilayah dan atau kawasan, serta memiliki fungsi antara
lain :
1. sebagai dasar penyusunan rencana tata ruang wilayah dan atau kawasan serta
pembangunan sosial budaya masyarakat

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-24


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

2. mengidentifikasi struktur sosial budaya masyarakat


3. menilai pelayanan sarana dan prasarana sosial budaya yang mendukung
pengembangan wilayah dan atau kawasan
4. menentukan prioritas-prioritas utama dalam formulasi kebijakan pembangunan
sosial budaya masyarakat
5. memberikan gambaran situasi dan kondisi obyektif dalam proses perencanaan

c. Analisis Infrastruktur
Analisis infrastruktur di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil bertujuan untuk mengetahui
sebaran infrastruktur yang ada, sebagai data dasar dalam pengembangan struktur
wilayah dan acuan dalam analisis proyeksi kebutuhan sarana dan prasarana kelautan dan
perikanan. Kondisi infrastruktur dapat diketahui berdasarkan data sekunder yang telah
ada dan observasi langsung di lapangan. Pemetaan dilakukan dengan cara digitalisasi data
sekunder dan plotting lokasi secara langsung di lapangan, meliputi sarana dan prasarana
transportasi, air bersih, listrik dan energi, sanitasi, dan prasarana lainnya.

d. Analisis Ekonomi Wilayah


Analisis ekonomi wilayah bertujuan untuk mengetahui pola distribusi perkembangan
ekonomi wilayah melalui PDRB, pertumbuhan pusat-pusat kegiatan di wilayah kajian,
sektor basis wilayah dan/atau kawasan untuk mengetahui sektor yang memberikan
sumbangan/kontribusi relatif yang cukup besar terhadap PDRB di suatu wilayah dan/atau
kawasan sehingga sektor tersebut dikatakan sebagai sektor basis (dominan), dan
komoditas unggulan wilayah pada sektor basis yang memiliki keunggulan komparatif dan
berpotensi ekspor. Komoditas unggulan merupakan Komoditas kunci yang memiliki peran
penting baik secara langsung/tidak langsung dan bersifat multiplier effect.

e. Analisis Pengembangan Wilayah


Identifikasi ini meliputi kegiatan-kegiatan pemanfaatan sumberdaya di masa yang
akan datang yang diproyeksikan di dalam kawasan perencanaan yang berpotensi
untuk pengembangan wilayah. Beberapa pertimbangan untuk melihat potensi
pengembangan wilayah diantaranya:
Potensi sumberdaya lokal
Potensi sumberdaya lokal dapat dilihat dari sumberdaya unggulan di suatu wilayah
yang akan dibuat RZWP-3-K. Pendekatan identifikasinya menggunakan kerangka
ekonomi kewilayahan, pendekatan keunggulan komparatif (comparative advantage
approach), dan pendekatan keunggulan bersaing (competitive advantage approach).
Potensi lingkungan strategis
Potensi lingkungan strategis dapat menggunakan cara pandang yang sedang
berkembangan di lingkup global, regional dan nasional. Pendekatan identifikasinya
menggunakan upaya sintesis dari informasi-informasi terkini.

f. Analisis dampak aktivitas dari wilayah sekitar


Identifikasi ini dibutuhkan untuk mengetahui dampak aktivitas dari wilayah sekitar
terhadap wilayah perencanaan zonasi, sehingga dapat dilakukan antisipasi atau adaptasi
yang dibutuhkan. Contoh proses identifikasi ini dapat dilihat pada tabel berikut.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-25


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tabel 3.10 Identifikasi Potensi Dampak Aktivitas dari Wilayah Sekitar

