Anda di halaman 1dari 5

RANCANG BANGUN ALAT PENGERING IKAN TERI

KAPASITAS 12 KG/JAM

Muhamad Daud Pinem*)


*)
Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Medan

Abstrak
Proses pengeringan umumnya dilakukan dengan menjemur ikan dengan bantuan sinar matahari secara
langsung dan jika cuaca mendung akan mengakibatkan ikan menjadi busuk dan kebersihan ikan kurang
terjamin. Oleh karena itu maka penulis membuat suatu alat pengering ikan teri dengan resirkulasi udara.
Prinsip kerja dari alat pengering ikan teri ini ialah udara atmosfir dihisap oleh blower masuk ke dalam ruang
pengering dan dihembuskan ke dalam kotak pemanas (heater) dengan sumber energi panas berasal dari elemen
pemanas listrik. Temperatur udara yang melewati kotak pemanas merupakan udara panas dan selanjutnya
masuk ke ruang pengering untuk mengeringkan ikan pada rak ikan. Apabila temperatur ruang pengering
mencapai suhu yang ditetapkan, maka aliran listrik secara otomatis akan terputus dan sebaliknya apabila suhu
turun maka aliran listrik terhubung kembali ke heater. Proses pengeringan yang dilakukan ialah untuk
mengurangi persentase kadar air ikan teri dari 78% ikan teri basah menjadi 20% ikan teri kering. Kapasitas
percobaan yang dilakukan adalah 1 kg ikan teri basah, temperatur pengeringan 55oC (yang diset pada
thermostat) selama 35 menit dan berat akhir setelah ditimbang dengan neraca berat adalah 0,5 kg.

Kata-kata kunci: Pengering ikan teri, Udara panas, Konveksi paksa

1. Pendahuluan Beberapa parameter yang berpengaruh di


Ikan teri merupakan salah satu kelompok ikan antaranya adalah suhu dan kelembaban udara
pelagis yang menghuni perairan pesisir serta lingkungan, laju aliran udara pengering, besarnya
memiliki sebaran yang sangat luas. Umumnya ikan persentase kadar air bahan yang diinginkan, energi
ini hidup secara bergerombolan yang terdiri dari pengeringan, efisiensi alat pengering, serta kapasitas
ratusan sampai ribuan ekor yang berukuran kecil pengeringan (Eko, 2003). Sifat fisik ikan yang
dengan panjang sekitar 6-9 cm, tetapi ada pula yang berhubungan dengan proses pengeringan antara
mencapai 17,5 cm. lain: massa jenis ikan tergantung pada suhu,
Ikan teri biasanya diolah dalam bentuk ikan teri kandungan air dan lemaknya, massa jenis akan
asin dan ikan teri tawar. Perbedaan antara keduanya bertambah dengan pertambahan suhu dan kadar air,
yaitu pada pengolahan ikan teri tawar tidak tetapi akan menurun dengan bertambahnya lemak.
menggunakan garam, sedangkan ikan teri asin Hubungan linear antara kandungan air dengan
diolah dengan menggunakan garam dengan kandungan lemak ikan, adalah kandungan air ikan
perbandingan 6 kg garam untuk 30 kg ikan teri. menurun dengan bertambahnya kandungan lemak
Penggaraman merupakan salah satu metode ikan. Kandungan lemak mempengaruhi difusi air
pengawetan dengan prinsip penetrasi garam ke dalam daging ikan kadar air kesetimbangan
dalam daging ikan, dan dipengaruhi berbagai faktor berperan penting dalam menentukan kondisi
fisik dan kimia, seperti difusi, osmosis, dan penyimpanan dan laju pengambilan uap air dari
perpaduan dari proses kimia dan biokimia lapisan air bahan pada proses pengeringan. Kadar
tergantung dari jenis ikan (Eko, 2003). air kesetimbangan merupakan batas air terendah
Pengeringan merupakan proses penurunan kadar yang dapat dicapai pada suhu dan kelembaban
air bahan sampai mencapai kadar air tertentu tertentu.
sehingga dapat memperlambat laju kerusakan Didasari permasalahan cuaca yang tidak
produk akibat aktivitas biologi dan kimia. mendukung (produktivitas menurun), kebersihan
Pengeringan pada dasarnya merupakan proses ikan yang kurang terjamin, maka penulis membuat
pemindahan energi yang digunakan untuk suatu alat pengering ikan teri dengan sirkulasi udara
menguapkan air yang berada dalam bahan, sehingga basah yang bertujuan agar dapat membantu industri
mencapai kadar air tertentu agar kerusakan bahan menengah dan para nelayan untuk dapat
pangan dapat diperlambat. Kelembaban udara ruang meningkatkan kualitas produk yang dihasilkannya
pengering harus memenuhi syarat kelembaban serta meningkatkan produktivitas dari industri ikan
udara yang diperlukan untuk pengeringan sebesar teri. Pada gilirannya ini bermanfaat bagi pemerintah
55 - 60%. untuk mendukung pengembangan teknologi bagi
para nelayan dan pengusaha untuk pembangunan
nasional.