No Kegiatan Lokasi Potensi Dampak

1 Pertambangan minyak dan gas Perairan Laut dan - Penurunan kualitas air
- Polusi limbah cair
bumi Pesisir
- Kerusakan ekosistem sekitar
2 Pertambangan Bahan Galian C Perairan Laut dan - Penurunan kualitas air
- Kerusakan ekosistem sekitar
(Pasir) Pesisir
- Transpor sedimen
- Perubahan garis pantai
3 Pertambangan Mineral Daratan Pesisir - Penurunan kualitas air
- Kerusakan ekosistem sekitar
- Perubahan geomorfologi laut
- Perubahan garis pantai
4 Pertambangan Batubara Daratan Pesisir - Perubahan garis pantai
- Kerusakan ekosistem sekitar
5 Industri Maritim Pesisir - Penurunan kualitas air,
- Transpor sedimen
- Perubahan sedimen
- Polusi limbah padat dan cair
- Kerusakan ekosistem
6 Permukiman Pesisir dan DAS - Penurunan kualitas air
- Polusi limbah padat dan cair
7 Pariwisata Bahari Perairan Pesisir - Penurunan kualitas air
- Kerusakan ekosistem perairan
- Perubahan alur migrasi ikan dan biota
8 Pertanian Pesisir dan DAS - Penurunan kualitas air
- Transpor sedimen
- Perubahan sedimen
- Polusi limbah cair
9 Budidaya laut Perairan pesisir - Penurunan kualitas air
- Gangguan alur transportasi laut
10 Pelabuhan Pesisir - Penurunan kualitas air
- Transpor sedimen
- Perubahan sedimen
- Polusi limbah padat dan cair

g. Analisis isu dan permasalahan perencanaan di wilayah pesisir dan pulau -pulau
kecil
Identifikasi ini meliputi antara lain:

Identifikasi daerah rawan bencana: banjir, tsunami, erosi, abrasi, sedimentasi, akresi
garis pantai, subsiden/longsoran tanah, gempa bumi
Identifikasi masalah lingkungan dan pencemaran: intrusi air laut/asin, polusi,
kerusakan ekosistem/habitat hutan mangrove, kerusakan ekosistem/habitat terumbu
karang
Identifikasi daerah konservasi/perlindungan: kawasan lindung nasional/kawasan
konservasi yang ditetapkan secara nasional (taman nasional, taman laut, cagar alam,
suaka alam laut), kawasan konservasi yang sedang diusulkan oleh daerah, dan daerah
perlindungan laut lokal

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-26


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Identifikasi aktivitas di daratan yang berpengaruh terhadap kegiatan pada kawasan


perairan
Konflik penggunaan lahan
Konflik sosial
Kesenjangan ekonomi antar wilayah pesisir dengan wilayah daratan utama.

2). Analisis Konflik Pemanfaatan Ruang (Resolusi Konflik)


A. Potensi Konflik
Konflik dalam penyusunan rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dapat
terjadi pada saat tahap penyusunan rencana alokasi ruang dan pada tahapan konsultasi
publik.
a) Pada tahap penyusunan rencana alokasi ruang, identifikasi konflik dilakukan terhadap
kegiatan-kegiatan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang bersinggungan namun
tidak sesuai (compatible). Hasil analisis paket sumberdaya yang dilanjutkan dengan
beberapa analisis lanjutan, kemudian diidentifikasi antar kegiatan/zona/sub zona
untuk memilih kegiatan/zona/sub zona yang paling sesuai dengan cara membuat
matrik kesesuaian/keterkaitan. Matrik keterkaitan antar zona menguraikan hubungan
antar zona/sub zona dalam suatu wilayah perencanan untuk melihat harmonisasi
antar zona/sub zona.

Konflik dapat terjadi pada pemanfaatan ruang secara horizontal maupun vertikal.
Secara horizontal pada level zona misalnya pemanfaatan pertambangan, industri, dan
perikanan tangkap, sedangkan secara vertikal di perairan misalkan pertambangan,
perikanan tangkap, dan perikanan budidaya.

Gambar 3.10 Contoh Matriks Keterkaitan antar Kegiatan Pemanfaatan Ruang Pesisir

Kompabilitas kegiatan selanjutnya diklasifikasikan menjadi kegiatan-kegiatan, yang


meliputi kegiatan dengan kompabilitas: tinggi, menengah, rendah. Setelah diketahui

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-27


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

kegiatan yang termasuk ke dalam kegiatan dengan jenis kompabilitas (tinggi,


menengah, rendah) kemudian kegiatan tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis
kompabilitasnya dan diidentifikasi kebutuhan ruang (spatial/temporer), kegiatan lain
yang kompatible, dan kegiatan lain yang tidak kompatible, seperti pada tabel berikut :

Tabel 3.11 Klasifikasi Kompatibilitas Kegiatan

1. Kompatibilitas Tinggi 2. Kompatibilitas Menengah 3. Kompatibilitas Rendah


Aktiv Kebutuhan Kegiatan Kegiatan yg Aktivi Kebutuhan Kegiatan Kegiatan yg Aktivi Kebutuha Kegiatan Kegiatan yg
itas Ruang lain yang tidak tas Ruang lain yang tidak tas n Ruang lain yang tidak
(Spatial/te kompatibel kompatibel (Spatial/te kompatibel kompatibel (Spatial/t kompatibel kompatibel
mporer) mporer) emporer)
1

dll

b) Pada tahap konsultasi publik, peluang terjadinya konflik besar sekali. Konflik
dimungkinkan terjadi karena tidak semua harapan dari para pemangku kepentingan
terakomodasi dalam rencana zonasi tersebut. Konflik ini dapat memberikan dampak
positif jika seluruh pihak mau menghormati pemikiran masing-masing pemangku
kepentingan dan memperoleh kesepakatan mengenai kebutuhan prioritas yang perlu
diadopsi dalam rencana zonasi. Di sisi lain, konflik dalam konsultasi publik bisa
berdampak negatif saat ada satu atau lebih pihak memaksakan keinginannya dan tidak
mau bernegosiasi. Pada tahapan ini, jika semua pihak bersikeras untuk memasukkan
keinginannya dalam rencana zonasi makan akan terjadi dead lock sehingga tidak
terjadi kesepakatan. Rencana zonasi menjadi terkatung-katung penyelesaiannya.
c) Pada tahap pembahasan pemberian tanggapan dan/atau saran, konflik kepentingan
berpeluang terjadi apabila masing-masing pemangku kepentingan ada yang merasa
kebutuhannya tidak terakomodasi.

B. Penanganan Konflik
Konflik yang terjadi memerlukan adanya manajemen konflik, yaitu suatu proses yang
diarahkan pada pengelolaan konflik agar terjadi suatu kondisi yang lebih terkendali melalui
suatu rekayasa yang dilakukan untuk mengendalikan konflik agar menjadi lebih baik.
Dengan berusaha mengendalikan konflik, diharapkan tidak sampai terjadi akumulasi dan
besaran berkembangnya konflik menjadi destruktif. Beberapa upaya yang dapat dilakukan
dalam manajemen konflik antara lain:
(1) Pencegahan Konflik, yaitu suatu usaha yang bertujuan untuk membatasi dan
menghindari kekerasan dengan mendorong perubahan perilaku yang positif bagi
fihak-fihak yang terlibat.
(2) Penyelesaian Konflik, yaitu suatu bentuk usaha untuk menangani sebab-sebab konflik
dan berusaha membangun hubungan baru dan yang bisa tahan lama diantara
kelompok-kelompok yang bermusuhan.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-28


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

(3) Transformasi Konflik, yaitu suatu upaya yang dilakukan untuk mengatasi sumber-
sumber konflik sosial dan politik yang lebih luas dan berusaha mengubah kekuatan
negatif menjadi kekuatan yang positif.