Jurnal Teknik SIMETRIKA Vol. 3 No. 3 Desember 2004 : 249 253 255
2. Hasil dan Pembahasan terbuat dari baja profil siku, aluminium triplek,
Alat pengering ikan ini mempunyai kapasitas 12 kaca dan lem. Kaca yang dilem ke aluminium
kg/jam dan telah diuji coba dan komponen- diberi karet agar pada saat kaca memuai tidak
komponen utama alat pengering ini adalah: mudah pecah dan pintu ini juga dilengkapi
a. Ruang pengering; Dimensi bangunan dengan engsel dan tarikan pintu yang
pengering ini mempunyai panjang 140 cm, digabungkan dengan paku rivet.
lebar 57 cm dan tinggi 130 cm, sedangkan h. Pengarah udara; Alat pengering ini
rangka bangunan tersusun dari besi siku 4x4 cm menggunakan pengarah udara sebagai haluan
dan 3x3 cm, bangunan pengering ini mempunyai udara panas agar bisa bersirkulasi dengan baik,
2 unit rak bertingkat di dalamnya, rak tersebut pengarah udara ini dibuat dari plat aluminium
terbuat dari besi siku 2x2 cm berukuran tinggi yang dibentuk sesuai keperluan
54 cm dan lebar 50 cm, 1 unit rak berisi 6 buah i. Saklar On/Off; Komponen ini berfungsi sebagai
rak kayu yang berukuran panjang 50 cm x lebar pemutus arus listrik yang digunakan pemanas,
50 cm, berat per unit rak 90 gram. Rak kayu kipas dan thermostat dalam memanaskan ruang
dengan jaring ikan sebagai alas ikan yang pengering, saklar ini bersifat menghidupkan dan
dikeringkan. Pemilihan jaring kasa ini mematikan saja.
dimaksudkan agar sirkulasi udara bisa maksimal j. Kotak pemanas; Kotak pemanas ini adalah
di atas dan di bawah produk. Jumlah rak total tempat heater digantungkan sehingga panas
yang dapat diisi sebanyak 12 rak kayu, jarak yang dihasilkan heater lebih terkonsentrasi di
antar-rak kayu 8 cm ini dimaksudkan untuk kotak pemanas dan langsung dihembus oleh
mempermudah pemasukan dan pengeluaran kipas sehingga udara panas yang diterjadi lebih
ikan. cepat.
b. Kipas udara (blower); Kipas udara berfungsi
untuk menghasilkan udara yang bertekanan
untuk mensirkulasikan udara panas dan kipas ini 3. Prinsip Kerja Alat Pengering Ikan
memiliki putaran 1230 rpm dengan daya sebesar
Teri
65,5 watt dan hembusan udara yang dihasilkan
Prinsip kerja alat pengering ini adalah dengan
33,5 m3/menit dan memiliki berat 6,4 kg. Daun
menggunakan sistem sirkulasi udara panas yang
kipas (fan blade) dibuat dari aluminium yang
berasal dari pemanas dan dihembuskan oleh kipas
diberi lapisan tahan korosi, terdiri dari beberapa
ke ruang pengeringan di mana ikan yang
daun yang menyerupai baling-baling. Arah
dikeringkan ditebarkan di atas rak yang tersusun
aliran udara sejajar dengan poros motor. Udara
rapi dan udara panas akan mengalir di atas rak
dapat dihisap dan ditiup dari fan motor, volume
dengan bantuan pengarah udara. Udara panas akan
udara yang mengalir besar, tetapi jarak tiupnya
tetap bergerak secara turbulen sampai suhu udara
(air throw) rendah.
panas mencapai temperatur yang diinginkan dan alat
c. Pemanas (heater); Pemanas elektrik digunakan
pengatur suhu akan terputus jika melewati
sebagai sumber panas untuk udara pengeringan,
temperatur yang ditentukan. Ikan yang sudah
yang panasnya dapat diatur sesuai kebutuhan.
kering diambil dari rak dan ditempatkan ke suatu
Spesifikasi dari heater ini adalah 3000 watt, 220
wadah yang telah disediakan untuk dapat diproses
volt. Panas yang dihasilkan oleh heater akan
sesuai kebutuhan.
dihembus oleh kipas dan disirkulasikan ke
seluruh ruang pengeringan. Heater ini dibuat
dari logam yang bersifat penghantar panas yang 4. Perhitungan Performansi Teknis
baik yang dihasilkan dari energi listrik. Perfomansi alat pengering yang dihitung
d. Thermostat (pengatur suhu); Thermostat meliputi: kadar air, laju pengeringan, panas yang
digunakan untuk mengatur batas-batas suhu di digunakan untuk menaikkan suhu produk, panas
dalam ruangan. yang diterima udara pengering, besarnya energi
e. Dinding penutup; Dinding penutup bagian luar untuk memanaskan dan menaikkan suhu produk dan
alat pengering ikan teri ini terbuat dari energi penguapan produk, energi listrik yang
aluminium dengan tebal 0,5 mm dan triplek digunakan, efisiensi total sistem, dan kebutuhan
dengan tebal 6 mm. Triplek ini dilapisi lilin dan energi pengeringan.
dilapisi lagi dengan aluminium luar dan dalam.
f. Rak aluminium; Rak ini mempunyai fungsi a. Kadar Air; Pengeringan ini untuk mengurangi
utama sebagai tempat ikan teri ditebarkan. Rak kadar air ikan dari 78% menjadi 20% sehingga
ini tersusun bertingkat dan dijepit dengan kayu banyaknya air yang harus dikurangi dalam 12 kg
di sekelilingnya, ukuran rak 50 cm x 50 cm. ikan teri basah adalah 78 % - 20 % = 58 %,
g. Pintu penutup; Alat pengering ini memiliki 2 sedangkan banyak air yang terkandung dalam 12
buah pintu yang dapat dibuka dan ditutup, yang kg ikan teri basah adalah 58 % x 12 kg = 6,96