Secara garis besar ada dua cara penyelesaian konflik yaitu dengan kolaborasi membangun
konsensus dan penyelesaian melalui proses legal. Penyelesaian cara pertama dapat
dilakukan hanya dengan menyertakan pihak-pihak yang terlibat konflik maupun dengan
melibatkan pihak ketiga.
Secara umum strategi resolusi konflik seharusnya dimulai dengan pengetahuan yang
mencukupi tentang peta atau profil konflik sosial yang terjadi di suatu kawasan. Dengan
peta tersebut, segala kemungkinan dan peluang resolusi konflik diperhitungkan dengan
cermat, sehingga setiap manfaat dan kerugiannya dapat dikalkulasikan dengan baik.
Penyelesaian konflik yang terjadi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dapat diselesaikan
melalui cara Alternative Dispute Resolution (ADR). Beberapa metode resolusi konflik
dengan metode ADR adalah sebagai berikut :
1) Negosiasi langsung
Negosiasi adalah suatu proses yang melibatkan pihak-pihak yang bertikai, bertemu,
dan mencapai suatu kesepakatan yang dapat diterima secara bersama-sama.
2) Konsiliasi
Konsiliasi adalah suatu proses pihak luar sebagai mediasi untuk membawa pihak-pihak
yang berselisih bermusyawarah secara bersama. Pihak yang melakuakn konsiliasi
harus membuat agenda, melakukan pencatatan secara administrasi dan mengunjungi
pihak-pihak yang tidak sempat bertemu langsung, dan bertindak sebagai mediator
dalam pertemuan.
3) Fasilitasi
Merupakan penanganan konflik yang melibatkan fasilitator. Peran fasilitator adalah
menjadi moderator dalam pertemuan yang cakupannya lebih besar dan menjamin
setiap orang dapat berbicara dan mendengar. Fasilitasi juga diterapkan dalam
membantu individu melakukan proses pemecahan masalah (problem solving),
prioritas, dan perencanaan.
4) Mediasi
Mediasi adalah suatu proses penyelesaian konflik dengan menggunakan jasa pihak
luar untuk menjembatani proses negosiasi antaa pihak-pihak yang berselisih. Pihak-
pihak yang berselisih dipertemukan secara bersama oleh pihak luar yang
kedudukannya netral dan independen (berperan sebagai mediator). Dalam proses ini
dikaji secara mendalam dan diputuskan bagaimana konflik tersebut diselesaikan.
Peran mediator adalah membantu semua pihak agar mampu menghasilkan suatu
perjanjian tetapi tidak memiliki kekuatan hukum. Keuntungan dari mediasi adalah : (1)
mediator dapat memfasilitasi komunikasi antara pihak-pihak yang bertikai dan
membangun komunikasi dengan pihak-pihak yang teralienasi, mencegah terjadinya
deadlock yang menghambat resolusi konflik, (2) membantu pihak-pihak yang
berselisih untuk menciptakan kesepakatan bersama, (3) mempercepat proses
negosiasi dan menstimulasi pihak yang berselisih dengan mengajukan penyelesaian
konflik secara kreatif dan realistis, (4) memfasilitasi suatu kerjasama antarpihak yang
bertikai.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-29


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

5) Arbitrasi
Arbitrasi adalah proses penyelesaian konflik dengan cara pihak yang berselisih
menyerahkan proses penyelesaiannya kepada pihak yang dapat memberi legitimasi
untuk memutuskan pihak yang benar dalam perselisihan tersebut. Proses semacam ini
juga dapat berlaku dalam penyelesaian konflik melalui jalur hukum.

Penyelesaian konflik yang terbaik adalah melalui negosiasi kolaboratif antara pihak-pihak
yang berkonflik itu sendiri. Cara demikian akan memperbaiki hubungan dan interaksi
antara pihak-pihak yang berkonflik. Namun demikian seringkali pihak-pihak yang
berkonflik itu tidak mampu berinteraksi sehingga diperlukan pihak ketiga yang membantu
proses penyelesaian konflik. Idealnya pihak ketiga tersebut tidak mendominasi proses
penyelesaian konflik dan atau mempunyai kuasa untuk membuat keputusan melainkan
bertindak sebagai fasilitator komunikasi dan peace builder, yang sering disebut sebagai
mediator. Sebagai catatan, pada kenyataannya, kebanyakan konflik yang terjadi dalam
masyarakat sekitar 60 persen diselesaikan melalui mediasi.

Hasil analisis non spasial diformulasikan untuk menyempurnakan usulan peta alokasi ruang
menjadi peta RZWP-3-K.

PEMERINTAH
KABUPATEN BERAU

Gambar 3.11 Ilustrasi Contoh Peta RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-30


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

4). Penyelarasan, Penyerasian dan Penyeimbangan dengan RTRW


Rencana alokasi ruang yang dihasilkan perlu dilakukan penyelarasan, Penyerasian dan
Penyeimbangan antara RZWP-3-K dengan RTRW sesuai UU No.27 Tahun 2007 Jo. UU No. 1
Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Selain itu, juga perlu
diserasikan, diselaraskan, dan diseimbangkan dengan RZWP-3-K propinsi/kabupaten/kota yang
bersebelahan atau berhadapan.

Tujuan penyelarasan, penyerasian dan penyeimbangan antara RZWP-3-K dengan RTRW adalah
untuk mereview dan membandingkan draft dokumen antara RZWP-3-K dengan rencana lain
yang telah disahkan dan untuk merevisi draft dokumen antara RZWP-3-K tersebut, sehingga
konsisten dengan rencana-rencana dan program-program yang bersesuaian yang telah
disahkan.

Penyelarasan, penyerasian dan penyeimbangan tersebut dilakukan melalui tiga (3) cara berikut
ini:
i. Menyelaraskan/ mengadopsi pola ruang dan struktur ruang daratan pesisir RTRW ke dalam
RZWP-3-K
ii. Menyerasikan alokasi ruang perairan pesisir dan pulau-pulau kecil dalam RZWP-3-K yang
bersinggungan dengan pola ruang dalam RTRW
iii. Menyeimbangkan/memadukan rencana Pemerintah dan Pemerintah Daerah yang telah
ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan ke dalam alokasi ruang perairan
pesisir dalam RZWP-3-K.

Setelah RZWP-3-K diselaraskan, diserasikan dan diseimbangkan dengan RTRW, maka disusun
deskripsi zona/subzona yang memuat : nama, batas dan luas. Contoh deskripsi zona/subzone
dapat dilihat pada lampiran 2.

5). Penyusunan Pernyataan pemanfaatan Ruang dan Peraturan Pemanfaatan Ruang


Pernyataan pemanfaatan ruang merupakan hasil akhir dari serangkaian proses penyusunan
rencana alokasi ruang. Penyusunan pernyataan pemanfaatan ruang dilengkapi dengan
peraturan pemanfaatan ruang yang berisi ketentuan persyaratan pemanfaatan ruang dan
ketentuan pengendaliannya yang disusun untuk setiap zona peruntukan dalam RZWP-3-K
Kabupaten/Kota, terdiri dari kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta
kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin. Contoh tabel pernyataan dan
peraturan pemanfaatan ruang dapat dilihat pada lampiran 2.

Arahan pemanfaatan ruang hasil konsep dan rencana dilakukan konsultasi publik II (kedua).
Berikut adalah contoh tabel arahan pemanfaatan ruang yang dikonsultasikan ke Stakeholder.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-31


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tabel 3.12 Contoh Tabel Kesepakatan Arahan Pemanfaatan Ruang


RZWP-3-K Kabupaten/Kota :

ARAHAN PEMANFAATAN RUANG Hasil Konsultasi Publik dengan Stakeholder terkait

Zona Sub-Zona Setuju Tidak setuju


Perikanan 1. Rumput Laut
Budidaya
2. Mutiara
3. Keramba Jaring Apung
4. Keramba Lainnya
5. Bagan
6. Pertambakan
7. Pembenihan (Hatchery)
8. Perkotaan
dll
Renstra Daerah
Arahan
Pemanfaatan

6). Rekomendasi terhadap RTRW dan Rencana Pembangunan Lainnya


Hasil penyerasian, penyelarasan, dan penyeimbangan RZWP-3-K dengan RTRW, RZW-3-K dapat
digunakan sebagai pertimbangan di dalam penetapan struktur dan pola ruang yang terdapat
didalam RTRW. Rekomendasi terhadap RTRW, meliputi :
1. Alokasi ruang di WP3K untuk kegiatan-kegiatan yang memiliki keterkaitan terhadap
sumberdaya di WP3K;
2. Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT) dapat menjadi muatan kawasan strategis
RTRW;
3. Penetapan Kawasan Strategis WP3K dapat menjadi muatan kawasan strategis Kab/Kota
pada RTRW.