256 Rancang Bangun Alat Pengering Ikan Teri Kapasitas 12 kg/jam (Muhamad Daud Pinem)
kg. Maka banyaknya air yang harus dikurangi = 485,14 kJ/jam
dalam 12 kg ikan teri adalah 58 % x 6,96 kg =
4,04 kg. Penurunan kadar air produk selama g. Besarnya tekanan di ruang pengering
proses pengeringan: P1.V1/T1 = P2.V2/T2 ......(Kulshrestha, 1989)
Kadar air akhir (% basis kering) P1/T1 = P2/T2
= [(ma) / (ma + mp)] x100% di mana:
= [(6,96 kg) / (6,96 kg + 12 kg)] x 100% P1 = Tekanan udara atm (1 atm)
= 36,7% T1 = Temperatur ruang (30oC)
Kadar air awal (% basis basah) P2 = Tekanan di ruang pengering (atm)
= [(ma) / (mp)] x100% T2 = Temperatur di ruang pengering (55oC)
= [(6,96 kg) / (12 kg)] x 100% Maka:
= 58% 1 atm / 30oC = P2 / 55oC
di mana: ma = massa air (6,96 kg) P2 = 1,833 atm
mp = massa padatan (12 kg)
h. Kalor yang diserap dinding plat luar
b. Laju pengeringan Bidang yang mengalami perubahan suhu
Perhitungan laju pengeringan membutuhkan pada dinding luar sama dengan yang dialami
data hasil pengukuran kadar air awal, kadar air ikan teri.
akhir dan selang waktu di antarannya: Panas yang diserap dinding plat luar
dW/dt = (Wo Wf) / Dt = (58% - 36,7%)/1jam = Q4 = mpl . Cp . dt ..... ( Holman, 1981)
21,3%/ jam atau 21,3% x 12 kg = 2,56 kg/jam di mana:
mpl = massa plat luar = .(p.l.t)
c. Panas yang digunakan untuk menaikkan suhu p = panjang plat = 1,4 m
produk l = lebar plat = 0,57 m
Q1 = mw . Cp.(Tw T1) t = tebal plat = 0,005 m
=12kg/jam.0,863 kJ/kgoC.(55 27)oC = massa jenis plat Al = 2700 kg.m3
= 289,97 kJ/jam Cp= panas jenis plat = 0,215 kkal/kg C
di mana: dt = perubahan suhu plat (oC)
mw = massa ikan teri yang dikeringkan 12 kg Suhu tertinggi yang dialami plat adalah
Cp = panas jenis ikan teri 70C dan terendah adalah 30C (suhu ruangan),
= 0,837 + 0,034 .(mw) ...........(Siebel, 1982) maka suhu rata-rata yang dialami dinding plat
Tw = temperatur setelah dipanaskan (55 0C adalah
yang direncanakan) (30o +70o)/2 = 50oC.
T1 = temperatur ikan teri basah (27 0C) dt = 50oC 30oC = 20C
Sehingga panas yang diserap dinding plat
d. Panas yang digunakan untuk menguapkan air adalah:
produk Q4 = 2700 kg/m3.(1,4m.0,57m.0,005m).
Q2 = mu . Hfg 0,215 kkal/kgoC.20oC = 463,24 kkal = 1945,6 Kj
di mana:
mu = massa kadar air yang dikurangi i. Kalor sensibel heater
= 4,04 kg/jam Kalor sensibel heater/kW = 0,860 kkal/kW
Hfg = panas laten penguapan (56 kJ/kg) (Arismunandar, 1986) Untuk 3 kW yang
Q2 = 4,04 kg/jam. 56 kJ/kg digunakan pada proses pengeringan = 3 kW.
= 226,24 kJ/jam 0,860 kkal/kW = 2,58 kkal = 10,81 kJ
e. Panas yang diterima udara pengering
Q3= Cp . r . q . dT 5. Analisis Biaya
di mana: Berikut adalah tinjauan dari segi ekonomi satu
Cp = panas jenis plat Al (0,9204 kJ/kg 0C) alat pengering ikan teri. Biaya keseluruhan = biaya
r = massa jenis plat Al (2,78 kg/m3) material + biaya pembuatan + biaya listrik + biaya
q = aliran udara direncanakan 33,5 m3/mnt operasional mesin perkakas.
= 0,55 m3/s a. Biaya material
dT = perbedaan temperatur (55 30)oC Biaya material merupakan biaya bahan yang
Q3 = 0,9204 kJ/kgoC.2,78 kg/m3.0,55 m3/s. digunakan untuk membuat alat pengering ikan
(55 30)oC teri, baik bahan baku ataupun bahan jadi. Total
= 35,18 kJ/s = 126.648 kJ/jam biaya material yang digunakan adalah sebesar
f. Panas pada ruang pengering Rp 1.587.700.
Qu = Q1 + Q2 = (289,97 + 226,24) kJ/jam

Jurnal Teknik SIMETRIKA Vol. 3 No. 3 Desember 2004 : 254 258 257
b. Biaya pembuatan b. Harga jual (Hj) Harga jual adalah harga
Biaya pembuatan berdasarkan jumlah jam kerja penjualan ikan teri yang sudah kering dan siap
untuk membuat alat pengering ikan teri. Jumlah untuk dipasarkan yaitu Rp 20.000,-/kg
pekerja 5 orang, jumlah jam kerja @ 4 jam, lama c. Biaya variabel (Bv)
hari kerja 12 hari. Jadi jika dikerjakan oleh 5 Biaya listrik alat pengering (Blp)
orang, maka 5 x 4 = 20 jam/hari, sehingga Alat bekerja efektif selama 6 jam/hari. Blp =
lamanya bekerja = 20 x 12 = 240 jam. Gaji daya alat x tarif dasar listrik xwaktu kerja alat di
seorang pekerja yang bekerja 8 jam/hari mana:
diasumsikan Rp. 25000. Maka biaya pembuatan Daya alat = 3,075 kW, tarif dasar listrik PLN=
alat pengering ikan teri adalah: Rp 560,-/kWh .
240 Blp = 3,075 kW. Rp 560/kWh .6 jam/hari =
Rp. 25000 x = Rp 750000 Rp. 10.332 /hari.
8
Biaya tenaga kerja (Btk).
c. Biaya listrik Diperkirakan alat dapat beroperasi dengan
Penulis mengasumsikan biaya listrik sebesar 15 operator 1 orang. Maka Btk = Rp.600.000,-
% dari biaya pembuatan. Biaya listrik = /bulan = Rp. 20.000/hari.
15%.Rp750000 = Rp 112500,-
Biaya bahan baku (Bbb).
d. Biaya operasional Biaya bahan baku adalah biaya pembelian ikan
Biaya operasional mesin perkakas diasumsikan teri basah yaitu Rp 10.000/kg.
10% dari biaya material, berarti = 10 % Rp Bbb = kapasitas alat x waktu kerja alat x harga
1.587.700 = Rp 158.700. Biaya total = Rp bahan baku
1.587.700 +Rp 750000 + Rp 112500 + Rp Bbb = 12 kg.6 jam/hari. Rp10000/kg
158.700 = Rp 2.608.900 Bbb = Rp. 720.000,-/hari