7). Penyusunan Indikasi Program


Indikasi program dijabarkan dalam jangka waktu perencanaan 5 (lima) tahunan hingga akhir
tahun perencanaan 20 (duapuluh) tahun. Contoh Tabel Indikasi Program dapat dilihat pada
lampiran 3.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-32


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 8 :
3.2.2.8. Penyusunan Dokumen Antara

Penyusunan dokumen antara dilaksanakan setelah melakukan tahapan penentuan usulan


alokasi ruang.
Sistematika Dokumen Antara, sekurang-kurangnya memuat :
1) Pendahuluan
- Dasar Hukum Penyusunan RZWP-3-K
- Profil Wilayah
- Isu-isu Strategis Wilayah
- Peta-peta yang minimal mencakup peta orientasi wilayah
2) Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
3) Deskripsi Potensi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan Kegiatan Pemanfaatan
4) Rencana Alokasi Ruang yang berisi Peta RZWP-3-K
5) Peraturan Pemanfaatan Ruang
6) Indikasi Program RZWP-3-K
7) Album Peta Tematik dan Peta RZWP-3-K

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-33


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 9 :
3.2.2.9. Konsultasi Publik II

Konsultasi publik pada tahap ini merupakan pelaksanaan konsultasi publik II (kedua) yang
dilakukan untuk memverifikasi draft rencana zonasi, arahan pemanfaatan dan memeriksa
konsistensi draft RZWP-3-K dengan RTRW dan aturan-aturan lainnya, sehingga draft rencana alokasi
ruang dapat disepakati oleh semua pemangku kepentingan daerah. Sasaran yang ingin dicapai
adalah perbaikan dan penyempurnaan dari draft dokumen antara dan memfasilitasi aspirasi dari
seluruh Stakeholder terkait, serta penetapan alokasi ruang ke dalam kawasan/zona/subzona dalam
dokumen final yang akan disusun.
Tabel 3.13 Tujuan, Output dan Terget Peserta Konsultasi Publik II Penyusunan RZWP-3-K
Tujuan Output Target Peserta
Memverifikasi atau Tanggapan, 1) Unsur pemerintah
memastikan kembali bahwa masukan atau Pemerintah Pusat
data dan informasi tematis keberatan terhadap Pemerintah Daerah
yang menjadi masukan publik hasil perbaikan dari 1. Bappeda
pada tahap konsultasi konsultasi publik 2. Dinas Kelautan dan perikanan
sebelumnya sebelumnya 3. Dinas Pekerjaan Umum
Menginformasikan hasil Kesepakatan publik 4. BPN
perbaikan draft rencana zonasi terhadap draf 5. Dinas Kehutanan
dari hasil kesepakatan pada rencana alokasi 6. Dinas Pertanian
konsultasi publik sebelumnya, ruang 7. Dinas Pariwisata
serta menilai 8. Dinas Perhubungan
kelayakan/kesesuaian 9. Dinas Perindustrian
pemanfaatan, analisis, usulan 10. Dinas Lingkungan hidup.
alokasi ruang, serta arahan 11. Dinas Pendapatan Daerah
pemanfaatan dan memeriksa 12. BUMD
konsistensi draft RZWP-3-K 13. dll
dengan RTRW (Penyelarasan, 2) TNI AL dan POLAIRUD
Penyerasian dan 3) DPRD
Penyeimbangan dengan) dan 4) LSM
aturan-aturan lainnya 5) Perguruan Tinggi/Akademisi
6) Ormas
7) Kelompok Masyarakat
8) Camat, Lurah/Kepala Desa
9) Pers
10) Dunia Usaha di Bidang Kelautan dan Perikanan

Tabel 3.14 Materi, Metode, dan Lokasi Konsultasi Publik II Penyusunan RZWP-3-K
Materi Metode pelaksanaan Lokasi
Draft Dokumen Antara yang Fokus Group Discussion Kantor Pemerintah
memuat : (FGD) Daerah (Dinas Kelautan
Hasil perbaikan dokumen awal Rembug Desa dan perikanan atau
Hasil Analisis lanjutan (dapat dilakukan dengan Bappeda)
Penetapan Alokasi Ruang menerapkan model kantor
Penyelarasan , penyerasian dan Simulasi) kecamatan/kelurahan
penyeimbangan dengan RTRW
Hasil dari konsultasi publik II (kedua) adalah diperolehnya kesepakatan pemanfaatan ruang
(kawasan/zona/subzona). Hasil konsultasi publik dituangkan ke dalam Berita Acara (lampiran 6),
dilengkapi dengan notulensi, daftar hadir, dan dokumentasi.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-34


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 10 :
3.2.2.10. Penyusunan Dokumen Final

Setelah Dokumen Antara diperbaiki sesuai dengan masukan, tanggapan, atau saran pada saat
konsultasi publik II, selanjutnya Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil, Peta Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Deskripsi
Zona/Subzona, Peraturan Pemanfaatan Ruang, dan Indikasi Program dibahasahukumkan menjadi
draft rancangan perda RZWP-3-K.
Dokumen Final merupakan perbaikan Dokumen Antara yang telah dikonsultasipublikkan.
Sistematika dokumen final RZWP-3-K (lampiran 4), sekurang-kurangnya terdiri atas:
1) Pendahuluan yang memuat Dasar Hukum Penyusunan RZWP3K, Profil Wilayah, Isu-isu
Strategis Wilayah, Peta-peta yang minimal mencakup peta orientasi wilayah;
2) Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Kabupaten/Kota;
3) Deskripsi Potensi Sumberdaya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan Kegiatan Pemanfaatan
4) Rencana Alokasi Ruang;
5) Peraturan Pemanfaatan Ruang;
6) Indikasi program;
7) Album Peta Tematik dan Album Peta RZWP-3-K; dan
8) Draft Rancangan Perda RZWP-3-K.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-35


Pedoman Teknis Penyusunan RZWP-3-K Kabupaten/Kota

Tahap 11 :
3.2.2. 11. Permintaan Tanggapan dan/atau Saran

Dokumen Final RZWP-3-K selanjutnya dimintakan tanggapan dan/atau saran kepada Menteri
Kelautan dan Perikanan dan Gubernur. Berdasarkan UU Nomor 27 Tahun 2007 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 pasal 14 dan Peraturan Menteri Kelautan dan
Perikanan Nomor 16 Tahun 2008 pasal 26, mekanisme pemberian tanggapan dan/atau saran, adalah
sebagai berikut :
(1) Bupati/walikota menyampaikan Dokumen Final RZWP-3-K kabupaten/kota kepada
gubernur dan Menteri untuk mendapatkan tanggapan dan/atau saran.
(2) Gubernur atau Menteri memberikan tanggapan dan/atau saran terhadap dokumen final
RZWP-3-K dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja.
(3) Gubernur atau Menteri dalam memberikan tanggapan dapat melibatkan lembaga yang
mengkoordinasikan penataan ruang nasional atau daerah.
(4) Tanggapan atau saran perbaikan oleh gubernur atau bupati/walikota dipergunakan
sebagai bahan perbaikan Dokumen Final RZWP-3-K.
(5) Dalam hal tanggapan dan/atau saran tidak dipenuhi, maka dokumen RZWP-3-K dapat
diberlakukan secara definitif.

Bupati/Walikota Gubernur & Menteri KP


1
Tim pemberian
tanggapan MKP
2 3 Tim pemberian
PENYUSUNAN DOKUMEN RZWP-3-K tanggapan
Gubernur
Tanggapan/saran
Lembaga yang mengkoordinasikan
terhadap Tim BKPRN
Dokumen Final (Vocal Point
penataan ruang di daerah/BKPRD KKP)
Tim BKPRD
4

Dokumen Final
RZWP-3-K
Kabupaten/Kota setelah
mendapatkan
Dokumen Final RZWP-3-K tanggapan dan/atau
berikut lampiran saran Gubernur &
Album Peta Menteri KP

Pembahasan
ranperda dengan
DPRD

Gambar 3.12 Mekanisme Pemberian Tanggapan dan/atau Saran

Setelah Dokumen Final RZWP-3-K diperbaiki berdasarkan tanggapan dan/atau saran oleh Menteri
dan Gubernur selanjutnya dilakukan pembahasan Ranperda di daerah sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN III-36