Sehingga
6. Harga Jual Alat Pengering Bv = Blp + Btk + Bbb
Harga jual alat ikan teri, berdasarkan dengan = Rp10332/hari + Rp20000/hari +
perhitungan biaya total produksi ditambah dengan Rp720.000
keuntungan yang diambil 30 %. Biaya total = Rp. 750332,-/hari
produksi alat = Rp 2.608.900. Keuntungan yang jika dalam Rp/kg:
diambil 30%. Rp 2.608.900 = Rp 782.670. Dengan Bv = (Blp + Btk + Bbb (Rp/hari)
demikian, keseluruhan biaya yang dikeluarkan (Kapasitas alat (kg/jam) x waktu kerja alat
(biaya produksi alat + keuntungan) = Rp (jam/hari) = Rp 750.332/hari / 72 kg/hari
3.391.570.Jadi harga jual alat pengering ikan teri Bv = Rp 10.421/kg
adalah = Rp 3.391.570.
Dari data di atas titik impas:
BEP = Rp 3391570/[Rp 20000/kg Rp
10421/kg]
7. Analisis Titik Impas BEP = 354 kg
Analisis titik impas (break event point) adalah X= BEP = 354 kg dan Y = 354 kg x Rp.
analisis terhadap usaha dimana suatu titik 20.000/kg
ditemukan, yaitu tidak memberi keuntungan Y = Rp. 7.080.000,- (gambar 1)
maupun kerugian (impas). Analisa ini sangat
berhubungan dengan: biaya tetap, biaya variabel,
dan volume produksi. Titik impas muncul apabila
suatu usaha disamping memiliki biaya variabel
(variable cost) juga memiliki biaya tetap (fix cost),
di mana biaya tetap tidak dipengaruhi volume
produksi sedangkan biaya variabel dipengaruhi oleh
volume produksi.
BEP = biaya tetap (Rp)/[(harga jual (Rp/kg biaya
variable (Rp/kg)]
a. Biaya tetap (Bt)
Biaya tetap adalah biaya pengguna alat untuk
membeli alat pengering ikan teri yaitu
Rp 3.391.570,- Gambar 1: Diagram BEP

258 Rancang Bangun Alat Pengering Ikan Teri Kapasitas 12 kg/jam (Muhamad Daud Pinem)
8. Kesimpulan Moeljanto, R. 1982. Penggaraman dan
Berdasarkan hasil percobaan pengeringan ikan Pengeringan Ikan Teri (Stolephorus sp). PT.
teri dengan alat pengering sirkulasi udara panas Penebar Swadaya, Jakarta.
dapat disimpulkan bahwa suhu rata-rata yang Mohsenin, N.N. 1980. Thermal Property of Food
dibutuhkan untuk pengeringan ikan teri adalah and Agricultural Materials. Gordon and Breach,
sebesar 55C. Pada suhu ini kadar air ikan teri pada Science Publisher, Inc.
awal pengeringan adalah 78% dan setelah Richard, C. Jordan. 1981. Refrigeration and Air
dikeringkan akan menjadi 20%. Pada percobaan ini Conditioning, 2 end ed.
12 kg ikan teri basah yang mengandung berat air Suharto. 1991. Teknologi Pengawetan Pangan
6,96 kg setelah dikeringkan dengan suhu ruang untuk Perguruan Tinggi, Teknologi Mesin,
pengering sebesar 55C kandungan airnya menjadi Industri Pertanian, Perikanan, Peternakan dan
4,04 kg. Alat pengering ini dapat mengeringkan Pangan. Penerbit Reneka Cipta, Malang.
ikan teri lebih bersih dan higienis dibanding cara
penjemuran di bawah terik matahari sehingga
meningkatkan mutu ikan teri. Alat pengering ini
dapat dioperasikan di dalam ruangan seperti rumah,
dan tidak perlu terlalu luas.
Alat pengering ikan teri ini masih perlu
dilakukan penyempurnaan terutama pengisolasian
bagian-bagian yang tidak tertutup rapat yang
mengakibatkan ada panas yang keluar. Kapasitas
ikan untuk pengeringan dapat diperbesar dengan
cara memperluas alat pengering dan atau menambah
heater. Agar temperatur di ruangan dapat dikontrol,
hendaknya dapat ditambahkan alat ukur suhu
(termometer) di dalam ruang pengering.

Daftar Pustaka
Arismunandar, Heizo Saito. 1986. Penyegaran
Udara. Pradnya Paramita, Jakarta.
Buckle, K. A., R. A. Edwards, E.H. Fleets and
Wooton. 1987. Ilmu Pangan. Diterjemahkan
Purnomo. H dan Adiono. Penerbit Universitas
Indonesia, Jakarta
Eko, Rachman. 2003. Uji Kinerja Alat Pengering
Type Efek Rumah Kaca dan Tungku Biomassa
sebagai Sistem Pemanas Tambahan untuk
Proses Pengeringan. Skripsi Jurusan Teknik
Pertanian. IPB. Bogor.
Holman, J. P. 1981. Heat Transfer 6th ed.
Diterjemahkan Jasjfi, E. 1997. Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Jason, A. C. 1965. Drying and Dehidratio. Dalam
Fish and Food Vol. III. Diedit oleh Georg
Borgstrom. USA: Academic Press Inc, New
York.
Kulshrestha, SK. 1989. Termodinamika Terpakai,
Teknik Uap dan Panas. Universitas Indonesia,
Jakarta
Lolita, F.F. 2001. Uji Performansi Pengering Tipe
Efek Rumah Kaca Berenergi Surya untuk
Pengeringan Teri Nasi (Stolephorus sp). Skripsi
Jurusan Teknik Pertanian IPB, Bogor.
Moeljanto, R. 1992. Pengawetan dan Pengolahan
Hasil Perikanan. PT. Penebar Swadaya, Jakarta

Jurnal Teknik SIMETRIKA Vol. 3 No. 3 Desember 2004 : 254 258 259